HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 151


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia,


Ada mereka yang sedang kepo akan suatu hal.


"Eh tapi aneh juga ya kalo Mika mau diajak nongkrong berduaan sama Kak Arya?"


"Jangan-jangan, Mika sudah ada rasa pada Kak Arya?"


"Atau bisa sebaliknya."


"Atau juga, jingin-jingin dua-duanya sama-sama punya rasa? terus sekarang lagi cari moment buat saling mengungkapkan? .."


"Bisa jadi!"


"Bagaimana kalau kita cari tempe??"


"Berangkat kalo gitu-Wahai para saudara dan saudariku yang keponya susah ketahan!"


“Cuuuss!!!”


Sahutan antusias dari sebuah ajakan kemudian riuh terdengar.


“Kita orang boleh kan nongki – nongki? Poppa, Papi, Momma, Mami, Ake, Ene?...”


Isha bersuara untuk meminta ijin pada mereka yang ia sebutkan itu, mewakili para saudara – saudarinya.


Dimana Isha dan para saudara – saudarinya itu, telah bangkit dengan semangat dari duduk mereka. Lalu, senyuman lebar terbit di wajah Isha dan para saudara – saudarinya itu mendapatkan ijin dari para orang tua dan sepasang kakek nenek mereka.


“Iya, boleh – boleh-“


“Gi dah!”


Isha CS menoleh pada dua Daddy mereka setelah ijin telah didapatkan dari kakek nenek, serta dua mommy.


“Pop, Papi?”


“Boleh.”


“Siiipppp-“


“Terkecuali kalian berdua!”


Poppa bersuara, sambil menunjuk pada dua pewaris muda di urutan bontot.


Dimana duo bontot itupun langsung saja berkesah sambil memandang pada Poppa.


“Yaah Poppa.. masa kami ga boleh ikut?” sergah Ares, yang diiyakan oleh Aina dengan anggukan antusias, karena ingin ikut serta dengan para kakak.


“Tiga tahun lagi, baru kami perkenankan kalian pergi di jam seperti ini,” tegas Poppa pada Ares dan Aina.


Sementara para kakak cengengesan melihat dua adik yang kena larang Poppa untuk ikut nongki – nongki malam, sekaligus mengobati kekepoan.


Yang kemudian meledek duo bontot tersebut, karena mendapat larangan dari Poppa. “Dedek Ares sama Dedek Aina di rumah aja okee?.. Mimi cucu, cuci muka, gosok gigi, cuci kaki, teyus bobo deh!..”


Dimana duo bontot itu pun langsung merungut tajam, namun tak berdaya, setelah Poppa menegaskan larangannya.


“Dadah Dedek Ares dan Dedek Aina –“ ucap para kakak serempak sambil cengengesan pada duo bontot tersebut, yang memang tidak berdaya untuk memaksa ikut dengan para kakak yang ingin nongki – nongki cantik pada malam hari.


Karena peraturan atas ketentuan jam bermain – istilahnya,  telah dibuat dari sejak jaman Abang Varen. Terutama untuk jam malam.



Tanpa persiapan berarti, Isha, Ann, Rery, Val, dan Aro telah siap untuk pergi nongki, termasuk juga Kafeel tentunya, yang tidak mungkin tidak mengekori Val berikut para saudara – saudari kekasih kecilnya itu.


“Lo ga ikut Va?-“


Kafeel yang bertanya pada Varen, yang sedang duduk landai sambil menonton satu acara di televisi bersama Nathan.


“Kalau Little Star mau pergi, nanti gue nyusul,” jawab Varen.


“Lo Tan?-“ Kafeel beralih pada Nathan.


“Idem.”


“Ya udah-“ tukas Kafeel.

__ADS_1


“Tidak usah menyuruh bodyguard menyertai kami Pop, Pih...” ujar Rery, yang diiyakan oleh para saudara dan saudarinya.


“Heem-“ dua old Daddy but still hots di usianya itu, hanya sama – sama menyahut dengan deheman saja.



“Udah tau dimana itu si judes sama si sadboy berada?..” ujar Nathan seraya bertanya.


“Percuma gue bikinin gadget canggih kalo ga bisa pada gunakan cuma buat cari keberadaan orang, yang bahkan bisa tembus sekalipun itu orang ngumpet di langit!”


“Sombong heh? –“


“Orang jenius, ganteng satu semesta, kaya raya.” Varen lekas menyambar untuk menanggapi cibiran Poppa padanya. “Wajar sombong!”


“Cih!”


Poppa berdecih sinis.


Varen terkekeh saja atas sikap Poppa padanya.


Begitupun mereka yang ada bersama dua orang yang saling cibir-mencibir-namun tak serius itu.


“Sesama orang sombong ga usah ribut! –“


“Tuh dengar..” tukas Varen setelah mendengar celetukan Momma. “Kesombonganku menurun dari kalian bukan?” Varen cengengesan sambil memandang pada Poppa.


“Bocah tengik!” balas Poppa pada si Abang.



Di tempat yang berbeda,


Pada sebuah kafe kecil kekinian.


Dimana sepasang insan sedang terlibat satu momen keuwuan, yang saling mendebarkan jantung masing-masing.


“Jadi?--- Apa jawaban lo... Mikaela Finn Adjieran Smith?--- Lo mau kasih gue kesempatan dulu, atau lo langsung terima gue jadi pacar lo mulai dari sekarang?”


Itu  Arya yang bersuara, bertanya seraya meminta kepastian pada Mika, yang sedang Arya pepet ga dikasih kendor sejak beberapa saat sebelumnya. Mika yang sebelumnya sempat melamun, kini menggigit kecil bibir dalamnya.


“Gue...”


Mika ragu untuk bicara.


“Lo... ga lagi nge-prank gue kan?...”


“Ya ampun Mi, gue ga sebrengsek itu buat nge-prank sampe sejauh ini-“


Arya sontak menanggapi dengan cepat dugaan buruk Mika padanya itu.


“Mi, kalo lo mau kepo, lo boleh cari tau atau tanya langsung gimana gue memperlakukan mantan-mantan gue—“


“Kerajinan,” sambar Mika.


Arya tersenyum tipis. “Lo mau percaya atau engga, tapi gue harap lo percaya. Kalo selama ini, baru dua cewek yang pernah gue tembak ... Drea, sama lo.“


Arya memberanikan diri untuk meraih tangan Mika yang kemudian ia angkat dan Arya bawa ke bibirnya.


Membuat Mika menjadi sedikit risih dengan apa yang sedang Arya lakukan saat ini, yakni menggenggam tangannya dan mengecupnya dalam.


“Mereka yang pernah jadi pacar gue-bukannya sok ganteng, tapi emang gue ganteng sih—“


“Kepedean!”


Arya mendengus geli atas timpalan Mika.


“Mereka yang nembak gue duluan.”


Arya menatap lembut netra Mika.


“Dan pada Drea, gue bahkan nembaknya ga begini, Mi....”


Arya lanjut bicara.


“Lo boleh tanya deh sama kakak lo itu—“ Arya tersenyum lembut. “Gue ga berani nge-prank kalo menyangkut hati.”


Arya telah menjauhkan tangan Mika dari bibirnya, namun masih Arya genggam.


"Apalagi hati cewek yang serius gue sayangin," imbuh Arya.

__ADS_1


Mika bersemu.


“Nih, lo rasain ..” Arya meletakkan satu tangan Mika di dada kirinya. “Jantung gue lagi dugem..”


‘Ya ampun!—‘


“Kerasa? ..” tanya Arya yang menahan tangan Mika di dada kirinya itu. “Kalo hati gue lagi dugem sekarang gara-gara lo?”


“.......”


“Ada orang nge-prank nembak cewek tapi malah hati yang nge-prank yang malah berdebar ga karuan, saking nunggu jawaban?”


“Gue—“


“Lo pernah denger kalimat L’amore trova una via? ..”


“Pernah ..”


“Apa artinya?”


“Cinta akan menemukan jalannya.”


“Dan udah gue temukan jalan gue itu.”


Arya tersenyum dan meremat lembut tangan Mika.


“Elo—“


“Ar—“


“Jadi apa lo punya petunjuk arah buat gue, atas lo yang menjadi jalan yang dimaksud sama si cinta itu?—“


“Rangga?”


Arya terkekeh mendengar timpalan Mika.


“Bisa ngelucu juga Non Judes—“


“Kan di film favoritnya The Moms, Cinta itu pasangannya Rangga.”


“Kalo Mika pasangannya Arya,” sambar Arya dengan segera. “Oke deal kita jadian!”


“Hah?!”



“Kok Kak Arya bisa tahu tempat ini?-“ tanya Rery saat ia dan rombongan telah sampai di sebuah kafe yang sudah mereka ketahui, adalah tempat Mika dan Arya berada.


Dimana telah dipastikan sebelumnya titik keberadaan dua orang tersebut dari sebelum mereka berangkat, dari ponsel milik Mika. Dan kebetulan juga, Mika sedang memakai ‘jam pintar’ yang dibuat khusus untuk mereka untuk sebuah pertimbangan.


“Aku, Abang, Kak Tan-Tan, Arya, Sony, pernah touring bareng The Dads kalian yang ada di kediaman berikut Uncle Rico dan Uncle Sean ke beberapa tempat di Jawa Barat, lalu saat selesai kami mampir ke rumah Kakek Herman dan Nenek Bela-“


Kafeel yang menjawab pertanyaan Rery, saat ia sudah memarkirkan serta turun dari mobil yang ia kendarai bersama Val, Ann dan Isha yang duduk di kursi penumpang.


“Tapi sebelum sampai ke rumah Kakek Herman dan Nenek Bela, kami mampir ke kafe ini terlebih dahulu.”


Kafeel melanjutkan. Rery yang berboncengan motor dengan Aro pun manggut-manggut. Lalu lima orang pewaris yang baru saja tiba berikut Kafeel itu segera masuk ke dalam kafe, dimana motor Momma yang digunakan Arya ada di parkiran kafe yang tidak seberapa besar itu.


Dan tak lama saat ke enam orang tersebut memasuki area dalam kafe, mereka berenam saling lempar tatap seperti menyadari sesuatu.


Jika Sang Waktu Bisa Kita Hentikan...


“Suara Mika kan ini?...” celetuk Isha yang langsung diiyakan kompak dengan anggukan oleh Val, Kafeel, Aro, Rery dan Ann.


Meleburkan semua Batas...


Setelahnya ke enam orang tersebut menoleh ke arah sumber suara.


“Wadidaw!”


“Mata aku bermasalah ga sih?!”


Lalu komentar takjub dan tidak percaya atas apa yang dilihat oleh ke enam orang tersebut pun saling bersahutan, setelah melihat satu pemandangan di bagian outdoor kafe.


“Hujan bentar lagi turun... yakin deh.”


“Sepertinya hujan yang turun akan ada warnanya kalau melihat Mika dan Kak Arya nyanyi bersama seperti itu sih!”


“Demi Sailor Moon dan Tuxedo Bertopeng, benarkah yang kita lihat ini??”

__ADS_1


♥♥♥♥


To be continue...


__ADS_2