HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
M E N Y E R A H


__ADS_3

( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Jika Kau Memang Masih Menginginkannya Seharusnya Kau Katakan Padakuu!!! Akan Aku Seret Kafeel Adiwangsa Kehadapanmu Dan Akan Aku Langsung Nikahkan Kalian Tanpa Ragu! Tidak Peduli Kau Akan Menjadi Istri Keduanya Sekalipun! Kalau Perlu Akan Aku Habisi Istri Berikut Calon Anaknya Terlebih Dahulu!... ---- .... Tapi sekarang... Tolonglah... Bu-ka, matamu dulu... Bangun, Baby... Bangun... Dan merengeklah padaku... Ba-ngun Vaal... Sa-yang... BANGUUNN!!!!!—“


🍁


🍁


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,


“Mom Ayank...”


Ada Daddy Dewa yang sedang bersama Mom Ichel di kamar pribadi mereka.


“Iya, Boo-Boo?”


Mom Ichel yang sedang duduk di depan meja rias itu menyahut.


“Jadwal kamu lagi padat ga, Yank?”


“Engga sih. Minggu depan sepertinya aku baru mulai sibuk dengan perencanaan launching varian make-up terbaru.”


Mom Ichel menjawab lugas pertanyaan Daddy Dewa.


“Kenapa Boo-Boo?...” Mom Ichel bertanya balik.


“Kita ke London, yuk?”


“Boleh aja. Kapan?”


“Besok?”


“Mendadak gitu?...”


“Tidak tahu. Hanya hatiku seolah ingin aja segera datang ke sana...”


🍁 🍁


“Seli sini!”


“Iya Tuan Jo...”


“Ini siapa yang bikin kamar Val begini?!”


“Itu—“


“Siapa yang suruh sih kamarnya ditutupin kain putih gini?! Emang si Val ga bakal balik ke sini?! Ada-ada aja...”


“Jo??—“


“Nyonya Muda Kevia.”


“Ini ada apa?...”


“Ini kamar Val. Aku inget mau nyingkirin itu foto-foto si brengsek Kafeel Adiwangsa di sini—“


“Udah dirapiin kok itu figura-figura yang ada foto Kak Kaf nya sama Val sendiri...”


“Iya tau. Mau aku buang ke tempat sampah maksudnya, makanya aku ke sini—“


“Nah terus kamu marah-marah gini?...”


“Ya abisan ini pas aku masuk kamar Val kek gini? Ditutup-tutupin pake kaen putih begini? Apa-apaan??!!”


“Ini bukan salahnya Mba Seli dan lainnya. Ini Val sendiri yang bikin kamarnya begini... Aku ada kok waktu pertama kamar ini udah begini keadaannya—“


“Terus mau diapain dia beginiin kamarnya? Mau direnov?...”


“Ya ga tau pasti akunya. Tapi katanya Val sih, dia kayaknya lama ga dateng ke sini. Dan ya aku ngerti maksudnya. Mungkin ada kenangan soal Kak Kaf di sini, jadi ya Val ga ke sini dulu sampai ia bisa terima semua...”


“Ck...”


“Kalo kamu cari foto-foto yang berhubungan sama Kak Kaf yang udah dirapiin Val, tuh. Ada di sana... Mba Seli nya jangan dimarahin lagi.”


“Ya udah iya.”


“.........”


“Panggil siapa kek buat bantu kamu Sel! Bawa itu yang tadi ditunjuk Via ke tempat sampah belakang. Kalo perlu bakar sekalian!...”


“Iya Tuan Jo...”


“Terus ini nih. Nih semua kain putih nih, jauhin! Buat kamar Val ini macam kayak biasa aja. Dirapiin kayak biasa...”


“Iya—“


“Ya udah si, jangan marah-marah terus gitu sama Mba Seli nya, Jo...”


“Ya bukan marah, Vi. Aku cuma ga suka aja ngeliat kamar Val begini. Hati aku ga nyaman aja gitu ngeliatnya...”


🍁 🍁


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris,


“Tuhaan... Jika ada dosaku yang sudah aku minta pengampunan dari-Mu dan Engkau belum memberikan ampunan untuk itu... Limpahkan saja kemarahan-Mu langsung padaku... Jangan pada putriku yang tulus hatinya itu... Dosa-dosaku, jangan Engkau buat anak-anakku yang menanggungnya... Aku tidak sampai hati melihat air mata Valera jatuh lebih banyak lagi—“


‘Dad...’


Ada Valera yang berbisik lirih di hatinya kala ia mendapati ayah kandungnya sedang bersimpuh di sebuah tempat yang dibuat dan difungsikan sebagai rumah ibadah bagi para anggota keluarga The Adjieran Smith serta para pekerja mereka yang beragama Islam.


“Aku rasanya tak berguna menjadi seorang ayah, jika putriku menghabiskan waktunya untuk menangis tiada henti, jika sampai ia tidak bahagia... Berikan kebahagiaan yang mutlak baginya, Tuhaan... Betapa aku ingin sering memeluknya... Tapi mataku tak sampai hati melihat wajah muram Val yang hatinya terluka...”


‘Dad-ddyy... Ma-af... Val membuat Daddy sampai bersusah hati seperti ini...’ Batin Val kembali berbisik lirih. Menggigit bibirnya dalam, melihat sang Daddy yang biasanya sering cetus padanya walau tak serius itu nampak bersedih.


Namun sedihnya Dad R simpan sendirian, dibaginya hanya pada Sang Pemilik semua insan. Meluruhkan airmata yang tak Val pernah lihat sebelumnya.


Val tak bisa melihat wajah Dad R memang,


Tetapi suara Dad R yang pelan dan sedikit tersendat----yang masih dapat Val tangkap setiap kata yang keluar dari mulut Dad R, serta bahunya yang nampak bergetar ----sudah cukup membuat Val bisa meyakini, jika sang *Dadd*y----sedang melirih pedih.


🍁 🍁


“Mom berpikir semalam, tentang bagaimana kalau kita pergi berlibur untuk menghibur Val? Setidaknya itu akan memangkas waktunya untuk memikirkan Kaka. Daripada Mom harus mengelus dada menahan air mata di sini setiap kali Mom lihat wajah satu cucu Mom yang terluka karena cinta itu, yang mana selalu sembab dan bermuram durja.“


“Boleh juga usul Mom...”


Mommy Ara menimpali ucapan Gamma.


“By the way, dimana R, Ara?”


“Di Mushala, Mom.”


“And where’s Val?” Ada Aunt Eve, istri Uncle Nino yang sedang mampir ke tempat tinggal The Adjieran Smith yang berada di London.


Istri Uncle Nino itu memang rutin datang ke Mansion Utama The Adjieran Smith yang berada di London, atas dasar dirinya juga sudah kelewat akrab dengan keluarga tersebut.

__ADS_1


Dan tergabung juga dalam The Moms of Adjieran Smith Squad yang kiranya punya beragam kegiatan bersama, terutama yang menyangkut kegiatan sosial.


“She was go to the backyard ( Dia tadi sih ke halaman belakang )” Gamma yang menjawab pertanyaan Aunt Eve itu.


“Alone? ( Sendirian? )”


Aunt Eve kembali bertanya.


“Huum. She said she really wants to memorize every part of this house ( Huum. Dia bilang dia ingin menghafal setiap bagian rumah ini )...”


🍁 🍁


Memang benar seperti yang Mom Ara katakan pada Aunt Eve, jika Val jadi sering berjalan-jalan di sekitar Mansion mereka yang berada di London tersebut, jika dirinya merasa terlalu sesak berada di dalam kamarnya.


Namun Val selalu tidak ingin ditemani siapa-siapa, termasuk oleh Mika, Rery dan Ann yang bahkan Val suruh untuk beraktifitas seperti biasa.


Dan hal yang sama juga Val katakan kepada para orang tua dan tetua yang tinggal bersamanya dalam mansion tersebut. Val butuh ruang----pikir para anggota keluarga Val.


Jadi hal itu mereka berikan.


Membiarkan dulu Val melakukan apa yang dia inginkan, yang mungkin saja dapat menyenangkan hatinya.


Jadi saat ini---ketika Val meminta A, maka A akan diberikan tanpa pikir panjang.


Dan mungkin Val yang ingin mencari udara segar namun tidak ingin keluar dulu dari mansion dengan mengitari mansion mereka tersebut meminta hal itu, ya sudah----diiyakan.


Termasuk itu, tanpa ditemani siapa-siapa. Tidak keluarga, kerabat, maid ataupun para bodyguard.


Sekalipun bodyguard yang dikhususkan untuknya.


Jadi dibiarkan dulu Val yang katanya ingin punya ‘ME TIME’.


🍁 🍁


Yang mana ‘ME TIME’ yang Val katakan itu, adalah membawa kakinya melangkah ke bagian-bagian mansion----tempat Val lebih banyak menghabiskan waktunya, karena memang ia berdomisili disana.


Hanya sesekali saja Val akan tinggal di mansion pribadi orang tuanya yang juga bertempat di London, namun berbeda area.


Lalu tentang ‘ME TIME’ nya Val itu, yang mana Val bawa kakinya menyusuri bagian-bagian mansion yang sekiranya belum pernah ada kenangan tentang Kafeel di sana.


Agar tidak lagi Val melihat bayangan wajah tampan yang membuatnya merasa sebentar lagi akan gila, lalu mengalami juga yang namanya imsomnia----bahkan insomnia yang begitu parahnya.


Sudah beberapa hari berada di London dan Val benar-benar sulit untuk tidur.


Val sudah merasakan matanya sakit.


Namun memejamkan mata, lalu semua tentang Kafeel yang membekas malah jadi kentara.


Dan itu, jauh lebih menyakitkan bagi Val.


Jadi pergi ke bagian-bagian mansion yang tidak memiliki ‘jejak’ Kafeel di sana, Val harapkan dapat menghapus kenangan meskipun secara perlahan.


Yang harapan Val itu, Val rasa jika Tuhan sedang tidak di tempat untuk mendengarkan doanya sekarang. Karena yang ia harapkan hilang, tidak juga hilang.


Lalu mengetahui kesusahan hati para anggota keluarganya yang tanpa sengaja Val ketahui, semakin membuatnya tak karuan. Entah dosa apa yang pernah ia perbuat, hingga Tuhan menghukumnya seperti ini.


Begitu kiranya pikiran Val sekarang.


Karena Tuhan mengambil impiannya.


Menggariskan Kafeel Adiwangsa berjodoh bukan padanya.


Tuhan juga membuatnya merasa bersalah pada keluarganya.


Dan atas dasar itu...


Dari Val untuk Tuhan,


Jika Engkau tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya.


Tapi...


Mengapa Engkau justru memberikan ujian yang jauh diluar batas kemampuan Val?...


Memberi sakit yang tak terperi, lalu sedih yang bertubi. Mengapa seperti ini, Val Engkau uji?


Apa salah Val, Tuhan?...


Dosa apa yang sudah Val lakukan, sampai Engkau memberikan sepedih-pedihnya hukuman?


Terluka karena sebuah pekhianatan,


Lalu didera rasa bersalah atas keluarga Val yang menanggung luka sama dengan Val.


Ujian-Mu... Terlalu berat untuk Val, Tuhan...


Val terlalu lemah untuk menanggungnya lebih lama.


Val, tak tahan...


Atas sakit dan sesak di hati, karena Val Engkau buat  memiliki rasa pada Kafeel Adiwangsa.


Lalu saat rasa itu tumbuh, Engkau biarkan meraja..


Namun setelah semua bahagia tercipta dan sebentar lagi bahagia Val menjadi sempurna adanya,


Tahu-tahu Engkau mengambilnya tanpa sedikitpun ada yang menyisa...


Jadi Tuhan, Val... Salah apa?...


Sampai juga Engkau tambah, rasa pahit yang Val rasa melihat air mata keluarga Val, menetes deras karena Val.


Sungguh Tuhan, melihat Mom Peri sering tersedu Val tak tahan.


Melihat mata Dad R yang memerah mengembun, Val kian tak tahan.


Kekuatan Val sudah di ambang batas Tuhan.


Sudah tidak sanggup lagi menanggung semua sedih, pedih dan rasa bersalah bercampur dengan luka dan sakit yang diberi oleh Kafeel Adiwangsa.


Jadi,


Tuhan...


Val sudah tidak kuat.


Val, menyerah.


Ujian-Mu Val rasa terlalu berat untuk Val.


Ada atau tidak pun ruang di ‘tempat-Mu’ untuk Val...


Val sudah tidak ingin lagi berada di dalam tubuh yang hatinya dihuni jutaan rasa sakit serta rasa bersalah.


🍁🍁


Jakarta, Indonesia,


“AROOO!!...”


Suara panggilan panjang dan nyaring terdengar menggema di area lapangan basket indoor sekolah tersebut.

__ADS_1


“Adudu Neng Ishaa, muka lo cakep kek bidadari surga tapi suara lo kek medusa yang lagi dicambuk di neraka!”


Salah seorang siswa yang sedang duduk berleha-leha di pinggir lapangan menimpali seruan gadis yang berseru nyaring itu sekaligus meledeknya.


Adalah Isha, gadis itu----yang langsung mencebik menanggapi salah seorang siswa yang barusan meledeknya itu. “Makanya makan yang bergizi jadi ilmu lo ga cuma segede kacang tukang bubur...”


Isha membalas ledekan yang tadi terlontar padanya itu.


“Medusa tuh gagu tau ga lo?—“


“Sembarangan lo bilang Medusa gagu...”


“Dih emang iya!” sergah Isha. “Dewi ular kan dia?...”


Lalu Isha lanjut berkata.


“Makanya gagu, soalnya kalo dia ngomong kan SS----SSSS... Jadi mana bisa dia teriak? ”


Sontak, membuat satu siswa dan beberapa siswa lain yang bersamanya di pinggir lapangan basket tersebut tergelak setelah mendengar selorohan Isha yang orangnya kemudian langsung ngeloyor ke tengah lapangan, padahal ada beberapa orang yang nampak sedang bertanding di sana.


"Buset si Aro ade nya!"


Seruan terdengar dari arah tengah lapangan.


"Bagus gue belom lempar ini bola! Kalo engga, geger otak lo yang ada Isha Ishi Ushu!"


Ucapan seruan terdengar lagi, dimana orang yang Isha tuju langsung mendaratkan toyoran di kepala satu dara itu.


“Ih si Pea ngapain lo malah ke sini?! Buta mata lo?! Kita orang lagi tanding ini!”


Adalah Aro yang berbicara sambil mendelik dan berkacak pinggang pada Isha.


“Pulaang!” sahut Isha yang tidak mempedulikan keberadaannya yang mengganggu kegiatan Aro dan anak-anak klub basketnya itu di lapangan indoor sekolah mereka.


Termasuk tidak mempedulikan Aro yang memelototinya.


“Mau Maghrib nih! Jam ekskul basket juga udah selesai kan?!...”


“Mau Maghrib gigi lo! Ini baru jam lima Markonah!”


Aro menukas ucapan Isha sambil ;agi menyertakan toyoran ke kepala saudara kembarnya itu.


Sementara teman-teman mereka yang menyaksikan interaksi dua anak kembar yang kelihatannya jarang akur tapi asal apa-apa maunya barengan itu, hanya terkikik geli saja di tempat mereka.


“Ya kan pasti macet jam segini, laper aku tau ga? Tadi aku mau pulang duluan ga boleh. Kamu malah lama – lama di sini!”


“Lo tadi gue liat order mekdi ya?!”


“Ya elah cuma burger tiga lapis sama kentang doang—“


“Buseng deng!”


Sahutan takjub sekaligus terperangah terdengar kemudian, namun bukan dari Aro----melainkan dari teman-teman dua anak kembar serupa tapi tak sama itu.


“Ayo dong Aroo!!! Kalo masih lama aku tinggal loh ya??!!!”


“Berisik lo ah!”


“Ya kan harusnya aku pulang sama Gilang tadi!”


“Ga ada lo pulang sama dia! Diajak belok ke gang sepi lo yang ada!.”


“Ih sembarangan! Gilang cowok baik-baik asal kamu tau ya—“


“Udah awas ah!”


“Ya udah aku pulang duluan aja---”


“Bareng gue! Gue kepret lo berani pulang tanpa gue!”


“Ya abis Aro lama banget!”


“Lima belas menit lagi!”


“Bener loh ya???!!!—“


“Iya udah sana!”


🎵🎵🎵


“Halo luwak white coffee passwordnyaaa???—“


“Ulang!”


Sementara Isha nampak menerima panggilan yang masuk ke ponselnya, Aro berseru kepada mereka yang tadi sedang bermain basket dengannya.


“Ish ni bocah!” ucap Aro sebal saat ia dan teman-temannya sudah akan mengatur lagi posisi untuk bermain, namun Isha yang membelakanginya itu malah masih berdiri saja di tempatnya tadi. “Markonah minggir!”


Aro berseru lagi sambil memandang pada Isha yang tetap bergeming saja.


“WOI ISHA MINGGIR! BUDEG LO?!—“


“SHA!!”


Namun belum sampai Aro menoyor kepala saudara kembarnya itu, tubuh Isha nampak melemas di tempatnya dan hampir terjatuh lunglai ke atas lantai lapangan basket indoor di bawah kakinya.


Bahkan ponselnya yang Isha pegang, nampak terlepas dan terjatuh sedikit keras ke atas lantai lapangan.


“Sha??...”


Aro sudah menopang tubuh Isha yang sudah juga dikerubungi teman-teman mereka yang sedang berada di lapangan basket tersebut.


Isha tidak pingsan memang, namun matanya sudah mulai dibasahi dengan air mata yang perlahan mulai turun tanpa jeda.


Ekspresi wajah Isha sukar dilukiskan maknanya.


Terlihat syok, namun pandangannya nanar.


“Sha, liat gue... Kenapa, Sha?? Ada apa??...”


Aro menangkup wajah Isha, yang Aro rasakan tubuh saudari kembarnya itu sedang gemetar dan ponsel Isha yang terlepas dari tangannya sudah diamankan oleh satu teman dekat Aro.


“ISHA!”


Gusar, Aro berteriak.


Melihat Isha seperti itu jantung Aro pun berdetak tak nyaman.


“Arooo—“


“Ke-napa, Sha??...”


Aro tergugu, pada Isha yang sudah menatapnya dengan air matanya yang mulai deras serta melirih.


“V-aal... Aroo...”


Isha terisak kemudian dengan bahunya yang mulai bergetar lebih kencang.


“VAAALL!!!!—“


🍁🍁 🍁🍁

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2