
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia....
DUK!.
“GA!”
Suara pukulan pada kemudi mobil berikut pekikan kencang seorang pria terdengar di dalam sebuah mobil Outlander berwarna putih metalik, kala mobil tersebut kembali diberhentikan oleh si pengemudi karena lampu lalu lintas yang berwarna merah.
Membuat seorang gadis belia yang berada disebelahnya, dan tadinya tertidur di kursi penumpang depan terbangun dengan kagetnya.
‘Astagfirullah!’
Gadis tersebut spontan beristigfar dalam hatinya, saking ia begitu terkejut dengan suara pekikan yang cukup kencang, berikut suara benda yang dipukul cukup keras di dalam mobil yang ia tumpangi itu.
“ITU GA BOLEH TERJADI!”
DUK!.
Suara pekikan kencang yang menyiratkan sebuah protes, berikut pukulan di kemudi mobil tersebut terjadi lagi untuk yang kedua kalinya, disaat sang gadis telah membuka mata dengan begitu kagetnya.
“K-kak...” panggil sang gadis yang sudah menegakkan duduknya, lalu menghadap ke arah kursi penumpang dengan suara yang melirih, sembari tangannya memberanikan diri untuk menyentuh lengan pria yang sedang nampak emosi disampingnya itu.
‘Eh?!’
Dan orang yang disentuh lengannya itu pun langsung terlonjak kaget juga, dan menolehkan kepalanya dengan cepat. Lalu dengan cepat orang yang nampak geram sampai berteriak dan memukul kemudi itu tersadar.
‘Oh Astagaaaaa!!...’
“Ada apa... Kak?...”
Itu Val dan Kafeel yang berada di dalam mobil Kafeel, dalam perjalanan mereka menuju ke kediaman utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta.
“Ma-af, Val. Maaf...”
“Kak Kafeel kenapaa?...” lirih Val.
Val yang benar-benar terkejut mendengar suara pekikan Kafeel yang kencang, dengan disertai kegusaran, juga pukulan pada kemudi mobil yang menggambarkan kekesalan itu bertanya lagi pada Kafeel.
“Ka-kakak...” Kafeel menggantungkan kalimatnya. Lalu ia mengusap kasar wajahnya. “Kakak, ga apa-apa, hanya teringat sesuatu yang begitu mengesalkan saja... Maaf, membuat Val jadi sangat terkejut...”
Kafeel merutuki dirinya sendiri kemudian sambil memandang Val dengan rasa bersalah, selain ia merasa stupid, karena baper dengan bayangan di otaknya tentang kemungkinan yang terjadi pada hubungannya dan Val.
Yang pikiran bikin baper ga karuan itu, adalah atas tidak direstuinya hubungan Kafeel dan Val berikut niatan Kafeel untuk serius pada Val.
Yang hanyalah sebuah bayangan ketakutan Kafeel atas hatinya yang dug-dug-an, selepas mendapat pesan chat dari Daddy R karena ayah kandung Val itu entah bagaimana dapat tahu jika Kafeel telah mencium putri kandungnya.
Dan juga pemberitahuan dari Adri, bahwa dirinya telah ditunggu oleh tiga Daddy Val yang lain di kediaman utama mereka yang berada di Jakarta.
Yang mana, pada akhirnya hal tersebut membuat Kafeel jadi tercenung. Lalu seketika pikiran buruk pun langsung memenuhi kepala Kafeel sampai membuatnya menjadi emosi tanpa sadar.
‘Ya Tuhaannn... bisa-bisanya gue kelewat baper gara-gara pikiran lucknot, karena takut ga direstuin sama para Daddynya Val?!... haish!, begini nih, kalau suka iseng ikut-ikut si Mama nonton drama ‘Ku-menangis...’!!!!. Jadi paranoid ga karuan kan gue?!’
Kafeel terus merutuki dirinya sendiri dalam hati yang tidak percaya bahwa dirinya bisa sampai emosi akibat terbawa perasaan takut atas tidak direstui hubungannya dan Val oleh para Daddy Val nanti. ‘Gila! Gue sampai baper habis-habisan begini!’ rutuk Kafeel lagi dalam hatinya. ‘Val nih, pakai susuk apa pakai pelet, bisa buat gue jadi gila begini saking takut kehilangan ini anak gadis satu?.’
“Apa itu?..” suara Val yang terdengar menarik Kafeel lagi dari lamunannya.
“Bukan apa-apa kok, Val ...”
Kafeel mencoba kembali bersikap dengan wajar sekarang, sambil menetralkan hatinya yang sempat menjadi begitu gusar.
“Tapi kenapa Kak Kafeel terlihat begitu marah tadi?” kata Val, dengan wajahnya yang masih nampak terkejut selain cemas itu.
Kafeel menarik tinggi sudut bibirnya. Tangannya yang tadi sempat menggerakkan perseneling saat lampu lalu lintas telah hijau, kini terulur ke atas puncak kepala Val.
Mata Val masih memindai gerak-gerik Kafeel dengan masih merasakan ketidaktenangan nya di dalam hati.
“Maaf...” ucap Kafeel lembut. “Maaff banget sudah mengejutkan Val,” sambungnya.
Tangan Kafeel kembali berada di kepala Val, setelah lagi menggerakkan perseneling, lalu mengusap surai Val dengan kelembutan.
“Tapi bener deh, Kakak ga apa-apa ...”
Kafeel mencoba menenangkan Val, sembari juga menenangkan dirinya sendiri.
“Kakak hanya sedikit panik tadi ...” sambung Kafeel.
“Kenapa?..” tanya Val lagi. “Lalu tadi Val dengar, Kakak mengatakan, ‘Itu Tidak Boleh Terjadi’. Apa yang tidak boleh terjadi, Kak? ...”
Val mengharapkan penjelasan.
‘Masa gue cerita sama Val kalo gue parno hubungan gue sama dia ga direstuin sama para Daddynya sampai gue membayangkan adegan, dia ditarik sama para Dad-nya itu demi dijauhin dari gue?!’
“Kak? ...”
‘Yang ada Val ilfeel sama gue nanti, karena dia pikir gue cowok lebay!’
“Kak Kafeel!”
Dimana Kafeel langsung menoleh dengan cepatnya akibat terkesiap, karena mendengar suara Val yang meninggi. Memanggilnya yang sedang melamun lagi itu.
“Iya Vaall? ...”
Kafeel menyahut lembut.
__ADS_1
“Jawab pertanyaan Val! ...”
“Pertanyaan yang mana? ...”
“Kenapa Kak Kafeel tiba-tiba berteriak sampai memukul kemudi?”
“Oh itu—“ tukas Kafeel.
“Sama maksud ucapan Kakak yang ‘Itu tidak boleh terjadi’, apa maksudnya itu?” Val mencecar Kafeel dengan pertanyaan.
Tapi Kafeel bingung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Val itu.
“Kita kan sudah----“ Val menggantungkan kata-katanya.
Val nampak ragu untuk meneruskan kalimatnya.
Dimana hal tersebut Kafeel manfaatkan untuk menggoda Val, untuk mencairkan suasana yang tegang karena ke-baper-an Kafeel yang ia rasa tidak jelas itu.
“Sudah apa hm?” cetus Kafeel. Karena sepertinya Kafeel dapat menebak hal yang ingin Val katakan, namun tidak Val teruskan.
Val nampak sedikit salah tingkah.
Lalu Val melirik Kafeel dengan gaya malu-malu.
“Sudah apa hayo? ..” goda Kafeel. “Sudah mencium Val sampai dua kali maksudnya? ..”
“Iihhh, Kak Kafeel!” Val mencebik manja.
Kafeel terkekeh geli sekaligus gemas.
‘Ish. Kalau ga inget itu naga punya mata kecil yang bisa tembus ke semesta alam, udah gue sambar lagi itu bibir!’
Kafeel membatin gemas dalam dua makna yang berbeda.
“Ya sudah apa dong kalau begitu? ..” kata Kafeel. “Hm? ..”
“Uumm .. sudah menjadi sepasang kekasih ..” ucap Val malu-malu. Kafeel tersenyum geli.
“Lalu?” tukas Kafeel.
“Yaa lalu ..” Val kembali menggantungkan kata-katanya sejenak. “Ya lalu sebagai sepasang kekasih kan, seharusnya kita saling berbagi.”
Lalu Val melanjutkan kembali ucapannya.
“Val ingin Kak Kafeel dan Val dapat berbagi segalanya selain perasaan kita yang meliputi cinta yang kita rasa satu sama lain.”
Val berucap lagi.
“Val ingin kita tidak hanya berbagi suka, tapi juga masalah, bahkan duka. Selain saling menghargai dan memahami satu sama lain ..”
Ah Val, lagi-lagi Kafeel dibuat takjub dengan rangkaian kata-kata dari mulut berbibir tipis nan manisnya milik sang kekasih kecil tercintanya Kafeel itu.
Kafeel yang sesekali melirik jalanan dihadapannya itu pun menarik sudut bibirnya, setelah mendengar kata-kata Val tersebut.
“Iya ..”
Lalu Kafeel mengiyakan seraya mengangguk, dan menyempatkan untuk menoleh pada Val dengan tersenyum tampan dan teduh pada Val, yang juga sedang tersenyum padanya itu.
Tangan kiri Kafeel meraih satu tangan Val yang kemudian ia genggam mesra, lalu Kafeel angkat dan kecup dengan lembut.
“Nanti akan Kakak ceritakan tentang hal yang membuat Kakak gusar tadi pada Val.”
Kafeel lalu berkata dengan lembut juga pada Val. Lalu Val pun mengangguk. “Janji?....” pinta Val. Gantian Kafeel yang mengangguk.
“Janji.”
Kafeel meyakinkan.
Setelahnya Kafeel melepaskan genggaman tangannya pada tangan Val.
Kafeel pun kembali memposisikan tangannya pada perseneling mobil.
‘Sekarang ini yang paling penting adalah menghadapi The Daddies.’ Batin Kafeel.
♥♥♥♥
“Kalau sedang memikirkan yang bagus-bagus, bagi-bagi dong?” ucap Kafeel saat mobil yang ia kemudikan sudah setengah jalan menuju kediaman utama keluarga besar Val yang berada di Jakarta. “Sendirian aja senyum-senyumnya? ...” tambahnya.
Val yang tadi sedang duduk bersandar di kursi penumpang yang sedikit ia landai-kan dan wajahnya sedikit miring ke arah kaca jendela mobil itu segera menoleh saat mendengar Kafeel mengajaknya bicara.
Val tersenyum geli setelah menoleh pada Kafeel. Dan memang sedari sudah tidak lagi mengobrol dengan Kafeel, Val sibuk dengan pikirannya sendiri sampai ia senyum-senyum seperti yang kemudian tertangkap oleh mata Kafeel kala melirik pada Val.
Tangan Kafeel kembali terulur ke puncak kepala Val. “Lagi mikirin apa sih?..”
Kafeel bertanya lagi.
“Memikirkan yang sudah terjadi antara Kak Kafeel dan Val hari ini.”
Val menjawab dengan menyertakan senyum andalannya. Membuat senyuman Val itu, selalunya bisa menular juga pada Kafeel yang ikutan tersenyum, bila Val sedang tersenyum padanya, seperti saat ini.
Bahkan dari sejak sebelum mereka ‘Jadian’.
“Sampai detik ini Val masih tidak percaya jika Kak Kafeel mencintai Val ..”
Val berkata lagi dengan sudah sedikit memiringkan tubuhnya.
“Bahkan kita sudah menjalin kasih ..” sambung Val. “Val akan selalu ingat hari ini, tanggal ini .. sebagai hari yang akan Val ingat seumur hidup Val.”
__ADS_1
Lagi-lagi, kata-kata Val membuat hangat menyeruak di hati Kafeel.
“Kalau begitu, nanti di mobil ini Kakak pasang kalender ya? ...” Kafeel berkelakar dan Val langsung terkekeh.
“Good idea ( Ide yang bagus )!”
Val pun dengan cepat menyahut.
Dan keduanya terkekeh bersama kemudian.
Sedang sama-sama merasakan bahagia di dalam hati masing-masing.
Namun begitu, Kafeel tetap juga sedang waspada, dengan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi barisan para Daddynya Val, dimana tiga orang telah menunggunya saat ini.
Palang pintu barisan pertama, dalam jalannya Kafeel untuk berhubungan lebih lanjut dengan Val.
‘Yakin gue sih, ‘pembicaraan serius’ yang disampaikan lewat Achiel tadi, karena mereka sudah tahu tentang gue yang sudah mencium Val di pantai tadi!’
Kafeel teringat lagi pada barisan para mantan-eh para Daddynya Val.
‘Tapi masa mereka ga setuju kalau gue dan Val berhubungan lebih jauh?’
Membuat Kafeel menjadi sedikit gelisah lagi, saat mobil yang dikendarainya semakin dekat dengan tujuan.
‘Taklukkan dulu tiga naga yang ada di Jakarta, habis itu gue mempersiapkan diri untuk menghadapi tiga naga lain di London!’ Kafeel menyemangati dirinya sendiri. ‘Haish, kenapa lah gue jatuh cinta sama anaknya para naga? Kenapa ga anak ular sawah?”
Lalu Kafeel mendengus geli sambil geleng-geleng.
‘Ah, pokoknya gimana cara gue harus bisa meyakinkan itu para naga!’
Kafeel mengepalkan tangannya yang berada di-kemudi.
‘Lo harus bisa Ka!’ Kembali Kafeel menyemangati dirinya sendiri. ‘Daddy, Daddynya Val yang tampan, kalian harus merestui aku yang menjalin hubungan dengan satu putri kalian. Karena jika tidak, aku bawa kabur!’
Kafeel tanpa sadar terkikik kecil.
‘Emang lo berani apa Ka bawa kabur ini anak naga?? Yang ada, baru selangkah lo sudah ditembak mati!’
Kafeel menggoyangkan sedikit bahunya, macam orang yang sedang bergidik.
‘Ampun, ampuunn. Bisa-bisanya gue begini gara-gara gadis remaja?!’
Lalu Kafeel tanpa sadar terkikik lagi.
Dan tindak-tanduk Kafeel itu tidak luput dari perhatian Val.
‘Kak Kafeel kok sejak pulang dari pantai sikapnya aneh ya? ...’
Hati Val berkata.
‘Apa pantai tadi berhantu dan Kak Kafeel sedang dirasuki arwah penunggu pantai itu??’ Juga Val menerka-nerka dalam hatinya. ‘Ah tidak mungkin!’
Kemudian Val menampik sendiri dugaannya itu.
‘Tapi bisa saja kan? Negeri ini toh masih sarat dengan segala yang berbau mysticism ( kemistisan )’
Val melipat bibirnya sembari memandangi Kafeel dengan intens.
‘Soalnya tadi Kak Kafeel teriak-teriak, lalu normal. Kemudian melamun, tegang, lalu senyum-senyum dan terkekeh sendiri. Jika begitu....’ Val masih berkata-kata dalam hatinya.
“Ehem....” Itu Kafeel yang berdehem. Dimana dirinya menyadari jika Val sedang memperhatikannya. Namun tatapan Val sedikit aneh pada dirinya.
Kafeel mengernyit. Pasalnya Val tidak bergeming dari memandanginya saat ia berdehem untuk membuat Val menanggapinya. Lalu Kafeel berdehem lagi.
Karena Val tidak menanggapinya, dengan menatap pada satu poros. “Val?....” panggil Kafeel. Val tetap bergeming pada posisi dan ekspresinya. “Va—“
Kafeel memanggil Val. Ingin menyadarkan Val yang Kafeel pikir sedang melamun itu, dengan tangannya yang sudah terangkat untuk kembali menyentuh pucuk kepala Val.
Namun ucapan Kafeel terhenti karena tangannya telah di pegang oleh Val.
“Kamu melamunkan apa Val?.... Kok kayaknya serius banget mikirinnya?....”
“Ssstt....” Val meletakkan telunjuk di atas bibirnya sendiri.
Alis kemudian Kafeel terangkat karena gelagat Val sekarang ini, yang menyergahnya untuk bicara lebih lanjut.
“Kalau rasanya tubuh Kak Kafeel panas, tahan ya Kak?”
“Heu?....”
Kafeel tak paham maksud ucapan Val barusan.
Dan Val tidak lagi menerangkan lebih lanjut, karena Val nampak menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.
Dengan tangan Val yang masih memegangi satu tangan Kafeel. Lalu satu tangan Val ia letakkan di dada Kafeel, hingga membuat pria itu jadi kikuk.
“Eehh....” Kafeel yang sedikit terkejut itu bersuara. “V-val?....” panggil Kafeel sedikit terbata. Sementara Val nampak datar dan sedikit serius juga, dengan menatap pada Kafeel.
‘Syaitan itu kan bersarang di hati manusia, ya?....’ kata Val dalam hatinya. Ia tidak memperhatikan panggilan Kafeel yang sedang kikuk dan membagi fokus antara dirinya dan kemudi.
“V-val....” ucap Kafeel lagi sembari berusaha menyingkirkan tangan Val dari dadanya, karena itu membuat Kafeel menjadi sedikit gelisah, meski Val hanya meletakkan tangan didada Kafeel.
“A’udzubillahiminnassyaiithaanirrajiim....”
♥♥♥♥
To be continue ..
__ADS_1
Salam sayang,
Emaknya Queen