
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
‘Ikhlaskan Semua Pada Takdir.’
*
Untukmu sang pemilik rindu dan hatiku...
Aku akan mengikuti jejakmu.
Meski tahu,
jika ‘Di sana’,
Kita tidak juga akan bersatu, pun tidak juga akan bertemu.
Tak apa.
Karena berada di satu ‘dunia’ yang sama denganmu,
Itu cukup bagiku.
----- K.A -----
*
*
“ALLAH!!!”
“A – AAA!!!!---“
*
*
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
“Val,”
Teguran dan usapan sayang di kepala dia yang baru saja disebut namanya oleh Mami Prita, adalah yang kesekian kalinya dilakukan pada Val.
Sebelum Mami Prita, sudah satu per satu ---- Bahkan para pewaris muda tanpa terkecuali bergerombol menegur Val yang jika matanya terbuka, hanya duduk mematung saja.
“U --- lat, buluu..”
“Oncii..”
Bahkan dua malaikat kecil pun diikut sertakan dalam misi untuk membuat Val, setidaknya menoleh saja.
Tapi sayang,
Nihil.
Val masih setia dengan kebungkaman, memaku dengan tatapan kosong binar.
*
“Val, mau makan apa?---“
“.........”
“Ada gulai kesukaan Val nih.. Val makan ya? Ini bagian paha udah dipisahin khusus Val. Val makan sekarang, kalau engga entar dihabisin Aro loh.”
“Apa rahangmu tidak pegal sudah mengatup saja selama berpuluh – puluh jam?..”
“.........”
“Hey, Valera Aditama Adjieran Smith, jika kau seperti ini terus, akan kami bekukan semua kartu kreditmu lalu katakan selamat tinggal pada shopping cantik yang menjadi hobimu itu.”
“Ulat bulu, jalan – jalan yuk?”
“Ayuk!”
Ajakan Rery, Isha yang menyahut.
“Aku mengajak Val, bukan kamu!” ketus Rery pada Isha.
“Tapi aku juga kan saudarimu..” sahut Isha. “Jadi aku berhak diajak jalan – jalan juga..”
“Halah!..” sergah Rery malas.
“Ya udah sekarang kita jalan – jalan ke Korsel gimana?..”
“Itu namanya bukan jalan – jalan Jamilah. Keluar negeri traveling namanya..”
“Sama aja---“
“Bener Aro lah. Beda!”
“Emang dasar Pea!..”
__ADS_1
Aro menimpali ucapan Drea.
Menekankan satu kata terakhir dengan toyoran.
‘Ih Aro, jangan suka seperti itu!..’
Karena Val akan melayangkan protes, jika ada acara toyor – toyoran antar saudara saudari yang dibubuhi dengan umpatan kecil.
Yang mana kali ini, hal itu tidak mendapat respon apapun dari Val.
Jangankan bersuara, melirik pun tidak.
Val sungguh gadis yang setia.
Setia atas nama cinta, dan sekarang---setia pada kebungkamannya.
Membuat para saudara saudari Val yang sudah mencoba segala cara untuk menarik perhatian Val agar tidak mematung terus-terusan, jadi berkesah frustasi, lagi dan lagi.
‘Ya Tuhan, Val mau begini sampai kapan?..’
Dalam hati mereka---keluarga Val berbisik lirih, sambil memandangi Val.
Sambil juga bertanya – tanya, apalagi yang harus mereka lakukan agar Val bereaksi.
Membawa Kafeel ke hadapan Val?
*
Puluhan jam yang membuat para anggota keluarga The Adjieran Smith yang sedang berada di kediaman mereka yang berlokasi di Jakarta merasa miris atas kondisi Val yang benar – benar hanya duduk diam, sambil memandang ke arah lurusnya dengan nanar.
Lalu ada air mata yang luruh kemudian, perlahan sampai mulai kembali deras tanpa raungan.
Entah apa yang sedang Val pikirkan, kala airmatanya terproduksi lagi sampai tumpah.
Val menolak makan---tak bereaksi lebih tepatnya. Jangankan makan, setetes air pun belum masuk ke dalam mulutnya dari sejak ia terbangun setelah meluruh dalam pelukan Varen.
Mengkhawatirkan, selain menyesakkan.
Val diam saat matanya terbuka.
Namun meracau dengan lelehan air mata saat ia tertidur.
Dan akan kembali mematung saat ia terbangun.
“Apa kamu ga merasa pegal, Val?” Ada Mommy Ara yang mengajak bicara putri kandungnya itu, entah untuk yang keberapa kali.
“Apa cacing – cacing di perutmu tidak meronta karena sudah lama kau tidak memberi makan mereka..”
“Ada tiramisu coffee, mau?..”
Namun tetap, Val membisu.
*
“Kami puasa..” Ada Varen yang kini angkat suara. “Sama sepertimu..” lanjut Varen yang bersandar di nakas satu sisi samping tempat tidur Val. “Tidak hanya Abang, Kak Drea, Kan Tan-Tan, Kak Via, serta para saudara dan saudarimu yang lain juga. Bahkan Ain dan Ares ikut puasa..” sambung Varen.
“Dan tidak hanya kita orang, tapi juga The Dads and Moms..”
“Papa dan Mama juga ikut puasa meski mereka di London..”
“Gappa, Gamma, Oma, Nenek Yuna, Ake, Ene juga..”
“Kalau kita kan satu kesatuan atas nama saudara.. kalau para kakek dan nenek ikutan puasa, Val.. tega?..”
Mika dan para saudara saudari Val menimpali ucapan Varen kemudian.
“Jadi kalau kamu ga tega.. dan kiranya sayang sama kami semua.. ini,”
Isha menyodorkan ke hadapan Val sebuah piring berisikan potongan cake kesukaan Val.
“Cake kesukaan kamu.. bukan nasi,” ucap Isha lagi. “Ga mau juga?.. berarti kamu ga bener-bener sayang kami..”
“Ya sudah ga apa-apa kalau kamu tidak mau makan, kami pun juga tidak akan makan sampai kamu mau mengisi perutmu yang sudah sangat kosong itu..”
Daddy Jeff angkat suara.
Val tetap bungkam, namun kemudian bola matanya bergerak menatap ke piring yang tadi di tunjukkan padanya oleh Isha.
“Nan---“
Daddy R yang hendak bicara menimpali ucapan Daddy Jeff urung melanjutkan mulutnya.
Sebab Val telah menggerakkan tangannya.
Meraih sendok kecil yang ada di pinggir atas piring bertahtakan sepotong kue kesukaannya.
Lalu memotong kecil bagian kue, yang Val masukan ke mulutnya kemudian.
Wajah-wajah muram, prihatin dan khawatir yang sedang berada di dekat Val itu langsung kompak tersenyum.
Begini saja keluarga Val itu sudah senang.
“Aku suapi,” Poppa sudah berada di atas ranjang, persis di samping Val. “Mau?..”
*
“Sudah?.. atau sekarang ingin makan makanan berat?..”
Poppa kembali berbicara, kala saat hendak menyuapi Val lagi potongan kue yang ke empat, mulut Val kembali rapat.
__ADS_1
Poppa tersenyum, meski Val tidak menjawab.
Sudah agak lega, karena Val tidak kosong lagi perutnya.
Walau yang masuk hanya potongan kecil kue saja.
“Minum dulu, Sayang..”
Ini Momma yang bicara.
Karena saat disodorkan gelas berisi air, Val diam saja dengan tatapan yang kembali hampa.
Val kemudian melirik pada Momma, ketika salah satu ibu angkatnya itu bersuara untuk menawarkannya minum.
Lagi-lagi senyum serempak pun nampak, saat Val meraih gelas yang dipegang Momma dimana sedang ditawarkan pada Val yang kemudian menenggak isi gelas tersebut walau seteguk saja.
“Nanti kita makan sama-sama ya?..”
Ucapan terakhir yang terdengar dari mulut Mom Ichel, saat Val kembali merebahkan dirinya di atas ranjang.
Yang kemudian ditinggalkan sendiri, setelah mereka rasa Val tertidur lelap.
Kali ini, dibiarkan Val sendiri untuk sebuah privasi.
Nanti akan diganggu lagi, dalam beberapa jam ke depan.
Yang penting, Val sudah mau makan.
*
Untuk kamu yang hatinya sedang patah jadi dua karena cinta..
Jika mau berduka silahkan saja, tapi jangan terlalu lama.
Jangan juga menciptakan duka lain untuk mereka yang kamu sebut keluarga.
Yang mengasihi dan menyayangimu segenap jiwa.
*
“Selamat pagi, Tuan, Nyonya semua.”
“Hai Chiel. Bukankah hari ini kamu libur?”
“Iya, Tuan.”
“Apa sedang ada perlu dengan kami?”
“Mohon maaf, Tuan. Saya ke sini untuk mengantarkan coklat untuk Nona Muda Val. Saya membelinya kemarin, tapi lupa mau kasih semalam. Apa boleh saya memberikannya pada Nona Muda Val, Tuan?”
“Silahkan saja, Chiel.. justru kami sangat menghargai perhatianmu pada Val.. sekalian saja kau ajak dia berjalan-jalan agar perasaannya terus membaik. Lagipula, kau juga kami rasa belum sempat berjalan-jalan mengelilingi London sejak kau di tempatkan di sini. Jadi sekalian saja kau minta Val pergi denganmu.”
“Baik, Tuan.”
“Itupun jika kau tidak ada acara di hari liburmu ini.”
“Sama sekali tidak, Tuan.”
“Ya sudah, sambangi saja Val ke kamarnya. Dia sudah cukup lama masuk, dan aku yakin dia sedang menangis lagi di sana.”
“Baik, Tuan. Saya permisi kalau begitu.”
*
“Maaf Tuan..”
“Kenapa, Chiel? Val tidak meresponmu?”
“Bukan itu, Tuan..”
“Lalu?..”
“Saat saya baru sampai di kamar Tuan Rery, ada air menggenang. Mungkin ada pipa yang bocor?---“
“VAALLL!!!...”
*
“Val.. Baby.. Wake.. Up.. Please..”
“Val.. Jangan seperti ini..”
“Va-al..”
“Siapkan mobil!”
*
“Very sorry..”
*
Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith,
Time of death ( Waktu kematian ): 10 AM.
*
To be continue.....
__ADS_1