
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....
“Tapi kami tidak menceritakan apapun pada Val tentang masa lalumu itu ---“
“Aku akan memberitahunya Uncle ...”
“Jika Val tidak bisa menerimanya, bagaimana? ...”
Papi John yang bertanya.
“Aku akan menerima apapun keputusan Val, Uncle ... Walaupun hidupku yang sudah penuh warna sejak kehadiran Val didekatku akan berubah menjadi hitam andai Val tidak bisa menerima masa laluku. Keputusannya akan aku terima dengan lapang dada ... Well, jika aku tidak salah, cinta itu bukan hanya soal kepemilikan, melainkan tentang keikhlasan ...”
“Widih asistennya Alvarend Aditama Smith, kayaknya ga Cuma dapet ilmunya Abang, tapi juga ketularan ngumpulin love quotes (kutipan cinta) saking ketularan bucin kek bosnya.” Celetuk Nathan.
Kafeel pun terkekeh mendengar celetukan Nathan dan juga pria lainnya. “Papski usil aja mulutnya ..” kekeh Kafeel dan Nathan mendengus geli. “Kek sendirinya ga bucin aja sama Via, lo? ..”
“Tapi gue belum seakut Abang kadar kebucinannya.” tukas Nathan.
Para pria itupun terkekeh lagi.
“Ya sudah kalau begitu, gue sama Sony pamit dulu.” Ucap Uncle Rico, setelah ia selesai terkekeh bersama para pria yang bersamanya di ruang billiard.
“Okay.”
Mereka yang diajak bicara oleh Uncle Rico pun mengiyakan pria itu yang berpamitan, juga Sony yang ikut berpamitan pada para pria anggota dinasti The Adjieran Smith yang ada bersamanya saat ini.
Setelahnya Uncle Rico berjalan terlebih dahulu untuk memanggil istrinya yang Uncle Rico tebak pasti sedang bersama The Moms, karena mereka habis melakukan perawatan tubuh bersama.
Sisanya berjalan di belakang Uncle Rico untuk keluar dari ruang billiard.
♥♥
“Apa mereka menjahili kamu lagi, Ka? ..”
Mommy Ara iseng bertanya, kala ia yang telah berjalan bersama Aunt Shireen dari ruang santai keluarga pada kediaman mereka – berpapasan dengan para pria yang nampak keluar dari lorong arah ruang billiard berada.
Para pria yang dilirik Mommy Ara itu pun terkekeh kecil mendengar ucapan Mommy Ara yang bertanya pada Kafeel itu.
“Engga kok Aunt, kami ngobrol beneran.” Kekeh Kafeel.
Dimana kemudian, Val yang sudah ada bersama The Moms dan Aunt Shireen itu langsung menempel pada Kafeel.
“Kirain kambuh lagi itu isengnya ini bapak – bapak.” Celetuk Mom Ichel, sambil ia mengulum senyum geli.
Yang mendengar celetukan Mom Ichel pun ikutan tersenyum geli.
“Aku permisi dulu ya Aunts, Uncles ---“ ucap Kafeel kemudian pada The Dads dan The Moms seraya berpamitan. “Gappa dan yang lainnya mana? ...” lalu Kafeel menanyakan keberadaan para tetua untuk berpamitan pada mereka.
“Di ruang santai ..” Mami Prita yang menjawab.
Kafeel pun mengangguk lalu permisi untuk menghampiri para tetua untuk berpamitan, meski tadi dia telah meminta ijin untuk membawa Val pergi bersamanya.
Kafeel pergi menghampiri dua kakek dan empat nenek Val, bersama si kekasih kecilnya yang menemani, meski Val sudah lebih dulu berpamitan saat menghampiri The Moms setelah ia berganti pakaian.
Uncle Rico dan Sony juga ikut dengan Val dan Kafeel untuk menghampiri para tetua dan berpamitan.
♥♥
“Arya bareng sama Val dan Kak Kafeel?”
Kevia yang tangannya melingkar di lengan Nathan-dimana ia dan beberapa anggota keluarga mengantar Uncle Rico beserta istri dan kedua anak lelakinya berikut Val dan Kafeel yang hendak pamit dari Kediaman Utama keluarga mereka yang berada di Jakarta itu, bertanya pada Arya.
“Duh ogah banget deh jadi obat nyamuk pasangan yang lagi kasmaran.” Sahut Arya, dan yang mendengarnya pun terkekeh. “Lagian aku kan nemenin ini nih pak polisi di mobilnya.”
Arya menunjuk pada Sony yang mengiyakan ucapan Arya, karena memang ia dan Arya menggunakan mobil yang berbeda dengan orang tua mereka. Sambil test drive mobil Sony yang baru direparasi.
“Mendingan jadi supirnya pak polisi daripada jadi obat nyamuk!” tambah Arya, dan mengundang kekehan lagi.
♥♥
“Pamit dulu ya semua.” Kafeel berucap, setelah ia dan Val telah berada di teras kediaman.
__ADS_1
“Makasih jamuannya.. dan makasih untuk ijinnya ya Uncles, Aunts –“ ucap Kafeel lagi. “Makasih karena sudah memperbolehkan aku menjalin hubungan asmara dengan Val.”
“Iya sama – sama..” The Moms menyahut, sementara The Dads manggut-manggut saja.
“Non Val, ini taro dimana?..” ucap seorang asisten rumah tangga kediaman yang menenteng dua buah paper bag di tangannya.
Dan satu orang asisten rumah tangga lain tak lama muncul juga dengan membawa satu paper bag lagi di tangannya, dan kemudian berdiri di dekat rekannya.
“Oh iya..” tanggap Val. “Kunci mobil Kak Kafeel mana?—“
Lalu Val beralih ke Kafeel.
“Biar Mba Adis sama Mba Arum masukkan ini ke mobil Kak Kafeel.” Kemudian bicara pada Kafeel sambil Val menunjuk ke arah tiga paper bag yang ditenteng dua asisten kediaman mereka itu.
“Repot-repot Val.”
Kafeel mengacak pelan rambut Val seraya tersenyum.
“Mana ada repot untuk mama mertua dan adik ipar?” tukas Val. Para anggota keluarga memutar bola mereka malas saja.
Kafeel pun tersenyum mendengar celotehan Val.
“Ya sudah biar aku ambil mobil aku kesini.” Ucap Kafeel.
Val pun mengangguk.
♥♥
Kafeel sekali lagi berpamitan pada para keluarga Val yang ikut mengantar dirinya, Val, serta Uncle Rico dan keluarganya kala mereka hendak meninggalkan kediaman utama keluarga The Adjieran Smith yang berada di Jakarta itu.
“Uncles, Aunts, Than, Vi.. makasih sekali lagi ya. Aku pamit dulu.”
Kafeel berucap lagi sebelum ia membawa Val masuk mobilnya, setelah dua asisten rumah tangga kediaman utama keluarga Val selesai memasukkan sekaligus memasukkan tiga paper bag yang sudah disiapkan Val untuk dibawa sebagai buah tangan untuk bertemu ibu dan adik Kafeel.
Dimana satu paper bag adalah sekotak cake yang dipersiapkan oleh The Moms, yang diambil dari show case cake mereka yang selalu tersedia dengan beragam cake yang fresh tentunya-macam toko roti.
The Dad dan The Moms berikut Nathan dan Via pun menanggapi Kafeel yang berpamitan dengan,
“Iya, hati-hati..” Begitu kiranya sahutan dari para anggota keluarga Val yang berada didekat Val dan Kafeel saat ini.
Berikut,
“Iya pasti aku sampaikan,” jawab Kafeel dengan santun.
“Boy.. tentang pembicaraan kita tadi-“ suara Daddy R terdengar, berikut orangnya yang melangkah mendekati Kafeel.
“Iya Uncle R –“
Kafeel pun menyahut.
“Aku pasti akan mengatakan padanya—“
“Ya itu terserah padamu.” Sergah Daddy R. “Namun bukan itu yang aku maksud ---“
“Lalu apa, Uncle R?..”
“Sehubungan dengan hal yang kita bicarakan tadi.” Jawab Daddy R. “Meskipun kami sudah tahu, aku tetap ingin kau melakukan satu hal dengan segera.”
“Apa itu Uncle?..” tanya Kafeel lagi.
“Screening test (tes kesehatan). Just in case you know (Untuk berjaga-jaga kau tahu)?”
Kafeel yang tahu kemana arah ucapan Daddy R itu lantas terkekeh kecil.
“Baik Uncle, akan aku lakukan.” Jawab Kafeel disela kekehannya sembari manggut-manggut. ‘Ga sekalian nyuruh gue psikotes juga? –‘ batin Kafeel yang merasa geli.
Sementara yang tak paham pembicaraan kedua pria itu mengernyitkan dahi mereka sambil bertanya-tanya dalam hati. Termasuk Val.
‘Mereka membicarakan apa sih?-‘ batin Val. ‘Kenapa membahas tentang screening test segala?’ Val bertanya-tanya dalam hatinya.
“Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu.” Namun Kafeel keburu bicara dan berpamitan lagi saat Val hendak membuka mulut untuk bertanya.
“Bye semuaa –“
Val pun ikut juga berpamitan.
__ADS_1
♥♥
‘Maksud Dad R menyuruh Kak Kafeel untuk screening test apa ya?. Apakah Kak Kafeel menderita penyakit yang serius?’
Val yang sudah berada di dalam perjalanan bersama Kafeel yang duduk di kursi mobil kemudi sampingnya itu, sedang mengingat-ingat pembicaraan Kafeel dengan Daddy R sebelum ia dan Kafeel meninggalkan kediaman utama keluarga besarnya itu.
Gadis ulat bulu ini sedikit kepikiran karena tak paham pembicaraan kekasih dan ayah kandungnya, yang mana sebenarnya pembicaraa tersebut adalah guyonan Dad R saja yang juga sebenarnya ditanggapi Kafeel dengan tidak serius. Mengingat sikap Dad R berikut perkataannya saat ia dan ayah kandung Val berbicara di ruang billiard bersama pria lainnya saat itu.
“Val kenapa?. Kok diem aja?-“tanya Kafeel yang menyadari jika kekasih kecilnya itu memang diam saja sejak masuk mobil, selain sempat saling lempar senyum dengannya. “Lagi mikirin apa?.. hm? ----“ tanyanya lagi.
“Val sedang memikirkan ucapan Dad R pada Kak Kafeel tadi sebelum kita berangkat Kak.”
“Hmmm soal itu..”
Kafeel pun menyahut seraya menggumam.
“Kenapa Dad R meminta Kak Kafeel untuk screening test?”
Val pun bertanya seraya ia menoleh, lalu menatap Kafeel dengan pandangan sedikit heran dan keingintahuannya yang berdasarkan atas sedikit rasa khawatir pada Kafeel atas spekulasi dalam otaknya karena ucapan Daddy R saat di kediaman tadi.
“Bukan apa-apa Val –“
Kafeel membelai lembut kepala Val.
“Apa Kak Kafeel menderita suatu penyakit yang serius?—“
Kafeel terkekeh kecil mendengar pertanyaan polos Val barusan.
“Engga kok Val. Insya Allah aku sehat-sehat aja.. lagipula Dad R itu hanya berguyon aja.”
Kafeel menerangkan dan menenangkan.
“Tapi mengapa guyonan Dad R melibatkan screening test?” tanya Val.
“Uumm-“
“Memang Kak Kafeel habis membicarakan apa dengan The Dads selepas Val meninggalkan kalian untuk berganti pakaian?-“
Kafeel kemudian meringis samar mendengar cecaran pertanyaan Val.
Lalu Kafeel mengalihkan dulu pandangannya ke arah jalan di hadapannya.
Sementara Val masih bergeming menatap pada Kafeel, menunggu kekasih setengah om-omnya itu menjawab pertanyaan atas rasa penasaran dan keingintahuan Val pada guyonan Dad R.
“Ini tentang masa lalu aku, Val ... tentang bagaimana pergaulanku dulu dan sejauh mana. Dan itu buruk.”
Kafeel lalu bicara saat mobil yang sedang ia kemudikan itu ia hentikan kala lampu lalu lintas berwarna merah.
Kafeel tersenyum tipis pada Val, sambil mengusap pelan kepala Val. “Dan aku ingin mengatakan semua itu ke kamu.”
Kafeel menarik tangannya dari kepala Val, kala lampu lalu lintas telah berubah jadi hijau.
“The Dads sudah tahu, tapi entah The Moms. Yang Dad R katakan padaku, hanya mereka belum menceritakannya pada kamu, Val ...”
Kemudian Kafeel lanjut berbicara setelah mobil yang ia kemudikan, Kafeel bawa untuk melaju lagi.
“Tapi sebelum aku katakan itu pada kamu, aku hanya ingin kamu tahu, kalau semua itu jejak masa lalu yang sudah lama sekali dan sudah beberapa tahun belakangan ini aku sedang memperbaiki diri—“
Kafeel menggenggam satu tangan Val.
“Seharusnya memang, aku katakan ini dulu ke kamu sebelum aku meminta kamu untuk menjalani hubungan dengan aku.”
“........”
“Untuk keterlambatan itu aku minta maaf ...” sambung Kafeel.
“........”
“Tapi satu hal yang aku ingin kamu yakini, kalau aku tulus dan sungguh – sungguh menyayangi, mencintai kamu, Val.”
Val bergeming saat Kafeel sedang mendominasi pembicaraan mereka.
“Dan aku harap, setelah aku menceritakan semua keburukan aku dimasa lalu, kamu, tetap dapat menerima aku—“
“Itu tergantung, Kak ...” potong Val, dimana Kafeel sontak menoleh fokus pada Val.
__ADS_1
♥♥♥♥
To be continue..