HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 73


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....


Dari sejak mendapat ancaman dari Ibu Peri, sang Naga Bucin kini telah mengambil tempat duduk disisi istri tercintanya itu.


Hal yang selalu Daddy R serta para pria dalam keluarganya lakukan, jika para istri telah dalam mode merajuk. Termasuk Gappa dan Ake Herman, bahkan Varen dan Nathan.


Para pria yang merupakan geng bucin akut itu akan menempel terus pada istri-istri mereka, sampai mood para istri dipastikan sudah kondusif dimana akan dapat dipastikan bahwasanya kemesraan akan aman terkendali.



Val sudah membawa Kafeel menjauh dari tempat para ‘naga’ yang gagal mengerjai Kafeel untuk melaksanakan tantangan nyeleneh dari The Daddies generasi pertama-of Adjieran Smith.


Val menggandeng Kafeel dengan gegap gempita, dengan posisi dirinya yang berada didepan Kafeel. Dimana tanpa Val sadari Kafeel beberapa kali mencoba mengalihkan pandangannya dari bongkahan belakang Val yang mengayun indah didepannya, berpadu dengan kemulusan paha dari kekasih kecilnya itu.


Kini Val dan Kafeel telah berhenti di meja jamuan, yang merupakan ruang makan outdoor dalam kediaman keluarga besar Val tersebut.


“Kak Kafeel mau yang ada disini atau mau itu tadi seblak seperti Mom Ara? ....” tanya Val yang kini telah berdiri dihadapan Kafeel, pada jarak dimana Kafeel dapat lebih jelas memperhatikan Val dari ujung rambut sampai ujung kaki.


‘Haish!’ Kafeel berkesah dalam hatinya. Cukup berat tantangan Kafeel saat ini. Val nyatanya lebih ‘mengancam’ Kafeel ketimbang tarung sarung dengan Poppa.


Jika Kafeel terancam babak belur andai bertarung dalam free-style tarung sarung dengan Poppa, maka melihat Val dengan penampilannya saat ini dan dalam jarak pandang yang dekat, sungguhlah lebih mengancam bagi Kafeel, karena gelora kelakian Kafeel seolah sedang diuji.


'Andai saja hanya ada aku dan Val saat ini.' harap Kafeel dalam hati.


“Kak?” Val menyentuh lengan Kafeel karena kekasih setengah om-om-nya itu tak menjawab pertanyaan yang tadi Val ajukan.


Kafeel yang sedikit melamun itu terkesiap. “Eh, iya Val .... Kenapa?”


Kafeel sontak bertanya, kala kesadarannya yang sempat teralihkan sedikit itu telah kembali sepenuhnya.


“Kak Kafeel mau yang mana?---“


‘Mau semua yang ada di kamu, Val.’


Kafeel memberikan jawaban.


Tapi jawaban itu hanya dalam hatinya saja.


“Apa saja Val...” jawaban yang Kafeel suarakan untuk didengar oleh Val.


“Kak Kafeel suka seblak? –“ tanya Val. “Eh tapi sebentar...” lalu Val menggumam, sambil celingukan memandangi meja jamuan. “Eh Rery, itu apa? ..” Val bertanya pada Rery yang muncul dari area dalam Kediaman bersama Ann.


“Seblak ..” jawab Rery yang segera menghentikan langkahnya bersama Ann saat ia berpapasan dengan Val dan Kafeel setelah mengambil semangkok seblak untuk dirinya dan Ann yang sudah sejak lama tahu tentang itu makanan.


Satu dari banyaknya ragam makanan yang sudah para pewaris pernah, bahkan sering rasakan karena meskipun berdomisili di London, makanan yang disajikan seringnya makanan nusantara. Yah, tentu saja hal itu adalah andilnya Momma, yang tak pernah membuang jati dirinya walau memiliki suami yang berasal dari kalangan diatas kalangan ‘berada’.


Momma, Mami Prita dan Mama Jihan serta Mama Fabi yang berasal dari kalangan biasa, tak pernah menjadi pongah dan besar kepala, meski suami mereka sungguhlah lebih dari sekedar kaya raya. Bahkan Mommy Ara yang asalnya memang berasal dari kalangan atas meski dalam kadar cukup kaya namun kemudian sedikit terpuruk setelah kematian ayahnya, juga pada dasarnya sudah merupakan pribadi yang welas asih.


Mom Ichel yang bahkan katakanlah sudah lahir sebagai seorang sultanah, juga tak pernah memandang orang dari kelas sosialnya. Hanya, Mom Ichel sedikit judes saja. Tapi soal memamerkan kekayaan, tidak pernah Mom Ichel lakukan.


Bagaimana The Moms yang rendah hati, pada dasarnya The Dads pun sama. Memiliki sifat rendah hati pada dasarnya, hanya nampak pongah di permukaannya saja. Punya toleransi yang sangat tinggi, selain tak pernah menghitung untuk berbagi dalam ragam kegiatan sosial yang beragam bentuknya.


Cuma ya itu, The Dads, yang merupakan kumpulan para ‘naga’ janganlah disenggol.


Dalam hal ini, keluarga dan para wanita yang mereka cintai.


Karena seyogyanya, bukan hanya pongah yang akan nampak, tapi kesangaran seekor naga besar yang dapat menggelapkan langit-istilahnya, akan ‘menyemburkan api’ tanpa ampun pada mereka yang mencoba cari gara-gara, walau hanya memantik saja.


Tapi diluar itu, The Dads adalah para pria yang memiliki kepribadian luar biasa dengan masing-masing sifatnya.


Gentleman, mungkin dapat mewakilkan sebagai kata untuk penggambaran mereka. Berterima kasihlah pada tetua yang menanamkan sikap sayang keluarga, selain tidak memandang seseorang dari kelas sosial mereka, pun merendahkan dengan seenaknya.


Berawal dari ayah kandung Gappa yang mampu membentuk orang-orang yang tidak ada hubungan darah sama sekali, menjadi satu kesatuan yang bahkan melebihi dari keluarga kandung mereka sendiri. Yang saling perduli, membela dan saling melindungi, selain saling mengasihi.


Kemudian sikap tersebut diajarkan dan diturunkan pada Gappa Anthony yang memang sudah menyerap hal-hal dari makna arti keluarga yang sebenarnya, yang kemudian di ajar serta diturunkannya lagi pada anak-anak mereka dimana hal tersebut diserap dengan lebih baik lagi oleh penerus dibawah Gappa Anthony.

__ADS_1


Yang kemudian diajarkan, diturunkan, diterapkan pada para pewaris muda generasi saat ini-yang mana hal-hal mengenai arti sebuah keluarga terlepas dari ada atau tidaknya hubungan darah juga dapat diserap dengan sangat baik oleh para pewaris di era Varen sampai Ares. Ikatan yang kuat sebagai keluarga, saudara dipraktekkan dengan luar biasa.


Saling perduli satu sama lain, saling mengasihi dan menyayangi hingga menjadi kompak dan mungkin melebihi kekompakan serta eratnya ikatan saudara dari mereka yang terikat dalam satu keluarga pada satu keturunan darah yang sama. Selain sikap yang menghargai antar sesama manusia pada mereka di luar lingkup keluarga inti.


Memiliki kekayaan melebihi level crazy rich, tidak membuat para anggota keluarga The Adjieran Smith merasa jika merekalah ‘pengusa dunia’. Selain menikmati kekayaan yang memang sudah sepatutnya dinikmati karena memang dicari dan dikumpulkan sedemikian rupa demi kesejahteraan keluarga-dengan cara yang benar, tentunya.


Nikmati apa yang ada, selain selalu ingat untuk bersyukur. – Satu dari prinsip hidup The Adjieran Smith.


Berbaur dengan siapa saja, dari kalangan manapun kelas sosialnya, tapi tetap harus waspada. Begitu kiranya.


Keluarga yang kemungkinan besar, adalah Satu Diantara Sejuta.


Tentu saja, Cuma ada di novel ini aja bukannya?.


😁


*


“Eh Rery, itu apa? ..” Val bertanya pada Rery yang muncul dari area dalam Kediaman bersama Ann.


“Seblak ..” jawab Rery dengan Ann yang berada disisi anak bungsu kandungnya Poppa dan Momma itu.


“Sudah habis ya?”


“Masih banyak stok kok ..”


“Tapi kok tidak ada disini? ..”


“Adanya di dapur.”


“Yah kenapa tidak diletakkan disini saja agar mudah mengambilnya? ..”


“Kalau Mba Adis dan Mba Desti katakan, lebih enak kalau dibuat berdasarkan request.”


Ann menjelaskan.


“Iya juga sih. Seblak itu kalau sudah dingin kan tidak enak.”


“Nah itu tahu!” pungkas Rery. “Dah ah, aku sama Ann mau makan ini seblak sebelum dingin.”


“Ya sudah deh.” Tanggap Val. Lalu Rery dan Ann undur diri dari hadapan Val dan Kafeel.


“Ke dapur aja kalau mau, dua D Emba, sudah standby untuk langsung membuatkan itu seblak.”


“Ya sudah kalau begitu ..”


“Nanti bergabung disana ya?”


Ann menunjuk ke arah sisi kolam renang dimana sudah ada beberapa pewaris muda yang sudah melipir kesana.


“Okay deeh! ..”


Val menyahut centil pada Ann.


“Kak Kaf juga ya? ..”


“Siipp! ..”


“Ya iya lah pasti Kak Kaf kesana kalau aku kesana, Ann –“


“Iya paham ..” tukas Ann. “Lover newbie yang sudah direstui, pastinya kemana-mana inginnya selalu bersama.”


Lalu Ann terkekeh kecil dan Val terkikik. Sementara Kafeel dan Rery mendengus geli. “Ya sudah ya, Val, Kak Kaf, aku dan Ann kesana dulu ..” pamit Rery pada Val dan Kafeel sambil menunjuk ke arah kolam renang. “Ayo Ann.”


Rery pun mengajak Ann.


“Eh, Re-An ..” panggil Ann setelah ia dan Rery mulai mengayunkan langkah menjauh dari Val dan Kafeel.


Rery menyahut dengan deheman.

__ADS_1


“Kamu tidak ingin minta ijin? ..”


“Ijin apa? ..” Rery balik bertanya.


“Ijin pada Papa Lucca untuk memacari aku lah.”


“Kamu ini Ann, Ann .. Kita ini masih sekolah!” tukas Rery.


“Then?”


Selidik Ann.


“Ya tidak perlu memikirkan soal pacaran!”


“Why nut? ( Kenapa kacang? ) –“ ( kenapa tidak maksudnya deng ).


“Ya memang anak sekolah tugasnya belajar, bukan pacaran.”


“Ih Re-An, kita ini bukan masih di sekolah dasar atau junior ..” tukas Ann. “Kita sudah senior. Berpacaran sudah lumrah diusia kita. Bahkan beberapa dari teman-teman kita saja sudah ada yang suka menginap di tempat kekasihnya.”


“Nah kita kan sudah tinggal bersama bahkan sejak kita masih bayi?!”


Rery menyahut santai.


“Iya juga ya ..”


“Sudah deh Ann, daripada memikirkan soal hal ga penting macam pacar-pacaran itu, lebih baik kita fokus pada sekolah dan pelajaran sampai kita lulus dan menjadi yang terbaik di sekolah.”


“Mudah itu sih!”


“Jangan suka menyepelekan sesuatu!”


“Nah itu!”


“Apanya yang nah itu?!”


“Jangan menyepelekan hubungan kita ini Re-An!” kata Ann.


“Maksudnya? ..”


“Aih, dasar pria, selalu tidak peka!”


“Enak saja bilang aku tidak peka!” protes Rery.


“Memang iya!” tukas Ann.


“Bagian mana dari aku yang ga peka, terlebih soal kamu yang keseluruhannya aku tahu?!”


“Ya itu soal hubungan kita, Re-An.” Tukas Ann lagi.


“......”


“Sebelum kamu menyatakan cinta padaku secara resmi, kamu ijin saja terlebih dahulu pada Papa Lucca untuk berpacaran denganku. Jadi saat kita kuliah nanti tinggal langsung menjalani masa pacaran lalu menikah dan hidup bahagia ever after.”


“Ann, Ann ..”


Rery mendengus geli.


Satu tangan Rery yang bebas, terulur ke puncak kepala Ann yang kemudian ia goyangkan dengan gemas.


“So, do you want to ask permission from Papa Lucca to dating with me or not? ( Jadi, kamu mau meminta ijin pada Papa Lucca untuk berpacaran denganku atau tidak? )”


“Tidak sebelum kita lulus sekolah dan dewasa.”


“Ya sudah kalau begitu. Aku sajalah nanti yang meminta ijin pada Poppa untuk memacari mu.”


*


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2