HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 221


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


London, Inggris,


"Lo terusin deh kepentingan lo di sini. Gue lagi sama Val dan lainnya. Yang jelas, nanti malam gue hubungi lo. Ada yang mau gue bicarakan dan perjelas tentang kita...” ini Mika yang bicara, sesaat setelah Arya menolak menunjukkan isi dalam paper bag sebuah toko perhiasan yang tadi Arya sambangi lebih dulu sebelum Mika pergi menyusulnya berdasarkan info dari Rery dan Ann.


Arya yang menangkap gelagat tidak enak dari Mika itu dengan cepat meraih lengan Mika yang sudah hendak berbalik meninggalkan Arya di tempatnya.


“Mi,” panggil Arya.


Mika menahan langkahnya dan langsung memandang Arya.


Saat ini Arya sedang dilema sebenarnya.


Ada sesuatu yang ingin Arya berikan pada Mika sebagai kejutan memang, tapi nanti tidak sekarang.


Tapi ternyata Mika sudah memergokinya begini, jadinya Arya dilema. Apa hal yang ingin ia berikan nanti itu harus ia berikan sekarang? sementara Arya ingin memberikannya pada Mika dalam satu momen berdua.


‘Tapi gue pengen romantis – romantisan sama dia saat gue kasih ini –‘


“Gue beneran lagi sama Val dan lainnya di D - K.”


Suara Mika menarik Arya dari lamunannya, sembari melirik kepada paper bag yang sedang ia pegang di satu tangannya itu.


“Tenang aja, gue ga mikir kalo lo selingkuh,” ucap Mika lagi.


Dimana Mika mengulas senyuman pada Arya. Tipis tapi. Sebelum Mika berucap sekali lagi.


“Ya udah ya? –“


“Mi –“


“Gue nyusul lo cuma ingin mastiin aja tadi ucapan Rery sama Ann yang katanya lihat lo di Mal ini.”


Mika menyentuh tangan Arya, dan perlahan melepaskan tangan yang sedang mencekal lengan Mika tanpa tenaga itu.


“Ingin mastiin sekaligus cari tau kenapa lo sampai bohong sama gue, Ar,” tambah Mika.


“Gue –“


“Apapun alasannya, nanti kita bicarakan di telefon aja. Gue ga mau bicara hal pribadi di tempat umum,” tukas Mika.


Arya menghela nafasnya pelan. “Ya udah ayo, kita ngomong berdua sekarang. Ki –“


“Sorry, ga bisa.”


Mika menolak dengan halus.



“Gue beneran lagi sama Val, Rery, Ann, bahkan Elena, Felix dan Melly –“


“Dimana? –“


“D – K...” tukas Mika.


Arya mengangguk samar.


“Nanti malam gue telefon –“


“Ayo.”


“Eh? –“


“Gue ikut ke DK –“


“Ga usah...” tukas Mika lagi seraya ia memberikan penolakan, setelah ia sempat terkesiap sesaat ketika Arya meraih tangannya lagi yang kemudian Arya genggam.


Sambil Mika memposisikan dirinya berhadapan dengan Arya.


Mika melirik tangannya yang sedang digenggam Arya, namun perlahan coba ia lepaskan genggaman tangan Arya itu.


“Lo terusin aja apa yang mau lakukan andainya lo ga ketemu gue, Ar... I’m okay with that ( Gue ga masalah )” tutur Mika.


“Tapi gue yang masalah –“


“Ar –“


“Ayo.” Arya yang tak membiarkan Mika melepaskan genggaman tangan mereka itu, kemudian menarik pelan diri Mika untuk mulai berjalan.



“Ar...”


Mika memanggil Arya yang sudah berjalan seolah menuntunnya itu.


“Hh –“


“Gue ga marah –“


“Iya, ga marah...”


Arya menukas ucapan Mika setelah ia sempat menghela nafasnya samar, lalu membuat dirinya dan Mika kembali berhadapan dengan menghentikan langkah.


“Tapi lo punya satu pemikiran di sini...” sambung Arya sambil menunjuk sendiri kepalanya. “Entah itu pemikiran yang seperti dugaan gue, atau lo punya pemikiran tentang hal lain,” ucapnya lagi.


“.....”

__ADS_1


“Tapi yang jelas, gue ga mau ambil resiko.”


“.....”


“Dan gue ga mau nunggu malam buat kita bicara berdua...”


Arya menegaskan. Namun dengan tutur kata yang tenang. Sementara Mika terdiam.



“Gue ga mau kalau harus ninggalin Val dan lainnya, karena keberadaan gue disini juga atas rencana bersama.”


Tak lama kemudian Mika bersuara.


“Selain ga etis kalau tiba – tiba gue pergi begitu saja tanpa berpamitan dari mereka, tas gue pun masih di sana –“


“Iya, kita ke D – K dulu...” potong Arya.



“Memang lo ga ada urusan lain?” Mika melontarkan pertanyaan, saat ia dan Arya hendak menuju salah satu eskalator di ground floor tempat mereka berada sekarang.


“Ga ada...”


Arya menjawab seraya menggeleng. Namun kemudian menghentikan langkahnya dengan pelan, ketika ia dan Mika telah dekat dengan salah satu eskalator.


“Gue taro ini dulu di mobil ya? –“


“Iya,” tukas Mika menjawab ucapan Arya yang mengangkat paper bag dari toko perhiasan yang sedari tadi ia genggam di satu tangannya.


“Ayo...” ajak Arya pada Mika. “Gue parkir deket dari sini kok –“


“Kenapa ga parkir Valet sih?”



“Ehm, Nona Mikaela Finn. FYI, saya bukan CEO yang duitnya ga berseri. Jadi ga punya kartu loyalitas ini tempat dengan jenjang hitam yang bisa dapet gratisan Valet selama dua jam –“


“Gue juga bukan CEO kok. Tapi gue punya tuh kartu loyalitas jenjang hitam tempat ini –“


“Lo emang bukan CEO. Tapi duit keluarga lo bisa bikin satu negara baru,” tukas Arya dan Mika mencebik malas.


“Lo terlalu berlebihan...”


Mika merespons ucapan Arya kemudian.


“Gue bicara kenyataan...”


Arya berujar, lalu dia dan Mika sama terdiam ketika mereka melewati pintu putar.


“Gue tunggu di sini aja deh.”


“Gue malas jalan lagi.” Mika menambahkan.


Arya memutar bola matanya setengah malas.


“Tau gitu kenapa tadi lo ga duluan ke D – K aja?”


“Nah elo aja megangin tangan gue terus? –“


“Habis takut lo kabur... soalnya kalo lo pergi gue hilang arah nanti –“


“Apaan sih...” cebik Mika sedikit menggumam. Namun ada senyum yang tercipta di hatinya. Ucapan Arya terdengar cukup manis Mika dengar.


Pasti itu gombalan recehnya si Arya Narendra --- pikir Mika. Namun sialnya, tetap saja gombalan yang ini membuatnya rasa terbang meski cuma sedikit saja.


“Bukan gombalan tuh!... tapi kenyataan gue yang merasa begitu... udah mentok gue sama lo, tau? –“


“Udah sana cepet ke mobil lo. Gue lapar ini –“


“Ya udah ayo! –“


“Lo aja sendiri, gue tunggu sini –“


“Nanti kabur!...” tukas Arya.


“Enggaa.” Mika menyanggah praduga Arya.


“Udah ikut aja ah. Gue ga tenang ninggalin lo sendirian di sini.”


“Gue bisa jaga diri,” sahut Mika. “Lagian cuma di sini aja,” ucap Mika. “Dah sana!”


Lalu Arya bilang, “Ya udah kalo males jalan, sini gue gendong. Asal lo deket terus sama gue.”



“Thanks, Dave.”


Arya berucap pada seorang pria dengan rambut berpotongan slicked-back undercut yang adalah salah satu pengawal pribadi dari beberapa yang dikhususkan untuk menjadi bodyguard para pewaris muda The Adjieran Smith.


Namun berdasarkan permintaan Mika sampai dengan Ann, keberadaan para pengawal pribadi itu tidak diinginkan terlalu mencolok jika mereka sedang santai di area publik.


Misal, seperti jika mereka sedang hangout ke Mal seperti sekarang ini.


Mika, bahkan dari jaman Abang pun, tidak ingin terlihat terlalu bagaimana – bagaimana dengan keberadaan bodyguard yang terlalu dekat dengan mereka kecuali pada acara – acara tertentu. Lain hal kalau seperti itu.


Namun jika sedang berada di kampus atau sedang bersama teman – teman layaknya pemuda dan pemudi normal, para bodyguard akan menjaga pada jarak tertentu namun keberadaan para tuan dan nona muda mereka tetaplah tertangkap mata.


Seperti sekarang, satu pengawal pribadi khusus Mika itu sudah mengikuti arah setiap kaki Mika melangkah bahkan dari sejak Mika menyusul Arya ke sebuah toko perhiasan. Namun ya itu, apabila para pengawal pribadi tersebut tidak melihat adanya ancaman yang mendekat pada para majikan mudanya --- Dave dan rekan – rekannya yang lain tidak akan mendekat.

__ADS_1


Tapi tadi karena Dave mengira Mika dan Arya sedang cekcok mulut di depan salah satu pintu masuk Mal, maka Dave memberanikan diri untuk mendekat.


Yang pada akhirnya keberadaan Dave itu dilihat Arya yang langsung memanggilnya. Lalu karena ada Dave, maka Arya mau meninggalkan Mika barang sejenak untuk kembali ke mobil guna menaruh paper bag yang berisikan sebuah perhiasan pesanannya.


“It becomes my duty, Mister Arya ( Sudah menjadi tugas saya, Tuan Arya ) –“


“Thank you, however, Dave,” tukas Arya sambil menepuk sekali bahu pengawal pribadi khusus Mika itu. Lalu kembali meraih tangan Mika, untuk pergi ke restoran tempat Mika berada sebelumnya.



“Mi –“


“Hem –“


“Masih marah?”


Arya bertanya ketika ia dan Mika telah masuk ke dalam sebuah lift orang.


“Marah sih engga, cuma agak dongkol aja lo bohongin yang ngakunya mau lembur tapi malah ada di Mal.”


Mika menjawab santai, dan Arya melipat bibirnya. “Maaf.”



Setelah percakapan singkat antara Mika dan Arya di dalam lift, kedua orang itu telah bergabung bersama Val, Rery, Ann, Elena, Felix dan Melly di dalam sebuah restoran Jepang tempat Mika berada sebelumnya saat masuk ke dalam sebuah pusat perbelanjaan tersohor di Inggris.


Enam orang yang masih duduk di tempat masing – masing dan nampak mengobrol sembari menikmati pesanan mereka yang sudah disajikan itu, langsung menyalami Arya yang datang bersama Mika. Yang kemudian dipersilahkan untuk mengambil tempat duduk berdampingan dengan Mika.


“Moment ini seperti dejavu deh.”


Val angkat suara, setelah Arya selesai memesan menu untuk dirinya pada seorang pelayan.


“Dejavu dengan saat? –“


“Saat kita bertemu Kak Arya ketika Kak Arya mulai bekerja di WI – TECH.” Val menukas sumringah ucapan Ann.


Sementara tiga orang yang masih belum paham bulat bahasa Indonesia itu memperhatikan dengan seksama ucapan Val dan Ann saat mereka menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara saat ini.


Elena, Felix dan Melly sedikit banyak sudah memahami bahasa Indonesia memang, tapi terkadang mereka harus memperhatikan gerak bibir atau menelaah benar – benar setiap kata yang diucapkan oleh mereka yang menggunakan bahasa Ibu para pewaris muda The Adjieran Smith, jika orang yang bicara itu memiliki kecepatan yang diatas normal dalam berucap.


Terlebih apabila ada penggunaan bahasa slang yang beredar di Indo digunakan dalam pembicaraan.


Maka Elena, Felix dan Melly akan lebih hirau pada Val dan para saudara saudarinya yang bercakap, andai ketiga orang anak dari salah satu kerabat sangat dekat orang tua para pewaris muda The Adjieran Smith itu sedang berada bersama para pemuda pemudi yang lahir di ‘Bukit Emas’ itu --- istilahnya.


“Ingat tidak? –“


“Ah ya aku ingat.”


Arya menyambar. Untuk saat – saat tertentu Arya akan menggunakan ‘Aku’ untuk membahasakan dirinya.


“But different formation right? (Hanya berbeda formasi aja ya?)”


“Iya saat itu kita bersama Mom Peri.”


“And that time (Dan saat itu), masih ada yang super jutek banget sama aku...” Arya melirik pada Mika sambil tertawa lebar.


“Dan sekarang bucin!” timpal Ann. Lalu ia terkekeh geli. “Tahu rasa –“


“Ck!” decak Mika yang sadar menjadi sasaran empuk kejahilan mulut tiga saudarinya, termasuk juga Arya yang ikut – ikutan menggodanya.


Lalu acara kumpul santai delapan muda mudi serta satu pria yang sudah memasuki kategori pria berusia matang itu menjadi sesi kumpul dengan membahas sikap Mika yang dulu – dulu pada Arya.


Dimana yang bersangkutan selain Arya hanya terkadang berdecak, memutar bola matanya malas, serta bersikap masa bodoh pada ledekan – ledekan yang dilontarkan padanya yang sekarang malah pacaran dengan orang yang dulu amat Mika tidak sukai.


Sementara Arya sesekali mengguncang pelan kepala Mika ketika wajah sebalnya nampak saat mendapat ledekan dari enam orang lainnya, seraya Arya tersenyum. “Tapi Neng Judes udah jinak sekarang,” canda Arya yang langsung mendapat lirikan malas dari Mika.


“Iya jinak – jinak merpati.”


“Tak bisa mengelak kala panah cupid bersarang di hati”


Eyyaa...



“Ga apa – apa nih, Mikanya aku bawa?...” ucap Arya ketika berikut Mika dan rombongan telah selesai di satu restoran Jepang yang belum lama membuka cabang di London, dari pusatnya yang berada di Dubai.


“Bawa aja Kak... Sepertinya ada yang ingin kalian bicarakan berdua?...” sahut Rery yang peka. Meski usia Rery masih enam belas tahun, namun kepekaan Rery juga cukup tajam untuk sesuatu hal macam para Dadnya.


Dan ucapan Rery diiyakan oleh lima orang lainnya.



Arya menggenggam tangan Mika saat keduanya berpamitan pada Val, Rery, Ann, Elena, Felix dan Melly yang akan lanjut karokean seperti rencana mereka sejak awal.


Arya juga berbicara pada Dave jika Mika akan ikut bersamanya setelah berpisah dari enam orang yang datang bersama Mika sebelumnya, dan satu pengawal pribadi khusus Mika itu hanya mengiyakan saja ucapan Arya.


Karena memang tugas Dave dan para rekan sejawatnya sebagai pengawal pribadi di keluarga The Adjieran Smith tidak akan sampai masuk campur ke ranah pribadi para tuannya.


Arya yang diketahui menjalin hubungan khusus dengan Mika itu juga rasanya tidak perlu meminta ijin pada Dave jika satu nona muda yang menjadi prioritas tanggung jawab Dave menjaga keselamatan Mika itu tidak keberatan untuk pergi bersama kekasihnya yang memang direstui oleh seluruh keluarga, selain Dave juga sudah cukup lama mengenal Arya.


“Tapi kalau lo memang sebenarnya lagi mau karokean juga ga apa, Mi,” ucap Arya saat ia dan Mika hendak bergegas turun ke lantai bawah Mal tempat mereka berada saat ini. “Kita bisa ngomong setelah itu,” tambah Arya. “Tapi kalo bisa sih agak lamaan spending (menghabiskan) waktu sama gue hari ini,” Arya kembali berucap. “Itu juga kalo lo bersedia. Yang mana kalo iya, gue bakal langsung minta ijin sama The Dads untuk mengantar lo pulang agak malam.”


“Memang kenapa lo mau spending waktu sama gue lebih lama?” tanya Mika.


Arya mengulas senyuman pada Mika. “Gue mau puas – puasin ngabisin waktu sama lo sebelum pergi.”


♥♥


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2