HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
KAFEEL’s POV


__ADS_3

Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Hari itu, disebuah kapal pesiar yang tidak sebesar kapal pesiar terbesar di dunia.


Namun fasilitas kemewahan didalamnya tidak kalah dengan kapal pesiar terbesar di dunia itu.


Aku sedang mengobrol dan bersenda gurau dengan Alvarend, teman kecilku-well, ga juga dibilang teman sih. Karena aku mengenalnya sebagai anak kerabat almarhum ayahku.


Pernah main bareng, namun sekedar saja. Itupun jarang-jarang karena Alvarend berdomisili di London sampai sebelum dia berkuliah.


Tapi, walaupun aku dan Alva-panggilanku kepada Alvarend-jarang sekali bertemu, kami cukup berhubungan baik, walau tidak intens saling bertukar kabar, apalagi sejak insiden yang pernah menimpa keluargaku, terkait kematian ayahku.


Dan setelahnya aku menghilang untuk menyelidiki kematian ayahku, serta membalas dendam pada para mereka yang terlibat atas konspirasi yang meng kambing hitamkan ayahku, lalu membunuhnya dengan keji. Yang pada akhirnya para ayah Alva-lah yang membantuku menyelesaikannya, selain ada kebetulan yang membuat mereka memiliki musuh yang sama denganku.


Noted, kisahnya ada deh di The Smith’s.


( Promo dikit ).


---


Bicara tentang acara berpesiar besar-besaran yang diadakan oleh keluarga Alva pada waktu itu, dihari itu aku dipertemukan oleh seorang gadis dari keluarga Alva.


Satu dari jajaran perempuan-perempuan cantik nan mempesona dengan ragam usia dalam keluarga Alva yang sangat banyak personelnya itu.


Valera, namanya.


Lengkapnya Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, kalau ga salah.


Val, begitu ia biasanya dipanggil.


Gadis remaja yang cantik luar biasa memang, selain imut-imut.


Namun, centil sekali!.


Tapi bukan centil dalam kadar yang menjijikkan, melainkan menggemaskan.


Bagiku.


Aku tahu Val sejak ia lahir ke dunia.


Tapi dalam masa sebelum aku melihat dia tumbuh menjadi gadis remaja usia sekitaran empat atau lima belas tahun jika tidak salah, aku hanya pernah melihatnya dalam hitungan jari pada tanganku.


Bercengkrama dengan Alva saja memang jarang, dan lebih jarang lagi dengan Val. Jangankan bercengkrama, bertemu dengan Val saja memang sangat jarang.


Eh tahu-tahu udah remaja aja itu adik kandungnya Alva.


Hanya saja, Val ini centil sekali anaknya.


Yang baru aku perhatikan selepas acara berpesiar selesai, gadis cantik yang selalu gelayutan padaku setiap kali kami bertemu, ternyata kecentilan nya hanya padaku saja, tidak pada laki-laki lainnya.


Namun Val adalah gadis yang ramah pada setiap orang yang ditemuinya. Orang tua Val mengajarkannya dengan baik nampaknya, tentang bagaimana memperlakukan orang lain, tanpa memandang status sosial.


Tidak hanya Val sih, tapi seluruh anak-anak yang merupakan pewaris dalam garis keturunan Dinasti keluarganya Alva itu, ku-perhatikan tidak ada yang angkuh, sok kaya, walaupun yah memang mereka kaya beneran. Dan jangan ditanya berapa jumlah total kekayaan keluarga Alva itu, karena aku rasa perlu ratusan akuntan untuk menghitungnya.


Tapi, para pewaris beragam umur itu, beragam juga sifat dan kelakuannya. Tapi untuk bergaul, mereka tidak pernah pilah-pilih berdasarkan kelas sosial.


---


Kembali pembahasan soal Val.


Gadis remaja nan cantik dan imut itu, pada suatu hari membuatku cukup terkejut.


Saat dia menyatakan, bahwa dia mencintaiku, dan menginginkan aku untuk menjadi suaminya. Ngajak nikah cepet pula.


What?!.


Tapi setelahnya aku tergelak.


Dan Val mengerucutkan bibirnya dengan begitu menggemaskan.


Sayang, masih bocil itu dia.


Coba dia seusiaku.


Sudah pasti akan aku koyak tanpa sisa.


Menggemaskan banget Val ini memang soalnya.


Membuatku tidak pernah merasa marah jika ia selalu menempel padaku jika kami sedang bertemu.


Yah, walau rasa risih juga ada saat Val seperti itu.


Tapi tidak pernah aku menyergah apapun yang Val lakukan terhadapku, karena hanya sebatas dia bergelayut manja padaku, atau menubruk-ku untuk memeluk saja.


Centil, tapi tidak murahan. Dan kadang manja berlebihan. Tapi terus aku biarkan.


---


Gadis remaja yang cantik dan imut itu telah beranjak menjadi gadis muda sekarang. Sudah hampir delapan belas tahun. Dan oh Tuhan, Val makin rupawan parasnya.


Gadis kecil itu semakin bertambah pesonanya. Cantiknya melewati batas aku rasa sih. Dan aku rasa setiap laki-laki yang melihat Val pun akan berpendapat sama denganku.


Dan aku rasa juga, Val berikut keluarganya itu, adalah makhluk-makhluk kesayangan Tuhan. Karena memang tidak ada yang bisa melihat kekurangan pada fisik dan paras mereka.


Belum lagi kekayaan mereka, yang entah bagaimana itu para orang tua Val dan saudara saudari mengumpulkan harta mereka hingga bisa sebanyak itu. Rasanya kata ‘banyak’ juga kurang tepat untuk menggambarkan harta kekayaan mereka yang melimpah ruah itu.


Kalau orang berpikiran dangkal, mungkin akan berpikir mereka melakukan pesugihan. Haha!.


---


Kembali soal Val. Val yang belia, sudah menjadi gadis muda.


Entah mengapa, otak dan hatiku selama beberapa waktu terakhir cukup intens mengingatnya, memikirkannya.


Ada rasa yang aneh dalam hatiku, kalau sekarang-sekarang ini aku melihat foto Val yang ada beberapa tersimpan dalam galeri ponselku. Baik itu fotonya yang sendiri, atau beragam foto dimana ada gambar Val didalamnya.


Ada sesuatu yang menggelitik hati, setiap kali aku melihat foto Val, dan teringat beragam tingkah polahnya padaku selama ini.


Tapi tidak mungkin rasa yang menggelitik itu adalah sebuah perasaan yang dinamakan cinta, kan?.


Iya, tidak mungkin.


Masa aku jatuh cinta pada abg?. Pada bocil?.


Aku menampik dugaan hatiku sendiri, untuk satu hal itu.


Perasaanku pada Val.

__ADS_1


Aku hanya menyayanginya. That’s it!.


Val terlalu menggemaskan untuk tidak sampai disayangi.


Olehku.


Terlalu menggemaskan, hingga aku sangat menyayanginya.


Tapi, aku rasakan, sayang yang aku punya untuk Val, berbeda dengan sayang yang aku punya untuk Lena.


Adik perempuanku.


Apa benar aku sudah jatuh hati pada seorang gadis belia?.


Sekali lagi, aku menampik dugaanku sendiri itu. Tidak mungkin.


---


Aku hanya menyayangi Val, bukan mencintainya. Itu yang aku percayai.


Tak mau juga main dan ambil hati pada sikap Val padaku yang katanya mencintaiku itu, sebagaimana seorang perempuan mencintai laki-laki.


Lagipun aku berpikir, apa yang Val pikir adalah cinta yang ia rasa padaku, hanyalah sebuah euphoria gadis remaja, gadis muda yang hanya akan bertahan sebentar saja.


Dan aku, akan terbebas dari belenggu ‘sindrom ulat bulu’ Val padaku.


Tapi ....


Tahun berlalu, namun sikap Val tidak berubah padaku.


Val masih nampak ‘menggilaiku’, ‘mengejarku’.


Sialnya, aku kok merasa menjadi dan kian nyaman dengan itu?.


Ada yang aku rasa hilang dalam hariku, jika tidak mengobrol dengan Val, baik lewat chat ataupun panggilan telepon.


Ada rasa yang tak nyaman, saat Val mulai sering bertanya,


“Kak Kafeel kenapa sih tidak mau berpacaran dengan Val? ....”


Bukan rasa nyaman karena tak suka. Tapi entah bagaimana menjelaskannya pun sulit bagiku.


Aku hanya merasa, bahwasanya aku tidak mungkin menjadikan Val kekasihku. Dan aku sudah memikirkan untuk berbicara dengan serius pada Val soal perasaannya padaku itu.


Aku ingin memintanya berhenti berharap padaku, pada cintaku.


Sudah aku tekad-kan hal itu beberapa kali, namun setiap melihat wajah Val, aku jadi tidak tega.


Hingga sampai hari ini.


Beberapa hari lalu aku benar-benar membulatkan tekad untuk pergi ke London, dan meminta Val agar melepaskan perasaannya padaku.


Perasaan yang aku pikir adalah euphoria cinta monyet saja.


Jalan Val masih panjang untuk masa depannya, dan tentunya mendapatkan pendamping yang tak jauh usia dengannya.


Lagipun, aku ingin memiliki pendamping seorang wanita yang setara denganku. Dalam usia, maksudnya. Dalam taraf kedewasaan. Bukan gadis belia. Meskipun gadis belia itu Demi Tuhan begitu menggemaskannya. Tapi aku tidak ingin Val berharap terlalu jauh padaku. Jadi ya itu, aku bulatkan tekadku, untuk pergi ke London, saat pekerjaanku agak lengang di Jakarta.


Tapi sebelum itu terjadi, ternyata Val sudah lebih dulu datang ke Jakarta, dan hal itu membuatku terkejut. Padahal minggu depan Val sudah akan mulai perkuliahan-nya.


Namun Val bilang, dia sedang kangen ingin bertemu denganku.


Oh Tuhaan!! ....


Mengapa perasaan Val tidak hilang juga padaku?.


Aku seperti merasa frustasi, namun aku tak tahu kenapa.


Tapi rasanya aku akan meminta Val untuk berhenti berharap padaku saat ini.


Kebetulan ia sedang berkunjung ke Jakarta. Sekali lagi, aku benar-benar membulatkan tekadku untuk serius bicara pada Val, agar melepaskan perasaan dan harapannya padaku.


Namun sebelum itu terjadi, nyatanya Val yang sudah lebih dulu memulai pembicaraan mengenai perasaanku padanya. Pertanyaan Val kurang lebih sama.


Hanya saja nada suara dan tatapannya saat bertanya kali ini berbeda. Sesuai dengan perkataan Val sebelum bertanya padaku, jika gadis itu terlihat cukup serius bertanya.


Seharusnya itu menjadi celah untukku meminta Val untuk berhenti berharap padaku. Ya seharusnya ... Tapi pada kenyataannya, ada yang berkecamuk dalam hatiku. Val dengan pertanyaan, berikut ekspresinya.


Membuat aku penasaran tentang alasan Val yang tahu-tahu ingin berbicara serius padaku.


Lalu Val bilang,


“Karena Val benar-benar mencintai Kak Kafeel.”


Masih dengan wajahnya dan nada suara Val yang serius. Membuat ada rasa hangat dalam hatiku, juga ada desiran tak nyaman disaat yang bersamaan.


Sekali lagi, ada rasa yang menyelusup, jika aku harus membuat Val berhenti berharap padaku.


“Val tahu apa itu cinta?”


Dan pertanyaan itu lolos dari mulutku.


Aku ingin tahu, daun muda ini akan menjawab apa.


Tapi memang aku benar-benar ingin tahu apa jawaban gadis yang ada dihadapanku ini.


Dan aku mengulum senyuman, kala secara harfiah Val menjawab pertanyaanku, menjelaskan definisi dari ‘Cinta’.


Lalu ekspresi menggemaskan kembali Val tampakkan.


Tapi ekspresi menggemaskan itu perlahan memudar, saat aku sudah mulai mengatakan beberapa hal soal cinta, juga pandanganku.


Aku tahu, mungkin Val kecewa setelah aku mengatakan beberapa hal mengenai pandanganku soal cinta. Bagaimana aku merasakan dan menanggapi perasaannya padaku.


Tapi kemudian, hatiku seolah bergetar mendengar setiap penuturan kalimatnya, tentang perasaan Val padaku. Terlalu tulus, terlalu serius jika rasa yang Val rasakan padaku hanya sebuah euphoria saja.


Dan saat Val bertanya apa dirinya yang selalu aku puji dengan kata ‘menggemaskan’ itu, hanya sebatas memang aku hanya merasa gemas padanya saja, disambung dengan kalimat Val yang mengatakan,


“Karena di mata Kak Kafeel, Val hanya seorang gadis kecil yang naif soal cinta---“


Hatiku, menjadi nyata terasa mulai tidak nyaman.


Lalu kala aku menampik dugaan Val, dengan Val yang kemudian mengatakan jika aku tidak pernah menanggapi perasaannya dengan serius selama ini, ada rasa bersalah yang kemudian menyelimuti hatiku.


Bersamaan wajah Val yang kulihat mulai nampak sendu. Hingga sampai Val berkata, “Maafkan Val ya Kak?. Untuk kenyamanan Kak Kafeel yang terganggu dengan keberadaan Val, dan sikap Val yang macam ulat bulu.”


Semakin aku rasakan ketidak-nyamanan yang terlalu-lalu dalam hatiku. Semakin aku rasakan hal itu, kala aku mendengarkan setiap kata dari mulut Val, selepas ia meminta maaf atas sikapnya selama ini padaku.


Kemudian aku menjadi tidak senang dengan dugaan Val yang bilang jika aku jijik padanya.

__ADS_1


Mana ada begitu!.


Macam-macam aja si Val nih!.


Jika aku jijik padanya, tidak mungkin aku biarkan selama bertahun-tahun sikapnya yang macam ulat bulu itu padaku.


Gimana sih?!.


Masa sampai Val mikirnya begitu?.


Jadi merasa jengkel aku.


Sekaligus, gusar.


Semakin gusar, selain tahu-tahu aku merasa was-was saat Val mengatakan kalau ia ingin memastikan agar dia tidak mengejar hal yang tidak pasti.


Dan aku tahu, jika ‘hal yang tidak pasti’ itu adalah aku.


Disaat dimana aku merasa sendu, selain seolah ada cubitan di hatiku. Saat Val bilang,


“Kak Kafeel, mungkin hanya akan menjadi mimpi Val saja seterusnya ....”


Dan pembahasan dari mulut Val yang terus-menerus katakan itu terasa mengganggu di telingaku, juga hatiku.


Sampai pada Val mengucapkan, jika ia akan melepaskan harapannya atas cintaku yang tidak mungkin dapat ia miliki.


Sesuai, dengan apa yang pernah aku harapkan.


Tapi kenapa saat aku dengar Val mengatakan hal yang tadinya ingin aku minta darinya, malah hatiku yang bersedih?.


---


Mulutmu adalah harimaumu.


“Kak Kafeel, Val lepaskan dari jeratan Val mulai saat ini ....”


Itu yang Val katakan dengan setengah terkekeh.


Keinginanku bukan?. Untuk lepas dari jeratan dan kejaran gadis muda ini agar aku dapat menjalani kembali keseharianku sebagai lelaki matang dengan normal?.


Mencari perempuan yang sepadan usia denganku.


Seperti itu, yang terbersit dalam otakku, keinginanku. Dan seharusnya aku merasa lega setelah mendengar Val mengatakan hal itu.


Iya, seharusnya.


Bahkan mungkin senang semestinya.


Namun pada kenyataannya, aku merasakan rematan dalam hatiku.


Aku, tidak rela.


Tidak rela jika Val memutuskan untuk menjauh dan menjaga jarak dariku.


Aku, rasanya sudah terlalu biasa merasakan ‘gangguan’ Val dalam hidupku.


Kalau Val menghentikan ‘gangguannya’ itu, aku pasti kehilangan. Aku kan ....


Menyayanginya? ....


Jadi aku utarakan alasanku agar Val tidak menjauhiku.


Tapi Val tidak mau menerima kejujuranku dengan berpikir jika aku hanya memaksakan diri sekaligus mengasihaninya.


Val, beranjak pergi ....


AARRGHH!! ....


Aku mencintai kamu Val!.


---


Yang terjadi, terjadilah!


Bocil, atau apapun itu terserahlah!.


Yang jelas aku tidak rela Val menjauhiku!.


Sangat tidak rela!.


Melihat kaki Val bergerak untuk berbalik dan melangkah pergi, seolah membuatku berpikir dia akan pergi jauh sekali dariku jika aku tidak menahannya, menghentikannya.


Tidak-tidak, aku tak mau, tak rela, tak sudi, kalau harus jauh-jauh dari Val!.


Aku saja tadi sudah sempat panas melihat Val mencubit-cubit pipi si Achiel.


Lalu setelah Val menjauh dan melupakanku, dia akan bertemu seseorang dan menjalin kasih kemudian.


Dan aku, nelongso? ....


Oh hell no!


Aku mencintainya.


Aku mencintai kamu, Val.


Semoga ciumanku ini dapat membuat kamu percaya.


Jika, aku tidak ingin jauh, tidak ingin kehilangan ‘Val Cantik’ nya AA Kafeel.


I love you, Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith.


Mungkin aku sudah gila, sampai jatuh cinta pada seorang gadis yang bahkan lebih muda usia daripada adikku.


But I do, Val ....


I do Love you!.


♥♥♥


Sumpah Ku-mencintaimu


Sungguh Ku-gila Karna-mu


Sumpah Mati Hatiku Untukmu


Tak Ada Yang Lain


♥♥♥

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2