
LOVING AND BEING LOVED
MENCINTAI DAN DICINTAI
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...
“Cinta sejati itu tidak pernah membedakan sifat, raga, jasmani serta harta seseorang. Karena cinta sejati itu, cukup hanya dengan sebuah ketulusan dan keikhlasan hati... Dan seperti itu cinta Val pada Kak Kafeel, tak perduli darimana Kakak berasal. Karena bagi Val, Kak Kafeel itu sempurna hingga Val jatuh cinta, dan mencintai Kakak setiap detiknya. Andai Kak Kafeel menjadi tidak sempurna pun, Val akan tetap mencintai Kakak.”
Terlalu manis kalimat panjang yang diucapkan oleh Val itu. Membuat jantung Kafeel menghangat, sekaligus terenyuh dalam bahagia. Hingga Kafeel sulit berkata-kata. Saking ia tersanjung dan bahagia. Karena kata-kata kekasih kecilnya terlalu menggetarkan jiwa.
“I love you, Val. Baby...”
Hingga kalimat romantis itu segera muncul dari mulut Kafeel dengan begitu spontan nya, selepas Val mengucapkan kalimat panjang yang menggambarkan bagaimana kekasih kecilnya itu mencintainya.
“I love you too, Kak...”
“And thank you.”
Kafeel berucap, mengurai dekapannya, namun tak melepaskan Val dengan memegang kedua bahu Val. Lalu mengecup dalam kening Val.
“Kakak ga bisa menjanjikan Val apa-apa, karena Kakak tidak se-sempurna seperti yang Val lihat. Ka---“
Kafeel kembali bicara sambil menatap Val lekat, setelah memberikan satu kecupan mesra di kening Val.
Namun Val memotong kalimat Kafeel sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. “Kak Kafeel akan selalu sempurna di mata Val...” sambar Val.
Membuat Kafeel tersenyum lagi.
“Val yang kelewat sempurna...” ucap Kafeel setelahnya. “Hingga rasanya Kakak merasa bodoh sekarang, pernah meremehkan perasaan Val pada Kakak dan mengabaikannya.”
Kafeel kembali menangkup wajah Val.
“Menyiakan cinta dari gadis secantik dan sebaik Val.”
Gurat penyesalan dan rasa bersalah memang terlihat dari wajah Kafeel yang bicara dengan sungguh-sungguh pada Val.
Lalu Kafeel membawa lagi Val dalam dekapannya.
“Tapi mulai saat ini dan seterusnya, Kakak akan tebus semua kebodohan Kakak yang pernah meremehkan bahkan sengaja mengabaikan perasaan Val pada Kakak.”
Meneruskan lagi untuk berbicara pada Val yang masih Kafeel rengkuh dalam dekapan. Dan Val sedang amat sangat menikmati perlakuan Kafeel saat ini.
Hal yang sangat Val impikan sejak lama, kini Val bisa dapat dan rasakan. Pelukan mesra, selain cinta dari Kak Kafeelnya. Jadi Val tak berkomentar. Ia sedang meresapi dekapan Kafeel saat ini.
‘Nyaman sekali.’ Batin Val.
“Jadi ijinkan Kakak ya?...”
Kafeel mengurai dekapannya pada Val, lalu kembali membuat wajahnya dan Val berhadapan.
“Untuk?...”
Val spontan bertanya.
Kafeel kembali menangkup wajah Val, menatap lebih dekat. “Untuk bisa menjadi orang yang bisa membuat Val tersenyum dan tertawa setiap hari.”
Lalu Kafeel tersenyum dengan tampannya.
Dan Val?...
Tak ada alasan bagi Val untuk tidak bahagia setelah mendengar ucapan Kafeel barusan.
Hanya sebuah kalimat sederhana yang Kak Kafeelnya itu ucapkan pada Val.
Namun rasanya itu sudah membuat bahagia Val begitu membuncah.
“Terima kasih, Kak...” ucap Val dengan mata yang berkaca-kaca, saking ia terenyuh bahagia.
Val sungguh tak menyangka, sampai detik ini pun Val rasanya tak percaya. Jika perjuangannya selama beberapa tahun ini pada akhirnya tak sia-sia. Bahwa buah kesabaran dari pohon ketulusan cinta Val pada Kak Kafeelnya itu, bisa sudah Val petik hasilnya. Hanya tinggal selangkah lagi rasanya.
Semua mimpi tertinggi Val akan menyata. Mimpinya untuk dipersunting oleh Pangeran impian yang selalu mengganggu kestabilan hatinya dan sering juga membuat otak Val tak mempersilahkan logika untuk masuk ke dalam otak cantiknya itu, atas cintanya yang berlebihan pada seorang Kafeel Adiwangsa.
“Hei, kok Val cantik malah keliatan sedih?... Berarti Kakak gagal ya, sebelum sempat berusaha untuk bisa membuat Val tersenyum dan tertawa setiap hari?...” raut wajah Kafeel sedikit berubah, karena menyadari mata Val yang berkaca-kaca.
“Engga kok Kak... Kak Kafeel tidak gagal sama sekali.”
Val menggeleng sambil tersenyum.
“Tapi kenapa ada yang kelihatan menggenang disini?” Kafeel mengusap lembut bawah mata Val.
“Karena Val bahagia.”
Val menampakkan lagi senyum cantiknya.
“Kak Kafeel tidak gagal sama sekali untuk membuat Val tersenyum dan tertawa setiap hari, karena Kak Kafeel sudah menjadi alasan Val untuk keduanya selama ini. Kakak lah alasan terbesar Val, selain keluarga Val tercinta, untuk Val tersenyum dan tertawa bahagia setiap harinya...”
Memetakan tangannya di wajah Kafeel yang menatapnya syahdu.
“Dan sekarang, setelah Kak Kafeel mengatakan jika Kak Kafeel juga mencintai Val, lalu Val dapat bersama dengan Kakak seperti ini, Val senang. Karena Val merasa menjadi orang yang paling spesial di dunia. Jadi Val semakin memiliki alasan, untuk tersenyum dan tertawa bahagia setiap harinya.”
“Oh Val, Baby...” Sekali lagi Kafeel terenyuh. Entah untuk yang keberapa kalinya kekasih kecilnya itu membuat jiwanya bergetar oleh kata-kata yang keluar dari mulut gadis yang tak ingin Kafeel lepaskan lagi, meski harus menghadapi biangnya 'naga'.
Merasa bodoh dan bersyukur secara bersamaan rasanya ia saat ini. Betapa bodohnya ia yang sering kali menepiskan dugaan ia yang telah juga jatuh hati pada Val, lalu bersikap seolah ia cuek saja pada cintanya Val yang kemudian mengejar dan menempel padanya selama ini.
Padahal coba lihat?-Kata hati Kafeel. Seperti ini cinta seorang Val yang sering Kafeel abaikan, tanpa memikirkan gadis yang memiliki cinta yang begitu besar padanya seperti ini kala ia mengalihkan pembicaraan setiap kali Val mengatakan kata cinta padanya. Menyesal?.
__ADS_1
Tentu saja Kafeel menyesal.
Merasa bersalah?.
Bukan lagi.
Tapi diatas semua itu, Kafeel bersyukur.
Bersyukur karena ia memang memiliki cinta untuk Val, hingga tak sampai menyakiti gadis yang memujanya itu.
Bersyukur, untuk tidak menjadi bodoh berkelanjutan dengan menampik sendiri perasaannya pada Val.
Bersyukur, serta bahagia. Dicintai sebegitunya oleh Val, meski kadang rasanya Kafeel tak punya muka, jika rangkaian kata-kata indah, manis dan bermakna keluar dari mulut Val dan ia tak memiliki kata-kata yang sama sebagai balasan.
‘Oh Val, bisakah berhenti mengeluarkan kata-kata manis dari mulut kamu itu? Karena selain aku merasa meleleh bak mentega di atas wajan panas, aku rentan kena diabetes bisa-bisa...’
Hati Kafeel yang mungkin akan terkontaminasi virus bucin secara keseluruhan itu pun berbisik.
Kafeel sungguh tak menyangka, jika Gadis belia yang bahkan belum genap berusia delapan belas tahun ini, dapat membuat dirinya bak remaja ABG yang bahagia sampe mau guling-guling rasanya karena bisa jadian sama cinta pertama.
Yang membuat Kafeel sampai akhirnya berpkir untuk ingin bilang,
“Val, senyum kamu itu ibarat susu bendera. Nikmat sampai tetes terakhir.”
Eyyaa!...
*
“Makasih sekali lagi untuk cinta Val pada Kakak ya? ..”
Kafeel berucap seraya menundukkan sedikit kepalanya berikut tubuhnya yang ikut ia runduk-kan, kala Kala Kafeel telah mengurai pelukannya pada Val. Karena meskipun tubuh Val masuk kedalam kategori tinggi untuk ukuran gadis seusianya, jika dibandingkan dengan rata-rata tinggi gadis di Indonesia pada umumnya-tetap saja, tinggi Kafeel lebih menjulang daripada Val.
Pria pujaan hati Val yang kini telah berstatus sebagai kekasihnya itu memiliki tinggi badan yang kurang lebih dengan para pria dalam keluarga Val. Jadi Kafeel harus sedikit merundukkan tubuh dan kepalanya jika ingin berbicara dengan menatap wajah Val, jikalau mereka sedang berbicara dalam keadaan berdiri.
Bahkan Ann yang menjadi gadis paling tinggi dalam keluarga Val saja, juga masih kalah tinggi dengan para prianya. Termasuk kalah tinggi dari Kafeel. Jadi, Kafeel yang rasanya sekarang ini ingin sering-sering berbicara dengan Val dalam jarak dekat, harus rela sediki merundukkan tubuhnya, apabila dalam keadaan berdiri.
Terlebih jika Val hanya menggunakan slipper saja sebagai alas kakinya, seperti saat ini.
“Makasih juga sudah sabar sama Kakak .. walaupun tadi Val sudah sempat mengatakan mau mundur dari mengejar Kakak seperti selama ini saat di pantai tadi ..” ucap Kafeel seraya tersenyum.
Val pun ikut tersenyum.
Hanya saja senyuman Val memiliki makna tersendiri untuknya.
‘Ah Kak Kafeel, andai saja Kakak tahu perihal aku yang inginresigndari mengejar Kakak yang aku katakan saat di pantai pada Kakak tadi hanya sedikit drama saja..’
Dimana kemudian Val membatin.
‘Tarik ulur cantik seperti yang diajarkan Momma..’
Val jadi geli sendiri di dalam hatinya.
‘Ya memang tidak seluruhnya adalah drama. Karena sebagian ada yang serius juga. Hanya saja kalau soal berhenti mengejar Kakak itu tidak sepenuhnya sungguh-sungguh akan aku lakukan jika hasil dari drama tarik ulur cantik yang diajarkan Momma itu menuai hasil yang tidak mengenakkan untukku.’
Val masih membatin, tanpa Val menyadari jika Kafeel sedang lagi mengajaknya bicara.
‘Aku memang menyadari kekonyolan dan kegilaanku dalam mengejar cinta Kak Kafeel. Tahu sih, kalau itu sebenarnya mengganggu kenyamanannya. Meski Kak Kafeel tak pernah melayangkan protesnya padaku. Tapi untuk benar-benar berhenti dari pekerjaan penting-ku, yakni mengejar dan memperjuangkan cinta Kak Kafeel.’
“Val? ...”
‘Jika tadi Kak Kafeel fine-fine saja saat aku ingin mengundurkan diri dari mengejarnya, itu pun tidak akan aku wujudkan dengan bulat. Paling-paling hanya setengahnya saja. Mengejar tapi tidak menempel. Atau kedua-duanya akan tetap aku lakukan, setelah aku cuti sebentar ...’
Masih saja Val bermonolog dalam hatinya.
Asik sendiri, dan tidak menyadari jika Kafeel kini sedang lebih memperhatikannya, yang nampak sedang melamun, meski matanya sedang memandangi wajah Kafeel.
‘Coba lihat saja pria setengah om-om pujaan hati, belahan jiwaku ini. Terlalu tampan untuk aku lepaskan begitu saja. Setidaknya tidak akan aku lepaskan sampai aku benar-benar lelah lalu menyerah. Yang mana hal itu rasanya tidak akan terjadi sampai ada penolakan secara langsung dari Kak Kafeel... Dan hingga saat itu tiba, walau sampai ada alien yang turun ke bumi, selama Kak Kafeel tidak menolakku mentah-mentah, aku akan kejar sampai dapat!’
Ulat bulu masih asik membatin.
‘Tapi sekarang aku lega rasanya. Karena ilmu Tarik Ulur Cantik dari Momma, dan Kak Kafeel telah menyambut cintaku .. Dapat bonus dua kali ciuman di bibir juga pula! Hihi ..’
“???”
‘Aku rasanya seperti menang lottery dicium sampai dua kali oleh Kak Kafeel. Hihi .. Gatal sekali kamu Val! ..’
Geli yang tadi ditahan oleh Val di dalam hatinya, akhirnya muncul di permukaan.
Bibir yang tadi Val tahan untuk ga cengengesan, akhirnya menunjukkan eksistensi meseman nya.
‘Dasar kamu Val! Ulat bulu!’
Meseman Val makin kentara.
‘Harusnya kan ulat bulu membuat gatal orang? .. tapi aku malah gatal sendiri. Xixixi .’
Ulat bulu makin geli sendiri.
Sibuk cekikikan sendiri, tanpa sadar jika Kafeel kini sedang benar-benar memperhatikan kelakuan Val yang asik bermonolog di hatinya.
‘Mikirin apa ini dia?’
Kafeel jadi membatin.
‘Ketempelan si Maryam jangan-jangan?’
Tapi Kafeel mengulum senyumnya. Merasa geli melihat tingkah Val saat ini.
Selain Kafeel jadi merasa gemas.
Cup.
__ADS_1
“Eh?...”
Val terkesiap.
Dikala ia merasakan ada benda kenyal yang menempel dengan singkat di pipinya.
Lalu Val spontan langsung memandang pada Kafeel.
“Mikirin apa hayo?...” cetus Kafeel. “Senyum-senyum sendirian begitu?” Lalu Kafeel tersenyum geli.
“Kak Kafeel kecup pipi Val barusan?...”
“Engga tuh...” Kafeel mengelak dengan wajah yang dibuat tak merasa melakukannya, sambil menggeleng.
“Ih jangan bohong,” cebik Val dan Kafeel tersenyum geli kemudian. “Benar kan Kak Kafeel mengecup pipi Val barusan?”
Val kembali mempertanyakan.
“Iya kan? ..”
Val mengarahkan telunjuknya pada Kafeel sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kamu nih ..” Kafeel yang gemas, mencubit mesra hidung Val. “Iya aku kecup pipi kamu barusan –“
‘Eh?’
Val menyadari sesuatu.
‘Ih, Kak Kafeel sudah be ‘aku-kamu’ bicara denganku sekarang.’ Val membatin lagi, sambil mengulum senyumnya memandangi Kafeel.
Seneng sendiri, ge – er sendiri.
Hingga ..
“Ah!” Val terkesiap kala sejenak saja ia membatin lagi, akibat Kafeel sudah membahasakan ‘aku-kamu’ dengannya.
Dimana wajah Kafeel kini sudah lebih merundukkan tubuhnya, dan wajah Kafeel telah menjadi begitu dekat dengan wajah Val.
‘Oh ya ampun .. Apa Kak Kafeel ingin menciumku lagi?? ..’ Val langsung menduga-duga sekaligus berharap, karena wajah Kak Kafeel tercintanya itu sangat dekat sekali dengan Val.
Tapi ..
“Wah sepertinya kamu yang sekarang ketempelan, Val cantik!” Kafeel malah menggodanya dengan kelakar.
Membuat Val langsung saja mencebik.
“Ih Kak Kafeel nih!”
“Habis, sedari tadi, sedikit-sedikit kamu melamun.”
Sambil Kafeel nampak sok serius menelisik wajah Val. Membuat Val jadi sedikit kikuk, malu-malu, tapi rasanya Val pengen sambar aja itu bibir sensual milik si AA yang dekat sekali dengan bibirnya.
‘Uu-hh, bibirku jadi terasa gatal!’
Val menggigit bibir bawahnya, ia merasa gemas.
Mau nyosor duluan malu, mau dianggurin itu bibir si AA tapi kok seolah melambai kepada Val minta disosor.
“Iya nih, bisa jadi kamu ketempelan nih. Secara kamu kan di pantai lebih dulu daripada aku.”
Dan suara Kafeel membuat Val tak lagi fokus pada bibir Kafeel.
“Ish! Mana ada!” Val menampik sambil cembetut.
“Iya ada ..”
Kafeel masih menggoda Val.
“Fix ini ketempelan kamu kayaknya, Val cantik. Harus aku pencet ini jempol kamu seperti yang Nathan lakukan ke aku tadi.”
Sengaja memang Kafeel mengatakan itu pada Val.
Mengingatkan lagi perbuatan lucknot satu kakak lelaki dan tiga Daddies nya Val yang menjahili-nya beberapa saat lalu.
Kalau Val merasa ngeri, pasti Val akan menunjukkan lagi wajah gemas nan imut kekasih kecilnya itu.
Karena Kafeel memang sangat menyukai ekspresi Val yang seperti itu.
Tapi sayangnya Val bergeming. Biasa saja ekspresinya Val, tidak terlihat ngeri atau pun protes.
“Sini aku pencet jempolnya—“ Kafeel berkata, sekali lagi menggoda.
“Pencet yang lain aja gimana? ..” tapi Val memotong. Dan Kafeel tergugu.
Dimana akibat kalimat ambigu yang keluar dari mulut Val itu, Kafeel jadi tersedak kecil. Bertanya dalam hatinya yang agak-agak jadi penasaran.
‘Gimana, gimana? Pencet yang lain???....’
AA Kafeel membatin, hendak menanyakan itu soal pencet-memencet.
Namun sepertinya urung untuk Kafeel suarakan pertanyaan dalam hatinya itu.
Karena ....
‘Duh Val, si Otong bergerak kan jadinya?....’
AA Kafeel mulai ga konsen.
*
To be continue ....
__ADS_1