HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 249


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Jangan lupa dukungannya.


Baca dulu tapi episodenya, okeh?


Tenkyu


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Walaupun Semesta Seolah Merestui, Tapi Nyatanya Tuhan Tidak. Lalu Insan Bisa Apa?”


💔💔


Rery:


Ro, quiet. Jangan katakan lo terima chat dari gue pada siapapun yang ada di dekat lo sekarang jika lo ada di kediaman.


Something bad was happened ( Sesuatu yang buruk telah terjadi ).


Gue, Ann, Val dan May otw Jakarta.


Lo siap – siap aja, saat landing nanti gue kabari.


Val is not in good condition ( Val sedang dalam keadaan yang tidak baik ). Gue jelaskan saat sampai Jakarta.


💔💔


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris,


“Doakan semua akan baik – baik saja setelah Val bertemu Kak Kafeel di Jakarta nanti ya, Gappa?...” Val yang berpamitan.


Untuk meyakinkan diri, jika Kak Kafeelnya yang ‘undur diri’ bisa saja sebuah mimpi. Atau, Kak Kafeelnya itu sedang marah pada dirinya --- meski Val belum menemukan jawaban, atas kesalahan apa yang telah diperbuatnya, hingga Kak Kafeelnya itu sampai emosi dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak.


💔💔


Jakarta, Indonesia,


Val – Mika - Rery dan Ann berikut beberapa bodyguard berikut pemimpin satu kelompok bodyguard itu, kini telah tiba di Jakarta.


“Kalaupun ini bukan mimpi, kemungkinan Kak Kafeel membuat pranknya sendiri untuk aku diluar sepengetahuan kalian.”


Pendapat Val yang lain, tentang mimpi buruk yang ia terima di beberapa jam ke belakang. Selain, Val bertahan dengan harapannya jika bisa saja Kak Kafeelnya itu sedang emosi atas Val yang membuat sebuah kesalahan pada si jantung hatinya itu, yang kedatangannya ke mansion yang berada di London --- cukup membuat jantung Val macam diremat dengan kuat.


Kalau memang seperti itu, Val maafkan Kak Kafeel tercintanya itu. Tak apa asal Val selalu bisa bersama dengan Kak Kafeelnya.


Namun takdir Tuhan, manusia tidak bisa elakkan.


Val boleh saja bermimpi setinggi – tingginya, lalu merajut asa demikian harapnya pada hubungan cintanya dan Kafeel yang bak Putri Raja dan Pangeran yang di akhir cerita tertulis di rata – rata buku dongeng --- “Pangeran dan Putri hidup bahagia selama – lamanya.”


Tapi ya itu, garis takdir manusia --- Tuhan penentunya.


Walau keterpurukan dalam hidup dapat dimintakan perbaikannya melalui doa, namun Tuhan pasti punya penilaian – Nya sendiri.


Terkadang juga, Tuhan yang paham bagaimana manusia ciptaan – Nya itu, memberikan ujian dan cobaan untuk melengkapi doa mereka yang menengadahkan tangannya untuk apa yang mereka minta.


Hanya saja bagi seorang Valera, takdir yang Tuhan berikan padanya saat ini, sungguhlah tidak adil ia rasa.


‘Aku salah apa, Tuhan??...’


Pertanyaan Val dihatinya yang sedang terhujam belati kasat mata, ketika pemandangan itu ia temukan.


Val yang tidak ingin membuang waktunya untuk menemui Kafeel setelah kakinya menapaki tanah Jakarta, tidak mau diajak untuk kembali ke kediaman dahulu.


Walau wajahnya nampak sembab dan begitu letih, namun semangatnya sungguh berapi untuk berlari menghampiri sang kekasih hati.


Tapi sayang...


Dia yang Val cinta,


Yang Val elu – elukan dalam hatinya dengan senandung indahnya hal yang disebut cinta dan memuja,


Yang memberinya harap untuk bahagia dengan sebegitu tingginya, justru malah berbalik memberikan Val luka yang begitu dalamnya, sakit yang tak terperi rasanya.


💔💔


“Saya terima nikah dan kawinnya Maura Cahyani binti Alam Yovan dengan mas kawin tersebut tunai.”


Hati dan harapan Val hancur lebur, kala kalimat ijab itu tertutur dari mulut gerangan yang Val cintai bertahun – tahun tanpa pernah perasaan itu luntur.


Pelan suaranya, namun Val tetap bisa jelas mendengar.


Yang menyadarkan Val, bahwa apa yang Dad R katakan adalah benar.


Semua ini nyata, bukan mimpi.


Dia yang barusan mengucapkan kalimat ijab itu, adalah gerangan pemilik hati Val. Yang membuat Val bermimpi duluan, dan kemudian mimpi itu bersambut hingga jalinan terpaut.


Lalu asa dan rencana bersama – sama mulai dirajut.


Untuk sebuah mimpi yang ingin diwujudkan dalam kenyataan dalam mahligai bahagia.


Namun sayang, dia yang mengajak Val lebih jauh bermimpi itu --- Nyatanya menjadi penghancur mimpi itu sendiri.


“Kak Kafeel... Kenapa kejam sekali?“


💔💔


Val memegang dadanya.


Sakit yang bertubi – tubi di hatinya itu cepat sekali menjalarnya.


Jika bisa dilihat, hati Val itu mungkin sudah dipenuhi oleh darah.


Karena yang Val rasakan dari luar, teramat sangat sakitnya.

__ADS_1


“Ap-a salah Val, Kak?...”


Val melirih pedih. Yang kemudian ambruk di tempatnya dengan lutut yang menghujam lantai dengan kerasnya.


“VAL!”


Yang kemudian teriakan spontan Rery – Isha – Aro - Mika dan Ann dengan serempak, barulah membuat segelintir orang yang sedari tadi nampak khusyuk memandang ke tempat dua orang yang duduk bersebrangan dengan dua lainnya itu tanpa menyadari kehadiran Val --- langsung menoleh berbarengan.


“VAL?!” Teriakan terdengar juga dari arah tempat mata Val memandang nanar. “Ya Allah, Val!...”


Tiga orang segera berlari dimana Val telah terduduk lemas di tempatnya terjatuh berlutut dengan lunglai di tempatnya tadi.


Yang sudah dikerubungi saudaranya dan hendak di angkat dua saudaranya, namun tubuh Val seolah di paku pada posisinya.


“Val...”


“Apa salah Val pada Kakak... Sampai Kakak tega pada Val seperti ini?...”


Didetik dimana gerangan yang tadi mengucap kalimat ijab datang menghampiri Val dengan air matanya yang menggenang, Val melirih sembari mendongak lesu padanya.


“Apa... Kak, salah Val? ---“


“Engga, Val... Val ga salah... Ga pernah ada salahnya... Aku yang salah... Aku, Val... Aku...”


Pada Val dia gerangan menyahut lirih.


Kafeel.


Yang kini sudah menangkup wajah Val --- Memandangnya pedih. Meninggalkan meja tempatnya berada tadi, bahkan sebelum sempat memasangkan cincin di sebuah jari.


“Kak Kafeelnya Val... Mengapa sekejam ini? ---“


“Ma – af, Val... Ma – af...” Kafeel melirih. Hatinya pun rasa pilu melihat Val seperti ini.


“Val... Hancur, K – ak... Val... Han - cur....”


“Ma – af Val... Ma – af...”


Lagi, Kafeel melirih dengan air mata yang sudah tak lagi menggenang di pelupuknya --- Namun sudah menganak sungai di pipinya.


Dimana kini Kafeel sudah memeluk Val dengan eratnya, berikut pedih yang Kafeel rasa di setiap inci hatinya.


Tak Kafeel pedulikan dia yang tadi Kafeel sebut namanya, termasuk orang – orang yang ada di sekelilingnya walau hanya segelintir saja.


“Kejam...”


Val melirih dan merintih dalam dekapan Kafeel.


“KAK KAFEEL KEJAAAAM!....”


Val menjerit setelahnya, mencengkram kerah kemeja Kafeel  lalu digoncangkan Val dengan kerasnya tubuh Kafeel.


Val sudah meluruh dengan air mata yang mulai deras.


Yang Kafeel biarkan, tak melepaskan Val dari dekapan.


“Ya Allah, Val... Ga seperti itu...”


“Val... rela, Kak... jadi murahan untuk Kakak seorang...” Val melirih kacau.


“Jangan bicara begitu, Val.. Jangan...”


Tak hanya Val yang terisak hebat, Kafeel pun sama.


“Kenapa Kak Kafeel tidak minta saja pada Val kehangatan di atas ranjang? -----“


“Val...”


“Kenapa malah pergi ke wanita itu -----“


“Aku -----“


“KENAPA KAK KAFEEEL???!!!...”


“V – al...”


“KENAPAA??!!...”


“VAL!”


Teriakan panik terdengar, ketika tubuh Val lunglai.


Dari Kafeel dan para saudara – saudari Val yang sudah berada di dekat Val dan sempat ingin membawa buru – buru pergi --- namun Val memberikan penolakan.


Termasuk juga dua orang keluarga inti Kafeel yang sudah juga menderas air matanya.


Sama berteriak dengan spontannya, sama panik dan khawatirnya.


“Val -----“


BUGH!


“BRENGSEK!”


Rery mengumpat tajam sambil melayangkan bogeman.


Seumur hidup, baru ini...


Ya, baru ini Rery bertindak kurang ajar pada yang jauh lebih tua usia darinya, bahkan sampai memaki.


Rery yang emosi, langsung secara spontan menghadiahkan wajah Kafeel dengan pukulan.


Rery yang setenang air, jika mode cerewetnya sedang tidak aktif itu meradang.


Melihat Val hancur, hati Rery pun turut hancur. Hingga tindakan spontan meninju wajah Kafeel itu sampai Rery lakukan.

__ADS_1


Tak apa, Kafeel terima.


Bahkan jika Rery ingin memukuli dirinya bersama Aro pun Kafeel dengan senang hati menerima.


Dua remaja laki – laki itu walaupun muda usia, tapi kekuatannya juga seperti pria dewasa.


Tapi tolong, sekarang Kafeel minta dibiarkan.


Untuk turut serta mendampingi Val yang jatuh pingsan barusan.


“Val...”


Kafeel melirih memelas, menatap pada Val yang telah digendong Aro dengan cepat.


Yang telah dijauhkan, dari Kafeel yang kini merasa kehilangan.


“Tahan dia! Jangan sampai dia mendekati Val!” Titah Rery dengan tegas dan nyalang.


Sebelum akhirnya ia setengah berlari menyusul Aro yang telah masuk mobil dengan membawa Val.


“Pukuli saja kalau dia tetap memaksa!” ucapan Rery sebelum ia melesat dengan cepatnya. ‘Sampai mati kalau perlu!’


Namun titah ketiga Rery itu, hanya tercetus saja di dalam hatinya. Dan Rery pun masuk juga dengan cepat ke mobil yang sama dengan satu saudara dan empat saudarinya sudah masuki.


Meninggalkan Kafeel yang sedang di hadang beberapa bodyguard The Adjieran Smith yang turut serta ke sebuah hunian. Yang meronta hebat dengan berteriak frustasi memanggil nama Val.


Yang kemudian dilumpuhkan hingga Kafeel berlutut di atas lantai dengan paksaan, lalu meratap kemudian ketika mobil yang membawa Val telah dengan cepat menghilang dari pandangan Kafeel. Hingga belasan menit berselang, Kafeel baru dilepaskan, ditinggalkan, lalu dibiarkan setelah tergolek lunglai karena terpaksa dilumpuhkan dengan dipukul tengkuknya akibat tak henti meronta mencoba melepaskan diri untuk mengejar Val.


Dan seperti titah tegas salah seorang tuan muda orang – orang yang berprofesi sebagai pengawal pribadi itu,  Kafeel Adiwangsa boleh dipukuli jika memaksa.


Hanya saja tidak sampai dipukuli, karena semua bodyguard yang menahan Kafeel itu mengenal mantan calon tuan mereka, mengenal baik Kafeel sebagai pribadi yang rendah hati.


Jadi Kafeel, tidak tega kalau harus mereka pukuli.


Namun titah tuan muda resmi pun tidak bisa diabaikan begitu saja.


Jadi saat Kafeel tak lelah meronta dan memaksa, langsung dibuat pingsan saja.


💔💔


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,


“Loh?...” Ada Drea yang sedikit merasa heran, ketika dia yang sedang berada di lapangan basket pada Kediaman, melihat dua pasang orang tuanya keluar dari dalam mobil yang baru saja tiba dan berhenti tepat di depan undakan tangga pelataran pintu utama.


“Dad R! Ibu Peri! Poppa! Momma!”


Bersamaan dengan satu adik perempuannya yang langsung memekik ketika melihat ke empat orang yang dipanggilnya itu keluar dari dalam mobil yang biasanya standby di bandara


“Jangan berlari seperti itu -----“


“Loh, kok pasangan bebek - entog dan kakak ganteng – ibu peri tiba – tiba datang ga bilang - bilang?” tukas Drea yang sudah mengekori Aina dan sudah berada di dekat dua pasang orang tuanya itu yang spontan mendengus geli mendengar celetukan Drea.


“Mana Putra dan Gadis?...”


Mommy Ara bertanya saat Drea menyalimi dengan takdzim tangan ke empat orang tuanya yang baru datang itu --- setelah Aina yang juga nampak antusias dengan kedatangan empat orang tuanya juga itu.


“Sedang dibawa berjalan – jalan ke taman.”


Drea yang menjawab.


“Emang Dad R, Ibu Peri, Poppa dan Momma tidak melihat mereka saat melewati taman komplek tadi? -----“


“Kami ga merhatiin, Ay -----“


“Kalian berempat sedang kurang sehatkah?”


Drea berbicara sambil memperhatikan gurat wajah ke empat orang tuanya yang baru datang itu.


“Wajah kalian selain nampak letih kok, rasanya agak lesu? -----“


“Kami hanya sedikit lelah saja, Little Star...”


Dad R menukas seraya tersenyum pada Drea.


“Ngomong – ngomong, Putra dan Gadis pergi ke taman dengan siapa?”


“Abang, Kak Tan – Tan dan The Dads -----“


“Hem...”


“Ya sudah, ayo masuk!...”


Aina menyempil diantara dua Daddynya yang terkekeh kecil, lalu Poppa mengacak pelan rambutnya.


“Ada masalah kah Moms?” tanya Drea pada dua orang Mom yang ia tahan untuk masuk ke dalam Kediaman setelah Dad R dan Poppa telah berjalan duluan bersama Aina.


“Nanti juga kamu tahu, sayang.”


Mommy Ara menyahut pelan, dan tersenyum tipis.


‘Ada masalah ya pasti?... Kalau aku perhatikan muka mereka berempat kok lebih ke muram daripada cape?...’


Drea nembatin, dengan dirinya yang tidak ikut melangkah bersama kedua Momsnya itu.


“Oh iya, Momma!” panggil Drea pada ibu kandungnya itu yang langsung menyahut padanya.


“Apa?...”


“Drea mimpi aneh masa? -----“


“Mimpi apa?...”


“Drea mimpi, langit di atas mansion dan kediaman kita itu berwarna abu – abu pekat disertai hujan. Tapi langit di luar mansion dan kediaman ini biasa saja warnanya. Hanya mansion dan kediaman kita saja yang langitnya berwarna abu - abu pekat dan hujan, yang macam tak ada tanda - tanda jika hujan itu mau berhenti...”


💔💔💔💔

__ADS_1


To be continue.....


__ADS_2