HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
RELATIONSHIP BETWEEN US


__ADS_3

RELATIONSHIP BETWEEN US


( HUBUNGAN DIANTARA KITA )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang wanita, kiranya wajar bagi seorang pria manapun.


Tapi jatuh cinta dan mulai menjalin hubungan dengan seorang wanita dari keluarga super kaya dan berkuasa, pasti akan lebih besar konsekuensinya ketimbang menikah dengan wanita dari golongan biasa.


Terlebih wanita itu belum dapat dikatakan seorang wanita, karena usianya masih tergolong belia.


Sebuah dilema bagi seorang Kafeel Adiwangsa.


‘Dahlah, Val banyak banget Daddynya!’ - Kata Kafeel. ‘Baik sih mereka memang sama gue, tapi apa mereka semua setuju kalau gue berhubungan serius dengan salah satu anak perempuan mereka?’


Pra-duga Kafeel dalam pikiran dan hatinya lagi.


‘Gue dan Val kan jauh banget beda umurnya...’


♥♥♥


“Apa kau sadar terpaut berapa tahun usiamu dan Val?”


“Sadar Uncle John.”


“Lalu kau pikir hubunganmu dan Val akan berhasil dengan perbedaan usia kalian yang hampir sepuluh tahun itu?”


“Aku yakin Uncle. Jika—“


“Percaya diri sekali!”


“Bukankah Uncle dan Aunt Prita terpaut bahkan hampir dua belas tahun?....”


“Jangan samakan diriku denganmu!”


---


“Andai pun kami yang berada disini setuju dengan kau yang berhubungan dengan Val, apa kau pikir tiga Daddy Val lain yang berada di London akan menyetujuinya?....”


“Jangankan menyetujui, aku rasa mereka tidak akan memberikanmu kesempatan untuk itu.”


“Kami yang selama ini membiarkan Val mengagumimu, bukan pertanda kami setuju jika kalian benar-benar berhubungan.”


“Sekarang, kau pergilah ke London dan temui tiga Daddy Val yang sudah menunggumu disana.”


---


“Uncle R, Uncle Andrew, Uncle Lucca, Aku---“


“Kau pikir siapa dirimu?!”


“Tapi aku mencintai Val, Uncle.”


“Kami menyukaimu. Tapi menjadikanmu suami Val, itu tidak mungkin!”


“Tapi, Uncle—“


“Kau, tidak cukup baik bagi Val!”


“Tapi, Uncle—“


“Jauhi Val!”


---


“Val.... Maaf, Kakak sudah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan semua Daddy kamu. Tapi di mata mereka Kakak tidak cukup baik untuk Val. Mereka, ingin kita berpisah.”


“Tidak, Kak!”


“Dan mungkin mereka benar.... Kalau Kakak, memang tidak cukup baik untuk Val.”


“Kaakk....”


“Kakak mencintai kamu Val, sangat. Meski baru Kakak sadari dan akui. Tapi jika sudah seperti ini, Kakak bisa apa?.... Menentang mereka itu tidak mungkin, Val. Karena Kakak sangat menghormati para Daddy kamu ----“


“Tapi, Kaakkk....”


“Cepat pergilah Kafeel.”


“Maafkan Kakak Val, Ini bukan keinginan Kakak. Tapi.... Kakak nyatanya harus pergi dari kehidupan kamu....”


“Jangan Kaakk!!....”


“Sudah Val, dia tidak cukup baik untukmu!”


“Tidaakk!!!! Kak Kafeel baik!!....”


“Sudah!”


“Kau cepat pergi Kafeel! Pergi dan jangan pernah mendekati Val lagi!”


“Kakak mencintai kamu Val, tapi takdir, tidak menginginkan kita bersama. Selamat tinggal Val....”


“Kak Kafeell!!....”


“Va-al....”


♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia


“Kak Kafeel jangan cemburu sama Kak Achiel, karena Kak Achiel kan sudah  dianggap keluarga.”


Val berujar setelah ia mengucapkan rasa terima kasihnya atas nasihat yang ia dapat dari Achiel sebelum kedatangan Kafeel ke tempat Val berada.


Lalu drama kecemburuan dari Kafeel sempat juga mewarnai sesi Val yang ingin berterima kasih pada Achiel untuk nasihat bodyguard khususnya itu, sehingga menambah keberanian Val untuk bertanya pada Kafeel soal perasaan pria tersebut padanya.


Karena menurut Val, kata-kata dan nasihat Achiel memang menambah keberanian tekad yang ia punya untuk bertanya pada Kafeel – selain kata-kata dan nasihat yang pernah Val terima dari keluarganya, guna memastikan perasaan pria pujaan hati Val itu soal perasaannya pada Val.


Dimana hasil dari keberanian Val untuk bertanya pada Kafeel itu, mendulang kebahagiaan tersendiri bagi Val.


Yang mana, Kafeel membalas cintanya, dan mengakui jika pria pujaan hatinya Val itu, juga memiliki rasa yang sama dengan Val. Meski sebelumnya diwarnai sedikit drama, yang pada akhirnya membuat Kafeel merasa yakin jika ia memang sudah jatuh hati pada Val.



“Kak Kafeel jangan cemburu sama Kak Achiel, karena Kak Achiel kan sudah  dianggap keluarga.”


Val berujar manja pada Kafeel. Dimana Kafeel kembali tersenyum hangat lalu mengangguk. “Iya...”


Kafeel menyahut dengan membelai kembali puncak kepala Val yang sedang berlaku manja padanya itu.


Lalu Val kembali tersenyum dengan menggemaskannya.


“Ya sudah, ayo kita pergi dari sini sekarang?” ajak Val.


“Ayo.” Sahut Kafeel seraya mengangguk.


“Sepatu anda Nona Valera, Tuan Kafeel ..”


Achiel bersuara, dengan menenteng dua pasang sepatu berbeda di tangannya.


“Oh iya!” seru Val. Ia kemudian duduk di salah satu kursi yang ada didekatnya. “Kemarikan sepatu Val, Kak.”


Achiel pun segera mengangguk setelah memberikan sepatu Kafeel pada si empunya, lalu Achiel hendak berjongkok dihadapan Val. Namun ....


Bruk!.


Achiel gabruk kesamping.

__ADS_1


“Sorry ga sengaja”


Kafeel yang sudah berjongkok dihadapan Val itu berucap datar sambil melirik Achiel yang sedikit meringis dan Val melongo.


“Kak Achiel tidak apa-apa? ....”


Val bertanya pada Achiel dan hendak membantu bodyguard khusus favoritnya itu.


“Ayo Val, pakai sepatu Val....”


Namun tubuh Val yang hendak bangkit dari duduknya guna menolong Achiel yang gabruk kesamping itu tertahan.


Ditahan, lebih tepatnya.


Oleh si pelaku pendorong Achiel, yang katanya tidak sengaja membuat Achiel jatuh itu.


Yang tak lain dan tak bukan adalah, AA Kafeel. Yang mana orangnya telah berjongkok tepat dihadapan Val yang sedang duduk di salah satu kursi restoran.


“I-ya.”


Val menyahut pada Kafeel.


Dimana Kafeel melirik santai ke arah Achiel.


“Hanya jatuh begitu saja.... sakit memangnya?”


Kafeel lalu melontarkan cibiran pada Achiel.


“Lembek banget jadi bodyguard,” sambung Kafeel, masih dengan cibiran.


Padahal Achiel belum sempat menjawab pertanyaan Kafeel sebelumnya, yang mana bercampur dengan cibiran juga.


Tapi Kafeel sudah lagi keburu menyambar untuk bicara. Mencibir sih.


Pada Achiel yang sedikit meringis, sambil berusaha bangun dari posisinya setelah gabruk sebentar tadi.


Val sedang melipat bibirnya, memandangi Achiel, lalu memandangi Kafeel. Sementara Achiel melapangkan dadanya.


‘Hah! Gini nih bucin baru! Rusuh! Ngeselin!’ Namun begitu, tetap saja rutukan spontan terlontar di hati Achiel untuk Kafeel.


Kang Achiel jadi gemes sama AA Kafeel yang memasang wajah tanpa dosanya itu, saat ini. Padahal Achiel yakin kalau Kafeel mendorongnya dengan sengaja tadi saat Achiel hendak berjongkok dihadapan Val, dan memasangkan sepatu Val, di kedua kaki satu Nona Mudanya itu.


‘Cemburu kan ini pasti Tuan Kafeel sama gue, gara-gara gue mau memakaikan sepatu di kaki Nona Valera?!’ hati Achiel bermonolog. ‘Orang udah biasa gue juga masangkan sepatu Nona Valera selama ini. Kadang malah gue yang bantu nentukan Nona Valera mau pakai sepatu yang mana!’


Achiel menggerutu.


Tapi ya, dalam hati saja sih.


Kalau dalam kenyataannya, Achiel mengatup rapat mulutnya.


“Jangan suka cari-cari kesempatan....” Kafeel terdengar menggumam.


Namun meski begitu, Achiel dan Val masih bisa mendengar gumaman Kafeel barusan.


‘Amit deh!’ batin Achiel.


“Kak Achiel memang sudah biasa membantu memakaikan sepatu Val, Kak....”


‘Nah Kan?’ sambar Achiel.


Tetap di dalam hati sih.


Setelah Val berucap, sehabis Kafeel menggumam.


Sementara Kafeel tak berkomentar, setelah Val berucap tadi.



‘Eh?....’


Val terkesiap.


Disaat kakinya tersentuh oleh tangan seseorang dan telah terangkat sedikit.


Val dengan cepat menyergah Kafeel, yang orangnya memang telah mengangkat kaki kanan Val dan sudah juga memegang salah satu sepatu Val.


“Tak apa,” ucap Kafeel sambil menyingkirkan pelan tangan Val yang sudah menyentuh tangannya untuk mencegah Kafeel memasangkan sepatu di kaki Val. “Mulai sekarang, setiap kali kamu bersama aku. Achiel tidak perlu melakukan hal yang biasa dia lakukan selain menjalankan tugasnya sebagai bodyguard.”


Kafeel berucap dengan nada suara yang terdengar datar. Namun bagaimana ekspresi wajahnya, Val tidak bisa melihat, karena kepala Kafeel yang tertunduk sembari ia memasangkan sepatu di kaki Val sampai kedua sepatu Val itu terpasang di kedua kaki gadis yang sudah menjadi kekasih Kafeel itu sejak beberapa saat yang lalu.


Disela itu, Val dan Achiel saling melempar tatap sesaat. Lalu Val kembali menolehkan kepalanya ke arah Kafeel yang telah selesai memasangkan sepatu di kedua kakinya itu. Bersamaan dengan Kafeel yang telah mendongakkan kepalanya, lalu melihat ke arah Val seraya tersenyum.


“Done ( Selesai )” ucap Kafeel.


“Terima kasih Kak Kafeel.”


Val berucap seraya tersenyum.


Kafeel mengangguk dengan tersenyum teduh pada Val.


“Sama-sama Val cantik,” jawab Kafeel.


Lalu Kafeel beringsut dari tempatnya, berdiri dan duduk si salah satu kursi restoran disamping Val.


Kafeel mendekatkan sepatu miliknya ke dekat kaki, dan mengambil kaos kaki yang tadi Kafeel telusupkan di dalam kedua sepatunya itu.


Dimana Val tergerak, untuk membalas perlakuan manis Kafeel yang memakaikan-nya sepatu, dengan hal yang sama. Memakaikan sepatu si AA, yang Val harap-harap dengan sangat untuk menjadi Imam-nya dimasa depan.


“Biar Val bantu –“


“No Val.... It’s okay.... Biar Kakak pakai sendiri.”


Kafeel mencegah Val yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


“Tapi tadi Kak Kafeel sudah membantu memakaikan sepatu Val kan?....”


Kafeel menggeleng seraya tersenyum.


“Tidak apa, Val tidak usah repot atau merasa tidak enak pada Kakak.”


Lalu Kafeel berucap.


“Kakak senang melakukannya.”


Meraih satu tangan Val, lalu Kafeel kecup singkat punggungnya.


“Val cantik duduk aja, hm?....” pinta Kafeel dengan lembut.


Val pun mengangguk. Nurut sama omongan si AA yang kemudian mulai memakai kaos kakinya.


“Mintakan bill, Chiel!”


Sembari Kafeel berbicara pada Achiel.


Achiel pun mengangguk, dan langsung mengangkat tangannya untuk memanggil waitress restoran.



“Mana bill-nya?”


Kafeel bertanya pada seorang pria yang dari penampilannya, nampak dia bukanlah seorang waitress.


“Untuk makanan dan minuman Tuan dan Nona Smith, berikut Tuan ini—“


Pria itu menunjuk pada Achiel dengan sopan.


“Juga yang satunya, kami berikan secara Cuma-Cuma, Tuan.”


Membuat Kafeel sedikit mengernyit. “Dalam rangka apa kalian memberi secara Cuma-Cuma?” tanyanya. “Apa pemilik restoran ini tahu kami disini?”


“Kebetulan saya yang sudah memberi tahu beliau, saat Nona Smith datang tadi,” jawab si pria tersebut, yang merupakan manajer restoran.


Kafeel pun manggut-manggut.

__ADS_1


‘Mungkin owner ini resto ada rencana mau mengajak kerjasama dengan R Corp. atau dengan JSC....’


Kafeel menduga dalam hatinya.


“Dan tentu saja makanan dan minuman yang tadi kami sajikan untuk anda dan Nona Smith, berikut Tuan ini dan yang satunya, adalah compliment dari kami. Selain sebagai permintaan maaf kami ---“


“Apa ada dari pihak mereka yang berlaku tidak sopan pada Val?”


Mendengar ucapan si manajer, membuat Kafeel jadi berprasangka.


“Engga kok, Kak. Mereka berlaku baik sama Val saat Val datang tadi....” Val menjawab cepat.


“Lalu yang kau maksud sebagai permintaan maaf dan menjadikan hidangan yang kami nikmati sebagai compliment?” cecar Kafeel.


“Soal itu, karena Nona Smith sudah mem-booking semua area restoran pinggir pantai tempat anda berdua berada tadi, Tuan.” tutur si manajer.


“Heu??....”


Kafeel yang terkejut.


“Kamu menyewa seluruh area pantai restoran ini Val?” Lalu Kafeel bertanya pada Val.


Dan Val mengangguk-angguk tanpa ragu. “Kan tadi Val katakan sama Kak Kafeel, kalau Val ingin mencari pencerahan?....”


Kafeel pun melongo.


“Iya Tuan, makanya kami memberikan hidangan yang tidak seberapa tadi sebagai compliment, karena sebelumnya Nona Smith ingin mem-booking satu restoran ini.”


“Haah???....”


Kafeel melongo lagi.


Dan Val tersenyum lebar tanpa dosa.


“Val kan tadi sedang galau? Jadi Val ingin benar-benar sendirian, Kak....”


‘Demi apa?????....’


Kafeel sungguh tak habis pikir.


“Kalau Val sedang galau dan gundah gulana, Val malas dekat-dekat orang banyak.”


Dan sang Nona Muda berkata dengan entengnya. Membuat tiga orang yang berada di dekat Val itu geleng-geleng kepala.


‘Susah kalau kakek-nenek, ayah-ibu plus kakaknya biang sultan.... Galau aja sampai sewa satu area eksklusif. Gimana sedih?. Dibeli ini resto bisa-bisa.’


Kira-kira seperti itu apa yang dipikirkan oleh tiga orang yang berada didekat Val itu. Yang merasa, entah harus kagum atau gimana pada ini satu Nona Muda.



“Ya sudah mana bill untuk biaya sewanya?” ucap Kafeel kemudian pada si manajer restoran.


“Sudah Val bayar kok.” Val menyahut cepat.


“Mana sini bill-nya?. Biar Kakak ganti uang Val.”


“Tidak perlu, Kak.... uang Val bahkan tidak berguncang di dalam tabungan hanya untuk membayar sewa tempat tadi secara keseluruhan.”


Ah, sombongnya ulet bulu.


Kafeel pun mendengus geli saja selepas mendengar ucapan Val.


“Sombong banget pacarnya AA Kafeel nih!....” ucap Kafeel seraya memencet gemas hidung Val.


Dan Val tersenyum manja pada Kafeel. “Bukan sombong.... Tapi memang seperti itu kenyataannya.”


Val mengerucutkan bibirnya.


“Iya, iya, Val-nya AA Kafeel memang super kaya....” ucap Kafeel. “Tapi baik hati juga,” pujinya. “Makanya AA Kafeel jatuh hati kan?”


Val terkekeh kecil, lalu kembali tersenyum manja pada Kafeel yang kemudian gemasnya menjadi rengkuhan tangan Kafeel di pinggang Val, lalu mengecup mesra kening Val.


Tanpa memperdulikan mereka yang berada didekat keduanya.


Dimana sang manajer resto jadi salah tingkah sendiri melihat dua sejoli nan mesra itu.


Sementara yang satunya....


‘Ya ilah, bucin dasar!’ batin Achiel yang malas melihat dua sejoli yang sedang mengumbar keuwuan itu.



“Nona Muda Valera, Tuan Kafeel...”


Adri,  yang merupakan supir Val itu, menghampiri tempat dimana Val, Kafeel dan Achiel berada saat ini, setelah selesai berurusan dengan manajer restoran tempat mereka berada sekarang.


“Iya Mas Adri?” sahut Val.


“Ya? Kenapa Dri?” sahut Kafeel.


“Itu Tuan, Nona Muda Valera diminta untuk segera kembali ke Kediaman Utama. Termasuk Tuan Kafeel juga.”


Adri berbicara.


“Selain Tuan Alva, Tuan John, Tuan Jeff dan Tuan Dewa sudah menunggu di Kediaman Utama. Mau berbicara serius dengan Tuan Kafeel katanya.”


Val dan Kafeel pun sama-sama mengernyit.


“Kak Kafeel sedang ada project dengan The Daddies?....” Val sontak bertanya pada Kafeel.


Kafeel menggeleng. “So far sih belum ada pembicaraan project baru, sampai Kakak disini....”


Kafeel sedikit heran juga.


“Alva juga tidak menyinggung soal itu saat di kantor tadi sebelum dia dan Drea berangkat.”


Kemudian Kafeel berucap, sembari mengingat-ingat, jika mungkin saja ada pekerjaan yang terlewat olehnya.


‘Setahu gue memang ga ada project baru yang melibatkan Uncle John, Uncle Jeff dan Uncle Dewa.’ batin Kafeel.


“Ya sudah deh, lebih baik kita segera ke Kediaman saja Kak?” ajak Val. “Lagipula Val juga ingin segera mandi rasanya!”


“Ya sudah ayo.” Sahut Kafeel. “Kau pergilah bersama Adri, Chiel. Val biar bersamaku.”


“Baik Tuan,” jawab Achiel sigap.



‘Kalau ada hal serius yang mau dibicarakan dengan gue, sama tiga Daddy Val yang ada di Kediaman Utama di Jakarta, kenapa mereka ga langsung menghubungi gue ya?’


Kafeel sedang bertanya-tanya dalam hatinya, saat sudah berada di dalam mobilnya bersama Val.


‘Kosong aja ini ponsel gue....’


Hati Kafeel bermonolog lagi, sambil melihat ponselnya yang telah ia keluarkan dari dalam saku celananya.


‘Eh?....’


Kafeel sedikit terkesiap saat ponselnya bergetar ketika Kafeel hendak memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya lagi.


‘Uncle R?’


Nama yang tercantum pada pesan chat di layar apung pada ponsel Kafeel, membuat Kafeel sedikit heran.


Namun begitu, Kafeel dengan cepat membuka pesan chat yang masuk dari pria yang merupakan ayah kandung Val itu.


Pesan dari Daddy R biasa saja penulisannya sih, tapi kemudian Kafeel bergidik setelah membacanya.


‘I spy with my little eye, that a guy who kissed our little girl.... Our, Val’


( Aku mengintip dengan mata kecilku, bahwasanya ada seorang pria yang telah mencium gadis kecil kami.... Val, kami ).


♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2