
Terima kasih masih setia
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading yah..
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Present day ( Saat ini )
Dimana empat wanita muda, yakni, Mika, Val, Drea dan Via, yang sedang berada dalam satu mobil, namun memiliki tempat tujuan yang berbeda.
“Eh Val ....”
Itu suara Andrea yang hendak membahas sesuatu dengan adik angkat sekaligus merangkap sebagai adik iparnya.
“Kenapa Kak Drea?”
“Kak Drea mau tanya serius sama kamu, boleh?”
“Soal Kak Kafeel pasti,” terka Val.
Andrea pun menjawab dengan anggukan. Sementara Kevia dan Mika belum berkomentar.
“Ya udah tanya aja, Kak Drea,” ucap Val kemudian.
“Kamu itu bela-belain dateng kesini, Cuma sekedar melepas kangen, atau kamu mau mengutarakan lagi soal perasaan kamu ke Kak Kafeel?”
“Dua-duanya,” Val menjawab dengan mantap pertanyaan Andrea.
“Don’t you feel tired? ( Apa kamu ga cape ..... )” Itu Mika yang bersuara seraya bertanya dengan spontan pada Val.
“Nope!” Kembali Val menjawab mantap.
Mika pun menggeleng pelan saja setelahnya.
Karena kalau soal Val yang berjuang dan berusaha sekuat tenaganya untuk membuat seorang pria bernama Kafeel yang sudah Val sukai sejak gadis itu remaja menjadi miliknya, Val tidak bisa diganggu gugat pendapat dan keputusannya.
♥
“Aku tidak akan pernah lelah memperjuangkan cinta aku pada Kak Kafeel, May ..” ucap Val sembari memandang pada Mika.
Dimana tadi, Mika mempertanyakan soal apakah Val tidak lelah mengejar Kafeel berikut hati dari pria matang yang merupakan sahabat sekaligus salah satu orang kepercayaannya Abang itu.
“Aku bukannya tidak tahu kalau Kak Kafeel itu masih menganggap aku sebatas adik macam dia menganggap kamu dan semua adik-adiknya Abang...”
Val kemudian tidak hanya menatap Mika, tapi juga Andrea dan Via.
“Sampai saat ini juga masih seperti itu ...”
Val menyambung kalimatnya.
“Tapi aku optimis, kalau aku bisa memenangkan hati Kak Kaf dengan usahaku ....”
Val tersenyum sembari melipat bibirnya.
“Lagipula aku yakin kalau Kak Kaf itu menyayangiku ... Dan hal itu akan membuatnya mudah mencintaiku. Aku yakin itu .. meskipun Kak Kaf itu selalu saja mengalihkan pembicaraan saat aku kembali menyatakan perasaanku padanya... tapi aku tidak akan menyerah, demi impianku untuk bersama Kak Kaf dimasa depan, seperti Abang dan Kak Drea.”
Dimana mata coklat terang milik Val berbinar lembut, saat ia berucap barusan. Binar yang berisikan asa serta keyakinan dalam dirinya untuk sebuah masa depan yang indah bersama pria matang pujaan hatinya, yang sudah membuat Val merasa jatuh cinta, dari kali pertama Val melihatnya.
Dan sudah Val tunjuk untuk menjadi pasangan halalnya kelak, bila waktunya sudah tiba.
Waktu yang indah untuk masa depan bersama Kafeel, yang kini Val harapkan semoga menghampirinya tidak lama lagi.
“Val akan terus berjuang, karena cinta sejati kan memang harus diperjuangkan?..” ucap Val, dengan sedikit nada candaan. “Iya kan?..” kekehnya kemudian. Andrea dan Kevia pun mengangguk seraya tersenyum pada Val yang duduk di belakang bersama Mika, yang hanya menatap pada Val dengan tatapan datar.
Val menarik sudut bibirnya.
“Dan dalam perjuangan itu Val akan terus dan coba bersabar menunggu Kak Kafeel sadar..”
Val mendengus geli, Andrea dan Kevia tetap tersenyum padanya. Sementara Mika menghela nafasnya.
__ADS_1
Sedikit banyak, meski kadang ia sebal dengan Val yang mengejar-ngejar Kafeel sampai sebegitunya, namun sebagai saudari, ia salut pada kegigihan dan kesabaran Val menanti Kafeel menyambut cinta salah satu saudarinya itu.
Valera sempat terkekeh tadi, namun kemudian Val berbicara lagi dengan nada suara yang santai pengucapannya, namun terdengar jika kalimatnya serius, selain begitu tulus.
“Sabar itu memang melelahkan, tapi Val percaya, kalau sabar itu akan membuat semua indah pada waktunya ..”
♥
Sementara itu di tempat lain
R Corp, Jakarta, Indonesia ..
“Jika istriku datang, kau langsung informasikan itu padaku.”
Itu Varen yang berbicara pada sekertaris pribadinya yang bekerja di R Corp, yang merupakan Perusahaan pribadi Daddy R, dibawah nama keluarganya sendiri, namun bukan dibawah nama almarhum ayah kandung Daddy R, melainkan atas nama keluarga dari pihak almarhum ibunda Daddy R.
“Iya Tuan Alva, saya akan langsung memberitahukan anda jika Nyonya Andrea sudah tiba nanti.”
Sekertaris pribadi Varen pun langsung menjawab dengan sigap dan lugas titah dari Bos besarnya langsung itu.
Karena di dalam R Corp, ada tiga Bos Besar yang yang menjalankan Perusahaan tersebut, selain pemilik utama, yakni Daddy R, Varen dan juga Papi John yang menjadi Bos Besar di R Corp.
Namun karena Daddy R lebih sering berada di London, dan mengelola perusahaan miliknya yang lain, termasuk juga mengelola perusahaan utama keluarga The Adjieran Smith, jadi R Corp dilimpahkan pada Varen dan Papi John untuk fokus mengelolanya.
Hanya saja Varen yang dilimpahkan tanggung jawab lebih besar untuk mengelola R Corp, mengingat itu adalah perusahaan langsung keluarganya, dari keluarga kandung Daddy R, yakni almarhum nenek dan kakek buyutnya Varen dan Valera.
Lagipula Papi John juga memiliki bisnis pribadinya sendiri yang harus ia urus, sebelum Aro atau Isha cukup umur dan ilmu untuk menggantikannya, meneruskan untuk mengurus bisnis pribadi Papi John itu nanti.
Jadi sekiranya, meskipun terhitung sebagai seorang Bos Besar di R Corp. Karena dulunya, dari sejak sebelum Varen lahir, Papi John telah secara langsung membantu Daddy R mengelola R Corp pasca peralihan setelah R Corp Daddy R rebut kembali dari tangan sang ayah kandung yang sempat Daddy R benci sepenuh hati, tetap R Corp akan menjadi tanggung jawab Varen sebagai penerus langsung Daddy R.
Papi John hanya akan turun tangan jika Varen sedang disibukkan dengan urusan yang lain. Urusan bisnis perusahaan tentunya. Karena Varen sendiri, memiliki bisnis dan perusahaannya sendiri yang telah ia bangun dari nol sejak ia kuliah, selain itu, sebagai seorang yang telah ditentukan sebagai pewaris utama, Varen juga harus fokus mengurus perusahaan utama The Adjieran Smith yang berada di Indo, Jekardah lebih tepatnya.
♥
“Jika istriku datang, kau langsung informasikan itu padaku.” Titah Varen pada sekertaris pribadinya.
“Iya Tuan Alva, saya akan langsung memberitahukan anda jika Nyonya Andrea sudah tiba nanti.” Sekertaris pribadi Varen yang seorang pria itu pun langsung menjawab dengan sigap dan lugas titah dari Bos besarnya langsung itu.
Karena Varen sungguh tidak ingin berdekatan secara langsung pada wanita yang bukan Andrea, atau wanita-wanita dalam keluarga, ataupun kerabat dekatnya.
Sampai seperti itu memang Varen membentengi dirinya, untuk para wanita diluar sana.
Semata-mata bukan karena takut dicurigai oleh Andrea, tapi lebih kepada Varen yang memiliki cinta yang kelewat berlebihan pada Andrea.
Hingga kenyamanan Andrea yang menjadi poros hidupnya Varen saat ini selain anak laki-laki mereka, adalah yang utama bagi Varen. Bahkan pernyataan itu menjadi salah satu jargonnya Varen.
‘Karena segala hal yang membuat Little Starku tidak nyaman, akan menjadi urusanku.’
Seperti itulah adanya.
Varen menganggap jika ada wanita-wanita disekelilingnya, Andrea akan merasa tidak nyaman. Dan Varen tidak ingin itu sampai terjadi.
“Meskipun aku belum selesai meeting, kau tetap harus langsung mengatakannya padaku, jika istriku sudah datang kesini!”
“Iya Tuan Alva, saya mengerti,” ucap Sekertaris pribadi Varen itu dengan patuh.
“Jangan mengerti. Paham!” Varen menegaskan. “Istriku adalah yang utama. Ingat itu!”
“Iya Tuan Alva, saya paham. Nyonya Andrea adalah yang utama, bahkan saat anda sedang kedatangan tamu penting dan Nyonya Andrea kebetulan datang, saya harus mengatakan pada anda tentang kedatangan Nyonya Andrea langsung pada anda, dan menghentikan pertemuan anda dengan tamu tersebut, apabila yang bersangkutan tidak ingin menunggu anda menyempatkan waktu untuk bertemu dengan anda.”
Demikian sekertaris Varen berbicara panjang lebar tentang titah dari Bos Besarnya langsung itu yang berhubungan dengan istrinya, dengan satu tarikan nafas macam sedang mengucapkan lafaz ijab.
Dan satu pria yang ada disisi Varen pun mesam-mesem saja melihat kelakuan Bos sekaligus sahabatnya itu, kalau sedang memberi titah pada sekertarisnya yang nampak pasrah itu tentang istri sahabat dan Bosnya cinta dunia akhirat.
Jangankan sekertaris pribadinya Varen, bahkan pria disisi Abang yang adalah Kafeel ini, pun sudah hafal pada titah agungnya Varen soal Andrea.
“Hem,” Varen manggut-manggut. “Bagus,” pujinya pada sang sekertaris yang dadanya begitu lapang itu. “Tidak sia-sia aku memberikanmu gaji besar, atas kepahamanmu tentang peraturanku tentang istriku,” ucap Varen .
Sekertaris Abang yang berhati lapang itu pun mengangguk hormat pada Bos Besarnya itu. ‘Bagaimana aku tidak paham, jika setiap hari kata-kata peringatan tentang kedatangan Nyonya Andrea adalah hal pertama yang selalu aku dengar setiap kali Tuan Alva datang kesini?! Padahal tidak setiap hari juga Nyonya Andrea datang, tapi tetap saja aku pasti mendengar perintah itu sebelum perintah-perintah yang lain.’
Sekertaris si Abang pun membatin.
__ADS_1
‘Aku baru melihat pria yang bucinnya luar biasa macam Tuan Alva ini, padahal dia begitu menyeramkan kalau sedang tidak puas hati dengan pekerjaan karyawan.. Tapi kalau didepan Nyonya Andrea, oh Tuhan, Tuan Alva bak malaikat surga yang teduh wajahnya.’
“Ya sudah, aku dan Kafeel pergi meeting dulu,” ucap Varen pada sekertarisnya itu. “Satu hal lagi..” Varen kembali berbicara pada sekertarisnya itu.
“Iya Tuan,”
“Jika istriku ingin menyusulku ke ruang meeting, biarkan saja. Kau antarkan dia dengan cepat padaku, jangan pakai berpikir lagi.”
“Baik, Tuan.”
“Paham tidak?!”
“Paham, Tuan Alva.”
“Bagus!” seru Varen puas. “Ingat, jangan membuat kesalahan yang berhubungan dengan istriku, jika kau masih ingin otakmu tetap berada di tempatnya. Minimal akan aku buat kau berada di kursi roda untuk seumur hidupmu, jika sampai istriku diperlakukan dengan seenaknya.”
Enteng saja Varen berbicara.
“Coba saja jika kau tidak percaya seandainya aku bisa membuat kau memiliki gelar baru, maka cobalah. Dan besok akan tersemat gelar ‘almarhum’ di belakang gelar M.Ak mu itu.”
‘Demi apaa..’ batin sang sekertaris.
Lalu Varen melenggang dengan santainya.
Meninggalkan sang sekertaris yang meneguk saliva dan sedang menghela nafasnya dalam-dalam, melapangkan hatinya untuk yang kesekian kali, jika dia mendapat ancaman mengerikan dari Bos Besarnya itu.
‘Jika aku tidak terlanjur mengambil cicilan rumah baru di tempat hunian yang bagus untuk keluargaku, aku sudah akan mengajukan surat pengunduran diriku dari sini,’ batin si sekertaris yang sedang tertekan. ‘Jika sedang mengancam, wajah Tuan Alva begitu mengerikan.’
Sekertaris Varen itu menghembuskan nafasnya yang terdengar berat.
‘Ditambah, aku tahu jika Tuan Alva selalu membawa senjata api di balik jasnya itu. Jika aku membuat kesalahan dan dia khilaf, pasti akan ada lubang di kepalaku ini.’
Sekertaris Varen masih membatin sementara Bos Besarnya itu sudah melenggang santai bersama orang kepercayaan yang merangkap sahabatnya itu, dimana Kafeel nampak mesam-mesem saja.
‘Berikanlah aku kesabaran Tuhan, dan yang paling penting lindungilah nyawaku dari Bosku yang aku rasa adalah Pebisnis yang merangkap sebagai Mafia.’
Sekertaris Varen pun kembali ke mejanya, dan menempatkan dirinya dalam mode siap siaga jika tanda-tanda Nyonya yang harus diperhatikan betul kenyamanannya itu datang.
Dia bahkan kadang bingung dengan tugasnya. Sekertaris pribadi Varen itu berpikir, seharusnya dan memang seyogyanya, seorang sekertaris pribadi itu akan mengekori kemana Bosnya pergi jika berhubungan dengan pekerjaan.
Tapi pada kenyataannya, sekertaris Varen itu merasa dirinya berbeda dengan sekertaris-sekertaris pribadi yang lain.
Iya, dia akan mengekori Bosnya langsung itu, Tuan Alvarend dalam meeting dengan para tamu yang datang dan bertemu sang Bos di R Corp. Tapi dengan catatan, kalau Andrea sedang tidak ada rencana berkunjung ke R Corp.
Karena jika ada, sekertaris pribadi Varen ini tidak akan dilibatkan dengan pekerjaan apapun yang jauh dari mejanya, sebelum Andrea datang.
Contohnya, seperti saat ini.
Dimana ada tamu penting yang akan mengajukan kerjasama untuk sebuah Resort di Dubai sana, yang merupakan proyek besar.
Yah memang ada Kafeel yang mendampingi dan beberapa staf penting di Perusahaan, tapi tetap saja sekertaris Varen itu merasa job desk-nya tidak sesuai dengan status pekerjaannya.
Karena job desk utama sekertaris Varen itu,
“Istriku mau datang, jangan sampai matamu lengah dari elevator eksekutif!”
Begitu malah perintahnya Tuan Alva pada sekertaris pribadinya itu. Bukan disuruh menjamu tamu besar dan mendampingi sang Bos dalam rapat besar dan penting, justru ia malah disuruh melototin lift sampai istrinya si Bos datang.
♥
“Bucin super akut, stadium ga tertolong...” gumam Kafeel sembari ia terkekeh di samping Varen, yang orangnya juga sama terkekeh seperti Kafeel.
Namun Kafeel amat sangat memahami mengapa seorang Alvarend yang ia tahu punya sisi ‘darah dingin dan kejam’ dalam dirinya itu, sampai seperti ini sikapnya pada sang istri.
Ini baru bagaimana Varen mau Andrea diperlakukan oleh semua orang yang bekerja padanya. Belum termasuk jajaran bodyguard yang ada disekeliling sang istri, yang ditempatkan Varen atas efek insiden besar yang pernah menimpa Andrea, hingga sisi gila nan kejam seorang Alvarend keluar tanpa ada yang bisa menahannya.
Itu kakaknya, yang saking cinta gila pada sang istri sejak istrinya masih bayi itu mempresentasikan cintanya yang super duper berlebihan itu.
Entah bagaimana sang adik ke depannya mempresentasikan cintanya pada seorang pria yang sedang mendampingi Varen saat ini.
♥♥♥
__ADS_1
To be continue ..