HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
PLEASE DON’T GO – ( TOLONG JANGAN PERGI ) #2


__ADS_3

( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“This just a prank, right? ( Ini... Prank, kan? )...”


Pertanyaan yang dilontarkan seseorang yang sedang berada di sebuah pesawat dalam panggilan telepon yang tersedia di jaringan pesawat yang merupakan jet pribadi berteknologi canggih.


“It’s... true, Sir... Miss Valera... was gone ( Itu... benar, Tuan... Nona Valera... telah tiada )...”


🍂🍂🍂🍂🍂


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England....


“Tapi benar ya, kamu beristirahat dan bukannya mengurung diri di kamar untuk menangis lagi?...”


“Iya, janji. Val tidak akan menangis lagi. Val akan benar-benar beristirahat...“


Ada Val yang berucap seraya ia berdiri dari tempatnya duduk saat sarapan, untuk beranjak pergi.


‘Doaku yang terakhir Tuhan...’ bisik Val dalam hatinya. ‘Permintaan,ku, Tuhan...’


Yang kemudian meralat ucapan di dalam hatinya itu. Saat Val berhenti sejenak lalu melirik semua anggota keluarganya yang tinggal bersama Val di mansion London dimana kesemuanya masih berada di ruang jamuan saat Val sudah undur diri.


‘Orang yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri kan tidak selayaknya berdoa ya?...’ Val tersenyum getir sambil memandangi dalam diam serta diam – diam, mereka yang ada di dalam ruang jamuan tersebut. ‘Aku meminta, Tuhan. Jika boleh aku meminta, biarkan mereka terus bahagia, walau aku tidak ada lagi di tengah mereka ke depannya...’


Val menghela nafasnya dengan berat kemudian, menahan air matanya agar tidak tumpah. Lalu kembali melanjutkan langkah menjauh dari ruang jamuan.


🍂


“Aku merasakan ada yang aneh pada Val... Apa kalian merasakannya juga?...“ Poppa angkat suara ketika Val telah keluar dari ruang jamuan, serta dipastikan telah menjauh dari sana.


“Aku sih ngerasain juga... Tapi aku pikir Val jadi kelihatan moody, karena, yah kalian tau lah...” Momma menimpali untuk menanggapi ucapan Poppa barusan.


Lalu beberapa pendapat tercetus menimpali sekaligus mengiyakan ucapan Momma.


Dan di beberapa menit berikutnya, Ann-Rery serta Mika mengikuti jejak Val untuk undur diri dari ruang jamuan.


🍂


“Excuse me, Sir, Ma’am, Mister Chaisay and Mister Mario come to visit ( Permisi, Tuan, Nyonya, Tuan Chaisay dan Tuan Mario datang berkunjung )—“


“Really?...”


“Yes, Sir...”


“Tell them to get over here ( Katakan pada mereka untuk datang saja ke sini )”


“Already, Sir. But both of them said that they will wait in the living room ( Sudah, Tuan. Tapi mereka berdua mengatakan jika akan menunggu di ruang tamu saja )”


“Alright, then.”


🍂


Sementara itu di bagian Mansion The Adjieran Smith—London, yang lain....


Ada Val yang sudah masuk ke dalam kamar pribadinya, dengan jejak air mata di matanya. Dimana kemudian Val menghela nafasnya dengan panjang dan berat, sebelum akhirnya berjalan menuju ke arah meja belajarnya. Yang kemudian Val tarik sedikit kursinya, lalu ia duduki.


“Aku letakkan di sini saja...”


Val menggumam, setelah ia selesai menggoreskan tinta di atas sebuah kertas note berukuran besar berwarna putih, lalu ia masukkan ke dalam sebuah amplop yang juga berwarna putih dengan embos bunga di permukaannya.


“Ini seharusnya jadi model amplop undangan pernikahan kita, Kak... Dan coba lihat ini...” Val menggumam lagi, setelah mengeluarkan beberapa jenis benda dari dalam satu laci meja belajarnya itu. Val seperti sedang berbicara dengan seseorang, namun pada kenyataannya dia hanya sendirian di kamar pribadinya itu.


“Sketsa undangan kita sudah jadi, hanya tinggal di cetak,” gumam Val lagi, dengan gestur tubuh seperti seolah menunjukkan satu benda yang sedang ia pegang itu kepada seseorang. “Nama kita, sudah terukir bersanding dengan indahnya.”


Val tersenyum, menoleh ke arah satu sisinya.


“Lihat... Kafeel Adiwangsa dan Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith.”


Val berkata lagi, dengan seutas senyum di wajahnya.


“Tapi kenapa Kak Kafeel tega?...”


Val kemudian melirih dengan menatap ke satu arah, seolah orang yang Val sebut namanya itu ada disampingnya.


Iya, Val sekacau itu sebenarnya.


Semakin hatinya ingin membenci Kafeel Adiwangsa, semakin hatinya juga merasakan cinta disaat yang sama. Dan disaat itu, hati Val juga terasa seperti ditusuk dan dicabik oleh pisau yang begitu tajamnya.


Semakin Val ingin melupakan wajah rupawan yang mempesona diri berikut hatinya dan jatuh cinta dengan dalamnya, namun sosok utuhnya malah Val lihat kentara.


Seolah nyata, mengikutinya.


Membuat Val tersiksa, atas cinta yang tak hilang walau satu titik saja, namun disaat yang sama juga hatinya terasa begitu sakit tak terkira setiap kali bayangan Kafeel Adiwangsa---namun begitu nyata untuk Val itu, ia lihat di dalam pandangannya. Membuat nafasnya tak berhenti Val rasa begitu sesak, membuat matanya tak bisa kering lama-lama.


Yang mana, Val tahu---jika karena kondisinya yang ‘terluka parah’ itu, keluarganya menjadi begitu mengkhawatirkannya. Dan atas alasan itu, Val merasa bersalah pada keluarganya.


Val sudah merasa dirinya gila, karena ia benar-benar mengalami separah-parahnya insomnia. Tidak dapat tidur sama sekali, karena ‘Kafeel Adiwangsa’ terus-terusan saja mengganggunya.


Tak hanya hati, Val merasakan kepalanya sudah begitu sakit---selain merasakan juga matanya yang begitu panas. Val merasakan dirinya lelah, sangat.


Merasa tak tertolong, hingga otaknya berpikir akan tak habis ia menyusahkan keluarganya, membuat mereka memiliki beban hati karena dirinya. Dan Val tidak mau, keluarganya menanggung kekhawatiran---yang bagi Val akan membuat para anggota keluarganya itu khawatir dan bersusah hati lebih lama, lalu akan mengorbankan banyak hal untuk Val.


Tidak mau.


Val tidak mau itu terjadi.


Merasa telah memberi corengan pada keluarganya atas batalnya pernikahan Val saja sudah juga membebani Val.


Lalu, mereka harus lagi menanggung beban perasaan dan pikiran karena dirinya, kemudian satu per satu bisa jatuh menurun kondisinya.


Maka Val akan merasa lebih bersalah lagi.


Dan ya, pasti, akan ada pengorbanan yang keluarganya lakukan untuk Val yang bisa saja merugikan diri mereka sendiri.


Sekali lagi, Val tidak mau.


Cukup sudah. Lagipun, Val sudah lelah. Selain merasa dirinya tidak akan tertolong karena dalamnya luka di dalam dadanya yang rasanya walau baru sebentar luka itu ada, lukanya sudah dengan cepat bernanah.


Memikirkan Kafeel dan keluarganya, semakin sakit, hati dan kepala Val.


Yang sudah rasanya Val tidak bisa tahan lagi, hingga satu keputusan dia ambil dengan bulat.


Ingin ‘beristirahat’ saja.


Karena dengan dirinya ‘beristirahat’, bukankah keluarganya pun dapat beristirahat dan tidak perlu lagi merasa khawatir dan bersusah hati?


Dan ‘Kafeel Adiwangsa’, tidak akan lagi mengganggunya. Lalu semua rasa sakit dan bersalah, pun tidak akan membebani dirinya lagi.


Dan ya, seperti ini saja kiranya.


“Ini Val hancurkan ya?... Sakit melihatnya... Sesakit melihat Kakak yang memandangi Val sekarang.”


Yang Val gunting-gunting sampai menjadi serpihan beberapa kertas yang tergoreskan ragam tulisan dan gambar serta ukiran yang nampak indah.


Kemudian Val sisihkan ke pinggiran meja belajarnya.


“Oh iya, sebenarnya Val beli ini untuk hadiah ulang tahun Kakak, walaupun jam tangan ini couple... Tapi maaf ya, tidak dapat Val berikan pada Kakak.”


Val memandangi dengan memelas dua buah jam tangan yang sama desain namun berbeda ukuran itu.


‘Untung saja belum sempat aku mengukir namaku dan Kak Kafeel di belakang jam couple ini.’ batin Val kemudian. ‘Aku berikan saja untuk Ann dan Rery deh.’

__ADS_1


🍂


Val langsung beringsut dari duduknya, lalu keluar dari kamar dan pergi ke kamar Ann.


“Hey, Val!”


“Eh, Ann...” Val sedikit gugup, karena pikirnya Ann sudah pergi ke sekolah. “Kamu tidak sekolah, Ann?”


“Tidak.”


“Apa gara-gara aku?...”


“Tidak Val, aku dan Rery diberikan libur oleh sekolah karena kami sudah berlatih keras kemarin untuk turnamen tahunan.”


“Syukurlah jika bukan karena aku kamu dan Rery tidak sekolah...”


“Ada yang kamu butuhkan?...”


“Ti-tidak Ann.”


“Lalu kamu ke sini? Ingin aku temani?...”


“Tidak Ann, aku hanya ingin memberikan ini—“


“Apa ini?...”


“Jam couple untuk kamu dan Rery.”


Ann menerima satu buah paper bag sebuah toko jam tangan dari tangan Val, namun dahi Ann mengkerut.


“Kenapa kamu memberikan jam ini untukku dan Rery?”


“Itu sebenarnya aku beli untuk kujadikan hadiah ulang tahun Kak Kafeel, Ann... Tapi sekarang kan tidak mungkin ya aku memberikan jam tangan yang berpasangan denganku pada suami orang?” ucap Val, dengan celotehan yang membuat hati Ann rasa mencelos.


“Val—“


“Terima ya, Ann? Itu masih baru kok. Dan belum ada ukiran namaku dan Kak Kafeel di rantainya.”


“Baru atau tidak, tak masalah kok Val... Aku menghargai sekali pemberianmu... Terima kasih ya?—“


“Sama-sama, Ann... Tolong kamu saja yang berikan pada Rery jam tangan yang satunya ya?” tukas Val. "Setelah ini aku mau langsung ke kamarku lagi--"


“Iya, nanti aku yang berikan pada Rery. Tapi nanti ya? Karena Rery sedang mengerjakan tugas sekolah, dan aku tidak mau mengganggunya.”


Val mengangguk seraya tersenyum pada Ann.


“Ann...”


“Iya, Val?...”


“Boleh aku peluk kamu?”


“Ih, kemari!” Ann dengan cepat menarik tubuh Val dan memeluk saudari angkatnya itu duluan. “Apa sudah cukup erat pelukanku?”


Ann berujar, dan Val terkekeh kecil kemudian memeluk balik Ann. “Terima kasih, ya Ann?...” tutur Val. ‘Dan maaf...’


Kalimat berikutnya hanya terucap di dalam hati Val saja.


🍂


Dear Ann,


Aku lelah Ann,


Aku ingin tidur.


Agar tidak lagi aku rasa, sakit di hatiku karena Kak Kafeel.


Agar tidak lagi aku lihat, wajah kamu dan lainnya yang bersedih karenaku.


Hatiku tambah sakit mengetahui kalian terus-terusan berkorban untukku.


Jadi aku minta ya, cairan cantik berwarna fuschia milik kamu itu?


Semoga saja bekerja juga untukku seperti halnya pada si pangeran berbulu.


^_-


Sekali lagi maaf, karena aku mengambil barang kamu tanpa ijin.


Terima kasih ya, Ann.


Terima kasih sudah menjadi saudari yang hebat untukku.


Hugs and Kisses from your beloved sister,


💗 VAL 💗


Sa-yaaang Ann...


🍂


“Ann, mau kemana?...”


Ada Rery yang melihat Ann berjalan ke arah lift saat dia keluar dari kamarnya, dan hendak juga pergi ke lantai bawah untuk mencari camilan dengan menggunakan lift.


Val sudah beberapa menit lalu keluar dari kamar Ann, dan mengatakan jika dirinya ingin beristirahat setelah meminta ijin untuk memeluk Ann dan keluar dari kamar saudarinya yang memiliki julukan Little Devil itu.


“Safe house ...“


Ann dengan cepat menjawab pertanyaan Rery.


“Mau apa?”


“Meneruskan penelitianku untuk cancer medicine itu, sekaligus seperti biasa aku mengecek si pangeran tidur berbulu itu...”


“Ya sudah aku temani-“


“Eh iya!”


“Ada apa?”


“Aku lupa membawa tab penelitianku.”


“Ya sudah sana ambil dulu. Atau mau aku yang ambilkan?”


“Aku saja.”


“Ya sudah, aku tunggu di Safe house saja ya kalau begitu?”


“Okay!”


“Ah iya Re-An, tadi ada pemberian untuk kamu dari Val.”


“Apa?...”


“Nanti aku ceritakan—“


🍂


Safe house, The Great Mansion of The Adjieran Smith....


“Ada apa, Re-An?”


“Bad news (Berita buruk)”


Rery langsung berucap ketika Ann telah menyusulnya ke Safe house.

__ADS_1


“Kenapa?...”


“Si pangeran tidur berbulu, sudah tidak bernyawa.”


“Ya Tuhan... Kasihannya...”


“Tapi aku belum mencabut alat yang menempel padanya-“


“Iya, tidak apa-apa. Sekaligus aku akan mengecek apa yang membuatnya tewas setelah tertidur begitu lama karena cairan fuschia penelitianku itu...“


“Kalau begitu akan aku carikan tempat untuk membaringkan si pangeran tidur berbulu, sebelum kita menguburnya.”


🍂


Namun sebelum Rery melangkah lebih jauh dari Ann yang masih berada di dalam ruangan yang dibuat sedemikian rupa seperti sebuah labolatorium itu, Ann berbicara sambil nampak mencari-cari sesuatu.


“Re-An, kamu letakkan dimana cairan fuschia itu? Apa sudah kamu buang?”


“Aku tidak selancang itu main asal buang barang-barang kamu, Ann.”


“Tapi kok cairan fuschia penyebab si pangeran tidur berbulu itu tertidur lama lalu mati tidak ada di tempatnya?”


“Mungkin kamu terlupa menyimpannya.”


“Aku belum meneliti cairan itu lagi dari sejak kejadian Val dan Kak Kaf lalu kita ke Indo, Re-An.”


“Ya sudah aku bantu kamu mencarinya. Mungkin saja kamu yang memang lupa, Ann,” tutur Rery.


“Aku memiliki ingatan yang amat sangat baik, okay? Dan aku tidak pernah memindahkan cairan itu dari tempat khususnya.”


“Mungkin kamu sendiri yang sudah membuangnya tapi kamu lupa karena kejadian yang menimpa Val?”


“Aku masih belum menemukan penyebab mengapa cairan yang aku maksudkan sebagai obat itu malah membuat si pangeran tidur berbulu itu malah menjadi tertidur sangat lama. Jadi tidak mungkin aku membuangnya begitu saja, Re-An.“


“Ya sudah, ayo kita cari dulu,” ajak Rery.


“Okay.”


🍂


Beberapa saat kemudian....


“Tidak ada Re-An...”


“Aneh.”


“Siapa sih yang berani masuk ke sini selagi aku tidak ada?... Uuuhhh!”


“Sudah, kita cari sekali lagi.”


“Cairan itu harus ketemu---terlebih si pangeran tidur berbulu tewas sekarang. Berarti cairan itu berbahaya.”


“Iya juga, ya?...” cetus Rery.


“Kalau begitu aku akan mencari ke kamarku-“


🍂


“Eh Ann, kamu menjatuhkan catatanmu.”


Rery berucap karena saat Ann berbalik ada kertas yang kemudian ia lihat tergeser hingga jatuh dari satu permukaan meja.


“Catatan apa?... Aku tidak membawa catatan apa-apa.”


“Itu kertas yang terjatuh, apa?”


🍂


“Ann?...”


Rery memanggil saat Ann telah mengambil kertas yang tadi ia maksudkan.


“Ti-dak...” gumam Ann yang nampak tertegun memandangi kertas yang dipegangnya itu.


“Ada apa, Ann?...”


“Hub-hubungi mansion...”


Ann berucap dengan terbata kemudian, mengabaikan pertanyaan Rery yang menatapnya heran.


“Iya, tapi kenapa, Ann? Ada apa??...” Rery bertanya lagi, sambil melangkah mendekati Ann yang jika Rery tidak salah memperhatikan, tubuh Ann nampak gemetar.


“HUBUNGI MANSION, RE-AN!!!”


Namun alih-alih menjelaskan, Ann berbalik dengan sangat cepat, lalu berlari seperti orang yang kesetanan.


“ANN!!”


Rery pun berseru kencang sambil mengejar Ann yang sudah masuk ke dalam lift yang pintunya sudah tertutup.


“Ck!”


Rery sontak berdecak, karena ia tertinggal di Safe house dan harus menunggu lift kembali lagi setelah Ann sampai di atas.


Walaupun akses masuk ke Safe house mereka ada dua pintu, namun pintu yang satunya langsung mengarah ke luar mansion.


🍂


“Ada apa sih??... Kenapa Ann menjadi histeris seperti itu??”


Rery menggumam dan bertanya-tanya sendiri.


“Ann mengatakan untuk menghubungi mansion?...”


Rery menggumam lagi, sambil ia melirik ke satu dinding yang sekarang telah dipasangi interkom.


Karena Safe house sekarang telah bertambah fungsi. Selain sebagai rumah perlindungan jika ada hal yang seperti tragedi saat Gappa masih berusia matang lalu saat para pewaris masih kecil dan sebagian belum muncul ke dunia, Safe house mereka sering digunakan sebagai tempat bermain para pewaris muda.


“Ah sudahlah!”


Rery menggumam sambil memasuki lift yang telah dengan cepat kembali dari atas, karena Rery terus menekan tombolnya dengan tergesa tanpa menyentuh interkom dalam Safe house yang sempat ia lirik tadi.


🍂


Rery mengernyit saat dirinya sudah berada di dalam lift memandang ke arah lantai lift yang sedang bergerak ke atas.


Sebuah kertas note yang kemudian Rery raih dengan cepat. Yang kemudian Rery baca tulisan dalam kertas yang membuat Ann langsung nampak seperti orang kesetanan.


“No...”


Rery menggumam tidak percaya saat membaca kertas yang sudah ia raih itu.


“N-oo...”


Sama seperti Ann, tubuh Rery langsung gemetar dengan matanya yang memerah.


“No Val! No!”


Dan sama juga seperti Ann, Rery langsung melesat dengan cepat bak orang kesetanan saat pintu lift terbuka.


“VAAAALL!!!!...” Dimana teriakan Ann yang begitu kencang dan histeris itu dapat Rery dengar sambil ia berlari dengan begitu cepatnya.


🍂🍂🍂


To be continue...


Note:

__ADS_1


Akan banyak bawang bombay dan bawang merah yang bertebaran di episode berikutnya, tanpa ada bawang putih.


Karena bawang putih udah diusir ibu tirinya dari rumah.


__ADS_2