
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Rumah Kafeel dan Keluarga ...
“Baru ini aku merasa, ingin selalu terlihat baik dimata seorang perempuan.... yang hanya dengan mengingatnya saja, dapat membuatku tersenyum macam orang bodoh. Membuatku merasa, jika aku tak memilikinya dalam hari-hariku, aku layaknya taman bunga yang tak terkena sinar matahari, yang tidak disirami, lalu mati ...”
“Ya Allah AA ...”
“Picisan? ... aku tidak perduli orang berkata apa. Walau dia hanya seorang gadis belasan tahun, tapi seperti itu kiranya, pada Val aku merasa. Setelah cukup lama aku takut untuk mengakuinya ....”
Lalu Kafeel memandangi dua orang yang paling dekat dengannya selama hidup, selain almarhum sang ayah. Menarik juga sudut bibirnya.
“Aku mencintai dengan sungguh-sungguh itu bocil cewe yang bernama Valera Aditama Smith yang imutnya bukan main. Oke?. Thank you!” ucap Kafeel kemudian dengan santai. “Jelas ya ibu-ibu sekalian?...” selorohnya.
Lena terkikik.
“Ari si AA, nemu dimana itu kata-kata begitu? ... Bunda jadi terharu dengernya ... anak Bunda yang dulunya playboy cap sarden, bangor, terus berubah jadi pendiem-dingin kayak kulkas-selain gila kerja, sekarang jadi bucin sejati kayaknya ...” kata bundanya Kafeel.
Yang memang nampak mengusap sudut matanya, tapi juga cerocosan keluar dari mulutnya yang membuat Kafeel dan Lena terkekeh.
“Udah, bunda ga usah khawatir pokoknya. Aku ga akan mempermainkan Val. Ga akan pernah. Berpikir untuk itu pun engga.”
Kafeel menyesap sekali lagi kopi di cangkirnya, lalu bangkit dari duduknya kemudian mendekat kembali pada sang Bunda.
“Bener loh ya A’?. Janji jangan pernah nyakitin eta si geulis! ....” ucap sang Bunda sambil menatap pada anak sulungnya itu.
“Janji Bun.” Sahut Kafeel. “Sebelum Bunda juga aku udah janji sama diri aku sendiri Bun. Agar sekuat tenaga aku hanya akan membuat Val tersenyum dan tertawa, serta bahagia.”
Kafeel menarik sudut bibirnya sambil kemudian meraih tangan sang bunda.
“Jadi Bunda cukup berdoa aja, mengiringi usaha aku untuk mempersiapkan yang terbaik bagi Val dimasa depan. Menjadikan aku layak untuk bersanding dengannya kelak. Trus Bunda punya mantu deh!” celoteh Kafeel dan bundanya itu pun terkekeh.
“Aduh Bunda jadi ga sabar, pengen cepet-cepet nikahin kamu sama si geulis Val ... Terus punya cucu-cucu yang cakepnya kayak dia dan keluarganya....”
“Nah loh? kenapa jadi pengen punya cucu yang mirip Val aja sama keluarganya?. Nah kalo aku nikah sama Val, ya harusnya mirip aku sama dia lah!”
Kafeel melayangkan protes sambil merungut pada sang bunda.
“Kasep pisan ini anaknya juga!”
Bundanya Kafeel dan Lena sang adik terkekeh kemudian.
“Iya AA cakep emang, tapi cakepnya AA kan rata-rata! Nah kalo keluarganya Val cakepnya itu, rata-rata aja lewat!” seloroh bundanya Kafeel.
“Astagfirullah ... berikan aku kesabaran menghadapi ibu yang kurang bersyukur punya anak lelaki yang gantengnya Masya Allah ini, Ya Rab..”
Kafeel mengelus dadanya, sambil geleng-geleng seolah terluka sambil memandang pada sang bunda yang cekikikan termasuk juga sang adik. Namun kemudian Kafeel tersenyum lebar.
“Ya udah kalo gitu, aku pamit dulu ... mau ke Kediaman keluarganya Val---“ Kafeel meraih tangan kanan bundanya.
“Mau minta ijin sama keluarganya si geulis Val buat menjalin hubungan sama anaknya?” tanya sang bunda.
“Sama keluarga yang ada di Kediaman Utama mereka, udah kemarin Bun. Tapi sama yang di London belum ....” jawab Kafeel.
“Jadi sama Moreno dan Kyara belum minta ijin kamunya?....”
Kafeel menggeleng pada ibundanya.
“Lah kamu gimana sih, bukannya telepon minta ijin ke ibu bapaknya dulu?! ....”
“Ya justru itu, aku mikir ga sopan kalo lewat telepon. Rencananya nanti saat Val akan kembali ke London, aku akan ikut serta untuk langsung minta ijin secara langsung sama mereka, termasuk sama Uncle Andrew, Aunt Fania dan Uncle Lucca sama Aunt Fabi juga. Kalau semua kakek dan neneknya juga sudah karena semalam aku makan malam dengan mereka.”
“Tapi kamu udah ngomong juga sama Alva? ....”
“Secara langsung belum. Karena dia lagi sedang dalam jadwal ‘khusus’ sama Drea.”
Bundanya Kafeel manggut-manggut. “Tapi kamu gimana kemarin, dikasih ijin sama John dan keluarga si geulis Val yang lainnya yang ada disini? ....” tanyanya kemudian.
“Dikasih Bun.”
“Alhamdulillah ....”
“Berarti dari Kak Alva, AA belom ngantongin ijin dong?”
Lena ikut bertanya.
“Kalo Alva sih kayaknya fine-fine aja kalo AA pacaran sama adeknya ...”
“Tapi tetep harus menghargai pendapat Alva, A’ ....”
Bundanya Kafeel berkomentar.
“Iya Bun. Pasti. Aku pasti akan minta ijin langsung juga sama Alva ....”
Kafeel menyahut seraya mengangguk. Sang Bunda pun tersenyum.
“Tapi yang paling penting ya itu, keluarga Val yang berada di London, terutama orang tua kandungnya Val. Uncle R sih yang utama harus aku hadapi secara langsung buat minta ijin menjalin hubungan spesial sama anaknya.”
Lalu Kafeel kembali berbicara. Sang bunda kembali tersenyum lalu mengusap pelan lengan Kafeel dengan kelembutan seorang ibu. Mau menyentuh kepala Kafeel kalau anak lelakinya sedang berdiri itu, tangan bundanya Kafeel tak sampai, karena Kafeel tinggi menjulang seperti almarhum sang ayah.
“Ayah pasti bangga liat AA sekarang .... AA tumbuh jadi laki-laki yang gentle, meski melewati banyak proses. Tapi AA juga harus berlapang dada yah, kalau restu dari Moreno belum bisa AA dapet dengan cepat ....”
Bundanya Kafeel berucap dengan lembut.
“Walaupun kita semua tau kalau keluarga si geulis Val itu engga melihat orang dari status sosialnya, tapi tetep yang namanya orang tua, apalagi seorang ayah, dia pasti ingin anak perempuannya mendapat laki-laki terbaik ....”
“....”
“Karena biar bagaimanapun kan, AA punya masa lalu dalam hal pergaulan yang ga sempurna. Jadi kalau hal itu menjadi pertimbangan ayahnya Val, AA harus berbesar hati yah? .... Toh jodoh, rezeki sama maut kan udah ada Yang Atur ....”
“Iya Bun, aku paham.” Tukas Kafeel. Ia menarik sudut bibirnya.
“Tapi Bunda akan selalu doain, agar jalan AA dapet restu ayah kandungnya Val itu lancar. AA sama si geulis Val bisa bersama-sama dan bahagia seterusnya ....”
“Aamiin ....” ucap Kafeel dan Lena bersamaan.
♥♥♥♥
“Ya udah aku pergi sekarang ya Bun?”
Kafeel kembali berpamitan pada sang bunda.
“Iya A’. Hati-hati.” Sahut sang bunda. “Eh iya, A’ ....”
“Kenapa Bun? ....”
__ADS_1
“Soal kamu yang dulunya bangor itu si geulis Val sama keluarganya udah tau?”
“Aku ga tau apakah Val dan keluarganya tahu bagaimana pergaulan aku dulu, soalnya mereka ga pernah membahas atau sekedar bertanya sama aku, Bun ....” jawab Kafeel.
“Pasti udah tahu kali Bun, A’ .... Kan ayah akrab sama para Daddynya Val?” celetuk Lena.
“Iya sih .... Pasti juga waktu si geulis Val bilang sama keluarganya dia suka sama kamu, terus keluarganya ngebiarin aja dia nempel sama kamu, mungkin juga mereka udah nyelidikin kamu orang kayak apa ya, A’? ....”
Bundanya Kafeel menimpali celetukan Lena.
“Mungkin ....”
Kafeel manggut-manggut.
“Terus kalo mereka udah tahu dan tetep kasih si geulis Val deket sama kamu sampe sekarang kamu jadi orang kepercayaannya Alva di kantor keluarganya, berarti mereka ga ada masalah dengan kebangoran kamu dimasa lalu dong ya A’?”
“Ya mungkin begitu.” Tanggap Kafeel. “Emang kenapa Bunda nanya soal itu? ....”
Kafeel bertanya.
“Ya ga kenapa-kenapa ....”
Bundanya pun menanggapi.
“Bunda Cuma mau AA tetep jadi AA yang sekarang, terus ditambah AA katanya udah pacaran sama si geulis Val, saran Bunda ya AA harus jujur sama dia tentang masa lalu AA ....”
“Pasti Bun.” Jawab Kafeel. “Terlepas entah Val sudah tahu atau belum bagaimana pergaulan aku dimasa lalu, nanti aku akan tetep cerita sama dia.” Sambung Kafeel. “Yang penting Bunda doain aja yang terbaik untuk aku dan Val ....”
“Pasti atuh A’—“
“Eh, ralat!. Doain-nya aku sama Val berjodoh ....” sambar Kafeel. “Nanti kalo doanya minta yang terbaik buat Val, taunya bukan aku yang terbaik itu, bisa gaswat ini hati AA Kafeel nu kasep pisan ieu!”
Bunda dan adiknya Kafeel pun terkikik mendengar selorohan Kafeel.
“Merana berkepanjangan nanti bisa-bisa kalo aku kehilangan Val.”
“Euleuh, si AA .... udah jadi bucin sejati euy!” celoteh sang bunda. Kafeel dan Lena pun terkekeh bersama, termasuk bunda mereka yang juga ikutan terkekeh.
♥♥♥♥
“Pokoknya A’, AA teh harus jujur apa adanya ya, sama si geulis Val dan keluarganya soal pergaulan AA dimasa lalu .... Jodoh ga kemana A’.”
Bundanya Kafeel itu mengelus lagi lengan anak sulungnya tersebut, yang langsung mengangguk.
“Iya Bun, pasti.” Sahut Kafeel. “Pasti aku cerita.” Sambung Kafeel.
“Ya udah, gih sana apelin pacarnya. Titip salam juga sama semua disana ....”
“Iya Bun.” Jawab Kafeel.
♥♥♥♥
“Assalamu’alaikum ....”
Kafeel pun mengucapkan salam sebelum ia pergi untuk menuju Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta.
“Sekalian si geulis Val ajak kesini ya A’?” Bundanya Kafeel berucap seraya meminta.
Kafeel pun mengangguk dan tersenyum.
Bundanya Kafeel nampak sumringah.
“Atau Bunda mau ikut aja sekarang ke Kediaman mereka?” Kafeel menawarkan pada sang Bunda dan Bundanya itu lekas menggeleng.
“Bunda mau ke rumah Tante Sabina.” Ucap bundanya Kafeel. “Belum ketemu sama si Rara yang katanya sekarang lagi ditugasin disini.”
“Oh iya, kantornya kerjasama sama perusahaan Uncle R. Aku ketemu kemarin sama dia.”
“Oh ya? ....”
“Hu’um ....”
Kafeel mengangguk.
“Ya udah sana, kalo kamu lagi ditungguin sama si geulis Val, jangan bikin awewe cakep nungguin lama-lama.”
Bundanya Kafeel berkelakar dan Kafeel mendengus geli.
“Kamu mau ikut ga Len, ke--”
Kafeel berbicara pada sang adik sambil menepuk punggung adik perempuannya itu.
“Sshhh ....” suara ringisan pelan dan tertahan keluar dari mulut Lena.
Namun begitu, Kafeel masih bisa mendengarnya. “Kenapa punggung kamu?” Kafeel sontak bertanya.
“Tadi kepeleset di kamar mandi, kena bates pintu waktu nahan biar ga ngedubrag.” Sahut Lena cepat.
“Kok bisa?”
Sang bunda langsung menyambar.
“Ya namanya juga kepeleset Bun ....”
“Udah diobatin? ....” Kafeel bertanya lagi pada adiknya itu.
“Udah A’.”
“Ya udah kalo gitu. Lain kali hati-hati.”
“Iya A’.”
“Ngomong-ngomong Len—“
“Iya, A’? ....”
“Kamu udah putusin itu cowok kamu yang urakan itu?” tanya Kafeel.
“Udah-A’ ....” sahut Lena takut-takut, karena tampang Kafeel sedikit serius saat ini.
“Bagus.” Cetus Kafeel. “AA bukannya mau ngatur hidup kamu, AA Cuma mau kamu dapet cowo yang bener. Dan itu si Septian udah AA liat pake mata kepala sendiri kalo dia cowo ga beres. Jadi lebih baik kamu jauh-jauh dari dia.”
“Iya-A’ ....” sahut Lena masih dengan ekspresi yang sama.
“Ya udah, AA berangkat dulu.” Ucap Kafeel sambil mengacak pelan rambut Lena. “Yuk Bun, Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam.” Jawab sang bunda dan Lena.
__ADS_1
Kafeel pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah yang ia belikan untuk sang ibunda dan adiknya, karena rumah lama mereka, meski banyak kenangan di dalamnya, namun ada luka dan trauma juga yang menaunginya.
Jadi sang bunda memutuskan untuk menjual rumah tersebut, sebelum mereka pindah ke Malaysia dulu. Dan sejak menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Varen, Kafeel memboyong ibu dan adiknya kembali ke Indonesia.
Lalu membelikan rumah baru untuk keduanya yang meski tak sebanding dengan rumah-rumah pribadi milik para anggota keluarga Val, namun rumah yang dibelikan Kafeel untuk ibu dan adiknya itu, adalah dari hasil keringat Kafeel sendiri.
♥♥♥♥
‘Aduh dedek Val, baru sebentar ga ketemu aku udah kangen masa? ....’ batin Kafeel, saat ia telah melajukan mobilnya menembus jalanan, untuk pergi ke Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta.
Kafeel tersenyum geli sendiri.
‘Amit deh lo Ka, jadi receh abis gara-gara anak ABG!’
Kafeel membatin lagi.
‘Nah anak ABG-nya imut kelewatan gitu!’
Masih cengengesan.
‘Bikin gumush aja!’ batin Kafeel yang gemas sambil membayangkan wajah Val. Cengengesan lagi, sambil gemes sendiri.
Dan terus cengengesan, sampai mobil yang Kafeel kemudikan sampai di Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta.
♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia...
‘Itu perasaan gue mobil akomodasi bandara dibawa ke bengkel kemarin bukannya? Kok nangkring lagi disini bukannya dibawa langsung ke tempatnya abis di service? ..’
Kafeel membatin sambil memperhatikan dua jenis mobil super mewah yang dikhususkan sebagai mobil akomodasi untuk antar jemput keluarga tersebut, jika ada yang habis bepergian dengan jet pribadi mereka.
‘Ramai banget ini carport! Udah kayak parkiran Mal!’ batin Kafeel.
Namun Kafeel kemudian tak mau ambil pusing lama-lama.
‘Untung disuruh dateng lagi kesini, jadi gue ga perlu cari-cari alasan buat ketemu dedek Val cantik nan imut dan menggemaskan punya Kak Kafeel seorang.’
Kafeel mengulum senyumnya, sambil berkaca di spion depan mobilnya tersebut.
‘Oke , muka ganteng aman .....’
Mode narsis Kafeel on.
‘Wangi aman juga!’ batin Kafeel sambil mengendusi ketiak dari lengannya. ‘Ganteng, wangi! Coba itu pacarnya siapa?’ masih membatin. ‘Ya dedek Val cantik lah!’
Kafeel tersenyum geli. Lalu segera turun dari mobilnya untuk segera masuk ke dalam Kediaman keluarga besar Val itu, untuk menepati janjinya pada tiga Daddy Val yang ingin membicarakan hal yang penting dengannya.
♥♥♥♥
‘Kayaknya ramai banget di dalem? ...’
Kafeel memperhatikan Kediaman keluarga besar Val tersebut sambil ia berjalan.
‘Ada tamu kah? ...’
Kafeel bertanya-tanya dalam hatinya. Tapi tak lama ia mengendikkan bahunya.
‘Biarlah, ada tamu atau engga, gue kan ada urusan sama tiga dari banyak Daddy-nya Val sekarang.’
Kafeel terus mengayunkan langkahnya.
‘Yang penting sekarang, habis selesai urusan sama Uncle John, Uncle Jeff dan Uncle Dewa, gue akan cari tahu dengan detail, gimana cara gue meyakinkan Uncle R tentang kesungguhan gue pada Val, saat menghadap dia di London nanti. Masih ada waktu buat memikirkan cara apa yang akan gue gunakan untuk meyakinkan Uncle R. Meski agak ngeri-ngeri sedep juga sih, soalnya gue udah coba menghubungi tapi ga bisa-bisa, chat gue juga ga dibales lagi. Jangan-jangan dia ga terima kalau gue udah cium anaknya? .. Gimana ya kalau begitu? .. Ada indikasi gue ga direstui ini bisa-bisa!’’
Hati Kafeel bermonolog panjang.
‘Ah, gue masih punya waktu buat berpikir untuk menaklukkan itu biangnya ‘naga’!’
Hati Kafeel kembali bermonolog, kali ini dengan semangat ’45.
Ramainya ruang tamu Kediaman Utama keluarga Val, saat Kafeel telah berada di ambang pintu kembar nan besar Kediaman tersebut memang sudah terasa auranya.
“Assalamu'alaikum!”
Kafeel mengucapkan salam dengan lantang namun tetap ia mempertahankan kesopanan.
‘Agar nanti kalau gue berhadapan dengan Uncle R, jangan sampai gue berhalusinasi lagi seperti kemarin! ‘Naga’ yang mengerikan! Bisa membuat gue macam orang gila, hanya karena pesan chatnya aja! Sekaligus menyebalkan! Huft!’
Sembari juga Kafeel menggerutu dalam hatinya itu.
“Wa’alaikumsalam!”
Suara sahutan dari beberapa orang terdengar dari ruang tamu Kediaman tersebut.
Kafeel menarik sudut bibirnya.
“Selamat pa ---“
Kafeel hendak menyapa, namun kemudian terhenti seketika.
“Wah, wah, lihat siapa ini? Kekasih Val, heh?”
Dimana sebuah suara keburu menyapa Kafeel yang spontan langsung meneguk salivanya.
‘Anjrit! Gue baru membayangkan dia barusan aja, udah halu lagi gue!’
Hati Kafeel segera berkata saat melihat ‘naga menyebalkan’ itu, ada dalam pandangannya saat ini.
‘Tarik nafas Ka, itu ‘naga’ Cuma halusinasi lo lagi macam kemarin!’ kata hatinya Kafeel lagi.
Lalu ia menghela pelan nafasnya.
‘Abaikan aja abaikan, Ka, itu ga nyata, jadi ga perlu dianggap!’
Kafeel kembali bermonolog.
‘Bayangan ‘naga’, pergilah! Hush, hush .....’
Lalu dengan percaya diri, Kafeel melewati begitu saja itu ‘bayangan naga’.
“Ciri-ciri orang mau mati cepat..”
Ah, ‘bayangan naga’ itu bersuara.
♥♥♥♥♥♥♥♥
To be continue ....
__ADS_1