
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Little Star Island, Italy,
‘Pria itu, siapa ya? .... Kenapa jika aku perhatikan, dia sering curi – curi pandang padaku?’
Adalah Val yang sedang membatin ini, ketika dia memperhatikan seorang pria yang memang sedang memandang ke arahnya.
‘Eum, aku ingat sepertinya kemarin atau hari sebelumnya aku bertatap muka dengannya. Tetapi aku juga ingat, jika sepertinya aku belum diperkenalkan padanya. Karena Abang, Dad R, Papa Lucca dan Kak Tan – Tan itu .... nampak agak panik dan langsung membawaku kembali ke dalam kastil.’
Monolog Val dalam hatinya lagi.
‘Tampan sih memang, nampak juga seperti pria baik – baik. Tetapi orang tuaku selalu mengatakan ‘don’t judge a book from it’s cover’. Yang terlihat baik belum tentu baik pada kenyataannya, juga sebaliknya.’
♦
Val sedang duduk di ranjang pada ruang rawat intensifnya, dengan sebuah novel yang ia pinjam dari Rery karena tertarik saat melihat Rery membaca novel tersebut.
‘Dan aku takut pria dewasa yang kiranya seusia Abang itu seperti itu.’
Namun Val yang matanya nampak sedang memandangi dua halaman yang terbuka pada buku, malah tidak sedang membaca kata – kata yang ada di halaman terbuka pada novel yang sedang dibaca tersebut.
‘Lagipula, dia kenapa selalu ada saat aku bangun tidur. Atau terkadang aku menangkapnya sedang memperhatikanku dari jauh dengan tatapan yang bagaimana begitu. Aku ‘kan jadi was – was .... meskipun dia jika aku perhatikan cukup akrab dengan keluargaku. Tapi kenapa dia sangat asing bagiku, ya?’
Karena Val sedang sibuk melamunkan seorang pria. Yakni, Kafeel. Yang jika sedang tenang, Val dapat mengurutkan memori pendek yang belum lama ia alami di otaknya.
Dan itu yang sedang Val lakukan, karena meski ada beberapa orang keluarganya yang menemani dirinya, mereka sibuk juga seperti Val membaca sebuah buku atau tab yang sedang dalam pegangan.
Selain mereka duduk di sofa yang sedikit berjarak dari ranjang rawat Val. Jadi gerak – gerik Val yang nampak tenang terlihat membaca buku itu sebelumnya, tidak mereka perhatikan saat ini.
♦
Entah kenapa Val tiba – tiba memikirkan Kafeel yang ia belum ketahui namanya itu, Val pun tidak tahu. Padahal terakhir mereka saling tatap itu sudah saat pagi hari, dan Val bahkan tak ingat tentang Kafeel ketika ia sedang di ajak berkeliling sedikit area kastil setelah melakukan satu pemeriksaan, sekaligus melakukan terapinya.
Tapi beberapa detik yang lalu, saat Val tengah membaca buku yang sedang ia pegang sekarang itu, tahu – tahu dia mengingat Kafeel begitu saja. ‘Dan kenapa dia tidak mengakrabkan diri denganku ya? Padahal aku pernah melihatnya bercanda dengan May, Isha dan Aina. Tapi kenapa denganku tidak? aneh, sekaligus misterius sekali.’
Val nampak menggerakkan bibirnya ke kanan dan ke kiri dengan pikirannya yang masih tertuju pada Kafeel, yang membuatnya merasa aneh.
‘Ah tidak tahulah.’
Val yang kemudian mengendikkan bahunya.
‘Mungkin dia salah seorang orangnya Abang atau The Dads yang berdomisili di Jakarta dan aku memang belum mengenalnya begitupun dia, jadi dia sungkan untuk mengakrabkan diri denganku. Eh tapi, aku lihat dia juga dekat dengan Ann, karena aku pernah melihatnya mengacak rambut Ann sambil tersenyum tampan.’
Val kembali pada mode mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi keheranan tanpa dilihat oleh mereka yang sedang menemaninya itu, karena yang menemani Val nampak fokus dengan apa yang sedang mereka baca. Jadi Val yang terlihat sedang terheran – heran dan berpikir keras itu, tidak mereka yang sedang menemani Val perhatikan.
‘Dan lagi, jika pria itu begitu terlihat akrab pada saudari – saudariku, itu tandanya dia pun juga mengenalku, bukan? Tapi dia tidak pernah menegurku sama sekali kok ya? Apa aku ada masalah dengannya? Tapi tidak mungkin. Aku kan anak baik. Tidak pernah akan memulai permusuhan dengan orang lain. Lagipula, masalah apa yang ada antara remaja 14 tahun dan pria dewasa?’
Val masih terus saja sibuk bermonolog dalam hatinya.
‘Eh iya, aku kan 18 tahun sekarang. Heemm .... kalau begitu, aku sebut dia pria matang. Atau .... mungkin karena ia tahu kondisiku, jadi dia masih sungkan untuk mendekatiku. Iya, mungkin saja seperti itu. Atau apa karena dia memperhatikan aku memandanginya dengan penuh selidik, jadi itu yang membuat dia sungkan untuk menegurku?’
Val menghela nafasnya kemudian.
‘Ah entahlah bagaimana dan kenapa dengan pria yang sepertinya menjaga jarak dariku itu. Lebih baik fokus saja untuk mengingat diriku yang 18 tahun ini.’
♦
Demikian Val yang tidak lagi memusingkan soal Kafeel, meski masih terkadang dia mendapati keberadaan Kafeel di ruang rawatnya saat ia bangun tidur.
Namun pria itu berada dalam jarak tertentu yang agak jauh dari tempat Val.
Dengan Kafeel yang Val masih liat menatapnya dengan tatapan yang sulit Val pahami, namun ekspresi sendunya ketika melihat ke arah Val pun, masih terkadang membuat Val terheran – heran.
Hanya saja Val tak mau lagi memikirkan apa dan kenapa dengan pria matang yang misterius baginya itu, karena bila Val coba berpikir keras tentang pria itu – Kafeel – entah kenapa kepalanya sesekali berdenyut tak nyaman.
Hingga denyutan tak nyaman itu, membuat Val memiliki persepektifnya sendiri terhadap Kafeel.
Yang membuat Val merasa risih pada Kafeel jadinya, lalu sikap yang menyiratkan antipatinya pada Kafeel ---- cukup Val tunjukkan.
Dan Kafeel sendiri menyadari hal itu.
Dimana Kafeel kian menjaga jaraknya dari Val.
Selain ia lebih awas untuk tidak sampai terlihat jelas jika ia sedang memperhatikan Val, dengan cara tak pernah muncul lagi berbaur dengan lainnya yang berada di kastil, jika mereka sedang bersama Val.
Dimana Val, pada akhirnya tidak lagi terlalu memperhatikan Kafeel. Karena sibuknya Val adalah mendengar cerita dirinya sendiri yang ia lupakan. Yang mana itu karena ia yang memintanya. Jadi soal Kafeel yang membuatnya was – was tak lagi ia hiraukan.
Bahkan Val melupakan kehadiran Kafeel, yang memilih untuk benar – benar menjaga jaraknya dari Val.
Sampai pada suatu ketika ia sedang duduk – duduk di teras kastil tanpa lagi menggunakan kursi roda, baru ia mengingat soal Kafeel.
Saat Val melihat padang golf buatan yang tak besar di halaman kastil. Dimana tak lama, Val mengetahui nama Kafeel dari mulut Drea.
♦
Val’s Pov
Kafeel Adiwangsa.
Nama pria matang yang aku anggap misterius itu.
Yang aku dengar dari mulut Kak Drea. Dan sempat membuatku terheran – heran, kenapa hatiku terasa berdentum kuat saat mendengar nama itu.
__ADS_1
Aku sampai terkejut karena dentuman di hatiku itu.
Hingga menyebabkan tanganku slip, dan gelas yang sedang aku pegang terlepas dari genggamanku.
Lalu aku terheran – heran sendiri.
Pasalnya, nama itu begitu asing untukku.
Namun kenapa hatiku bereaksi aneh mendengarnya? ....
Dimana tak lama kemudian, aku merasakan otakku seperti tersetrum.
Sebentar.
Tapi cukup membuat pening.
Dan tiba – tiba saja semuanya menggelap.
Aku tidak mengingat apa – apa lagi setelah itu.
Selain aku terbangun dari koma, dan usiaku sudah 18 tahun.
Yang diawal – awal aku mendengar, aku sulit menerimanya.
Namun setelah aku pikir – pikir, yang sempat juga aku mengira semua ini adalah mimpi.
Yang mana adalah kenyataan yang sebenarnya, dan perlahan aku berpikir ....
Jika hidup harus terus berjalan bukan?
Dan atas dasar itu, aku mulai menerima diriku yang 18 tahun ini.
Yang ternyata sudah memiliki 2 keponakan yang imutnya macam aku.
Aih, senangnya aku melihat dua makhluk tampan dan cantik itu. Dan membuatku tak lagi memikirkan pria yang misterius bagiku itu.
Kafeel Adiwangsa.
By the way, namanya bagus.
Pas dengan si pemilik nama.
Diluar sikapnya yang membuatku agak menjadi was – was.
Lalu tentang Kafeel Adiwangsa, aku lupakan betul – betul.
Karena aku sibuk meminta informasi tentang diriku yang 18 tahun ini pada keluargaku.
Sambil aku menyamankan diriku dengan usiaku yang 18 tahun ini, dan meneruskan kegiatanku di masa 18 tahunku ini.
♦
Seperti itu yang terjadi kemudian.
Setelah kepergian Kafeel dari Little Star Island, dan setelah Val jatuh pingsan selepas mendengar nama lengkap Kafeel disebutkan oleh Drea, Val tidak lagi mengingat atau memikirkan tentang Kafeel.
Apalagi, sosok Kafeel memang tidak pernah nampak lagi di Little Star Island.
Jadi Val yang mengalami sindrom ingatan jarak pendek itu, tak mengingat Kafeel sama sekali lagi.
Yang mana hal itu disebabkan, karena otak Val lebih banyak menampung informasi yang memang dia butuhkan.
Tentang bagaimana dirinya yang 18 tahun itu, lalu apa saja kegiatannya. Yang kemudian Val jalani dengan meraba.
Namun tidak Val temukan kesulitan berarti saat mengikuti alurnya.
Bahkan belakangan, Val menikmati dirinya yang sudah mengenyam bangku kuliah itu.
Saking menikmatinya, Val merasa jatuh hati pada salah seorang dosen di kampusnya.
♦
Val diberikan ijin untuk berkuliah, karena Val memang memintanya. Namun sebelum itu, kondisi Val benar – benar dipastikan jika dirinya memang oke – oke saja untuk beraktifitas macam kuliah.
Dan hasil pemeriksaan Val, menyatakan bila Val memungkinkan untuk mulai menjalani aktifitasnya.
Jadi Val, mendapat ijin untuk pergi berkuliah. Tapi tetap dengan pengawasan ketat, selain Mika dan anak – anak dari kerabat terdekat yang memang berkuliah di kampus yang sama dengan Val yang memang selalu awas pada Val, meski mereka tidak berada di jurusan yang sama dengan Val.
Namun begitu, ada bodyguard yang senantiasa akan menjaga Val.
Dan Mika bahkan kadang menyempatkan ikut ke kampus meski dia memiliki jadwal berbeda dengan Val.
Atau pun saat Mika memang sedang tidak ada jadwal perkuliahan.
Jadi Val aman. Dan keluarganya pun tenang membiarkan Val menjalankan aktifitasnya.
Selain itu, Val juga tidak pernah mencetuskan keluhan saat ia kembali menempati kamarnya.
Meski Val sempat sedikit merasa asing dengan ‘kamar 18 tahunnya’ itu, namun Val sendiri juga tidak menyuarakannya pada keluarga.
Karena Val berpikir, hal itu disebabkan karena amnesianya yang mengingat dirinya masih 14 tahun. Makanya kamar tersebut terasa asing baginya.
♦
Atas dasar tindakan nekat yang pernah dilakukan oleh Val, keluarga Val seolah memiliki trauma tersendiri untuk hal itu.
__ADS_1
Hingga segala yang diinginkan Val, pastinya akan dikabulkan.
Namun tetap, ada ketentuan dan pertimbangannya.
Terutama dari para orang tua dan tetua. Tapi selebihnya, Val lebih banyak dibebaskan untuk melakukan segala hal yang dia inginkan.
Semata – mata, agar Val selalu merasa bahagia.
Dimana diharapkan kebahagiaan Val itu dapat membuat Val tenang.
Lalu perlahan, Val akan mulai mengingat sendiri tentang apa yang dia lupakan.
Termasuk, tentang Kafeel.
Namun sayangnya, meski kiranya 6 bulan telah berlalu.
Val masih belum mendapat gambaran tentang dirinya di masa dia hidup sekarang.
Dan keluarga Val, menyiapkan kesabaran mereka saja.
Karena tidak ingin mencekoki Val dengan kenangan yang dapat membuat sesak pikirannya.
Val tetap diceritakan tentang dirinya yang 18 tahun, namun ada porsi dari setiap informasi yang diceritakan secara perlahan.
Jika Val sudah nampak bingung, tindakan itu akan dihentikan sejenak.
Sampai Val bertanya dengan sendirinya tentang sebuah hal yang ingin ia ketahui.
♦
Selama kurang lebih 6 bulan, ya seperti itu.
Val nampak seperti Val yang keluarganya kenal selama ini sikapnya.
Namun satu hal yang tidak disadari oleh keluarga Val, bahwa ada yang sedikit berbeda darinya.
Yang tahu – tahu datang memberikan informasi, jika dirinya telah mempunyai seorang kekasih. Tanpa ada tercium endusan Val sedang menyukai seorang pria bahkan.
Malah tahunya, datang dengan informasi berikut membawa yang bersangkutan. Kekasih Val -- untuk diperkenalkan pada keluarganya yang ada di mansion utama mereka di London. Yang tentu saja membuat keterkejutan yang teramat sangat bagi para keluarganya yang ada.
Satu keterkejutan juga untuk Kafeel yang kebetulan ada di sana saat Val mengumumkan jika dirinya telah memiliki kekasih, sekaligus membawa orangnya ke mansion mereka untuk diperkenalkan kepada orang tua dan tetua yang ada. Hanya saja, keterkejutan Kafeel bercampur dengan perih di hatinya.
Membuat Kafeel merutuki nasibnya yang ia rasa begitu sial, karena – katakanlah di kehidupan ke 2 Val, gadis itu tidak jatuh cinta untuk kali kedua padanya.
“Jujur, kami pun tidak tahu tentang hal itu, Ka,” adalah Dad R yang berkata pada Kafeel, karena ia memang sengaja tidak kemana – mana setelah mendengar Kafeel akan berkunjung ke mansion mereka yang berada di London tersebut.
“Tak apa, Dad. Itu hak Val sepenuhnya ....” Kafeel yang langsung menanggapi ucapan Dad R itu menampakkan juga senyum keihklasannya. “Seperti yang pernah aku katakan, jika Val jatuh hati pada laki – laki lain, aku akan mengikhlaskannya. Yang penting Val selalu bahagia. Selain sehat terus.”
♦
‘Bahagia terus, ya Val? .... Aku sudah cukup bersyukur kamu mau menyapa aku tadi, bahkan tersenyum dengan cantiknya. Senyum yang selama ini aku sangat rindukan untuk aku lihat. Dimana senyum itu tertuju padaku. Jika benar – benar kita tak berjodoh ga apa. Asal setiap kali kita bertemu, senyum itu akan kamu tunjukkan padaku.’
Kafeel yang membatin saat ia tengah memandangi Val sebelum ia masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke salah satu hotel yang berada di London. Yang merupakan salah satu aset The Adjieran Smith Family.
Yang mana tadinya, Kafeel hendak bermalam di mansion utama The Adjieran Smith yang berada di London atas permintaan keluarga Val di sana. Namun akhirnya Kafeel merubah keputusan, kala ia mendapatkan kenyataan yang membuatnya harus membuat pil pahit.
Yang membuat Kafeel hanya bisa tersenyum getir saja.
Tapi selalu, akan ada pengharapan di hati Kafeel untuk hati seorang Valera.
Dan seperti Val, Kafeel akan ikuti saja alur hidupnya sekarang. Meski cintanya pada Val, kini sudah bertepuk sebelah tangan.
Namun pahit getirnya perasaan cinta Kafeel untuk Val yang bertepuk sebelah tangan sekarang ini, akan Kafeel nikmati saja.
Toh jodoh tak kemana.
Mungkin saja kan, Val yang jatuh hati pada pria lain selain dirinya itu, Kafeel anggap sebagai sebuah rintangan cintanya dengan Val.
Dan suatu saat nanti, Val .... akan kembali ia miliki hatinya.
Insya Allah. Yang Kafeel katakan dalam hatinya yang ia besarkan dan ikhlaskan itu.
Getir dan pahit sih, tapi mau bagaimana?
Takdirnya sudah seperti itu, jadi Kafeel – sekali lagi, ikuti saja dulu alurnya.
Sampai dimana ketahanan hatinya melihat Val menjalin hubungan dengan pria lain, itu biarlah terjawab nanti.
Yang penting saat ini bagi Kafeel, Val – bahagia. Meski hati Kafeel sudah berteriak, ‘Ingatlah tentang aku, tentang kita, Val!’
Dengan kesesakkan yang menyelimutinya.
Ah ya, andai Val itu si Tiara ....
Rasanya Kafeel ingin bilang,
“Kita, terpaksa berpisah untuk mencari arah .... Kita, dipukul ombak hidup alam yang nyata ....”
( Ayyye )
♦♦♦
To be continue ....
Terima kasih masih setia.
__ADS_1