HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 52


__ADS_3

Halo para reader setia nya Emak yang blaem-blaem!


Sehubungan dengan adanya sistem penghitungan popularitas terbaru di Noveltoon untuk setiap karya di aplikasi ini, Emak selaku penulis ingin mengajak kalian semua untuk membaca terlebih dahulu satu episode sampai tuntas, sebelum memberikan like ( jika memang berkenan ) ataupun komentar.


Kenapa?.


Karena pemberian like / komentar terlebih dahulu sebelum membaca, maka kalian akan dianggap bukan orang ( 😤 )alias bot , sehingga mempengaruhi popularitas suatu karya.


Demikian informasi ini Emak sampaikan, dan terima kasih atas perhatian kalian.


Salam Enjoy Selalu...


Emaknya Queen.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...


Kamar Val.


Yang pemiliknya sedang cengengesan, lalu melengos ke arah sebuah foto lain yang tergantung di dinding.


‘Korban tarik ulur cantik.’


Val membatin geli kemudian saat melihat salah satu foto Kafeel yang tergantung pada dinding kamarnya itu, setelah ia mengingat percakapan berikut kelas aktingnya dengan Momma.


Cinta yang tulus ditambah sedikit drama dan totalitas ekspresi wajah sendu, kiranya berhasil Val gunakan untuk membuat Kafeel akhirnya sudah tak lagi mau menampik perasaan yang pria itu punya pada Val.


Ternyata benar kata Momma.


Jika dalam pandangan salah satu Mom nya itu, bahwasanya, pada dasarnya dan sebenarnya, Kak Kafeel tercintanya Val itu menyimpan rasa yang spesial pake telor pada dirinya.


Dan Momma bilang, kalaupun Kak Kafeel terlihat tidak mau menanggapi pernyataan cinta Val yang terang-terangan pada pria itu - sekaligus mengejarnya habis-habisan, semata-mata karena Kak Kafeel nya mungkin punya banyak pertimbangan – jadi sikap Kak Kafeelnya, seolah tidak menganggap Val lebih dari seorang adik saja.


Dan ya, Momma benar lagi ternyata.


Kak Kafeelnya yang memiliki rasa spesial pada Val itu, yang ternyata juga mencintai dirinya itu, ternyata memiliki beberapa pertimbangan untuk tidak membuat rasa spesialnya pada Val naik ke permukaan.


‘Ternyata benar ya rumor tentang feelingnya Momma yang sharp itu?’ batin Val.


Dan beberapa pertimbangan itu, pada akhirnya dibeberkan oleh Kak Kafeel nya, setelah Val melakukan drama kecil atas saran Momma yang berjudul ‘Tarik Ulur Cantik’.


Yang pada akhirnya dengan pertimbangan yang bercampur tekad, walaupun sedikit takut untuk mendapatkan kepastian dari Kak Kafeel nya, drama ‘Tarik Ulur Cantik’ itupun Val lakukan.


Sebuah pertaruhan, antara kebahagiaan dan kesedihan dari drama ‘Tarik Ulur Cantik’ yang Val lakukan.


Takut, tapi Val tidak ada pilihan, karena selama bertahun-tahun rasanya Val sudah cukup bersabar atas kegigihannya mengejar Kak Kafeel tercintanya itu, termasuk membuktikan jika ia bersungguh-sungguh atas cintanya pada pria itu.


Bukan lelah atau bosan mengejar Kafeel, tapi Val hanya ingin memastikan, setidaknya sebuah kepastian perasaan dari Kafeel.


Apalagi setelah Abang Varen bilang agar Val jangan mengejar sesuatu yang tak pasti. Jadi Val semakin bertekad, untuk berani mengambil resiko.


jika drama ‘Tarik Ulur Cantik’ pada si Kak Kafeel tercintanya itu, berakhir dengan Val yang benar-benar harus menarik dirinya dari Kafeel dan tidak lagi mengejar-ngejar, serta bersikap bak ‘ulat bulu’.


Tapi pada akhirnya, drama ‘Tarik Ulur Cantik’ yang Val lakoni pada Kafeel menciptakan sebuah kebahagiaan yang membuncah untuk Val.


Hasil dari pertaruhannya, adalah kebahagiaan.


Kak Kafeel tercintanya, menyambut cinta Val.


Dan lebih hebatnya lagi – bagi Val, Kak Kafeel tercintanya itu bilang, untuk melupakan jika selama ini Val lah yang mengejarnya.


Dan Kak Kafeel tercintanya itu, meminta Val menganggap bahwa keadaan tersebut dibalik. Kak Kafeelnya lah yang selama ini mengejarnya.


Sungguh Val dibuat terbang karenanya.


Bahkan Val tidak sampai menyangka, jika Kak Kafeel tercintanya itu sampai mencium bibirnya, hanya agar Val tidak pergi menjauh darinya, agar Val percaya kesungguhan cintanya.


Yang dapat Val rasa dari perlakuan, tatapan dan dari kelembutan ciuman Kak Kafeel nya, yang bahkan sampai Val rasakan hingga dua kali. Dimana ciuman kedua Kak Kafeel tercintanya itu, terasa sekali diresapi oleh pria itu, sampai Val bisa merasakan getar kehangatan rasa, yang Kak Kafeelnya hantarkan melalui ciumannya itu di hati Val.


‘Dahsyat sekali memang ilmu dari Momma!. Huh, kenapa tidak dari dulu-dulu saja aku diberitahu tentang ilmu ‘Tarik Ulur Cantik’ itu?. Mungkin aku sudah menikah dengan Kak Kafeel sekarang...’


Val membatin. Sedikit berkesah. Namun kemudian ia tersenyum itu.


‘Ah tidak apa-apa ..... lebih baik terlambat dan tetap mendapatkan Kak Kafeel! Aku akan menghubungi Momma setelah mandi nanti!’



Beberapa saat kemudian ...


“Kok nomor Momma tumben sekali tidak aktif ya?”


Val yang telah selesai membersihkan dirinya itu, tak serta merta berpakaian setelah ia keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Tetapi ia langsung meraih tas yang tadi ia gunakan guna mengambil ponselnya untuk segera menelepon Momma.


‘Apa Momma mematikan ponsel karena sedang berduaan dengan Poppa ya?..’


Val menggumam dan membatin, bertanya-tanya sendiri, karena sudah beberapa kali menghubungi nomor salah satu Mom-nya itu, namun nomor yang bersangkutan nampaknya sedang tidak aktif.


Berada di luar jangkauan, lebih tepatnya.


Mungkin Momma sedang diajak Poppa berkeliling alam semesta?. Setelah dunia telah mereka kelilingi, kecuali daerah terpencil mungkin? – yang tidak ada dalam peta, dan juga daerah konflik yang tidak mungkin dikunjungi. Kecuali Momma mau berkeliling naik tank perang.


Dengan tidak bergeser dari tempatnya di sisi ranjang, Val yang masih memakai bathrobe pendek di tubuh, serta handuk di kepalanya itu mencoba kembali menghubungi nomor Momma.


‘Iya nih. Pasti Momma sedang berduaan sama Poppa makanya ponsel Momma sulit dihubungi.’ Val bermonolog lagi dalam hatinya. ‘Sesibuk apapun Momma, kecuali Poppa yang memang menyuruh Momma, atau Poppa sendiri yang me-non-aktif-kan ponsel Momma, dia tidak akan mematikan ponselnya ..’


Val mengerucutkan bibirnya, setelah tetap tidak berhasil menghubungi nomor Momma untuk yang kesekian kalinya. Padahal Val sedang tak sabar untuk segera memberitahu dan bercerita tentang kesuksesan jurus ‘Tarik Ulur Cantik’ yang disarankan oleh Momma, berikut kelas pendalaman akting dan ekspresi wajah.


“Aaaahh .. padahal aku ingin sekali cepat-cepat bercerita pada Momma dan berterima kasih padanya!”


Val berkesah dalam gumaman.


“Aku sepertinya harus membelikan hadiah untuk Momma.”


Val mengerucutkan bibirnya, sambil meletakkan ponsel dibawah dagunya seraya berpikir.


“Tapi hadiah apa ya, yang akan aku belikan untuk Momma? .. Tas? .. ah Momma bukan kolektor tas macam Gamma .. kalau aku belikan Momma mobil formula one, bisa bergoyang macam terkena gempa tabunganku ..”


Val masih duduk anteng disisi ranjangnya.


‘Heeemm .. apa ya? ..’


Sekaligus membatin lagi dan memikirkan hadiah untuk Momma.


‘Apa aku tanya pada yang lain saja deh, sekaligus aku mengumumkan soal aku dan Kak Kafeel.’


Val kembali senyum-senyum sendiri.


Tok .. Tok ..


“Val ..”


Suara ketukan dan panggilan seseorang dari luar kamar Val terdengar bersamaan.


“Iyaaa!” sahut Val. “Masuk saja Kak Via! ..”



“Kenapa Kak Vi ----“


Dua suara berucap bersamaan, kala pintu kamar Val terbuka, dan Val menoleh dari tempatnya duduk saat ini.


Dimana yang satu langsung tersenyum dengan cantiknya lalu menyapa,


“Eh, Kak Kafeel!” ucap Val sumringah. “Val kira Kak Via!” ucap Val lagi.


Sementara Val tersenyum sumringah, yang satunya lagi terpaku di dekat pintu.


Bagaimana tidak terpaku jika saat membuka pintu, orang yang adalah Kafeel dan bukan Via itu disuguhi sebuah pemandangan yang membuat jantung Kafeel kebat-kebit, lalu pengen celingukan, terus tutup pintu kamar yang knob-nya masih ia genggam itu rapat-rapat, jangan lupa dikunci.


“U-m itu, Via, mau melihat Gadis dan Putra dulu katanya.”


Kafeel sedikit tergugu.


‘Tuhan, aku mencintai gadis ini, tapi saat ini, tolong jangan buat dia mendekat padaku! Biarkan Val tetap saja di tempatnya, dan aku tetap ditempatku. Aamiin.’


Batin Kafeel berdoa, karena kekuatan iman dan kenekatannya sedang diuji saat ini. Karena dedek Val yang andukan.


‘Kalau gue tiba-tiba pergi, nanti Val salah paham lagi.’


Kafeel sedikit menjadi serba salah.


Entah sadar atau tidak jika tubuhnya hanya masih berbalut bathrobe super pendek, Val yang sumringah melihat Kafeel menyusul dirinya ke dalam kamar pribadinya itu, dengan bersemangat bangkit dari duduknya.


‘Ah dia pakai berdiri, lagi!’


Sementara Kafeel menggerutu dalam hatinya.


‘Tong, lo jangan ikutan berdiri juga!’


Kafeel memberikan peringatan pada sebuah benda mati di tubuhnya, yang bisa tiba-tiba hidup jika Val mendekatinya saat ini.


“Sini Kak!” undang Val dari tempatnya berdiri, pada Kafeel untuk lebih masuk ke kamarnya.


“U-m, aku disini aja...”


Kafeel memberikan penolakan dengan halus.


“Iih, sini masuk, tidak apa-apa kok Kaak, jangan sungkan.”

__ADS_1


‘Tuhan, biarkan dia disana. Jangan gerakkan lagi Val dari tempatnya.’


Kafeel kembali berdoa dalam hatinya.


‘Ish! Apa Val ini ga sadar dengan penampilannya sekarang?!’


Kafeel kembali bermonolog di dalam hatinya. Entah merutuk atau menggerutu, yang jelas Kafeel sebal, namun juga berdebar-debar.


“A-ku disini aja, Val. Mau pamit pulang juga. Val cantik pasti cape kan?”


Kafeel berlagak melirik jam tangannya.


“Udah sore juga soalnya, dan---“ Kafeel terkesiap, dimana ia yang sengaja berlama-lama menatap jam tangannya itu terkesiap saat melihat sepasang kaki mulus - dengan menggunakan sepasang slipper sebagai alasnya, yang mana Kafeel dapat pastikan kalau pemiliknya sudah berada di hadapannya saat ini.


Dan memang betul sekali pemikiran Kafeel itu, karena pemilik sepasang kaki mulus itu sudah berada didekatnya lalu bersuara, “Ish Kak Kafeel nih, jangan bicara diluar, ayo masuk!”


Dimana Val, yang merupakan si pemilik kaki indah sampai setengah paha itu meraih lengan Kafeel yang sedang memegang knob pintu lalu menariknya.


Tidak kasar, namun membuat Kafeel oleng dua kali.


Oleng yang pertama adalah atas keseimbangan tubuhnya yang sedang pura-pura melihat jam di pergelangan tangannya, namun ditarik Val dengan tiba-tiba hingga ia hampir kehilangan keseimbangan dari posisi berdirinya di ambang pintu kamar Val.


Dan oleng yang kedua adalah karena pemandangan yang tersaji lebih nyata dari yang tadi ia lihat saat Val masih berada di dekat ranjang kekasih kecilnya itu. Apa yang membuat jantung Kafeel kebat-kebit yang membuat rasa-rasa yang gimanaa gitu mulai menjalar di dirinya, sudah membawanya masuk dengan paksa, dengan membuat Kafeel mengekori, bak kerbau sedang dicucuk hidungnya.


Pemandangan indah sekaligus meresahkan tersaji di mata Kafeel, meskipun dari belakang saja.


Yang membuat Kafeel jadi ga santuy, dan tangannya terasa gatal ingin merengkuh itu bongkahan yang tak besar, namun terlalu padat menantang untuk ukuran bocil berusia hampir delapan belas tahun.


Selain membuat otak Kafeel jadi travelling akibat bathrobe yang dikenakan Val, dimana otak ngeres Kafeel menduga seribu persen, bahwasanya dibalik bathrobe yang dikenakan Val saat ini itu, sungguhlah tidak ada sehelai benang-pun dibaliknya yang menempel di tubuh Val.


Sungguh meresahkan bagi Kafeel. Hingga lagi-lagi Kafeel mengeluarkan peringatan pada makhluk kasat mata di luar, karena tersembunyi di balik celana.


‘Wahai tongkat starwars, gue larang lo untuk memanjang!’



Mau tidak mau, Kafeel akhirnya mengikuti langkah Val yang membawanya untuk duduk di dalam sofa yang ada di dalam kamar Val yang didominasi dengan warna putih itu.


“Kak Kafeel mau minum apa? ...” tanya Val setelah Kafeel duduk disofa, dimana kekasih setengah om-om Val itu sengaja menundukkan kepalanya. “Ish Kak Kafeel nih, mulai deh!”


Val  lalu menggerutu seraya mencebik.


“Kak!” panggil Val seraya berseru sambil memukul pelan pundak Kafeel yang sedang tertunduk sementara Val berdiri di dekat Kafeel.


Dimana Val mengira jika Kak Kafeel tercintanya itu sedang melamun lagi seperti sebelum-sebelumnya dihari ini.


Makanya Val sampai berseru sambil menepuk pundak Kafeel.


“Eh, apa???” Kafeel yang terkesiap. Dan dengan spontan dirinya mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Val. ‘Fokus ke mukanya Val aja Ka, jangan turunin mata lo dari sana!’


Lalu Kafeel membatin.


“Kak Kafeel sudah disediakan minum dibawah? ...”


Val bertanya dengan santai.


Sementara kegugupan bercampur keresahan melanda Kafeel akibat penampilan Val.


Memang sih, bathrobe yang Val kenakan itu rapat membalut setengah tubuh Val. Tertutup rapat juga bagian atasnya, bahkan kepala Val juga masih terbalut handuk.


Tapi kan itu bathrobe pendek adanya?.... sampai setengah paha Val itu terekspose.


Kafeel yang baru ini melihat paha mulus Val kan jadi gagal fokus.


Ditambah bayangan apa yang ada diatas paha Val dan tertutup dengan bagian bawah bathrobe itu, membuat Kafeel penasaran sampai mengakibatkan jantungnya berdegup tak karuan.


Berharap punya kenekatan, karena meski bathrobe yang Val kenakan itu rapat membalut bagian atas tubuh Val, hingga dua asetnya tak sampai terlihat, tetap saja membuat Kafeel dug-dugan.


Rapat memang itu bathrobe yang Val kenakan, tap saking rapatnya, hingga ada yang nampak begitu menonjol di bawah tulang selangka Val.


Tak besar, namun bulat macam bakpao. Bikin Kafeel pengen gigit aja itu bakpao daging dalam kemasan kain berbahan handuk.


“Kak Kafeel sudah disediakan minum dibawah? ...” tanya Val yang santai berdiri di dekat Kafeel.


Kafeel mengangguk.


“Sudah.”


“Minum apa? ....”


“Susu ....”


♥♥♥


To be continue...


Noted: Abis baca jangan langsung kabur juga yaaaaa....

__ADS_1


Tanda jempol diharapkan untuk kalian senggol.


__ADS_2