HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
SESAK


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris,


“Kembalikan hati gue Aryaa!...“


Mika seolah mulai hilang kewarasannya sejak beberapa jam yang lalu. Dimana berita sebuah kecelakaan pesawat yang mengerikan ditayangkan di televisi. Dan yang lebih mengerikannya lagi bagi Mika, nama Arya ada di dalam daftar penumpang pesawat yang nahas tersebut.


Namun setelah tadi Mika histeris lagi walau tidak teramat sangat, kini Mika telah tertidur lelap di atas ranjangnya.


Dibuat tertidur lebih tepatnya oleh para orang tua dengan sepengetahuan para tetua untuk pertimbangan kebaikan psikis Mika saat ini yang sepertinya sedang terguncang karena berita soal Arya yang diberitakan tewas itu.


“So sorry ( Maaf sekali ), May... jika kami harus menenangkanmu dengan cara seperti ini,” kiranya seperti itu lirih para orang tua serta tetua, berikut saudara-saudari Mika yang berada bersama satu dara itu di mansion utama mereka yang berada di London.


♥♥♥


Tega tidak tega, memberikan obat penenang dalam dosis kecil pada Mika dilakukan oleh para anggota keluarganya.


Setidaknya, fokus mereka untuk mencari tahu tentang kabar Arya tidak terpecah oleh perhatian mereka yang prihatin dengan kondisi psikis Mika saat ini.


Disaat Mika dibuat untuk tertidur selama beberapa jam ke depan, sementara para anggota keluarga---The Dads utamanya, berikut dua Uncle yang datang ke mansion The Adjieran Smith yang berada di London itu dan dibantu oleh para pewaris serta tiga anak dari dua Uncle tersebut dapat fokus untuk memikirkan ragam hal untuk berbagai macam kemungkinan yang terjadi.


Terlebih, jika kemungkinan itu adalah satu hal yang sedang amat mereka khawatirkan sekaligus takutkan akan terjadi.


Yakni Arya benar-benar tewas.


♥♥♥


“Rescue team dari Saint Vincent sudah mencapai lokasi dan sudah mengkonfirmasikan jika pesawat yang di tumpangi Arya memang benar terbakar secara keseluruhan. Dan sekarang mereka sudah mulai mengevakuasi para korban,” Poppa yang bicara.


“Ya Tuhan...”


“Oh Lord...”


Lirihan langsung terdengar di tempat Poppa berkumpul bersama beberapa orang tanpa keberadaan Mika.


“Semoga saja Kak Nathan dan Kak Sony serta Uncle Rico dan Aunt Shireen cepat sampai di Saint Vincent agar kita segera mendapat kepastian soal Kak Arya---“


“Ya Allah, semoga Engkau memberikan sedikit saja mukjizat agar kami tidak bersedih hati,” gumam Momma yang menitikkan sebulir air mata, dan langsung diusap lembut oleh Poppa.


Kemudian tubuh Momma direngkuh hangat oleh Poppa yang juga sudah berembun matanya, sama seperti mereka yang sedang bersama orang tua kandung Drea dan Rery itu. “Selalu ada kemungkinan, sampai sesuatu yang berkenaan dengan Arya benar-benar ditemukan---“


“Andrew benar.”


Gappa menukas tenang ucapan Poppa, meski wajah tuanya juga diselimuti kekhawatiran.


“Just think positive,” tambah Gappa, lalu anggukan samar nampak dari mereka semua yang sedang bersama Gappa.


♥♥♥


“Aku akan melihat May.”


Rery berujar setelah beberapa jam ia berkumpul dengan yang lain disaat Mika dibuat terlelap, dengan harapan jika Mika akan lebih tenang saat ia terbangun nanti.


“Siapa tahu dia sudah bangun—“


“Kami juga akan ke kamar Mika,” tukas Ann mewakili Val, Felix, Elena dan Melly.


“Sekaligus minta maid untuk membawakan makanan untuk kalian dan juga Mika.”


“Iya, Oma—“


“One thing ( Satu hal ), Kiddos,” tukas Daddy R.


“Iya, Dad?...”


“Untuk apa yang dikatakan Poppa tadi, jangan kalian ceritakan dulu pada Mika, hem?”


“Aku sudah mendengarnya, Dad—“


♥♥♥


“Iya, Aro... Iya Dad... Iya sudah Isha...”


Mika berbicara di ponsel milik Val yang sedang tertempel di telinganya, dengan mereka yang berada di kediaman utama Jakarta.


“Tidak, tidak perlu... Kalian tidak usah ke sini. Aku bukan menjadi seorang janda juga...” Mika terkekeh getir. “Aku...”


“May... Istirahat ya... Sama berdoa terus. Kan Allah Maha Kuasa, May?—“


“Iya, Aro. Aku tahu. Tapi aku tidak mau terlalu jauh berharap... Nanti aku kecewa lagi... Nanti—nanti...”


“Ssshh.”


Val menghapus air mata Mika yang kembali mulai terisak dan terbata dalam berbicara.


“Saling berkabar ya, Ro?...”


Rery mengambil alih ponsel Val dari tangan Mika lalu ia yang berbicara dengan Aro yang mewakili para anggota keluarga lain di kediaman Jakarta setelah mereka berbicara dan memberi dukungan dan mencoba menghibur Mika.


“Aku antar kamu kembali ke kamar ya, May?—“


“Engga, Val. Aku di sini aja,” tukas Mika seraya ia menggeleng.

__ADS_1


Val pun mengangguk mengiyakan ucapan Mika barusan, yang kemudian menghapusi jejak air matanya sendiri.


“Better you eat now ( Sebaiknya kamu makan dulu ya, May? )—“


“Aku tidak lapar, Mama,” tukas Mika.


“Tapi kamu tetap harus makan, May.”


Ann menimpali.


“Ann benar, Sayang...”


Momma ikut membujuk Mika untuk mengisi perutnya yang memang Mika belum makan sama sekali sejak waktu makan malam, dan kini waktu bahkan sudah hampir subuh di London.


Dan selama itu, para anggota keluarga The Adjieran Smith yang berada di mansion berikut kerabat mereka belum ada yang benar-benar mengistirahatkan diri mereka kecuali para tetua yang memang dipaksa untuk beristirahat.


“Perut kamu sudah sangat kosong, dan itu ga baik buat kesehatan kamu—“


“Aku memang sedang tidak baik-baik saja Momma—“


“Kemarilah,” Poppa merentangkan satu tangannya pada Mika, mengkode agar Mika menghampirinya yang duduk bersebelahan dengan Dad R.


“Hush now don’t you cry ( Diamlah, jangan kau menangis )...” Dimana Dad R melantunkan sebuah lagu yang menenangkan untuk Mika yang dibuat Poppa dan Dad R berbaring diantara mereka, dengan kepala Mika yang berada di salah satu paha Dad R—sementara Poppa membuat kaki Mika tertopang di atas kedua pahanya.


Dalam getir yang Mika rasa, setidaknya perhatian para orang tua terutama para Dad yang akan menjadi sangat hangat dan manis dirasa cukup menenangkan untuknya saat ini. “Tapi jika sesak masih ada di dalam hatimu, luapkanlah... kami punya banyak waktu untuk menunggu kamu selesai menangis,” tutur Poppa. “Jika butuh dada, dadaku rasanya yang paling nyaman untuk kau sandari.”


Ucapan Poppa membuat Mika menarik sudut bibirnya, sambil menggenggam erat tangan Poppa yang sudah lebih dulu menggenggamnya. “Terima kasih Poppa,” ucap Mika. “Terima kasih semua—“


“Tidak perlu berterima kasih pada keluargamu sendiri. Terlebih saat ini.”


“Poppa benar, May—“


“Jika kamu mau berterima kasih pun, cukup dengan kamu mau mengisi perut kamu sekarang agar kekhawatiran kami tidak berlipat ganda.”


“Iya, Papa...”


“Mau makan di sini atau di ruang makan?—“


“Di sini aja jika boleh—“


“Ya sudah, Mom akan mengambilkan makanan untuk kamu—“


“Coklat panas saja ya, Mom?—“


“Tidak. Kau harus makan dengan benar.”


“Iya udah—“


“Kalau tanganmu malas, kami yang akan bergantian menyuapimu.”


♥♥♥


“Kita beribadah dulu?”


Momma berujar setelah Mika rampung makan, walau sedikit.


Dimana ajakan Momma itu diiyakan oleh mereka yang seiman dengannya.


Dan yang tak seiman pun akan beribadah dengan cara mereka, namun juga memiliki tujuan yang sama.


Keajaiban Tuhan untuk nasib Arya.


♥♥♥


“Uncle Rico dan Aunt Shireen serta Kak Sony bagaimana?... mereka... pasti sangat terpukul juga...”


Mika bertanya selepas ia dan para anggota keluarga yang seiman dengannya itu telah selesai melakukan kewajiban mereka bersama.


“Not only them, but our heart sank into the deepest ocean also because the bad news ( Tidak hanya mereka, tapi kami juga sama terpukul karena berita buruk itu )...”


Gappa yang menjawab pertanyaan Mika barusan.


Mika menggerakkan kepalanya. “Mereka... bertolak ke Saint Vincent ya?—“


“Iya—“


“Hemm—“


Mika kembali menggerakkan kepalanya samar.


“Aku ingin menghubungi mereka... tapi... aku takutnya bukan bicara malah menangis...”


“It’s okay, Baby—“


“Keluarga kita yang berada di Kediaman tahu persis bagaimana kondisi kamu sekarang. Dan pastilah mereka menceritakan kondisi kamu saat ini lewat Kak Tan-Tan yang pergi bersama Uncle Rico, Aunt Shireen dan Kak Sony.”


“Iya, Sayang... malah rasanya Rico dan Cello serta Sony juga memikirkan keadaan kamu sekarang...” tutur Gamma, menimpali ucapan Rery barusan.


Mika menghela nafas dan menarik sudut bibirnya getir.


“Aku, kembali ke kamar ya?“ ucap Mika kemudian “Kepalaku sedikit pusing.”


“Iya, May—“


“Take a rest then ( Beristirahatlah kalau begitu )—“

__ADS_1


“Kalian juga sebaiknya beristirahat ya?” tukas Mika.


“Tidak usah memikirkan kami, May—“


“Bagaimana aku tidak bisa memikirkan kalian?...” tukas Mika lagi pada ucapan Rery barusan. “Jika kalian sudah sangat memikirkan dan khawatir padaku saat ini.”


Mika berucap tulus.


“Seperti kalian yang tidak ingin aku jatuh sakit, aku pun sama...” tambah Mika. “Aku tidak ingin diantara kalian ada yang sakit, karena saat ini... jika kenyataan yang sangat buruk menurutku itu terjadi—“


“May...” Val merengkuh Mika yang suaranya sudah mulai melirih tercekat, dengan mata Mika yang sudah berkaca-kaca.


“Hanya kalian kan yang aku punya sekarang?...” sambung Mika, dengan suaranya yang sedikit bergetar. “On the way jadi jones nih aku.”


Mika terkekeh pilu, mereka yang mendengar ucapan dan melihat sikap Mika itu pun hanya mampu mengelus dada selain berkesah sendu dalam hati mereka masing-masing.


♥♥♥


Hampa, rasanya hati Mika sekarang.


“Seharusnya lo lebih sabar buat balik ke sini, Ar...”


Menggumam seolah sedang berbicara lagi dengan Arya setelah ia berada sendirian di kamarnya.


“Kalau lo sabar, kita bisa ketemu kan, besok?...” gumam Mika lagi sambil tersenyum getir. “Makanya, jangan mikirin gue terus...”


Mika mengusap sebulir air matanya yang menetes tanpa dapat di tahan sambil ia menggumam dan memandangi lagi foto Arya dalam galeri ponselnya.


“Otak lo jadi ga sinkron, makanya lo jadi gegabah begini pada akhirnya. Kan... gue sedih jadinya, Ar... banget...” Mika mulai terisak. “Dateng ya Ar?... pulang... tapi pulangnya ke sini... jangan ke Tuhan... pulang ke gue, Ar...”


Terus saja Mika bicara sendiri. Tentang Arya yang entah bagaimana nasibnya—meski momok rasa pedih akan bayang-bayang dimana nanti sebuah kenyataan menyakitkan tentang Arya akan Mika hadapi, Namun tetap saja, Mika berharap sang pacar recehnya itu akan datang dengan utuh dan nyata ke hadapannya.


Berharap, akan suatu keajaiban dari hati Mika yang menolak untuk kehilangan Arya yang pergi dari dunia.


‘Semoga dan semoga’, itu saja yang terus hati Mika katakan untuk sebuah kemungkinan yang tidak menyakitkan dan menambah kesedihan.


Dan tentang Arya, kini kembali memenuhi isi kepala Mika. ‘Apa lo mau bales gue yang dulu ngatain lo Sadboy? Makanya sekarang lo mau buat gue jadi Sadgirl? Hem, Arya Narendra?...’


Mika menggumam, sambil lagi mengusap wajah Arya yang terpampang pada sebuah foto di galeri ponselnya dengan tersenyum miris.


Can’t wait to meet her in person again. Love you, Neng Judes ( Tidak sabar untuk ketemu lagi secara langsung dengan dia. Cinta kamu, Neng judes ). Tunggu Kakanda datang.


‘Kapan?’


Mika bertanya, kala ia melihat postingan terakhir Arya di laman sosmednya.


Postingan tulisan yang menggambarkan betapa bersemangatnya Arya untuk kembali ke London, dengan foto close-up Mika di atas captionnya.


Foto Mika berikut caption romantis itu Arya unggah saat sesudah si eks Sadboy itu menghubungi Mika sepertinya, jika melihat tanda waktu kapan foto Mika dengan caption tersebut Arya unggah di laman sosmed pribadinya yang Arya tag ke Mika juga.


‘Kapan lo dateng ke hadapan gue, Ar?...’


Mika membatin lagi.


‘Harusnya sekarang lo sudah ada di London—“


♥♥♥


Lama Mika termangu menatap foto Arya di ponselnya.


Hingga kemudian Mika beranjak dari duduknya.


Berjalan lunglai ke arah satu set meja dan kursi yang terdapat seperangkat komputer berikut printer di atas mejanya.


♥♥♥


Mika menyalakan perangkat komputer dalam kamar pribadinya itu, lalu menekan tombol power printer juga dimana setelahnya Mika membuka salah satu laci yang tersambung pada sebuah meja yang mirip seperti meja kerja itu.


Kemudian mengambil satu pak kertas foto diantara beberapa jenis kertas yang memang telah disediakan sebelumnya, sama, seperti semua kamar milik para penghuni utama The Great Mansion of The Adjieran Smith dan para penghuni utama di Kediaman Utama Jakarta.


Yang mana kesemua kamar milik para anggota keluarga tersebut memang dilengkapi set komputer lengkap di tiap-tiapnya, berikut ragam kertas yang kiranya dibutuhkan untuk kepentingan mencetak segala jenis dokumen—ataupun foto. Serta ragam hal lain yang kiranya bersangkutan dengan set komputer tersebut.


♥♥♥


Dengan telaten Mika menyusun beberapa lembar kertas foto ke tempat kertas yang tersedia pada sebuah printer digital yang tersedia di kamar pribadinya dalam The Great Mansion keluarganya yang berada di London itu.


Lalu setelahnya Mika menyambungkan ponselnya dengan komputer hingga semua file dalam ponselnya terbaca di komputer yang kemudian Mika klik sebuah folder utama yang mencakup beberapa folder kecil berisikan foto-foto dan video.


‘Gue kangen, Ar...’


Mika membatin ketika satu foto telah berhasil dicetak dan langsung ia pegang foto tersebut.


"Belum sehari penuh padahal gue ga denger suara lo, atau lihat wajah lo VC gue..."


Lalu menggumam sembari terkekeh getir, dengan sesak dalam dadanya.


Gue akan berjuang supaya bisa dapet balasan kata ‘I Love You Too’ dari lo ...


I love you, judesgirl.


‘I love you too, Ar ...’ bisik hati Mika kala kepalanya memutar sepenggal Arya yang mengatakan kalimat romantis padanya. “Pulang makanya, dateng sini ke hadapan gue ... Bilang ‘I love you’ lagi langsung ke gue, dan akan langsung gue jawab tanpa ragu, Ar ... 'I love you too, Arya Narendra'.”


Mika, luruh lagi dalam tangisnya.


♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue..........


__ADS_2