HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
UNTUK SEBUAH KERINDUAN


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Benar, Daddy.. Val.. boleh ke Jakarta saat ini juga?..”


“Apa aku pernah mengingkari ucapanku sendiri, hem?---“


“Terima kasih, Daddyy..”


“Anything for you, Baby..”


🌷🌷🌷


“Duduklah dulu dan tenanglah, hem? Kami akan menghubungi bandara dan pilot untuk mempersiapkan penerbangan sekarang.”


“Iya, Poppa.”


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris ...


“Aku saja dan Ara yang menemani Val ke Jakarta.” Dad R yang berkata pada mereka yang masih bersamanya, ketika Val pamit untuk berganti pakaian.


“Terserah padamu saja. Aku dan Lucca memang tidak bisa menemani karena kami kan harus ke Rusia besok .. sudah terlanjur janji pada Vla dan anak – anak di sana yang ingin bertemu kita bertiga dan tiga daddy lainnya dan kita sudah menjadwalkan itu sejak lama.”


Poppa yang kemudian bicara, menanggapi ucapan Dad R sebelumnya.


“Sampaikan maafku pada Vla dan anak – anak. Setelah urusan Val dengan Kaka selesai, aku akan menjadwalkan ulang kunjunganku ke sana.”


Poppa dan Papa Lucca mengangguk.


“For---“


“Maksud Daddy dengan ‘setelah urusan Val dan Kak Kafeel selesai’ itu apa?..”


Ucapan Papa Lucca terputus karena sambaran perkataan dari Val yang mengapa cepat sekali berganti pakaiannya.


“Bukan apa – apa, Val---“


“Kalau soal Val yang harus tahu diri karena Kak Kafeel sudah menikah, jangan khawatir. Val juga ingat soal itu---“


“Begini---“


“Saat ini Val hanya ingin bertemu dengan Kak Kafeel. Jangan katakan kalian berubah pikiran untuk memberikan ijin Val menemuinya..”


“Ya sudah iya, Val. Kamu akan menemui Kak Kafeel. Nih Dad R sama Mom Peri mau siap-siap juga. Iya kan?..”


Momma mengambil alih keadaan. Dimana Momma menatap para orang tua lainnya agar lebih baik jangan menanggapi Val yang terlihat menjadi agak gusar.


Dan lima orang tua yang diberi kode tatapan oleh Momma itu pun segera paham maksud Momma. Lalu ucapan Momma pada Val, mereka iyakan, dimana Momma kemudian beralih pada Val.


“Katanya ganti baju? Kok ini perasaan masih pake baju kamu yang tadi?---“


“Iya ini kan Val sudah melapisinya dengan outer Momma.”


“Ish, jangan dong. ini kan baju rumah?  Lagian kan udah seharian kamu pake walau cuma tidur aja?---“


“Iya sih. Val hanya takut terlalu lama. Soalnya tadi Val dengar Poppa berbicara dengan Uncle Khai dan jika tidak salah kalau Poppa memastikan jika jet yang akan mengantar Val ke Jakarta sudah siap---“


“Itu jet berangkatnya kan juga nunggu kamu, Val.”


“Iya juga ya?---“


“Dah ganti bajunya sana, ya?”


“Ya sudah kalau begitu, Val berganti pakaian lagi dulu ya?..”


🌷🌷🌷


Bandara pribadi The Adjieran Smith, Inggris ...


Val berikut Dad R dan Mommy Ara, kini sudah berada di dalam salah satu jet pribadi mereka. “Val ingin duduk di sana, boleh Dad, Mom?.. untuk sedikit melepas rindu Val sebelum bertemu Kak Kafeel, karena itu kan tempat duduk Val dengan Kak Kafeel biasanya ya, jika Val bepergian dengan Kak Kafeel menggunakan jet ini?”


“Tentu, Baby. Silahkan saja kamu duduk dimanapun yang kamu mau. Di area flight deck (kokpit) juga boleh.. asal jangan kamu meminta untuk duduk di sayap pesawat,” jawab Dad R pada Val yang meminta ijin padanya dan Mommy Ara itu, sambil Val menunjuk ke salah satu sudut bagian Kabin.


Membuat Val jadi terkekeh kecil setelah mendengar ucapan Dad R itu, dengan Val yang langsung berkomentar, “Hihi, Daddy bisa saja.”


Dad R dan Mommy Ara lalu mengulum senyum mereka.


“Kalau begitu, Val ke sana sekarang, ya?..“ pamit Val sekali lagi pada Dad R dan Mommy Ara untuk persetujuan keduanya.


“Iya, Baby..“


“Silahkan, Sayang..”


Dad R dan Mommy Ara pun mempersilahkan Val dengan kelembutan.


Karena Val yang sekarang, masih sangat dihati-hatikan kelabilan psikisnya.


🌷🌷🌷


Val sudah duduk di sebuah kursi pada satu sudut kabin jet pribadi keluarganya yang ia tumpangi untuk sampai di Jakarta.


Kursi yang Val ingat, jika kursi tersebut adalah spot favoritnya dan Kafeel jika sedang bepergian bersama dengan jet pribadi yang sedang Val tumpangi ini.


Dan spot yang salah satu kursinya telah Val duduki itu, membuat Val mengingat serangkaian kenangannya dan Kafeel.


🌷🌷🌷


Wubiina ma'aad, lawehnaa ba'aad


“Kak Kafeel mendengarkan lagu ini?---“


“Iya, Tuan Putri..”


“Ini lagu Arabic kan ya?---“


“Pintar sekali Tuan Putrinya AA Kafeel!”

__ADS_1


“Memang Val pintar dari lahir!”


“Pedenyaa.. tapi gemesin. Cium dulu sekali?”


-


“Lagu ini syahdu sekali.”


“Memang.”


“Kak Kafeel paham artinya?”


“Paham dong.”


“Apa arti lagu ini?---“


“Kerinduan karena berjauhan dari kekasih dan menanti perjumpaan. Gambaran perasaan Kakak kalau Val sedang di London dan Kakak di Jakarta, meski ga sampai berbulan-bulan kita ga jumpa.”


“Manisnyaa..”


“Manisan kamu.”


-


“By the way apa judul lagu ini? Val ingin unduh dan mendengarkannya juga saat Val sangat merindukan Kak Kafeel..”


“Qusad Einy.”


“Coba Kakak yang nyanyikan untuk Val?”


“Wubiina ma'aad, lawehnaa ba'aad.. Akiid raaja' wilaw baynii we baynao blaad..”


-


Kita punya janji, bahkan saat kita berjauhan.


Aku pasti kembali, walaupun kita terpisah oleh beberapa negara.


‘Kita hanya terpisah di dua negara. Eh tiga, dengan Italia saat Val masih koma dan tidak mengingat Kakak sama sekali. Tak hanya negara, kita terpisah oleh keadaan. But now, Val tidak akan menyiakan waktu.. Val will come to you, Kak Kafeel. Karena rindu Val pada Kakak saat ini sudah teramat menggebu, tak dapat lagi tertampung dalam kalbu.’


Val bermonolog dalam hatinya, sambil ia mendengarkan lagu yang sebelumnya ia unduh sebelum jet yang membawanya bertolak dari London ke Jakarta lepas landas.


Sebuah lagu dari beberapa lagu favorit Kafeel yang Val sudah mulai ingat.


Tak hanya lagu, tapi semua hal tentang Kak Kafeelnya, sedang perlahan kembali ke ingatan Val.


Membuat rindu Val kian menggunung kepada Kafeel.


Dan Val yang nampak sedang menikmati waktunya di salah satu kursi pesawat yang masih tertangkap dalam pandangan Dad R dan Mommy Ara, membuat kedua orang tua kandung Val itu tersenyum melihat Val yang seringkali mengulum senyumnya sambil memandang ke arah luar jendela jet.


Dad R dan Mommy Ara tak mengusik keasyikan Val, karena wajah Val nampak berseri. Walau ada sedikit kekhawatiran yang mengganggu pikiran dan perasaan kedua orang tua kandung Val itu perihal sesuatu tentang Kafeel yang mereka ingat, saat nanti mereka berdua dan Val sampai di Jakarta,


Karena setahu Dad R dan Mommy Ara, Kafeel sedang tidak berada di Jakarta. Yang ingin mereka sampaikan pada Val, namun urung karena Val nampak bahagia. Nampak juga asyik senyum-senyum sendiri di tempatnya. Dan Dad R serta Mommy Ara tak ingin mengganggu keasyikan Val itu. Selain pertimbangan, kalau Val tadi sempat gusar dan gelisah saat masih di mansion.


Takutnya kalau lebih panjang gusar dan gelisah Val, malah akan membuat satu incess yang masih diperhatikan betul kondisinya baik tubuh dan psikis—menjadi drop. Karena sesekali Val bisa menjadi  lemah kondisinya yang masih terus dalam tahap pengawasan orang-orang top keluarga The Adjieran Smith yang paham tentang medis.


Jadi dibiarkan saja Val menikmati momennya yang mungkin sedang terbayang sesuatu dalam pikirannya dengan wajah yang berseri, oleh Dad R dan Mommy Ara. Dan keduanya tahu betul, jika wajah berseri Val berikut senyumannya yang sering terlihat di dalam jet—adalah karena Kafeel, pria pemilik hati dan rindu Val diluar pria-pria dalam klan The Adjieran Smith yang Val cintai dan sayangi dengan bentuk cinta dan sayang yang berbeda.


Namun sama tulusnya perasaan Val kepada pria-pria dalam keluarganya itu, setulus hati Val mencintai Kafeel. Dimana ketulusan itu tak berkurang, meski sempat Val melupakan pria tercintanya itu.


Dari semua ingatan yang perlahan kembali ke otak Val, kegilaan yang pernah ia lakukan itu—adalah satu hal yang ingin ia hapus dari ingatan.


Karena Val sadar, jika itu sebuah kebodohan.


🌷🌷🌷


“Wow! Sekarang kita punya taman tulip merah di sini?”


“Di KUJ juga ada, tapi bukan taman. Melainkan rumah hijau The Grannies yang sekarang menjadi rumah tulip..”


“Kami membuatnya, saat kami berada di titik terendah kami ketika kami dibayangi kehilangan kamu untuk selamanya, Val.”


“The Dads dan Abang yang biasanya terlihat gagah dan kuat saja jadi lemah Val. Air mata mereka terlalu sering tumpah sebelum kamu sadarkan diri.”


“Kalau kamu melihat bagaimana The Dads, Abang, Kak Tan – Tan terisak sesak karena kamu yang kami takutkan pergi dan tidak pernah tertawa bersama kami lagi, hati kamu pasti seperti kami.. sedih, sesak dan sakit melihat The Dads, Abang dan Kak Tan – Tan selemah itu---“


🌷🌷🌷


‘Maafkan Val ya semua.’ Val lalu melirih dalam hatinya, saat ingatan tentang apa yang pernah diucapkan beberapa saudara dan saudarinya itu terputar dalam kepalnya.


Karena Val telah ingat, bagaimana duka itu tercipta dalam keluarganya selama beberapa bulan ke belakang.


‘Val akan tebus kesalahan Val pada kalian yang sudah membuat kalian begitu terluka..’ Val bertekad kemudian. ‘Val tidak akan melakukan kebodohan itu lagi.’


🌷🌷🌷


‘Val tidak akan seputus asa itu lagi.. setelah Val bertemu dengan Kak Kafeel lalu memastikan bagaimana perasaan Kak Kafeel pada Val lalu andai Kak Kafeel mengatakan jika dia masih mencintai Val tanpa berkurang sedikitpun, Val akan memperjuangkan Kak Kafeel untuk Val meski akan terkesan tidak tahu malu nantinya.’


Val masih bermonolog dalam hatinya.


‘Kalau Kak Kafeel masih mencintai Val, Val akan menunggu sampai anak Kak Kafeel lahir lalu memintanya untuk menceraikan istrinya.’


Val lalu mengulum senyumnya.


‘Kak Kafeel pasti mau melakukan itu jika dia memang masih mencintai aku---‘


🌷🌷🌷


‘Tapi aku terkesan jahat sekali ya jika begitu?..’


Keraguan lalu muncul di dalam hati Val.


‘Tapi bagaimana?.. kalau aku dan Kak Kafeel memang masih mencintai satu sama lain meski Kak Kafeel sudah menikah sekarang?..’


Val lalu menghela nafasnya.


‘What will be will be lah. Lihat saja nanti bagaimana. Yang penting aku bertemu dulu dengan Kak Kafeel.’


Val mengulum senyumnya lagi.


‘Karena cinta tidak pernah gagal panen. Bahagia dan sedih itulah hasil permanen.’

__ADS_1


Asek dah.


🌷🌷🌷


Jakarta, Indonesia ...


Val, Dad R dan Mommy Ara telah sampai di sebuah bandara yang masih hitungan sewa untuk parkir jet pribadi mereka, karena kalau tidak salah tanahnya adalah milik negara, yang sedikit ribet kalau mau dibeli oleh The Adjieran Smith family.


Kalau pakai heli sih gampang parkirnya asal di Jakarta. Karena di tiap gedung perusahaan pribadi milik satu keluarga itu, memiliki helipad di tiap-tiap atapnya. KUJ pun punya landasan heli di salah satu areanya. Hanya saja landasan heli itu amat jarang dipergunakan fungsinya.


Terlalu show off kalau kata para anggota keluarga The Adjieran Smith, kalau naik heli dari KUJ. Belum ada hal yang terlalu mendesak juga untuk menggunakan heli dari KUJ. Jadi helipad di KUJ pun hampir tidak pernah dipergunakan oleh pemiliknya. Punya sih sebenarnya landasan jet pribadi, namun untuk jet ukuran kecil saja.


Tapi itupun adanya di hunian singgah mereka yang berada di luar Jakarta.


Dan karena jet yang dipergunakan oleh Val, Dad R dan Mommy Ara pergunakan untuk sampai ke Jakarta dari London sekarang ini adalah bukan jet yang berukuran kecil dan langsung Jakarta adalah tujuan mereka, jadi bandara tempat jet tersebut mendarat adalah bandara umum yang menyediakan fasilitas sewa hanggar untuk pemilik jet pribadi.


“Kita kembali ke kediaman dulu ya? Kamu istirahat dulu, sayang. Ini kan pertama kalinya kamu berada belasan jam dalam perjalanan selepas kamu tersadar dari koma, jadi kamu harus memperhatikan kondisi tubuh kamu dulu, Val.”


Lalu setelah Val, Dad R dan Mommy Ara sudah akan mencapai mobil yang akan mereka tumpangi dari bandara tersebut, Mommy Ara berkata pada Val yang langsung memberi sergahan. Yang kemudian ditimpali oleh Dad R, namun Val tetap kukuh pendirian.


Selain keras kepala.


“No, Mommy. Aku ingin segera bertemu dengan Kak Kafeel—“


“Tapi ini sudah larut malam, Baby—“


“Val tidak peduli Daddy..“


🌷🌷🌷


“Val ingin bertemu Kak Kafeel sekarang! Sebelum Val melupakan apa yang sudah Val ingat tentang Kak Kafeel! Sebelum Val jadi bodoh lagi! --- Daddy dan Mommy tidak tahu bagaimana rasanya jadi Val yang bodoh ini—Val ingin bertemu Kak Kafeel sekarang. Tidak peduli ini tengah malam—Val hanya ingin bertemu dengan Kak Kafeel dengan segera..“


Val yang mulai nampak gusar itu, perlahan menjadi begitu keras kepala. Memang sih, dulu-dulu kalau soal Kafeel Val seringnya keras kepala dan Dad R akan tidak segan memberikan ketegasan pada Val—namun sekarang Dad R tak kuasa berlaku ‘keras’ pada Val karena beberapa pertimbangan selain janjinya pada diri sendiri.


Jadi saat Val mulai terlihat kian gusar, Dad R tak punya pilihan selain mengiyakan saat Val berkata dengan setengah histeris, "Val hanya ingin bertemu dengan Kak Kafeel!"


Dengan tubuh Val yang terlihat agak gemetar dan matanya yang berkaca-kaca, membuat Dad R dan Mommy Ara menjadi khawatir dan tak tega.


“Baik, tapi tenanglah dulu okay? Nanti kepalamu sakit bahkan kamu bisa pingsan kalau kamu terlalu gusar—“


*


“Dad dan Mommy akan menemani kamu, hem?”


“Tidak Dad, Val saja sendiri yang menemui Kak Kafeel—“


“Tidak untuk itu—“


“Maksud Val, Dad dan Mommy kembali saja ke KUJ. Biar Val ditemani Kak Achiel.”


🌷🌷🌷


Dan setelah berdiskusi sejenak secara singkat dengan Mommy Ara, Dad R mengiyakan permintaan Val. Dimana Val yang ingin menghampiri Kafeel, akan ditemani oleh Achiel dan dua orang bodyguard mereka.


Sementara Dad R dan Mommy Ara akan kembali ke KUJ. Khawatir, namun kemudian ingat betapa Achiel amat sangat dapat mereka andalkan.


Jadi Dad R dan Mommy Ara percayakan Val pada Achiel yang mana orangnya kini telah berada di sisi Val, yang sudah berdiri di depan gerbang sebuah rumah.


Rumah Kafeel yang pria itu beli untuk ibu dan adiknya, setelah tak menemukan Kafeel di apartemennya kala tempat itu yang menjadi tujuan pertama Val. Karena Val ingat, Kak Kafeelnya itu pernah bilang kalau ia lebih sering berada di apartemen daripada di rumah.


Jadi Val langsung meminta Achiel mengantarkannya ke rumah Kafeel dan keluarganya itu—sebut saja begitu.


“Perlahan saja Nona Valera, nanti jari Nona sakit..” ucap Achiel karena Val yang menekan sebuah tombol yang adalah tombol interkom di dinding pagar rumah Kafeel.


Namun Val tak menghiraukan ucapan Achiel dan terus saja menekan tombol interkom itu hampir tanpa jeda. Yang kemudian berhenti, saat ada suara yang menanggapi dari seberang interkom.


“Ya?—“


“Lena!”


“V – al?“


🌷🌷🌷


“V - al.. kamu.. udah inget?..”


Adalah Lena yang dengan cepat membukakan pintu pagar rumahnya itu setelah mendengar suara Val yang amat sangat ia kenali.


“Lena, Kak Kafeel mana?“ alih-alih menjawab pertanyaan Lena, Val yang sudah tidak sabar itu langsung bertanya pada Lena.


“A.. A..“


Lena yang masih nampak terkesima itu menjadi tergugu untuk menjawab pertanyaan Val.


Namun belum sempat Lena menjawab lengkap, Val sudah lagi mencecarnya, “Kak Kafeel di sini, kan? Masih tinggal di sini, kan? Tidak pindah bersama istrinya?..”


'Istri?..'


Cecaran Val pada Lena dengan wajah penuh harap dan matanya yang berkaca-kaca, dimana Lena sedikit bingung juga dengan Val yang mengatakan soal istri kakaknya yang sudah entah dimana dan bagaimana wanita itu sekarang.


"Lena?--"


“Engga.. engga..” jawab Lena yang kemudian terkesiap selepas sejenak melamun heran.


“Jadi Kak Kafeel, apa ada di sini?—“


“Ada, Val. AA ada di kamarnya—“


*


Dimana kemudian Lena mendampingi Val ke kamar Kafeel.


"Silahkan, Val."


Lena mempersilahkan Val masuk ke kamar Kafeel yang Lena telah bukakan pintunya.


"Kak - Kafeel.."


Val melirih dengan menutup mulutnya, dimana bulir air mata Val kemudian turun ke pipinya.


Disaat Val melihat pria tercintanya ada di pandangannya, terbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


To be continue......


__ADS_2