
( KEPINGAN )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
London, England...
“For what happened ( Atas apa yang terjadi ).. Aku mohon, agar hanya keluarga kita saja yang tahu mengenai ini.”
“........”
“Yang kumaksud hanya keluarga kita, ya hanya kita. Kalian yang sedang ada di hadapanku ini.”
“........”
“Bukan aku malu.. bukan..”
“........”
“Aku hanya tidak ingin mendapatkan simpati.. hingga sakit dan pedihku.. terasa begitu kentaranya lagi.. Karena saat ini.. Aku belum siap untuk itu..”
“........”
“Jadi aku mohon dengan sangat.. Atas apa yang terjadi.. Aku minta.. Hanya aku, dan hanya kalian saja semua di sini yang tahu..”
“Jangan khawatir. Kami paham keinginanmu.. R..”
“Thank you-“
-----
“May..”
“Iya, Dad?..”
“Maaf..”
“........”
“Bisakah kamu juga menyimpan hal ini dari Arya dan keluarganya?..”
“........”
“Setidaknya sampai aku siap menerima rasa simpati dari orang lain atas apa yang terjadi..”
“........”
“Nino, Ezra dan keluarga mereka berikut para pekerja kita adalah pengecualian karena mereka ada bersama kita saat hal itu terjadi..”
“........”
“Yang tidak tahu menahu hingga hari ini. Biarkan saja dulu. Termasuk juga pada Rico dan keluarganya, atau mereka yang sangat akrab dengan kita seperti halnya Nino dan Ezra. Bukan aku tidak menghargai mereka sebagai bagian dari keluarga ini. Hanya saja.. Aku..”
“........”
“Dad jangan khawatir.. Aku akan merahasiakan hal ini dari Arya, Papa Rico, Mama Shireen juga Kak Sony.”
“Terima kasih.. May..”
-----
“Tapi mengenai rencanamu dengan Arya, tidak perlu ditunda ya?..”
“Aku sudah berpikir untuk menundanya, Dad..”
“Tidak May, tidak. Kebahagiaanmu juga hal yang utama bagiku.”
“Tapi, Dad-“
“Lakukan seperti rencana..”
“........”
“Acara lamaranmu dan Arya tetap harus berlangsung walau bagaimanapun. Setidaknya ada bahagia yang melingkupi hatiku, dalam duka ini..”
“........”
“Dan sepertinya.. Saat itu mentalku sudah kuat untuk menerima rasa simpati dari keluarga kita yang lain.”
-----
“Aku ikut ya, ke Isola?”
“Kau kan harus mengurus acara lamaranmu dan Arya, May..”
“Kami akan datang berkunjung, May. Juga akan tetap membantumu mempersiapkan acara lamaranmu dengan Arya sekaligus pertunangan kalian. Kau kan juga bisa berkunjung ke sana setelah acaramu dan Arya selesai..”
“Aku sudah bilang, Dad. Aku ingin menundanya. Jika perlu batalkan saja, karena aku merasa egois untuk mempertahankan kebahagiaanku sementara V-“
“May. Enough!..”
“........”
“Bila aku bilang kau tinggal, artinya kau tetap di sini.”
*
*
*
*
London, England...
Present day ( Masa sekarang )...
“Ngomong – ngomong soal cincin tunangan, lo mau custom di tempat Gappa sama Gamma aja?..“
Ada Mika dan Arya yang sedang duduk bersama di balkon apartemen Arya.
“Bebas aja gue sih, Ar ----“
“Ya jangan gitu. Biarpun baru buat tunangan aja, tetep gue maunya itu cincin sesuai sama selera lo, Mi..“
“Selera kita berdua lah. Berpasangan itu kan ga boleh mengedepankan pendapat sepihak aja ----“
“Adudu ... Bijak banget sih yayangnya Kakanda Arya nih? ----“
♥
“Ga apa-apa kalo cincin tunangan kita beli di sini, Mi?”
Arya bertanya pada Mika kala mereka sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan yang tersohor di London. “Emang kenapa?.. Ini tempat lo membeli kalung ini buat gue juga kan?” respons Mika.
“Ya iya emang-“
“Nah ya udah-“
“Tapi kan kalo di tempat Gappa dan Gamma selain dapet diskon-“
“Ish, ga modal banget.”
Mika menukas seraya mencebik ucapan Arya yang orangnya sontak terkekeh kecil.
“Iya oke gue ga minta diskon deh nanti.”
__ADS_1
“Beli di sini aja.”
“Tapi kalo custom di tempat Gappa dan Gamma kan pasti lebih sesuai dengan selera lo, Mi?”
“Di sini juga bagus-bagus designnya kok, Ar.”
“Beneran mau di sini aja?” tanya Arya memastikan.
Mika mengangguk mantap.
“Tapi jangan pilih yang udah jadi.”
Arya berujar sambil menggenggam tangan Mika dan melangkah bersama ke dalam sebuah toko perhiasan dalam pusat perbelanjaan yang keduanya sambangi saat ini.
“Kita custom aja cincin tunangannya,” ujar Arya lagi. “Uang gue cukup. Masih ada lebihnya juga kalo buat beli cincin tunangan dengan design khusus,” tambah Arya.
“Iyaa-“
♥
Esok datang, hari dimana Arya akan bertolak ke suatu negara Asia sehubungan dengan tugas dari perusahaan tempatnya bekerja.
“Rekan kerja gue pada kesenengan bisa ngerasain naik jet pribadinya The Adjieran Smith,” ucap Arya yang berdiri bersama Mika di atas aspal landasan udara pribadi milik keluarganya yang berada di Inggris.
Setelah empat rekan kerja Arya sudah masuk lebih dulu dengan senang dan bersemangatnya ke dalam jet pribadi milik salah seorang Daddynya para pewaris muda The Adjieran Smith itu, selepas Mika dan Arya mempersilahkan mereka.
Arya sebenarnya menolak untuk menggunakan aset pribadi milik salah seorang The Dads of The Adjieran Smith ini, namun Mika memaksa.
Dan Mika punya alasan yang cukup membuatnya memaksakan kehendak pada Arya untuk menggunakan jet pribadi milik salah satu Daddy nya itu. Yang mana alasan tersebut, tak lain dan tak bukan adalah rasa takut yang Mika punya saat Arya pernah dikabarkan tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat.
Memang sih, maut Tuhan yang punya. Tapi mengingat betapa canggihnya jet-jet pribadi milik keluarganya itu yang punya segala macam ‘anti’, rasanya Mika lebih tenang saja jika Arya melakukan perjalanan udara dengan salah satu burung besi milik keluarganya itu.
Dan satu burung besi itu akan juga menjemput Arya jika Arya sudah mengabarkan pada Mika bahwasanya pekerjaan Arya di salah satu tempat terpencil pada suatu negara Asia itu telah selesai.
Bahkan akomodasi lainnya pun sudah disiapkan di tempat tujuan Arya, demi agar Arya tidak kenapa-kenapa selama jauh darinya. Sekhawatir itu, Mika pada Arya yang orangnya masih kini telah merengkuh Mika dalam dekapan.
“Makasih ya? Udah sampe repot-repot begini.”
“Ga repot kalo demi memastikan keselamatan lo supaya jangan lagi bikin gue nyesek.”
Arya tesenyum lembut, selain ada haru juga dalam hatinya.
“Gue bakal hati-hati, kok.”
“Harus itu! Nanti yang bayar sisa tagihan cincin siapa? ....”
Arya terkekeh geli kemudian selepas Mika berkelakar.
Lalu gemas melingkupi Arya pada Mika yang kemudian ia berikan kecupan lembut dan Mika membalasnya mesra.
♥
“Ya udah, gue masuk ya?----“
“Iya----“
“Tapi jangan marah kalo gue ga sering-sering hubungi lo dari sana. Maklum bawah gunung----“
“Iya gue tau. Kan lo udah bilang juga?” tukas Mika.
“Tapi saat ada sinyal gue akan langsung hubungi lo. Mudahan aja perangkat kita orang bisa dipake langsung di sana.”
Arya bertutur, dan Mika mengangguk pengertian.
“Iya. Yang penting lo hati-hati----“
“Iya Mika sayang. Kakanda Arya pasti bakal hati-hati----”
“Geli ih ....” tukas Mika.
Arya pun tergelak.
“Ya udah sana. Ga enak sama temen-temen kerja lo kelamaan nunggu. Toh sebentar lagi udah waktunya take-off----“
“Iya. Awas kepincut monyet gunung.”
Arya tergelak lebih geli, lalu mengunyel-unyel wajah Mika. Menjawil dan mengecup bibir Mika terakhir, sebelum menggerakkan kakinya untuk meniti tangga pesawat yang sedikit saja jumlahnya itu.
“I’m gonna miss you ( Gue bakal kangen )” mesra Mika.
“I’m gonna miss you more ( Gue lebih lagi )” balas Arya tak kalah mesra yang langsung sumringah kala Mika mengecup lembut pipinya.
Yang kemudian diminta Arya untuk mengecup bibirnya juga.
“Baik-baik lo ya di sini sampe gue balik?” ucap Arya setelahnya.
“Iya ....” sahut Mika lembut.
♥
Author’s POV...
Selembut dan semesra itu sikap Mika padanya kurang lebih di dua minggu belakang setelah ia bertolak dari London untuk pergi ke sebuah desa sedikit terpencil di salah satu negara Asia.
Bahkan di satu minggu pertama---meski hanya tiga kali saja Arya berkomunikasi dengan Mika, interaksi mereka masih seperti biasa---mesra plus receh lalu tertawa bersama. Walau samar Arya tangkap, tawa Mika tak selepas biasanya.
Tapi setelah sembilan hari kemudian, dimana jalur komunikasi tambahan yang dibawa Arya dan rekan-rekannya untuk sarana mempermudah pekerjaan mereka dapat membantu sinyal ponsel menjadi lebih dapat digunakan tanpa harus pergi ke kota yang mana jarak tempuhnya agak jauh dari tempat mereka---Arya malah agak sulit menghubungi Mika.
Malah bagian dalam hati Arya merasa Mika menghindarinya.
Tapi kenapa?
Pertanyaan yang muncul di kepala Arya.
Apa?..
Lalu dugaan muncul sekilas di kepala Arya juga yang langsung ia tepiskan.
Elah, Ar.. Ar.. Lo tuh kena sindrom LDR-an, jadi berprasangka aja ke Mika. Inget ga kek apa dia waktu denger lo mati dalam kecelakaan pesawat waktu itu?
Begitu hati Arya yang menepis dugaan di kepalanya tentang perasaannya yang menduga Mika seolah menghindarinya.
Hai, Ar. Sorry ga bisa angkat telfon lo gue udah ngantuk banget.
Namun pesan chat dari Mika membuat Arya mengernyit di tempatnya.
“Nona Mikaela belum kembali, Tuan Arya. Sudah sedari sore pergi dengan Tuan Felix.”
Begitu perkataan salah seorang maid di mansion keluarga Mika yang berada di London jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Dia pasti takut gue ngomel kalo balik kelewat malem..
Lagi, Arya menepiskan pikiran dan dugaan buruknya atas sikap Mika yang ia rasa berubah dalam hampir dua minggu ke belakang.
Hingga di hari ke 11, Arya menemukan sesuatu yang cukup membuat hatinya tak menentu ketika Arya sedang bekerja dengan laptopnya.
Ck! Paparazzi ini kerjaannya pasti, terus dibumbu-bumbuin sama media..
Begitu Arya menenangkan dirinya sendiri. Namun tetap penasaran ingin mengkonfirmasinya langsung pada Mika.
Yang sayangnya, lagi-lagi tidak menerima panggilan Arya. Membuat Arya galau di tempatnya.
Galau yang kemudian perlahan menjadi sebal menuju kesal.
Mika sulit dihubungi untuk ia telepon, dan kini juga tidak membaca-baca pesan chat yang ia kirimkan sampai Arya jatuh tertidur.
Hari esoknya Arya cukup sibuk dengan pekerjaannya. Tak sempat mengecek ponsel dari sejak ia meninggalkan rumah yang menjadi tempat tinggal sementara dirinya dan para rekan kerjanya, hingga saat sore hari ia kembali---Mika juga nampak belum membaca pesan chatnya. Arya, gundah gulana.
Ingin menghubungi lagi mansion keluarga Mika di London, namun perangkat tambahan sedang digunakan oleh dua orang rekannya. Akan menjadi lemot jika Arya menggunakannya juga.
Sementara program dari perusahaan tempatnya bekerja, baru akan terlaksana setelah Arya dan tim memberikan laporan lengkap pekerjaan mereka untuk bisa membuat tempatnya berada sekarang lebih tersentuh teknologi termasuk sinyal telepon selular dan semacamnya.
Jadi, Arya menunggu giliran saja untuk bisa menghubungi Mika dalam jalur komunikasi yang jernih. Sedikit curi-curi sinyal untuk membuka laman sosmed yang lama sekali terbukanya. Dan ketika terbuka, dahi Arya mengerut dalam. Sebuah foto di satu akun orang yang ia kenal, sedikit---ah tidak, begitu mengganggu perasaannya.
Felix Balamy – lovely hand to hold. I love you oh hand’s owner that I hold now
__ADS_1
( Tangan yang indah untuk digenggam. Aku mencintaimu wahai pemilik tangan yang sedang aku genggam sekarang )
Bukan caption yang ditulis oleh pemilik akun yang sedang Arya lihat foto yang dipostingnya, namun tangan yang sedang bergenggaman itu yang menjadi fokus Arya.
Dimana salah satu dari tangan yang saling menggenggam erat dan mesra itu, Arya rasa kenali dari gelang yang dipakainya dengan bandul huruf ‘M’. Demi apapun, Arya gusar.
Lebih rasanya gusar lagi, ketika ponsel Mika seolah tidak aktif. Namun ingin bertanya pada pemilik akun yang foto dalam postingannya sungguh mengganggu kenyamanan hatinya, Arya masih ragu dan bingung merangkai kata untuk menanyakan perihal pemilik tangan dengan gelang yang Arya kenali betul.
Begitupun ingin menghubungi beberapa orang yang memiliki ikatan keluarga dengan si pemilik tangan dengan gelang berbandul huruf ‘M’ itu, Arya ragu selain bingung. Jadi, untuk sementara Arya menahan dulu gusar, sekaligus emosi yang sedikit mulai menyeruak di dalam hatinya. Emosi yang kemudian tertumpah ketika di hari ke 14 Arya kembali ke London.
Author’s POV off...
*
London, England...
“MIKA!”
Seruan geram menggema di salah satu sudut restoran pada sebuah atap gedung, dimana dia yang disebut namanya nampak sedang berinteraksi mesra di sebuah ruang untuk berdansa.
“Ar----ya?!”
Ucap dia---Mika.
Iya, Mika yang Arya cintai.
Tapi terlihat sedang bergelayut mesra dengan gestur jika dara tercintanya itu sedang juga melakukan hal yang sering Mika lakukan bersamanya.
Bersama dia yang barusan berseru geram dengan kobar amarah yang nampak di sorot matanya.
Arya.
Yang meningkat emosinya, menemukan Mika nampak sedang berciuman dengan seorang yang juga Arya kenal, walau samar Arya lihat dari sedikit jarak sebelum Arya menghampiri kedua orang itu.
Namun Arya meyakini, jika dua orang itu memang sedang berciuman. Sungguh menyakitkan hatinya, selain Arya amat sangat geram.
BUGH!
Hingga satu bogem mentah Arya layangkan ke si pria yang bersama Mika.
Felix.
Orang yang memposting sebuah foto yang membuat Arya begitu gusar dan penasaran.
Dan kini penasarannya terjawab.
Bukan hanya perasaannya yang berpikir jika Mika menghindarinya.
Tapi kebenaran.
Mika yang ia cintai, memang menghindarinya dalam satu minggu ke belakang kurang lebih. Lalu dalam dua minggu saja dirinya jauh dari Mika, dara tercintanya itu begitu mudah pindah ke lain hati.
Oh hati, semudah itukah ia berpaling?
“Tega lo Mi!”
“Maaf.. Ar.. Maaf..”
♥
“Gue dan Felix.. Udah pernah terbawa suasana, Ar. Tapi alih-alih melupakan, kami malah merasa terikat.”
Yang Mika ucapkan pada Arya.
“Maafin gue, Ar.. Maaf.. Hanya itu yang gue bisa bilang----“
“Semoga kalian bahagia kalo gitu,” tukas Arya sebelum dirinya melangkah pergi dari Mika.
Dengan kecewa dan sakit yang begitu pedih Arya bawa bersama langkahnya.
♥
Dan ya, perpisahan Mika dan Arya tidak dapat dihindari.
Hingga dua minggu berikutnya keduanya membuat janji temu, untuk sebuah perpisahan yang resmi.
Bertemu tanpa Arya melibatkan emosi.
Dengan dirinya yang belajar ikhlas.
“Apa kabar Mi?----“
“Baik, Ar.”
“Lo lagi di Jakarta katanya?”
“Iya.”
“Bisa ketemu? Kebetulan gue juga ada di Jakarta.”
“Iya, bisa.”
♥
Satu momen tercipta dengan banyak rasa yang menguar dalam dada masing-masing kala Mika dan Arya bertemu kembali setelah perpisahan tak baik mereka.
Namun perpisahan yang tak baik itu dibuat menjadi baik, hingga haru menyeruak dalam interaksi keduanya.
“Bye, Ar ....”
Mika menyahut seraya mengangguk samar, setelah Arya lebih dulu mengucapkan kata selamat tinggal.
“Semoga lo cepat dapat pengganti gue, baik di hidup dan di hati lo ...”
Mika berucap pada Arya yang tersenyum mengangguk sekali lagi padanya dengan senyuman tulus, walau getir masih nampak di wajah Arya.
Lalu Arya mengangkat tangannya----lambaian perpisahan, sebelum pria itu berbalik badan dan berjalan menjauh dari Mika.
‘Bye, Ar ... I love you ...’
Hati Mika berbisik lirih.
♥
“You don’t have to do this ( Kamu ga harus melakukan ini ), May..”
“Have to ( Harus ), Fel.. Have to..”
“But, May... You’ve hurting your heart badly ( Tapi, May... Kamu menyakiti hati kamu sendiri dengan sangat )----“
“Val will be so mad to you because of this ( Val akan sangat marah sekali padamu karena ini ), May..”
“Then I’ll waiting ( Maka aku akan menunggu )..”
“........”
“I’ll be waiting Val come and pointed her finger to me. Scold me with her shrill voice ( Aku akan menunggu Val datang dan mengarahkan jarinya padaku. Memarahiku dengan suara cemprengnya )..”
“........”
“But the question is.. will that happen??.. Can I, can we, hear her voice again ( Tapi pertanyaannya adalah.. Apa itu akan terjadi.. Apa aku bisa, kita bisa, mendengar suaranya lagi )?!..”
“........”
“CAN WE ( BISA GA )?!”
♥♥
To be continue .......
Gimana-gimana?
Pinisirin?
Jempol digoyangin dulu dunks biar Emak longcer nulisnya ....
__ADS_1