
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Author’s POV....
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....
Keriuhan suasana gembira masih menyelimuti pekarangan belakang nan cukup luas milik keluarga The Adjieran Smith yang berada di Jakarta.
Meski tak semegah The Great Mansion mereka yang berada di London, namun Kediaman Utama satu keluarga tersebut diatas yang berada di kota Jakarta ini sungguhlah diatas rata-rata luas Kediaman mereka yang status sosialnya kurang lebih sama dengan keluarga ini.
Author’s POV off....
♥♥♥
Senyum terus saja merekah di wajah para orang tua dan tetua, dan kadang tawa lebar juga menghiasi wajah mereka disaat memperhatikan sambil juga ikut serta dalam kegembiraan para pewaris muda, anak-anak mereka itu.
“Nikmat mana lagi yang lebih indah selain melihat keluarga kita selalu bahagia, iya kan?....” ucap Mommy Ara yang sudah lagi duduk di kursi panjang pada teras pekarangan bersama enam orang tua lainnya, setelah mereka menarik diri sejenak dari kegembiraan yang sedang tercipta saat ini.
Dimana enam orang yang bersama Mommy Ara itupun mengangguk mengiyakan seraya merekah-kan senyum mereka, sambil memandangi para pewaris muda yang sedang asyik berkaraoke dengan iringan permainan keyboard Ake Herman sambil berjoged ria. Dan beberapa kali posisi Ake Herman di keyboard digantikan oleh Rery yang juga pandai memainkan satu alat musik tersebut, dari beberapa alat musik yang Rery kuasai.
Para pewaris dari generasi Varen ini, kesemuanya memiliki passion pada musik, namun dengan kadar dan bakat yang berbeda.
Mereka bahkan sering nge-jam bersama, jika ada kesempatan untuk itu. Jadi para pewaris tersebut menjadi kian kompak, karena mereka sering menghabiskan waktu antar saudara, ketimbang bermain diluar.
Bukan enggan untuk bergaul, bukan juga tidak memiliki teman-teman diluaran.
Pada kenyataannya, para pewaris muda tersebut memiliki teman-teman diluaran. Namun, sekali lagi dengan kadar yang, dengan jumlah teman yang berbeda, tergantung dari pada sifat masing-masing pewaris.
Tapi ya itu, jika ada kesempatan untuk berkumpul lengkap seperti saat ini, para pewaris tersebut akan memilih menghabiskan waktu antar saudara dengan beragam kegiatan. Iri?. Pasti. Mereka yang memiliki saudara-saudari, namun hubungan antar saudara tidak se-harmonis para pewaris muda ini yang bahkan ada yang tidak sedarah.
Pencitraan?.
Terserah orang mau berkata apa.
Karena pada kenyataannya, hubungan keluarga dalam strata sosial dalam level atas di satu keluarga berlabel The Adjieran Smith memang begitu adanya.
Harmonis, dari sejak jaman para pendirinya, yang kemudian dilanjutkan rasa sayang keluarga oleh Gappa pada keluarganya, yang kemudian ber-estafet pada jaman Poppa.
Lalu sekarang perwujudan cinta keluarga itu diturunkan kembali oleh Poppa dan para orang tua lainnya pada anak-anak mereka tersebut yang juga dapat menyerap dengan baik wejangan para orang tua mereka tentang arti keluarga, yang kemudian mereka terapkan dengan lebih baik lagi.
Para pewaris muda itu nampak kompak bagai sahabat, selain saling mengasihi dan menyayangi sesama saudara tanpa ada tanda-tanda akan terpecah belah, walau terkadang ribut dan cekcok sesekali ada.
Tapi seringnya ya itu, perdebatan unfaedah, tanpa ada unsur iri maupun dengki. Karena anak dari orang tua manapun mereka, kadar kasih sayang yang mereka semua sama rata. Selain fasilitas dan jaminan hidup yang tak ada beda.
“Semoga akan terus seperti ini sepanjang waktu ....” Daddy Jeff menimpali ucapan Mommy Ara yang sebelumnya.
“Aamiin ....” Mereka yang bersama Daddy Jeff pun di Aminkan oleh mereka yang bersamanya saat ini.
♥♥♥
“Permisi, Tuan, Nyonya ..”
Salah seorang asisten rumah tangga Kediaman menghampiri ke tempat dimana Mommy Ara dan enam orang lainnya berada.
“Iya, Pul? ..” Daddy Dewa yang mewakili untuk menanggapi salah seorang asisten rumah tangga mereka yang baru saja menghampiri itu.
Sementara enam orang lainnya spontan menoleh kepada asisten rumah tangga mereka tersebut.
“Ada Tuan Rico Narendra dan keluarganya datang, Tuan, Nyonya ..” jawab asisten rumah tangga yang dipanggil 'Pul' tersebut.
Tujuh orang yang sedang diberitahukan jika ada salah satu kerabat mereka yang datang itupun kemudian mengangguk serempak.
Lalu ketujuh orang tersebut pun lekas berdiri dari duduknya. “Kalian disini saja,” ucap Daddy R.
Tertuju untuk beberapa tiga Moms yang sedang bersamanya saat ini.
“Nanti Shireen akan aku minta langsung kesini .. aku juga sekalian mau merokok di depan ..”
“Ya sudah ..”
“Sony dan Arya juga ikut?”
“Iya Tuan.”
“Ya sudah, kami akan menemui mereka di depan.”
Asisten rumah tangga yang tadi Daddy Dewa panggil ‘Pul’, alias Ipul itu dan masih tetap berdiri di tempatnya itupun segera menyahut.
“Baik Tuan.”
“Buatkan saja kopi untuk kami dan bawakan ke ruang tamu—“
Daddy R kembali berbicara sambil menoleh pada dua Daddy lain yang sedang bersamanya.
“Kalian mau ikut ke depan juga?..”
Kemudian bertanya pada Daddy Dewa dan Daddy Jeff.
Dua Daddy itu pun langsung mengiyakan.
Lalu ketiga Daddy yang masih tampan dan gagah di usianya itupun mengayunkan langkah mereka untuk pergi ke ruang tamu Kediaman untuk menemui satu keluarga kerabat cukup dekat yang datang bertandang saat ini.
“John, Lucca, Ndrew!” seru Daddy R pada tiga Daddy lainnya yang sedang berada didekat anak-anak dan dua cucu mereka berkumpul.
Dimana ketiganya pun langsung menoleh ke arah Daddy R.
“Ada Rico!” seru Daddy R lagi.
Papi John dan Papa Lucca pun menunjukkan jempol mereka ke arah Daddy R yang tak lama kemudian kembali mengayunkan langkahnya untuk masuk ke area dalam Kediaman untuk menemui tamu mereka.
♥♥♥
“Come! ( Ayo! )”
Papi John mengajak Papa Lucca dan Poppa untuk menyusul Daddy R dan dua Daddy yang telah lebih dulu masuk ke area dalam Kediaman.
Papa Lucca mengiyakan.
“Come, I want to smoke however ( Ayo, aku juga ingin merokok )” ucap Papa Lucca.
“Kalian duluan saja ... gue menyusul ...” tukas Poppa. Hulk bin Thanos bin Hercules itu sedang ‘dikeroyok’ oleh tiga makhluk belia, dimana yang dua adalah makhluk unyu-unyu.
Yang mana, dua makhluk unyu sedang bergelayutan di lengan berotot Poppa yang menonjol sambil tertawa lepas, dengan Poppa yang menekuk lengannya bak binaraga. Dan di punggung Poppa ada Aina yang nemplok dengan juga cekikikan.
Meski usia Poppa sudah menginjak setengah abad, namun otot-otot Poppa seolah masih sama saat dia masih muda, ditambah tubuh Poppa lebih berisi selain masih rajin latihan beban. Jadi Poppa harus pasrah namun dia senang-senang saja, menjadi bahan gelayutan para putra-putrinya, serta dua cucu yang sering bergelayutan macam orang utan di pohon kalau ada Poppa.
Toh memang tubuh Poppa adalah yang paling besar diantara para Daddy yang lain, baik dari otot maupun tingginya.
Jadi dialah yang seringnya jadi bahan keroyokan untuk digelayuti oleh para pewaris muda dan dua cucu dalam keluarga mereka tersebut.
__ADS_1
♥♥♥
“Itu sepertinya si Kaka..”
Daddy Dewa berucap, sambil matanya melirik ke arah pekarangan depan, saat mendengar suara deru mesin mobil yang baru saja memasuki halaman Kediaman mereka.
Suami Mom Ichel itu sedang bersama Uncle Rico dan Sony serta Nathan, berikut Papi John, Daddy Jeff dan Daddy R.
Sementara Papa Lucca sedang pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya, dan Poppa masih juga belum muncul ke tengah-tengah mereka.
Masih sibuk jadi pohon buat gelantungan kayaknya.
“Yakin mau kasih tahu dia fakta tentang Lena, sebelum diselidiki lebih lanjut terlebih dahulu?..”
“Kalau gue pikir sih, satu hal yang ga sengaja si Nicky temuin walau masih blur, baiknya langsung kasih tau ke Kaka. Toh dia kan kakaknya Lena, jadi sedikit pun soal Lena, rasanya lebih baik diberitahukan sajalah langsung ke Kaka, biar dia yang memutuskan gimana---”
“Emang Lena kenapa? ..”
Itu Uncle Rico yang berucap, memotong ucapan Papi John.
“Nicky lihat Lena lagi ngumpul sama satu geng motor yang katanya sih terkenal rusuh, Uncle..” Nathan yang menjawab.
Anak kandung Daddy Jeff dan Mama Jihan itu ikut berkumpul dengan para Daddy nya di ruang tamu Kediaman bersama dengan Sony, sahabatnya.
Sementara Arya dan mamanya, sudah ikut berkumpul dengan mereka yang berada di pekarangan belakang.
“Ah masa sih? ..” tanggap Uncle Rico.
“Hem, Nicky sih bilang gitu...” ucap Nathan.
“Tapi yakin itu Lena?...”
“Nicky emang ga negesin, tapi dia yakin itu Lena.... Dan kayaknya Nicky ga bakal ngomong ke aku kalau dia ragu....”
“Iya juga sih.”
“Dan kayaknya Lena itu pacaran sama salah satu itu anggotanya....” kata Daddy Dewa. “Kalau lihat foto yang diberitahu Nicky sih ...”
“Makanya kita orang itu mau nanya si Kaka perihal dia udah tau apa belum soal Lena. Yang dari pandangan kami sih rasa-rasanya Kaka ga tau...” Papi John menambahkan.
“Hem, makanya kita orang panggil dia kesini. Kalau Kaka memang belum tahu, ya dia harus tahu ... kita sih bisa aja menyelidiki lebih jauh. Toh Lena bagian dari keluarga juga .. tapi kan, bukan keluarga inti ini yang bisa langsung kita orang tindak.”
Daddy Jeff ikut berkomentar.
“Makanya mau diomongin ke Kaka. Karena dia yang lebih berhak mengurus soal Lena.”
Kemudian Uncle Rico pun manggut-manggut.
“Emang geng motor yang mana sih? ...” tanya Uncle Rico.
“LB.”
“Cih!” suara Sony yang berdecih sinis terdengar. “Najis banget deh sama itu kumpulan berandal!”
“Lo tau? ...” tanya Nathan.
“Bukan tau lagi,” sahut Sony. “Tanya aja tuh bokap ...” menunjuk pada sang ayah, yakni Uncle Rico. “Dari jaman dia, itu geng yang namanya LB emang udah rusuh!”
“Yap! ...”
“Kayaknya itu geng turun temurun ya Pah? Dulu bapaknya yang mimpin dan sekarang anaknya yang sama biang rusuh kek bapaknya, malah lebih parah! ...” cicit Sony dengan sedikit berapi-api.
Uncle Rico yang merupakan ayah Sony dan Arya itu pun manggut-manggut. “Mereka ga ada kapoknya meski para anggotanya udah banyak yang keciduk, dan sempat kami obrak-abrik markasnya. Udah beberapa kali mereka ganti markas, dan bukan sekali dua kali juga kami obrak-abrik itu markas mereka yang pindah-pindah, off sebentar lalu muncul lagi.”
“Gue pikir itu geng, bakalan selesai habis bapaknya diciduk dan kena vonis hukuman mati karena dulu gue sama almarhum Arya temuin banyak napza di markasnya –“
Uncle Rico menyambung ucapannya.
“Eh, beberapa tahun kemudian, naik lagi itu nama LB, makinan rusuh lagi malah! Tapi gue akuin ini anaknya, lebih licin dari bapaknya!”
“Ya kalau begitu, langsung bergerak aja --”
Daddy R berkomentar.
“Cari tahu kenapa Lena bisa ada sama mereka.”
“Ya tunggu kita bicara dulu aja sama Kaka ...” tanggap Daddy Jeff.
“Ya aturlah gimana---” tukas Daddy R. “Yang jelas siapkan saja backup, just in case itu bocah Adiwangsa mau menghampiri itu para berandal----“
“Ciee Dad R perhatian banget sama calon mantu.”
Nathan mengeluarkan ledekan sambil cengengesan.
Membuat para Dad yang lain terkekeh kecil karenanya.
Uncle Rico dan Sony juga ikut terkekeh kecil. “Val masih setia ngejar AA Kafeelnya emang? ...”
Uncle Rico bertanya, saat hendak menyesap minuman dalam cangkirnya.
“Udah upgrade Uncle, udah jadian mereka!---“
“Oh ya?! ...” Uncle Rico dan Sony berucap seraya bertanya diwaktu yang bersamaan.
Mereka selain Daddy R yang berada di ruang tamu Kediaman itu pun manggut-manggut.
“Wuih gimana tuh ceritanya –“ Sony bertanya antusias. Namun sebelum ia selesai dengan kalimatnya,
“Assalamu'alaikum!”
Suara salam terdengar dari arah pintu utama Kediaman.
“Nah tuh orangnya dateng, tanya aja langsung.”
“Wa’alaikumsalam!”
Mereka yang sedang berkumpul dan bercengkrama di ruang tamu Kediaman itupun sontak menjawab sapaan salam dari seseorang yang baru datang tersebut.
“Calon mantu perlu ‘ditatar’ ga nih? ...”
Daddy Dewa yang memang duduk di dekat Daddy R itu setengah berbisik pada Daddy R yang kemudian mendengus geli disaat dimana suara salam dari luar pintu terdengar.
Meski setengah berbisik, mereka yang berada bersama Daddy R dan Daddy Dewa pun mendengar ucapan setengah provokasi dari Daddy Dewa itu, lalu mereka terkekeh kecil.
“Harus itu!”
Daddy R menyambut ucapan Daddy Dewa yang setengah provokatif tersebut.
“Gue harus memastikan kelayakan orang yang mau menjalin hubungan sama salah satu tuan putri dalam keluarga ini.”
Daddy R kemudian menyungging miring, saat melihat orang yang mengucapkan salam tadi telah berada di ruang tamu tempat ia dan beberapa pria sedang berkumpul dan bercengkrama ini.
__ADS_1
Yang mana orang yang baru muncul di tengah-tengah mereka ini nampak menampakkan senyum yang merekah lalu hendak menyapa semua orang yang dilihatnya saat ini. “Selamat pa ---“
Namun seseorang yang baru datang tersebut tidak melanjutkan sapaannya dan nampak tertegun.
Disaat yang sama Daddy R berkata, dan perkataannya tertuju pada seseorang yang nampak tertegun sambil memandang ke arahnya.
“Wah, wah, lihat siapa ini? Kekasih Val, heh?” ucap Daddy R seraya mencibir pada orang yang sedang ia pandangi saat ini, dan orang tersebut nampak juga meneguk salivanya secara spontan dengan masih tertegun di tempatnya.
Seseorang yang baru tiba tersebut, saling pandang dengan Daddy R, namun gurat wajahnya sedikit sukar untuk dilukiskan.
“Pagi-pagi jangan bengong Ka!” seru Uncle Rico.
Yang adalah Kafeel, seseorang yang baru saja datang itu.
“Eh, ada Uncle Rico ...” Kafeel yang sudah terkesiap itu kemudian bersuara, sambil memandang dan tersenyum pada Uncle Rico.
Dan selanjutnya ia mulai menyalami orang yang berada dekat dengannya. Namun ...
“Ciri-ciri orang mau mati cepat..”
Daddy R berbicara pelan, namun ketus.
Karena si calon mantu malah melewati dirinya untuk menyalim takdzim.
Alih-alih menggeserkan kaki untuk ke tempat Daddy R berada yang telah Kafeel lewati, Kafeel malah meneruskan menyalami yang lain, meski ia sedikit nampak menjeda kegiatannya.
Tak lama, setelahnya Kafeel nampak menelengkan pelan kepalanya.
“Belum jadi mantu saja sudah kurang ajar..” Daddy R menggerutu pelan.
‘Suaranya nyata banget asli.’
Itu, hati Kafeel yang bersuara.
Disaat dimana Daddy R mengeluarkan gerutuan-nya sambil memandang sinis pada Kafeel, yang lain cekikikan.
“Ini kayaknya kesambet lagi nih orang kek kemaren Dad. Nah ini yang punya dragonball dilewatin gitu aja ...”
Nathan berbisik geli pada sang Daddy kandungnya yang ikut cekikikan juga.
“Bisa jadi ...”
Daddy Jeff menanggapi cicitan sang putra kandungnya itu.
‘Ini bayangan ‘naga’ kenapa betah banget duduk disitu coba? Ga pergi-pergi sih, padahal udah berkali-kali gue berkedip ini!’
Sementara itu pandangan Kafeel tertuju pada satu arah, dan belum mendudukkan dirinya.
“Duduk Ka ----“
‘Kok gue deg-deg-an?? ...’
Kafeel masih membatin. Tak menghiraukan Daddy Dewa yang menyuruhnya duduk.
Kafeel lagi konsen ke satu arah.
‘Ga mungkin kan itu Uncle R beneran???’
“Ka? ...”
“Ya? ...”
“Bengong aja, kenapa? ...”
“Eh, engga Uncle, itu ----“ Kafeel hendak menyahut,
“Apa kabarmu, Ka? ..”
Namun sebelum Kafeel sempat menjawab untuk menanggapi ucapan Uncle Rico barusan, sebuah suara bariton ngebas dan dalam terdengar menyambar, menyela ucapan Kafeel.
Dimana suara bariton berat dan dalam terdengar begitu dekat di telinga Kafeel, bahkan Kafeel sampai sedikit tersentak kaget, lalu menoleh disaat dimana dia menemukan sosok tinggi besar dengan kepala yang kinclongnya bukan main.
‘Ini bayangan juga kan????!!!!’
Kafeel memfokuskan pandangannya pada pemilik suara bariton ngebas dan dalam itu.
“Dari kabar yang kudengar, kau sudah jadian dengan Val? –“
Deg!
Ada hati yang seolah dipukul dengan begitu keras.
Hatinya si AA.
“Dan kudengar juga, kau telah mencium anak gadis kami sebelum kau meminta ijin pada kami untuk berhubungan dengannya?---“
Dimana sosok plontos yang kini berada disisi Kafeel dan masih ia pandangi dengan intens itu berbicara lagi sembari merangkul satu pundaknya.
Senyuman terpasang di wajah sosok plontos tinggi besar nan kekar itu. Kafeel masih tertegun memandangi sosok tersebut. Namun didetik berikutnya ia tersadar, kala ...
“Nyalimu, besar juga, hem?” suara bariton ngebas dan dalam itu terdengar lagi. Berikut,
Grep!.
Cengkramannya yang sedikit agak kuat di bahu Kafeel .
Gluk!.
Kafeel pun meneguk salivanya.
“Un-uncle Andrew??? ...” Kafeel juga terbata.
“Kenapa? Kau tidak senang melihatku? ...”
Poppa menampakkan senyum yang membuat Kafeel seketika bergidik.
“Bu-bukan be-begitu Un-uncle---“
Kafeel menggantungkan kalimatnya, lalu melengoskan kepalanya ke arah dimana sang pemilik dragonball berada – kalo kata Nathan.
‘Jika ini Uncle Andrew, berarti itu! Itu! Itu! Itu ‘naga ‘ beneran Ya Allah!!!!’ Mode panik otomatis AA Kafeel menyala.
Yang mana orangnya sudah berdiri dari duduknya, lalu berkacak pinggang dari tempatnya dan menghadapkan dirinya pada Kafeel.
“Hebat sekali kau! Berani mengabaikan ku sementara kau ingin menjalin cinta dengan putri kandungku, heh?!”
Daddy R berseru lagi, sambil mendelik tajam pada Kafeel.
Sementara Kafeel menelan banyak-banyak salivanya dengan begitu ketatnya juga, macam disuruh menelan biji kedondong.
‘Ya Allah tolong AA, Ya Allah!’
__ADS_1
♥♥♥♥♥♥
To be continue ...