
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Selamat tinggal, V-al..”
“No, tolong jangan.. Kak Kafeel.. KAK KAFEEEELLLL!!..”
🌷
🌷
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England.....
“Hosh.. Hosh..”
Suara nafas yang terengah terdengar.
Setelah si pemilik nafas yang terengah itu terbangun dengan sangat kaget di atas ranjangnya.
‘Ya Tuhan!’
Lalu ia membatin sambil memegangi dada kirinya, sambil masih terengah dalam nafasnya.
Dengan dahi yang dipenuhi keringat dingin.
‘Kak Kafeel..’
Kemudian melirih, dengan air mata yang selanjutnya mulai berjatuhan di pipinya.
🌷
🌷
“Apa kamu ingin diberikan ruang?..”
“Ruang?... Ruang untuk apa, Daddy?..”
“Ruang untuk berbicara berdua dengannya..”
“Memangnya, dia siapa?..”
---
“Apa Nona Muda Valera ingat jika Nona sudah bertunangan? –“
“Hah?! What?!”
“Bahkan Nona sudah hampir menikah, loh ..“
---
“Bisa tidak tolong tutup tirai itu, Ann? –“
“Kenapa memang Val?”
“Aku sedikit merasa terganggu diperhatikan oleh pria asing itu..”
🌷
🌷
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England.....
“Ya Tuhaann ..” isakan terdengar di atas sebuah tempat tidur pada sebuah kamar—kamarnya Val.
Isakan yang terdengar dalam kesunyian kamar itu adalah isakan dari si empunya kamar.
Dimana Val terduduk dengan keringat dingin yang sudah menghiasi wajahnya, sambil tersedu dengan menutup mulutnya, dan pemandangan itu tertangkap dalam pandangan dua orang yang sedang berada di kamar Val.
Yang mana mereka adalah Mika dan Ann.
“V-al?..” dimana keduanya langsung saja bangkit dari duduk mereka dengan terkejut.
“Bagaimana.. bisa?..”
Val yang menggumam dalam isakannya.
🌷
Melihat Val yang tahu-tahu terisak di atas ranjangnya itu, tanpa Mika dan Ann melihat Val yang bangun dengan sangat terkaget, keduanya tentu saja hendak langsung menghampiri Val saat mereka melihat Val menangis di atas ranjangnya. Namun sebelum Mika dan Ann sampai ke dekat Val..
“VAL!”
Keduanya sama berseru dengan sangat terkejut, karena Val dengan cepat bangkit dari posisinya.
Kemudian Val melesat--berlari ke arah luar kamarnya, membuat Mika dan Ann menjadi khawatir dengan sangat—selain mereka berdua terkejut sekali lagi.
🌷
Sementara itu di sudut lain lantai 3 pada mansion The Adjieran Smith, beberapa anggota keluarga yang seringnya berdomisili di hunian mewah nan megah itu sedang bercengkarama sejak kurang lebih setengah jam yang lalu.
Obrolan-obrolan ringan dari mereka yang sedang bercengkarama santai sesama anggota keluarga itu hanya melibatkan tiga pasang orang tua dan satu anak bujang.
Sementara tiga tetua sedang melakukan aktifitas mereka secara terpisah dengan ke 7 orang yang sedang bercengkrama santai di ruang santai terbuka yang menjadi pembatas antara kamar-kamar yang ada disisi kanan dan kirinya.
“Ngomong-ngomong, ultah kamu sama Ann tahun ini mau dirayain gimana, Ry?”
“Terserah Ann aja lah kalo itu sih. Seperti biasa, aku ikut aja. Yang –“
“VAL!”
Ucapan Rery terputus, saat mendengar suara seruan Mika dan Ann yang kencang dari dalam kamar Val yang berada dekat dengan Rery dan tiga pasang orang tua The Adjieran Smith itu sedang bercengkrama.
__ADS_1
🌷
“Dads! Mom!..”
Dan tak lama berselang dari seruan Mika dan Ann yang terdengar dari dalam kamar Val itu, si empunya kamar nampak datang mendekati tujuh orang yang sudah langsung berdiri dari duduk mereka selepas mendengar seruan kencang Mika dan Ann.
“Val.. Sayang.. ada apa?..” Momma yang langsung menegur Val sambil meraih bahu Val yang kemudian langsung ia arahkan untuk duduk di salah satu sofa yang tersedia. Namun Val bergeming untuk berdiri.
“Val ingin ke Jakarta ... saat ini juga --- Val ingin ... bertemu Kak Kafeel ...”
Val langsung berkata dengan tergugu tepat selepas Momma bertanya padanya dengan nampak khawatir karena melihat jejak air mata di wajah Val.
Dimana kemudian, pandangan Momma dan lainnya teralih pada Mika dan Ann yang telah juga nampak berlari dari kamar Val. Lalu bertanya dengan tatapan kepada keduanya.
“Val sudah kami lihat menangis saat ia bangun. Lalu saat hendak aku dan May dekati, dia sudah bangkit dengan cepat dari ranjangnya dan berlari.” Ann kemudian bertutur.
“Val, ingin ke Jakarta ... Daads –“
“Iya, Baby, tapi –“
“Tolong jangan halangi Vaal untuk bertemu Kak Kafeel –“
“Tidak ada dari kami yang akan menghalangimu untuk pergi ke Jakarta dan menemui Kak Kafeel, Baby –“
“Sekarang, ya Dads? Karena Val ingin segera bertemu dengan Kak Kafeel–“
“Tapi Kak Kafeel ----“
“Please Daddy ... Poppa ... Papa ... Val mo – hoon ----“
“Baiklah ...” Daddy R yang mengiyakan ucapan Val. Setelah ia sempat saling tatap dengan yang lain.
🌷
🌷
VAL’s POV.....
Banyak hal yang aku kemudian rasa dan alami setelah aku membuka mata, lalu tahu – tahu katanya aku berada di pulau rahasia Abang.
Aku koma --- katanya. Selama kurang lebih 6 bulan. Dan aku, terheran – heran pastinya.
Tak cukup dengan itu, aku mengalami amnesia. Amnesia yang aneh. Karena aku tidak mengingat masa setelah usiaku 14 tahun, dimana sekarang aku berusia 18 tahun.
Tak percaya --- pasti!.
Namun lambat laun aku mencoba menerimanya.
Aku, yang berusia 18 tahun.
Dengan banyak kejanggalan yang aku lihat, lalu perasaan aneh yang aku rasakan dari sejak aku berada di pulau rahasianya Abang, bahkan sampai aku sudah kembali ke mansion keluargaku yang berada di London.
---
Kala itu, pertanyaanku tak terjawab mengenai hal tersebut.
Karena selanjutnya, baik Dad R dan lainnya yang sedang bersama Dad R sebelum aku mendekati mereka, aku ingat terkejut setelah aku berkata tentang ingatan terakhirku.
Lalu aku, diperiksa dengan intens dan begitu seksama.
Pria yang sebelumnya ingin diperkenalkan padaku itu, tidak aku pikirkan untuk beberapa saat setelahnya.
Namun tak seberapa lama, aku mulai merasakan kembali eksistensi pria itu di sekitarku. Namun tidak sekalipun ia mendekatiku.
Terkadang aku dapati dia memperhatikanku dari jauh.
Menatapku dengan tatapan yang kala itu aku tidak pahami.
Aneh juga bagiku.
Hingga sampai aku merasa was – was dibuatnya.
Dan sikapku jadi antipati padanya, walau ia tak pernah mendekatiku, atau menyapaku.
Tidak pernah aku tahu bagaimana bentuk suaranya, sampai ia tidak pernah aku lihat lagi di Little Star Island pada sisa waktuku sebelum aku kembali ke mansion utama yang berada di London.
Dia pun, aku lupakan.
Lalu keanehan, seolah bertubi menghampiriku setelah aku tiba di mansion utama keluargaku.
Aku yang merasakan ada sesuatu yang hilang pada dinding kamarku, lalu suara pria yang sama sekali tidak aku kenali mengiang sering di telingaku, bahkan sering hadir dalam mimpiku.
Hanya suara tanpa sosok.
Kebalikan dari pria yang selalu memperhatikanku dengan pandangan rumit di Little Star Island.
Sosoknya ada, namun suaranya tidak pernah aku dengar.
Pria yang hanya suaranya saja sering terngiang di telingaku, serta pria yang pandangan rumit jika menatapku dalam jarak tertentu, sama – sama misterius untukku.
Aku tidak tahu, apakah itu pria yang sama --- kala itu.
Tak aku cari tahu lebih jauh, namun semasa itu aku sering mengalami dejavu.
Lalu mimpi – mimpi yang berupa potongan yang tidak aku pahami sama sekali.
Hingga beberapa jam lalu, seolah sebuah film terputar dalam mimpiku --- tentang kejadian – kejadian yang sebelumnya hanya penggalan acak, namun kemudian kini menyambung berurutan.
Yang pada akhirnya, membuatku bisa melihat siapa pria yang suaranya hanya sering aku dengar walau dalam dejavu serta mimpiku.
Pria yang sama, yang kala itu Dad R – Abang – Kak Tan-Tan serta Papa pertemukan denganku. Yang sering diam – diam memperhatikanku di Little Star Island.
Pria ... yang kini sudah aku ingat secara keseluruhan.
__ADS_1
Pria ... yang aku kenal dengan sangat.
Pria yang sangat aku cintai.
Yang membuatku gila setengah mati.
Bahkan saking begitu gila dan setengah mati mencintainya, aku sampai nekat mengundang kematian itu pada diriku.
Pria itu ... Kafeel Adiwangsa.
Kak Kafeel tercintaku ...
Yang ingin aku temui dengan cepat sekarang ini.
Tak peduli, meski kini ia sudah menjadi suami seseorang.
Yang jelas, aku ingat bila pria yang dipertemukan oleh 4 pria hebat lainnya dalam keluargaku waktu itu, lalu ia menjaga jarak dariku di Little Star Island --- namun sering mencuri masa untuk memperhatikanku dalam jarak tertentu\, adalah Kak Kafeelku.
Itu artinya, meski dia sudah menikah, namun Kak Kafeel memilih mendampingiku yang koma.
Kak Kafeel selalu ada, sampai aku membuka mata dan tersadar dari komaku itu ...
Kak Kafeel selalu ada di dekatku selama aku koma, lalu tetap berada di sana sampai keadaanku mulai membaik.
Dan saat itu aku tidak mengenalinya.
Betapa aku menyesali hal itu. Merutuki amnesia anehku ini.
Karena andai aku tidak mengalami amnesia aneh ini, mungkin setidaknya, aku bisa menyalurkan rinduku padanya.
Meski sejenak, meski sedetik.
Sebelum Kak Kafeel kembali pada istrinya.
Tapi sayangnya, amnesia anehku ini membuatku melewatkan kesempatan itu.
---
Tak apalah, yang berlalu biar saja berlalu.
Namun hari ini, harus terus dijalani.
Dan hari ini, aku ingin bertemu Kak Kafeel.
Tanpa mau menunda, bagaimanapun caranya.
---
Dan disinilah aku sekarang.
Di dalam jet pribadi milik keluargaku yang jadwal penerbangannya para Dad-ku siapkan dengan mendadak atas permintaanku yang mengiba pada mereka.
Aku akan menuju Jakarta.
Menuju Kak Kafeelku.
Dia yang selalu ada saat aku koma sampai aku tersadar dan kondisiku membaik, lalu pandangan Kak Kafeel kala itu yang setelah aku ingat dan kini aku pahami --- adalah pandangan kerinduannya padaku.
Membuat aku yakin, jika Kak Kafeel masih mencintaiku. Sangat yakin.
Maka itu aku tidak mau menunggu untuk menemuinya, berhambur padanya. Kemudian memeluk Kak Kafeel untuk menyalurkan rinduku yang teramat padanya saat ini.
Tak peduli meski Kak Kafeel sudah menikah sekarang.
Aku akan memperjuangkan cintaku.
Kak Kafeel tidak cinta pasti pada istrinya, karena pernikahan mereka adalah bentuk tanggung jawab Kak Kafeel yang khilaf --- jika tidak salah.
Saat aku mengingat kala itu aku mendengar Kak Kafeel berkata pada Dad R, sebelum aku menangis dan menjerit sangat histeris.
Kak Kafeel juga aku ingat nampak sedih sekali bahkan menangis memandangiku.
Jadi, atas hal itu, aku yakin sekali jika Kak Kafeel masih sama mencintaiku seperti dulu.
Lagipun, dia berada di Little Star Island saat aku koma. Meski sejak kapan, belum aku tanyakan pada keluargaku.
Aku keburu excited untuk segera pergi ke Jakarta.
Tapi setelah aku ingat – ingat, dalam aku memandangi langit dari jendela jet saat ini --- Kak Kafeel lama menemaniku.
Aku ingat, aku sering mendengar suaranya saat aku berada dalam ‘kegelapan’ --- dari sekian banyak suara isakan, lirihan dan tangisan yang pernah aku dengar sebelumnya.
Jejak harum kasturi menenangkan yang sering menyapa indera penciumanku ketika di Little Star Island, sekarang aku kenali adalah jejak harum tubuh Kak Kafeel. Harum kasturi itu sering tertangkap dalam penciumanku.
Jadi ya, aku besar kepala sekarang.
Meski Kak Kafeel sudah mempunyai istri, tapi dia mencintaiku.
Jadi selain untuk melepas rinduku pada Kak Kafeel, aku membawa misi lain denganku saat ini.
Menjadi pelakor!
Akan aku rebut Kak Kafeelku kembali!
Titik!
Eh, tapi bagaimana ya caranya biar aku menjadi pelakor yang elegan?
End of VAL’s POV.....
🌷🌷🌷🌷
To be continue.....
__ADS_1