
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...
“Aku mencintai Val.”
Kafeel menegakkan duduknya, bicara dengan serius sembari memandangi lima orang yang berada didekatnya saat ini.
“Dan telah aku sadari itu.... Telah juga aku mengatakannya pada Val. Dan kini kami telah resmi berhubungan sebagai kekasih.”
Praannngg!!.
Suara benda yang jatuh lalu pecah membuat Kafeel sedikit mengendikkan bahunya.
Dimana rasa deg-deg-an langsung menyelusup di dalam hati Kafeel yang langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
Mungkin saja salah seorang Daddy nya Val itu tidak terima dengan ucapan Kafeel yang dengan lantang namun tak kencang juga ia bersuara, telah mengatakan bahwa dirinya dan Val telah menjalin kasih.
Itu yang Kafeel pikirkan.
Tapi yang tertangkap oleh mata Kafeel adalah,
“Ish, parkinson lo?! .. megang cangkir aja ga becus?” Daddy Dewa sedang menoleh pada Papi John, si pelaku pemecahan sebuah cangkir kopi.
“Sembarangan lo Dewa Mabuk!”
Yang dikatai oleh Daddy Dewa pun dengan cepat menyergah cibiran suami Mom Ichel itu.
“Tangan gue slip mau ambil ini cangkir!”
itu Papi John yang menyambung sergahan-nya. Dan Daddy Dewa berdecak.
Sementara itu empat yang lainnya hanya geleng-geleng saja, dan Kafeel tetap dalam sikapnya seperti saat dia mengatakan dengan lantang tentang perasaannya pada Val tadi.
Sedikit Kafeel merasa lega.
‘Hh, gue kira gue dia lempar pakai cangkir...’
Hati Kafeel bermonolog.
“Gue hanya ingin membantu si Seli aja mengambil ini cangkir bekas kita sebelumnya!”
Papi John masih berbicara, yang seperti sedang berdebat dengan Daddy Dewa itu.
‘Ya ampun gue lagi ngomong serius sampai deg-degan, mereka malah debat unfaedah!’
♥
Kafeel hanya berkesah saja dalam hatinya melihat dua orang tua yang berdebat unfaedah soal cangkir yang pecah. Meski dirinya agak sebal juga, karena ucapan dan sikap seriusnya yang dia pikirkan dengan matang untuk dikatakan, serta mengumpulkan segenap keberanian untuk menghadapi tiga naga pertama perihal hubungannya dan Val seperti tidak ditanggapi oleh mereka yang Kafeel ajak bicara itu.
‘Biarlah.’
Kafeel membatin.
Membiarkan saja dua orang yang tahu-tahu berdebat unfaedah itu selesai.
‘Gue rasa gue sudah bicara dengan jelas dan serius tadi..’ kata hati Kafeel lagi.
“Ehem!”
Mendengar suara deheman, Kafeel langsung tertarik dari lamunannya.
“Kau katakan apa tadi?...”
Daddy Jeff yang berbicara, sambil melihat pada Kafeel dengan lekat dari tempatnya duduk.
Kafeel menegakkan kembali duduknya. “Aku—“
“Kau mencintai Val? .....” potong Daddy Jeff.
“Iya Uncle. Aku ---“
Lagi, ucapan Kafeel dipotong.
“Menyayanginya maksudmu? .....”
Kafeel menarik sudut bibirnya. “Menyayangi dan mencintainya sebagai lelaki.”
Kafeel kemudian menjawab dengan tanpa ragu pada Daddy Jeff yang sedang menatap padanya itu. Dimana kini semua yang berada dihadapan Kafeel yang terlihat sedang duduk santai itu, kini sama seperti Daddy Jeff.
Menatap pada Kafeel. Nampak tenang, namun tak menampik jika wajah mereka nampak serius. Kafeel pun sama. Menatap pada semua orang yang sedang menatapnya itu dengan tenang, namun tetap menegakkan tubuhnya.
Menampakkan keseriusan ucapannya, karena memang itu yang sesungguhnya Kafeel rasa pada Val kini, sesuai dengan apa yang hatinya rasakan. Mencintai Val, layaknya seorang pria yang mencintai seorang wanita. Bukan lagi sekedar menyayangi.
“Aku sudah menyadari jika sayang yang aku punya untuk Val, tak lagi sebagai kakak lelaki sebagaimana Alva dan Nathan pada Val,” sambung Kafeel dengan lugas, dengan mantap berucap sambil menatap satu-satu para orang tua Val yang sedang menatapnya kini. Termasuk juga pada Nathan dan Via.
Menatap tak gentar, namun dengan sorot rasa hormat. Pada para orang tua Val tersebut, bahkan pada Nathan dan Via. Selain Kafeel memang sedang menunjukkan keseriusannya pada ke enam orang tersebut.
“Aku mencintai Val.” tegas Kafeel, namun dengan nada suara yang rendah. “Dan aku ingin meminta ijin pada kalian, Uncles. Aunt Ichel, bahkan pada lo, Than. Tentu juga Via –“ Kafeel sebentar menjeda ucapannya, tersenyum pada mereka yang ia sebutkan tadi. “Untuk dapat membiarkanku menjalin hubungan dengan Val sebagai sepasang kekasih.”
“Ka-mu, serius ini Ka? ....” Ini Mommy Ichel yang bertanya pada Kafeel.
“Sangat serius, Aunt.”
Kafeel pun menjawab Mom Ichel dengan meyakinkan.
“Benarkah? ....”
Daddy Jeff menyela.
Dan Kafeel segera mengangguk.
“Be—“
Kafeel hendak juga menjawab pertanyaan Daddy Jeff untuk mengiringi anggukkan nya.
Namun Daddy Jeff lagi-lagi keburu memotong kalimat Kafeel.
“Bukan karena kau merasa kasihan?” sambung Daddy Jeff. “Atau mungkin karena kau merasa risih dengan kelakuan putri kami yang satu itu padamu, lelah dikejar, lalu kau putuskan untuk menerimanya sebagai kekasihmu, atau karena kau yang merasa sungkan pada kami? ..”
Daddy Jeff pun bicara panjang lebar dengan gelagat yang santai, sambil menyesap minuman baru yang disediakan salah satu asisten rumah tangga mereka tadi, namun mata Daddy Jeff tak putus memandang pada Kafeel.
“Hem, Ka?” Daddy Jeff ingin mendengar jawaban Kafeel.
“Tidak, Uncle----”
Kafeel tersenyum.
__ADS_1
“Dengan tidak mengurangi rasa hormatku padamu, dan pada kalian ----“
Kafeel juga menatap mereka selain Daddy Jeff.
“Tidak ada satupun dari apa yang Uncle katakan tadi benar adanya mengenai perasaanku pada Val.”
Dimana Kafeel menatap dan menunjukkan keyakinan dengan sikap dan suaranya, pada enam orang yang berada dihadapannya sekarang ini.
“Aku mencintai Val, karena memang aku mencintainya. Entah apa yang membuatku jatuh cinta padanya, sulit untuk aku jelaskan pada kalian. Namun yang jelas, aku meyakininya. Aku mencintai Val dengan setulus hati tanpa ada embel-embel sungkan pada kalian yang telah begitu baik padaku, apalagi kasihan...”
Kafeel lanjut bicara pada ke enamnya, dengan sikap dan nada suara yang sama.
“Bahkan rasanya aku sebenarnya telah jatuh cinta pada Val sejak lama, namun karena banyak pertimbanganku secara pribadi kala itu, jadi aku menepiskannya.”
“....”
“Tapi hari ini, entah mungkin Val telah lelah atau apa. Disaat dia mengatakan akan menjaga jarak denganku, hatiku merasa tidak rela. Membayangkan Val menjauhiku, entah kenapa ada rasa yang tak nyaman menjalar dalam hatiku ini seiring rasa ingin memiliki Val yang kemudian aku rasakan menjadi begitu besar dan menuntut ...”
“....”
“Jadi ya. Aku rasa. Aku yakin jika memang aku telah mencintai Val yang entah sejak kapan.”
Kafeel kembali menarik sudut bibirnya.
“Dan aku tidak lagi ingin menjadi munafik, dengan mencoba menepiskan kenyataan bahwa memang aku mencintai Val, dan membuat diriku sendiri tersiksa. Aku tidak mau.”
Tiga Daddy, satu Mom, satu kakak lelaki dan satu kakak ipar Val belum ada yang berkomentar. Mereka masih membiarkan Kafeel berbicara, sampai sahabat yang merangkap sebagai orang kepercayaan Varen itu menyelesaikan ucapannya sampai tuntas.
“Aku ingin membuat Val bahagia, karena itu pun akan membuatku bahagia. Aku mencintai Val. Setulus hati, meski aku sadar jika aku mungkin tidak sebanding dengan kalian, dan aku bukan pria sempurna. Tapi aku mencintainya. Jadi mohon, berikan aku kesempatan untuk bersama Val.”
Kafeel menutup penuturannya.
“Jadi, apa aku diijinkan?..” tanya Kafeel kemudian.
♥
“Well Boy...... Ucapanmu terdengar meyakinkan—“
Papi John bersuara.
“Tapi apa kau pikir itu cukup membuat kami yakin atas kesungguhanmu pada Val?”
“Jika memang seperti itu Uncle,” tanggap Kafeel pada perkataan Papi John. “Maka katakan saja apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan kesungguhanku, jika aku tidak main-main dengan Val.” lanjut Kafeel tak gentar.
“Hem...” Papi John berdehem, lalu lempar tatap dengan lima lainnya.
“Katakan jika kami percaya dengan kesungguhanmu pada Val, tapi untuk ijin yang sesungguhnya, kau, perlu bicara pada orang tua kandung Val.”
Daddy Dewa yang kemudian angkat bicara.
Dan Kafeel pun mengangguk paham. “Aku juga sudah memikirkannya. Mungkin saat Val kembali ke London nanti, aku akan meminta ijin pada Alva untuk menyertai Val ke London untuk bertemu para Dad dan Momnya Val yang berada disana. Uncle R dan Aunt Ara terutama ...”
Kemudian Kafeel berbicara. Masih dengan sikap dan nada suaranya dengan tutur kata yang lugas seperti sebelumnya. Daddy Dewa pun manggut-manggut, lalu lempar tatap lagi dengan Papi John dan Daddy Jeff. “Ya sudah kalau begitu,” ucap Daddy Dewa kemudian.
“Jadi bagaimana?” Kafeel kembali bertanya.
“Apanya yang bagaimana?..” Daddy Dewa masih mendominasi dua Daddy yang lainnya untuk bicara dan menanggapi Kafeel.
“Ijin untukku bersama Val dari kalian, Uncles, Aunt Ichel .....” tanya Kafeel.
“Alva sudah tahu hal ini?” tanya Daddy Dewa lagi.
Kafeel menjawab cepat seraya menggeleng.
“Tapi aku sudah mengirimkannya pesan.” Sambung Kafeel. “Alva tidak akan mengaktifkan ponselnya pada saat jadwal rutin waktu personalnya dengan Drea. Jadi aku memberitahukannya lewat pesan—“
Kafeel sedikit bergerak untuk mengambil ponsel dalam saku celananya.
“Ini pun belum terkirim ..”
Kafeel lanjut bicara setelah mengecek pesan chat yang ia kirimkan pada Varen.
“Heem,” para Dad terdengar berdehem.
“Jadi bagaimana?”
Kafeel kembali bertanya pada mereka yang sedang berada di dekatnya itu, karena ingin segera mendapatkan kepastian.
“Uncle Jeff, Uncle Dewa, Uncle John, Aunt Ichel, Nathan, Via..... Apakah kalian memberikanku ijin untuk bersama Val?...”
Kafeel menuntut jawaban dari mereka yang ia sebutkan itu. Dan meski Nathan serta Via lebih muda usia darinya pun, Kafeel tetap menanyakan pendapat keduanya.
Bukan karena Kafeel cari muka.
Karena seyogyanya Kafeel bukan orang yang seperti itu.
Kafeel benar-benar menghormati setiap anggota Keluarga The Adjieran Smith, selain ia merasa hutang budi atas kebaikan para Dadnya Val terutama pada ayahnya, juga pada keluarganya, dari sejak ayah Kafeel masih hidup.
Diluar itu, Kafeel memang santun orangnya. Dan itu diketahui oleh setiap anggota keluarga The Adjieran Smith.
Kafeel santun, juga tulus, selain jujur. Keluarga tersebut tahu hal itu dengan pasti. Tentu saja. Karena satu keluarga itu punya kepekaan yang luar biasa.
Jika sikap Kafeel yang selama ini ada di permukaan kiranya hanya dibuat-buat saja, keluarga tersebut tidak akan menerimanya seperti sekarang. Bahkan Varen menjadikannya sahabat dan salah satu yang menjadi orang kepercayaannya.
“Maaf, jika aku terkesan tak sabar... Tapi aku benar-benar mengharapkan untuk mendapat jawaban dari kalian sekarang,”
Kafeel kembali berbicara.
“Sebelum aku meminta ijin anggota keluarga ini yang lainnya, terutama mereka yang berada di London, termasuk para kakek dan nenek Val.. Karena jawaban kalian sekarang ini setidaknya akan dapat membantuku untuk mengambil langkah ....”
Kafeel masih lanjut berbicara.
“Jika kalian setuju, aku akan sangat berterima kasih. Karena bebanku untuk menghadap dan memperjuangkan hubunganku dan Val setidaknya berkurang, pada Uncle R terutama. Tapi jika kalian keberatan, aku akan introspeksi diri lebih lagi. Namun begitu, mohon kalian katakan padaku pertimbangan apa yang kiranya membuat kalian tidak setuju jika aku menjadi kekasih Val.”
“Well ..” Papi John bersuara.
Melihat ke arah Kafeel dengan tatapan yang sedang coba Kafeel artikan, sebelum salah satu Dadnya Val itu melanjutkan ucapannya.
Kafeel masih memperhatikan Papi John yang sejenak melempar tatap lagi dengan lima lainnya.
“Jika kau bertanya ijin dari kami, ya meski kami disini adalah orang tua Val, rasanya kami juga tidak berhak untuk memberi keputusan boleh atau tidaknya kau dekat dengan Val dalam hubungan yang serius .. Tapi karena kau bertanya--”
Papi John menjeda kalimatnya, menoleh lagi ke arah lima orang anggota keluarganya yang lain sebelum melanjutkan untuk berbicara.
“Kami tidak punya alasan untuk tidak mengijinkanmu menjalin kasih dengan Val.” Papi John lanjut bicara. Dia menarik sudut bibirnya. “Setiap kebahagiaan mereka di dalam keluarga ini, adalah sebuah prioritas ..”
“Jadi, maksud Uncle –“
Kafeel berbicara.
__ADS_1
Sudut bibirnya mengukir senyuman tertahan, dengan mata Kafeel yang tampak berbinar.
Karena Kafeel merasakan, jika ia tidak salah dengar, kalimat Papi John yang terakhir itu menyiratkan bahwa ijin pertama dari keluarga Val yang berada di Jakarta telah dikantungi.
Kafeel menatap dengan berharap pada Papi John serta lima lainnya bergantian.
Papi John yang memang duduk di dekat Kafeel kemudian menampakkan seutas senyumnya.
“Kami memberi ijin.” Kata Papi John.
Sambil salah satu Dad-nya Val itu menepuk-nepuk satu lutut Kafeel yang duduk di dekatnya.
“Be-benarkah Uncle? ..” tanya Kafeel dengan sedikit terbata, kemudian ia menatap satu-satu lima orang lainnya.
“Hemm ..” suara deheman terdengar dari mulut Papi John yang manggut-manggut.
Dimana mata Kafeel bertambah binarnya, dengan mulutnya yang terbuka dalam ekspresi yang senang.
Saat Kafeel melihat empat orang tua Val menganggukkan kepala mereka dengan tersenyum.
Nathan juga tersenyum sambil mengangkat jempolnya pada Kafeel disamping Via yang tersenyum senang.
“Terima kasih Uncle!” Kafeel berseru dengan penuh semangat dalam ekspresi rasa senang yang mendominasi keseluruhan wajahnya.
Ia bahkan sampai berdiri dari duduknya saking Kafeel tak percaya, jika dia telah lolos dengan baik dari palang pintu pertama keluarga Val.
“Yes!” Kafeel mendesis penuh semangat. Membuat enam orang yang ada didekatnya itu jadi cekikikan melihat tingkah Kafeel yang selama ini terlihat kalem pembawaannya. “Terima kasih!” ucap Kafeel sekali lagi sambil tetap memandangi satu-satu enam orang yang ada dihadapannya itu.
Setelahnya, Kafeel nampak menarik nafas kelegaan sambil memegang dadanya. Kembali, enam orang yang berada bersama Kafeel sekarang terkekeh kecil lagi dengan tingkah Kafeel yang nampak sedikit menggelikan.
‘Jika Kafeel nampak sebahagia itu, Val pasti lebih bahagia ..’ batin Mom Ichel yang tersenyum penuh arti sambil memperhatikan Kafeel setelah ia terkekeh kecil barusan bersama lima lainnya.
♥
Mata Kafeel kembali fokus pada ke enam orang yang berada di dekatnya saat ini, ketika Daddy Jeff terdengar bersuara. “Tapi perlu kau ingat Ka, ijin kami bukanlah ijin yang mutlak untukmu berhubungan dengan Val ..”
“Iya Uncle Jeff ..”
“Keluarga kami memang tidak pernah mempermasalahkan siapapun yang menjadi pilihan mereka yang ingin dijadikan pendamping hidup .. Namun begitu, Val tetap memiliki orang tua kandung yang mungkin memiliki kriteria sendiri untuk pria yang akan menjadi pendamping hidup Val. Bukan masalah umur rasanya, karena para nenek menikah saat usia mereka belasan tahun, termasuk juga Drea yang menikah saat ia berumur tujuh belas tahun ..”
“Iya Uncle ..”
“Tentang rentang umur pun rasanya tidak akan menjadi masalah, karena aku dan Prita berbeda hampir dua belas tahun.”
Papi John yang kemudian bersuara.
“Jadi jikapun ada pertimbangan lain dari R dan Ara untuk Val, jelas diluar itu ..”
Kafeel pun mengangguk paham ucapan dua Daddy Val yang barusan berbicara padanya itu.
“Namun apa dan bagaimana pertimbangan mereka, kami tidak bisa menebaknya ..”
“Iya Uncle John ..”
Kafeel kembali menyahut.
“Seperti yang aku katakan tadi, setelah dari sini, aku akan meminta ijin pada Alva untuk ikut pergi ke London saat Val akan kembali kesana nanti ..”
Kafeel pun mengatakan lagi rencananya.
“Baiklah kalau begitu.”
Kali ini Daddy Dewa yang bicara.
“Terima kasih Uncles, Aunt Ichel, Than, Via ..”
“Sama-sama ..” sahut tiga orang Daddies, satu Mom dan dua kakak Val itu.
“Sekali lagi perlu kau ingat Ka, yang akan kau hadapi adalah Moreno Aditama alias Reno Aditama Adjieran Smith. Seseorang yang tidak akan pernah bisa kau tebak isi otaknya, kecuali kau seorang Andrew Smith. Jadi selain berusaha, berdoalah banyak-banyak, agar ia merestui mu untuk bersama Val. Karena jika ia tidak merestui meskipun kau dan Val saling mencintai, percayalah, kalian tidak akan pernah bisa bersama, walau bumi terbelah dua ..”
‘Ya ilah kenapa jadi diingetin lagi sama itu naga non bonar sih?! Gue jadi gugup lagi ini bisa-bisa! Mana begitu lagi, kalimatnya Uncle Jeff. Buat gue down lagi aja buat menghadapi Uncle R nanti!’ Batin Kafeel yang kembali mulai gelisah dan was-was. “Iya Uncle, aku akan mengingat hal itu ...”
Kafeel menanggapi ucapan Daddy Jeff yang terdengar seperti sebuah peringatan keras baginya.
“Kalau begitu, jika boleh, aku ingin meminta ijin untuk membujuk Val ..” ijin Kafeel pada ke enamnya.
“Silahkan saja ..”
“Terima kasih.” Ucap Kafeel.
“Ayo Kak, aku anter ke kamarnya Val.”
♥
Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...
Keesokan harinya ..
Dengan semangat ’45 Kafeel memasuki area dalam Kediaman tersebut seraya mengucapkan salam.
Ijin semua orang untuk lebih dekat dengan Val dan menjalin hubungan dengan kekasih kecilnya itu, telah Kafeel kantungi, termasuk dari para tetua.
Hanya tinggal menyiapkan diri untuk menghadapi orang tua Val yang berada di London. Daddy kandungnya Val terutama.
Daddy R.
‘Gue akan cari tahu dengan detail, gimana cara gue meyakinkan Uncle R tentang kesungguhan gue pada Val, saat menghadap dia di London nanti. Masih ada waktu buat memikirkan cara apa yang akan gue gunakan untuk meyakinkan Uncle R. Meski agak ngeri-ngeri sedep juga sih, soalnya gue udah coba menghubungi tapi ga bisa-bisa, chat gue juga ga dibales lagi. Jangan-jangan dia ga terima kalau gue udah cium anaknya? .. Gimana ya kalau begitu? .. Ada indikasi gue ga direstui ini bisa-bisa!’
Kafeel bermonolog dalam hatinya saat memasuki area dalam Kediaman keluarga besar Val yang berada tersebut.
‘Ah, gue masih punya waktu buat berpikir untuk menaklukkan itu biangnya ‘naga’!’ Hati Kafeel yang penuh semangat.
Dan dengan semangat pula ia mengucapkan salam saat sudah berada di pintu depan.
“Assalamu'alaikum!” ucap Kafeel dengan lantang namun tetap mempertahankan kesopanan. ‘Nanti kalau gue berhadapan dengan Uncle R, jangan sampai gue berhalusinasi lagi seperti kemarin! ‘Naga’ yang mengerikan! Bisa membuat gue macam orang gila, hanya karena pesan chatnya aja! Sekaligus menyebalkan ’
Sambil juga Kafeel menggerutu dalam hatinya. Dan gerutunya terhenti, saat sahutan salamnya pun terdengar dari dalam Kediaman.
“Selamat pa ---“ Kafeel bersuara, namun kemudian terhenti seketika.
“Wah, wah, lihat siapa ini? Kekasih Val, heh?”
Dimana sebuah suara keburu menyapa Kafeel yang spontan langsung meneguk salivanya.
‘Anjrit! Gue baru membayangkan dia barusan aja, udah halu lagi gue!’ kata hati Kafeel saat melihat ‘naga menyebalkan’ itu, ada dalam pandangannya saat ini. ‘Tarik nafas Ka, itu ‘naga’ Cuma halusinasi lo lagi macam kemarin!’
♥♥♥
To be continue ..
__ADS_1
Happy weekend blaem-blaem people!!