HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
K E K H A W A T I R A N


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Little Star Island, Isola, Italy,


“I-ni, di rumah, sakit, ma-na?” ( Val ).


“Ini bukan di rumah sakit, Kak. Ini di kastilnya Abang yang di Isola itu loh, yang kita ga pernah diajak ke sini sama Abang yang katanya rahasia. Nah karena Kak Val koma dan butuh perawatan khusus jadi Kak Val di bawa kesini...” ( Ares ).


“Ah, iya... a-ku ini, ko-ma?...” ( Val ).


“Iya Kak, Kak Val koma setelah—“ ( Aina ).


“Ares, Ain...” ( Mika ).


“Se-telah—sshh—“ ( Val ).


“Val, are you okay?...” ( Ann ).


“Ke-palaku sedikit pusing.” ( Val ).


“Val, kamu tidak apa-apa?” ( Mommy Ara ).


“Kak Val bilang kepalanya sedikit pusing, Mommy—“ ( Aina ).


“Kamu sama Ares abisnya bawel banget. Jadi Kak Val pusing karena suara kalian tadi.” ( Isha ).


“Iya, maaf—“ ( Aina & Ares ).


“Sudah, sudah. Kalian cukupkan dulu menjenguk Val ya?--Karena biar bagaimanapun, Val perlu beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya untuk nanti juga diobservasi kesehatannya oleh Kak Celine. Jadi kunjungan kalian dicukupkan dulu sekarang, ya?” ( Mommy Ara ).


“Ya sudah Val, kami tinggal dulu ya?” ( Ann ).


🌷


🌷


“Aida, ada apa? Apa Val baik-baik saja?...”


Adalah Poppa yang pertama melihat Aida keluar dari ruang rawat Val, dan ia pun langsung bertanya kepada asistennya Celine itu.


“Iya, Tuan. Nona Muda Valera baik-baik saja.”


Aida menjawab Poppa dengan tenang dan santun, seperti dia menjawab para wanita dewasa yang berada di ruang rawat Val sebelumnya.


“Lalu kenapa kau keluar dari ruangan Val?”


“Apa para Nyonya yang menyuruhmu untuk keluar?”


“Tidak, Tuan,” jawab Aida dengan santunnya lagi. “Nona Muda Valera mengatakan ingin duduk karena beliau mengeluh punggungnya panas. Jadi saya ingin bertanya pada Nona Celine apakah boleh jika Nona Valera untuk duduk sekarang ini?...”


“Celine sedang ke lab.” Varen berujar.


“Baik, Tuan Alvarend, saya akan ke lab dulu kalau begitu—“


“kau hubungi lewat intercom saja.”


🌷


“Apa yang Celine katakan, Aida?”


Gappa yang bertanya pada asisten Celine itu setelah ia kembali ke tengah-tengah para tuan.


“Nona Celine mengatakan bisa, Tuan Besar Anthony. Hanya jika Nona Muda Valera merasakan tubuhnya terlalu kaku, baiknya jangan dipaksakan. Dan dibantu untuk menggerakkan tangan dan kakinya terlebih dahulu saja jika memang Nona Muda Valera merasakan tubuhnya begitu kaku...”


“Ya sudah kalau begitu. Biar aku saja yang membantunya untuk mencoba duduk. Kalian di sini saja, nanti terlalu penuh di dalam, takut Val menjadi kurang nyaman, atau malah dia akan mulai mengoceh alih-alih istirahat—“


🌷


“Katanya kamu ingin duduk, hem?...”


Varen sudah masuk ke ruang rawat intensif Val, setelah Aida mendapatkan jawaban dari Celine jika Val bisa dibantu untuk mencoba duduk meski baru hampir satu jam ia tersadar dari ‘tidur panjangnya’.


Val pun masih nampak sayu, dengan suaranya yang masih terdengar lemah. “I-ya, Abang...” lirih Val seraya mengangguk menatap pada Varen yang sudah berada di sampingnya itu. “Pung-gung Val, panas dan pe-gal...”


Varen tersenyum pada adik kandungnya itu kemudian.


“Tapi jika tubuh kamu terasa sangat kaku, katakan ya?...”


“I, ya...”


Varen pun berhati-hati memegangi tubuh Val untuk ia bantu duduk.


“Apa tubuh kamu terasa sakit?”


“Ti-dak, Abang...”

__ADS_1


“Syukurlah.”


Varen berujar lega.


Kemudian Val sudah bangkit setengah tubuhnya dan terduduk di atas ranjang perawatannya, di detik di mana Celine kemudian sudah menyambangi ruangan Val dan sempat mengajukan pertanyaan lagi tentang keluhan yang Val rasakan.


“Se-belumnya tadi, memang aku merasakan, kaku di seluruh tubuhku... Tapi sekarang, ti-dak lagi... Malah, tu-buhku terasa ringan sekali.”


Jawaban Val yang direspons dengan anggukan oleh Celine.


“Tadi Val mengeluh kepalanya pusing,” Mommy Ara bersuara kemudian.


“Apa rasanya sakit sekali kepala anda, Nona Valera?...”


Celine lalu mengajukan pertanyaan lagi kepada Val, yang langsung mengeleng pelan.


“Ha-nya nyeri saja, sedikit... Seperti tertusuk jarum. Itu-pun hanya sedetik saja, lalu hilang...”


“Ya sudah, nanti saya akan melakukan pemeriksaan untuk itu. Tapi mungkin esok hari, setelah kondisi Nona Valera lebih stabil dari sekarang,” tutur Celine.


🌷


“Apa ini membuatmu nyaman?...”


Val yang dibantu Varen untuk duduk dengan sangat hati-hati itu langsung mengangguk sekali pada Varen yang tetap menopang tubuhnya walau Val sudah berhasil dibantu untuk duduk.


“Tapi belum bisa lama-lama dulu ya, Baby?” ucap Varen lagi. “Karena kondisi kamu masih belum pulih benar.”


“I, ya, A-bang—“


“Bagaimana perasaanmu?”


Varen lalu bertanya pada Val, dengan dirinya yang tetap memegangi tubuh Val saat adik kandungnya itu telah berhasil duduk.


Meski Val tidak mengeluhkan sakit, dan Momma telah menekan tombol ranjang perawatan Val hingga posisi kepala ranjang terangkat dan dapat dijadikan sandaran oleh Val, namun Varen tetap saja menopang tubuh adik kandungnya itu.


“Ham-pa...”


Val menjawab pertanyaan Varen, kemudian ia nampak termangu.


Varen pun sontak terdiam sambil memperhatikan Val yang setelah menjawab pertanyaannya, namun adik kandungnya itu tak lama terdiam dan nampak memandang kosong. Lalu Varen memandangi orang-orang yang bersamanya sekilas, yakni para Mom-Nenek dan Drea serta Via yang seperti Varen mendengar jawaban Val, dan melihat serta juga memperhatikan Val yang nampak memandang kosong setelah menjawab pertanyaan Varen yang bertanya tentang perasaannya.


Dan di detik berikutnya, mata Varen dan para wanita itu termasuk juga Celine yang sudah datang ke ruang rawat intensif Val, saling bicara dengan tatapan.


“Val...”


Gamma yang kemudian angkat suara, setelah ia saling tatap dengan Varen seperti lainnya yang berada di dekat Val itu.


Val lalu tertarik kesadarannya.


“Kenapa? Kok melamun?...”


Gamma lalu bertanya. Ada sedikit rasa penasaran yang mengusik hatinya.


‘Apa perasaan hampa yang dimaksud Val adalah karena Kaka?—‘


“Me-lamun?...”


Sahutan Val menarik Gamma dari lamuannya.


“Iya. Tadi habis kamu bilang perasaan kamu hampa, kamu langsung diam.”


Gamma kemudian menanggapi sahutan Val yang orangnya kemudian mengernyit kecil memandang pada Gamma.


“Heu?...”


Bahkan Val seolah tak fokus.


‘Aku tidak paham maksud Gamma...’


Val membatin.


“Val mikirin apa?...”


Mama Jihan yang kemudian bicara seraya bertanya.


Val yang langsung tertarik kesadarannya dari dirinya yang sedang terheran dalam hatinya itu ketika mendengar Mama Jihan bertanya padanya itu, kemudian menggeleng samar.


‘Kalau Val bilang dia bersedih karena ingat Kaka, mungkin sebaiknya jangan dulu Kaka gue temuin dengan Val.’


Lalu Varen juga bersuara dan bertanya, namun sebelumnya ia bermonolog dalam hatinya.


“Perasaan kamu, hampa bagaimana?...” Varen ingin memastikan apa yang ia pikirkan, untuk pertimbangan bagaimana tindakan yang akan ia lakukan nanti terkait Kafeel.


“Ham-pa?—“


“Tadi kamu bilang perasaan kamu hampa. Apa—“

__ADS_1


“Me-mangnya, tadi, Val bilang begitu ya?—“


“Kan, waktu Abang tanya tadi bagaimana perasaanmu, lalu kamu jawab, jika perasaanmu hampa, lalu kamu terdiam...”


Varen lalu menukas ucapan Val, namun Varen lakukan dengan beberapa pemenggalan agar Val paham ucapannya.


Karena bisa saja, efek obat-obatan yang masuk ke dalam tubuh Val selain Val belum lama tersadar dari koma selama hampir enam bulan---membuat telinga Val sedikit pengang.


“Me-mangnya, kapan Abang bertanya soal perasaan Val?—“


🌷


“Val gimana kondisinya, Kak Celine? Udah oke kan?... Maksud aku, ga ada indikasi Val akan balik koma lagi kan, Kak?...” Aro bertanya pada Celine ketika salah satu orang kepercayaan Varen dari tiga, jika Kafeel masih termasuk dan masih dianggap oleh Varen sebagai orang kepercayaannya---setelah sebelumnya Varen sempat mengucapkan cukup banyak kata pada Kafeel. Celine pun sudah hendak menjawab pertanyaan Aro itu.


“Nanti saja kalau kalian ingin bertanya banyak pada Celine, Aku ingin bicara dengannya terlebih dahulu.” Namun sebelum Celine sempat menjawab pertanyaan Aro, Varen sudah keburu bicara dan Celine pun urung untuk menjawab pertanyaan Aro tadi.


Aro pun mengangguk setelah mendengar Varen berbicara.


“Ada apa, Boy?”


Merasa jika wajah Varen nampak serius seperti sedang ada yang mengganggu pikiran anak sulungnya itu, Dad R lantas bertanya pada Varen.


Dan Varen pun langsung menjawab pertanyaan ayah kandungnya itu.


“Hanya ingin mengetahui hasil observasi awalnya Val saja, Dad—“


“Ya sudah. Katakan pada kami nanti bagaimana hasilnya.”


Dad R menukas ucapan Varen yang langsung mengangguk kemudian.


Namun sebelum Varen menggerakkan kakinya menjauh dari para pria yang ada di dekatnya saat ini, Varen memandang Kafeel, memanggilnya, kemudian berbicara lagi pada pria itu.


“Saat The Dads, Gappa dan Ake masuk untuk menjenguk Val nanti, lo jangan ikut dulu. Lo bisa bertemu Val, saat kondisinya sudah jauh lebih baik dari sekarang.”


Dan nada bicara Varen pada Kafeel tidak lagi seperti memberi penegasan, melainkan bernada sebuah permintaan.


“Iya, Va. Gue paham—“


“Thanks,” tukas Varen lalu ia melangkah menjauhi para pria yang sedang berkumpul di depan ruang rawat Val itu, dan Celine mengekorinya.


🌷


Seluruh anggota keluarga The Adjieran Smith yang berada di Little Star Island telah mendapatkan giliran mereka untuk menjenguk Val pasca komanya.


Dan kini, Val dibuat agar beristirahat lagi oleh Celine untuk pemulihan stamina tubuhnya selain Val sudah mendapat asupan makanan langsung setelah selama kurang lebih hampir enam bulan lamanya, Val hanya mendapatkan nutrisi melalui infusan.


“Bocah tengik. Kemari. Aku ingin bicara.”


Adalah Poppa yang memanggil Varen, ketika ia sedang duduk bersama Momma di ruang santai lantai dua dan Varen baru saja keluar dari kamarnya bersama Drea dan anak lelaki mereka.


“Ada apa?” tanya Poppa kemudian, setelah Varen duduk di salah satu sofa kosong di ruangan terbuka di bagian dekat kamarnya dan Drea.


“Apanya yang ada apa, Pop?...” Varen balik bertanya pada Poppa.


“Saat kau keluar untuk bicara dengan Celine dari ruangan Val, aku perhatikan wajahmu sedikit serius. Dad R pun menangkap hal yang sama denganku. Apa dia sudah mengatakannya padamu?”


“Aku belum sempat bicara lagi dengan Dad. Dia terlalu sibuk melepas rindu dengan Val bersama Ibu Peri.”


“Heem...” Poppa manggut-manggut kecil kemudian.


“Kalau soal Val, secara keseluruhan, kondisi tubuhnya stabil. Tapi aku merasakan sedikit kejanggalan pada dirinya...”


🌷


“Kejanggalan?...”


“Hemm,” jawab Varen.


“Kejanggalan yang bagaimana?”


Mom Ichel yang juga ada bersama Poppa dan Momma di satu ruangan dalam kastil itu lantas bertanya setelah Varen berdehem mengiyakan ucapan Poppa.


“Mom ingat aku bertanya pada Val soal bagaimana perasaannya ketika aku membantunya untuk duduk tadi?... Tapi setelahnya ia malah balik bertanya kapan aku bertanya soal itu padanya.”


Varen menjawab pertanyaan Mom Ichel.


“Aku khawatir Val mengalami gangguan fungsi otak—“


🌷


🌷


🌷


To be continue......


Semoga selalu terhibur.

__ADS_1


Salam sayang sekebon orang.


💖Emaknya Queen💖


__ADS_2