HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 160


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Episode sebelumnya :


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa-Barat, Indonesia....


“Eh iya Pop! –“ (Drea)


“Hem? ..”(Poppa)


“Tadi Poppa bilang ‘dia sudah berbicara pada Dewa dan kita sebelumnya tentang niatnya pada Mika’ itu maksudnya Kak Arya?” (Drea)


“Iya ..” (Poppa)


“Maksudnya Kak Arya udah minta ijin pada Daddy Boo-Boo gitu?”


Drea bertanya lagi sambil memandang pada Poppa dan Papi John.


---


“Begitulah ..”


Papi John yang menjawab pertanyaan Drea.


“Wow!” kagum Drea.


“Biasa aja,” tukas Varen dengan nada suara dan ekspresi malas tidak terima.


“Du ilah, Bebeb Abang segitunya? ..” kekeh Drea.


“Memang biasa saja, karena aku lebih wow dari si Sadboy itu!”


Varen berucap sinis.


“Lupa? Aku bahkan sudah meminta ijin pada Poppa dan Momma dari sejak kamu lahir untuk kujadikan pasangan hidupku.”


Varen menambahkan kalimatnya, dan membuat Drea tersenyum lebar.


“Jadi aku sudah pasti lebih wow dari itu si Sadboy, dari segimanapun!”


Drea jadi ngekeh saja karena sikap Varen yang berubah menjadi seperti anak lelaki mereka jika sedang merajuk, yang mana Varen akan menjadi seperti itu, kalau Drea memuji  atau sekedar kagum pada pria lain, tanpa pandang bulu.


“Iya, iya .. Bebeb Abang yang paling Hwow!” kekeh Drea sambil mencubit gemas pipi suami super bucinnya itu.


Namun Poppa dan Papi John, berikut Nathan berdecih malas.


“Kiss? ..” kata Varen sambil memasang wajahnya untuk Drea cium.


“Najis deh!” celetuk Nathan.



“Tapi ya, Drea beneran deh ga nyangka kalo Kak Arya itu sampe minta ijin duluan atas niatnya deketin Mika gitu?” Drea lagi berkomentar.


“Ya bagus itu, ga macam dia-“ tukas Papi John, sambil menunjuk pada Kafeel. “Mengelak terus asal ditanya punya rasa atau tidak sama si ulat bulu, tahu-tahu main sambar bibir si Val!”


Dia yang merasa pun sontak terkekeh, termasuk lainnya yang sedang bersama Papi John dan Kafeel.


“Aku kan merasa rendah diri Papi.” sahut Kafeel sambil ia cengesan.“Selain aku sadar diri akan diriku yang rasanya tak pantas jika ingin bersanding dengan seorang Tuan Putri ....” tambah Kafeel.


“Cih!”


“Heleh!”


“Muna!”


Cibiran sinis pun terlontar dari mulut Poppa, Papi John, Varen dan Nathan.


Kafeel terkekeh geli saja.



Pindah area,


“Ada yang mau lo omongin lagi, Mi?” kata Arya seraya bertanya pada Mika.


Mika mengangguk.


“Apa?”


Arya sontak bertanya.


“Bukan hal yang penting sih ..” jawab Mika. “Tapi gue akan sangat menghargai kalo lo melakukannya.”



“Minta ijin pacaran sama gue.” (Mika)


“Ijin dari Daddy Dewa dan Mom Ichel?” (Arya)


“Iya-Juga dari Dad dan Mom lain, serta Abang dan Kak Tan-Tan.” (Mika)


“Hem.” (Arya)



“Kalo soal ijin sih, sebenarnya gue udah minta ijin duluan sama The Dads dan The Moms lo sebelum gue nembak lo Mi ......” ucap Arya.


“Heu?”


Mika pun menatap Arya dengan gurat tanda tanya di wajahnya.


“Gue udah minta ijin sama Daddy Dewa, Mom Ichel, bahkan sama Nenek dan Kakek lo, juga sama Abang Varen dan Kak Jo,” Arya menambahkan.


“Serius? ......”


Mika masih tak percaya dengan penuturan Arya.


“Hu’um ......” jawab Arya.


Sambil Arya manggut-manggut kecil. Lalu bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia meminta ijin pada keluarga Mika, untuk mendekati si judesgirl itu guna memenangkan hatinya.


“Dan mereka ijinin gue kok.”


Arya pun lagi berucap setelah ia menyelesaikan ceritany.



Mika dibuat tertegun oleh Arya karena apa yang sudah Mika dengar dari mulut Arya, tentang Mika yang ingin Arya meminta ijin untuk berpacaran dengannya.


Tidak hanya pada kedua orang tua kandung Mika, namun juga kepada seluruh keluarganya.

__ADS_1


Dan sungguh diluar dugaan Mika, jika nyatanya Arya sudah lebih dulu meminta ijin pada keluarganya itu, bahkan sebelum Arya mengutarakan cintanya pada Mika.


‘Makin terkikis image menyebalkan seorang Arya Narendra di mata gue sekarang... sampai dia kepikiran begitu? –‘


Mika membatin kagum.


“Kalo ga percaya, nanti lo tanya aja sama Poppa, Momma, Kake Herman, Nene Bela, Papi John, Mami Prita, Abang Varen juga Kak Jo en Kak Kaf.”


‘Ya Tuhan, aku jadi takut kalau suatu saat aku menyakiti hatinya.’


“Mi? ....” panggil Arya dengan sedikit mengernyit.


“Eh?”


Mika terkesiap kala ia merasakan sentuhan tangan di kepalanya.


Dimana Mika disuguhkan seulas senyuman saat ia menoleh ke samping kirinya itu.


“Lo ga percaya kalo gue udah ijin sama keluarga lo sebelum gue mau mendekati dan nembak lo? ....” Lalu Arya bertanya. “Mau nanya langsung sama keluarga lo yang tadi ada, waktu gue minta ijin? ....”


“.........”


“Poppa, Papi John, Abang Varen, Kak Jo sama Kak Kaf masih melek tuh kayaknya?”


“.........”


“Kalo lo mau mastiin ucapan gue bener apa engga?...”


Arya menganggukkan kepalanya untuk mengajak Mika menemui mereka yang disebut Arya tadi. Didetik berikutnya Mika mengulas senyumannya.


“Gue percaya kok, Ar...“ ucap Mika kemudian.


“Thanks ya, Mi?-“


“No need, Ar...” jawab Mika.



“Masuk yuk?...”


Arya mengajak Mika untuk masuk ke area dalam rumah Keluarga Cemara.


Mika pun mengangguk.


Arya mengulurkan tangannya pada Mika.


“Jangan malu-malu sama pacar ....” ucap Arya geli, karena Mika nampak canggung untuk menerima uluran tangannya, agar mereka jadi bergandengan tangan.


“Siapa juga yang malu-malu?”


Mika menyahut.


“Gue lagi memperhatikan tangan lo bersih apa engga? ....”


Lalu Arya terkekeh setelah mendengar ucapan Mika. “Bersih dong! Lo tenang aja. Kalo perlu mulai besok gue mandi pake disinfectant!”


Gantian Mika yang terkekeh sekarang.


“Lo harus biasakan mulai sekarang, kalo cuma tangan gue aja yang akan lo genggam seterusnya.”


Arya berucap santai, namun ada penegasan dalam ucapannya barusan, sambil ia meraih tangan Mika yang kemudian Arya genggam.


Mika tersenyum saja.


Seorang cowok yang bahkan tidak pernah Mika sangka-sangka, jika cowok itulah yang pada akhirnya ia sambut tangannya.


Terkadang takdir itu lucu bukan? ....


Bahkan dua orang yang dulunya saling lempar cibiran, sindiran, ledekan bahkan ejekan-kini tangan mereka malah saling menggenggam dan terikat pada sebuah hubungan yang bukan sekedar pertemanan.



“Ahem! Ahem!”


Begitulah kiranya sambutan yang diterima oleh sepasang insan yang sudah masuk ke ruang santai rumah Keluarga Cemara.


Arya sih mesam-mesem, namun Mika nampak sekali terlihat gugup kala di ruang santai tidak hanya ada para saudara lelaki di bawahnya-entah para saudari itu kemana, ada tiga kakak Mika yang memandang intens ke arah Mika dan Arya.


Sementara Poppa dan Papi John telah kembali ke kamar mereka, sebelum Mika dan Arya muncul ke ruang santai Keluarga Cemara.


Ditelisik secara intens oleh ketiga kakaknya, Mika kikuk.


Terlebih pada Abang Varen yang menatap tak putus padanya dan pada Arya.


Dan Mika merasa, sepertinya Abang Varen memperhatikan tangannya yang sedang saling menggenggam bergandengan dengan Arya.


Yang mana akhirnya genggaman tangannya dan Arya itu Mika coba urai, namun sayang, Arya menahan genggaman tangan mereka itu dengan mengeratkan tangannya dan tangan Mika.


Kalau para saudara lelaki di bawah Mika, yakni Aro dan Rery,  nampak sibuk memperhatikan siaran bola bersama Kafeel, namun tiga kakaknya masih tetap intens menatap pada Mika dan Arya.


Yang satu sih-si kakak perempuan, yakni Kak Drea.


Cengar-cengir dengan ekspresi menggoda Mika dan Arya yang merapat pada mereka sambil bergandengan tangan.


Sementara dua kakak lelakinya terus saja menelisik padanya dan Arya, hingga gugup Mika tak padam-padam, selain Mika jadi salah tingkah sendiri.


“Jadi, maksud dateng-dateng gandengan tangan begini kalian berdua, udah jadian?” lalu pertanyaan terlontar dari mulut Nathan saat Arya membawa Mika untuk duduk di sofa dalam ruang santai tersebut.


“Duh ilah Kak Jo, begitu aja nanya? .... kurang mesra apa gue sama adek lo keliatannya? ....”


“Gue perlu denger konfirmasi langsung dari mulut yang bersangkutan! ....”


Nathan menanggapi ucapan Arya yang orangnya kemudian mendengus geli.


“Jadi?”


Kali ini Abang Varen yang bersuara.


Bertanya, sambil memandang pada Mika dengan alisnya yang terangkat satu.


“Jadi apaan?-“


Arya menukas.


“Gue ga ngomong sama lo.”


Varen berucap dengan sinis pada Arya yang langsung mendengus geli.


“Galak amat kakak ipar-“


“Cih!”


Varen membalas dengan berdecih sinis, namun Arya cengengesan saja.

__ADS_1


Tidak dengan Mika, yang sedikit susah untuk santuy sekarang. Apalagi, Abang Varen kemudian fokus memandang padanya lagi.


“Bener udah jadian, kamu sama si Sadboy ini, May?”


Yang orangnya kemudian melemparkan pertanyaan pada Mika dengan tetap intens menatap pada adiknya itu.


Datar aja sih suara si Abang-raut mukanya juga biasa aja, tapi Mika sumpah gugup sekali rasanya menghadapi sang kakak tertua yang selalu ia elu-elukan, termasuk juga para saudara-saudarinya yang lain, yang mengidolakan kakak tertua mereka itu, dengan pandangan si Abang yang menelisik Mika seperti saat ini.


Mika tak langsung menjawab, karena ada rasa gugup dan malu untuk mengatakan jawabannya yang sesuai kenyataan perihal statusnya dan Arya yang barusan ditanya oleh Abang Varen.


“Kesambat setan bisu, atau sariawan mendadak, May?” tanya si Abang, yang membuat Mika jadi nyengir canggung.


“Aku..”


“Kamu pacaran sama dia sekarang?”


Abang Varen menyambar omongan.


Mika bergumam samar.


“Iya-“


Dan didetik berikutnya Mika mengangguk serta mengiyakan.


“Kemakan omongannya sendiri, hm?-“ tegur Abang Varen santai, namun tersirat sebuah penekanan di nada suaranya.


Mika menggigit bibirnya. Lalu Mika mengangguk samar.


“Dia ... bisa ngeyakinin aku, Abang ...” ucap Mika pelan.


“Terus, kamu langsung percaya, gitu? ...”


Varen berujar.


“Yah, jangan gitu dong Bang,” sela Arya dengan cepatnya.“Susah kan gue ngeyakinin adek lo yang satu ini buat nerima gue jadi pacarnya?-“ sambung Arya. “Lagian kan lo ada waktu gue minta ijin sama The Dads dan The Moms?-“


“Lo baru ijin buat ngedeketin dia doang, bukan ijin jadian!-“


“Ya bagus kan?, dari pada dua kali kerja??? ...” sambar Arya dengan santainya. “The Dads juga paham, kalo ngelakuin apa-apa jangan setengah-setengah. Ada kesempatan buat sekalian nembak daripada pdkt kelamaan, ya gue sambat lah!-“


“Diem lo!” sambar Varen dan Arya terkekeh.


“Ya udah, nanti pas lagi pada lengkap kumpul gue ijin lagi sama semua deh sekalian karena udah pacaran ini sama Dedek Mika-“


“Buktiin dulu keseriusan lo sama dia!-“


“Sebut, lo orang mau gue ngebuktiin kek apa keseriusan gue sama Mika?-“


“Terbang dari Burj Kalifa pake mobil,” sambar Varen.


“Vin Solar kali ah gue?!”



“Awas lo berani mainin adik kita orang.” Varen berpesan.


Namun pesan Varen sih kayaknya lebih ke sebuah peringatan.


Wajahnya nampak biasa, namun yang mengenal Varen tahu jika ucapannya itu serius.


“Berlaku ga hanya buat si Sadboy, tapi buat lo juga Ka.”


Varen memandang pada Kafeel setelah memandang pada Arya.


“Gue udah blur buat liat cewek lain-“


“Idem!”


Varen menyungging miring.


“We’ll see about it (Kita lihat sejauh mana itu)”


“Tenang Abang, aku juga ga akan membiarkan si Sadboy ini mempermainkan aku kok.”


“Masa masih manggil gue ‘Sadboy’ sih Sayangku Mika? .....” sela Arya.


“Tiba-tiba gue mual!”


“Jijik gue sumpah!”


Varen dan Nathan sama-sama mencibir sembari melirik malas pada Arya yang sontak terkekeh mendengar cibiran dari dua kakak tertua Mika.


Sementara sisanya juga ikutan terkekeh.


“Minta bukti otentik sama dia May, jangan langsung percaya sama Raja Gombal yang punya mantan berentet macem gerbong kereta!”


“Dih, Kak Jo, ga ngaca sendirinya mantan playboy yang ceweknya numpuk kek ikan asin di pasar?...” balas Arya pada Nathan.


“Tapi cinta gue ke Via udah terbukti jelas, okay???!!!-“


“Gue juga bakal buktiin kesungguhan gue sama Mika.”


“Yang jelas harus lebih dari Abang loh Kak Arya?...” salah satu dari dua orang yang sedari tadi tidak ikut nimbrung dalam obrolan, sekarang ikutan bersuara. Rery.


Yang diiyakan langsung oleh seseorang yang ada di sebelahnya.


“Yoi!” timpal Aro atas ucapan Rery.


“Contoh?” tanya Arya.


“Kalo Kak Drea jatoh-“


“Emang kenapa kalo ga Drea jatoh?...”


“Para Terminator bakal dipatahin kepalanya,” celetuk Kafeel.


“Lebih dari itu, ya ga Bang?...” timpal Aro


“Hem,” sahut Varen.


“Kasih tau apa yang bakal lo lakuin Bang, kalo ini si Cute Girl sampe jatoh?...”


Nathan dengan segera menyambar, sambil menoleh ke arah Varen.


“Gue bantai tanah tempat Drea jatuh.”


“Wuanjaaayyy!”


“Huasuuuu!”


♥♥♥♥


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2