HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
P E R N A H


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Little Star Island, Italy,


“Itu aja, atau ada yang lain lagi yang lo perlukan dan mau dibawa ke sini? ....”


Ini Arya yang berkata – seraya bertanya pada Mika, saat si Judesgirl itu sedang berada di kamar rawat intensif Val bersama Isha dan Rery.


Dimana sebelumnya, Mika hendak keluar dari kamar tersebut untuk mengambilkan sebuah buku bacaan yang sempat ditanyakan Val pada Rery.


Lalu Mika menjawab pertanyaan Arya barusan itu, “Sama laptop gue juga, boleh?“


“Oke ....“ sahut Arya.


“Makasih, ya Ar? ....”


“Cama – cama.”


Arya menyahut pada Mika sambil Arya tersenyum manis pada si Judesgirl itu, lalu jika tidak salah – Val melihat juga Mika tersenyum balik pada Arya.


Dimana interaksi itu tertangkap mata Val dengan tidak sengaja. Hingga Val spontan membatin.


‘Eh? .... Seperti ada yang aneh dengan May? ....’


🌷


Arya yang sudah bergegas untuk pergi ke kamar Mika guna mengambilkan buku yang ditanyakan Val pada Rery dan sudah diberitahukan pada Mika dimana letaknya pada kamar Mika itu, kemudian menjeda langkahnya. Karena Mika memanggilnya.


“Eh iya, Ar ....”


“Yes, My Darling? –“


“Dadar guling ....”


Mika menukas ucapan Arya.


Dan Arya yang sudah berdiri di ambang pintu kamar rawat Val itu terkekeh kecil karenanya. “Ya udah kenapa?” tanya Arya kemudian pada Mika yang sebelumnya memanggil saat ia tengah melangkah untuk keluar dari ruang rawat intensif Val, dimana Mika kini sudah berada di dekatnya.


🌷


“Itu, gue lupa habis mandi pakai kalung dari lo itu,” ucap Mika yang kini sudah berdiri berhadapan dengan Arya.


“Taro dimana?” tanya Arya kemudian.


Mika pun langsung memberitahu Arya dimana ia meletakkan kalung yang ia maksud itu.


🌷


“Makasih ya, Ar –“


“Makasih doang dari tadi,” tukas Arya. “Cium, kek.”


Mika langsung saja mendengus geli mendengarnya.


“Pamrih banget ....” ucap Mika kemudian.


🌷


“Namanya juga usaha dapet bibir Neng Judes yang menggoda Kakang Arya –“


“Dasar ....”


Mika langsung menukas ucapan Arya, sambil ia terkekeh kecil.


“Mesumboy.”


“Tapi cinta, kaann? ....”


Arya membalas cibiran canda Mika dengan ledekan kecil.


Mika mendengus geli sekali lagi.


“Secinta gue sama lo,” tambah Arya.


“Ugh, pagi – pagi udah ngegombal.”


Yang langsung dijawab Mika, sambil si Judesgirl itu memencet gemas hidung Arya.


🌷


"Bilang dong, kalo lo cinta sama gue --"


“Iya, iya gue cinta sama lo Recehboy –“


“Gitu dong .... Ja –“


“Kenapa, Val? ....”


Arya memutus ucapannya, karena ia mendengar suara Isha yang bertanya heran pada Val.


🌷


Mika dan Arya yang tadinya agak asyik sendiri itu, spontan menoleh setelah mendengar teguran Isha pada Val --- kiranya ada bentuk kekhawatiran yang secara spontan hadir, jika ada pertanyaan yang bernada heran atau khawatir --- dan itu berhubungan dengan Val secara langsung.


Dan dua sejoli itu langsung kembali mendekati Val yang nampak sedang menatap aneh kepada Mika dan Arya. “Kenapa wajah kamu begitu, Val?” Mika yang sudah berdiri kembali di sisi ranjang rawat Val itu, lantas bertanya --- karena menangkap ekspresi aneh tatapan Val padanya. “Ada yang kamu rasa ga enak? ....“


Sambil Mika membelai lembut kepala Val, dan Arya juga memandang pada Val dengan ekspresi yang sama seperti Mika yang khawatir, jika ada keluhan yang Val rasa di tubuhnya. Dengan Rery dan Isha yang juga sudah fokus pada Val.


Namun Val yang diduga Mika merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya itu, tidak menjawab pertanyaannya barusan itu, melainkan malah melontarkan kalimat yang membuat Mika jadi agak sedikit kikuk. “Kalian .... sudah akur ya, sekarang? .... barusan tadi aku lihat, kalian nampak akrab? Malah lebih ke seperti sepasang kekasih? ....“


Begitu yang Val katakan, setelah ia melihat sikap tidak biasa Mika pada Arya. Yang mana – dari yang terakhir Val ingat, jika Mika sangatlah sebal pada yang namanya Arya Narendra.


Tapi yang beberapa saat sebelumnya tertangkap mata Val, sungguhlah aneh tapi nyata – bagi Val.


Memang sempat ribut kecil seperti selalunya jika Mika dan Arya bertemu. Namun setelahnya Val dibuat terheran – heran.


Dari mulai Mika yang bicara dengan tanpa keketusan sama sekali pada Arya. Sampai yang paling membuat Val terheran – heran sampai agak melongo, adalah ketika Val melihat Mika memencet gemas hidung Arya, sambil mereka berdua terlihat tertawa bersama, walau tidak keras.


Jadi Val benar – benar merasa heran. Dimana keheranannya itu kemudian menjadi ekspresi keterkejutan yang teramat sangat, ketika Mika mengatakan dengan agak ragu – ragu bahwasanya dugaan Val yang berkomentar jika Mika dan Arya nampak seperti sepasang kekasih bukanlah sebuah dugaan.


Melainkan sebuah kenyataan. Yang mana satu, dari beberapa kenyataan yang Val sedang lupakan. Hingga Val nampak sebentar terlihat sendu, setelah sebelumnya ia memekik tak percaya. Namun setelah sempat berekspresi sendu, Val kembali menampakkan ekspresi kegirangan yang teramat sangat setelah mendengar bahwa Mika dan Arya sekarang sudah pacaran.


Membuat empat orang yang bersama Val itu akhirnya tersenyum dan terkekeh geli saja melihat tingkah Val. ‘Val .... Val ....’ batin Mika, Arya, Rery dan Isha yang melihat tingkah polah Val yang sedang heboh itu.


“Lalu aku yang 18 tahun ini, memiliki kekasih tidak???”


Namun tak lama kemudian, senyuman dan kekehan geli dari ke empat orang tersebut – pudar.


Mendengar pertanyaan Val barusan.


🌷


Mika, Arya, Rery dan Isha juga spontan terdiam kikuk.


Dengan sebentar saling lempar tatap. Yang artinya masing – masing pahami.


Namun Val tidak memperhatikan hal itu, dengan ekspresi wajahnya yang masih sumringah dengan juga masih memeluk Mika.


“Ah rasanya sih tidak ....”


Dan Val sudah keburu menjawab sendiri pertanyaannya saat empat orang yang bersamanya itu sedang bingung untuk menjawab pertanyaannya tadi.


“Jika aku yang delapan belas tahun ini memiliki kekasih, pastinya kekasihku itu akan ada di sini –“


‘Secara status mungkin Kak Kaf bukan kekasih kamu lagi Val. Tetapi dia amat sangat mencintai kamu, dan sudah selama ini berada di sisi kamu disaat kamu masih koma.’ Kiranya, Mika – Arya – Rery dan Isha yang berkata kurang lebih sama seperti itu di dalam hati mereka masing – masing.


“Iyaa –“


“Aamm ....”


“K –mmpp ....”


Mulut Val tersumpal oleh sendokan sereal yang sudah dicampur susu dan potongan buah – buahan.


“Banyak bicara. Tidak makan – makan jadinya.”


Sang pelaku penyupan tiba – tiba ke mulut Val itu berkata dengan gemas – Rery.


Dimana Val sempat merungut sebentar, namun terkikik kemudian.


“Ayo coba ceritakan bagaimana prosesnya kalian menjadi sepasang kekasih?! –“


‘Hhhh.’

__ADS_1


Seketika, Mika – Arya – Rery dan Isha merasa lega, ketika Val tak lagi membahas soal kekasih yang ia miliki atau tidak.


Karena ke empat orang tersebut, memanglah bingung bagaimana harus menjawabnya.


Namun kondisi Val yang agak kurang fokus dan mudah dialihkan itu – meskipun tiga saudara angkat Val berikut Arya tidak ingin Val mengalaminya, namun hal itu dapat mengamankan kondisi untuk saat ini -- atas nama takut salah berkata.


“Ayo dong cerita, May. Dari terakhir yang aku ingat itu kan, sebelum kita duduk – duduk di geladak kapal untuk bersantai, kamu dan Kak Arya kan masih ledek – ledekan di hall? –“


“Iya, iya aku cerita. Kamu sambil makan tapi.”


Mika menukas untuk langsung menanggapi keinginan Val.


“Kalo gitu, gue ke kamar lo dulu ambil buku sama laptop dan kalung lo ya, Mi? ....” pamit Arya.


🌷


Mika mulai bercerita pada Val dihadapan Rery dan  Isha juga, tentang bagaimana hubungan cintanya dan Arya di mulai.


Namun begitu, Mika tidak menceritakan dengan begitu detail.


Mengingat jika Val jangan diberikan informasi yang akan membuatnya bingung dulu.


Jadi Mika, benar – benar menceritakan hanya tentangnya dan Arya saja yang sudah menjadi sepasang kekasih itu.


Bahkan Mika tidak menceritakan bagian dimana, jika dia dan Arya sebenarnya pernah putus. Karena bila Mika ceritakan, rasanya hal itu akan rumit didengar Val.


Lalu Val akan merasa bingung, dan kemungkinan ia merasakan nyeri lagi di kepalanya.


Mika mengkhawatirkan hal itu.


Karena seingat Mika, dari apa yang didengar dari mulut beberapa anggota keluarganya termasuk dari Celine saat Val diberikan suatu fakta yang mengejutkan dirinya – selain Mika juga pernah melihat sendiri – Val yang tiba – tiba mengeluh jika kepalanya seperti tersetrum, saat ia sedang memaksakan diri untuk mengingat hal yang mengejutkannya itu.


Jadi, Mika cari aman. Dengan menceritakan yang ringan – ringan saja pada Val, dan tidak melenceng dari keinginan Val yang ingin tahu cerita bagaimana dirinya dan Arya bisa sampai pacaran. Namun dengan sortiran cerita tentunya, yang mana tidak akan membuat bingung Val. Hingga Val tidak memaksakan diri untuk mengingat dengan keras.


Jadi dapat menghindari Val merasakan nyeri di kepalanya lagi.


Karena meski yang Mika tahu jika, nyeri yang Val sesekali di rasa oleh Val di kepalanya bukanlah indikasi adanya penyakit serius di otak Val – tetap Mika khawatir.


🌷


“Lalu kalian sudah berciuman belum?”


Val yang spontan nyeletuk, ketika Mika telah menyelesaikan cerita tentang kisahnya dan Arya yang bisa sampai jadian – dengan cerita yang Mika singkat.


Dimana pertanyaan Val itu membuat Mika langsung mencebik, setelah sebelumnya ia mendengus geli bersama Rery dan Isha. “Rahasia –“


“Aaa Maaayyy.” Val menukas ucapan Mika seraya sedikit merengek manja.


“Sudah cepet habiskan sarapan kamu.” Mika menukas balik.


“Iya, iya. Ini kan juga, aku mendengarkan cerita kamu sambil aku makan –“


“Ini kan, bukunya?”


Suara Arya terdengar, bersamaan dengan kemunculan orangnya yang memegang buku dan laptop di kedua tangannya.


Mika, Rery dan Val langsung mengangguk saat Arya mengangkat sebuah buku yang sedang ia pegang itu, dengan bagian depannya yang ia arahkan ke depan.


“Thank you, Kak Arya,” ucap Val saat Arya telah memberikan buku yang ia tunjukkan tadi ke tangan Val.


“Ini laptop mau langsung lo pake, Mi? ....” tanya Arya pada Mika setelah menanggapi ucapan terima kasih Val padanya.


“Nanti, Ar,” jawab Mika cepat, dengan tutur yang halus.


“Gue taro di meja kalo gitu ya? –“


“Iya.”


🌷


Arya langsung berjalan ke area tunggu kecil yang ada di ruang rawat intensif Val, setelah Mika mengiyakan idenya.


Lalu kembali mendekati ranjang rawat Val, dengan dia yang berdiri di belakang Mika yang sedang duduk di pinggir ranjang rawat Val tersebut.


Yang mana tak lama, Arya sedikit tergesa merogoh sakunya.


“Oh, iya –“


“Kalungnya mana, Ar? ....”


Sambil Mika menoleh pada Arya, yang sedetik kemudian mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya.


🌷


“Ini.”


Arya menjawab pertanyaan Mika sambil menunjukkan kalung di satu telapak tangannya.


“Thanks ya –“


“Sini gue pakein ....”


Arya langsung berujar, saat Mika hendak mengambil kalung – yang merupakan kalung hadiah jadian dari Arya untuk Mika, dari tangan si Recehboy itu.


🌷


Mika mengangguk seraya tersenyum saat Arya mengajukan diri untuk memasangkan kalung tanda jadian mereka yang memang selalunya Mika kenakan itu, meski saat Mika dan Arya pernah putus.


Nampak manis adegan itu, namun manisnya adegan Arya yang memasangkan kalung ke leher Mika – tak berlangsung lama, karena gelas minuman di atas tray terjatuh bersamaan dengan Val yang menegang – membuat Mika dan Arya, bahkan Rery dan Isha sedikit terkejut.


Ditambah dengan melihat ekspresi Val yang memandangi Mika dan Arya tanpa berkedip, namun tatapannya tidak berarti sedang memperhatikan dua sejoli yang sedetik lalu melakukan sedikit hal manis. Mata Val nampak menerawang, dengan tubuh yang menegang.


“Happy Birthday, Val –“


“Ini untuk Val? ....”


“Iya.”


“Terima kasih, Kak.”


“Maaf kalau hadiahnya ga mewah.”


“Iih Kakak ini .... Bagi Val ini indah dan berharga.”


“Terima kasih ya, sudah mau menerima hadiah Kakak?”


“Sama – sama, Kak. Indah sekali gelangnya. Akan Val pakai seumur hidup Val.”


“Sini, Kakak pakaikan –“


“Val? –“


“Ada apa Val? –“


‘Gambaran apa itu? ....’


Val membatin, saat empat orang yang sedang bersamanya itu menegurnya hampir bersamaan.


Dengan wajah heran, selain khawatir karena melihat sikap dan ekspresi Val saat ini, setelah sebelumnya ia menyenggol gelas minumannya macam orang yang sedang terkaget.


🌷


VAL’s POV,


Dejavu.


Itu yang aku katakan kepada May, Rery, Isha dan Kak Arya, saat mereka menegurku seraya bertanya – saat mereka kiranya menyadari aku yang tiba – tiba tersentak kaget lalu mematung.


Iya, Dejavu – satu keadaan dimana kita merasa pernah melihat hal yang kita sedang lihat saat ini di masa lalu – atau bahkan pernah mengalaminya sendiri.


Dan itu yang aku alami, ketika aku melihat Kak Arya memasangkan kalung di leher May.


Tahu – tahu ada gambaran yang berkelebat di kepalaku.


Serupa tapi tak sama, aku pernah mengalami apa yang May alami itu.


Dipasangkan sesuatu oleh seseorang – sebuah benda yang kiranya berharga.


Jika benda berharga yang berhubungan dengan May adalah kalung, sementara dalam kelebatan gambaran yang tiba – tiba muncul di kepalaku adalah sebuah gelang.


Yang mana kelebatan itu, masih sebuah misteri untukku.


Tak pernah terjawab, dari sejak enam bulan lalu aku mengalaminya.


Aneh.

__ADS_1


Itu yang aku pikirkan.


Dan keanehan ingatan itu, kian aku rasa ketika sebulan dar aku yang diberi gambaran tiba – tiba seseorang yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku, lalu memberikan aku hadiah sebuah gelang indah serta juga memakaikannya – saat aku telah meninggali kembali kamarku yang berada di London.


Ada lagi muncul sekelebatan perasaan, ada sesuatu yang menghilang di kamarku saat pertama kali aku memperhatikan keseluruhan kamarku yang berbeda interior ini dari yang terakhir aku ingat.


Interior yang memang menggambarkan jika pemiliknya adalah gadis yang sedang menuju kedewasaan – Aku. Namun sampai saat ini aku masih melupakannya. Entahlah – sungguh suatu misteri bagiku. Misteri yang beberapa waktu belakangan, nampak ingin aku pecahkan.


Karena dalam sebulan terakhir, banyak sekali kelebatan bayangan yang seolah berkejaran di kepalaku tentang potongan – potongan kejadian.


Seperti dejavu yang aku rasakan saat aku melihat Kak Arya memasangkan kalung pada May. Namun aku tidak menghiraukannya, karena terjadi sekali saja.


Dan samar.


Serta aneh, sekali lagi.


Aku dapat melihat barang dan keadaan di sekelling gambaran sekelebat kejadian itu.


Namun aku hanya dapat mendengar suara orang yang bersamaku itu, dan sejauh yang aku ingat, saat aku menatap ke arah suara orang yang sedang bersamaku itu – disana, hanya kegelapan saja yang aku dapati.


Suaranya samar, namun tidak harum tubuhnya. Harum tubuh yang sama – menurutku, dengan harum yang terjejak dalam kamar rawatku di kastil pada Little Star Island, namun tak pernah aku temukan siapa pemilik harum yang asing di indera penciumanku, tetapi aku merasa jika aku sangat menyukai harum itu.


Misterius sekali bukan?


Aku mendengar suara, mencium harum .... tapi aku tidak pernah bisa melihat sosoknya.


Semuanya samar – harumnya memang lebih jelas dari suaranya, tapi tetap dapat dikatakan samar.


Hingga sebulan terakhir sampai dengan semalam, suara yang samar dan harum tubuh itu mulai jelas dan kian menjejak.


---


Beberapa saat setelah aku memperkenalkan kekasihku ke hadapan keluargaku yang sedang duduk bercengkrama menjamu seorang tamu, tamu itu keluar dari dalam mansion bersama tiga orang tuaku, serta Gappa dan Gamma – hendak berpamitan.


Tamu yang merupakan seorang pria dewasa seperti Abang Varen.


Dimana aku baru benar – benar tanggapi, saat ia hendak pamit dari mansion -- dimana aku sedang duduk berdua dengan kekasihku di teras depan mansion.


Dan jika aku ingat – ingat lagi, pria itu adalah pria yang aku anggap asing pasca aku terbangun dari koma.


Namun sejak ia tidak aku lihat lagi di Little Star Island sejak tak lama aku mulai membaik pasca terbangun dari koma, dan aku juga sempat takut padanya yang aku ingat lagi terkadang aku dapati begitu intens menatapku.


Tetapi pandangannya begitu sendu – jika tidak salah seingatku sih begitu.


Walau begitu, aku sedikit merasa was – was padanya. Takut jika dia seorang pedhopile yang menargetkan aku sebagai mangsanya.


Namun setelah melihat keakrabannya dengan keluargaku sih sepertinya tidak.Jadi saat aku datang dengan kekasihku tadi, aku sekilas menegurnya.


Sudah tidak was – was padanya. Seperti saat di Little Star Island kala itu.


Ya, maaf ....


Tapi harap dimaklumi, jika aku menjadi was – was padanya karena kan aku tidak merasa mengenalnya.


Yang mana sekali lagi membuatku merasa heran.


Pria dewasa itu, nampak akrab dan dekat sekali dengan keluargaku.


Namun mengapa aku sama sekali tidak tahu sedikitpun tentang siapa dia.


Ah sudahlah. Aku toh akan mengenalnya sebentar lagi. Karena aku berniat menegur dan berkenalan sekaligus dengan pria dewasa yang tampan itu.


“Eh, tamunya mau pulang? ....”


Maka aku langsung berdiri ketika melihat pria itu – yang ditemani oleh tiga orang tuaku serta Gappa dan Gamma, keluar dari dalam mansion.


Aku tak lagi dirundung rasa was – was padanya.


Kekasihku pun ikut berdiri, atas dasar tahu adab. Meskipun ia tidak mengenal pria itu.


Pria itu tersenyum padaku.


Hangat dan lembut senyumnya.


Sedikit membuat hatiku berdebar – debar.


“Maaf Kak, sebelumnya, jika sikap Val tidak sopan pada Kakak.”


Aku yang sudah lebih mendekat pada pria dewasa dengan wajah tampan dan senyuman hangat itu, berkata dengan sopan padanya.


Lalu dia menyahut, “Tidak apa – apa kok, Val ....”


Dimana bersamaan dengan itu, dadaku berdentum.


“Kamu mungkin ga inget aku. Ya udah kita kenalan lagi ....”


Pria itu mengulurkan tangannya padaku.


Yang mana aku sambut uluran tangan itu dengan seutas senyuman ramah.


“Aku Kafeel Adiwangsa ....”


Dadaku berdentum lagi saat mendengar ia menyebut namanya.


Sama seperti saat aku mendengar nama yang sama saat aku bertanya tentangnya, yang tidak aku lihat lagi di Little Star Island.


Iya, seketika aku ingat saat itu.


“Halo Kak, salam  kenal ....” Aku menjawabnya kemudian, setelah menghiraukan dua dentuman tiba – tiba dalam hatiku saat berhadapan dengannya.


Dan setelah itu aku terpaku di tempatku.


“Salam kenal juga, Val .... seneng banget liat kamu udah sehat.”


Kak Kafeel – aku sebut saja dia begitu.


Membalas ucapanku seraya tersenyum.


Dimana ucapannya yang lebih panjang itu, membuatku menyadari sesuatu.


Suaranya, kenapa sama dengan suara pria yang sering berkelebat dalam ingatanku?


Lalu saat dia mendekat, aku mencium harum yang tak asing bagiku.


Harum kasturi.


Harum khas pria dewasa.


Namun walau banyak pria yang memiliki harum musk itu ....


Harum kasturi yang aku endus dari Kak Kafeel, terasa lebih menenangkan.


Lebih dari itu, harumnya Kak Kafeel entah mengapa terasa begitu familiar untukku?


Lalu ada perasaan aneh yang timbul dalam hatiku, ketika Kak Kafeel bersuara lagi.


“Ya sudah, sampai bertemu lagi ya, Val? Yuk, aku pamit ....”


Karena sekali lagi, aku merasa dejavu.


Seperti .... Kak Kafeel itu pernah berpamitan juga padaku sebelumnya.


Tapi kapan? ....


Saat dia meninggalkan Little Star Island saja aku tidak tahu.


Dan semasa ia di sana, aku tidak pernah berbicara juga padanya.


Tetapi kenapa? ....


Kenapa aku, merasa sedih sekali mendengar dirinya berpamitan barusan itu? ....


Dan sekarang aku seolah merasa, tidak rela melihat Kak Kafeel pergi? ....


Ada apa sebenarnya antara aku dengan Kak Kafeel? ....


End -- of VAL's POV.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


To be continue ....


Hampir 3000rb kata nih ya.


Jangan lupa dukungannya looh.

__ADS_1


Hehe ....


__ADS_2