HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 116


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Singapura....


“Diem aja? ...”


Kafeel mengajak Val bicara kala keduanya mendudukkan diri bersebelahan di kursi penonton, selepas Kafeel selesai melamar Val dan saat acara penyematan juara di Turnamen Tenis Junior Profesional antar negara yang Aro ikuti dan menangkan itu telah dimulai.


“Malu ya?—“ tambah Kafeel. “Soalnya norak banget aku melamar kamunya?“ sambungnya.


Val menggeleng. “Val justru sedang berpikir apa ini mimpi, karena Val masih tidak percaya dengan Kakak yang melamar Val dengan cara yang mengejutkan seperti ini..”


Val berkata sambil memandang pada Kafeel.


Dengan mata Val yang berbinar, sekaligus sedikit berkaca-kaca.


Kafeel tersenyum tampan.


Lalu Kafeel memiringkan tubuhnya dalam duduk, dan menggenggam tangan Val.


“Kamu senang?---“ tanya Kafeel sambil mengusap lembut punggung tangan Val yang ia genggam.


Val mengangguk seraya ia tersenyum cantik.


“Val bukan hanya senang, tapi Val bahagia. Sangat.”


“Makasih ya?” ucap Kafeel. “Makasih udah mau nerima lamaran ini om-om—“


Val terkekeh cantik. Membuat Kafeel jadi gemas. Pengen cium itu bibir yang orangnya sedang terkekeh cantik, rasanya si AA.


Hingga satu tangan Kafeel terulur dan menyentuh dagu Val. Lalu Kafeel mendekatkan wajahnya perlahan pada Val.


“Hem!”


Namun acara pendekatan wajah yang dilakukan Kafeel ke wajah Val terhenti akibat suara deheman dari orang yang duduk di depan Val dan Kafeel.


“Ada debu di wajah Val Uncle.” Ucap Kafeel dengan cepat setelah mendengar suara deheman tajam dari pria yang merupakan ayah kandung Val itu.


Val yang merasa Kafeel ingin mencium bibirnya tapi tak jadi karena deheman dari Daddy R berikut picingan mata maut sang Daddy pada kekasih setengah om-omnya hingga Kafeel jadi salah tingkah itu, spontan terkekeh.


‘Ganggu aja Naga non Bonar!’ rutuk Kafeel pada Daddy R dalam hatinya. ‘Orang abis lamaran biar kata ga resmi juga, paham dikit kek!’ rutuk hati Kafeel lagi. ‘Gue bawa nanti si Val abis ini acara selesai ke tempat dimana gue bisa cium dia bertubi-tubi tanpa ada yang ganggu!’


“Kemari.”


Daddy R mengkode Kafeel agar mendekat padanya.


“Kau pikirkan baik-baik rencana di kepala mesummu itu, jika kau masih ingin kepala dan otakmu masih menempel di tubuhmu.” Bisik Daddy R pada Kafeel yang barusan ia minta untuk mendekat.


Kafeel pun cengar-cengir. ‘Naga apa cenayang sih Uncle R? Tau aja isi otak sama hati gue?!’ batin Kafeel.



“Jalan cepetan woi!” teriak Varen tanpa dorongan tenaga diafragma pada dua orang yang berjalan di depannya dan Andrea, berikut para anggota keluarganya.


Namun teriakan Varen itu diabaikan oleh dua sejoli yang nampak menganggap hanya mereka saja manusia di dunia ini, yang lainnya hanya debu-debu intan.


“Damned, dicuekin lagi!” Varen menggumam sebal.


Ya karena pada kenyataannya teriakan Varen yang bernada sinis itu diabaikan oleh dua orang yang menjadi target cibiran sinisnya itu.


Yang mana itu adalah Val dan Kafeel yang sedari tadi berjalan lambat macam siput, dengan tangan mereka yang saling menggenggam dan saling tatap hampir tanpa jeda, dengan wajah keduanya yang bak terkena mantra semar mesem.


“Abang suami usil aja ih!” tukas Andrea, lalu terkikik.


“Ya habis, jalan macam mau ke singgasana pelaminan aja itu mereka.”


“Harap maklum aja sih, namanya juga orang lagi kasmaran. Serasa dunia mereka yang punya, apalagi ini lobi hotel---“


“Yang lain ngekos!” sambar Isha atas ucapan Mika barusan. Lalu keduanya dan Drea, berikut yang mendengar celotehan tiga orang yang sedang menimpali kesebalan Varen pada Val dan Kafeel itu cekikikan.


Sementara Varen berdecak sebal. “Mudahan kesandung karpet itu mereka, terus jatoh berduaan! Abis itu gue foto, terus gue post di medsos! Biar kapok! Sok banget mesra! Dipikir gue pengawal mereka kali! ...” gumam Varen sebal plus sinis.



Mika sampai Ares, telah memisahkan diri mereka dari para orang tua dan tetua, kakak serta para kerabat yang dewasa usia untuk mencari hiburan.


Karena mereka merasa bosan berada di tengah acara ramah tamah yang diadakan pihak penyelenggara dan sponsor dari Turnamen Tenis Profesional Kelas Junior antar negara yang diikuti oleh Aro, dimana Aro menyandang gelar juara pada Turnamen Tenis tersebut.


“Mau kemana kalian? –“


Drea yang sedang bersama Via, sontak menjegal langkah para adik yang bergerombol dan nampak hendak hengkang dari tempat mereka berada sekarang.


“Mau jalan-jalan Kak Drea.”


Ares yang menjawab dengan cepat.


“Iya Kak, bosen disini.”


Isha menimpali, dan para saudara-saudarinya pun mengaminkan ucapan Isha tersebut.


“Kalian hormati Aro dong, masa kalian mau ninggalin Aro sendirian di acara ini, meskipun kita ga terlalu kenal sama orang-orang ini? ... Paling engga tunggu Aro selesai bercengkrama dengan kenalannya disinilah ...”


Drea menanggapi celetukan para adik tersebut.

__ADS_1


“Nah ini idenya Aro ngajak kita orang get out from here ( keluar dari sini ) karena dia sendiri udah bosen ada di acara ini ---“


“Iya kok Drea, bener yang mereka bilang. Tadi aku denger Aro ngajak mereka semua pergi dari sini--- Udah pada ijin juga sama Abang, Jo dan The Dads ... “


Via angkat suara.


“Heemm.” Drea berdehem sambil manggut-manggut.



Setelahnya para pewaris muda The Adjieran Smith dari Mika sampai Ares pun hengkang dari hadapan Drea dan Via, untuk mencari Aro kemudian pergi hang out bersama.


“Tuh Kak Aro tuh!”


Ares menunjuk ke satu arah.


Dan para saudara – saudarinya pun langsung mengarahkan mata mereka ke arah yang ditunjuk Ares.


Lalu didetik berikutnya, para pewaris muda The Adjieran Smith generasi adik – adik itu kompak mengernyit.


“Sepertinya Aro sedang bersitegang dengan mereka yang ada dihadapannya, ya?-----“


“Sepertinya iya---“


“Sebaiknya kita segera pergi mendekati Aro..”


“Sebaiknya begitu..”


Para pewaris muda yang sedang bergerombol itupun sepakat untuk segera mendekati salah satu saudara mereka yang nampak sedang bersitegang dengan beberapa orang yang ada di hadapan Aro itu.



“Aro!” Para pewaris muda saudara saudari Aro itu memanggil saudara mereka kala telah dekat dengan tempat Aro berada. “Kenapa Ro?”


Rery lebih mendekat pada Aro seraya ia bertanya pada saudaranya itu, lalu melirik pada empat orang remaja yang kira-kira seusia Aro.


Aro menggeleng. “Cuma orang yang ga bisa terima kekalahan.” Jawab Aro. Rery berikut para saudara saudari mereka yang lain pun hanya manggut-manggut.


“Jangan dilayan lah Ro –“ celetuk Isha. Yang sengaja juga menggunakan bahasa Indonesia, karena tahu empat orang anak laki-laki yang seusianya dan Aro itu bukan orang Indonesia.


“Wow look at that. This brothers and sisters of this homeboy is coming (Wow coba lihat itu. Saudara saudari anak manja ini datang)! ----“


Satu dari empat anak laki-laki yang nampak sedang bersitegang dengan Aro itu berucap remeh, sekaligus melemparkan tawa remehnya pada Aro dan para saudara saudarinya dengan melemparkan tawa remehnya itu dengan tiga temannya yang lain.


“Uu, their daddies and mommies will come in minutes after also to defend their homekids (Uu, sebentar lagi ayah dan ibu mereka akan datang juga untuk membela anak-anak manja mereka)” kata anak lelaki pertama yang berucap remeh itu sambil melontarkan ejekan.


“Envy ( Iri ), huh?!”


Aro menyahut santai.


“Because your mommy and daddy treat you like a housemaid (Karena ayah dan ibumu memperlakukanmu macam pembantu)?”


Mika sampai Ares pun terkekeh mendengar nyinyiran Aro pada anak laki-laki yang nampak cari gara-gara dengannya itu.


Well, Kalau soal nyinyir-menyinyir, Aro jagonya.


Dimana wajah anak lelaki songong itu langsung terlihat tak senang setelah mendengar nyinyiran Aro padanya itu.


“How pity (Kasian banget)” lanjut Aro dengan wajah mengejek yang ia tunjukkan saat ini di hadapan empat orang anak lelaki seusia Aro yang sedang cari gara-gara dengannya itu.


“Shut up! (Diam!)” Teriak anak lelaki songong tersebut dengan wajahnya yang nampak tak senang.


Aro terkekeh.


“I just saying, but seems that is right (Gue cuma asal ngomong, tapi kayaknya benar)”


“Shut your f*c*in’ mouth homeboy (Tutup mulut sialanmu itu anak manja)”


Anak lelaki songong nomor dua maju sambil berucap dengan menatap Aro dengan tajam, lalu tersenyum remeh.


“If four of us battering you and your spoiled brothers and sisters, all of you will cry like a baby (Jika kami berempat memukulimu dan saudara saudarimu ini, kalian semua akan menangis macam seorang bayi) –“


“Daddy.. Mommy.. huhu..” satu celetukan mengejek terdengar dari mulut bocah songong yang ketiga, sambil ia memperagakan anak kecil yang sedang menangis manja. Lalu ia dan ketiga temannya tergelak, sementara Aro hanya mendengus geli, begitupun para pewaris muda The Adjieran lainnya.


“Udah sih Kak jangan dilayan! –“


Ares melontarkan celetukan.


“Buang waktu aja-“ sambung Ares.


Para kakak-kakak Ares pun mengiyakan ucapan si bungsu itu, dan Aro pun manggut-manggut.


“Iya Ares benar. Lebih baik kita pergi saja dan berjalan-jalan, daripada melayani mereka yang wajahnya mengesalkan semua ini..” timpal Mika.


“Betul itu!---“


“Ya udah yuk ah, kita cus aja mendingan!”


Aina pun menimpali ucapan Val dan Mika.


“Seems that they’re negotiating who’s the one who go to call daddy and mommy.”


(Sepertinya mereka sedang rundingan siapa yang mau memanggil ayah dan ibu).


Bocah songong ke empat yang barusan angkat suara untuk kembali mengejek Aro dan para saudara saudarinya itu. Empat anak laki-laki songong itupun tergelak bersama lagi, karena ejekan yang dilontarkan salah seorang dari mereka itu.

__ADS_1


“Well, actually, we’re just negociating for stop talking to monkeys.. Cause we’re human (Yah, sebenarnya, kami sedang rundingan untuk berhenti bicara dengan para monyet.. Karena kami ini manusia)!—“ ejek Aro.


“UU-AA! ----“


Rery menimpali ucapan Aro dengan memperagakan suara monyet sambil menatap penuh ejekan kepada empat orang anak laki-laki songong tersebut, dengan sedikit peragaan tingkah laku satu jenis hewan tersebut.


“HU-HU-HU!!!”


Ann memperagakan suara seekor gorila.


“Hahahaha!!..”


“You f*c*in’ homekids (Anak-anak manja sialan)!” Empat orang anak laki-laki songong itu terlihat tidak terima dan amat tidak senang diejek dengan disebut monyet oleh Aro, lalu ditimpali dengan gerakan monyet dan gorila oleh Rery dan Ann.


Dan ditertawakan serta dipandangi dengan remeh oleh para Sultan dan Sultanah junior itu.


Aro dan para saudara saudarinya itupun mengabaikan ke empat orang anak laki-laki songong yang sudah terlihat geram pada para pewaris muda The Adjieran Smith itu.


The Sultan dan Sultanah junior itupun berbalik badan untuk hengkang dari empat anak laki-laki songong tersebut.


“Hey homeboy! Better you and your spoiled brothers and sisters face us and we’re kick you all @s$ for sure (Hey anak manja! Sebaiknya kau dan para saudara saudari manjamu itu hadapi kami dan biarkan kami menendang bokong kalian)!”


Satu dari empat anak lelaki songong itu pun berseru geram namun dengan tetap melemparkan ejekan.


“Ck! Abaikan saja-“ Rery segera berucap sambil menyandangkan tangannya di satu bahu Aro, dan Aro serta para saudara saudarinya pun mengangguk. “Unfaedah!”


Rery menambahkan ucapannya, lalu yang lain cekikikan sambil terus berjalan mengabaikan empat orang anak lelaki songong itu.


Namun langkah Aro dan para saudara saudarinya itu terhenti kala salah satu dari anak songong itu kemudian berseru lagi,


“Sissy (Banci)!”


Dimana Aro langsung berbalik dan menatap nyalang pada ke empat anak lelaki songong tersebut.


“What did you say (Lo bilang apa barusan)?!—“ geram Aro yang mulai tersulut emosinya.


“Udah Aro, jangan dilayani.” Pinta Isha. “Udah ayo kita pergi!”


Isha meraih tubuh Aro untuk ia bawa menjauh dari tempat mereka sekarang.


Dibantu oleh Ares, Isha membawa tubuh Aro untuk menjauh, hingga Aro dipaksa untuk berjalan mundur.


“Kalau kamu layan mereka Aro, status juara kamu dipertaruhkan bahkan bisa ditangguhkan, lalu integritas  kamu  sebagai atlit tenis akan tercemar –“ Val menasehati Aro yang sudah nampak geram itu agar tidak terbawa emosi dan mempertaruhkan nama baiknya.


“Mereka sepertinya memang sengaja agar kamu sampai berkelahi dengan mereka, lalu mereka akan membuat cerita yang membalikkan keadaan –“


Mika juga ikut menasehati Aro seraya membujuk satu saudaranya itu.


“Sudahlah Aro.. Biarkan saja mereka bicara semaunya—“ ucap Val lagi. “Jika kamu tidak layani mereka, mereka akan lelah sendiri.”


Aro pada akhirnya mendengarkan nasihat dua orang yang sedikit lebih tua usia darinya itu. Dan memilih diam untuk ikut dibawa pergi oleh para saudara dan saudarinya dari ke empat anak laki-laki songong itu.


“Ya, ya , just go! You sissy homeboy who win because your nasty parent had give bribes to the promotors (pergi sana! Dasar anak manja banci yang menang karena orang tuamu yang mesum itu menyuap pihak penyelenggara)..”


“Cari mati!..” Aro menggumam geram, dengan kedua tangannya yang mengepal kuat sudah.


“Bosan hidup nih orang..”


Rery ikut tersulut emosi.


“Or one of your sisters was teating the arbitrator (Atau satu dari saudarimu sudah merayu wasit)—“


Aro dan Rery benar-benar tersulut emosi, termasuk juga Ares yang walau paling muda usia dan belia jiwa dewa perang sudah ada di dadanya, bersanding dengan garuda.


“Anj---“


“Homekids from nasty family who (Para anak manja dari keluarga mesum yang)---“


Satu dari empat anak laki-laki songong itu berbicara lagi, namun..


BUGH!.


Anak laki-laki itu tidak sampai menyelesaikan kalimatnya, karena sebuah tendangan keras sampai di dadanya hingga ia tersungkur, membuat ejekannya menjadi suara aduhan.


Dimana semua orang terkejut dibuatnya, terlebih tiga teman dari anak laki-laki songong yang tersungkur dengan sangat keras itu. Lalu dibuat terkejut lagi karena kemudian tiga tendangan lagi dengan cepat melayang kepada tiga orang anak songong lainnya hingga mereka pun ikut juga menyusul tersungkur.


“Insulting my brother, my parents, my family ... How dare (Menghina saudaraku, orang tuaku, keluargaku ... Berani sekali) –“ dia yang melayangkan tendangan keras kepada empat orang anak lelaki songong yang sudah dibuat tersungkur itu, terdengar menusuk. “STAY RIGHT WHERE YOU ARE, ARO (TETAP DI TEMPATMU, ARO)!”


Dan bukan Rery, Ares, bahkan Aro yang menendang keempat orang anak laki-laki songong itu dengan kuatnya, karena ia yang sedang berdiri dengan tatapan menyalang pada keempat bocah laki-laki songong itu menyuruh Aro untuk menjaga jaraknya.


“I won’t let these four brats destroy your reputation (Aku tidak akan membiarkan empat berandal ini menghancurkan reputasimu)!..” kata dia yang sedang berdiri tanpa ada guratan rasa takut diwajahnya. “Hold him (Tahan dia), Rery..”


Ada senyuman iblis yang kemudian nampak, di wajah dia yang baru saja berbicara pada Aro dan Rery tanpa menoleh pada keduanya.


Karena sesungguhnya senyuman iblis itu adalah miliknya, seseorang yang menyemat panggilan ‘Little Devil’ di keluarganya.


“Wake up you four sissy (Bangun kalian empat banci)!”


Suara ‘Little Devil’ itu terdengar dingin, dengan tubuhnya yang sudah berdiri tegak menghadap ke empat berandal yang tadi sempat tersungkur akibat tendangan dari kaki super jenjang si ‘Little Devil’.


Wajahnya nampak datar, namun tatapan matanya menantang dan tak ada gurat rasa takut sama sekali disana.


Dimana kemudian suara lirihan serempak menyebut nama si ‘Little Devil’ pun terdengar dari belakang si pemilik sebutan.


“Ann---“

__ADS_1


♥♥


To be continue..


__ADS_2