HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BEBAN


__ADS_3

( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Val hanya dapat mengatakan, ‘Maaf’ & ‘I Love You All That Much, My Dear Beloved Family.”


♥♥♥


Jakarta, Indonesia,


Dear Kak Kafeel,


Terima kasih untuk semua yang pernah Kakak berikan untuk Val.


Terima kasih juga untuk lukanya.


Semoga Kak Kafeel selalu berbahagia.


...


Val sertakan juga gelang yang couple dengan kakak, serta cincin yang kakak pernah berikan pada Val kala kakak melamar Val di SIN.


Val kembalikan.


Berikut cincin pertunangan kita.


Yang sudah tidak mungkin Val pakai, ataupun simpan.


Jujur, melihat ketiga barang itu, sungguh menyakitkan.


...


Ya sudah, itu saja.


Sekali lagi, semoga kakak berbahagia.


Dan dengan ini, semua tentang kita, berakhir sampai disini.


Namun begitu, untuk yang terakhir kalinya Val ingin katakan,


Sa-yaang Kak Kafeel ..


Mau seperti apapun Kakak menyakiti Val.


....


....


‘Maafkan aku, Vaal... ma-af...’


Permohonan maaf yang melirih itu berasal dari hati seorang pria yang sedang memandangi sebuah kartu ucapan yang menggoreskan beberapa kata menyedihkan dan memedihkan hatinya.


Entah sudah berapa kali kartu itu ia pandangi dan ia baca, dan melirihkan permohonan maafnya dalam hati kemudian.


Maaf yang ingin ia sampaikan secara langsung sebenarnya, bahkan pria itu yang adalah Kafeel berharap jika ia bisa mendapatkan hukuman langsung dari Val.


Namun atas dasar peringatan yang sudah ia terima dari para ayahnya Val sebagian besar, serta pembahasan soal balas budi yang ayah kandungnya Val singgung kepadanya ---- Kafeel hanya bisa pasrah pada keadaan.


Jangankan untuk bertemu Val dan meminta maaf secara langsung untuk yang terakhir kalinya karena peringatan tidak tertulis namun cukup ditegaskan padanya untuk menjauhi Val berikut juga keluarganya ---- bahkan untuk tahu keadaan Val yang terbaru saja, Kafeel tidak diperkenankan.


Frustasi?


Sangat.


Hingga sudah beberapa kali Kafeel meluruhkan air matanya, dikala hatinya disesaki oleh Val yang ia sakiti dengan begitu dalamnya.


“A’...”


Sebuah sapaan lembut seorang wanita paruh baya sekaligus sentuhannya, membuat Kafeel mengusap sudut mata dan pipinya.


“Kalau Bunda mau menawarkanku makan, aku ga mau. Ga lapar---“


“Tapi Bunda belum liat AA makan---“


“Dan Bunda fikir aku bisa makan dengan enak, dengan apa yang telah aku lakukan pada Val sekarang?...”


“.....”


“Bunda ingat bagaimana kondisi Val saat dia datang kesini dan melihat pernikahan laknatku dengan Rara???... Aku bahkan dilarang keras untuk mengetahui keadaannya, Bun!... Aku ga kebayang bagaimana hancurnya Val sekarang, Bun---“


“AA ijinin Bunda temuin Val, ya?... Ketemu juga sama Moreno dan Kyara serta keluarga mereka---“


“Buat apa, Bun???... Buat apa?... Percuma, Bun... Percuma...”


“Bunda kasih tau, ya?... Yang sebenarnya pada Val dan keluarganya---“


“Lalu membuat pengorbananku sia-sia? Aku sudah terlanjur kehilangan Val, lalu aku kehilangan Bunda juga. Gitu??...”


“Tapi kalau Val tahu, dan keluarganya tahu alasan AA menikahi Rara, ada kemungkinan AA dan Val bisa bersama lagi---“


“Bunda lupa kita terikat oleh apa dengan Rara dan orang tua laknatnya itu?...”


“.....”


“Lagian... Setelah Bunda mengatakan pada mereka apa yang sebenarnya... Bunda fikir... Keluarga Val akan percaya?... Lalu... Menerimaku kembali dengan begitu aja?...”


“.....”


“Belum tentu, Bun... Mungkin pun ga akan pernah percaya dan menerima aku lagi ke tengah-tengah mereka---“


“.....”


“Dimata mereka, pasti... Aku sudah begitu menyakiti Val---“


“.....”


“Bunda liat bagaimana Val hari itu... Keluarganya ga akan pernah terima putri mereka dibuat sampai begitu...”


“.....”


“Kalau saja jantungku ini cocok untuk diberikan kepada Bunda, aku lebih memilih mati Bun, daripada aku harus menyakiti Val sampai begini... Tapi atas dasar kita tidak berdaya... Mencari donor jantung untuk mengganti jantung tante Ranti yang sekarang Bunda gunakan itu, bahkan bertahun-tahun pun, belum tentu kita menemukan pengganti yang cocok untuk Bunda... Aku mencintai Val, Bun... Sangat... Tapi bagaimana aku bisa tahan, jika hidup Bunda juga dipertaruhkan?...


“Maafin Bunda, AA... Maafin Bundaa... Gara-gara Bunda... AA jadi menderita...”


“Udahlah Bun, mau dibilang apa?... Nasi sudah menjadi bubur---“

__ADS_1


****


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,


“Sweety.”


Sebuah suara selembut beledu terdengar di sebuah kamar dimana ada boneka beruang berukuran raksasa di dalamnya.


Dimana si pemilik kamar sedang duduk di atas pangkuan boneka beruang tersebut sambil memegang ponselnya yang juga sedang ia tatap, dengan pipinya yang nampak basah berikut juga matanya.


Val, langsung menoleh ke arah wanita berparas cantik dengan suara lembut yang baru saja memanggilnya itu.


“Mom Peri...”


Sambil Val menghapus dengan cepat lelehan air matanya, lalu tersenyum kepada ibu kandungnya itu.


“Sedang chat dengan siapa?...”


Mommy Ara bertanya sembari mengambil tempat di dekat Val, dengan menarik satu kursi tunggal yang ada di dekat salah satu dinding balkon kamar pribadi Val tersebut.


“Tidak dengan siapa-siapa, Mom...”


“Berselancar di sosmed?...”


“Tidak, Mom.”


“Lalu?... Apa ponsel kamu rusak?”


Mommy Ara masih melontarkan pertanyaan-pertanyaan ringan pada Val.


“Tidak, Mom. Val sedang menghapus ‘jejak’ seseorang.”


Dimana jawaban Val barusan itu, Mom Ara paham maknanya.


Karena sekilas saat melirik ponsel Val yang sedang dipegang putri kandungnya itu, mata Mom Ara melihat foto Kafeel yang sedang diperhatikan oleh Val dalam ponsel pribadinya itu, lalu dihapusnya.


****


“Apa kamu sudah menghafal semua bagian di mansion ini, hem?...”


Pertanyaan Mom Ara yang barusan membuat Val tertawa kecil. “Tidak terlalu, Mom. Karena ternyata mansion ini luas sekali, lalu masih banyak juga lorong yang tembus sana-sini.”


“Iya, Mom saja sering tersasar di sini saat awal-awal menikah dengan Dad R---“


“Dan pasti Mom dan Dad juga suka curi-curi pergi ke tempat yang sepi di mansion ini ya?...”


Mom Ara pun terkekeh, dan diikuti juga oleh Val.


****


“Apa kamu tidak ingin pergi ke luar mansion?”


Mommy Ara kembali bertanya, sambil mengelus lembut lengan Val.


“Shopping? Kalau mau, kamu bisa mengajak Ann, May bahkan Rery. Atau Mommy dan The Moms bahkan juga Gamma dan Oma mau ikut serta---“


“Terima kasih Mom, tapi Val belum ingin.”


“Lalu inginnya apa?... Mom dan kami semua dengan senang hati menemani...”


“Val belum menginginkan apa-apa, Mom...”


“Tapi nanti jika memang kamu sudah menginginkan sesuatu, jangan pernah ragu untuk mengatakannya, hem?...”


“Iya, Mom.”


“Dan jika ada yang masih membebani hati kamu, bagi ya pada Mom?...”


Val menarik sudut bibirnya.


“Jangan disimpan sendiri. Nanti disini...”


Mom Ara meletakkan tangannya di dada sebelah kiri Val.


“Akan kian sesak---“


“.....”


“Dan kamipun akan ikut sesak, Sweety.”


“.....”


“Kami... akan merasa sangat bersalah setiap kali kami melihat air mata kamu---“


“Maaf, Mom-my---“


“No, Sweety... Kami yang seharusnya meminta maaf padamu... Kami yang lalai menjadi orang tua hingga sampai kamu kehilangan kebahagiaan kamu. Tidak becus---“


“No, Mommy, No...” sergah Val dengan cepat.


Sambil Val menggeleng-geleng dan menggenggam tangan Mommy Ara.


“Mom Peri, Dad R dan se-muuaa orang tua angkat Val adalah orang tua yang terbaik.”


“Sweety---“


“Val yang salah, karena kenaifan Val sendiri yang benar-benar dibutakan oleh cinta, hingga tutur kata yang sempurna dan indahnya apa yang Val lihat dari luarnya, nyatanya hanya tipuan saja.”


Val bertutur lirih, dengan dirinya yang sudah beringsut dari tempatnya. Dimana Val kini telah bersimpuh dan meletakkan kepalanya di paha Mommy Ara.


“Jangan Mommy... Jangan mempersalahkan diri atas kesalahan Val, ya? Begitu juga semua orang tua dalam keluarga ini. Kalian yang terbaik. Keluarga terbaik di dunia. Saa-ngat sangat terbaik. Kalian anugerah terindah untuk Val, apalagi Mommy. Ibu Peri yang Val sayangi sekali---“


“Oh sayang...”


Yang Mommy Ara raih pundak Val dan kemudian dibawanya Val untuk Mommy Ara peluk dengan eratnya, hingga keduanya terisak bersama.


“Sa-yaang Mom Peri...”


****


“Beritahu Mommy, jika kamu butuh sesuatu ya?---“


“Iya, Mommy.”


Val mengangguk seraya mengulas senyuman pada Mommy Ara, selepas keduanya telah tidak lagi saling terisak.


“Ya sudah, Mom kembali ke kamar dulu ya?---“


“Iya, Mommy...” tukas Val dengan lagi tersenyum.

__ADS_1


Dimana senyuman itu dipertahankan oleh Val, sampai Mommy Ara telah keluar dari kamarnya.


‘Mom Peri nampak kurang sehat, dan itu pasti karena ia sangat terbebani olehku... Sama seperti Dad R...’


Val membatin kemudian.


“Aku rasanya tak berguna menjadi seorang ayah, jika putriku menghabiskan waktunya untuk menangis tiada henti, jika sampai ia tidak bahagia... Berikan kebahagiaan yang mutlak baginya, Tuhaan... Betapa aku ingin sering memeluknya... Tapi mataku tak sampai hati melihat wajah muram Val yang hatinya terluka...”


Lalu Val teringat pada saat ia mendengar Dad R sedang menyendiri di rumah ibadah dalam mansion.


‘Maafkan, Val... Daddy... Mommy...’


****


“Mika pasti belum pulang dari kampus. Tapi Ann dan Rery kemungkinan sudah pulang dari sekolah... Aku akan mengajak Ann dan Rery nonton film saja mungkin ya?... Daripada aku berlama-lama di kamar dan Mom Peri, Dad R serta lainnya akan semakin terbebani karena aku...”


Val menggumam panjang. Lalu menghela nafasnya dengan berat kemudian.


“Kosong kamar Ann... Berarti Ann dan Rery belum pulang dari sekolah? Atau mungkin mereka masih berada di lantai bawah?...”


Val menggumam, ketika ia mengetuk pintu kamar Ann dan tidak ada jawaban. Kemudian langsung membuka pintunya yang Val ketahui tidak terkunci karena kotak akses di dinding kamar samping pintu, tombol hijau kecilnya menyala.


“Apa Val sudah lebih baik?...”


Satu suara Val dengar dari arah balkon lantai dua, ketika ia telah mencapai lantai tersebut menggunakan tangga.


“Rasanya masih sama.”


“Baru beberapa hari. Lukanya masih basah...”


“Haahhh---“


“Sabar ya, Kak?---“


“Aku benar-benar merasa bersalah pada Val, Little F...”


“Not only you, R---“


“Iya Kak, Lucca bener. Ga cuma Kak Ren yang ngerasa bersalah pada Val, tapi kami semua juga sama. Ngerasa gagal jadi orang tua kalo melihat anaknya kehilangan kebahagiaan...”


“Haahh, rasanya ini lebih buruk daripada memiliki anak perempuan yang hamil di luar nikah.”


“Indeed ( Benar sekali )”


“Kalau tahu begini, rasanya ingin memutar waktu disaat Val minta dinikahkan dengan bocah tengik Adiwangsa itu---“


“Menyesal ga akan merubah apa yang terjadi, Kak. Mendingan kita fokus mikir cara untuk membuat Val meraih kebahagiaannya lagi kalau memang Kaka bukan jodohnya.”


“Ya memang bukan jodohnya, Heart---“


“Iya, sih.”


“Sudah menikahi perempuan yang sudah hamil anaknya. Itu berarti garis jodoh Val dan si bocah tengik itu sudah putus...”


‘Kak Kafeel...’


Val membatin lirih setelah mendengar ucapan salah satu orang tua yang sedang mengobrol dengan nada suara rendah di balkon lantai dua mansion mereka.


“Ngomongnya pelan-pelan, nanti Val dengar.”


“Dia masih mengurung diri di kamarnya. Dan lagi ini lantai dua, dan balkon kamar Val juga tidak dekat dengan di sini...”


“Iya, takut aja Val dengar ucapan kamu tadi itu, D... Nanti dia inget lagi, sedih lagi. Ga nyesek apa ngeliat satu anaknya begitu?...”


“Iya, maaf. Aku hanya bicara fakta. Ya sesak pun aku rasa melihat Val seperti itu entah sampai kapan, dia kan putriku juga, Heart---“


‘Maafkan Val semua...’


****


Val urung untuk menyapa para orang tua yang sedang berada di salah satu balkon lantai dua mansion mereka, dan melanjutkan langkah diam-diam dengan mengambil jalan melewati lorong yang tidak melalui balkon tersebut untuk sampai ke lantai bawah, karena air matanya sudah lagi membendung mengingat fakta jika Kafeel telah menghamili perempuan yang telah menjadi istrinya itu.


“KENAPA, KAK? KENAPAA??!!...”


Yang kemudian air mata itu Val tumpahkan dengan tanpa ragu, setelah ia mencapai sebuah bagian mansion dimana tidak akan ada orang yang mendengarkan teriakannya.


Tempat rahasia yang letaknya ada di bawah tanah mansion, yang disebut sebagai ‘Safe House’.


“Padahal Val mau terima Kak Kafeel meskipun Kakak sudah tersilap hingga meniduri wanita lain...”


Kemudian terisak hebat, setelah Val meluapkan kemarahan di hatinya yang bercampur kepedihan itu.


“Kenapaaa Kakak harus menikahinyaa??!!..”


Kemudian Val meluapkan lagi seruan putus asanya.


“Val mau Kak... Val mau mengurus anak Kakak meski itu bukan anak dari Val... Kakak tidak perlu menikahi wanita itu... Tidak perlu membuat Val sampai begini... Kenapa tidak membicarakan dulu dengan Val?... KENAPAA??!!... Kenapaa, Kakk... Membuat Val jadi seperti inii?... Membuat Val jadi penyebab keluarga Val bersusah hati... Belum lagi, Kakak membuat Val tidak dapat tidur dengan tenang... Kepala Val sakit Kak... Tidak cukup kah Kakak membuat sakit hati Val dengan sangat??...”


Berbicara sendiri, histeris, lalu terisak lagi.


“PERGI KAK! PERGI DARI HATI DAN KEPALA VAL!... Per-giiii...”


Val seperti itu sampai beberapa waktu, hingga kemudian hanya tangisannya saja yang terdengar.


****


“Hey, pangeran tidur berbulu. Maaf ya, aku terlupa jika di sini ada kamu. Aku sudah berteriak macam orang gila tadi...”


Val telah berada di satu ruangan lain dalam ‘Safe House’ setelah ia mencukupkan dirinya untuk meluapkan segala yang ia rasa dalam hatinya di satu ruangan yang lain.


Lalu Val terkekeh getir. “Tapi aku memang akan gila sebentar lagi sepertinya.”


Val berucap kemudian, sambil memperhatikan seekor hamster yang ada di dalam sebuah ruangan khusus dimana ada beberapa perangkat elektronik serta selang yang terpasang di tubuh mungil hamster yang merupakan bahan penelitian Ann itu.


“Kepalaku sudah sangat sakit, begitu juga mataku yang hanya bisa aku pejamkan sedetik saja jika aku hendak tidur. Tahu tidak kenapa?... Semuanya karena Kafeel Adiwangsa.”


Val berbicara pada hamster yang nampak tidur nyenyak itu.


“Saat aku membuka mata, pria itu, pasti ada di mana mataku memandang lalu menatapku dan tersenyum. Saat aku memejamkan matapun, dia juga muncul. Dan aku selalu merasakan sakit di jantungku setiap kali aku melihat wajah si Kafeel Adiwangsa itu.”


Val menghela panjang nafasnya.


“Enak sekali jadi dirimu ya, pangeran tidur berbulu. Tidurmu sepertinya nyenyak sekali tanpa beban pikiran dan mental sepertiku...” ucap Val yang berbicara sendiri itu.


Hingga kemudian mata Val menangkap sebuah kotak kaca berisikan botol dengan cairan berwarna fuschia di dalamnya.


🍁🍁🍁🍁


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2