
( PENOLAKAN )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Noted: Terima kasih untuk apresiasi kalian, tapi baca dulu episodenya sebelum memberikan LIKE / KOMEN yuah...
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Rumah Kafeel, Jakarta, Indonesia.
“Val yang Kak Kafeel kenal itu kan santun. Ga seperti ini-----“ Kafeel yang berkata.
Dimana Kafeel-katakanlah sedang menasehati Val, sekaligus menampakkan sedikit ketidak-sukaannya atas sikap Val yang Kafeel anggap tidak sopan itu.
Pertama, Val-meski tidak keras melakukan, telah menarik kasar Rara-sepupu Kafeel, lalu mendorong wanita itu.
Kedua, Val mengeluarkan cibiran tajam yang terdengar merendahkan untuk Rara. Dimana Val mengatakan jika Rara adalah perempuan gatal.
Dan di mata Kafeel, hal itu tidak sepatutnya Val lakukan, jadi Kafeel menasehati Val dengan caranya, atas dasar pemikiran Kafeel.
“Dan Val yang seperti ini dan berucap sekasar tadi, aku ga suka....” sambung Kafeel dengan menatap serius pada Val.
“Oh....” tukas Val datar, membuat Kafeel sedikit mengernyit. Namun tak lama kemudian Kafeel kembali ingin berkata pada Val.
“Jadi tolong Val----“
“Uncle Rico, Aunt Shireen----“
Namun Val keburu menyambar untuk bicara, saat Kafeel hendak lagi berbicara padanya.
Dua orang yang Val sebut itu dengan Val yang menoleh pada keduanya itu pun lantas langsung menyahut seraya menoleh juga pada Val.
Dan Kafeel terdiam seraya ia mengernyit lagi, sambil memperhatikan Val.
“Uncle dan Aunt mau pulang sekarang tidak? Karena jika iya, Val mau ikut ...”
“Heu? ... V-al?----“ Kafeel terkesiap.
Si AA merasakan ketidak-beresan.
♥♥
“Val---“
“Atau Val minta Kak Sony sama Kak Arya saja ya yang antar Val pulang jika Uncle dan Aunt masih ingin disini? ...”
Val kembali bicara pada Uncle Rico dan Aunt Shireen, mengabaikan Kafeel yang menyebut namanya barusan itu.
Bahkan Val melenggang begitu saja dari hadapan Kafeel menghampiri kedua orang tua kandungnya Sony dan Arya itu.
“Val mau pulang?---“
Uncle Rico bertanya dan Val langsung mengangguk.
♥♥
“Val-“
“Val nu geulis.”
Bunda Kafeel segera saja mendekati Val yang sedang berada dalam belaian sayang Aunt Shireen, mendahului putranya yang juga ingin mendekati Val.
Val langsung saja menoleh pada ibu kandung sang kekasih setengah om-omnya saat Bundanya Kafeel itu menyebut namanya dengan embel-embel pujian seraya telah mendekat padanya.
“Eh iya Bunda.”
Val seketika teringat jika ia sudah bersikap tidak sopan pada Bundanya Kafeel.
Karena dia sudah keburu di buat panas oleh wanita yang merupakan sepupunya Kafeel, dan keburu merasa kesal karena ‘diceramahi’ Kafeel, Val jadi lupa untuk bersikap santun selayaknya biasa Val berkelakuan pada orang lain.
“Salim...”
Val melepaskan diri dengan lembut dari Aunt Shireen, lalu mengulurkan tangannya kepada Bundanya Kafeel.
“Maaf ya Bunda, Val sampai lupa menyapa Bunda –“
“Ini udah nyapa Bunda kan?”
Val pun tersenyum ceria pada Bundanya Kafeel.
“Ya udah hayu atuh Val nu geulis duduk dulu?”
Bundanya Kafeel merangkul bahu Val dan mengajaknya duduk, seraya membujuk Val-yang Bundanya Kafeel tahu jika Val sedang merajuk.
“Oh iya Bunda, Lena mana?...”
“Ada di kamarnya, lagi kurang enak badan...”
“Heemm-“
Val berdehem samar sambil manggut-manggut.
“Lena kenapa Bun?, tadi pagi perasaan dia oke-oke aja?...” Kafeel menyela.
“Lagi mau dapet kayaknya sih, jadi lemes itu dia...”
Bundanya Kafeel pun menjawab pertanyaan sang Putra, lalu kembali lagi pada Val.
“Val geulis mau ketemu Lena?. Hayu Bunda anter ke kamar Lena.”
Val menanggapi dengan gelengan ajakan Bundanya Kafeel.
“Tidak usah Bunda, nanti Val mengganggu Lena yang sedang beristirahat.”
“Lena malahan seneng kalo ketemu Val pasti ----“
Kembali Bundanya Kafeel mencoba membujuk Val, agar tidak lagi merajuk dengan menggunakan Lena sebagai alibinya, yang juga berteman baik dengan Val.
“Nanti saja Bunda, Val menemui Lenanya...”
Val menolak dengan halus, serta menyertakan senyuman.
“Ya udah kalau begitu... Ra, kamu duduk deh mendingan. Kamu juga ya Val?...” Kafeel bersuara, menoleh pada Rara yang langsung mengangguk mengiyakan ucapan Kafeel, dan Kafeel juga menoleh pada Val.
Namun Val bergeming saja saat Kafeel berbicara padanya untuk mempersilahkan Val duduk.
__ADS_1
“Sini yuk?...”
Kafeel menyentuh tangan Val yang sedang direngkuh bahunya oleh Bunda Magda, hendak menuntun Val untuk duduk di salah satu sofa single yang kosong di dekat Uncel Rico.
‘Eh?---‘
Kafeel terkesiap.
“Val?...”
Dan Kafeel langsung bersuara kemudian, setelah tangannya ditepiskan dengan pelan oleh Val yang menggerakkan lengannya yang disentuh oleh Kafeel.
“Hayu atuh duduk sini Val?. Val mau minum apa?” Bunda Magda kembali mengambil alih pembicaraan, karena paham situasi.
Dimana terlihat jelas jika Val sedang dalam mode merajuk?-Mungkin?-Pada sang putra karena 'diceramahin' dan Val anggap jika Kafeel sedang memarahinya.
Ya begitu kiranya Bunda Magda berpikir tentang sikap Val jelas mengabaikan Kafeel.
“Terima kasih Bunda ----“
Val menyahut.
“Bunda tidak perlu repot-repot, dan lagi Val juga tidak haus kok.”
Val menolak halus seraya tersenyum pada Bunda Magda.
“Ya udah, duduk aja kalo gitu yah?... Sekalian kenal----“
“Val duduk di Kediaman saja nanti, Bunda...” potong Val, dan ucapan Val membuat Bunda Magda serta Kafeel terperangah. “Val pamit pulang dulu ya Bunda?...” lanjut Val.
“Eh kok?-----“
“Val------“
“Loh, kok udah mau pulang aja Val?”
Suara Arya memotong Kafeel dan Bundanya yang ingin menyergah Val, dimana si gadis ulat bulu yang nampak sedang merajuk serius itu berpamitan pada Bunda Magda dengan meraih lagi tangan ibu kandung Kafeel tersebut dan menyalimnya takdzim.
“Eh Kak Arya. kebetulan----“
Val serta merta langsung menoleh ketika mendengar suara Arya yang baru masuk dari pintu depan , bersama Sony.
“Uncle sama Aunt tidak apa jika masih ingin disini, Val minta tolong diantar kembali ke Kediaman oleh Kak Sony dan Kak Arya saja, boleh kan?”
“Iya boleh. Terserah Val saja, mau diantar Uncle dan Aunt atau dengan Sony dan Arya---“
“Val geulis...”
Bunda Magda bersuara lembut.
“Hey Val, Val marah sama Kakak?”
“Kak Sony dan Kak Arya, mau tidak mengantar Val kembali ke Kediaman?...” Val mengabaikan Kafeel yang bertanya padanya, dan sekali lagi menepiskan pelan tangan Kafeel.
“Nah loh, ada apa nih?” Sony bertanya pelan, sambil melirik pada Val, Kafeel, Bundanya Kafeel, lalu kepada kedua orang tuanya, termasuk tiga orang saudara Kafeel.
“Maukah? ---“ Val kembali bertanya dengan matanya yang memandang pada Sony dan Arya. "Kak Sony dan Kak Arya Val repotkan untuk mengantar Val kembali ke Kediaman?"
“Yaa mau aja, sih---“
Arya menyahut ragu-ragu dan melirik pada Sony.
“Val, kok jadi ngambek gini sih?”
Kafeel menyela.
“Ya kamu lagian sih...”
Bunda Magda menegur putra sulungnya.
“Pake segala marahin ini si Val!”
“Siapa yang marahin sih Bun?... Aku Cuma nasehatin aja kok?...”
Kafeel menyergah tudingan kecil Bundanya. Lalu kembali lagi bicara pada Val.
“Aku tuh ga marahin kamu Val, aku Cuma nasehatin, supaya kamu jangan kasar sama orang lain---“
“Val permisi ya Bunda, Assalamu’alaikum.”
Mengabaikan Kafeel dengan telaknya-tanpa sedikit pun menoleh dan menyahut pada Kafeel, Val kembali berpamitan hanya pada Bunda Magda saja.
Yang tentu saja langsung kembali menahan Val seraya membujuknya. “Eh Val, geulis, atuh jangan begini.” Ucap Bunda Magda, sambil meraih Val dan merengkuh pinggang Val sambil mengelus – elus lengan Val. “Maafin si AA ya?. Lagian Val kan baru sampe, masa mau langsung pulang? ....”
“Val merasa kurang enak badan, Bunda ....”
Val menyahut lembut seraya ia tersenyum pada Bunda Magda.
“Ayo Kak Sony, Kak Arya—“ lalu Val beralih pada Sony dan Arya.
“Val ---“
“Uncle, Aunt, Val duluan ya?”
Lagi – lagi Val mengabaikan Kafeel.
“Iya Val.” sahut Uncle Rico dan Aunt Shireen yang sudah berdiri itu.
“Val geulis----“
Bunda Magda hendak lagi bersuara, namun urung karena Kafeel mengkodenya untuk tidak lanjut berbicara, dimana Kafeel yang kini maju untuk berbicara pada Val.
“Val, kok Val jadi begini sih?” Kafeel meraih kedua lengan Val, yang orangnya dihadapkan pada dirinya.
“Ayo Kak Sony, Kak Arya.” Val menepiskan lagi tangan Kafeel dari tangannya.
“Eennnggg---“
Sony dan Arya jadi agak – agak bingung juga.
"Val, jangan kekanak – kanakan begini lah. Kalau kamu tetap kekeh mau pulang, itu tandanya kamu ga menghargai aku, ga menghargai Bunda.”
Kafeel menahan lagi langkah Val, dengan menghadang jalan Val kini.
“Lagipula Val coba ingat – ingat sikap Val dari sejak datang? ....” ucap Kafeel. “Val langsung menarik dan mendorong Rara, Val bahkan tidak menyapa orang tuanya, Val juga bersikap kurang sopan pada ibunya Rara.”
Kafeel kembali berucap.
“Aku ini menasehati kamu, Val .... bukannya memarahi Val .... kenapa Val malah jadi bersikap seperti ini, siih? ....”
__ADS_1
Kafeel mendengus di akhir kalimatnya. Tapi ....
“Kak Sony kunci mobilnya mana? Val ingin masuk duluan ....” Val tak menanggapi lagi Kafeel.
“Ya Tuhaaaan-“ Kafeel menggeram tertahan, karena Val benar – benar mengacuhkannya.
Kafeel jadi sedikit dongkol dibuat Val, karena diacuhkan seperti itu.
“Val, dengar.”
Kafeel sudah kembali mendekati Val yang sudah berada di luar gerbang rumahnya dan sudah berada juga di dekat mobil Sony.
“Kalau Val tetap mau pulang dengan cara seperti ini, terserah Val.” ucap Kafeel. “Aku ga akan menahan kamu... tapi Val ingat, dengan Val yang seperti ini, Val sudah menyinggung perasaan Kakak. Kenapa? ... karena Val tidak menghargai Bunda, tidak menghargai adanya keluarga Kakak. Kakak tidak membela Rara, Kakak hanya bicara untuk menasehati Val, semata – mata untuk kebaikan Val ...”
Tidak ketus bagaimana Kafeel berbicara pada Val saat ini, namun nampak memang gurat ketidaksenangan di wajah Kafeel, walau tidak kentara.
“Kalau Val mau pulang, silahkan. Aku tidak akan menahan lagi. Aku ga tahu dimana salahnya aku yang menasehati kamu, tapi ya sudah, aku minta maaf ...”
Kafeel mulai sedikit habis sabar.
“Tapi asal Val tahu, aku kecewa dengan sikap kamu yang seperti ini ...” sambung Kafeel.
“Kak Sony, Kak Arya, kenapa diam? ... Bukakan kunci mobilnya karena Val ingin masuk ...”
Namun begitu, Val tetap saja kukuh dengan sikapnya yang mengacuhkan Kafeel.
“Eeenggg ...”
Lagi – lagi Sony dan Arya dibuat bingung berduaan. Keduanya yang kini ada bersama Val dan Kafeel di luar gerbang rumah Kafeel, sementara Uncle Rico, Aunt Shireen serta Bundanya Kafeel hanya sampai di pintu ruang tamu rumah Kafeel saja, tidak mengikuti dua sejoli yang nampak sedang bersitegang secara halus itu.
“Buka Son! Tuan Putri mau masuk mobil!” Kafeel bersuara.
Datar, namun tersirat kesinisan pada Val di ucapan Kafeel yang nampak frustasi juga.
“Hati – hati di jalan ...”
Kafeel membukakan pintu belakang mobil Sony, kala Sony telah membebaskan kunci otomatis dari remote mobil di tangannya.
“Kasih dia waktu dulu deh, Kak Kaf.”
Sony berujar kala dia sudah setengah badan masuk mobil, dimana Val telah duduk cantik di kursi penumpang.
Meski Sony tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi sampai Kafeel dan Val nampak bersitegang seperti ini, tapi sedikit banyak yang Sony tangkap keduanya sedang bertengkar, dimana Val kemudian merajuk.
“Oh iya of course ..... gue akan kasih dia waktu, sebanyak yang dia mau .....” sahut Kafeel.
Namun Kafeel menatap pada Val dari tempatnya berdiri di dekat Sony yang telah duduk di kursi kemudi.
“Silahkan Val mengambil waktu sebanyak mungkin yang Val inginkan, aku ga akan ganggu. Kalau Val keras, aku juga bisa keras ....”
“Ayo Kak Sony ....” potong Val dengan datarnya. Matanya lurus ke depan saja tanpa menoleh pada Kafeel.
“Kamu benar – benar kekanakkan ya Val –“
Kafeel mengeluh.
“Tapi ya sudahlah ....”
Kemudian berucap lagi setelah Kafeel menghela nafas yang terdengar berat.
“Hati – hati di jalan, dan mohon maaf, kalau aku mungkin ga bisa menyempatkan waktu untuk memastikan apa kamu sudah sampai di Kediaman-----“
Lalu Kafeel tersenyum tipis, sedikit sinis.
“Aku sedikit lelah menghadapi gadis yang kelewat keras kepala ....”
‘Hmmm.’
Hati Arya dan Sony sama-sama berkesah.
‘Salah lo ngomong begitu sama si Val, Kak Kaf----‘ Dan kiranya kedua kakak beradik itu membatin dengan ucapan yang sama.
“Jalan Son, nanti Tuan Putrinya tambah ngambek.” Sindir Kafeel, sambil menjauh dari tempat Sony duduk, sekaligus meraih pintu mobil Sony dan bantu menutupnya. “Oh iya Val, mungkin selain aku ga bisa menghubungi kamu, aku juga ga bisa mampir untuk menemui kamu nanti malam atau besok...”
‘Gue yakin nih orang bakal nyesel ngomong begitu sama si Val... nih anak emang lembut hatinya, tapi keras kepalanya ngalahin si Mika yang judes itu ---‘
Kira – kira Arya dan Sony membatin dengan hal yang sama, karena mereka mengenal Val lebih lama dari Kafeel dan lebih sering menghabiskan waktu bersama Val dan para saudara – saudarinya, jadi kurleb duo kakak beradik ini sudah lebih paham dari Kafeel atas sifat masing – masing para pewaris muda dalam Keluarga The Adjieran Smith.
‘Kak Kafeel nih ga tau, apa dia lupa, kalo itu manusia – manusia rupawan dalam Dinasti The Adjieran Smith ga bisa ditantangin,ditakut - takutin sama diancem - ancem, termasuk ini bocil – bocilnya...’
“Tunggu Kak Sony!” suara Val terdengar saat Sony telah menyalakan mesin mobilnya.
Kafeel yang masih berdiri di dekat sisi Sony yang terbuka kacanya itu dan mendengar Val menyergah Sony untuk tidak langsung jalan, langsung tersenyum dalam hatinya.
Karena Kafeel merasa ucapannya mengena di hati Val, yang selama ini memang tidak bisa untuk jauh darinya atau tidak berkomunikasi dengannya dari saat mereka belum resmi berpacaran.
Tega tak tega Kafeel berkata seperti tadi sebenarnya, selain ia merasa dongkol juga pada Val. Tapi syukurlah jika dari kata –katanya yang terakhir sebelumSony menyalakan mesin mobilnya, membuat Val merasa khawatir jika dirinya akan kehilangan perhatian dari Kafeel.
Begitu sih, pikir Kafeel.
Hanya saja ....
“Sehubungan dengan yang tadi anda katakan soal tidak bisa menghubungi saya dan tidak bisa mampir menemui saya nanti malam atau besok, kiranya tolong diteruskan dan anda ingat baik - baik---“
‘Nah gue bilang juga apa!’
Hati Sony dan Arya kompak berkata.
"Tidak perlu lagi menghubungi saya, karena mulai saat ini kita tidak ada urusan. Dan jangan datang ke Kediaman keluarga saya, jika tidak ada kepentingan lain soal hubungan kerja anda dengan kakak lelaki saya atau dengan para Dads saya---“
Val berkata dingin tanpa melihat Kafeel, meski pria itu ada di dekatnya, hanya terpisah pintu mobil dan jendela kaca mobil yang Val turunkan sampai hampir habis.
“Kak Sony bisa melajukan mobilnya sekarang.....”
Val kembali berucap, sambil menaikkan kaca mobil di sisi kanannya.tanpa lagi menoleh pada Kafeel atau sekedar melirik pada kekasih setengah om – omnya itu.
‘Sekalem – kalemnya si Val... tetep aja dia anak naga yang ga bisa disulut-sulut emosinya. Kecil mungkin semburannya, tapi tetep aja api!’
Hati duo kakak beradik yang lagi – lagi kompak setelah mendengar kalimat Val untuk Kafeel sebelum Sony melajukan mobilnya.
‘Damage ga tuh, ulet bulu blasteran naga kalo udah nyembur?!’
Prihatin, tapi duo kakak beradik yang duduk di kursi bagian depan mobil, juga terkekeh dalam hati mereka.
'Si Kak Kafeel yang disembur Val dengan bau - bau 'Lo Gue End', my heart yang feeling - feeling nyeri .....'
Sementara Kafeel membeku di tempatnya setelah mendengar kalimat super dingin nan tajam dari mulut Val.
♥♥♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue ...