
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Episode sebelumnya:
“To the point aja Ka, lo mau membatalkan hubungan lo dengan Val? Ya atau tidak? - Gue ga mau punya adik ipar yang plin – plan..” ( Varen ).
“Secara perasaan, engga--- “Gue sudah jatuh terlalu dalam pada satu adik lo itu.” ( Kafeel ).
“Lalu?” ( Varen ).
“Tapi secara logika, Ya.” ( Kafeel ).
“Logika macam mana?. Jangan bilang, lo adalah satu primitif yang mempertimbangkan soal kasta sosial –“ ( Varen ).
“Bukan itu –“ ( Kafeel ).
“Usia?” ( Varen ).
“Masa lalu gue Va ------ Gue telat mikir, jadi gegabah dengan mengungkapkan perasaan gue pada Val ------ Gue terlalu naif, Va..”
----
“Kita tidak tahu kedepannya seperti apa. Kakak juga kan tidak akan selalu bisa ada disamping Val. Lalu saat Val merengek Kakak harus ada di hadapan Val dengan segera nyatanya Kakak ga bisa, Kakak yang akan terbebani dengan rasa bersalah..... Val ngerti kan?” ( Kafeel ).
“Iya Val mengerti Kak.” ( Val ).
♥♥♥♥
Indonesia
Val menggerakkan matanya setiap beberapa detik sekali hanya untuk memandang pada Kafeel yang tengah mengantarnya untuk menaiki jet pribadi milik salah satu Dadnya itu.
Kafeel menggenggam tangan Val mesra sebelum Val sampai di ujung tangga jet pribadi yang akan Val tumpangi untuk bertolak dari Indonesia, ke satu negara tetangga yang jaraknya tidak jauh.
“Safe flight ya? ....” ucap Kafeel setelah melepaskan genggaman tangannya, dan beralih mengusap lembut puncak kepala Val yang langsung mengangguk untuk menanggapi ucapan Kafeel barusan.
Cup!.
Kafeel mengecup lembut satu pipi Val.
Val pun tersenyum, lalu memasang posisi yang ia rasa cukup pas, karena menunggu tindakan Kafeel setelahnya.
Cup!.
Kafeel mengecup satu sisi lain pipi Val yang belum ia kecup.
“Safe flight sekali lagi, dan jangan lupa istirahat setelah kamu sampai di SIN nanti, jangan langsung jalan-jalan.”
Kafeel berujar lembut setelah ia mengecup kedua pipi Val.
“Kok hanya di pipi? –“
Val langsung saja bersuara seraya bertanya, karena adegan yang ditunggu-tunggunya tidak Kafeel lakukan.
“Disini.... Tidak?....”
Val meletakkan telunjuknya di bibir, sambil mengetuk-ngetuk pelan disana.
“Aku ga enak dengan para saudara dan saudari kamu jika aku cium bibir kamu sekarang.”
Kafeel menjawab bijak, seraya ia tersenyum pada Val.
“Mereka juga pasti paham Kak –“
“Sudah masuk pesawat sana. Kasihan saudara dan saudari kamu sudah menunggu lama.”
Val tidak sampai mengatakan jika ia sungguh mendapatkan sentuhan di bibirnya dari bibir Kafeel walau hanya sebatas kecupan singkat, karena Kafeel keburu memotong ucapannya.
“Usahakan dapat mengunjungi Val di SIN sebelum Val bertolak ke London ya, Kak?”
Val pada akhirnya pasrah tidak mendapatkan ciuman di bibirnya dari Kafeel. Lalu berucap dengan menyelipkan permintaan dalam ucapannya pada Kafeel.
“Aku ga bisa janji Val.” sahut Kafeel yang membuat Val kembali merasa kecewa dan sedih disaat yang bersamaan.
“Ya sudah kalau begitu, Kak. Tidak apa-apa.... Val mengerti.” Tukas Val. “Val masuk ya?” ia pun berpamitan pada Kafeel dengan sedikit gontai.
“Iya, hati-hati.” Balas Kafeel seraya ia tersenyum dan mengusap lembut kembali puncak kepala Val.
__ADS_1
Val melayangkan senyuman pada Kafeel sebelum ia benar-benar masuk ke dalam jet, setelah sempat meraih tangan Kafeel untuk ia salim dengan takdzim, bahkan Val kecup telapak tangan Kafeel yang Val salim punggungnya.
“I’m gonna miss you Kak.”
“I’m gonna miss you too, Val-“ balas Kafeel. “Kabari kalau sudah sampai ya?....”
“Iya....”
Val menyahut tak bergairah.
Namun begitu Val tetap menamppakkan senyumnya pada Kafeel.
Sampai dimana Val kemudian bergegas untuk masuk ke dalam jet dan melambaikan tangannya pada Kafeel.
Dan Kafeel pun membalas lambaian tangan Val dengan tersenyum begitu tampannya di mata Val. “Bahkan Kak Kafeel tidak mencium bibirku---“
Val bergumam saat ia memasuki jet yang ia tumpangi untuk bertolak ke SIN.
“Padahal kan lama kami tidak akan bertemu dan menghabiskan waktu bersama?....”
Val pun menghela nafasnya frustasi sambil ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi jet pribadi milik salah satu orang tuanya itu.
♥♥♥♥
Singapura
Val dan para saudara – saudarinya telah sampai di sebuah negara yang memiliki julukan sebagai ‘Kota Singa’.
‘Kak, Val sudah sampai di SIN.’
Val mengetikkan dan mengirimkan pesan ke nomor kontak Kafeel, kala ia telah sampai di negara tujuannya beserta para saudara dan saudarinya yang turut serta bersama Val untuk menemani Aro.
Val dapat dengan leluasa mengirim pesan pada Kafeel, karena ia sudah membuat ponselnya terbuka untuk berkomunikasi antar negara.
Val pun tersenyum, setelah pesan balasan dari Kafeel ia terima ke nomor kontaknya.
♥♥♥♥
Komunikasi Val dan Kafeel terhitung lancar walau hanya sebatas chat, itupun tidak terlalu banyak.
Sampai hari dimana keluarga Val yang datang menyusul ke SIN itu sampai kesana, komunikasi diantara Val dan Kafeel pun terhitung lancar.
Yang terpaksa harus tidak ikut serta, karena salah satu dari tetua jatuh sakit secara tiba – tiba.
♥♥♥♥
“Lalu Ake bagaimana keadaannya?” tanya Val pada beberapa anggota keluarganya yang telah sampai di SIN.
“He’s alright now ( Dia sudah baik – baik saja sekarang )-“ Mama Fabi yang turut serta dengan Papa Lucca dan beberapa lainnya ke SIN itu, yang menjawab pertanyaan Val. “But Ake didn’t want to stay in hospital even Doctor told to ( Tapi Ake tidak mau dirawat di Rumah Sakit walaupun Dokter menyarankan )....”
“But Ake doesn’t suffer of bad disease right ( Tapi Ake tidak menderita penyakit yang gawat kan ), Ma-Bi?-“
“Engga.”
“Alhamdulillah.”
“Seharusnya kalian ga usah dateng kesini sih....”
“Iya, kan kasihan Ake.”
Rery menimpali ucapan Aro.
“Lagian kenapa ga kasih tau kami sih kalo Ake jatuh sakit?.... kita ini cucu – cucunya kan jadi merasa bersalah saat Ake sakit kita malah senang – senang disini....”
Mika ikut berkomentar.
“Iya bener. Aku rela kok batal ikut ini turnamen demi Ake,” timpal Aro.
“Udaaahhh. Ake ga kenapa – kenapa juga. Cuma rada ngedrop doang.... so kalian tenang aja, dan kamu fokus deh sama ini turnamen Ro.... kalo bisa jadi juara, biar nanti pulang bisa tunjukin deh tuh piala ke Ake.... lagian emang Ake yang pesen ga usah bilang kalian, takut pada khawatir berlebihan.”
Nathan berujar pada adik – adiknya yang kemudian manggut - manggut.
♥♥♥♥
“Dad R decided to holding off the plan for get back to London after we’re finish here ( Dad R memutuskan untuk menunda rencana kembali ke London setelah kita selesai disini )”
Mommy Ara bersuara, sambil menatap pada tiga orang anak mereka yang ikut berdomisili di London bersamanya dan para orang tua serta beberapa tetua itu. “Tentu kami tidak mau kembali ke London sebelum melihat kondisi Ake terlebih dahulu, meskipun kalian mengatakan jika Ake hanya sekedar turun kondisinya....”
Ann bersuara, mewakili Val dan Rery yang mana keduanya langsung mengangguki ucapan Ann barusan. “Iya betul itu.”
__ADS_1
Val dan Rery pun menimpali ucapan Ann. ‘Hah, memang aku ditakdirkan untuk dekat dengan Kak Kafeel---‘ batin Val setelah ia menimpali perkataan Ann. ‘Tapi bukan berarti aku senang Ake sakit loh ya, Wahai Tuhanku?...’
Val membatin lagi.
Yang mana sebenarnya Val juga bingung harus merasa bagaimana.
Di satu sisi, tentu saja Val prihatin sekaligus khawatir dengan kondisi Ake Herman yang katanya sedang turun kondisinya itu, meskipun kabar dari mereka yang menyusul ke SIN mengatakan jika salah satu kakeknya itu sudah baik – baik saja keadaannya.
Tapi di satu sisi, Val juga rasanya merasa bahagia karena dengan momen sakitnya Ake Herman - lalu Daddy R memutuskan untuk menunda kepulangan mereka ke London.
Bukan semata – mata Val bahagia karena satu dari dua kakeknya itu sakit, namun kepulangannya ke London yang tertunda itulah, yang membuat Val merasa bahagia, karena Val akan punya kesempatan lagi untuk bertemu dan menghabiskan waktu walau sebentar dengan Kak Kafeel tercintanya.
Namun, rasanya kebahagiaan Val agak sedikit terganggu - selain memang khawatir pada Ake Herman.
Dan meskipun ada kesenangan yang didapat oleh Val berikut keluarganya karena Aro masuk ke babak semi final dalam turnamen tenis profesional perdananya Aro di SIN itu.
Karena setelah saat pertandingan Aro selesai untuk menuju babak semi final, Kafeel sedikit sulit untuk dihubungi - bahkan selalu menolak untuk bertelefon ria, apalagi video call – an.
Jadi Val hanya berbalas pesan chat saja dengan Kafeel, dan itupun lama di balasnya.
“Abang .....”
Val memanggil sang Abang kandung, selepas turnamen tenis babak semi final yang diikuti Aro telah selesai.
“Hem?” sahut Varen.
“Kak Kafeel banyak sekali kerjaannya kah?”
“Lumayan.”
“Pasti ga lumayan.” tukas Val.
“Kenapa memangnya?”
“Val sulit menghubungi Kak Kafeel, dan sejak Val disini Kak Kafeel tidak sekalipun menghubungi Val atau mengirimkan pesan---“
“Mungkin lupa setting ponselnya.” sambar Varen.
“Setting ponsel?”
Val bertanya dan Varen mengangguk-angguk.
“Kak Kafeelmu sedang mengurus proyek di Dubai—“ jawab Varen cepat.
‘Dubai?’
Val langsung membatin.
‘Rara itu kan berdomisili di Dubai, ya?..... Kok Kak Kafeel tidak mengatakan apa-apa padaku jika akan pergi ke sana?----‘
Val menjadi sedikit murung.
‘Apa karena sedang menghabiskan waktu dengan Rara jadi Kak Kafeel bersikap acuh tak acuh padaku?’
Dan praduga was-was pun muncul di hati Val.
“Abang .....”
Val kembali memanggil Varen yang duduk di sampingnya itu.
“Hemm?.....”
Varen menyahut dengan deheman seperti biasanya.
“Apa Abang mengatakan pada Kak Kafeel jika kami yang berdomisili di London akan menunda kepulangan kami?”
“Tidak.”
Dan seperti biasanya, kalau ga dirasa penting olehnya, Varen akan menjawab dengan singkat saja.
‘Bagus! Aku bisa tetap mencoba membujuk Kak Kafeel untuk menyusul kesini dengan alasan aku yang akan kembali ke London!.... bagaimanapun aku tidak boleh membiarkan Kak Kafeel lama – lama berada di Dubai, lalu membuat si sepupu perempuan gatal Kak Kafeel itu bahagia disana menghabiskan waktu dengan kekasihku sementara aku merana kesepian menahan rindu pada Kak Kafeel!.... Apa perlu aku sambangi Kak Kafeel ke Dubai?---‘
Val dengan harapan dan rencana yang muncul spontan di otaknya.
“Kau jangan berpikir untuk menyusul Kaka ke Dubai, ulat bulu. Jangan mengganggu Kaka jika ia sedang mengurus pekerjaan. Ingat itu.”
Ah, Abang Varen kenapa tahu sekali apa yang sedang otak Val pikirkan.
♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue ...