HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 414


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jekardah, Indonesiah,


Sebagaimana dua pasang pengantin baru yang sedang berada di kamar mereka dalam hotel, para keluarga dari dua pasang pengantin baru itu pun juga sedang berada di dalam kamar mereka masing-masing untuk mengistirahatkan diri walau waktunya hanya sebentar saja---namun kiranya cukup untuk mengembalikan stamina yang sebelumnya terpakai saat acara akad nikahnya Mika-Arya serta Val-Kafeel yang setiap orang dari keluarga kedua pasang pengantin baru itu bahkan telah bersiap dari pagi buta.


Sama seperti dua pasang sejoli yang kini sedang menyandang pengantin baru, termasuk para staf keluarga The Adjieran Smith yang terlibat langsung dalam persiapan acara---kesemua orang selain para staf yang ditugaskan untuk persiapan resepsi Mika-Arya serta Val-Kafeel kini sedang memanfaatkan waktu istirahat yang mereka punya dengan sebaik-baiknya untuk memulihkan stamina mereka tersebut.


Namun tidak semua yang punya waktu singkat untuk beristirahat mereka gunakan untuk tidur, hanya sekedar berleha-leha saja di kamar dengan rebahan kiranya dirasa cukup bagi mereka yang sudah terbiasa sibuk. Toh sudah punya persiapan suplemen penambah stamina juga, dari beberapa dokter pribadi yang sudah akrab dengan keluarga The Adjieran Smith---yang konteksnya juga sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut---dan telah mempersiapkan beberapa orang dokter dan perawat lain yang mereka tunjuk untuk sekedar berjaga-jaga apabila ada keluarga atau bahkan para tamu yang staminanya menurun.


Terutama dua pasang pengantin baru yang amat sangat dipantau staminanya, karena mereka akan menerima ucapan selamat dari tamu yang ribuan jumlahnya.


*


“Bebeb Abang tadi pagi udah suntik vitamin?” Ini Drea yang bicara. Seraya ia bertanya pada Varen dalam kamar mereka di hotel tempat resepsi pernikahannya Mika-Arya berikut Val-Kafeel, dimana suami Drea itu langsung merespons ucapan sang istri.


“Sudah.”


“Tapi nanti sebelum resepsi Abang harus minum vitamin lagi—“


“Iya—“


“Soalnya kan banyak koleganya Abang yang diundang, yang bisa aja mengajak Abang mengobrol lama walaupun ini acaranya May-Kak Arya dan Val-Kak Kaf. Tapi tamunya ribuan dan rasanya setengahnya Abang kenal atau mengenal Abang yang pastinya mereka akan menegur dan ya itu mengajak ngobrol—“


“Ga hanya aku, tapi kamu juga, Little Star.” Varen menimpali lagi ucapan Drea. “Karena kamu juga kan nanti mendampingi aku,” tambah Varen. “Tapi nanti kita juga harus saling mengingatkan untuk memperhatikan Putra dan Gadis, karena mereka tidak akan bertahan sampai acara selesai dan jadi rewel seperti tadi—“


“Iya, Abang.”


Drea langsung mengiyakan ucapan Varen.


“Tapi kalau tidurnya Putra sekarang cukup, nanti pas acara pasti dia anteng. Apalagi kan ada area main anak-anak?..”


Drea kembali berujar.


Lalu Varen mengiyakan.


*


Drea dan Varen telah sama-sama membersihkan diri mereka dan kini sedang rebahan sambil berpelukan, namun menahan diri untuk tidak melakukan keintiman.


Semata-mata demi menjaga stamina untuk acara resepsi nanti, meskipun suntikan vitamin sudah mereka terima dalam tubuh sebelum acara akad nikah Mika-Arya dan Val-Kafeel berlangsung.


Termasuk juga penyediaan suplemen untuk dikonsumsi sebagai pendorong stamina pada saat resepsi pernikahan adik-adik perempuan mereka beserta pasangannya masing-masing yang sudah terbayang akan cukup melelahkan, karena undangannya ribuan.


Belum lagi acara nanti akan terbagi menjadi dua sesi. Seperti waktu Drea-Varen dan Nathan-Via berikut para orang tua mereka, dimana setelah acara resepsi utama---akan ada acara untuk senang-senang dengan kehadiran Live Music dan DJ, yang diperuntukkan bagi mereka yang usianya bisa dikatakan masuk dalam kategori muda-mudi.


Namun muda-mudi yang sudah cukup umur, yang usianya tujuh belas tahun ke atas---ga boleh kurang walau sehari.


*


“Kamu tidurlah dulu Little Star.”

__ADS_1


Varen memberi saran pada Drea yang tengah ia dekap di atas ranjang.


“Walau sebentar, tapi kalau lelap lumayan untuk memulihkan tenaga,” kata Varen lagi.


Drea pun langsung mengangguk mengiyakan.


“Ya kalo Bebeb Abang mau tidur juga, Drea tidur.”


Drea lalu berkata.


“Tapi kalo engga, Drea juga ga mau tidur. Lagian juga Drea ga ngantuk.”


“Aku juga ga ngantuk sebenarnya,” sahut Varen. “Tapi dengan kondisi saat ini, setidaknya kita harus paksakan untuk tidur.”


*


“Satu jam juga hitungannya lumayan kalau kita lelap tidurnya.”


“Iya sih.”


“Ya sudah, aku setel alarm dulu.”


Varen lalu bergerak untuk meraih ponsel di atas nakas pada satu sisi ranjang yang ia tempati.


*


“Oh iya, Bebeb Abang.” Drea bersuara saat Varen tengah meraih ponselnya.


“Apa?..” sahut Varen dengan segera.


“Belum.”


“Tapi Kak Kaf sudah tau?”


“Rasanya keluarga kita belum ada yang memberitahunya.”


“Kenapa?”


“Ya ga apa-apa. Cuma memang udah ga kepikiran lagi untuk bahas soal itu, karena Val juga sudah tidak pernah mengalaminya lagi sejak ia sudah mengingat Kaka.”


*


“Menurut Celine dan menurut apa yang sudah aku baca, jika tidak ada indikasi kerusakan pada otak terutama hipotalamus, sindrom itu bisa memiliki kemungkinan cepat menghilang dari penderitanya.”


Varen menambahkan ucapannya.


“Dan karena memang Val tidak pernah lagi mengalami sindromnya itu, ya jadi aku sendiri ga pernah ingat untuk mengatakan itu pada Kaka..”


Varen lanjut bicara. Drea pun manggut-manggut kecil. “Apa mungkin Val sendiri udah bilang ke Kak Kaf soal itu?” lalu Drea bertanya.


“Rasanya sih belum—“


“Iya sih rasanya Val belum bilang ke Kaf soal itu,” tukas Drea. “Karena kalau Val udah bilang sama Kak Kaf soal sindromnya itu, pasti Kak Kaf udah heboh nanya-nanya sama Bebeb Abang dan kita semua..”

__ADS_1


*


“Memang kenapa kamu tiba-tiba membahas soal ini?” tanya Varen pada Drea yang sudah meletakkan kembali ponselnya ke nakas di samping sisi ranjang bagiannya.


“Ga ada apa-apa sih.. Drea iseng aja tanya karena keingetan soal sindrom Val itu.. Khawatir juga kalau dia kecapean terus sindromnya malah kambuh pas resepsi.”


“Sepertinya sih engga.. Ingat waktu dia full seharian dengan persiapan lamaran dan tunangan? Kita yang khawatir Val kambuh sindromenya, dia malah pergi wisata kuliner.”


“Oh iya ya?..”


“Ya sudah, ayo kita istirahat sebentar.”


Varen lalu kembali mendekap Drea sambil membuat dirinya dan Drea jadi benar-benar dalam posisi berbaring di atas ranjang.


“Nanti atau besok, aku akan beritahu Kaka soal sindromnya Val itu.”


Drea pun mengangguk, lalu ia dan Varen sama-sama memejamkan mata mereka untuk sejenak beristirahat sebelum acara resepsi pernikahan Mika-Arya serta Val-Kafeel dalam beberapa jam ke depan.


*


Waktu untuk dua pasang mempelai dan keluarga berikut kerabat dari dua pasang mempelai tersebut telah sampai.


“Mi..” Ada Arya yang tengah membangunkan Mika yang tertidur dalam dekapannya di atas ranjang.


Tak ada keintiman diantara keduanya, meski Arya sempat mengatakan kalimat yang mengarah ke sana.


Yakni mengajak Mika mandi bersama. Namun sepersekian detik setelah itu, Arya meralat ucapannya sebelum Mika sempat menjawab.


Semata-mata Arya ingat kalau perlu dirinya menahan diri karena ia dan Mika harus menyiapkan stamina untuk acara resepsi pernikahan mereka yang akan berlangsung cukup lama dengan ribuan undangan dan pastinya akan sangat melelahkan.


Selain Arya ingin momen malam pertamanya dengan Mika sebagai suami istri yang sah, dilakukan dengan tidak tergesa-gesa. Menciptakan momen, istilahnya. Biar kenangan tentang malam pertama dirinya dan Mika akan membekas menjadi suatu kenangan yang indah.


Lagian ga enak kan, kalo ‘MP’ nya terburu-buru?


Jadi Arya menyadarkan dirinya, untuk menahan dulu keinginannya untuk menagih ‘jatah suami’ pertama dari Mika.


“Bangun..” ucap Arya lagi. “Udah waktunya kita siap-siap buat resepsi..” tambah Arya. “Barusan udah ditelfon malah.”


Mika yang cepat bangunnya dari sejak Arya mengusap lembut satu sisi pipinya itu langsung mengangguk setelah mendengar ucapan Arya tersebut.


“Minum dulu,” Arya yang ikut beringsut dari posisinya kala Mika yang setelah mengangguk langsung mendudukkan dirinya bersandar di kepala ranjang, kemudian bersikap perhatian dengan menyodorkan air minum dalam kemasan yang langsung ia raih saat ia beringsut dari posisinya, pada istrinya itu.


*


Selayaknya Arya, Kafeel pun bersikap perhatian pada Val.


Dari sejak Val bangun dari tidurnya yang sama juga seperti Arya yang bangun duluan daripada Mika.


Dan sama juga, kalau Kafeel tidak menuntut hak pertamanya sebagai seorang suami pada Val. Dan menganjurkan istrinya itu untuk beristirahat demi menyiapkan stamina untuk perhelatan besar atas perayaan pernikahan impian mereka.


***


To be continue..

__ADS_1


Terima kasih masih setia.


__ADS_2