
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
London, Inggris..
“Yes, Dave?”
“I’m sorry,Sir’. But I have information about Simon Atley ( Maafkan saya, Tuan-Tuan. Tetapi saya memiliki informasi tentang Simon Atley )”
“Val’s boyfriend ( Pacarnya Val? )”
“Yes, Sir.”
“Tell us then ( Katakan kepada kami kalau begitu ), Dave.”
--
“You confirmed this ( Kau sudah betul memastikannya ), Dave?”
“Andrew was right. Photos not strong enough to become a proovement ( Andrew benar. Foto-foto saja tidak cukup untuk menjadi pembuktian )”
“I confirmed it, Mister Lucca, Mister Andrew. You can cut my tongue if I’m telling you untruth fact because me, myself who find the truth of those photos from information that I heard before ( Aku sudah memastikannya, Tuan Lucca, Tuan Andrew. Anda dapat memotong lidah saya jika saya memberikan fakta yang tidak benar, karena saya sendiri yang menemukan kebenaran tentang foto-foto itu dan informasi berdasarkan informasi yang saya dengar sebelumnya )”
--
“What do you think ( Bagaimana menurutmu ), Old Ghost?..”
“All I can think is that he has a veiled by become Val’s boyfriend ( Yang aku pikirkan hanyalah jika dia memiliki maksud terselubung dengan menjadi kekasih Val )..”
“You heard that ( Kau dengar itu ), Dave?..”
“Yes, Mister Andrew..”
“Bring him to us right away ( Bawa dia ke depan kami secepatnya )”
🌷🌷
Jakarta, Indonesia..
Dad, aku masih di Jepang. Ada apa sampai aku harus menjawabmu via chat saja?
“Abang menjawab chatku, Babe,” ucap Dad R pada Mommy Ara setelah ia membaca pesan chat yang masuk ke ponselnya, kala ia tengah dalam perjalanan bersama istrinya itu menuju KUJ.
“Langsung kamu hubungi aja kali, Hon?”
Mommy Ara langsung menanggapi.
“Kalau abang menjawab chat kamu, ya aku rasa berarti dia available untuk menerima panggilan.”
Dad R lalu mengangguk setelah ucapan itu lolos dari mulut Mommy Ara.
“Wa’alaikumsalam.”
Dad R kemudian terdengar menjawab salam dengan ponselnya yang kini sedang ia tempelkan di telinganya.
“Kau terbangun atau habis melakukan ‘sesuatu’ dengan Little Star?”
Terdengar kekehan Varen kemudian dari seberang ponsel Dad R selepas Naga 1—begitu biasanya Dad R disebut oleh para saudaranya—melontarkan pertanyaan yang berkesan meledek Varen.
Dad R mengulum senyumnya setelah mendengar kekehan Varen, sementara Mommy Ara tersenyum geli di tempatnya setelah mendengar pertanyaan ledekan Dad R pada Varen tadi—Varen lalu menjawab pertanyaan ayah kandungnya itu tak lama kemudian.
“Little Star tidak ikut ke sini, Dad. Dan kebetulan aku terbangun karena telefon Little Star yang mengatakan imsonianya sedang kambuh. Gabut dan Putra sedang tidur bersamanya, jadi tak bisa meninggalkan Putra sendirian di kamar, pun dia enggan bermain game karena takut tidak dapat mengontrol emosinya. You know lah. Dia kan penjerit spontan dalam keluarga kalau sedang kesal atau gemas..”
Dad R mendengus geli setelah mendengar ucapan Varen barusan, karena ia langsung membayangkan bagaimana memang Drea kalau sedang bermain game, baik itu game konsol, handphone, main ular tangga aja banyakan teriaknya itu si Juleha generasi kedua.
“Tan-Tan ih! Maen ilmu teruus! Curaangg!”
“Kiri Kiri! Tuh kaaan Kak Drea bilang apaa?! Kiri kan kirii! Malah pada maju aja! Ah ilaahhh!.. Digigit zombie kan tuh gue?! Kuping pasang dong kuping!”
“Abaang ngalah kek sama istrinyaa?!..”
Dad R jadi geli sendiri kalau dia ingat Drea yang seolah double pita suaranya itu ketika satu anak angkat merangkap menantunya sedang ia lihat sedang bermain suatu permainan bersama dengan para pewaris lainnya.
Main sendiri pun, Drea ga akan ada dalam mode ‘sunyi’.
“Belagu banget sih nih orang timbang menang sedikit doang? Dia menang juga masih banyakan koin gue! OKB dasar!”
Padahal Drea hanya sedang bermain domino online. – Yah sapa dulu emaknya?—Momma kan bukan maen bacodnya kalau suara perut dan rekan-rekan di dalam perutnya sedang ia keluarkan dengan niat.
Termasuk hobi nyinyir itu Momma kalau dia sedang kesal pada sesuatu atau seseorang.
“Aku akan menemaninya kalau begitu.”
Dad R lalu berujar.
“Atau biar aku dan Ibu Peri yang menemani Putra nanti. Sementara Little Star melakukan sesuatu untuk mengusir gabutnya..”
“Tapi jangan beri dia ijin keluar loh Dad, walaupun sekedar dia ingin mencari jajanan. Kecuali jika ramai-ramai.” Varen menimpali ucapan Dad R.
“Ya,” jawab Dad R.
🌷🌷
“By the way, Dad. Aku lihat titik posisimu, Dad.. sedang berada di Jakarta?”
“Hem—“
“Di KUJ?—“
“Masih on the way dari bandara.”
“Bersama Mom Peri?”
“Iya.”
“Ada apa?..”
“Kau tidak membaca chatku sebelumnya?..”
“Ya baca. Itu juga ingin aku tanyakan. Ada apa menanyakan Kaka dan aku hanya boleh menjawabnya lewat chat saja?”
🌷🌷
“Kaka ada di Jepang bersamamu?..” Dad R balik bertanya pada Varen, dan Varen langsung menjawabnya.
“Dia sudah aku kembali duluan kemarin lusa. Kondisi tubuhnya aku lihat hampir dropped. Dan dia baru memberitahuku saat kami sudah cukup sibuk di sini kalau dia dua atau tiga hari berturut-turut ke belakang, habis menerima tiga event non stop di coffee shopnya.”
“Bocah tengik satu itu, selalu saja memaksakan diri.”
“Hem. Begitulah.. makanya aku suruh dia segera kembali ke Jakarta dan full beristirahat.”
“Berarti Kaka di rumah Magda sekarang?” tanya Dad R kemudian.
“Iya. Aku menghubungi Lena waktu sampai Kaka di Jakarta dari sini agar Lena menjemput dan langsung membawanya ke rumah Bunda—“
“Hem, ya sudah kalau begitu.”
“Ada apa sih, Dad?—“
“Ingatan Val telah kembali—“
__ADS_1
“Seriously???—“
“Ya. Maka dari itu aku dan Mom Peri ada di sini. Val histeris dan meminta untuk bertemu dengan Kaka sesegera mungkin.”
“Val sedang bersama Dad dan Mom sekarang?—“
“Tidak. Kami berpisah di bandara karena Val ingin segera menemui Kaka dan dia tidak ingin kami menemaninya. Emosi Val sedang tidak stabil. Jadi aku terpaksa mengiyakan. Tapi Achiel menemaninya.”
“Aku hubungi Kaka kalau begitu.”
“Tidak perlu. Kau lanjutkan saja tidurmu. Kalau Kaka masih belum sehat betul, jam segini kau akan lebih mengganggu istirahatnya. Meskipun jika Val sampai ke rumah Magda, entah apa bocah tengik itu akan mau melanjutkan istirahatnya--”
🌷🌷
Dan memang seperti itulah yang terjadi.
Jangankan untuk melanjutkan istirahatnya, jika memang bisa—berkedip pun Kafeel tidak mau.
Ketika Val yang ia rindukan dan ia nanti kedatangannya itu bisa mengingatnya lagi, lalu berhambur ke pelukan Kafeel.
Lalu saat harapannya itu menyata, tepat seperti yang dikatakan Dad R. Rasanya Kafeel mengharamkan dirinya untuk lanjut tidur guna mengistirahatkan kondisi tubuhnya yang sedang menurun.
Val sudah ada di depan matanya, sudah berhambur memeluknya dan mengatakan jika gadis belia tercintanya itu telah mengingat siapa Kafeel baginya. Sampai Val dan Kafeel berbagi tangis dengan saling berpelukan.
Menyalurkan rindu berikut kelegaan—bahkan sudah sempat bertukar saliva walau tak lama.
Telah Kafeel katakan juga, bagaimana statusnya sekarang kala Val mengira jika dirinya masih berstatus suami orang.
🌷🌷
“Benar Kak Kafeel seorang duda sekarang?!“
Val bertanya dengan antusias pada Kafeel setelah pria tercintanya itu mengatakan tentang status dirinya, selepas Val menyinggung soal Kafeel yang seingatnya telah menikah dengan wanita yang seingat Val juga—ia dengar jika Kafeel menikahinya karena wanita itu sedang mengandung anak Kafeel.
“Iya, benar. Maaf ya?—“
“Kenapa harus minta maaf?”
Val dengan cepat menukas ucapan Kafeel yang agak lesu dan sungkan, karena merasa dirinya tak pantas untuk Val.
Bahkan Val sempat berpikir jika Val tidak akan menerima dirinya yang sekarang, secinta-cintanya Val pada dirinya.
Sudahlah bukan perjaka tong-tong karena saat Kafeel masih diusia di bawah kepala dua dia sudah kenal yang namanya *‘s*s bebas’.
Sekarang duda pula.
Makin minus sajalah nilai dirinya di mata Val.
Begitu yang Kafeel pikirkan, yang Kafeel takutkan.
Namun nyatanya,
“Justru Val senang..“
Reaksi Val sungguh tidak Kafeel duga.
“Val jadi ingat, dulu Val memiliki cita-cita ingin menikah muda bukan?—“
“I.. ya?—“
“Val ingin mengalahkan rekor Kak Drea yang menikah di usia 17 tahun, dengan Val menikah di usia 16 tahun. Tapi tidak tercapai karena Kakak saja baru menyatakan cinta pada Val di usia Val lewat 17 tahun. Benar kan?—“
“Iya, benar—“
“Jadi rekor dalam keluarga menikah muda, masih dipegang Kak Drea. Selain rekor-rekor lain dalam keluarga. Poppa dan Momma yang persiapan pernikahannya paling cepat, lalu bla.. bla..”
🌷🌷
Kafeel langsung bertanya setelah mendengarkan dengan sabar ocehan Val mengenai macam-macam rekor unfaedah dalam keluarganya, namun Kafeel memperhatikan betul ocehan Val yang unfaedah juga jatuhnya.
Semua karena Kafeel begitu merindukan setiap hal dari Val. Jangankan mengoceh sebentar—semalaman pun ocehan Val akan Kafeel dengarkan dengan sangat sabar. Semata karena Kafeel masih ingin berlama-lama dengan Val.
Seterusnya. Kalau ikut maunya Kafeel.
Apalagi dengan Val yang bersandar manja di dadanya seperti ini.
Vertigo yang masih agak mengganggu, serta demam yang membuat kepala dan tubuhnya masih agak terasa tidak nyaman pun, sumpah Kafeel abaikan.
Sepertinya Kafeel juga lupa jika kondisi badannya sedang cukup menurun dengan Val yang nyata ada di depannya seperti ini, bahkan sudah berinteraksi saat mereka masih terikat dalam ikatan cinta hampir setahun yang lalu.
🌷🌷
“Dengan memiliki pasangan seorang duda, Val akan memiliki rekor baru dalam keluarga! Seru sekali bukan?!“ jawaban Val atas pertanyaan Kafeel yang nampak bingung itu, dan setelah mendengar jawaban Val ini—Kafeel pun tercengang.
“Heuu?—“
“Iya kan, Kak?!”
Val menukas ketercengangan Kafeel dengan berujar antusias sambil mengangkat tubuhnya yang tadi ia buat bersandar di dada Kafeel setelah pria tercintanya itu menunjukkan banyakinya foto-foto Val yang menghiasi kamarnya, lalu mengatakan status dirinya saat ini.
Sambil Val yang sudah membuat dirinya dan Kafeel berhadapan itu menangkup dengan antusias juga wajah Kafeel.
“I-iya..” jawab Kafeel spontan. “Eh?..” namun setelahnya ia jadi heran sendiri. “Seru bagaimana sih, Val?—“
“Ya seru saja pokoknya untuk Val,” tukas Val—dan Kafeel masih bingung.
Kafeel hendak lagi membahas keseruan statusnya sebagai duda bagi Val.
Namun urung,ketika sebelum sempat ia berkata, Val sudah lebih dulu berkata lagi.
“Tapi terlepas dari itu, Val bahagia. Karena sekarang Kak Kafeel sudah bukan milik orang lagi. Tapi milik Val,”
Di detik dimana bibir Kafeel yang agak pucat itu tersenyum lebar. Selain bahagia. “Aku yang lebih berbahagia, Tuan Putri,” balas Kafeel.
Dengan tangan Kafeel yang kini gantian menangkup wajah Val.
“Bisa sedekat ini lagi sama kamu,” haru Kafeel.
“Eh Kak?..”
Val berkata dan raut wajahnya agak berbeda.
Tersadar akan sesuatu kala tangan Kafeel bertengger di wajahnya. “Tangan Kakak panas..” kata Val lagi. “Ah ya ampun! Tadi Lena kan mengatakan kalau Kakak sedang sakit—“
“Aku sudah tidak apa-apa, Val—“
“Tidak apa-apa bagaimana Kak?! Tubuh Kakak panas begini?!”
Val mulai panik, sambil ia menempatkan punggung tangannya di leher Kafeel.
Lalu Val menjadi agak heboh sendiri, selain gelagapan.
“Kak Kafeel sudah makan?—“
“Sudah, Val—“
“Minum obat?”
“Sudah. Sebelum kamu datang aku sudah meminum obat. Makanya bisa tidur cepat,” jawab Kafeel.
🌷🌷
__ADS_1
“Ya sudah Kak Kafeel istirahat kembali—“
“Oh engga. Engga. Aku rela terjaga selamanya kalau kamu ada di dekat aku begini, Val.”
Kafeel dengan pendiriannya. Membuat Val jadi mengulum senyumnya karena ucapan Kafeel begitu manis ia dengar.
“Tapi Kak Kafeel butuh istirahat—“
“Kamu obat paling ampuh buat aku, Val.”
“Ya sudah, kalau begitu, Kak Kafeel istirahat. Setidaknya sempurnakan tidur Kakak. Val akan tetap di sini sampai Kakak bangun nanti.” Val mencoba membujuk Kafeel—karena memang Val khawatir dengan kesehatan Kafeel. “Val nyanyikan lullaby, ya?.. sini, topangkan kepala Kakak di paha Val..”
Val menepuk-nepuk pahanya. “Nanti kaki kamu kesemutan, baby,” kata Kafeel kemudian.
“Hanya kesemutan bukan kerasukan.”
“Kamu nih..”
Kafeel memencet gemas hidung Val selepas ia terkekeh dengan sahutan Val sebelumnya.
“Sudah cepat sini. Topangkan kepala Kakak di paha Val..”
🌷🌷
“Tapi jika sudah merasa pegal, kamu bilang ya?..”
“Iya, Kak..”
Val yang mengiyakan permintaan Kafeel.
Dimana Kafeel dengan agak ragu namun ada bahagia juga yang ia rasa—melakukan apa yang Val inginkan—meletakkan kepalanya di atas kedua paha Val yang kakinya menjuntai ke lantai.
Tok.. Tok.. Tok..
Namun belum lama dua sejoli itu mendapatkan momen mesranya, pintu kamar Kafeel diketuk dari luar.
“Masuk aja.”
Kafeel yang berucap, agak kuat.
Agar orang yang mengetuk pintu kamarnya itu mendengar dirinya yang mempersilahkan masuk.
“Permisi..”
Adalah Achiel yang menginterupsi momen uwu dua sejoli yang baru berjalan sebentar.
“Hei, Chiel. Apa kabar?..” sapa Kafeel pada Achiel dengan ia sudah akan mengangkat kepalanya dari paha Val.
“Baik, Tuan Kafeel,” jawab Achiel.
Namun belum sempurna Kafeel mengangkat kepalanya, karena tidak enak pada Achiel mengingat posisinya tadi yang sedang menggunakan paha Val sebagai bantal—“Sudah Kak Kafeel tidak perlu bangun.”—Val membuat kepala Kafeel kembali menempel diatas pahanya dengan sedikit bar-bar.
🌷🌷
“Tuan Moreno ingin bicara dengan anda, Nona Valera,” ucap Achiel setelah ia menguasai dirinya selepas melihat perlakuan sedikit bar-bar satu nona mudanya itu yang menekan kepala Kafeel yang sudah setengah terangkat tadi, dimana Kafeel nampak pasrah kemudian. “Dan dengan Tuan Kafeel juga.”
“Oh—“
“Dengan Val saja. Kak Kafeel sedang sakit.”
Val menukas cepat ucapan Kafeel dengan satu tangannya menahan kepala Kafeel agar tetap menempel di pahanya.
“Kemarikan ponselnya, Kak Achiel.”
“Ini, Nona—“
“Maaf ya Val menerima dengan tangan kiri?”
“Tidak masalah, Nona—“
🌷🌷
“Halo, Daddy..”
Val langsung menyapa setelah ponsel Achiel ia tempelkan ke telinganya.
“Iya, Val sudah bertemu dengan Kak Kafeel. Terima kasih Daddy. Daddy dan Mommy sudah sampai di KUJ?”
“Iya, sudah.”
“Daddy, Val sudah mengatakan pada Kak Kafeel kalau Val sudah ingat dia sekarang? Kok Daddy tidak cerita kalau Kak Kafeel adalah seorang duda sekarang?” adu Val, lalu bertanya pada Dad R kemudian.
Lalu Val mendengarkan dengan seksama ucapan Dad R yang sedikit menerangkan dari ujung ponsel Achiel.
Val pun nampak manggut-manggut kecil, “Iya juga, ya?” ucap Val kemudian.
“Katanya Kaka sakit?—“
“Iya, Daddy. Tubuh Kak Kafeel panas sekali. Jadi Val minta ijin untuk stay di sini menjaga Kak Kafeel ya, Daddy?—“
“Kamu juga harus menjaga kesehatanmu, baby—“
“Iya Daddy iya, Val paham. Hanya menunggui dan merawat Kak Kafeel saja tidak akan membuat Val jatuh sakit, Daddy.. lagipula Val tahu kondisi tubuh Val sendiri.”
Val agak merungut.
“Iya sudah, iya. Silahkan kamu stay di sana selama yang kamu inginkan—“
“Yeay! Terima kasih Dad R..”
Wajah merungut Val hilang.
“Tapi ingat, kalau..“
Dan suara Dad R terdengar lagi, hanya saja baru sepotong--keburu tertimpa suara Val yang kembali bicara dengan cepat.
“Sudah dulu ya Daddy, Val mau meniduri Kak Kafeel..”
Betapa ambigunya ucapan Val itu. Hingga yang mendengarnya sampai melongo.
Achiel, Kafeel dan tentunya Dad R—dimana Naga 1 itu mendelik juga di tempatnya.
“A-apa—“
“Bye Daddyy..”
Val menyambar lagi untuk bicara dan mengakhiri percakapannya dengan Dad R.
“Kak Kafeel tetap diam seperti ini ya untuk Val tiduri?—“
‘Haish! Kenapa Nona Valera salah menggunakan kata sih?? Pasti gue kena semprot Tuan Moreno nih!’
Achiel yang membatin, saat Val mengucapkan kalimatnya yang ambigu itu. Yang mana saat Val berkata dengan satu pilihan kata yang kurang tepat itu untuk yang kedua kalinya, Dad R masih mendengarnya karena Val tidak mematikan sambungan telepon dan langsung memberikan ponsel Achiel pada si empunya.
“Achiel!—“
‘Ngegas kan Naga 1???!!!’
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
To be continue..
__ADS_1