
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris,
“R?..”
Mereka yang sedang berkumpul di dalam satu bagian ruangan dalam bangunan tersebut menegur Dad R yang nampak termangu seperti halnya Poppa, setelah ia merampas ponsel Poppa dan Dad R melihat foto yang dikirimkan oleh seseorang berikut laporan pengaduan tentang orang tersebut yang mengalami tindak kejahatan di negara sebelum orang itu datang ke London.
“What is it (Bagaimana)?..”
Gappa mengambil alih untuk bertanya pada Dad R, mewakili lainnya.
Sambil juga Gappa memandangi Poppa yang kemudian menatap satu – satu mereka yang sedang menatapnya dan Dad R bergantian.
“Ar ..“
Poppa dan Dad R sama bersuara.
Namun belum sempat keduanya meneruskan kalimatnya,
“ALLAHU AKBAR!”
Seruan kencang keburu keluar dari mulut Momma, ketika melihat seseorang yang sedang mereka bicarakan itu muncul dengan sangat tergesa dari arah pintu masuk mansion.
“Aryaaa..”
Kemudian ramai lirihan terdengar, dengan wajah tak percaya yang diiringi air mata berhambur ke satu sosok yang mereka lirihkan namanya itu.
“Praise to the Lord (Puji Tuhan) ..”
Ucapan syukur itu keluar dari mulut mereka yang berbeda keyakinan dengan 90 persen anggota keluarga The Adjieran Smith yang sama kepercayaannya dengan keluarga cemara.
“Oh, Boy,” ucap Poppa sambil menangkup wajah Arya ketika pria yang sudah memasuki usia matang itu telah selesai dengan beberapa anggota keluarga The Adjieran Smith lainnya yang memeluki dan menciumi wajahnya dengan rasa lega juga haru.
“Pop ..”
“Thanks God, Boy (Syukurlah, Nak)”
---
“Mika, sudah mendengar kabar ini juga? ..”
“Sudah, Ar. Bahkan mereka yang di Indo pun sudah mendengar kabar ini juga ..”
"Orang tuamu, beserta Sony dan Nathan bahkan sudah terbang ke Saint Vincent karena ingin langsung mendapat kabar dari sana .."
"Oh ya? .."
"Iya, tapi kami akan menghubungi jet yang mereka tumpangi."
"Makasih, Dad .."
"Tapi kamu, baik - baik aja kan, Ar? .."
"Baik Mom, aku tidak apa - apa secara fisik. Nanti aku ceritakan. Yang jelas aku memang ga pernah masuk ke pesawat nahas itu .."
"Apapun alasannya, yang jelas kami sangat bersyukur kamu tidak jadi ikut dalam penerbangan itu,"
"Iya, Gap."
“By the way, Mika ... Apa, dia okay? –“
“No, she’s not (Tidak, dia sangat tidak baik) –“
“Apa, Mika di kamarnya? ..”
“Iya .. Ann, Felix, Elena, Melly, Rery dan Val sedang bersamanya.”
---
Sebagaimana terkejutnya orang – orang yang sudah di temui Arya sebelumnya, mereka yang berada di dalam kamar Val pun sama dibuat terkejut oleh kehadiran Arya yang kemudian membuat mereka merasa senang dan haru disaat yang bersamaan.
Dan pelukan kelegaan dari Ann, Felix, Elena, Melly, Rery dan Val juga Arya terima, seperti saat dia mendapatkan perlakuan yang sama di lantai bawah mansion The Adjieran Smith yang berada di London itu beberapa menit yang lalu.
Namun hanya satu yang tidak ---- belum, memberikan Arya sambutan kelegaan dan haru padahal orang itu yang paling sedang Arya inginkan pelukannya. Bukan tidak ada orangnya ---- ada, namun ia yang Arya begitu rindukan sedang terbaring di atas ranjang.
Nampak pucat dan lemah.
“Mi – ka, kenapa? –“
“Screw ( Kacau ) ..”
“Dia histeris sejak mendengar kabar tentangmu yang menjadi korban pesawat nahas itu.”
Dad R menimpali ucapan Rery yang menjawab pertanyaan Arya dengan wajah miris dan sendu.
Hati Arya mencelos mendengarnya, sambil ia kemudian melangkah menuju ranjang Mika.
“And because of that, we obliged to give her a sedative ( Dan karena hal itu, kami terpaksa untuk memberikannya penenang ) ..” timpal Papa Lucca, dengan ekspresi tidak teganya sambil juga melirik ke arah Mika yang terbaring di atas ranjangnya.
“Bahkan sudah diberi penenangpun, May masih terkadang nampak gelisah. Sangat mengkhawatirkan kami melihat dia seperti itu ..” tambah Poppa, dan membuat Arya kian mencelos hatinya setelah mendengar penuturan Papa Lucca dan Poppa.
“But Praise to the God that you are all right ( Tapi Puji Tuhan kamu baik – baik saja ), Arya ..”
Mama Fabi membelai tulus dan lembut wajah Arya yang sendu melihat Mika yang tak lama terdengar seperti mengigau, terbata menyebut sepenggal nama Arya yang biasa Mika ucapkan bila berbicara dengan Arya.
Gegas Arya langsung menghampiri Mika.
“Mi ..“
Dimana hati Arya langsung mengulas senyuman kelegaan, kala Mika membuka matanya.
“Ar-Arya?? ... I-Ini ... beneran, elo??? ...”
“Iya, Mi ... Ini gue ...” Yang Arya jawab pertanyaan dengan lembut, namun mata Arya berkaca – kaca melihat Mika yang nampak lemah.
Dan semakin mata Arya berkaca – kaca, karena benar seperti yang Rery katakan tadi jika Mika sedang kacau.
“Per-gi ... jangan pernah, pa-mit sama gue ... Gue ga mau ... gue ga mau lo pamit untuk pergi selamanya dari gue, Arya!!!! ... Pergi ... aja, kalau lo-mau pamit ... pergi, Aryaa ... pergi ...”
__ADS_1
Sungguh, Arya tak tahan melihat Mika yang seperti itu.
♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris,
Present ( Saat ini ),
“Terima kasih, telah membuat Arya berada di sini. Terima kasih karena aku tidak sampai gila karena kehilangan.”
Adalah Mika yang berucap syukur bercampur isakan bahagia dan leganya, setelah pertanyaannya tentang sosok Arya di depannya itu di konfirmasikan adalah kenyataan oleh tiga Daddynya yang berada lebih dekat dengan Mika yang tangannya tak lepas menggenggam tangan Arya.
‘May –‘
‘Mika ...‘
Batin tiga Dads of Adjieran Smith yang melihat reaksi Mika saat ini.
Mereka tahu jika Mika merasa lega dan juga bahagia, dengan keberadaan Arya saat ini. Namun lirihan Mika yang disertai isakan dengan nada suara yang masih terdengar putus asa, terasa memulas hati mereka yang sedang bersama dengan Mika itu.
“Udah, Mi, udaahh ...”
Termasuk juga Arya, yang melihat betapa kacaunya Mika saat ini.
Hingga walau lega sekali rasanya melihat Arya ada di tengah mereka, yang entah bagaimana ceritanya Arya bisa tahu – tahu datang dengan seseorang yang Poppa kenal baik ---- namun melihat kondisi Mika yang masih nampak rapuh itu, membuat buliran air mata tidak bisa di tahan jatuhnya dari pelupuk mata mereka yang sedang bersama Mika.
Terlebih, walau sudah jelas – jelas Arya ada di depan matanya, sudah merengkuh Mika serta menggenggam tangan Mika dengan eratnya, Mika masih seolah meragukan eksistensi Arya yang nyata di hadapannya itu ---- karena tak lama ucapan syukur yang disertai isak tangisnya itu berlanjut ke pertanyaan yang membuat semua orang yang berada di dekat si Judesgirl itu, merasa miris melihat Mika.
“Benar kan, kalian bisa melihat Arya? ...”
Mika memandangi tiga Dadnya yang tersenyum getir, lalu mengangguk.
“Kalian tidak sedang membohongiku kan? ...”
Lalu memandangi bergantian orang – orang yang sudah Mika sadari keberadaannya yang langsung menggeleng dengan mata mereka yang basah.
“Engga, May ... Engga ...”
“Benar sedang tidak hanya membesarkan hatiku dengan mengatakan jika kalian juga melihat Arya, padahal sebenarnya tidak, karena – karena ...”
“Udah Mi, Ya Allah, udah sayang ...” Arya yang tak tahan itu segera menukas ucapan Mika yang terbata. Hatinya rasa suram melihat Mika seperti saat ini.
“Ini Arya beneran Mika sayang –“
“Iya, May, itu Kak Arya beneran –“
“Poppa, Dad R, Papa Lucca atau Rery bisa kok kalau mau lo suruh untuk pukul gue biar lo percaya, ini gue yang sebenar – benarnya. Nyata. Bukan halusinasi lo, Mi ..“
Arya melirih menangkup wajah Mika.
“Udah ya? ... Jangan gini ... Ini gue kok. Ntar gue gombalin.”
Arya berguyon pilu, sambil menghapusi air mata Mika yang membasahi hampir keseluruhan wajah Mika yang begitu sembab dan pucat itu.
Mika tidak menjawab.
Hanya Mika melesakkan tangannya untuk melingkar merengkuh Arya.
♥♥♥
Pengertian.
Selain kompak.
The Adjieran Smith Family selalunya.
Saling memahami juga.
Sepaham jika Mika dan Arya butuh ruang dan waktu berdua setelah kabar buruk sempat hadir di tengah mereka, lalu syok berat melanda Mika selain keluarganya yang sama ikut terpukul seperti Mika.
Jadi meski tanpa saling berkata – kata, hanya dengan saling lempar pandang dan anggukan ---- sepaham untuk segera hengkang dari kamar pribadi Mika yang orangnya sudah nampak tenang dalam dekapan Arya, meski terlihat punggungnya masih sesekali bergetar ---- Tiga Dads, serta Moms, berikut Rery, Val, dan Ann serta kerabat dekat mereka yang menginap sejak semalam itu keluar secara perlahan dan beriringan dari kamar Mika.
‘Kami tinggal ya, Ar ...’ Seolah ucapan melalui kode mata dari Dad R ---- yang sama juga seperti lainnya itu Arya pahami.
Karena kemudian Arya mengangguk dan tersenyum pada Dad R serta lainnya yang kemudian berbalik pergi dengan Arya yang masih tetap mendekap Mika ---- dimana Mika seolah enggan untuk melepaskan dekapannya dari Arya.
“Baring ya, Mi? ...” ucap Arya lembut sambil membawa Mika untuk berbaring kembali di atas ranjangnya, setelah hanya tinggal dirinya dan Mika saja di kamar pribadi Mika itu. “Maaf ya Mi, buat lo jadi kayak gini ...” lirih Arya kemudian. Dengan dirinya yang mau tidak mau ikut berbaring juga di atas ranjang Mika, karena Mika benar – benar erat mendekapnya. “Istirahat ya, Mi?” pinta Arya kemudian setelah berhasil mengurai dekapan Mika yang kini menatapnya lekat.
Namun Mika yang sembab wajahnya itu menggeleng lemah.
“Tidur, atau gue tidurin?”
Arya berguyon nyeleneh sambil menatap Mika.
Hanya untuk membuat Neng Judes kesayangannya itu menjadi rileks saja.
Yang orangnya tersenyum dengan sangat tipis dan masih menatap Arya begitu lekat.
Membuat Arya kembali mendekap Mika dengan rasa miris dalam hatinya. Karena Arya tak tega melihat Mika yang sekarang ini karenanya, selain Arya tidak menyangka jika Mika bisa menjadi sekacau ini mendengar berita jika dia ikut tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat.
“Gue lega, Ar ... Gue bahagia ... Ternyata lo selamat ...”
“Kalo gitu berhenti dong nangisnya ... Terus istirahat ya? Badan lo panas banget gini, Mi ...”
Arya menanggapi ucapan Mika dengan khawatir sambil mengurai dekapannya lalu mengusap kepala Mika yang kini Arya letakkan di satu lengannya.
“Mau makan? ...”
Mika menggeleng menjawab pertanyaan Arya.
“Tapi udah makan? ...”
Arya bertanya lagi, dan Mika mengangguk.
“Kapan? ...”
“Lo sendiri udah makan? ...” Mengabaikan pertanyaan Arya sebelumnya, Mika balik bertanya.
“Ga usah pikirin gue, Mi –“
“Kalo gue ga mikirin lo ... Gue ga sehancur ini saat membaca nama lo ada dalam manifest pesawat dari Saint Vincent yang kecelakaan dan semua penumpangnya tewas ... Ar ...”
__ADS_1
“Udah ya? ... Ini gue udah ada di sini ... Istirahat ya? ... Lo butuh banyak istirahat, Mi ... Tidur, oke? ... Pas lo bangun kita makan sama – sama, terus lo juga harus minum obat pasti? ... Jadi sekarang kalau lo belum lapar, lo tidur dulu ...”
Mika tidak menyahut.
“Gue takut Ar ... Gue takut kalau gue memejamkan mata terus pas mata terbuka, ternyata ini semua cuma mimpi –“
“Mi ...” lirih Arya. “Gue ga akan kemana – manaa ... Udah yaa? ... Udaah ... Lo nyiksa gue kalo kayak gini ... Gue nyata, oke? –“
“Tetap aja, Ar –“
Cup ...
Dibungkam Mika oleh Arya dengan sebuah ciuman yang dalam.
“Terasa nyata apa engga? ...” ucap Arya setelah ia mengurai ciumannya di bibir Mika. “Kalo engga, terpaksa gue cium bagian yang lain ...”
Modus aje, Bambaangg ...
♥♥♥
“Mau gue greps?” tutur Arya sedikit vulgar, menggoda Mika untuk lagi – lagi menghilangkan semua kekhawatiran Mika tentangnya yang nampak masih menggelung di diri Neng Judesnya itu.
Mika yang biasanya gahar kalau Arya sudah bicara sedikit vulgar itu, kini hanya tersenyum tipis menanggapi guyonan nyeleneh pacar recehnya itu.
Mika sedang tidak ada daya untuk melayangkan protesnya pada Arya yang terus – terusan Mika elus garis rahangnya.
Lagipula, saat ini Mika sepertinya ingin terus mendengar Arya bicara guna meyakini dirinya jika ini memang benar – benar Arya ---- pacar recehnya yang kadang menyebalkan dengan mulut yang suka tanpa saringan kalau sudah bicara soal yang nyerempet – nyerempet kepada kemesuman.
“Terus ngomong, Ar ...” ucap Mika pelan. “Jadi gue yakin kalau ini benar – benar elo ... Karena Aryanya gue kan cerewet orangnya ...”
Arya mengulas senyuman kemudian.
“Mau gue dongengin? ...”
Lalu berguyon kecil.
“Iya, boleh ...” Yang guyonannya malah ditanggapi serius oleh Mika.
Membuat Arya sontak mendengus geli, namun merasa miris di saat yang bersamaan.
Karena di mata Arya, Mika masih nampak antara percaya dan tidak percaya atas keberadaan dirinya di sisi Mika saat ini.
“Udah ya, Mi, Neng Judesnya Arya, lo bisa tenang sekarang ... Gue ga akan kemana – mana ...”
“Memang lo ga boleh kemana – mana lagi ... Kalau gue ga kasih ijin ... Ga boleh kemana – mana ...” tutur Mika.
“Iya, sayang, iya ...” tukas Arya. “Kalo mau ke kamar mandi pun gue ijin sama lo ...” tambah Arya sambil memegang tangan Mika yang sedari tadi mengelusi garis rahangnya.
“Janji? –“
“Janji.” Arya menjawab pasti ucapan Mika. “Sekarang berhenti elus –elus muka gue pas lagi di ranjang gini, kalo engga gue bisa khilaf, duh denok gandolane ati ...”
Arya menggengam tangan Mika yang kemudian ia kecup dengan singkat sambil mengulum senyum. Lalu tersenyum lega, ketika Mika mendengus geli kemudian menampakkan senyumnya yang tidak nampak miris lagi.
Yang langsung Arya bawa lagi Mika dalam dekapan.
“I love you, Mi ...”
“Love you too, Ar ...”
Di detik di mana Arya seketika membeku.
“Lo, barusan bilang –“
“Love you, Arya Narendra ... Gue cinta sama lo ...”
Ugh, hati Arya jumpalitan rasanya.
“I do ...” kata Mika lagi dengan lembut.
‘I do, I do, Gustiii ...’
Hati Arya melonjak kegirangan.
Saking melonjaknya hati Arya yang kegirangan itu, Arya kian mendekap tubuh Mika ---- bahkan mengunci dengan satu kakinya.
“Makasih, Mi ... Makasih ...”
Arya kegirangan.
“I ---- iya ...”
Mika menanggapi dengan sedikit tergugu, wajahnya agak bersemu.
“Ar ...” panggil Mika pada Arya yang masih dalam posisinya membuat Mika bak seperti guling.
“Hmm? ... “ sahut Arya dengan tubuh Mika begitu rapat ia dekap.
“Itu ...” gugu Mika, yang tubuhnya menjadi agak kaku.
“Apa? ...” tanggap Arya tanpa melepaskan dekapannya pada Mika yang mengatakan jika Neng Judes tercintanya itu juga sudah mencintainya. “Sesek ya? ...”
“Bukan ...”
“Udah laper? ...”
“Engga ...”
“Terus? ...” tanya Arya santai di posisinya.
“Itu ...” jawab Mika terdengar ragu - ragu untuk berucap.
“Itu apa, Mi? ...” tanya Arya sekali lagi.
“Eengg ... ‘Itu’ ---- nya\, lo ... gerak ...”
Mika menggigit bibirnya, karena seperti terasa ada yang sedikit mencoleknya di bagian bawah ---- padahal dua tangan Arya ada di atas.
♥♥♥♥♥♥
To be continue ...
__ADS_1