
Inikah Yang Namanya Cinta?...
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia,
“Kasih tau apa yang bakal lo lakuin Bang, kalo ini si Cute Girl sampe jatoh?...” Ucap Nathan sambil melirik pada Varen yang sebelumnya sedikit menginterogasi Mika, lalu memberikan peringatan – peringatan kecil pada dua pria yang kemungkinan besar akan menjadi adik iparnya.
“Gue bantai tanah tempat Drea jatuh,” sahut Varen.
“Wuanjaaayyy!”
“Huasuuuu!”
Aro, Rery dan Kafeel langsung melontarkan komentar.
“Buciner tingkat dewa ga tuh?!”
“Cium tangan dulu lah gue sama Raja Bucin!”
Lalu ditimpali oleh Nathan dan Arya.
Sementara Mika tersenyum lepas bersama Drea.
Yang menjadi bahan celetukan sih seperti biasa, woles aja si Abang Varen.
“Pokoknya lo berdua inget, jangan pernah lo berdua mainin itu dua Incess kesayangan kami orang, kalo lo berdua ga mau berakhir di kursi roda!” ancam Varen pada Arya dan Kafeel.
“Siap Kanjeng Pangeran!”
“Hamba akan senantiasa mematuhi perintah Baginda Alvarend Aditama Smith.”
Arya dan Kafeel menanggapi dengan canda ancaman kecil dari Varen untuk mereka. Yang mana orangnya kemudian berdecih geli pada dua orang pria yang masing-masing adalah kekasih dua adik perempuannya.
Tapi yah, mesti Kafeel dan Arya menanggapi dengan santai ancaman kecil Varen, namun tetap saja ancaman kecil itu perlu diperhatikan juga dan diingat selalu.
Menimbang-nimbang, dimana ancaman tersebut bisa saja jadi nyata juga sih, kalau mengingat pada satu kisah kala Alvarend Aditama Smith pernah benar – benar dibuat murka.
Rasanya ancaman menggunakan kursi roda seumur hidup bisa saja jadi kenyataan, jika Arya dan Kafeel sampai mempermainkan dua adik perempuan Varen, atau pada mereka yang jadi pasangan Isha dan Aina.
Kalau Ann, liat progress di masa depan nanti, karena si Little Devil telah memilih Rery untuk ia cintai, yang mana adalah adik Varen juga.
Oke, Ann pengecualian.
Pokoknya, Varen kemungkinan akan menjadi Garda terdepan, bagi para pria yang coba mempermainkan adik – adik perempuan kesayangannya.
Para Princess yang terkadang mendapat didikan keras baik fisik-namun bukan bermakna kekerasan fisik secara harfiah, melainkan kekuatan dan daya tahan fisik mereka untuk mampu bertahan dalam keadaan apapun.
Tak hanya didikan fisik tapi juga mental yang mendapat didikan dengan kuat.
Sekali lagi, demi untuk kebaikan para pewaris itu sendiri andai para orang tua sudah tak bisa lagi menemani menghadapi kerasnya dunia.
Namun begitu, para putri di dalam Klan Adjieran Smith diperlakukan bak Putri Raja selalunya. Tak terkecuali pada para putra dalam Klan tersebut.
Karena sekeras-kerasnya didikan fisik dan mental yang diberikan, namun hal itu tidak mengalahkan betapa para pewaris itu dimanja sedemikian rupa-diperlakukan bak Pangeran dan Putri di Istana.
Jadi, meskipun secara kasat mata terlihat cuek pada para adik-adiknya, namun Varen tak akan segan untuk mengeluarkan pistol miliknya dan membenamkan peluru jantung pada orang lain, demi untuk melindungi adik-adiknya tersebut.
Terutama para adik wanita, yang dilindungi sedemikan rupa olehnya, Nathan dan The Dads, dari incaran para pria yang berniat memanfaatkan dan mempermainkan para princess belia tersebut.
“Pesan gue buat kalian berdua, jangan bikin para Drakes ngamuk karena menyakiti putri-putri mereka.“
Varen berucap santai, namun ada penekanan di dalam nada suaranya. Dimana hal ditanggapi dengan serius oleh mereka yang bersamanya.
“Dia ..” Varen menunjuk pada Kafeel. “Gue tau seberapa dalam perasaannya pada Val yang dulu dia pungkiri habis-habisan.”
“........”
“Meski si bodoh ini pernah berpikiran dangkal sebelum dia menyerah untuk tidak bisa lagi menahan lama-lama gejolak perasaannya pada Val..”
Masih, Varen menunjuk pada Kafeel yang tersenyum tipis, mengiyakan ucapan Varen barusan.
Tidak ada rasa tersinggung di hati Kafeel yang memang paham jika Varen blak-blakan orangnya jika sudah urusan mengkritik, persis sama dengan para Dad-nya.
Dan memang Kafeel tidak merasa tersinggung sama sekali, karena yang Varen katakan memang benar adanya. Dirinya memang pernah berpikirang dangkal soal hubungannya dan Val.
Pertimbangan jika dia merasa tidak sepadan untuk Val yang membuat Kafeel sempat berpikir dangkal, hingga mati-matian menyangkal rasa ketertarikannya pada kekasih kecilnya itu-selain mati-matian menghilangkan perasaan cinta yang sudah ia punya untuk Val.
Yang ternyata, gatot.
Gagal total usaha Kafeel, karena disaat Val ingin menjauh, ketidakrelaan atas rasa tidak mau jauh-jauh apalagi kehilangan, meruntuhkan pertahanan Kafeel untuk menahan perasaaannya pada Val.
Makanya itu, sama sekali ucapan Varen tentang dirinya atas Val itu, tidak membuat Kafeel tersinggung sama sekali.
♥♥
“Meski si bodoh ini pernah berpikiran dangkal sebelum dia menyerah untuk tidak bisa lagi menahan lama-lama gejolak perasaannya pada Val, tapi gue tahu kalau dia bucinnya si Val,” kata Varen. “Tapi lo..“
Varen kemudian beralih pada Arya.
“Gue tahu track record lo sebagai playboy cap kaki dua, meskipun ga separah itu juragan onta..”
__ADS_1
Ah iya, selain blak-blakan, Varen juga sekate-kate (kalo kata Keluarga Cemara) mulutnya asal lagi nyinyir.
“Punya kelakuan sama mantan-mantannya dimasa lalu.”
Varen melanjutkan kalimatnya.
“Kalau lo, Arya Narendra, berani mempermainkan dia apalagi sampai merusaknya lalu lo berani lepas tanggung jawab..”
Dia yang Varen maksud adalah Mika, yang diam saja tanpa berani menyela jika sang kancil-eh, sang abang sedang bicara seperti ini.
Santai, tapi ada penekanan disetiap kalimatnya. Jangankan Mika, Nathan saja yang dekat dengan Abang Varen tak akan berani menyela jika Varen sedang seperti sekarang ini bicaranya.
Drea pun sama kiranya dengan Nathan.
Drea yang sudah beberapa tahun menikah dengan Varen itu sangat-sangat mengenal sifat si Abang yang merangkap suaminya, hingga Drea sudah paham untuk memilah waktu kapan dia bisa menyela jika Varen sedang bicara. Macam The Moms yang bisa memilah, kapan mereka bisa menyela kala The Dads sedang bicara.
“Gue akan buat lo jalan di atas bara api, Arya Narendra,” ucap Varen. “Sebelum The Dads, membuat lo makan beling atau minum air keras.”
Santai, tetap Varen bicara, namun tetap saja membuat mereka yang mendengarnya melongo atas ucapan Varen, terkecuali Nathan.
Karena Nathan sudah pernah melihat sendiri, bagaimana bila Abang Varen sedang murka. Abang Varen yang tampan dan berwibawa itu, akan berubah menjadi bak iblis neraka.
‘Sadis.’
Komentar dalam hati mereka selain Nathan.
Meski hanya mendengar saja cerita tentang kemurkaan seorang Varen saat Drea benar-benar terancam, namun ucapan Varen tetap saja membuat bulu kuduk yang tadinya tidur itu menjadi bangun.
Karena jika berdasarkan cerita bagaimana Varen pernah menghabisi mereka yang menjadi sumber kesakitan Drea kala itu dengan tangan Varen sendiri, yakinlah ancaman kecil Varen itu tidaklah kecil maknanya.
Terdengar bercanda kalimatnya, namun percayalah, itu akan menjadi nyata jika Kafeel atau Arya sampai berani merusak Val dan Mika, lalu kabur dari tanggung jawab. Tak hanya Varen saja yang harus mereka berdua hadapi murkanya, tapi juga enam naga yang jangan ditanya juga belas kasihannya bila sedang murka.
Terlebih, dua naga utama. Yang meski sudah tua usia, namun yang satu masih sanggup meremukkan tulang lawannya sampai melakukan penyiksaan fisik dengan tangannya sendiri dengan cara yang teramat mengerikan, dan yang satu hobi potong tangan musuh atau bagian tubuh musuh mana saja yang dia mau, jika dua Black Drake Utama itu sedang on, mode sengetnya karena murka.
“Dan peringatan itu berlaku buat lo juga Ka. Terlepas lo adalah orang kepercayaan dan sahabat gue,” tambah Varen, memandang lagi pada Kafeel.
“Gue akan selalu ingat peringatan itu, Va,” jawab Kafeel. “Kalo lo udah selesai bicara, maka ijinin gue yang bicara sekarang.”
“Silahkan...” Varen pun mempersilahkan Kafeel untuk bicara.
“Seperti yang udah lo dan The Dads serta kalian semua tau, kalau masa lalu gue dalam pergaulan ga patut buat gue banggakan. Dan itu juga yang menjadi pertimbangan gue yang mati-matian mengusir perasaan cinta gue pada Val dari hati..”
Kafeel pun mulai bicara.
“Karena selain perbedaan status sosial, usia, hal itu lah yang menjadi pertimbangan utama gue, untuk menahan perasaan gue pada Val. Semata-mata karena gue rasa gue sangat ga pantas untuk bersanding dengan satu princess kesayangan kalian. Yang mana usaha gue untuk menghilangkan apa yang ada di hati gue untuk Val gagal..”
Kafeel berbicara dengan menatap serius pada Varen.
“Gue tersiksa dalam usaha gue menghilangkan perasaan gue pada Val. Dan makin tersiksa waktu gue liat dan dengar gurat terluka di wajah dan ucapan Val ke gue waktu itu. Dan gue yakin, lo tau persis bagaimana rasanya melihat perempuan yang lo cintai terluka karena lo.“
“........”
“........”
“Jadi sekuat tenaga, gue akan memberikan semua yang terbaik-semampu gue untuk Val. Karena senyuman dan bahagianya Val, adalah vitamin buat hidup gue. Dan cintanya, adalah oksigen buat gue. Kalau gue buat cinta Val meredup karena kebodohan gue, mungkin Val akan bersedih. Tapi gue bakal mati. Ga perlu lo dan The Dads turun tangan untuk membuat gue mati, karena jika ada hari dimana gue sampai menyakiti Val, gue akan mati dengan sendirinya.”
Jika kata-kata Kafeel itu begitu dalam maknanya, itu rasanya tidak salah, karena semua yang ada didekat Kafeel saat ini, tertegun sejenak, sebelum senyuman terpatri di bibir mereka masing-masing. Varen juga ikutan tersenyum tipis saat Kafeel dirasa telah selesai mengungkapkan isi hatinya tentang Val barusan itu. Meski sudah tahu bagaimana dalamnya perasaan Kafeel pada Val, rasanya Kafeel puas saja jika mereka yang menjadi pasangan para adiknya, sekuat tenaga dengan ragam cara, membuktikan kesungguhan mereka untuk mencintai dan melindungi para adik perempuan kesayangan dalam keluarga The Adjieran Smith itu.
“Di website apa lo temukan itu kata-kata?” celetuk Varen kemudian, yang membuat kekehan kemudian terdengar dari mereka yang bersamanya, termasuk juga Kafeel.
“Www dot bucinmampus dot kom.”
Kafeel menanggapi celetukan Varen, lalu mereka terkekeh lagi.
♥♥
“Lo, bisa ga tuh ngalahin kata pujangganya Kak Kaf?”
Mika bersuara, melirik pada Arya, dimana Arya langsung menoleh padanya.
“Cie Mika pengen digombalin nih ye?” ledek Drea, lalu ia cekikikan. Sisanya tersenyum geli.
“Apa sih Kak Drea?... orang aku cuma nanya. Secara dia kan Raja Gombal yang punya stok gombalan receh segudang.”
Mika mencebik.
Sisanya terkekeh mendengar cibiran Mika pada Arya.
Sementara yang bersangkutan, yakni si Raja Gombal, cengengesan.
“Tapi suka kan gue gombalin?” ledek Arya pada Mika. “Buktinya tadi pipi lo nge-pink waktu gue gombalin-“
Arya lanjut menggoda Mika, yang memutar bola matanya kemudian.
“Dah ah, gue mau ke kamar.” Mika bangkit dari duduknya.
“Kamu juga sana gih istirahat?” Varen lalu juga berucap pada Drea.
“Ya udah deh, sekalian Drea liat Putra sama Gadis,” sahut Drea. Varen pun mengangguk.
“Kalau Putra dan Gadis bangun lalu mereka rewel, bawa aja kesini,” ucap Varen lagi.
“Iya...” jawab Drea seraya mengangguk. “Nitey nite Bebeb Abang...”
Cup!.
__ADS_1
Satu kecupan mendarat di pipi Varen dari Drea.
“Nitey nite Little Star...”
“Nitey nite semua.”
“Nitey nite, Kak Drea...”
“Nitey nite, Drea...”
“Nitey nite, Cute Girl...”
Mika pun sama melakukan seperti halnya yang Drea lakukan pada semua.
Mengucapkan selamat malam, serta memberi kecupan selamat malam, selain pada dua orang, yang belum resmi masuk dalam keluarga.
“Nitey nite, Abang...”
Mika pun memberikan kecupan singkat di pipi Varen, seperti kebiasaan semua orang dalam keluarga selama ini.
“Nitey nite, May...” Varen pun menjawab lembut ucapan selamat malam Mika, sambil mengacak pelan rambut Mika, lalu mengecup sekilas bibir Drea.
“Yuk Kak Kaf...” pamit Mika pada Kafeel, namun tidak langsung mengucapkan selamat malam pada Arya.
Karena Mika lagi-lagi bingung mau memanggil Arya dengan sebutan apa.
“Bingung lagi manggil gue apa?-“
Arya tanggap kenapa Mika tak berucap selamat malam padanya, dan malah bergeming di tempatnya sambil menatap pada Arya.
“Sadboy aja udah panggilnya, ga perlu diganti...” celetuk Varen sambil cengengesan.
“Weits!... happyboy sekarang gue ya, duhai Abang Varen-“ tukas Arya.
“Lebayboy!”
Mika lalu menyambar.
Yang mendengarnya mendengus geli saja, sementara Arya terkekeh kecil.
“Ya dah, terserah Dedek Mika Sayang deh mau manggil Kakak Arya gimana.”
Dan uwek-uwek-an terlontar jahil dari mulut Varen dan Nathan.
Kekehan mewarnai suasana di ruang tengah Keluarga Cemara itu kembali.
♥♥
“Ya udah sana ke kamar, May!... nanggepin itu si lebayboy bisa sampe subuh kamu disini!” celetuk Varen iseng.
“Ih, siapa juga yang mau nanggepin Raja Gombal Receh lama-lama?” tukas Mika.
“Gitu kan sama yayangnya sendiri?”
Arya tersenyum geli, dan Mika mengerucutkan bibirnya sepintas pada Arya.
“Dah ah, Nitey nite once again everyone...” ucap Mika. “Yuk Kak Drea...”
Mika menyambar lengan Drea yang menyahut dengan anggukkan, kemudian langsung ia gandeng.
Namun langkah Mika otomatis terhenti.
Kala suara Arya terdengar, lalu bilang,
“Gue ga punya stok kata pujangga emang...”
Mika pun menoleh pada akhirnya, dimana Arya sedang berdiri menatap dan tersenyum padanya.
“Tapi cukup gue bilang, kalo lo udah jadi detak jantung gue, dan gue mau lo, mutlak... itu aja. Kasih gue waktu buat buktiin kalo apa yang gue rasa sama lo bukan sementara, yang gue utarakan pada lo bukan sekedar gombalan receh semata. Gue pengen jadi tameng dalam hidup lo, menggantikan The Dads dan para saudara lelaki lo.”
Mika terkesima jadinya.
“Bagaimana? Apa itu cukup meyakinkan lo, agar jangan lagi ragu sama perasaan gue ke elo, Nona Mikaela Finn Adjieran Smith?”
Lalu senyuman tulus terbentuk di bibir Mika.
“Dalem...” Aro yang nyeletuk.
Arya menanggapi dengan senyuman.
Lainnya pun sama.
“Gue mungkin ga sehebat para Dads lo, Abang, Kak Tan-Tan, ataupun Kak Kafeel... Gue cuma seorang Arya Narendra, yang serius sama perasaan gue ke elo, yang benar-benar ingin nyiptain senyum di wajah lo setiap saat, yang ingin jadikan bahu gue ini, tempat lo bersandar setiap kali lo butuh sandaran...”
“Makasih,” sahut Mika singkat, namun senyumannya semakin lekat. Tak munafik, Mika senang mendengar kalimat romantis yang diucapkan Arya padanya. Bukan hanya senang rasanya, karena hati Mika berdegup kencang. Kata-kata Arya seolah membiusnya, hingga getar yang sekedar di hati Mika, jadi bertambah lagi dengan pesat.
Satu hati yang beku telah mencair, mungkin meleleh sebentar lagi.
♥♥
Seseorang yang ga pernah dibayangkan sebelumnya untuk muncul dalam kehidupan dan menjadi bagian didalamnya, tahu-tahu datang dan membuat keadaan jungkir balik, membuat hati jumpalitan.
♥♥♥♥
To be continue...
__ADS_1