HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
MASIH SIANG


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jekardah, Indonesiah,


“Bobo...” Adalah ucapan Kafeel dan Arya yang kurang lebih sama pada istri mereka masing-masing dalam kamar pengantin mereka yang terpisah tentunya. Satu kata saja, namun sanggup membuat Val dan Mika jadi kian gugup adanya.


Dimana kegugupan itu sudah mulai timbul dari sejak di tempat berlangsungnya akad nikah dua pasang pengantin baru itu, karena pembahasan soal malam pengantin kala Val dan Mika sedang kumpul bersama ciwi-ciwi. Lalu kegugupan Val dan Mika melanda selama perjalanan dari tempat akad nikah menuju hotel tempat resepsi.


Semakin bertambah kegugupan Val dan Mika, kala keduanya mendapat ledekan dari satu kakak perempuan mereka. Ledekan yang terngiang-ngiang di kepala dua incess yang sudah menjadi nyonya dari pasangannya, hingga sampai keduanya telah dibawa masuk oleh pasangan masing-masing. Yakni suami mereka tentunya. Yang telah sah secara agama dan hukum.


Dan ya, sekarang Mika dan Val semakin gugup adanya. Kala keduanya telah berada di dalam kamar hotel yang telah didekorasi menjadi kamar pengantin.


“Cikini, ke Gondangdia... Jalanku begini gara-gara dia...”


Gara-gara ledekan Drea itu, Val dan Mika kini jadi begitu gugup adanya.


Apalagi keduanya digiring hingga sampai ke tepi ranjang. Val dan Mika pun berpikir jika mereka akan langsung ‘diserang’.


Padahal baik Kafeel maupun Arya memang menjawab dengan apa yang ada di otak mereka, sesuai anjuran yang awalnya adalah sebuah larangan dari Daddy Jeff, agar jangan dulu jebol ‘gawang’ perawan, sebelum acara resepsi mereka hari ini udahan.


♥♥


Val dan Mika tidak tahu, kalau Kafeel dan Arya mendapat anjuran itu dari para dad mereka.


Hanya ledekan Drea dan para ciwi-ciwi di tempat akad nikah yang sedang membayangi keduanya sekarang.


Jadi gugup saat dibawa masuk kamar, lalu gelisah saat didudukkan di pinggir ranjang. Diunboxing suami sampai ga bisa jalan, akhirnya mengganggu pikiran.


Sementara nanti malam masih ada acara resepsi pernikahan.


Kalo jadi diunboxing kan, pasti jalan agak-agak ngangkang?


Val dan Mika tak sanggup membayangkan, jika nanti mereka tertatih berjalan saat resepsi, karena para suami tak tahan untuk minta 'jatah' untuk yang pertama kalinya sebelum malam datang dan resepsi selesai.


Makanya kala baik Kafeel maupun Arya menggiring mereka sampai ke ranjang lalu didudukkan di pinggirannya dengan bahu mereka yang Val dan Mika nilai dipegang oleh para pasangan lalu selanjutnya akan didorong sampai tubuh mereka rebahan di atas ranjang pengantin yang sudah dihias sedemikian rupa itu, Val dan Mika agak gelagapan.


♥♥


Lalu Val dan Mika yang sedang dilanda kegugupan dengan pikiran yang sudah melanglang buana karena perkara mau diunboxing dan jantung mereka kini tak santai adanya,  “E-eum sebentar!...” Jadinya tak lama setelah didudukkan di pinggir ranjang pengantin mereka masing-masing dengan pundak yang dipegang oleh kekasih halal, Val dan Mika tahu-tahu berdiri dengan tergesa dari tempatnya.


“Kak Drea punya vitamin, takutnya pas resepsi kalian susah berdiri?”


Dan kalimat Kak Drea mereka itu, yang kini sama terbersit di pikiran Val serta Mika.


‘Jika dari gelagatnya, benar seperti yang Kak Drea katakan kalau ‘malam pengantin’ hanyalah khiasan.’


Sekali lagi, Val dan Mika memikirkan hal yang sama. Pun membatinkan hal yang sama, yang kiranya harus mereka lakukan dengan segera.


‘Aku harus ke tempat Kak Drea untuk mengambil vitamin itu!’


Val dan Mika berseru dalam hati masing-masing, dan kiranya akan langsung bergegas untuk melakukan apa yang barusan hati mereka katakan sambil bangkit dengan tiba-tiba dari posisi mereka.


Val dan Mika sudah hendak mengayunkan langkah.


Namun baik Arya dan Kafeel keburu bertanya pada masing-masing istrinya yang sempat sedikit membuat dua pria yang baru menyandang gelar sebagai suami itu sedikit terkejut.


“Ada apa?...”


“I-itu...”


Ditanya oleh para suami, Val dan Mika terkesiap lalu menjawab dengan tergugu.


“Itu apa?...”


Kafeel dan Arya kembali bertanya pada istri mereka di tempat yang berbeda.


“Itu... Mau...“


“Mau apa?...“


“Mau...  anu...“


Duh, gara-gara suaminya pada mencecar, Val dan Mika jadi mencetuskan jawaban yang kemudian terdengar ambigu bagi Kafeel dan Arya. “Mau... a-nu??...” gantian Kafeel dan Arya yang kini tergugu, karena merasa punya itu yang namanya ‘anu’.


♥♥


‘Alamak!’


Val dan Mika langsung dengan cepat menyadari ucapan mereka pasal si ‘anu’.


“Ma-maksudnya itu eum... baju ganti! Ya baju ganti! Mau ambil baju ganti! Maksudnya, anu, itu, eh...”


Val dan Mika sama menjadi kikuk di posisinya masing-masing. Sekali lagi menyadari kalau kiranya mereka ada salah sebut.


Mencetuskan lagi tentang ‘anu’.


‘Ana anu. Dianu-anuin juga nih sekarang?...’


Kafeel dan Arya membatin geli pada akhirnya.


Karena keduanya menyadari, kalau istri mereka masing-masing sedang dilanda kegugupan karena sudah berduaan di dalam kamar setelah menikah.


Kafeel dan Arya paham, mengapa Val dan Mika jadi gugup begitu.


Yakin betul kalau istri mereka masing-masing itu, sedang gugup karena perkara ‘anu-anuan’.


Yang sarat dengan pengantin baru, dimana untuk yang pertama kalinya setelah menikah suami minta ‘jatah’.


‘Belah Duren’ punya kisah, yang ujungnya akan disingkat jadi Ge-Li-Sah---sampai m*ndesah desah. Ugh, kalo dipikiran lama-lama, Kafeel dan Arya pengen cepet-cepet ‘belah duren’ jadinya.

__ADS_1


Oke sabar, ini masih siang.


‘Belah Duren’ afdolnya malem.


Apalagi kalo ujan!


Kafeel dan Arya lalu mengulum senyuman. Melihat tingkah para istri yang sedang dilanda kegugupan.


Menggemaskan!


Jadi pengen didorong aja ke ranjang.


Oke, hentikan dulu itu pikiran sekarang.


Kafeel dan Arya berpikir lebih baik menenangkan para istri mereka yang sedang dilanda kegugupan, agar tidak menyinggung lagi soal ‘anu-anuan’---setidaknya sampai nanti malam.


Saat resepsi sudah selesai, baru itu istri akan ‘dirajam’ dalam kenikmatan yang namanya ‘anu-anuan’.


♥♥


“Baju ganti kita berdua kan udah dibawa dari semalem ke kamar ini?”


Menyadari kegugupan para istrinya yang sampai lupa tentang hal yang sebelumnya dicetuskan Val dan Mika perkara ‘anu’, Kafeel dan Arya menanggapi ucapan para istri mereka tentang pakaian ganti yang Val dan Mika jadikan alasan.


Lalu Val dan Mika sejenak tercenung. Nampak berpikir.


“Oh iya, lupa,” jawab Val dan Mika tak lama kemudian pada suami masing-masing, dengan masih salah tingkah. Dimana Kafeel dan Arya lalu tersenyum karenanya, menyadari kalau para istri memang sedang salah tingkah, yang mana pasti karena kepikiran soal ‘malam pertama’.


“Kalau kamu gugup karena takut aku minta ‘jatah’ suami, hal itu ga perlu karena aku ga akan menuntutnya sekarang...”


Kafeel dan Arya bicara pada Val dan Mika di tempatnya masing-masing.


“Jujur, ingin. Tapi aku ga semaniak itu buat menuntut ‘ritual suami istri’ dilakukan sekarang. Kita perlu istirahat, karena kita masih punya acara kan? Dan itu lebih lama durasinya dari akad nikah.”


Dimana ucapan dua suami baru itu kurang lebih sama.


"Aku ga mau kamu kecapean," kata Kafeel dan Arya yang kurang lebih sama. "Jadi ga perlu gugup kalau kepikiran soal 'ritual suami istri'. Ya?"


“Iya.”


Lalu Val dan Mika pun kiranya memberikan jawaban yang sama.


'Nanti abis resepsi beda urusan.'


Kafeel dan Arya membatin setelah istri mereka membalas ucapan.


'Cape. lelah bukan halangan. Kalo udah perkara anu-anu-an.' 


♥♥


Di kamar pengantinnya Val dan Kafeel dalam hotel,


“Ya udah, Tuan Putri mandi duluan?... dan langsung istirahat duluan juga habis itu. Ga usah nungguin aku...”


“Mau berendam?...” tanya Kafeel.


“Eum---“


“Apa kamu ada trauma dengan bathtub, Tuan Putri?...” Kafeel kembali bertanya sebelum Val sempat menjawab pertanyaanya yang sebelumnya. “Maaf kalau aku baru ingat mau menanyakan hal itu sekarang.” Kafeel menambahkan ucapannya, dimana Val kemudian tersenyum.


Val tahu perihal mengapa Kafeel bertanya dan berucap seperti itu.


“Tidak Kak, Val tidak pernah trauma dengan bathtub meskipun Val pernah membuat diri Val tenggelam di dalamnya untuk mengakhiri hidup Val kala itu---“


“Maaf, Sayang... maaf...”


Kafeel menukas ucapan Val yang kemudian ia bawa dalam pelukan.


Hati Kafeel rasanya mencelos karena ingat kalau Val pernah coba bunuh diri karenanya.


Val balas merengkuh tubuh Kafeel, namun hanya sebentar.


“Kita kan sudah sama-sama janji untuk tidak lagi terbebani tentang hal itu?...”


Val lalu berucap pada Kafeel setelah ia mengurai pelukan. Dan Kafeel pun mengangguk.


“Tapi tetap ada sesak disini kalau ingat kamu pernah sangat menderita karena aku, Sayang...” timpal Kafeel sambil menunjuk dada kirinya.


“Dan Val juga merasakan sesak tiap kali Val ingat Kak Kafeel pun pernah coba bunuh diri karena Val,” balas Val.


♥♥


“Jadi kalau kita secara tidak sengaja menyinggung soal hal itu lagi seperti saat ini, Kak Kafeel jangan pasang ekspresi bersalah lagi...” Val menambahkan ucapannya, dan Kafeel langsung tersenyum mengiyakan. “Karena kalau Kak Kafeel seperti itu, Val pun akan sama merasa begitu---“


“Ya udah kalo gitu. Aku janji, lain kali kita ga sengaja bahas soal hal itu lagi, aku akan menanggapinya dengan biasa aja---“


“Janji?---“


“Janji,” jawab Kafeel cepat.


“Ya sudah, Val mandi dulu ya?”


“Iya---“


“Val juga tidak ingin berendam bukan karena trauma, tapi sedang tidak ingin saja sekarang.”


“Ya udah kalau gitu---“


“Val mandi duluan ya?...”


Kafeel mengangguk mengiyakan ucapan Val yang berjalan ke arah kamar mandi hotel yang sedang ia tempati bersama Kafeel yang sudah menjadi suaminya itu.

__ADS_1


Sementara dirinya kemudian hendak mendudukkan diri di sofa kamar sambil membuka beskap pengantinnya, sambil mengharap peruntungan, barangkali Val ngajak mandi barengan. Duh, Kafeel jadi kepikiran lagi soal ‘anu-anuan’. Mana kemudian otak Kafeel jadi ingat dada Val yang sempat ia encupi permukaannya?


Dasar otak sialan!


Kafeel merutuki otaknya kemudian.


Haffuuhhh


Kafeel menghela nafasnya untuk mengusir jiwa kelakian yang mulai bergerak perlahan ke permukaan.


Lalu Kafeel merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya kemudian.


Melihat-lihat lagi foto-foto akad nikahnya dan Val yang sebagian diambil dari ponselnya, lalu dari hasil jepretan anggota keluarga, teman dan kerabat yang kemudian membagikan ragam foto di acara akad nikahnya dan Val serta juga Mika dan Arya di kolom obrolan---baik pribadi ataupun dalam grup.


Sesaat, Kafeel fokus ke ponselnya.


♥♥


Beberapa menit Kafeel fokus dengan ponselnya, namun kemudian dirinya dibuat terkesiap karena mendengar suara pintu dari arah kamar mandi yang saat Val masuk ke dalamnya, pintu itu sudah langsung ditutup oleh sang istri---yang Kafeel pikir sudah mulai mandi. Tapi sekarang malah terlihat Val keluar lagi dari dalam sana, dan masih mengenakan kebaya pengantinnya.


‘Ga jadi mandi dia?’ tanya Kafeel dalam hati. “Kenapa, Tuan Putri?” lalu Kafeel langsung cetuskan pertanyaan yang ia lontarkan langsung pada Val setelah ia berdiri dan berjalan mendekati Val. ‘Ga mungkin kamar yang semalemnya ratusan juta ini kran kamar mandinya rusak kan?’


Lalu Kafeel bermonolog dalam hatinya. Dimana Val kemudian menjawab pertanyaan Kafeel padanya tadi. “Ini Kak, Val sulit meraih kancing belakang kebaya pengantin ini,” ucap Val sambil menunjuk bagian punggungnya dengan satu tangan. “Kancing-kancingnya terkait ketat sekali. Sampai pegal tangan Val.”


Sambil Val menghela nafas putus asanya.


“Ya ampun. Sini aku bantuin,” sahut Kafeel. “Baju gantinya ada kan?” tanya Kafeel kemudian. Dimana dirinya telah bergerak ke belakang Val yang langsung menjawab pertanyaan Kafeel tersebut.


“Iya, ada, Kak. Sudah diatur juga dalam lemari ternyata---“


♥♥


Kafeel mengangguk seraya tersenyum pada Val, dengan dirinya yang telah bersiap untuk membuka kancing kebaya Val yang letaknya di bagian punggung istrinya itu.


‘Banyak amat ini kancing.’


Kafeel lalu membatin saat melihat jejeran kancing kebaya pengantin Val yang tidak tanggung-tanggung banyaknya. Belum lagi kebaya Val terbilang rumit dengan full payet yang pada bagian belakangnya menyamarkan letak kancing-kancing tersebut.


Makanya Val sulit untuk membuka sendiri kancing kebaya pengantinnya yang berjejer dari bagian sejajar bahu sampai ke bagian pinggulnya.


“Bisa, Kak? Kalau sulit kita panggil saja team wardrobe---“


“Ga usah. Bisa kok ini...” tukas Kafeel. Dengan tangannya yang sudah memegang kancing belakang kebaya pengantin Val pada urutan pertama.


Val pun tersenyum di tempatnya, seraya ia mengangguk.


Kemudian Val diam dalam posisinya agar Kafeel mudah untuk melepaskan kancing-kancing kebaya Val yang berentet itu. Dan Kafeel juga terdiam.


Karena suaminya Val itu sedang khusyuk membukakan kancing kebaya Val. Baru kancing kedua, namun kekhusyukkan Kafeel sudah mulai terganggu.


Pasalnya, mata Kafeel tidak sengaja melirik ke arah leher jenjang Val yang putih dan mulus itu. belum lagi bentuk kebaya pengantin Val adalah off shoulder dengan bagian bahu dan tulang selangka yang terbuka.


Hingga membuat Kafeel yang sedang dalam posisinya itu dapat juga melihat bagian dada Val yang cukup rapat dengan kebaya pengantinnya.


Kalau dari depan, kebaya pengantin Val hanya terlihat terbuka bagian bahu sampai bawah tulang selang. Dengan bagian dada yang tertutup rapat.


Potongan lehernya tidak sampai memperlihatkan belahan dada Val karena memang model potongannya hanya sedikit lebih rendah di bawah tulang selangka.


Lalu dihiasi dengan aksen aplikasi bunga tiga dimensi yang menghiasi selingkaran bagian dada pada kebaya pengantin Val tersebut.


Hanya saja, karena tinggi Kafeel di atas Val, lalu Kafeel berdiri begitu dekat di belakang Val—alhasil, Kafeel dapat melihat sedikit bagian dada Val yang tersembunyi dibalik kebaya pengantin istrinya tersebut.


Sangat sedikit saja yang terlihat di mata Kafeel pada bagian itu. Namun tetap bisa membuat Kafeel menjadi sedikit tak santai sekarang, habisnya dada Val itu pernah ia rasakan di telapak tangannya, walau masih terhalang pakaian Val.


Kafeel menghembuskan samar nafasnya. Lalu memalingkan matanya dari pemandangan yang membuatnya mulai penasaran, ingin lagi ia rasakan di telapak tangannya. Yang sekarang halal kalau dipegang tanpa penghalang. Ehh...


Sabar, tunggu malem.


Hati Kafeel mengingatkan.


Kafeel pun fokus lagi pada kancing-kancing kebaya Val yang sedang ia bantu bukakan.


♥♥


Namun bukannya menjadi rileks selepas memalingkan pandangannya dari dada Val yang mengintip secuil saja, malah kini Kafeel lebih jadi tak santai kala kancing ke lima kebaya pengantin Val yang jaraknya rapat-rapat itu telah terbuka.


Lalu menampakkan belakang punggung mulus Val yang sebagian tertutup sebuah terusan dari penyangga dada Val yang tanpa tali. Kafeel pun terkesima di tempatnya. “Masih lama tidak, Kak?” bahkan saat cetusan pertanyaan Val keluar dari mulut sang istri, Kafeel mengabaikannya.


Bukan apa, Kafeel terlalu fokus pada punggung Val soalnya. Yang begitu mulus, ingin sekali Kafeel elus-elus. Boleh kali kalo cuma elus sih?—Kafeel membenarkan sendiri keinginannya dalam hati. Pun masih terkesima di tempatnya.


“Kak?!”


“Eh!...” baru setelah Val bergerak dan sedikit memiringkan tubuh sambil menoleh kepadanya, Kafeel tersadar dari lamunannya yang ingin mengelus punggung Val yang mulus.


“Masih lama tidak?” tanya Val lagi.


“I-iya... sebentar. Sedikit lagi---“


“Val ingin pipis---“


“I-iya... iya...”


Kafeel mempercepat gerak tangannya membuka kancing kebaya pengantin Val sampai kancing terakhir.


“Terima kasih, Kak...” Val segera berucap setelah Kafeel mengatakan jika ia sudah menyelesaikan tugasnya itu, kemudian langsung ngacir kembali masuk ke dalam kamar mandi.


‘Ngomong-ngomong soal pipis...’ batin Kafeel yang masih berdiri di tempatnya. Sambil memandangi Val yang tergesa masuk kembali ke kamar mandi. ‘Jadi pengen buru-buru aku ‘pipisin’ kamu Val.’


Aw Aw!


♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue......


Makasih masih setia.


__ADS_2