
( Mereka, Yang Sedang Bersusah Hati )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Noted: Yang perlu dipahami perbedaan ‘diulang’ dan ‘penggalan’. Kalau yang namanya ‘Diulang’, itu bermakna episode yang sebelumnya di copas lagi di episode berikut.
Sampe sini paham, untuk yang ingin melontarkan komen berupa cibiran tentang yang namanya, ‘Diulang’?
‘Penggalan’ – pengambilan cerita dari apa yang sudah dispoilerkan di episode sebelumnya, lalu dibahas secara gamblang di episode berikutnya.
Sampe sini kalo masih ga paham juga, silahkan stop baca karya ini daripada komennya menimbulkan gundah gulana dalam hati Emak yang engga solehah ini.
Yang moodnya kabur-kaburan, update bisa berantakan.
Sekian dan Terima Kasih
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kembali ke, Selamat Membaca....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,
“Ini May.. Titipan dari Arya.” Adalah Nathan yang menyodorkan pada Mika sebuah undangan, setelah ia sampai di mansion keluarganya yang berada di London itu.
Mika yang sedang duduk makan siang bersama beberapa anggota keluarganya itu, mendongak dengan spontan ketika Nathan yang baru datang dari Jakarta bersama Via dan anak perempuannya itu langsung menghampirinya.
Setelahnya, Mika melirik undangan yang disodorkan Nathan padanya sekilas dan langsung ia terima tak lama kemudian dengan tersenyum pada Nathan seraya mengucapkan terima kasih.
Sudah berdentum hati Mika, kala Nathan menyodorkan sebuah benda yang memang tampak jelas adalah sebuah undangan dengan embel-embel,
“Titipan dari Arya.”
Sudah juga menyiapkan diri, namun tetap Mika tercubit hatinya ketika membaca selembar kertas tebal berwarna biru muda dengan tulisan yang timbul di atasnya dan nama Arya tertulis di sana, berikut nama seorang gadis yang dituliskan akan bertunangan dengan dia gerangan yang merupakan mantan pertama dan terindah Mika.
✨
“Aku fikir undangan pernikahan.” Mika bersuara dengan tenangnya setelah ia selesai membaca undangan titipan Arya.
Dan mereka yang sedang bersama Mika, langsung memandang pada satu putri yang nampak tegar itu.
Namun begitu, mereka tahu... jika setidaknya--sedikit banyak, ada sedih yang bertambah di hati Mika.
Meskipun Mika menampakkan seutas senyumnya sekarang. Membuat beberapa anggota keluarga yang sedang bersama Mika itu, berkesah samar kemudian.
“Apa kau tidak lelah, hem?...” Daddy Dewa bersuara, setelah membaca satu undangan lain namun sama dengan yang Mika terima berita di dalamnya. Yakni pertunangan Arya.
“Lelah?...”
Mika langsung menanggapi Daddy Dewa yang barusan bersuara.
Daddy Dewa menggumam tertahan. “Lelah berpura – pura jika dirimu baik – baik saja atas perpisahanmu dengan Arya.”
✨
Mika menarik lagi sudut bibirnya, setelah ucapan Daddy Dewa itu yang sedang memandanginya bersama juga dengan para anggota keluarga yang sedang ada bersama mereka tersebut.
“Tidak, Dad... aku tidak lelah. Karena aku tidak sedang berpura – pura,” ucap Mika kemudian.
“Masih ada waktu jika kau mau mengubah keputusanmu –“
“Apa yang sudah aku putuskan tentang hubunganku dan Arya, tidak akan berubah. Daripada dia harus menunggu yang tak bisa memberikannya kepastian untuk masa depan kami setelah kejadian Val ini lalu menyiakan waktunya untukku, aku rasa ini yang terbaik baginya –“
“Dan kau pikir ini yang terbaik untukmu?...” tukas satu Dad of The Adjieran Smith yang ada bersama Mika, selain Daddy Dewa. Lalu sekali lagi, Mika menarik sudut bibirnya.
__ADS_1
“Iya...” jawab Mika. “Aku sudah selesai,” lanjutnya sambil berdiri dari duduknya di kursi meja makan, kemudian undur diri untuk duluan pergi dari ruangan tersebut.
✨
“Kak Drea rasa, kalau kamu ga dateng pun ga masalah, May –“
“Itu benar... toh kami semua kan diundang. Jadi ketidakhadiranmu akan beberapa dari kami yang mewakilkan.”
“Kak Drea dan Abang benar,” Poppa berujar.
“Hum... kan ga semua dari kita yang bisa datang juga ke pertunangannya Kak Arya?...”
Aro yang juga sudah mulai menetap di London ikut angkat suara, mengaminkan ucapan tiga orang sebelumnya.
✨
Mika mengangguk paham akan ucapan Aro yang ikut bicara setelah tiga orang sebelumnya, ketika Mika bangkit dari posisi.
Dan lagi – lagi Mika menerbitkan seutas senyuman.
Lalu Mika memandang ke arah para anggota keluarga yang sedang memperhatikannya itu. “Aku ingin datang –“
“Apa kamu yakin akan siap melihat Arya bersanding dengan orang lain meskipun baru bertunangan saja? –“
“Sangat siap.”
✨
Jakarta, Indonesia,
Siap, memang.
Mika sudah menyiapkan dirinya untuk bagaimana ia bersikap di hadapan Arya, ketika ia telah sampai di rumah orang tua sang mantan pertama dan indah bagi Mika itu.
Bahkan Mika sanggup menampakkan senyumnya, selain berdandan anggun demi menghormati undangan Arya. Yah, Mika kan bagian dari para bidadari The Adjieran Smith yang harus tampil memukau jika menghadiri suatu acara.
Yang akan sama penampilan Mika jika menghadiri suatu undangan resmi semacam pertunangan Arya ini.
Mika yang datang bersama beberapa anggotanya itu nampak bersinar seperti selalunya aura para anggota keluarga dari Dinasti The Adjieran Smith.
Hingga terkadang yang punya acara merasa minder, karena mereka kalah sinarnya dengan tamu yang wajah dan penampilannya bak terkena cahaya ilahi saking bersinarnya.
Dan seperti itu penampilan Mika saat datang ke pertunangan Arya.
Sudah memang cantik wajahnya, namun polesan make up yang tidak berat berikut gaun berwarna silver berbahan satin yang polos---berlengan panjang dengan aksen bahu yang terbuka, bahkan membuat Mika lebih bersinar dari perempuan yang baru saja resmi bertunangan dengan Arya.
Padahal kan, gadis tunangan Arya itu yang seharusnya lebih banyak sinarnya?...
Yah, mau bagaimana?
Walau judes mukanya, kecantikan Mika juga katakanlah paripurna.
Rajin merawat diri dan wajah pula, jadi tak heran Mika nampak bersinar di pesta pertunangannya Arya yang walau hanya Mika hadiri sebentar saja.
Namun begitu, meski sebegitu terlihat bersinarnya Mika. Hatinya meredup melihat Arya yang statusnya kini sudah menjadi tunangan orang.
Hingga hati Mika yang meredup itu, Mika rasakan mulai membentuk menjadi kesesakkan. Makanya Mika tak berlama-lama berada di hadapan Arya, dan ingin cepat pergi dari rumah orang tuanya Arya.
Menahan diri, agar sesak itu tidak kian mendominasi dalam hati. Lalu air mata tidak sampai turun membasahi pipi. Tapi...
“Seperih ini ya Dad, ternyata...”
Nyatanya Mika tidak setegar yang ia gadang-gadangkan di hadapan semua anggota keluarganya.
Yang mana Mika adalah gadis biasa, yang walau hatinya seluas samudera dengan beberapa karang keegoisannya---tetap saja, jika soal seseorang yang Mika cinta dan pernah menorehkan bahagia serta masih bertahta di hati Mika, hatinya tetaplah serapuh kaca tipis yang mudah pecah.
Dimana Mika melirih lalu meluruh, ketika ia sudah berada di pekarangan rumah keluarga Arya, di dekat mobil yang mengantar Mika datang ke rumah yang sedang menggelar pesta itu.
“Aku dan orang tuamu yang lain sudah memperingatimu, bukan?” Adalah Dad R yang mengekori Mika ketika satu putrinya itu keluar dari area dalam rumah Arya. Dimana Dad R sudah yakin menduga, jika Mika tidak akan bisa baik-baik saja melihat Arya bertunangan dengan gadis lain.
__ADS_1
Mika menangis di pelukan Dad R yang menyusulnya. “Iya, Dad... tak apa. Luka ini aku yang buat sendiri. Jadi akan aku nikmati... Tenang saja Dad, aku tidak akan mencoba bunuh diri.”
Mika pun merespons ucapan Dad R setelah mengurai pelukan dari salah satu Daddynya yang belum lama terhantam kepedihan mendalam di hatinya itu.
Mika melirih sambil menyusut air matanya, namun sempat juga ia berguyon dan terkekeh.
“Luka yang aku buat sendiri ini, seperih apapun... akan aku nikmati...”
Mika tersenyum pada Dad R yang merasakan tambahan kemirisan di dalam hatinya.
✨
Sementara itu di sudut lain rumah yang sedang menggelar sebuah pesta,
‘Susul – engga – susul – engga?...’
Ada satu hati yang sedang bergelut dalam dilema, kala melihat sosok yang masih kiranya bertahta di hatinya yang sudah patah, sedang berjalan kian jauh darinya.
‘No, Ar...’
Yang kemudian larangan muncul tak lama saat dia, Arya Narendra -- sedang menimbang – nimbang apakah dia ingin mengejar Mika yang pergi nampak dengan sediikit tergesa.
‘Lo sama Mika udah ga ada harapan.’ Batin Arya menambahkan. ‘Jadi dia ga perlu lo kejar lagi.’
Dan Arya menahan langkahnya, memalingkan wajah dari arah yang sempat dipandanginya lama.
Tak jadi menyusul Mika, sambil mensugesti dirinya, jika memang dia dan Mika tidak ditakdirkan untuk bersama.
Hingga tak sampai Arya melihat, ada hati yang juga patah seperti hatinya, di pelataran parkir pekarangan orang tuanya tersebut.
Tak sampai Arya lihat, air mata Mika yang tertumpah untuknya.
✨
Arya dan Mika sedang menghadapi yang namanya fase patah hati, lalu belajar mengikhlaskan.
Sulit, tapi tetap harus dilakukan.
Meski harus menahan beban perasaan, dan terkadang stalking – stalkingan.
Saling menyimpan perasaan yang masih tetap sama walau telah didera perpisahan.
Sama – sama patah dan menderita namun dengan alasan yang berbeda.
Tapi ya sudah, semua sudah jalannya.
Yah, walau jalan itu adalah pilihan Mika.
Dan seperti yang Mika pernah katakan, sakitnya melepaskan cinta ia nikmati saja.
Toh itu pilihannya.
Lalu bagaimana dengan Arya?
Arya yang sudah bertunangan itu, telah mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Kemudian mulai fokus pada satu bidang bisnis yang keluarganya punya, karena sang kakak lebih memilih jadi abdi negara.
Jalan lain yang Arya tempuh dalam rangka mengurangi memikirkan Mika dan semua kenangan yang pernah Arya dapatkan bersama gadis yang Arya sebut mantan terindah, walau Mika telah menorehkan luka dan kecewa di hati Arya.
Hingga sebuah berita yang Arya dengar, membuat kakinya melemas seketika.
Lalu di kesempatan lain, Arya mendapati sebuah pemandangan mengerikan pada suatu hunian ketika ia sedang bertandang.
Membuat Arya kemudian secara tidak sengaja mendengar seseorang bicara, ketika ia hendak memasuki sebuah ruangan.
“Gue paham posisi lo --- sebagai anak, lo melakukan hal yang benar --- tapi di sisi lain, lo ga hanya membuat satu hati bersedih, tapi satu keluarganya juga --- luka yang lo beri pada Val, berimbas pada semua orang --- May, contohnya... dia yang terluka atas jalan pintas yang dipilih saudarinya, takut jika dia tidak dapat memberikan kepastian masa depannya dengan Arya --- Lalu mencari cara agar Arya membencinya, hingga sampai Arya mau melakukan perjodohan bisnis dengan anak rekan bisnis ayahnya – Dan ya, Kafeel Adiwangsa, mendingan lo mati aja --- karena lo, telah membuat dua adik perempuan gue menderita --- yang satu lo tusuk langsung hatinya, yang satu harus mengorbankan cintanya karena ga mau memberikan warna abu – abu pada masa depan Arya bersamanya...”
✨✨
To be continue....
__ADS_1