HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BEBERAPA BENTUK CINTA


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia,


“Udeh deh ah, aki-aki sama nini-nini, selain Bi Nini.... ga usah pade ribut kenapa si?” tegur Mami Prita karena sebelumnya, sepasang orang tua kandungnya dan Momma yang amat dua gesrek itu cintai, habis debat unfaedah.


Dan setelah mereka semua selain Ake Herman dan Ene Bela, cekakakan sejenak sebelum kembali menikmati sarapan mereka masing-masing, selain ada juga yang menyuapi dua bocil ter bocil dalam keluarga. Yang sedang merengek minta nyebur ke kolem di area belakang rumah Keluarga Cemara.


Kolem renang beneran-meski tak seberapa besar, bukan kolem ikan.


“Tau sih Pah,” kemudian Momma menimpali ucapan adik gesreknya sedari muda itu. “Kalo dibilangin bener ngerti kenapa?-“


“Iya, Pa. Lebih baik Papa istirahatkan dulu kondisi Papa sampai benar–benar fit.... setidaknya sampai Alan mengatakan jika Papa sudah boleh beraktitas yang lebih.”


Poppa menukas ucapan Momma, dengan Poppa yang bicara dengan bijak kepada sang papa mertua.


“Nah, nasehatin tuh Dru, biar ini aki-aki satu jangan kepala batu.”


Ene Bela menimpali.


Poppa tersenyum kemudian.


“Iye, Dru-“


“Kalo si Endru yang ngomong, baru dah kicep-“


“Iye, udeh ah. Bawel!-“


“Udeh ah!”


“Malu noh ama calon cucu mantu dua.”


Mami Prita menyergah kedua orang tua kandungnya dan Momma yang belum habis juga saling cibir, walaupun tak serius.


Sementara Kafeel dan Arya yang dimaksud Mami Prita, mesam-mesem aja.


♥♥♥


Pokok permasalahan yang membuat sedikit keributan kecil saat sarapan telah selesai dibahas.


Walau habis itu, Varen sedikit jadi bulan-bulanan, karena celetukannya soal ajakan mancing yang kemudian memicu perdebatan unfaedah antara beberapa orang keluarga mereka, dikala sedang menyantap sarapan.


Membuat mata yang pada begadang tadinya ngantuk, jadi hilang lagi kantuknya.


Sehingga niatan habis sarapan mau pada tidur pun, ditunda dahulu.


Lalu kemudian berkumpul di halaman belakang untuk bercengkrama santai, sambil menemani dua bocil terbocil berenang.


Yang sebagian duduk di area kursi meja kolam renang, sebagian lagi ikutan nyebur ke kolam renang.


“So, ada progress apa dalam rangka pedekate dan pengejaran kamu ke si judesgirl, Ar?.... Ada kemajuan, atau masih jadi bulan-bulanan sentimennya Mika?....” ini Papi John yang sedang bertanya pada Arya.


“Lebih dari sekedar kemajuan dong, Uncle, eh Papi-“


“Sudah sampai ke tahap ‘nembak’?-“


“Udah dong!-“


“Lalu ditampar?” tukas Poppa, hingga Arya dan mereka yang berada didekat Poppa pun terkekeh.


“Wes, engga dong Pop-“


“Mantap itu peletnya dia Pop, diterima itu dia sama Mika dan mereka pacaran itu ceritanya sekarang....” timpal Kafeel.


“Oh ya?!....” Mami Prita terperangah. “Beneran itu?!” Juga memastikan dengan antusias kebenaran ucapan Kafeel pada Arya.


Dan Arya mengangguk-angguk dengan sumringah, atas responnya pada Mami Prita yang nampak terperangah tak percaya. “Iya, Mi.... itu judesgirl terima aku jadi pacarnya,” kata Arya yang sumringah.


“Wah, perlu bikin tumpeng nih kayaknya.... itu si Mika mau membuka hatinya yang beku macem bunga es kulkas satu pintu. Plus membuka hatinya ke kamu lagi, Ar?”


Momma dengan celotehannya. Yang tentunya mengundang cekikikan mereka yang berada di dekat Momma, yang mana orangnya ikutan ngikik juga.


“Terus ada rencana nikah cepet juga macem ini si AA sama Val?....” tanya Mami Prita pada Arya.


“Itu sih terserah Mika aja, Mi,” jawab Arya. “Tapi kalau setau Arya sih, Mika ga mungkin mau diajak nikah muda-“


“Kau benar, Boy-“


“Well, dia mirip Mom kandungnya, yang sangat anti nikah muda-“


“Iya Pi, Pop,” tukas Arya.


“Kamu sendiri ada rencana mau nikah muda memangnya, Ar?”


Mami Prita yang bertanya.


“Ah tapi usia kamu udah cukup matang buat berumah tangga kok, Ar-“


“Iya Mom, memang,” tukas Arya. “Tapi kalau boleh jujur sih, aku belum memikirkan untuk menikah sebelum aku jatuh cinta sama Mika... tapi karena dibahas, sedikit banyak aku kepikiran juga untuk menikahi Mika. Hanya aku, masih merasa belum begitu mapan untuk Mika, walaupun aku sudah punya penghasilan sendiri dari bisnis kecil –kecilan yang aku mulai di US.”


Arya nampak serius bicara.


“Tapi rasanya, aku ingin melakukan yang lebih lagi dari itu, diluar jatah aku dari papa dan mama serta warisan kakek... aku ingin Mika bangga dulu padaku, baru aku akan berani melamarnya... agar penyesalan setelah hidup terikat bersamaku, tidak pernah terucap dari mulutnya,” tulus Arya.


♥♥♥


Setelah bercengkrama beberapa saat, mereka yang begadang mulai menunjukkan tanda-tanda mata yang mulai menuju ke lima watt, selain sering sekali menguap.


Para kakek dan nenek serta dua uyut, kini sedang fokus pada dua cucu dan cicitnya, Putra dan Gadis.


Menggantikan dua pasang orang tua dari cucu dan cicit mereka itu, yang kini berbaur dengan para saudara-saudarinya.


“Yuk ah semua, akikah duluan ke kamar ya? udin ngantuk beyat –“


“Eh iya, Aro.” Ada Val yang memanggil Aro, dimana satu bujang itu baru saja bangkit dari duduknya.


“Hem?” sahut Aro pada Val.


“By the way, aku baru menyadari akan satu hal sewaktu kita di SIN....”


“Apa tuch?....” tukas Aro.


“Kenapa Daisey tidak diajak?”


“Ga apa-apa. Kenapa emangnya?”


“Ya tidak apa-apa sih, aku hanya tanya. Karena setahu aku kalian bukannya pacaran?”


“Gosip aja itu –“


“Memang kalian tidak pacaran, Aro?”


“Engga –“


“Masa sih? –“


“Mereka benar pacaran kan Isha? –“


“Aku sama dia engga pacaran,” potong Aro.


“Masa?....”


Ann menukas.


“Iya kan, Isha?”


Namun Isha yang ditanya oleh Ann itu mengendikkan bahunya.


“Tanya langsung aja sama orangnya,” ucap Isha kemudian, sambil menunjuk pada Aro dengan gerakan dagunya.


“Ah kamu, Ro, pakai malu-malu segala,” timpal Drea. “Toh The Dads atau The Moms juga ga keberatan kalau kamu pacaran?” imbuh Drea.

__ADS_1


“Aku ga pacaran sama dia, Kak Dreaa –“


“Tapi foto-foto lo banyak di akun medsos lo sama dia?” cetus Nathan.


“Foto bareng bukan berarti pacaran lah,” sahut Aro.


“Anak orang jangan digantung,” timpal Mika.


“Siapa juga yang gantungin anak orang sih, May?”


“Ya kamu itu menggantung Daisey?”


Val yang menyambar menyahuti Aro.


“Aku ga gantungin dia, oke??? Plus, aku sama Daisey ga pacaran.”


“Tapi kenapa aku lihat di akun media sosial kamu, kalau kamu dan Daisey sering jalan berdua?” tukas Ann.


“Ya kenapa emangnya kalo jalan berdua?....”


“Ya tidak apa-apa sih –“


“Udah ah, kenapa jadi bahas hubungan aku sama dia? –“


“Kita orang kan penasaran, Aro sayang.”


Drea yang sudah berdiri bersama Varen yang juga sudah nampak mengantuk itu mencubit gemas pipi Aro.


“Elah, kalo pacaran juga kenapa si emang? Pake ditutup-tutupin segala?”


“Siapa yang nutup-nutupin sih, Kak Tan-Tan?.... Emang kenyataannya aku sama Daisey ga pacaran.”


Aro yang bersikukuh dengan ucapannya.


“Tanya aja sama Isha,” imbuh Aro. “Aku sama Daisey hanya berteman baik.”


“Tapi bukannya kamu ada rasa sama dia, Ro?”


“Iya, aku lihat Daisey juga sangat menyukai kamu.”


“Dan dipandanganku juga sepertinya kalian saling menyayangi? –“


“Iya betul!” Via ikutan bersuara.


“Kalo cinta, bilang aja Ro. Disimpen nyesekin dada nanti.”


“No choice, Kak Kaf....”


“Kenapa gitu?” Kafeel sontak bertanya, dimana pertanyaan yang dipicu oleh jawaban Aro sebelumnya, membuat mereka yang sedang berada didekat Aro jadi memperhatikan kembarannya Isha itu.


“Aku sama Daisey emang udah saling sayang,” aku Aro.


Yang kemudian tersenyum kecil, hanya saja senyuman Aro itu seperti menyiratkan sebuah kegetiran.


“Tapi kalian sama-sama diam?”


“Engga juga....”


Aro lekas menyahut atas pertanyaan Ann.


“Udah saling jujur sama perasaan masing-masing?” cetus Kafeel.


“Kurang lebih begitu.”


“Terus kenapa ga pacaran? Punya prinsip sendiri?”


“Engga juga....” sahut Aro pada dugaan Arya. “Tapi aku sama Daisey ga bisa buat saling terikat –“


“Kenapa gitu?” Drea yang tadinya mau menemani Varen untuk pergi ke kamar karena sang suami itu sudah juga nampak mengantuk, nyatanya menahan langkah karena penasaran pada bahasan mengenai cintanya Aro itu.


Aro menghela nafasnya pelan kemudian. “Meskipun aku dan Daisey saling menyayangi, saling punya perasaan, tapi Aku dan dia ga mungkin bisa sama-sama sampai kapanpun. Selama dia masih memegang Rosario, sementara aku memegang Tasbih.“


♥♥♥


Ada hati yang sedang bertanya-tanya sendiri. Hati seorang gadis belia, yang menanggapi sedikit serius ucapan Aro saat di area kolam renang rumah Keluarga Cemara beberapa saat yang lalu.


“Hoy!” sebuah suara membuat gadis yang sedang melamun itu terkesiap.


“Hem? –“


“Tumben Kak Ann bengong?”


Aina yang menegur Ann dengan menepak kecil lengan Ann itu berkomentar.


Ann tersenyum kemudian pada Aina. “Lagi mikirin appah?” dan Aina bertanya kemudian.


“Aku tidak sedang memikirkan apa-apa –“


“Tapi bengong?”


Ann hanya kembali tersenyum atas terkaan Aina yang sedikit benar itu.


“Aku tidak sedang bengong kok –“


“Tapi dari tadi dipanggilin sama Kak Mika diem aja.”


“Masa?” tukas Ann, dan Aina mengangguk beberapa kali. “Lalu Mikanya mana?”


“Di ruang tamu dengan Kak Arya dan beberapa lainnya –“


“Ya sudah ayo kesana? –“


“Okee!....” sahut Aina. Sambil ia merangkul pinggang Ann yang merangkul bahunya.


Lalu dua gadis belia dengan rentang usia itu berjalan bersama menuju ruang tamu rumah Keluarga Cemara.


♥♥♥


Ann dan Aina telah sampai di ruang tamu rumah Keluarga Cemara, dimana ada beberapa orang anggota keluarga mereka juga Arya dan Kafeel. “Loh Kak Arya dan Kak Kafeel kenapa tidak beristirahat seperti Abang dan lainnya yang terjaga sampai pagi bersama kalian semalam? –“


“Gue sekalian istirahat di rumah, Ann,” tukas Arya. “Besok balik lagi kesini sekalian bareng balik ke London,” sambungnya dan Ann manggut-manggut, lalu Ann beralih kepada Kafeel.


“Kak Kaf juga akan kembali ke rumah Kak Kaf seperti Kak Arya? –“


“Iya, Ann –“


“Nanti Val merajuk loh jika Kak Kaf meninggalkan dia sekarang –“


“Aku kembali lagi nanti malam kok –“


“Janji loh Kak? –“


“Tuh kan? –“


“Biarkan Kak Kafeelmu istirahat dengan tenang barang satu hari kenapa sih?...”


Val merungut saat Poppa berbicara.


“Apa kau tidak kasihan padanya? –“


“Iya kasihan –“


“Lalu, kenapa membuatnya memaksakan diri datang lagi kesini nanti malam, sementara dia belum beristirahat dengan layak?”


“Iya itu kan –“


“Kak Kaf-mu itu tidak hanya datang untuk melamarmu dan liburan di SIN, melainkan juga dia bekerja. Lalu saat kembali kau membuatnya terus-terusan menemanimu padahal kemarin dia bisa pulang dan beristirahat tanpa terus-terusan menemanimu selama beberapa hari berturut-turut –“


“Val tidak ada maksud seperti itu, Poppa. Val kan besok sudah kembali ke London bersama kalian –“


“Tapi bukan berarti kau memaksakan kehendak pada Kak Kaf-mu untuk terus-terusan dekat denganmu tanpa jeda, sementara dia harus membagi waktu dan fokusnya pada pekerjaan –“


“Ga apa kok, Pop....” sela Kafeel.

__ADS_1


Melihat Val diceramahi Poppa seperti itu rasanya Kafeel tidak tega. Meski pemandangan seperti itu sering Kafeel lihat. Baik Poppa ataupun The Dads lainnya yang menceramahi atau memarahi para Pewaris Muda itu, tidak hanya Val.


Namun pada Val, sedari dulu juga-bahkan sebelum Kafeel merasa telah jatuh cinta pada Val, Kafeel tidak pernah tega melihat-jika ada masanya Val sedang diceramahi seperti saat ini, atau memang Val sedang benar-benar dimarahi karena kasus foto berbikininya Val dulu yang gadis itu iseng unggah ke akun medsos miliknya.


Sayang Kafeel tidak pernah sempat melihat foto itu. eh....


Ngomong-ngomong soal Val yang sedang diceramahi oleh Poppa saat ini, Kafeel tentunya merasa lebih tidak tega lagi karena sekarang Val adalah kekasihnya.


Meskipun memang merasa tubuhnya agak lelah karena kurang istirahat-selain Val memintanya untuk menginap di rumah Keluarga Cemara dalam rangka Val yang tidak lama lagi akan bertolak ke London, namun Kafeel melakukannya dengan senang hati.


“Aku yang memang ingin menemani Val selama dia disini,” tutur Kafeel.


Seraya Kafeel tersenyum sambil mengusap lembut kepala Val, membela kekasih kecilnya yang sedang diceramahi oleh satu Dad yang tubuhnya paling besar diantara para Dad Val yang lain.


Yang ototnya engga kisut-kisut meskipun Poppa sudah lumayan berumur.


♥♥♥


Kalau dibilang sedih sih engga juga itu si Val diceramahi dengan repetan kalimat oleh Poppa. Gadis belia itu sudah cukup berpengalaman untuk bisa membedakan yang namanya sekedar diceramahi sama benar-benar dimarahi.


Jadi meskipun Poppa merepet dan sinis nada suaranya barusan itu, hati Val tidak ketar-ketir seperti saat disidang kala kasus foto berbikininya yang sempat membuat Val shock karena dimarahi habis oleh The Dads, lebih-lebih Abang Varen.


“Poppa saja tidak mau berjauhan lama-lama dengan Momma,” cicit Val.


“Itu aku yang memang sering memaksa Momma-mu, bahkan terkadang dia mengusirku jika aku terlalu mendahulukan kepentingannya. Bukan seperti dirimu yang sering sekali merengek pada Kak Kaf-mu ini.”


“Ya udah anggap aja aku sekarang seperti dirimu pada Momma, Pop,” ucap Kafeel. “Aku kok yang memang mau menemani Val terus sampai dia kembali ke London nanti –“


“Tuh kan Pop?....” celetuk Val. “Val juga tidak merengek untuk meminta Kak Kaf selalu disisi Val saat Val masih disini. Hanya meminta saja kok. Iya kan, Kak Kafeel? –“


“Halah!” potong Poppa. “Meminta dengan memaksa pasti menggunakan jurus mautmu-mata super memelas macam mata si Bejo yang meminta diberi makan.”


Sambil Poppa melirik sebal pada Val.


Dan Val cengengesan saja, sementara Kafeel tersenyum geli.


♥♥♥


Beberapa saat kemudian,


Sepeninggal Arya dan Kafeel yang sedang kembali dulu ke tempat tinggal mereka masing-masing, mereka yang tidak ikut begadang, atau sedang tidak menemani pasangannya-dalam hal ini para Incess cantiknya The Adjieran Smith, melakukan aktifitas secara bersama.


Aina, Mika, Val, Isha dan Ann pergi bersama mengunjungi ibu tunawisma dan dua anaknya yang sudah mereka tolong kemarin. Well, Mika sih yang punya lebih banyak andil dalam menolong ibu tunawisma dan dua anaknya yang masih balita tersebut.


Selain Mika ingin menepati janjinya untuk menengok sekali lagi, karena esok hari diapun akan bertolak ke London, jadinya waktu luang saat ini Mika gunakan untuk menengok tiga orang itu, sekaligus membawakan beberapa pakaian layak pakai dari Ene Bela dan Momma serta Mami Prita, atau membeli dari toko selewat mobil yang membawa mereka ke tempat si ibu tunawisma dan dua anak balitanya tersebut, sebelum Mika dan CS ciwi-ciwinya itu membawa mereka berbelanja pakaian dan makanan sebentar.


Yang mana sebentar itu menjadi sedikit lama, karena Mika CS gatal untuk mengajak dua balita termasuk ibu mereka yang sedang diajak jalan-jalan ke Emol itu bermain di sebuah area permainan dalam Mal.


Tidak merasa ribet untuk bermain di wahana permainan-walau banyak tas belanja dari beberapa toko yang dimasuki yang kemudian dibeli beberapa barang didalamnya, karena ada beberapa pengawal pribadi yang menyertai para Incess itu.


Yang sekarang fungsi pekerjaannya bukan hanya mengawal para Nona Muda yang lahir terlanjur kaya dan cantik itu, melainkan juga sebagai pembawa tas belanja.


Tak apa-kalau kata para pengawal pribadi tersebut. Demi gaji yang alangkah besarnya, selain dapat juga dibelanjain oleh para itu Nona Muda yang kadang bikin pusing, tapi baik hati dan royal.


“Eh Gamma telfon nih,” ucap Isha yang melihat layar ponselnya. “Mereka sudah sampai di rumah Ake dan Ene kali ya?” imbuh Isha.


Yang kemudian disuruh buru-buru menerima panggilan dari salah satu nenek dari tiga nenek tersayang mereka, oleh Aina, Mika, Val dan Ann.


Isha pun mengangguk seraya menggeser tombol hijau di layar ponselnya, setelah para saudarinya itu menyuruh Isha segera menerima panggilan telepon yang masuk ke ponsel Isha dari Gamma itu.


♥♥♥


Hanya sebentar saja Isha dan Gamma berbicara di telepon. “Kata Gamma, mereka tidak datang kesini hari ini melainkan besok sekalian aja dari pagi trus malem langsung cus ke Bandara dari rumah Ake dan Ene –“


“Memang Gamma tidak menelepon ke rumah Ake dan Ene? –“


“Udah katanya,” tukas Isha. “Tadinya mau ngomong sama kamu dan Val, May –“


“Untuk? –“


“Eh Gamma menghubungiku juga ternyata –“


“Ya itu, ponsel kalian susah dihubungi katanya, kamu, May sama Ann ditelfon pada ga ngangkat.” sambar Isha. “Gamma mau tanya, apa ada barang kalian yang mau dibawakan dari Kediaman?” tambah Isha. “Kalo iya, kalian bertiga suruh menghubungi Gamma atau Kediaman.”


Mika dan Val pun menyahut mengiyakan Isha. Mendengar hanya Mika dan Val saja yang mengiyakan ucapannya-padahal ada tiga orang saudarinya yang sedang Isha ajak bicara karena ketiganya akan bertolak ke London itu, Isha pun menoleh dan memperhatikan Ann.


“Kalian perhatikan ga sih? –“


“Perhatikan apa?”


Val menyahut dengan berbisik.


Latah, karena Isha berbicara dengan berbisik, dari tempat mereka yang undur diri sejenak dari ibu tuna wisma dan dua balitanya yang sedang bermain itu.


“Itu si Ann sejak kapan jadi suka ngelamun gitu?” lanjut Isha sambil masih berbisik dan menunjuk Ann dengan dagunya.


♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia,


Para Incess telah kembali ke rumah Keluarga Cemara.


“Eh iya Aro, soal kamu dan gadis bernama Daisey itu.”


Dimana Ann lalu bersuara untuk bertanya pada Aro, setelah Aro selesai menjawab panggilan telepon pada ponselnya.


“Kenapa lagi Ann?” sahut Aro.


“Kalau dari kata-kata kamu tadi yang aku ingat, kamu dan gadis bernama Daisey itu menolak untuk berpacaran karena kalian berbeda keyakinan?” tanya Ann kemudian.


Dan Aro pun langsung mengiyakan.


“Kalau sama-sama cinta, kenapa keyakinan yang berbeda harus jadi penghalang? –“


“Karena prinsip yang berbeda yang bisa saja menimbulkan konflik diantara pasangan berbeda keyakinan itu kalau memaksakan bersama –“


“Betul!” tukas Aro atas ucapan Rery. “Keyakinan yang aku pegang kan tidak membenarkan hidup bersama pasangan yang berbeda agama? Iya kan Mom?”


Dimana Momma menjawab dengan anggukan.


“Tapi, ada pasangan dari keyakinan kalian yang memiliki pasangan dengan keyakinan seperti aku?....”


“Kan dibilang kembali lagi ke prinsip, Ann –“


“Tergantung masing-masing orangnya....” timpal Momma yang menjawab bersamaan dengan Rery.


“Prinsip kamu sendiri,Re – An?....” tanya Ann pada Rery dengan tatapan yang menantikan jawaban.


“Aku seperti Aro. Maunya yang seiman....” jawab Rery lugas. Tanpa Rery bermaksud tidak menghiraukan perasaan Ann padanya.


“Kalau begitu aku akan berpindah keyakinan ke agama yang kalian anut,” cetus Ann. Dimana semua orang langsung menoleh padanya.


Dimana Rery mendelik tajam pada Ann.


“Pindah keyakinan bukan suatu hal yang bisa kamu pikirkan dengan gegabah, apalagi dengan alasan karena seseorang.”


Lalu Rery dengan tegas berbicara.


“Tapi jika aku tidak begitu, kita tidak bisa bersama menjadi sepasang kekasih kan Re-An?”


“Sudah aku bilang kan berkali-kali, jodoh itu sudah ada yang mengatur, Ann –“


“Tapi kan –“


“Sudah deh, jangan pikirin pacaran terus. Dimasa depan kita berjodoh atau tidak, ya itu sudah suratan takdir, Ann.”


Rery mencubit gemas pipi Ann yang orangnya tersenyum tipis, dimana Ann berbisik melirih dalam hatinya.


‘But Rery, I’m a star with no light, a day with no night, if I don’t have you ( Tapi Rery, aku bintang tanpa sinar, hari tanpa malam, jika aku tidak memilikimu )’


♥♥♥♥♥♥


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2