
Tentang Sesuatu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Kamu benar – benar ga mau ngomong sepatah dua patah kata pada Val sebelum pergi, Ka? ...
“Engga usah Mih. Kayaknya Val yang sekarang takut sama aku ... mungkin kentara banget aku kalo ngeliatin dia terus – terusan. Nanti aku malah Val sangka phedofil lagi.
“Ya engga akan seperti itu kok, Ka,”
“Aku bingung mau bicara apa dengan Val, Mom ... Aku juga takut tidak dapat menahan diriku untuk memeluknya erat – erat saat aku dekat dengan Val ... lalu setelahnya dia akan benar – benar takut padaku. Itu akan lebih buruk dari dia yang tidak ingat aku, Mom ... jadi tak apa, aku tidak usah berpamitan dengan Val. Karena toh semalam aku sudah puas memandanginya, kala Val sedang pulas terlelap ... dan itu sudah cukup untukku.”
“Baiklah Ka. Apapun keputusanmu, kami akan mendukungmu seperti dulu. Jika Val sudah benar – benar sehat, kami akan segera kembali ke London atau mungkin ke Jakarta. Jadi mampirlah nanti jika kami sudah di sana.”
“Iya, Pop ...”
“Dan Ka, jika Val memang tak sampai dapat mengingatmu lagi ... cobalah buka hatimu untuk wanita lain. Karena kau berhak memiliki masa depan. Dan aku secara pribadi, akan menerima andai suatu hari kau membawa seorang wanita yang kau pilih dengan hatimu ke hadapanku ...”
“Aku sudah mengunci hatiku untuk satu putri Dad itu. Sekalipun dia tidak mengingatku sampai aku mati, tak apa bagiku. Asal aku dapat melihatnya hidup sehat dan bahagia. Termasuk jika dia jatuh hati pada laki – laki lain.”
“Hati – hati dengan yang kamu ucapkan itu, Ka ... karena terkadang, meskipun perkataan dan ucapan kamu tulus ikhlas, ada kalanya ucapan kamu itu di dengar oleh Yang Maha Kuasa. Lalu malah jadinya, kata – kata kamu yang memang tulus ikhlas itu, malah akan jadi bumerang dan membuat kamu terluka sendiri ...”
“Iya, Nek. Aku akan mengingatnya.”
“Hhhhh ...”
Adalah Kafeel yang menghela nafasnya ini.
“Nenek Yuna benar. Mulutmu adalah harimaumu. Sekarang ucapan gue itu jadi malah jadi kenyataan. Jadi bumerang dan membuat gue terluka sendirian ... Udah ga ada harapan buat gue bersama lagi sama Val seperti dulu. Karena Val terlihat nyaman bersama dia, dan sepertinya Val ga lagi penasaran dengan masa lalu yang ia lupakan ... dan itu artinya, gue udah benar – benar tersingkirkan tanpa harapan.”
Kafeel menggumam, sambil memandangi sebuah gambar pada sebuah laman medsos milik akun seseorang yang terbuka bebas.
“Tapi ga apa. Yang penting Val selalu sehat dan bahagia ... I love you Val. Tuan Putri tercintanya Kak Kafeel ...”
Kafeel tersenyum di tempatnya, sambil masih memandangi gambar atas foto dua insan yang nampak mesra dalam kebersamaan.
Getir senyum Kafeel, senang dan sakit bercampur jadi satu di hatinya saat ini.
Selain, Kafeel merasa miris pada dirinya sendiri.
“Sshh ...”
Tak lama kemudian Kafeel mendesis, sambil juga meringis memegangi kepalanya yang ia rasa berat dan begitu nyeri, serta juga nafasnya yang terasa panas.
🍃🍃🍃
🍃🍃🍃
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris ...
“Val, Momma -----“
Momma tak melanjutkan ucapannya, karena saat ia berucap sambil mendekat ke arah Val yang nampak berbaring di tempat tidur pribadinya --- Val sudah nampak terlelap.
Momma lalu tersenyum kecil.
Lalu Momma meletakkan kapas dan pembersih wajah yang ia bawa dari dalam walk in closet Val.
Karena niat Momma, setelah sebelumnya Val mengatakan jika ia malas untuk pergi mandi selepas beraktifitas dari luar bahkan malas untuk mencuci wajahnya di kamar mandi, Momma ingin menawarkan diri untuk membersihkan wajah Val dengan susu pembersih wajah berikut toner yang biasa Val gunakan.
__ADS_1
Namun Val sudah nampak tertidur. Dan Momma jadi menimbang – nimbang dulu, apakah ia akan tetap meneruskan niatnya untuk membersihkan wajah Val atau menundanya dulu. Karena Momma yang sebelumnya agak sibuk di walk in closet Val dan tidak tahu sudah berapa lama Val tertidur, khawatir jika Val baru saja terlelap, lalu jika ia membersihkan wajah Val disaat salah satu anak gadis angkatnya itu belum lama tertidur, Momma justru akan mengganggu Val.
Dan atas tidurnya Val yang mungkin belum lama itu menurut perkiraan Momma, lalu Val terusik karena Momma yang membersihkan wajahnya --- Val bisa saja terbangun kaget lalu merasa pusing. Dan Momma tidak ingin itu terjadi.
Meski Val sudah diyakinkan oleh Celine dan Dokter Mario tidak menderita penyakit serius nan berbahaya di otaknya, namun tetap Momma tidak mau mengambil resiko jika Val yang bangun dengan keterkejutan akan merasakan pening di kepala Val, yang Val selalu katakan bila rasanya seperti tersetrum --- meski hanya sekejap saja.
Jadi Momma meletakkan dulu kapas dan susu pembersih wajah berikut toner yang sudah ia bawa dari walk in closet Val, lalu meletakkannya di atas salah satu nakas pada sisi tempat tidur Val.
‘Videonya, Kaka?’
Momma mengernyit saat ia melihat layar ponsel Val yang menampilkan Kafeel yang sedang berada di atas panggung kecil, dimana itu adalah sebuah video yang sudah berhenti berputar --- saat Momma ingin menyelimuti Val.
‘Dia dapet dari mana ini video?’
Momma bertanya sendiri dalam hatinya.
‘Mungkin dari grup The Kiddos kali ...’ lalu Momma menjawab sendiri pertanyaannya itu.
Kemudian Momma mendudukkan dirinya dengan perlahan di sisi ranjang Val, sambil Momma mengelus kepala Val.
“Semoga aja video ini bisa memicu ingatan kamu tentang Kak Kafeel ya, Val?” gumam Momma. “Agar semua berjalan indah seperti sebelumnya antara kamu dan Kak Kafeel tercinta kamu itu.”
Momma lalu tersenyum kecil. Membelai lembut dan perlahan sekali lagi kepala Val, lalu beranjak dari tempatnya dengan membawa serta ponsel Val untuk Momma letakkan di atas meja belajar Val.
“Dimatiin aja apa ya ini hpnya si Val. Takutnya ada panggilan grup yang riweuh itu terus malah ganggu tidur Val ...”
Momma kembali menggumam.
“Disilent aja lah ...”
Momma menjawab sendiri gumamannya.
“Eh? Ini kan? ...” kemudian perhatian Momma teralih pada sebuah album foto yang ada di atas meja belajar Val.
🍃🍃🍃
Ini Mommy Ara yang bicara, ketika melihat Momma yang sudah muncul ke lantai satu mansion mereka.
“Biar kamu makan malam duluan aja sama yang lain dan aku sama kakak ganteng kamu yang menemani dan mengurusi Val sementara itu ...”
“Val udah tidur kok. Tadinya mau aku bersihin muka sekalian gantiin bajunya. Tapi nanti kali kalo tidurnya udah lamaan dikit biar Val ga bangun kaget ...”
“Val tertidur biasa, atau syndromenya sedang kambuh? ...”
Gamma yang bertanya kemudian.
“Ya kalo soal itu sih, kan liat nanti berapa jam Val udah tidur, Mom ...”
“Iya sih. Val juga tadi tidak bersama kita, jadi tidak bisa memperhatikan gelagatnya kalau syndromenya akan kambuh.”
“Lalu Val dengan siapa sekarang?” Poppa yang selanjutnya bertanya pada Momma.
“Aku titip sama Nilam, karena Rery – Mika dan Ann belum keluar dari kamarnya. Tapi aku sebentar aja kok, mau ngambil hp sekalian mau ajak kamu yang ga mau makan kalo ga didampingi istri tercintanya ini, makan di kamar Val sambil nungguin dia -----“
“Okay.”
Poppa langsung menukas untuk mengiyakan ucapan Momma tanpa berpikir lagi.
“Dah, tak apa. Kamu sama Andrew makan saja di ruang makan bersama yang lain. Aku dan Ara yang akan menemani Val ...”
Dad R yang kemudian angkat suara, lalu Mommy Ara menimpali.
“Iya, kami juga belum merasa lapar kok. Jadi kamu sama Andrew makan aja di ruang makan ...”
__ADS_1
Momma dan Poppa pun mengangguk.
“Aku minta maid bawain makanan Kak Ren sama Kak Ara ke kamar Val kalo gitu ya?”
Momma lalu berujar.
“Jangan nunda – nunda makan. Inget udah jadi aki – aki sama nini – nini, gampang lemes ...”
Momma lanjut berkata dengan sedikit berkelakar, membuat yang mendengarnya jadi terkekeh.
“Ya sudah, kalian silahkan saja makan duluan. Aku dan Ara akan ke kamar Val ...” ucap Dad R, pada semua orang yang berada di dekatnya.
“Oh iya Kak Ara, aku liat album foto Val yang isinya khusus foto – foto Kaka dan kebersamaan mereka ada di atas meja belajarnya Val, loh.”
“Aku yang meletakkannya, Momna ...”
Suara Ann terdengar, bersamaan dengan sosoknya yang muncul di ruangan tempat beberapa orang tua dan tetua sedang berkumpul itu.
“Tadi pagi, Val mencari – cari diarynya. Aku dan May lalu membantu, kemudian aku menemukan itu. Maaf jika aku salah, tapi ingat jika kalian dan Abang pernah bilang andai satu fakta tentang Kak Kaf kemudian Val temukan meski kondisi ingatannya masih seperti sekarang, kami tidak perlu lagi mencari alasan untuk menyembunyikan ...”
🍃🍃🍃
“Aku dan May akhirnya memutuskan untuk meletakkannya di atas meja belajar Val, karena diarynya tidak ketemu dan kami pikir album foto itu mungkin dapat menggantikan hal yang ingin Val cari tahu dalam diarynya. Yang aku duga, jika Val sudah merasakan sesuatu tentang Kak Kaf jika aku perhatikan gelagatnya belakangan ini ... Tapi maaf kalau aku salah ----“
“No, Baby. Itu tidak salah,” tukas Dad R. “Akupun merasa sepertimu,” sambungnya. “Terlebih tadi saat dia mengatakan jika Kafeel Adiwangsa sudah beberapa hari belakangan muncul di mimpinya ----“
“Ah iya! ...” gantian Ann yang menukas ucapan Dad R. “Aku ingat Val pernah mengatakan padaku, jika dia sering merasakan dejavu di sini ... tapi saat aku tanya dejavu macam apa, Val mengalihkan pembicaraan tentang itu ...”
Ann berkata dengan serius di hadapan para orang dewasa yang sedang bersamanya itu.
“Val sedikit misterius sekarang. Tidak seperti Val yang dulu yang sering menyuarakan secara langsung apa yang ingin ia ketahui, atau tentang hal yang ia rasakan ... Contohnya tentang Simon. May saja tidak tahu sejak kapan val menyukai Simon dan tidak nampak juga jika Val mendekati dosennya itu seperti dulu Val terang - terangan mengatakan menyukai Kak Kaf dan mengejarnya habis - habisan. Tetapi tahu – tahu ia mengumumkan sudah berpacaran dengan Simon ... Iya, kan? ...”
Para orang dewasa yang sedang bersama Ann itu pun manggut – manggut setelah mendengar penuturan Ann.
“Apa mungkin Val sedikit – sedikit sudah curiga tentang siapa Kaka dalam hidupnya karena ada perasaan yang aneh dia rasa jika ingat dan setelah bertemu Kaka waktu itu, ditambah katanya dia udah beberapa hari ini memimpikan Kaka, kan? Namun dia belum bertanya pada kita karena ingin memastikannya sendiri? ----“
“Bisa jadi begitu, Mam,” tukas Momma atas ucapan Oma Anye. Sisanya, manggut – manggut.
“Kalau begitu, kita tunggu saja Val bangun nanti. Apa yang ingin dia ketahui lalu tanyakan, kita jawab apa adanya. Namun sebelum itu hubungi dulu Mario untuk standby, andai Val merasakan sakit di kepalanya setelah mendapat informasi atas apa yang ingin ia ketahui itu dari kita.”
Dad R lalu berkomentar.
“Risky (Riskan), tapi hatiku mulai mendesak untuk segera membuat Val tahu siapa Kafeel Adiwangsa bagi dirinya. Dan bagaimana nanti tanggapan Val dan apa yang menjadi keputusannya, itu semua terserah padanya ----“
“Kami sependapat denganmu, R ...”
🍃🍃🍃
Dan setelah lebih dari belasan jam berlalu, bahkan hampir 24 jam.
Dimana keluarga Val yakin jika salah satu anak gadis yang pernah membuat mereka tenggelam dalam duka dan pilunya kekhawatiran, sedang kambuh sindromnya karena tidur Val yang cukup lama itu.
Dikejutkan oleh Val yang mendatangi mereka yang sedang berada di ruang santai lantai tiga mansion mereka itu, dengan sangat tergesa.
Lalu mencetuskan ucapan yang menambah keterkejutan keluarga Val yang telah berdiri saat Val mendatangi mereka dengan berlari keluar dari dalam kamarnya.
“Val ingin ke Jakarta ... saat ini juga --- Val ingin ... bertemu Kak Kafeel ...”
“Tapi Kak Kafeel ----“
🍃🍃🍃
To be continue .......
__ADS_1