HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BUIH JADI PERMADANI


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“Assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam!”


Mereka yang sedang berkumpul dan bercengkrama di ruang tamu Kediaman itupun sontak menjawab sapaan salam, dari seseorang yang suaranya terdengar lebih dulu ketimbang orangnya.


Namun seyogyanya beberapa pria yang sedang berada di dalam ruang tamu tersebut, tahu siapalah orang yang barusan mengucapkan salam meski orangnya baru muncul setelah mengucapkan salam.


Kafeel, yang sudah memang mereka yang ada di ruang tamu sudah kenali suaranya.


Dan orangnya tak lama muncul setelah ucapan salamnya dijawab oleh beberapa pria yang sedang berkumpul bercengkrama tersebut.


“Selamat pa ---“


Kafeel sepertinya ingin menyapa, namun sapaannya tidak ia teruskan.


Bersamaan dengan Kafeel yang nampak terpaku dan tertegun di tempatnya.


Kekasih Val yang tadi nampak sumringah saat datang itu, kini malah nampak bengong di tempatnya.


Membuat mereka yang berada di hadapan Kafeel saat ini sedikit mengernyit heran.


Dan disela Kafeel yang sedang tertegun dan juga terpaku itu, Daddy R bersuara. “Wah, wah, lihat siapa ini? Kekasih Val, heh?” kata Daddy R, dengan sedikit cibiran.


Namun orang yang sedang dicibir Daddy R itu bergeming saja di tempatnya berdiri.


“Wah, bocah tengik ---“ gumam Daddy R. “Berani mengacuhkan gue dia?” sambung Daddy R.


Daddy Dewa dan beberapa yang berada didekat Daddy R serta mendengar gumaman pentolan ‘naga’ itu sontak terkikik kecil.


Memperhatikan juga Kafeel yang terbengong agak lama itu.


“Hobi banget melamun dia sekarang-sekarang ini perasaan ..” celetuk Papi John dalam gumaman, lalu mendengus geli.


“Pagi-pagi jangan bengong Ka!” Uncle Rico bersuara, sambil menepuk pelan lengan Kafeel.


Kafeel pun terkesiap.


“Eh, ada Uncle Rico ...”


Kafeel pun teralih pada salah satu sahabat paling dekat almarhum ayahnya itu.


“Apa kabar Uncle? ...”


Kafeel pun menyalim takdzim punggung tangan Uncle Rico, setelah menyapa dengan memandang dan tersenyum pada Uncle Rico.


“Kira masih di New Zealand ...”


“Baru balik kemarin pagi, rencananya besok mau ke rumah kalian ...”


“Wah seneng banget itu pasti Bunda sama Lena ...”


“Iya lama juga baru bisa nengokin lagi. Aunty Shireen juga udah kangen banget katanya sama kalian.”


Kafeel pun mengangguk-angguk seraya tersenyum pada Uncle Rico.


“Ya udah, nanti aku kasih tau Bunda ---“ sambung Kafeel.


“Udah ngabarin kok tadi pas mau jalan kesini ...”


Kafeel pun mengangguk-angguk setelah Uncle Rico menukas ucapannya.


“Ya udah kalo gitu Uncle ...”


Kemudian Kafeel mulai menyalami yang lain.


Berjabat dan berpelukan antar lelaki dengan Sony, lalu menyalim takdzim pada Daddy Dewa.


Tapi melewati satu sosok di samping Daddy Dewa begitu saja.


Dimana sosok yang dilewati oleh Kafeel itu langsung menaikkan satu alisnya.


“Ciri-ciri orang mau mati cepat...”


Dialah Daddy R yang barusan berbicara, setelah Kafeel melewatinya begitu saja.


Pelan, namun ketus, sambil melirik sinis pada Kafeel yang sedang membungkuk dihadapan Papi John untuk menyalim takdzim.


Namun Kafeel nampak tak menggubris dirinya yang sedang berbicara pada kekasih anak bontot kandungnya itu.


“Wah! Songong beneran ini bocah Adiwangsa! ... Berani-beraninya ...” gumam Daddy R, mendengus tak percaya jika Kafeel benar-benar tak menggubrisnya, selain hanya sedetik saja menelengkan kepalanya.


Membuat yang lain cekikikan.


Yah, selain Kafeel yang tetap tak menggubris Daddy R sampai acara menyalim takdzimnya selesai, lalu Kafeel berdiri di dekat Daddy Jeff tak langsung mendudukkan dirinya.


Rencana Kafeel akan meminta ijin sebentar untuk menyapa penghuni lain Kediaman, dan tentunya sang belahan hati, ayang beb Val.


Yang sepertinya ada di halaman belakang Kediaman, karena telinga Kafeel menangkap suara riuh gelak tawa dari arah lebih dalam Kediaman Utama keluarga besar Val tersebut.


Kafeel hendak meminta ijin untuk pergi ke sumber suara keriuhan nan gembira berasal, namun suara lain telah mendahuluinya. “Belum jadi mantu saja sudah kurang ajar.....” suara Daddy R.


‘Suaranya nyata banget asli.’ Batin Kafeel.


Namun ia tidak menyahut, hanya memandang ke arah dimana ia merasakan sebuah bayangan berbicara.


‘Ini bayangan ‘naga’ kenapa betah banget duduk disitu coba? Ga pergi-pergi sih, padahal udah berkali-kali gue berkedip ini!’


“Ini kayaknya kesambet lagi nih orang kek kemaren Dad. Nah ini yang punya dragonball dilewatin gitu aja ..” bisik Nathan yang geli pada sang Daddy kandung yang duduk di sebelahnya.


Daddy Jeff kemudian terkikik kecil, seperti halnya Nathan.


“Bisa jadi ..” kekeh Daddy Jeff sambil memandang pada Kafeel yang nampak terbengong lagi, dengan mata yang tertuju ke arah Daddy R.


“Duduk Ka –“


Daddy Dewa bersuara.


“Ka? ...” panggil Daddy Dewa lagi, karena Kafeel tidak menyahut padanya.


“Ya? ...” barulah Kafeel menanggapi Daddy Dewa dan melengos ke arah Daddy kandungnya Mika dan Ares itu.


“Bengong aja, kenapa? ...” tanya Daddy Dewa.


“Eh, engga Uncle, itu ---“


Kafeel yang sedikit tergugu itu hendak menyahut.


Namun belum sempat ia meneruskan kalimatnya....

__ADS_1


“Apa kabarmu, Ka? ...”


Sebuah suara bariton nan ngebas dan dalam terdengar begitu dekat di telinga Kafeel.


Begitu dekatnya, sampai Kafeel sedikit berjengkit saking kaget.


‘Ini bayangan juga kan????!!!!’


Kafeel memfokuskan pandangannya pada pria yang kinclong kepalanya itu.


Dan rasanya tubuh Kafeel membeku saat ini, sambil mencari kesadarannya.


“Dari kabar yang kudengar, kau sudah jadian dengan Val? –“


Hati Kafeel jadi dug-dug-an.


“Dan kudengar juga, kau telah mencium anak gadis kami sebelum kau meminta ijin pada kami untuk berhubungan dengannya?---“


Dimana sosok plontos yang kini berada disisi Kafeel dan masih ia pandangi dengan intens itu berbicara lagi sembari merangkul satu pundaknya, juga tersenyum.


“Nyalimu, besar juga, hem?” suara bariton ngebas dan dalam itu terdengar lagi. Berikut,


Grep!.


Cengkramannya yang sedikit agak kuat di bahu Kafeel.


Dimana cengkraman dari pria plontos berbadan besar itu, rasa-rasanya membuat Kafeel mulai mendapatkan kesadarannya.


“Un-uncle Andrew???...”


“Kenapa? Kau tidak senang melihatku? ...”


Poppa berucap lalu kembali menampakkan senyum yang membuat Kafeel seketika bergidik sekarang.


“Bu-bukan be-begitu Un-uncle –“


Kafeel begitu gugup sekarang, sampai-sampai ia jadi sangat tergagap.


Namun sebelum Kafeel berbicara dengan lengkap, kepala Kafeel menoleh otomatis ke arah dimana seseorang yang dia pikir adalah sebuah halusinasi itu berada.


‘Jika ini Uncle Andrew, berarti itu! Itu! Itu! Itu ‘naga ‘ beneran Ya Allah!!!!’ Mode panik otomatis AA Kafeel menyala.


Ah bukan panik lagi sepertinya. Campur aduk sudah rasa hati Kafeel sekarang.


Apalagi ..


“Hebat sekali kau! Berani mengabaikan-ku sementara kau ingin menjalin cinta dengan putri kandungku, heh?!”


Saat sosok yang Kafeel kira hanya halusinasinya semata itu kini berseru sambil mendelik tajam padanya dan berkacak pinggang.


‘Ya Allah tolong AA, Ya Allah!’


Hati Kafeel menjerit sekaligus mengiba.


“Dia apa, R?..” Poppa menoleh pada Daddy R.


“Pertama, dia tidak menegurku, melewatiku begitu saja..”


Daddy R menjawab dengan matanya yang tak putus memandang pada Kafeel dengan tajam.


Poppa mengangkat alisnya. “Oh ya?..”


“Hem. Dan kedua, dia sama sekali mengacuhkan-ku saat aku bicara padanya.”


Kafeel hendak berbicara.


“Woah! Nyalimu besar juga ya?”


Namun keburu dipotong Poppa.


Dimana kalimat yang terucap dari mulut Poppa tentunya dirasa bagi Kafeel bukanlah suatu pujian.


“Hebat sekali dia bukan?” satu kalimat yang juga bukan bermakna sebuah pujian bagi Kafeel, terdengar jua dari mulut Daddy R.


“Maaf Un-cle .. ak-u –“


“Maaf ..”


Daddy R menyambar dengan menggumam sinis.


“Ck,ck ..” Poppa berdecak remeh, sambil memposisikan dirinya berhadapan dengan Kafeel.


‘Tenggorokan gue tiba-tiba terasa kering begini.’


Kegugupan Kafeel semakin terasa kian menyelimuti dirinya saat tubuh besar Poppa berada dihadapannya, dengan satu tangan Poppa yang berada di pundak Kafeel, dan satu tangannya menepuk-nepuk pelan pipi Kafeel sambil menyungging miring.


‘Minimal rahang gue geser ini kalo telapak tangan Uncle Andrew sampai kelepasan tenaga nepuk pipi gue!’ Hati Kafeel berbisik was-was.


“Wow sekali kau anak muda .. Apa karena kau—“


“Oh Kafeel, did you just come? ( apa kau baru saja datang? )”


Papa Lucca yang baru saja muncul lagi ke ruang tamu Kediaman, langsung menyapa Kafeel kala ia melihat Poppa sedang berdiri dihadapan kekasih Val itu.


“I just come few ( Aku baru saja datang beberapa )—“


“Benar-benar wow, heh?---“ potong Poppa saat Kafeel hendak menjawab Papa Lucca. “Berani juga memalingkan wajahmu dariku saat aku berbicara padamu, hem?..”


“Bu-kan begitu Un-cle Andrew.. Aku—“


Kafeel tergagap.


Sementara Papa Lucca sedikit mengernyit heran melihat Kafeel yang nampak begitu gugup saat ini. Lalu si Papa Devil menoleh ke arah beberapa pria dengan tatapan yang bertanya, ‘ada apa’ berikut dengan gerakan dagunya.


“Heemm..”


Tidak ada suara yang terdengar saat Papa Lucca melayangkan pandangan ke orang-orang selain Poppa dan Kafeel, namun Papa Lucca berdehem.


Seolah dia paham situasi, walau tidak ada yang menjawab dengan suara padanya. Yang entah apa arti deheman si Papa Devil itu.


Entah dia paham situasi hanya dengan tatapan mata yang menjawab pertanyaan yang juga tanpa suara itu, atau Papa Lucca masa bodoh saja dan menonton.


Tapi mungkin Papa Lucca paham jawaban dari orang-orang selain Kafeel dan Poppa. Titisan makhluk astral kan si Papa Lucca itu?. Jadi jangankan bahasa mata manusia, bahasa makhluk halus pun mungkin Papa Lucca paham.


Dan Papa Lucca tak lama duduk dengan santai di salah satu sofa yang kosong, lalu seperti yang lainnya-memfokuskan matanya pada Poppa dan Kafeel sambil menarik satu sudut bibirnya.



“Wow sekali kau anak muda .. Apa karena kau—“


“Oh Kafeel, did you just come? ( apa kau baru saja datang? )”


“I just come few ( Aku baru saja datang beberapa )—“


“Benar-benar wow, heh? Berani juga memalingkan wajahmu dariku saat aku berbicara padamu, hem?.. “

__ADS_1


“Bu-kan begitu Un-cle Andrew.. Aku—“


Kafeel berkata seraya menanggapi ucapan Poppa yang kini sedang memicing menatap padanya, namun dengan sorot matanya yang tegas.


Kafeel mau tidak mau memberanikan dirinya untuk menatap pada Poppa yang sedang menatap juga dirinya ini. Meski kegugupan kian melanda, juga hati yang berdebar-debar, selain merutuki dirinya sendiri.


‘Mengapa Kau berikan aku cobaan macam ini Ya Allah...’ ratap Kafeel dalam hatinya. ‘Mengapa Kau bisa-bisanya membuat otak cerdasku menjadi error saat ini .... hingga aku menyangka satu ‘naga’ dan satu iblis berwujud manusia-mana gede banget lagi ini iblisnya... ternyata bukan halusinasiku melainkan kenyataan ..’


“Kau sudah berani menyinggung R, dan sekarang kau meremehkan-ku..” ucap Poppa.


“Ti-tidak Uncle Andrew, bukan begitu maksudku—“


“Merasa begitu dicintai oleh Val, jadi kini berani bertingkah dengan arogansi didepan kami---“


Poppa memajukan wajahnya sambil tak putus menatap Kafeel.


“Mau coba menantang?”


‘Demi boneka lampu merah lampu hijau squid game.. masa Uncle Andrew ga liat dari tadi gue gagap ngomong sama dia?!...’ batin Kafeel. 'Mana ada gue nantang siii????....'


“Tuan Kafeel Adiwangsa.” Lanjut Poppa dan tentu saja Kafeel menggeleng cepat.


“Itu ti-dak mung-kin Uncle....”


Kafeel juga menjawab dengan ekspresi wajah yang bersungguh-sungguh pada Poppa, meski kegugupan dirinya nampak jelas terlihat.


‘Aku masih waras untuk tidak menantang kalian wahai dua biang naga!’ seru Kafeel dalam hatinya.


Lalu Kafeel menelan dulu salivanya, sambil menghela guna mengatur nafas atas kegugupannya secara kasat mata.


“Begini Uncle Andrew, Uncle R ---“


“Mau apa kau kesini?” sambar Daddy R saat Kafeel hendak lagi berbicara.


‘Dipotong lagi omongan gue....’ rutuk Kafeel dalam hatinya, saat Daddy R kembali menyambar untuk bicara sebelum dirinya menyelesaikan kalimatnya.


“Kami yang memintanya untuk datang sekarang ini, karena ada hal yang ingin kami bicarakan dengannya....”


Daddy Dewa yang menjawab.


Daddy R kemudian manggut-manggut.


“Tapi sebelum itu, Uncle R.... Ada yang lebih dulu ingin aku bicarakan denganmu.”


Kafeel berkata dengan lugas, namun begitu sopan, meski kegugupannya belum hilang.


“Tidak ada yang perlu aku bicarakan denganmu....”


“Tapi Uncle ----“


Kafeel menjeda ucapannya karena Daddy R mengangkat tangan kanannya.


“Urusanmu dengan Uncle Dewa, Jeff dan John bukan?....” kata Daddy R. “Tidak ada urusan denganku ----“


“Ada Uncle----“


“Sudah berlaku kurang ajar padaku dan kini kau memotong ucapanku??....”


‘Ya Allah, hamba kapan benernya ini di depan biangnya ‘naga’???....’ lirih Kafeel dalam hatinya. “Bukan begitu maksudku Uncle, dengarkan aku dulu ----“


Sekali lagi Kafeel menjeda kalimatnya, karena Daddy R kembali mengangkat tangan kanannya. Kini tangan kanan Daddy R telah berada tak jauh dari wajah Kafeel.


“Selesaikan saja urusanmu dengan tiga Uncle-mu itu....” potong Daddy R. “Setelah itu pergilah dari sini....”


Daddy R mengayunkan langkahnya untuk menjauh dari Kafeel ke arah bagian lebih dalam Kediaman Utama tersebut.


Kafeel menggeleng miris. “Tunggu Uncle!”


“Singkirkan tubuhmu dari hadapanku....” kata Daddy R.


Kafeel kembali menggeleng, dimana ia – dengan mengumpulkan keberaniannya, menghadang jalan Daddy R.


Biar bagaimanapun Kafeel yang hatinya sedang gelisah itu, harus tak gentar untuk berhadapan dengan biangnya ‘naga’ yang sedang nampak tak senang itu, meski datar saja wajahnya.


“Tidak sebelum Uncle memberikanku kesempatan untuk bicara.”


“Aku tidak merasa memiliki hal yang harus dibicarakan denganmu.”


“Ada, Uncle.... Ada....”


“Ah, tentang kau dan Val?....” sinis Daddy R.


“Iya, Uncle. Aku –“


“Lupakan.” Sambar Daddy R.


Kafeel terhenyak. "Mak-sud, Uncle??...."


“Lupakan soal hubunganmu dan Val....”


“Tapi ---“


“Aku tidak senang.”


“Oh ya ampun, kejadian kan ga dapet restu?....”


Ada gumaman dari mulut Nathan yang masih dapat Kafeel dengar.


“Uncle R ----“ Namun Kafeel lebih memfokuskan dirinya pada Daddy R.


Tapi lagi-lagi Kafeel tak dibiarkan untuk bicara lebih lanjut.


“Jika kau ingin bicara padaku soal restu.... Maaf, aku tidak ada waktu....”


Daddy R pun berbalik badan.


“Kau baik. Tapi sebagai seseorang yang ingin menjalin hubungan dengan Val, kesanmu sudah buruk di mataku. Jadi lupakan untuk menjalin cinta dengannya.... Kau tidak cukup baik untuk Val.”


‘Ya Allah....’ lirih Kafeel dalam hatinya.


Memandang pada Daddy R yang telah berbalik badan dari menghadapnya tadi.


“Sedih aku tuh dengernya. Apes banget lo Kak Kaf....”


Mulutnya Nathan yang baru saja meletakkan cangkir minuman yang isinya telah ia sesap, kembali ke atas tatakan cangkir, sambil menggeleng, nampak prihatin.


Namun kemudian....


🎵Oh Mungkinkah Diri Ini Dapat Merubah Buih, Yang Memutih.... Menjadi Permadani.... 🎵


Malah nyanyi si Tan-Tan.


♥♥♥


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2