
DIANTARA PRINSIP DAN EGO
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia
“Biar Val naik motor saja dengan dia-- Kak Sony dan Kak Arya sudah terlalu repot.”
“Mana ada repot sih Val—“
“Ga apa kok Kak. Kak Sony dan Kak Arya langsung pulang saja –“
“Tapi Val –“
“Ga apa Kak, Val sudah biasa berboncengan dengan Rery atau Ann saat kami di London. Suka juga kan keliling-keliling naik motor di komplek kediaman bersama yang lain.”
“Kita naik taksi aja ya Val?” tukas Kafeel. “Aku emang ga ada rencana mau boncengin kamu.” Sambungnya. “Aku hanya langsung kepikiran pakai motor agar bisa segera menyusul kalian----“
“Iya Val cantik. Kalau Val ga mau menggunakan ini mobil, mending naik taksi aja.”
Sony bersuara.
“Iya Val, lagian helm aku cuma satu.”
Kafeel menimpali.
“Tuh nanti dimarahi Pak Polisi.”
Lalu Kafeel menunjuk pada Sony.
“Memang anda mau ajak saya bicara dimana?”
“Terserah Val aja mau dimana.”
Kafeel menampakkan senyumnya.
“Mau dimanapun mendingan sekarang kalian cepet masuk ke ini mobil, atau berhentiin langsung kalo pas ada taksi yang lewat kalo emang ga mau pake ini mobil-“
Arya menginterupsi.
“Lama-lama kita beneran jadi tontonan orang ini.”
Arya lanjut bicara, dan Sony mengiyakan.
“Val maunya naik mobil Sony atau taksi aja? –“ Kafeel langsung bertanya pada Val.
“Naik motor anda saja.” Dan dengan cepat Val menyahut datar.
“Tapi kan helm cuma ada satu Val.”
Kafeel kembali berbicara.
“Anda ini yang kena tilang.”
‘Alamak.’
Kafeel membatin.
Tapi sudahlah, Kafeel tak mau membantah Val kali ini.
Dan memang tidak mungkin Kafeel membantah si kekasih kecil yang sedang dalam mode tidak senang padanya sekarang ini, lalu membuat Val menjadi semakin dingin padanya.
“Ga masalah kalau kena tilang –“ sahut Kafeel. “Tapi apa bener ga apa-apa kalau Val naik motor?”
“Tidak masalah.”
Val menyahut datar.
Bahkan tanpa menoleh pada Kafeel.
“Ya udah kalau begitu maunya kamu.”
Kafeel pun bicara untuk mengatakan jika ia akan mengikuti apa maunya Val.
“V –“
Arya ingin berkata.
Namun urung karena Kafeel telah mengkode pada Arya untuk jangan lagi menyergah Val. Lalu Arya pun mengangguk pada Kafeel yang kemudian langsung beralih lagi pada Val.
“Mau jalan sekarang?—“
Kafeel bertanya pada sang kekasih kecil yang masih bersikap datar dan dingin padanya itu. Lalu menghela berat lagi nafasnya, karena Val langsung saja meloyor menuju ke arah motor Kafeel yang terparkir sembarang di depan mobil Sony tanpa bersuara untuk menjawab pertanyaan Kafeel.
♥
‘Eh iya!....’
Valmembatin seraya ia menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
“Kak Sony, Kak Arya.”
Val kemudian berbalik, dan kembali mendekati Sony dan Arya.
“Iya Val?....”
“Terima kasih ya Kak Sony, Kak Arya.”
“Makasih buat apa sih Val?”
Sony dan Arya sama-sama menyahut.
“Karena kalian berdua telah Val buat repot.”
Sony dan Arya sama-sama tersenyum kemudian.
“Val cantik, kita berdua sama sekali ga ngerasa di repotin sama kamu kok.”
“Makasih ya Kak Arya, Kak Sony.” Val tersenyum pada keduanya. “See you guys!”
Val berpamitan pada Sony dan Arya, sambil cipika cipiki.
‘Ya ampun gue kek kebagian itu cipika cipiki....’ harap Kafeel dalam hatinya, saat melihat Val bercipika-cipiki ria dengan Sony dan Arya.
Kafeel hanya bisa merasa iri sendiri saja melihat Val yang berinteraksi begitu ramah dan baiknya serta menampakkan wajah imutnya pada Arya dan Sony plus pake cipika-cipiki pula.
__ADS_1
Karena setelah berbicara pada Sony dan Arya dengan begitu ramah dan baiknya dengan tersenyum cantik pada duo kakak beradik itu, wajah Val kembali datar dan dingin saat telah berbalik menghadapnya.
Boro-boro dapet cipika-cipiki, dilihat aja engga. Nasib si AA.
♥
Kafeel kemudian berpamitan pada Sony dan Arya setelah Val. Lalu mengekori Val yang telah berdiri di dekat motor sportnya.
“Eh bentar Kak Kaf!” seru Sony.
Kafeel yang sudah hampir berada benar-benar dekat dengan Val itu sontak menoleh pada Sony.
“Kenapa Son?”
Kafeel juga spontan menyahut dengan bertanya.
Sony mengangkat tangannya pada Kafeel. “Boy, coba lo cek dibelakang deh.”
Lalu Sony bicara pada Arya.
“Gue baru inget kayaknya ada helm cadangan gue di belakang. Coba liatin.”
Dan Arya pun bergegas untuk melakukan apa yang Sony suruh padanya.
“Ada nih!” Arya berseru dengan tangannya yang sudah memegang helm full face.
Arya pun langsung memberikannya pada Kafeel.
“Dari tadi kek.” Ucap Kafeel setelah ia melihat Arya telah memegang sebuah helm full face milik Sony itu.
“Ye, bagus gue inget suka naro helm di mobil!—“ sahut Sony. “Paling engga gue nyelametin lo biar ga ketilang.”
Kafeel pun tersenyum geli pada Sony yang mencebik sebal padanya. “Iya iya—“ tukas Kafeel. “Thank you.” Sambungnya.
“Dah sana jalan.”
♥
“Gue yang bilang sama bokap atau lo yang mau bilang sendiri kalo Val ikut lo, Kak?” ucap Sony seraya bertanya pada Kafeel.
“Gue aja ...” sahut Kafeel, yang langsung merogoh sakunya, lalu mengeluarkan ponsel miliknya dan kemudian sibuk sebentar mengetik dan mengirim pesan pada Uncle Rico.
“Ya udah ...”
“Thank you ya? ... Yuk!”
Kafeel berpamitan sekali lagi pada Sony dan Arya.
“Kalian duluan aja ga pa – pa ---“
“Gampang udah. Kalian aja yang jalan duluan.”
“Ya udah ...” sahut Kafeel. “Ga apa pakai helm full face gini ya Val?-“
Kafeel beralih pada Val yang sudah berhadapan dengannya, sambil hendak memasangkan helm itu ke kepala Val.
“Kalau pengap, buka aja kaca helmnya.” Kata Kafeel dengan lembut seraya tersenyum pada Val. Namun didetik berikutnya, senyum Kafeel menjadi getir.
“Saya bisa memakainya sendiri.” Karena Val dengan cepat menepiskan tangan Kafeel yang hendak memasangkan helm milik Sony padanya, seraya Val menyambar helm tersebut dari tangan Kafeel.
“Ya udah.” Sahut Kafeel pasrah. “Yuk naik?” ajak Kafeel setelah ia duduk terlebih dahulu di motornya guna menyalakan mesin motor, lalu Kafeel memiringkan sedikit motornya agar memudahkan Val untuk naik ke jok belakang.
Val pun kemudian bergegas untuk naik di jok belakang motor Kafeel dengan wajah yang tetap datar, dan juga menghindari kontak mata dengan Kafeel. “Sorry ya, Val jadi harus kena debu lama-lama karena naik motor begini.”
Val lalu langsung menutup kaca helm setelah ia sudah duduk di jok belakang motor Kafeel.
“Val,” lirih Kafeel.
♥
“Val mau bicara dimana?—“
Kafeel langsung membuka kaca helmnya saat setelah beberapa saat melajukan motornya-Kafeel berhenti sejenak untuk bertanya pada Val.
“Terserah ...”
Val menyahut dengan cepat tanpa membuka kaca helmnya, juga tanpa memperhatikan Kafeel. Namun begitu, Kafeel masih dapat mendengar suara Val yang menjawab acuh tak acuh padanya itu.
“Val please ... stop being like this ( Val tolonglah ... berhenti bersikap seperti ini ) –“ pinta Kafeel dengan setengah memohon.
“Mulai sekarang akan seperti ini sikap saya kepada anda!”
♥
“Berhenti membahasakan saya – anda ke aku, Val-“
Sekali lagi Kafeel meminta pada Val, dengan kepalanya yang sedikit miring ke belakang – dan Kafeel juga sudah membuka kaca helmnya lebar – lebar.
“Sudah saya katakan, mulai sekarang seperti ini sikap saya ke anda ...”
Val menyahut lagi dengan datar namun nada suaranya cukup sinis, dengan ia yang juga sudah membuka kaca helm full face milik Sony yang Val kenakan.
“Ingat beberapa waktu lalu saya bilang kalau kita sudah tidak ada urusan?. Jadi selayaknya orang yang tidak punya urusan, seperti ini seharusnya saya bicara dengan anda, Tuan Kafeel Adiwangsa.”
♥
Jawaban Val sungguh membuat hati Kafeel mulai meradang.
Dimana setelah ia mendapat jawaban yang tidak menyenangkan dari Val itu Kafeel kemudian menegakkan lagi duduknya.
“Rapatkan kembali kaca helm kamu dan pegangan.”
Kafeel berucap, namun suaranya tak lagi lembut pada Val.
♥
“Dengar tidak? ... aku bilang rapatkan kaca helm kamu dan pegangan, Nona Valera Aditama Smith.”
Lagi, Kafeel berucap pada Val, yang ia lihat belum menutup kembali kaca helm yang kekasih kecilnya kenakan-dari kaca spion motornya, kala Kafeel telah memposisikan kedua tangannya pada stang motor sportnya itu-berkata dengan dingin pada Val, sedikit ketus.
“Ck!”
Lalu Kafeel berdecak karena Val tetap tidak melakukan apa yang ia minta kekasih kecilnya untuk lakukan, karena Kafeel hendak memacu lagi motornya.
Kafeel berpikir, jika Val benar-benar keras kepala, sampai tidak mengindahkan ucapannya.
Padahal sesungguhnya, Val sedang tercengang dalam hatinya-sampai ia jadi bengong sendiri, setelah Kafeel nampak berubah sikap padanya sekarang.
Baru Val terkesiap dan tersadar dari lamunannya, saat kaca helmnya tertutup sendiri. Padahal tangan Val masih berada di kedua pahanya. Kafeel yang menutup kaca helm Val.
__ADS_1
Dan Val terkesiap untuk yang kedua kalinya, kala kedua tangannya yang berada di atas pahanya itu, tertarik-ditarik Kafeel lebih tepatnya, untuk melingkar di perut pria yang hatinya kini sedang meradang akibat ucapan sang kekasih yang tidak mengenakkan untuknya.
Val tercengang lagi, karena sikap Kafeel yang nampak dingin padanya sekarang. ‘Apa Kak Kafeel marah padaku?’
Lalu Val pun membatin. Sambil Val menggigit bibir bawahnya sendiri, dibalik kaca helmnya dan memperhatikan Kafeel yang nampak tegang itu dari balik punggung Kafeel yang memacu motor sportnya sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
♥
Author’s POV
Val dan Kafeel sama-sama diam sepanjang perjalanan.
Selain karena naik motor dan menggunakan helm full face-hingga tidak memungkinkan keduanya untuk lebih leluasa mengobrol bila menggunakan mobil, hubungan Val dan Kafeel sedang dalam keadaan yang kurang baik.
Val yang memang sedang kesal dari sejak Kafeel-Val anggap menggores harga dirinya dengan menceramahi dirinya di depan Rara, enggan untuk berinteraksi manja seperti biasanya dengan Kafeel. Sementara Kafeel, sedang meradang hatinya sekarang-karena ucapan Val, berikut kekukuhannya bersikap datar dan dingin pada Kafeel. Jadi keduanya saling diam selama berboncengan motor saat ini.
Kafeel nampak fokus dengan jalanan dan stang motor.
Sementara Val-yang tangannya tadi ditarik Kafeel untuk melingkar di perut kekasih setengah om-omnya itu selepas Kafeel nampak berubah sikap menjadi datar pada Val, telah melonggarkan tangannya yang sebelumnya sempat melingkar di perut Kafeel selama beberapa menit.
Val hanya meremat sisi pinggang Kafeel melalui kemeja kasual lengan pendek yang Kafeel kenakan saat ini, sehingga tubuh Val tidak menjadi rapat dengan Kafeel walau jok belakang motor sport Kafeel lebih tinggi dari dudukan Kafeel.
Andai saja situasi hubungannya dengan Kafeel tidak sedang seperti ini-kaku karena bersitegang, Val akan sangat senang hati melingkarkan erat tangannya di perut Kafeel.
Dimana tentu saja Val akan sangat merapatkan tubuhnya dengan Kafeel, lalu menikmati perjalanan di atas motor sport Kafeel dengan mesranya.
Salah satu kegiatan yang sebenarnya ingin Val rasakan bersama Kafeel sejak lama sebenarnya. Namun berhubung hubungannya sedang tegang begini dengan Kafeel, jadi keinginan Val belum bisa terlaksana. Berboncengan dengan Kafeel di motor sport pria itu ya sudah terlaksana memang, namun interaksinya yang diluar keinginan Val, yang memang berasal dari keengganan gadis itu sendiri saat ini.
Val sedang dirundung kegalauan hati dengan prinsip sekaligus egonya pada Kafeel, sekalipun Val begitu mencintai kekasih setengah om-omnya ini.
Meski ada rasa menyesal tak menyesal bersikap datar, dingin dan ketus pada Kafeel, karena Val menganggap Kafeel telah mempermalukan dirinya dihadapan Rara-berikut dua orang paruh baya yang Val tidak kenal, tapi tetap Val bertahan dengan sikapnya yang berdasarkan atas prinsipnya.
Prinsip yang terbangun dari bagaimana cara keluarganya memberikan pengertian berikut penegasan, jika Val melakukan kesalahan.
Dan berdasarkan prinsip itu, Val mengenyampingkan rasa cintanya pada Kafeel-meskipun rasanya hati Val memiliki kekhawatiran seandainya Kafeel tak tahan dengan sikap keras kepalanya yang berdasarkan prinsip Val itu, lalu Kafeel memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.
Jika itu sampai terjadi bagaimana? ..... Jika Kak Kafeel memilih putus daripada terus, karena prinsip yang Val junjung tinggi, hingga bercampur dengan egonya-yang membuat Val menjadi bersikap datar, dingin, ketus, serta menjaga jarak pada Kafeel seperti sekarang ini-Pikir Val.
Tapi ya itu, seperti yang Uncle Rico katakan pada Kafeel-Val memang cinta mati pada Kafeel, tapi akan begitu sensitif dan keras jika menyangkut prinsipnya.
Apa yang Kafeel lakukan di rumahnya tadi dengan menceramahinya di depan Rara karena sikap Val yang Kafeel anggap sedikit kasar, juga sedikit tidak sopan pada orang tua Rara-hal itu menggores harga diri Val.
Dimana sebenarnya Kafeel juga tidak dapat dikatakan terlalu bersalah saat ia mencoba memberi nasihat pada Val tentang sikap Val pada Rara dan orang tua sepupu jauhnya itu, karena Kafeel belum begitu memahami Val-selain dimata Kafeel, Val adalah gadis ceria yang menggemaskan.
Terlalu menggemaskan, hingga Kafeel sulit untuk tidak jatuh pada pesona Val pada akhirnya-setelah sekian lama ia dikejar tanpa jeda oleh Val selama beberapa tahun terakhir.
Kafeel sudah cinta pada Val, namun Kafeel belum memahami kekasih kecilnya itu sepenuhnya. Dan Val yang mencintai Kafeel dari sejak ia remaja ranum, kukuh dengan prinsipnya-hingga egonya pun meraja, tanpa berpikir tentang Kafeel yang belum memahami dirinya itu.
Jadilah kedua insan yang saling mencintai ini, bahkan baru resmi berpacaran kurang lebih dua hari, menjadi dingin satu sama lain.
Melewati perjalanan dengan hal yang berkecamuk di pikiran masing-masing.
Author’s POV off
♥
Val yang melamun sepanjang perjalanan, dibuat terkesiap kala tubuhnya sedikit terdorong ke depan-hingga helm yang ia kenakan bersinggungan dengan helm yang Kafeel kenakan, dan Val menyadari jika motor yang dikendarai Kafeel telah berhenti di depan sebuah palang pintu otomatis, bertuliskan ‘Occupant’ di sisi kiri palang pintu tersebut.
Val benar-benar melamun, hingga tidak melihat gedung apa tempat Kafeel membawanya sekarang-hingga tahu-tahu motor Kafeel telah berhenti di depan sebuah palang pintu otomatis yang merupakan area parkir sebuah gedung, entah gedung apa.
Tapi jika memperhatikan tulisan ‘Occupant’ yang tertulis dengan huruf kapital semua, Val sepertinya bisa menerka dia sedang berada di area gedung apa saat ini. ‘Kak Kafeel bawa aku kemana ya ini? ---‘ Namun begitu, Val tetap bertanya-tanya dalam hatinya, dimana sebenarnya ia berada sekarang.
Atau lebih tepatnya Val bertanya dalam hatinya-kemana Kak Kafeelnya itu membawanya saat ini.
Penasaran, namun Val enggan bertanya pada Kafeel.
Val hanya memperhatikan saja Kafeel yang mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celana jeans yang pria itu kenakan, lalu mengeluarkan sebuah kartu yang Val tebak itu adalah kartu akses-yang mana adalah benar, karena setelah Kafeel menempelkan kartu tersebut pada layar pipih yang berada di sebelah kanan palang pintu otomatis di hadapan motor Kafeel yang berhenti namun mesinnya masih menyala, palang otomatis tersebut langsung terangkat.
Setelahnya, Kafeel melajukan kembali motor yang ia kendarai-setelah memasukkan kembali kartu yang tadi ia tempelkan pada sebuah kotak pipih ke dalam dompetnya, dan Kafeel memasukkan kembali dompetnya itu ke saku belakang celana jeansnya.
Sembari Kafeel melajukan kembali motor sportnya-kini dengan pelan, Val memperhatikan sekelilingnya.
Dia sekarang berada di area parkir sebuah gedung, itu yang sudah jelas bagi Val.
Kemudian Val yang matanya sedang berkeliling itu serta sedikit melamun lagi, tentang dimana dia saat ini, kembali dibuat terkesiap saat motor Kafeel berhenti lagi.
Dihadapan Val sekarang-ia melihat hanya sebuah area parkiran yang nampak lengang dan luas, selain berada di area dalam sebuah gedung. Dan motor Kafeel telah berhenti di depan sebuah bagian-yang mana adalah sebuah tempat parkir mobil dan ada papan bertuliskan ‘Tn. Kafeel Adiwangsa’.
Dan ada seorang pria berpakaian safari hitam yang kemudian mendekat kepada Val dan Kafeel, saat Kafeel telah berhenti di depan area parkir yang memiliki papan nama bertuliskan nama lengkap Kafeel di papan tersebut dengan embel-embel Tuan didepan nama lengkap Kafeel yang tertulis di sana.
“Kamu bisa turun sekarang, Val.”
Kafeel berucap pada Val, dengan helmnya yang telah Kafeel buka kacanya, sambil ia menoleh sedikit pada Val.
Tanpa banyak kata, Val pun bangkit dari duduknya pada jok belakang motor Kafeel, kemudian turun dari motor sport Kafeel tersebut.
Lalu Kafeel menyapa pria yang berpakaian safari tersebut, yang telah menyapa Kafeel terlebih dahulu, seperti sudah mengenal Kafeel dengan baik. Kafeel pun langsung memarkirkan motornya di area parkir yang nampak khusus itu, karena ada papan nama yang bertuliskan nama lengkap Kafeel disana.
‘Eh tunggu sebentar.’
Val kemudian membatin, karena ia sedang menerka keberadaannya tanpa harus bertanya pada Kafeel.
Mata Val yang masih berada di balik helm full face milik Sony yang ia kenakan itu, memindai lagi sekelilingnya.
Dimana area parkir di tempat Val berada sekarang, memiliki papan nama seperti halnya papan nama Kafeel, dengan nama yang berbeda-beda.
‘Tunggu deh, apa ini gedung apartemennya Kak Kafeel???...’
Val telah mendapatkan dugaan mengenai tempatnya berada sekarang.
‘Sepertinya iya –‘ bisik hati Val.
Dan setelahnya ia dibuat kembali terkesiap, kala helm yang ia pakai terasa disentuh oleh tangan seseorang.
“Ini .....” Val menggumam, saat Kafeel sedang membuka kaitan helm yang Val kenakan.
“Apartemen aku.”
♥
Duh si AA, maen bawa Dedek Val ke apartemen aja ...
♥♥♥♥
To be continue ....
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian yah.
Terima Aciihhhh....
__ADS_1
Loph Loph,
Emaknya Queen