
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Pada suatu waktu, di hari pasca sebuah tragedi menyayat hati yang menimpa satu keluarga.
Yang mana hati – hati yang tersayat oleh kesedihan yang teramat sangat itu kemudian diberikan lagi satu harapan oleh seorang wanita nyentrik yang merupakan salah seorang kepercayaan Varen, bernama Celine.
Val yang dinyatakan telah tiada, dibantu Celine untuk kembali. Namun kondisinya dalam keadaan koma.
“Lalu bagaimana selanjutnya, Cel?” Dad R yang bertanya, dimana Celine langsung menjawabnya.
“Aku masih perlu melakukan beberapa pemeriksaan pada tubuh Nona Valera, Tuan. Sekaligus melakukan tes dan mengambil plasma darahnya untuk aku observasi. Tapi untuk itu, aku perlu pergi ke Isola –“
“Jika Val dibawa ke sana juga, apa beresiko? ...” tukas Dad R.
“Tidak, tapi perlu mempersiapkan banyak hal untuk membawa Nona Valera ke Isola.”
“Tuliskan saja apa yang dibutuhkan, Cel.”
----
“Bagaimana Cel, apakah ada tanda-tanda Val untuk sadar? ---“
“Apa ada hal yang bisa kita lakukan selain pengobatan yang sedang kamu lakukan ini untuk membuat Val segera sadar? ...”
“Mohon maaf, Tuan, Nyonya. Keadaan Nona Muda Valera masih sama. Saya masih mengobservasi semua kandungan yang ada di dalam cairan buatan Nona Muda Adrieanne yang telah Nona Muda Valera minum...”
“Baiklah Cel ---“
“Maaf jika kami terlalu menekanmu.”
“Saya sama sekali tidak merasa begitu, Tuan, Nyonya ---“
----
“Daddy ---“
“Iya, Ain?...”
Daddy Dewa yang menanggapi panggilan dari putri kandungnya Daddy Jeff dan Mama Jihan itu.
Satu incess itu sedang duduk di atas pangkuan Daddy Dewa yang sedang berada di satu ruangan bersama para Dads of The Adjieran Smith lainnya, berikut para saudara lelaki Aina --- baik kakak lelaki kandungnya, ataupun para saudara angkatnya Aina.
----
“Kak Val akan membuka matanya lagi dan sembuh kan?”
“Kita kan selalu berdoa untuk itu ---“
“Iya, sih...” tukas Aina. "Tapi Ina takut, kalau Kak Val meninggal, Daddy..."
"Tidak boleh bicara seperti itu, Ain..." tukas Daddy Jeff.
__ADS_1
"Iya, maaf Daddy. Ina cuma takut..."
----
“Val akan membuka matanya, dan sembuh.”
Poppa berujar dengan dirinya memegang satu sisi bahu Dad R yang sedang duduk di samping ranjang perawatan Val sambil memegangi tangan putri kandungnya yang Dad R genggam erat, lalu satu tangannya lagi membelai kepala hingga surai, sampai mengusap – usap lembut wajah Val.
“Kita tak pernah putus berdoa. Dan ingat, Men of The Adjieran Smith bukan pria – pria yang mudah putus asa.”
“I know,” sahut Dad R menanggapi Poppa yang datang bersama para Dad lainnya ke ruang rawat Val. “Gue yakin Celine akan menemukan penawar untuk racun yang sudah menjalar ke darah Val, dan Val akan membuka matanya.”
“But your face not saying about your positive thinking ( Tapi wajah lo tidak mengatakan tentang pikiran positif lo )” timpal Papa Lucca. Dan Dad R tersenyum tipis, lalu menghela nafasnya yang terdengar sedikit berat. Kemudian melepaskan genggaman tangannya dari tangan Val yang ia letakkan ke tempat tangan itu semula tergeletak di sisi tubuh Val.
"Ga perlu lo pikirkan ucapan Aina semalam ---"
"Ga kok. Gue ga terganggu dengan itu. Wajar Aina merasa seperti itu karena seperti saudaranya yang lain, dia menyayangi Val dengan sangat..."
Dad R menukas ucapan Daddy Jeff yang menepuk - nepuk pelan pundaknya saat tadi ayah kandung Nathan dan Aina itu berujar.
“Gue yakin Val akan sembuh ---“
“Kalau yakin, kenapa wajah lo menunjukkan kalau lo macam orang yang putus asa? ---“
“Gue yakin Val akan sembuh.”
Dad R mengulang lagi ucapannya, menanggapi ucapan Papi John sebelumnya.
Dad R melanjutkan ucapannya. Menatap Val sejenak, sebelum ia memandangi satu per satu saudaranya yang kini ada di dekatnya.
“Tapi, apa luka hatinya akan sembuh juga nanti, dan dia tidak akan melakukan hal bodoh macam ini untuk yang kedua kalinya? ---“
----
Ucapan Dad R yang mengkhawatirkan kondisi kejiwaan Val jika putri kandungnya itu bangun dari komanya, membuat para Dad lain yang mendengar ucapan Dad R itu, pada akhirnya jadi memikirkan ucapan Dad R.
Dan mereka juga pada akhirnya memiliki kekhawatiran yang sama seperti ayah kandung Val dan Varen tersebut. ‘R benar. Andai Val bangun dari koma, apa dia sudah tak lagi kisah dengan sakit di hatinya karena pengkhianatan Kaka?...’
Kiranya begitu para Dad lain membatin yang kurang lebih sama.
‘Rasanya tidak mungkin Val akan melupakan Kaka begitu saja, walau ia sudah berhasil diselamatkan dari percobaan bunuh dirinya...’
‘Luka di hati Val karena Kaka tidak akan hilang begitu saja karena ia koma. Dia pasti akan kembali merasakan sakit hatinya itu saat ia bangun nanti...’
‘Benar yang R katakan, apa Val akan sembuh dari luka hatinya saat ia sadar nanti?’
‘Apa Val mau menyembuhkan luka itu? Atau malah akan nekat lagi untuk yang kedua kalinya?? ---‘
‘Jika itu sampai terjadi, apa mukjizat akan datang berturut – turut?... andai kali ini Val bangun dari komanya, lalu luka hatinya yang sulit ia sembuhkan akan membuatnya mencoba bunuh diri lagi...’
Lalu, selain setiap detiknya menunggu dalam was-was dengan kondisi Val yang ditakutkan akan drop dan tidak terselamatkan, kekhawatiran akan Val yang bisa saja mencoba bunuh diri untuk yang kedua kalinya saat ia sadar dari komanya saat ini, menjadi momok yang menghantui relung hati para Dads of The Adjieran Smith --- untuk Dad R terlebih lagi.
Hingga pada suatu ketika,
__ADS_1
Dad R dan beserta seluruh keluarga The Adjieran Smith yang sejak Val di bawa ke pulau pribadi yang dibeli Varen untuk kebutuhan penelitiannya dalam teknologi serta sebagai fasilitas Celine untuk melakukan penelitian ragam obat dan hal – hal yang terkait dengan dua bidang itu, lebih banyak tinggal dan menghabiskan waktunya di pulau yang Varen beri nama Little Star Island tersebut.
“Dad...”
Adalah Varen yang menegur ayah kandungnya yang menyambangi bagian agak terpisah dari kastil pada Little Star Island.
Varen sedang berada di sebuah ruangan, dimana ada beberapa barang yang termasuk dalam teknologi, selain di satu sudut lain, ada sebuah ruangan yang merupakan sebuah lab penelitian.
“Ada perkembangan soal Val?” tanya Dad R yang sedang iseng berjalan-jalan di sekitar Little Star Island, jika gilirannya untuk menemani Val belum tiba atau sudah habis. Dan kali ini kakinya kembali melangkah ke pusat penelitian Varen dan Celine --- katakanlah begitu.
“Sudah, Dad ---“
“Apakah kabar yang baik? ---“
“Alhamdulillah iya, Dad. Semua kandungan cairan milik Ann telah terbaca semua.”
----
“Dad sendirian?...”
“Yang lain sibuk beristirahat dengan istri mereka ---“
“Haha.” Varen tergelak. “Dad tidak ikutan? Bukannya Dad juga bersemangat kalau soal nananina dengan Ibu Peri?---“
“Hah! Macam kau tidak gila soal itu!”
“Ho, wajar. Aku masih darah muda hitungannya. Wajar kalau aku sangat bersemangat soal nananina. Nah kalian para pria tua? ... seringnya tak sadar diri! ...”
“Cih! ---“
“Tuan Moreno ---“
“Hai, Cel. Apa kau sudah makan? ...”
Dad R balik menyapa Celine yang datang menghampirinya dan Varen.
“Sudah, Tuan,” jawab Celine pada Dad R yang kemudian bertanya lagi pada wanita yang berpenampilan nyentrik itu.
“Alva mengatakan jika kau sudah berhasil mendapatkan semua kandungan dalam cairan buatan Ann?”
“Iya, Tuan... saya sedang melakukan pengecekan sekali lagi untuk itu. Untuk melihat kandungan racun di dalamnya yang menyebabkan Nona Muda Valera jatuh koma...“
Dad R lalu manggut-manggut kecil setelah mendengar ucapan Celine. Kemudian Dad R mengedarkan pandangannya.
“Alat apa itu, Cel?...”
“Oh itu, akan dipergunakan bagi para korban pelecehan s*ksual yang memiliki trauma hebat dan mendalam, agar mereka melupakan kejadian buruk yang menimpa mereka dan dapat menjalani hidup mereka dengan normal...”
“Jadi itu, dengan kata lain, itu adalah alat penghapus memori?...”
******
To be continue.....
__ADS_1