
MELANGKAH MAJU
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia,
“Kalau begitu Kak Kafeel lanjut istirahat sekarang.” Adalah Val yang berucap setelah ia dan Kafeel mengikat janji yang berkaitan dengan hubungan mereka.
“Tapi ...“ Kafeel yang hendak menyergah ucapan Val. Namun Val keburu menukasnya.
“Heits, Kak Kafeel sudah berjanjii,” kata Val. “Val akan menemani Kak Kafeel kok. Kan Val sudah bilang tadi?“ tambahnya.
Kafeel lalu merespons dengan cepat.
“Ya masa aku enak-enakan tidur tapi kamunya malah terjaga semaleman, Tuan Putri?”
“Ya sudah begini saja ...” cetus Val yang memiliki solusi di kepalanya. “Kita tidur sama-sama,“ kata Val lagi sambil tangannya yang sudah menggenggam tangan Kafeel itu menarik Kafeel agar mengikuti kemana dirinya bergerak.
“Heu?? ...” Yang mana solusi Val tersebut, membuat Kafeel sedikit tercengang sekaligus jadi tertegun disaat yang bersamaan.
“Kak ...” panggil Val hingga menarik kesadaran Kafeel yang sempat tertegun itu. Dimana Kafeel masih berdiri di salah satu sisi ranjangnya.
Kafeel segera menoleh dan hendak menanggapi panggilan Val
“Y –“
“Kemari ... tidur di samping Val? ...“
Namun keburu keduluan Val. Dimana Val nyatanya sudah duduk cantik di atas ranjang Kafeel.
“Ta-tapi ...” Kafeel langsung tergugu bingung, sambil memandang Val yang menepuk-nepuk ruang di atas ranjang Kafeel di dekat area yang Val sedang duduki itu.
“Jangan takut, Kaak ... Val tidak akan macam-macam pada Kakak—“
“Heu?? ...” tercengang kemudian si AA sambil memandangi Val dengan rasa tidak percaya.
Karena Val bicara sambil lalu dengan gadis itu yang membereskan bantal bekas Kafeel yang sebelumnya Kafeel gunakan.
Lalu didetik berikutnya, Val kembali berkata pada Kafeel dengan tanpa dosa. “Kalaupun Val berani macam-macam pada Kak Kafeel, Val pasti akan bertanggung jawab.“
‘Ga salah??!! ...’ Kafeel spontan membatin. Karena posisinya seringkali terbalik sejak Val ‘merecoki’ hidupnya hingga sampai membuat gadis belia itu jadi bertahta di hati Kafeel.
Lalu atas ucapan barusan yang katanya akan memberikan pertanggung jawabannya pada Kafeel kalau dia macam – macam, Kafeel jadi tersenyum geli sendiri.
♥♥
“Kak Kafeel –“
“Iya, Tuan Putrii.”
Kafeel lekas menyahut saat Val memanggilnya lagi.
“Kemari ...”
‘Gue ngerasa jadi si Heli.’
Kafeel membatin konyol. Karena ucapan Val mengingatkannya pada satu lagu anak-anak jadul.
Heli!
Guk! Guk! Guk!
Kemari!
Guk! Guk! Guk!
Ayo lari lari ...
♥♥
__ADS_1
“Kaak ... ayo kemari.”
Suara Val terdengar lagi.
“Jangan malu – malu,” ucap Val lagi.
“Ya ampun.” Spontan Kafeel menggumam.
Karena sekali lagi pria itu merasa geli sendiri.
Luar biasa sekali gadis belia tercintanya ini – pikir Kafeel.
Bukannya Kafeel yang membuat Val menjadi canggung karena adegan ‘ngajak bobo’ dalam kamar ini, walaupun Kafeel paham jika ajakan Val memang ajakan ‘bobo’ secara harfiah.
Namun tetap saja, Val membuat keadaan jadi terbalik – bukan seorang cowok yang bikin canggung ceweknya, eh ini malah kebalikannya. Padahal Kafeel justru lebih berpengalaman dari Val dalam urusan ‘ngajak bobo’ cewek.
Walau ga sekaliber Papi John dan Daddy Jeff dalam hal ‘menggiring’ wanita ke atas ranjang yang tidak cukup jari menghitungnya. Tapi Kafeel kan tetap ada pengalamannya dalam hal ‘ngajak bobo’ itu. Namun Kafeel kini dibuat menjadi dalam posisi cewek yang biasanya suka malu – malu embe kalo pas mau ‘digiring’ ke ranjang oleh Val.
Jadi Kafeel katakan, “Luar biasa!” karena dirinya dibuat seolah menjadi cowok cupu yang grogi karena sikap antusias seorang cewek.
Mana bocil lagi itungannya itu cewek kalau dibandingkan dengan usia Kafeel. “Kak Kafeel iih ...” yang suaranya terdengar lagi. Dan nampak tak sabar sekarang karena Kafeel belum bergerak dari posisi terakhirnya.
“Iya, Val? ...” sahut Kafeel dengan cepat, dan Val pun dengan cepat juga membalas sahutan Kafeel padanya itu – dengan Val yang agak mencebik, memandang ke arah Kafeel yang tersenyum padanya.
“Kenapa Kak Kafeel malah diam saja begitu? ... kemari.” Sambil Val kembali menepuk – nepuk ruang di dekatnya itu.
“Tuan Putri, aku rasa kamu tidak bisa menginap disini,” Kafeel merespons undangan Val untuk bergabung dengannya diatas ranjang pribadi Kafeel itu.
“Bisa!”
Val dengan cepat menyahut.
“Tadi kan Val sudah mengatakan pada Dad R kalau Val akan stay disini untuk menjaga Kak Kafeel yang sedang sakit dan Dad R mengijinkan –“
“Sshh ...” didetik dimana Kafeel meringis samar ditempatnya.
Sambil Kafeel mengusap tengkuknya yang tidak kenapa – kenapa sebenarnya, selain suhu tubuhnya memang masih panas.
♥♥
“Kok gitu ngomongnya sih Tuan Putri?”
Atas tuduhan Val, Kafeel pun segera merespons.
Dengan Kafeel yang akhirnya naik dengan spontan ke atas ranjang pribadinya itu, dimana Val sudah duduk di sana – agak sedikit merungut sekarang.
“Ya habis Kak Kafeel menghindari Val –“
“Mana ada aku menghindari kamu, Baby? ...”
Kafeel pun langsung menyangkal dugaan Val itu.
“Bukannya aku ga ijinkan kamu menginap di sini, Tuan Putri ... Aku malah seneng banget kalo bisa lama – lama deketan sama kamu.”
Kafeel berujar sambil mengelus lembut kepala Val.
“Aku hanya menghindari kalau nanti Dad R atau keluarga kamu, berpikir aku memanfaatkan kamu demi keinginan pribadi aku –“
“Tapi kan tadi Dad R sudah mengijinkan Val untuk menginap di sini, tadi saat bicara dengan Kakak, memangnya Dad R tidak mengatakannya lagi? –“
‘Ikuti apa yang menjadi keinginan Val jika memang hal itu masih wajar dan sanggup kau lakukan. Jangan buat emosinya menyeruak. Karena meski dia sudah mengingatmu, emosinya masih belum stabil. Dia masih begitu sensitif, walaupun mungkin dia tidak akan merasa was – was seperti sebelum kami datang ke Jakarta dan belum bertemu denganmu. Tapi tetap saja, iyakan saja dulu keinginannya karena Val bisa tiba – tiba histeris saat ia berpikiran buruk dalam menduga sesuatu.’
Ucapan Dad R di telepon yang kini Kafeel sedang ingat, setelah sebelumnya Val bertanya apakah Dad R mengatakan hal yang Val tanyakan pada Kafeeel itu.
Didetik berikutnya Kafeel tersenyum pada Val.
“Iya, Dad R bilang. Aku yang lupa.”
Lalu kafeel berucap demikian setelahnya.
“Ya sudah kalau memang kamu mau menginap, Tuan Putri ...” ucap Kafeel lagi. “Aku pinjamkan piyama Lena, ya?”
“Tapi kalau Lena sudah tidur malah mengganggu? Tadi Val yang datang dengan menekan bel terus – terusan saja mungkin sudah mengganggu tidur Lena sebelumnya –“
__ADS_1
“Kayaknya Lena, dengan ada kamu di sini pasti dia ga akan tidur buru – buru meski udah lewat tengah malem gini–“
“Begitu ya? ...”
♥♥
“Tapi kalau Lena belum tidur, lebih baik Val ikut keluar ya? Val ingin minta maaf pada Lena karena melupakannya juga. Termasuk pada Bunda – eh tapi, kalau Bunda sudah tidur pasti ya, Kak? Bunda sehat – sehat kan, Kak?” cerocos Val, dimana lagi – lagi Kafeel menanggapinya dengan tersenyum lebih dulu sebelum menjawab cerocosan Val yang memiliki beberapa pertanyaan di dalamnya.
“Alhamdulillah, Bunda sehat – sehat ...” jawab Kafeel kemudian. Dan Val langsung menimpali ucapan Kafeel tersebut.
“Alhamdulillah.”
“By the way, kamu sudah makan, Baby? –“
“Sudah di jet, Kak,” jawab Val. “Ya sudah ayo kita keluar?”
Val mengajak Kafeel, sambil ia beringsut dari tempatnya.
“Memang Val ga lelah?” Kafeel lalu bertanya lagi pada Val.
“Tidak –“
“Ya udah kalo gitu ...”
Kafeel yang juga sudah beringsut dari tempatnya juga, mengulurkan tangannya pada Val untuk mengajak Val keluar dari kamar pribadi Kafeel tersebut.
“Yuk? –“
“Tapi benar, Kak Kafeel okay? Tubuh Kakak masih agak panas –“
“I’m okay, Tuan Putri ...udah sehat, udah sembuh. Ini panas sisa ...”
“Kak Kafeel ini bisa saja ...”
Val menanggapi ucapan Kafeel yang sedikit berguyon.
Dimana Kafeel tersenyum menanggapinya, lalu menarik Val hingga agak rapat dengannya dan langsung mengecup pucuk kepala Val dengan sayang.
Kemudian berjalan lagi bergandengan, menuju lantai bawah rumah keluarga Kafeel tersebut – dan tepat seperti yang Kafeel katakan, jika Lena kemungkinan besar masih terjaga – dan memang seperti itu adanya.
Adik Kafeel itu sedang duduk di ruang santai dekat dapur bersama bundanya Kafeel beserta Achiel yang nampak sedang dijamu oleh adik dan bundanya Kafeel, lalu keharuan tercipta diantara Val dan bundanya Kafeel yang langsung diterjang Val dengan pelukan.
Selanjutnya – meski Val hitungannya menginap di rumah Kafeel, namun baik Val – Kafeel – Lena dan bundanya Kafeel – berikut Achiel yang diajak serta untuk berada di tengah ke empat orang itu, menghabiskan waktu untuk mengobrol santai hingga waktu Subuh tiba.
Beberapa bodyguard lain yang menyertai Val selain Achiel sebenarnya diajak juga untuk duduk bersama oleh Kafeel.
Namun atas dasar sungkan, mereka menolak dengan sopan ajakan tersebut.
Jadinya Val, Kafeel, adik dan ibunya berikut Achiel saja yang bercengkrama di ruang santai rumah keluarga Kafeel tersebut hingga subuh tiba, bahkan sampai Val sudah hendak kembali ke KUJ.
♥♥
Author’s POV,
Val kembali ke KUJ dipagi harinya dengan Kafeel yang menyertainya.
Dimana saat Val datang, keluarganya yang seringnya berdomisili di KUJ telah menunggu untuk menyambutnya.
Haru dan senang mewarnai momen itu, karena keluarga The Adjieran Smith yang berada di KUJ telah diberitahukan tentang Val yang ingatannya sudah mulai kembali – walau mungkin belum sepenuhnya.
Baru ingatan tentang Kafeel saja yang setahu Dad R, Mommy Ara dan keluarga The Adjieran Smith yang seringnya berdomisili di The Great Mansion London, mendominasi ingatan Val yang mulai kembali itu selain memang Dad R dan Mommy Ara belum mendapatkan kesempatan untuk bertanya pada Val tentang sejauh mana ia sudah mengingat apa yang pernah ia lupakan.
Pelan – pelan saja, yang penting kelegaan tentang Val sudah mulai menyelimuti hati orang – orang terdekat Val.
Yang berharap, semoga Val, kali ini benar – benar mendapatkan kembali kebahagiaannya yang pernah hilang bersama Kafeel.
Karena yang lalu, biar saja berlalu.
Author’s POV off
♥♥♥♥♥♥
To be continue ......
__ADS_1