HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 130


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


SIN,


Esok telah menjelang di sebuah negara yang memiliki sebutan ‘Kota Singa’.


“Morning.”


“Pagi.”


Suara sapaan yang saling bersahutan terdengar di sebuah Private Lounge Exclusive sebuah Hotel ternama di Kota tersebut, saat waktu sarapan telah tiba.


Ada yang sudah rapih berpakaian, ada juga yang masih bertampang ‘muka bantal’, lengkap dengan pakaian tidur atau pakaian santai mereka yang dipakai tidur.


Hampir semua orang yang termasuk dalam satu keluarga yang sedang berada dalam satu negara untuk satu keperluan itu telah berkumpul diwaktu makan pagi tersebut.


Area meja makan memang panjang, namun tidak cukup menampung semua orang dalam rombongan untuk duduk disana karena sudah terisi oleh mereka yang dituakan, serta beberapa orang tua.


Sisanya, melipir di hamparan sofa-sofa panjang yang tersedia di dalam Private Lounge Exclusive sebuah Hotel ternama tersebut, sambil menikmati makanan mereka dan mengobrol serta sesekali bersenda gurau dengan orang-orang yang berada didekat mereka masing-masing.


“Papski,” ini Via yang bicara, memanggil suaminya-Nathan.


“Iya Mamski belahan jiwa Akang Nathan? –“ jawab Nathan dengan kekonyolannya seperti sering si Tan-Tan bersikap.


“Lebay!”


Mika yang ada didekat pasutri yang terbilang pasutri muda itu pun melontarkan celetukannya dengan cepat.


“Eims!” timpal Via. Lalu Via dan Mika pun sama-sama terkekeh.


“Mamski mau tanya apaan tadi?...” tanya Nathan yang mengabaikan celetukan jomblo judes dan timpalan istrinya hingga kedua wanita cantik yang selalunya kompak dengan para wanita dalam keluarganya yang lain itu terkekeh bersama.


Via yang tadi teralih sesaat dan bersenda gurau dengan Mika dan Aina kemudian menoleh pada Nathan yang bertanya padanya.


“Engga, aku cuma mau tanya. Ini Mika sampai Ares jadi pulangnya pisah dari kita? –“ jawab Via yang juga bertanya.


“Jadi!” tukas Nathan.


“Seriusan Kak?? ...”


Mika terperanjat.


“Seriusan aku, Val, twin, Rery, Ann, Aina dan Ares akan naik pesawat komersil publik??? ...”


“Kelas ekonomi.”


Satu Daddy menyambar untuk bicara menukas ucapan Mika.


“How cruel ( Kejam sekali ) –“ celetuk Mika yang mendengar ucapan Nathan dan satu Daddynya.


“Daripada kalian disuruh feri yang transit di Batam terus naek bis ke Jakarta? ...” Lalu celetukan agak panjang datang dari mulut seseorang, yang membuat Mika kemudian mencebik.


“Nyamber aja Sadboy!”


“Abis, mau nyamber hati kamu ga bisa-bisa ...”


Sa ae lu Bambaanngg!!! ...


♥♥♥


Mereka yang akan bertolak ke Indo dengan jet pribadi keluarga sudah nampak bersiap untuk meninggalkan Hotel tempat mereka menginap selama berada di SIN.


Sementara sisanya-yakni mereka yang kena hukuman yang disebut sebagai pelajaran oleh para Dad tampan di keluarga mereka itu, ada yang menggerutu, merungut dan ada juga yang nampak biasa-biasa saja menanggapi hukuman alias ‘pelajaran’ yang mereka dapat sebagai konsekuensi dari sikap mereka yang dianggap sedikit tidak bertanggung jawab oleh empat Dad yang bersama para pewaris muda tersebut.


“Tega banget sama anak dan adenya ....” keluh satu pewaris muda, dalam urutan kedua dari bawah-Aina. Yang bibirnya sampai maju saat mengeluh pada kedua orang tua dan kakak lelaki kandungnya atas hukuman yang ia dapatkan bersama para saudara-saudarinya.


Sementara tiga orang yang sedang di pandangi Aina dengan gadis itu yang merungut itu nampak woles saja.


“Makanya otak jangan isinya main melulu!” cetus sang kakak kandung. “Kalo kakak-kakaknya khilaf ingetin! Jangan malah ikutan!”


Dan Aina pun cemberut.


Boro-boro ngingetin dan sadar kekhilafan para saudara-saudarinya, mendengar nama Taman Bermain Wisata dan cetusan dari para saudara-saudarinya yang ingin bermain disana saja, sudah membuat Aina yang jiwa mainnya masih mendominasi itu gelap mata.


“Udah, terima aja hukuman kamu-“


Mama Jihan menimpali.


“Papa Beaarrrrr-“ Aina memasang tampang memelas pada Daddy Jeff.


“Puppy eyesmu sudah tidak mempan padaku!”


Dan Aina pun segera berkesah lemas setelah mendengar jawaban Daddy Jeff, yang ia coba buat iba dengan wajah memelas yang Aina pasang.


Si bontot ga jadi itu kemudian merungut ketika tiga orang yang coba ia gugah dengan rengekan manjanya itu bergeming masa bodoh padanya. “Sungguh orang tua dan kakak yang tidak berperasaan .... Apakah-”


“Ga ngaruh Ainaaaa,” sambar Nathan yang mendengar keluhan sekaligus trik adik kandungnya itu untuk merayu dirinya dan kedua orang tua kandung mereka.


‘Kalau begitu nanti aku akan latihan lebih keras lagi dalam berakting agar mereka langsung luluh kalau aku memohon .... Hitung – hitung aku latihan untuk modal main film di Hollywood! ....’


♥♥♥


“Kami dari Bandara ada yang jemput ga nanti? –“ tanya Aro pada para Dadnya yang sudah bersama rombongan kloter pertama keluarga dan kerabat yang hendak bertolak lebih dulu ke Indo.


“Ada! –“ tukas Papi John. “Kami juga ga akan terlalu tega pada kalian! ....”


“Emang udah begitu si seharusnya sama anak-anak sendiri juga? .... “


Aro berujar.


Papi John pun berdecak.


“Makanya lain kali pikir panjang jika ingin melakukan sesuatu ....”


Mami Prita menimpali.


“Jangan mentang-mentang! Jangan seenaknya!”


Mami Prita lanjut bicara.

__ADS_1


Kemudian repetan bersambung dari mulut Mami Prita-yang sebelas dua belas mulutnya kalo udah merepet-persis sama kakak kandungnya itu, terdengar dan tertuju pada Aro CS sebelum dirinya dan rombongan menaiki mobil yang siap mengantar rombongan non haji kloter pertama itu ke Bandara, yang mana sedang disiapkan.


“Denger ga?! –“ cetus Mami Prita setelah repetannya selesai. Aro CS pun menyahut mengiyakan Mami Prita dengan pasrah.


Karena biar seringnya mulut Aro CS itu suka usil pada orang tua mereka, tetap jika The Dads dan The Moms sedang menampakkan wajah setengah sampai serius ditambah repetan, sesungguhnya tidak hanya Aro CS saja yang tidak berkutik, bahkan Varen, Nathan dan Drea sekaligus Via pun juga sama-terutama jika The Moms yang seperti itu.


Sedang serius merepet.


♥♥♥


“Everything are ready ( Semua sudah siap ), Ammar?”


Papa Lucca sontak bertanya ketika Ammar yang tadi nampak sibuk mengatur segala sesuatunya di luar lobi Hotel telah kembali ke tengah – tengah dirinya dan rombongan, termasuk rombongan kloter kedua yang akan pulang dengan akomodasi terpisah darinya dan para orang tua lain termasuk para kerabat dan juga tetua.


“Ready Sir, Ma’am ( Siap Tuan, Nyonya )”


Ammar menyahut sigap sambil matanya tidak hanya terarah pada Papa Lucca, tapi juga pada mereka yang akan berangkat bersama si Papa Devil itu.


“Don’t forget our stuffs too ( Jangan lupakan barang – barang kami juga ), Kak Ammar ....” celetuk Ann pada Ammar.


“Iya betul yang Ann katakan, sudahlah naik pesawat komersil untuk umum dan kelas ekonomi, kami malas membawa barang – barang kami serta walau hanya tas punggung saja ....”


Soulmate Ann dari orok – Rery, menimpali.


Dan tentu saja, saudara – saudari Rery itu mendukung ucapan salah seorang saudara mereka itu.


Hal yang biasa sudah rasanya, bagi para orang tua, tetua, kerabat bahkan para pekerja The Adjieran Smith merasakan atmosfer kekompakan dari para remaja – remaji yang meski beberapa tidak memiliki hubungan darah, namun emezing sekali kompaknya.


“Barang – barang Tuan – tuan dan nona – nona muda sudah semua kami masukkan bersama barang – barang orang tua anda sekalian.”


“Siipp!!!-“


“Thank you Kak Ammaarr!!!”


“Thanks aall ( Makasih semuaa )!! ....”


Cicitan bak paduan suara pun menggema di lobi Hotel, membuat satu kerumunan rombongan orang itu kembali menjadi perhatian para tamu hotel lain yang ada di area yang sama dengan mereka – setelah memang satu rombongan yang berkerumun itu sudah menjadi perhatian akibat aura mereka yang berbeda dari para tamu lainnya.


Bahkan pemilik Hotel saja sampai menyempatkan datang untuk melepas satu rombongan itu walaupun terpisah menjadi dua bagian kelompok dalam jadwal penerbangan pulang ke negara asal.


♥♥♥


“Aina sama Ares kenapa ga ikut kalian saja deh? Nanti macam waktu itu, ketinggalan!” celetuk Mika.


Yang mendengar pun terkekeh, karena tahu kisah dua bocil terbocil itu dulu yang pernah tertinggal di Kediaman Utama, saat akan liburan berpesiar.


“Nah iya benar tuh!” tukas Isha.


Lalu The Dads menjeda langkah, nampak berpikir. “Ya sudah, Aina, Ares, kalian ikut kami saja! .... Ka, berikan passport mereka pada Ammar-“


Daddy R berbicara pada Kafeel yang bertanggung jawab memegang passport para pewaris muda adik – adiknya Varen, Nathan dan Drea itu.


Kafeel pun mengangguk, sembari ia membuka tas ransel kasual yang sudah ia sampirkan di salah satu bahunya.


“Asyiiikkk!!!-“ Aina langsung girang, karena ia sulit membayangkan jika bepergian naik pesawat – meskipun jarak dekat, tanpa ada orang tua yang mendampingi.


Walaupun Aina akan disertai oleh para kakak dan beberapa bodyguard mungkin.


“Yah Kak Ares kenapa ga bareng aja sama The Dads and Moms aja sih?-“


“Aku udah gede lah!”


“Yah, Kak Ares masa aku sendirian????? ....” rengek Aina, yang memanggil Ares dengan sebutan ‘Kakak’ juga, meskipun Ares hitungannya adalah adik Aina.


Namun bagi Aina, semua lelaki yang ada dalam keluarganya itu dipandang Aina lebih tua darinya.


“Bener nanti seperti yang dibilang Kak Mika, kalau kita tertinggal lagi kayak waktu itu gimana???. Lagian jet pribadi kita kan lebih nyaman pasti daripada naik pesawat biasa???”


“Justru itu .... Cari pengalaman baru, Aina ....”


“Yaaaahhh, masa aku sendirian ikut mereka?” tunjuk Aina ke para orang tua.


“Ya udah kenapa emang?” tukas Ares.


“Ya isenglah sendirian!” Aina mencebik.


“Ya sudah cepat bukan keputusan ‘Ain, Ghain, Fa, Qof ....” celetuk Nathan.


“Ya udah deh aku ga jadi ikut kalian, aku ikut kakak – kakak aja-“ jawab Aina. “Boring nanti aku dengerin obrolan orang dewasa!”


“Kan ada Kak Lena, Aina?” cetus Lena – adiknya Kafeel yang akan ikut pulang bersama kloter pertama berikut sang Bunda, kecuali Kafeel yang akan ikut serta bersama kloter kedua, demi bareng sama kekasih kecilnya sekaligus menjadi penanggung jawab Val dan saudara – saudarinya dan berbagi tugas dengan Achiel.


“Engga ah, Aina sama mereka aja!-“ jawab Aina. “Lagian Kak Lena sekarang pendiem ....”


“Perasaan kamu aja itu kali, Aina?-“


Lena menjawab seraya tersenyum.


“Kalo kamu jadi bareng kami nanti kita ngobrol deh sepanjang perjalanan ....”


Lena membujuk Aina, dan si bontot ga jadi itu nampak berpikir.


“Maaf deh Kak Lena, Aina mau bareng sama mereka aja.”


Aina menunjuk para saudara – saudarinya.


“Karena kami kan satu nama, satu kesatuan-“


‘Hah, panjang nih urusan kalo udah urusan yel – yel mereka keluar!’ batin para bodyguard dan para pekerja keluarga Aina.


“Satu keluarga, satu rasa-“


“Ah sudah! ayo Lena! Kita bisa sampai bermalam di lobi ini jika mendengar repetannya!” sembur Papi John sebal.


Lalu Papi John segera mengajak rombongannya yang terkikik, untuk berlalu dari para pewaris muda yang akan bertolak ke Indo dengan pesawat komersil untuk umum.


Yang satu per satu orang dari kloter pertama itu memasuki beberapa mobil yang telah disediakan. “Ka, kami titip para bocah tengik ini padamu! Jangan sampai mereka meng-hijack ( membajak ) pesawat yang kalian naiki nanti!”


♥♥♥


Dua jam kemudian ....

__ADS_1


“Hey Baby, kenapa?-“


Kafeel sudah berada di lobi bersama Val dan para saudara – saudarinya yang sedang menunggu mobil untuk mengantar mereka ke Bandara.


“Ga apa-apa Kak ....”


Val lekas menyahut dan tersenyum.


Kafeel lantas juga tersenyum. “Pasti ada yang sedang kamu pikirin, jadi sedikit pendiam aku perhatikan? ....”


Val kembali mengulas senyuman. “Engga mikirin yang gimana-gimana kok ....”


“Tapi? ....” tukas Kafeel.


“Val cuma jadi sedikit memikirkan ucapan Aina tadi tentang Lena ....”


Kafeel sedikit mengernyit.


“Kalau Val pikir-pikir dan perhatikan, Lena memang menjadi sedikit pendiam ya Kak?”


Val lanjut bicara, lalu Kafeel tersenyum.


“Perasaan kamu aja kali, Baby. Kalo menurut aku sih Lena biasa aja kok-“ ucap Kafeel. “Malah dia yang lebih antusias dari aku dalam mempersiapkan lamaran aku ke kamu kemarin.”


“Kalau begitu, Val harus memberikan hadiah untuk Lena nanti saat kita sampai di Indo ....” tukas Val. Kafeel tersenyum lagi.


“Ga perlu ....” sahut Kafeel.


“Perlu dong!” sambar Val. “Lena kan sudah berjasa membuat Val bahagia.”


“Lena pun sama bahagianya saat tahu kalau aku mau melamar kamu, makanya dia-juga Bunda, antusias bantuin aku untuk mempersiapkan segala sesuatunya.”


“Berarti Val juga harus membelikan hadiah untuk Bunda juga,” tukas Val.


Kafeel tersenyum lagi. “Ga perlu, Bunda sama Lena ikhlas membantu aku untuk membahagiakan kamu, Val, My Baby ....”


“Dan Val juga ikhlas ingin memberikan hadiah untuk Bunda dan Lena karena sudah membantu Kak Kafeel mewujudkan satu per satu mimpi Val yang membuat Val bahagia.”


“Pasti Bunda dan Lena akan menolaknya-“


“Val pasti bisa membujuk Bunda dan Lena untuk menerima hadiah Val!” sambar Val.


“Sepertinya membujuk kurang tepat,” tukas Kafeel. “Kamu itu lebih dominan ke memaksa daripada membujuk. Iya kan?-“


“Iya, betul sekali!” sambar Val. Dan Kafeel pun sontak terkekeh dan memencet hidung Val gemas.


“Lalu, bicara soal hadiah .... Kak Kafeel mau hadiah apa dari Val sebagai tanda terima kasih Val karena Kakak sudah mencintai Val, lalu menyatakan cinta dan menjadi kekasih Val, kemudian melamar Val?-“


“Aku tidak butuh hadiah apapun dari kamu, Baby .... Kamu dan segala tentangmu itu-“


Lalu Kafeel merengkuh tubuh Val.


“Dan bisa peluk kamu begini itu ....”


Kemudian menguseli Val dengan gemas hingga Val terkikik geli.


“Udah merupakan hadiah terindah buat aku ....”


Val tersipu mendengar ucapan Kafeel yang terlalu manis baginya itu.


Lalu momen keuwuan, diantara Val dan Kafeel tercipta-tanpa memperdulikan orang-orang disekeliling mereka yang rasanya baper hingga ke usus halus mereka.


Namun momen keuwuan itu berhenti ketika ada suara deheman terdengar oleh Val dan Kafeel, dimana orang yang berdehem itu sudah berada di dekat mereka.


“Uwunya bisa ditunda?”


Val dan Kafeel mendengus geli, saat pertanyaan itu keluar dari mulut orang yang sama yang berdehem tadi. “Ih Mika ganggu aja deh!”


“Sebenernya tidak berniat mengganggu, tapi itu –“


“Tau nih Dedek Mika ganggu aja orang pacaran, ngiri ya?”


Mika yang sedang berbicara itu akhirnya terpotong karena ada suara yang berbicara tepat di telinganya, dimana Mika kenali itu si pemilik suara.


“Loh?!” Mika yang terkejut.


“Annyeong!”


“Loh kok lo disini sih?!”


“Of course gue masih disini!”


“Lo kan harusnya ke Indo bareng our Dads an Moms, Sadboy?!”


Adalah Arya yang memotong ucapan Mika dan membuat gadis judes itu terkejut.


Arya mengangkat bahunya tak peduli. Sementara Mika mendesis sebal.


Melihat Mika yang sepertinya sebal dengan keberadaannya, Arya cengengesan.


“Harusnya lo seneng gue masih disini Dedek Mika ....”


“Idih!”


Mika mencebik. Arya pun mendengus geli.


“Ngapain sih lo ikut kita orang bukannya ikut rombongan pertama?!-“


“Demi kamu sayang!”


“Ish!”


Mika mendesis sinis, sambil melangkah untuk menyusul saudara – saudarinya yang sudah berjalan untuk keluar lobi dan memasuki mobil yang telah siap untuk mengantar mereka ke Bandara.


“Jangan satu mobil sama gue! Berisik mulut lo! Males gue dengernya!” ancam Mika.


“Yang penting kita satu hati, oke?”


♥♥♥♥♥♥


To be continue ....

__ADS_1


Dukung terus karya ini yang para reader yang blaem-blaem ....


__ADS_2