
Terima kasih masih setia
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
R Corp, Jakarta, Indonesia...
Lounge Utama R Corp.
Dimana sedang berlangsung sebuah drama dari seorang gadis yang sedang merajuk karena mendapat penolakan dari sang ayah, yang ia mintai untuk melamar seorang pria untuknya.
Dan pria yang dimintai oleh gadis yang kelihatannya sedang terluka ini, kini sudah ada didekat gadis tersebut, bersimpuh dihadapan sang Gadis, sedang menenangkan agar gadis yang nampak sedang bersedih hati di mata pria itu kiranya tidak bersedih lagi.
“Bawa Val pergi Kak!” ucap sang Gadis, yang tanpa ragu langsung memeluk tubuh pria yang sedang bersimpuh dihadapannya itu.
“Pergi?”
Sang pria yang sedang bersimpuh itu, sebenarnya sedikit terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari sang gadis yang terasa begitu erat.
Namun ia tak berusaha untuk melepaskan.
Menerima pelukan sang gadis yang sepertinya sedang bersedih hati itu, lalu mengusap-usap lembut punggung gadis tersebut.
Sebuah anggukan pria itu rasakan di pundaknya.
Dimana selain memeluk pria yang sedang bersimpuh dihadapannya itu, sang gadis yang sedang merajuk itu, juga meletakkan kepalanya di satu sisi pundak si pria yang ada dihadapannya sekarang ini.
“Ayo kita kawin lari!”
Tapi dikala sedang syahdunya memeluk sang gadis, pria itu, Kafeel, pun segera terhenyak sekaligus terperangah setelah sebaris kalimat terlontar dari mulut sang gadis yang sedang ia peluk itu.
Gadis yang bernama Val, yang sedang membuat drama itu.
“Heeuu??!!”
“Silahkan kalau mau kaget.”
Itu suara Varen yang nyeletuk di belakang Kafeel kala ucapan Val sebelumnya membuat pria itu melongo.
Karena diajak kawin lari sama Valera.
Sementara Drea, masih senyam-senyum bae.
Oh Tuhaaaannnn – Hati Kafeel.
Namun kemudian ia merasa geli sendiri.
Pengen hati sih cekikikan, tapi Kafeel tahan.
‘Ada-ada aja Val ini,’ batin Kafeel.
“Kak Kafeel mau kan mengajak Val kawin lari?”
Val mengurai pelukannya, lalu memegang pundak Kafeel hingga membuat pria itu berhadapan dengannya, fokus padanya.
Merubah pernyataannya, menjadi ajakan untuk Kafeel agar mengajaknya kawin lari.
Sungguh teramat sangat luar biasa bagi Kafeel yang mendengarnya.
“Ehem!..”
Kafeel berdehem.
“Val cantik.....” ucap Kafeel kemudian.
Lalu senyum Kafeel tampakkan.
“Kenapa sampai Val cantik berpikiran sampai sejauh itu? ---“
“Bukan jauh lagi, tapi gila!”
Varen menyambar.
Kakak kandung Val itu sudah berdiri dari tempatnya.
“Coba kulihat matamu!” Juga sudah berdiri di dekat Val dan Kafeel saat ini.
“Abang iiihhhh!!!! .....” cebik Val sembari menepis tangan Varen yang sudah memegangi dagunya. “Nanti kalau mata Val tercolok jari Abang bagaimana??? Mau memang adiknya jadi buta?!”
Val merungut.
Sejenak sinis memandang Varen, kemudian bersedekap dengan bibir mengerucut.
“Rasanya benar kalau aku ini anak pungut...” sungut Val.
“Heh!” Varen mendengus.
“Abang sudah kasar padaku...”
Val kembali menggerutu.
“Kalau Abang, kakak kandungku, kan seharusnya tidak seperti itu...”
Masih dengan menggerutu, Val sekalian melirik sinis pada sang Abang, lalu cembetut lagi.
“Huh! Justru karena aku sayang padamu, makanya aku ingin mengecek matamu ---“
“Kenapa begitu????” Val memotong ucapan Varen.
“Karena aku ingin memastikan apakah kau dibawah pengaruh akibat mengkonsumsi sesuatu sehingga bicaramu itu melantur, serta otakmu korslet!”
Drea sudah mulai terkikik kecil, dan Kafeel sudah mengulum senyum gelinya.
“Abang ih, masa otak Val Abang katakan korslet???.....”
“Jika tidak korslet atau kamu mengkonsumsi sesuatu maka kamu tidak mungkin meminta sesuatu hal yang konyol dan gila!”
Varen masih saja menyahuti Val dengan ketus dan sinis.
“Aku hanya minum vitamin C saja tadi pagi...”
Tapi Val menyahut dengan polosnya.
“C, D, sampai vitamin Z aku rasa kamu minum juga.”
Varen pun masih menimpali ucapan adik kandungnya dengan ketus dan sinis.
“Makanya jadi overdosis, hingga pikiranmu kacau!”
“Apa sih Abang? Ih! Galak sekali sama adiknya sendiri?!” Val sudah tidak terisak lagi.
Namun Gadis itu tetap masih merungut.
“Masa bodoh!”
“Udah, udah....”
Kafeel pun menyela perdebatan unfaedah kakak-beradik sekandung itu.
Varen berdecih, sembari berjalan kembali ke tempat duduknya, dimana Drea sudah mengambilkan air minum untuk sang suami yang nampak kesal itu.
“Minum dulu Abang. Kak Kafeel juga nih. Kamu juga Val, nih minum dulu.”
Drea sudah mengambilkan tiga botol ai mineral dari dalam kulkas yang ada di balik mini bar dalam Lounge Utama tempatnya berada sekarang bersama Varen, Val dan Kafeel.
“Makasih sayang –“
“Sok mesra..”
Val menyambar, mencibir sang Abang yang berbicara lembut dan memang mesra dengan tersenyum pada istrinya itu.
__ADS_1
“Sudah diam. Suara dan ocehanmu sudah membuatku pusing sedari tadi, tahu?!” ketus Varen.
Lalu Varen menenggak air dari dalam botol mineral yang telah dibukakan Drea sebelumnya.
“Makasih ya Drea ....”
Kafeel berucap pada Drea yang tersenyum dan mengangguk.
Lalu Kafeel mengambil satu botol air mineral dan membuka tutupnya, kemudian memberikannya pada Val.
“Minum dulu ya Val Cantik?”
Val tersenyum dengan imutnya, ketika Kafeel bicara padanya.
Membuat Varen spontan berdecih.
Tapi Val mengabaikan decihan Varen yang maksudnya adalah cibiran untuknya.
Masa bodoh sekarang.
Kak Kafeel-nya sudah duduk disisinya saat ini. Jadi suasana hati Val sudah baik lagi.
Sebenarnya sih memang suasana hati Val juga ga buruk-buruk amat.
Ada sedihnya juga sih.
Sedih karena Daddy R, juga Abang tidak mau mengabulkan permintaannya untuk di-lamar-kan seorang Kafeel agar Val bisa cepat menikah dengan pria pujaan hati, belahan jiwa bucinnya itu.
Dan memang permintaan yang terdengar konyol dari Val itu berdasarkan rasa cemburunya pada seorang wanita yang tadi ia lihat bersama AA Kafeel-nya itu, dan nampak akrab.
Jadi alih-alih takut kehilangan Kafeel, ya tercetuslah ide yang menurut Varen dan Daddy kandungnya itu konyol di otak imutnya Val.
“Dad R pasti akan menghubungiku gara-gara permintaan konyol mu itu,” kata Varen. Setelah ia selesai menenggak air dari botol mineral yang tadi Drea berikan padanya.
“Memang Val cantik minta apa sih, hm? Sampai ribut sama Abang?” Kafeel lantas bertanya.
“Dia minta Dad R melamar Kak Kaf..”
Andrea yang menjawab.
“Hah?!”
Yang mau dilamar pun sontak saja terkejut, lebih terkejut daripada saat mendengar diajak kawin lari tadi.
“Val can-tik minta ap-a?..”
Sampai tergugu AA Kafeel jadinya.
"Syok ga tuh dia?" gumam Varen.
“Val minta, agar Daddy segera datang kesini dan melamarkan Kak Kafeel untuk aku, lalu kita segera menikah and then we live happily ever after ( lalu kita hidup bersama bahagia selamanya )” jawab Val. Tanpa ragu, tanpa malu.
Kafeel langsung mengusap wajahnya. “Gila!” ucap Kafeel tanpa sadar. Dimana gadis yang duduk disebelahnya langsung menoleh dengan cepat ke arah Kafeel, saat kata gila terlontar dari mulut Kafeel.
“Hah, lihat?” sambar Varen. “Kafeel juga mengatakan kamu gila,” sambung Varen.
Kafeel yang menyadari kalimat Varen langsung terkesiap setelah ia mengusap wajahnya seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Dengan segera menegakkan tubuhnya menatap Gadis labil yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sungguh sulit Kafeel artikan.
Selain raut wajahnya yang udah mulai jebi. – entah apa itu bahasa Indonesianya ‘jebi’.
-Harap maklum, karena otornya orang Indonesia pinggiran. 😁😁
♥
“Gila!”
Dimana saat Kafeel mengatakan satu kata itu sebagai tanggapan spontan-nya, makhluk imut yang wajahnya sempat sumringah tadi, langsung menoleh padanya, dengan raut wajah yang campur aduk keknya sih.
“Hah, lihat? Kafeel juga mengatakan kamu gila,” tukas Varen
Dan saat satu kalimat itu keluar dari mulut Varen, setitik kesadaran ada di otak Kafeel, dimana dia langsung menoleh pada makhluk imut yang sedang menatapnya itu.
“Eh, Val cantik, a----“
“Kak Kafeel bilang aku gila?”
“Bukan, maksud Kak---“
“Kak Kafeel, ja-hat!” ( Rangga kali ah )
“Eh Val!” Kafeel terhenyak, karena Val yang telah berdiri tadi, kini berbalik pergi dan melangkah keluar dari Lounge Utama.
“Mau kemana? ..” ucap Varen yang langsung menahan Andrea karena istrinya itu hendak bangkit dari atas pangkuannya.
“Ya kejar Val lah Abang,” sahut Andrea.
“Ck! Biarkan saja,” kata Varen. “Ada Kafeel yang mengejarnya juga.”
Varen enteng saja berbicara.
“Memang maunya itu si ulat bulu pasti dikejar Kafeel.”
“Ih Abang, adiknya sendiri dibilang ulat bulu ..”
“Habis lihat saja kelakuannya pada Kafeel!”
Varen menyambar.
“Gatal!” ketus Varen.
Dan Andrea terkikik.
“Kamu lagi,” kata Varen pada Andrea.
“Memang Drea kenapa?” tanya Drea yang tak paham.
“Kenapa, kenapa ..” sahut Varen. “Sudah aku bilang jangan hanya panggil aku Abang sejak Putra lahir, bahkan dari sebelumnya. Tapi masih saja kamu panggil aku dengan Abang, macam yang lainnya.”
Kalau tadi ulat bulu yang merajuk, kini anak naga yang gantian merajuk. Dan Drea terkikik lagi. “Ga adik, ga abangnya sama aja ..” ucap Drea sambil memencet gemas hidung Varen. “Hobi ngambek.”
“Memang kamu sendiri ga hobi ngambek, kalau keinginan kamu tidak aku penuhi, hem?!”
Kini Varen yang memencet gemas hidung Drea, yang orangnya terkekeh kecil. “Tapi suka kan?”
“Cinta dong, bukan suka lagi.”
Abang bucin berkata, dan sepasang suami istri pun terkekeh bersama, hingga kemudian bibir mereka menempel dan saling menaut.
Lupa tempat kadang-kadang, kalau sedang mengumbar kemesraan. Hingga tautan dua pasang bibir itu terlepas kala,
“Ehem!”
Suara deheman membuat Varen dan Andrea menghentikan kegiatan mereka yang membuat jiwa jomblo atau orang-orang yang punya pasangan tapi jauh dari kata mesra, pastinya akan meronta.
“Ish mengganggu saja!”
Tentu saja protes yang berupa gerutuan dengan cepat terlontar dari mulut Varen, pada orang yang sedang mengganggu kesenangannya itu, sembari memandang sinis pada orang tersebut.
Sementara Drea, tersipu malu. Kepergok lagi encup-encupan sama si Abang.
“Val nya mana Kak Kaf? ..”
Itu Drea yang bertanya pada orang yang menginterupsi kesenangannya Varen.
“Itu ..”
***
Mundur cantik dikit.
“Gila!”
__ADS_1
Dimana Kafeel mengatakan satu kata itu sebagai tanggapan spontan-nya, atas ucapan Val yang menjawab pertanyaannya soal hal yang Val minta pada sang Daddy kandung, dimana permintaan itu juga membuat Varen terlihat kesal di mata Kafeel.
Dan saat kata ‘gila’ itu terlontar begitu saja dari mulut Kafeel, makhluk imut yang merasa di katai ‘gila’ itu, yang wajahnya sempat sumringah tadi, langsung menoleh padanya, dengan raut wajah yang campur aduk keknya sih.
“Hah, lihat? Kafeel juga mengatakan kamu gila.”
Satu kalimat celetukan keluar dari mulut Varen.
Membuat setitik kesadaran langsung ada di otak Kafeel, dimana dia langsung menoleh pada makhluk imut yang sedang menatapnya dengan ekspresi macam-macam.
Yang saking macam-macamnya, jadi sukar dilukiskan.
“Eh, Val cantik, a----“
Untuk itu, Kafeel berusaha meralat ucapannya.
“Kak Kafeel bilang aku gila?”
Tapi makhluk cantik yang merasa dibilang gila oleh Kafeel itu langsung memotong ucapan Kafeel, seraya dia berdiri dengan matanya yang menyorot pada si AA yang terlihat menjadi kikuk.
“Bukan, maksud Kak---“
“Kak Kafeel, ja-hat!”
“Eh Val!”
Kafeel terhenyak, karena Val yang telah berdiri tadi, kini berbalik pergi dan melangkah keluar dari Lounge Utama.
“Val cantik, tunggu!”
Kafeel mengejar Val yang setengah berlari menuju lift.
“Duh, cepat juga larinya!” gumam Kafeel, karena Val sudah dengan cepat melesat masuk ke dalam lift.
Dengan cepat juga Kafeel berusaha menyusul. Tapi,
“Pak Kafeel.” Langkah Kafeel terhenti karena ada yang memanggilnya.
“Ya?” Kafeel menanggapi orang yang memanggilnya.
“Tadi Pak Kafeel sebelum meeting dengan tamu dari Dubai, meminta kami divisi IT segera berkumpul saat tamu tersebut pulang. Anak-anak IT udah kumpul Pak di ruang MI” ucap pria yang memanggil Kafeel tadi.
“Oh iya!”
Kafeel menepak jidatnya.
“Ya sudah, kalian tunggu sebentar, saya bicara dulu dengan Tuan Alva, barangkali beliau mau bicara juga dengan kalian,” ucap Kafeel pada salah satu karyawan di R Corp itu.
***
Kembali ke Lounge Utama, dimana anak naga sama anak bebek di interupsi sesi mesra-mesraan-nya.
“Val nya mana Kak Kaf? ..”
Itu Drea yang bertanya pada orang yang menginterupsi kesenangannya Varen.
“Itu Drea, Kak Kaf lupa tadi udah menjadwalkan meeting sama anak-anak IT, tapi Val keburu masuk lift --”
“Lalu?” potong Varen.
“Ya itu, gue mau meeting dulu sama mereka. Ini juga mau nanya sama lo, mau sekalian ikut ga?. Mungkin ada yang mau lo sampaikan,” ucap Kafeel.
“Lo aja lah yang wakilkan,” sahut Varen. “Cuma tinggal membahas aja untuk prakteknya kan?” sambung Varen seraya bertanya.
“Iya,” timpal Kafeel.
“Ya sudah. Lo aja cukup,” ucap Varen.
Kafeel pun mengiyakan titah Varen.
“Tapi itu si Val gimana?” Kafeel sedikit khawatir pada Val yang sudah turun ke lobi perusahaan sepertinya. “Lo hubungi siapa kek buat jagain dia.”
“Biar aja. Ga bakal kemana-mana merajuknya. Di taman paling jauh. Tuh ponsel sama tasnya masih disini! Ada anak-anak juga di bawah,” cerocos Varen.
“Ya pastiin dulu!” tukas Kafeel.
“Kenapa lo jadi merintah gue, hah?!”
Varen mendelik.
“Hehe, sorry .. gue kan khawatir sama si Val.”
“Udah sana. Gue mau lanjutin yang tadi!” Enteng saja Varen berkata.
“Tunda dulu. Tuh berkas kerjasama Qusad Comp. Lo harus cek sekarang.”
“Yaaa ..” sahut Varen malas. Dan Kafeel pun segera berlalu dari hadapan Varen dan Drea.
***
Ruang kerja pribadi Varen di R Corp.
“Abaanngg!! ..”
Suara pekikan nyaring, seiring pintu yang dibuka dengan keras membuat Varen, Drea, serta sekertaris pribadi Abang mengendikkan bahu mereka.
“Dimana sopan santunmu, Hah?!” Varen yang sudah tenang, kemudian nampak kesal lagi, menatap ke arah pintu.
“Mana Kak Kafeel?!” Itu Val yang nampak merungut sembari petantang-petenteng menghampiri meja kerja sang Abang.
“Meeting!”
Varen menyahut ketus, lalu kembali pada kegiatannya memeriksa berkas, dimana Harsena sedang mendampingi Bos Besarnya itu.
“Duduk sini Val.” Itu Andrea yang bersuara, yang sedang duduk di sofa.
Menanggapi santai saja Val yang nampak gusar. Karena sudah dirasa biasa. Paling Drea Cuma mesam-mesem aja.
“Abang nih ya! Pasti Abang nih yang menyuruh Kak Kafeel pergi meeting!”
Val pun melontarkan tudingan pada sang Abang yang nampak masa bodoh padanya itu.
“Memang sudah sepatutnya aku menyuruhnya bekerja karena dia karyawan di perusahaan ini!” ketus Varen.
“Abang ngeselin! .. Ga ngerti banget sih Val tadi sengaja lari biar dikejar sama Kak Kafeel, terus nanti kan Val pasti dibujuk rayu sama dia ..” Cerocos Val, yang membuat Drea terkikik di tempatnya.
Sementara Varen sih geleng-geleng saja. Dan Harsena melipat bibirnya, agar tidak lancang mesam-mesem.
“Gara-gara Abang, Val batal deh tuh dapat bujuk rayu dari Kak Kafeel.”
“Deritamu itu sih!” tukas Varen sekali lagi terlihat masa bodoh.
“Lihat saja, aku balas ini perbuatan Abang yang ga bisa lihat Val senang!”
Ulet bulu mengancam anak naga.
“Memang apa yang bisa kamu lakukan, hem?”
Anak naga pun menanggapi santai.
“Val tahu hari ini Abang sama Kak Drea berencana menghabiskan waktu di pulau kan? ..”
Val berkacak pinggang.
“Val akan ikut Abang sama Kak Drea ke pulau, biar kalian gagal mesra-mesraan berdua! Kalau perlu nanti Val telpon Putra dan bilang kalau Mamamnya mau diculik sama Papapnya biar ga bisa ketemu Putra!”
Ancaman Val seraya bercerocos ria.
“Pasti Putra akan merengek minta bertemu Mamamnya! Terus gagal total deh rencana Abang mesra-mesraan sama Kak Drea di Pulau hari ini!”
“Wah, cari perkara ini ulat bulu!” Ketus Varen.
“Siapa suruh jadi anak naga yang ngeselin!” Val tidak kalah ketusnya. “Nanti aku panggil teman-teman ulat bulu aku, biar anak naga bintul-bintul kulitnya!”
__ADS_1
***
To be continue ..