HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
FEELING – FEELING NYEURI


__ADS_3

Noted: Terima kasih untuk apresiasi kalian, tapi baca dulu episodenya sebelum memberikan LIKE / KOMEN yuah...


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Kak Sony bisa melajukan mobilnya sekarang.....”


Sony langsung menekan pedal gas mobil di bawah kakinya, ketika titah seorang gadis muda yang duduk sendirian dengan wajah datar dan dingin-serta baru saja berucap dengan nada suara yang sama datar dan dingin seperti wajah si gadis yang sedang menaikkan kaca jendela di sisi kanannya itu, dimana ia berucap pada pria yang berdiri di dekat mobilnya, Sony dengar.


“Tidak mau menghubungi aku katanya?---“


Gadis yang duduk di kursi penumpang belakang itu kemudian terdengar menggumam, dimana gumamannya itu terdengar seperti sedang menggerutu sinis sambil memegang ponselnya.


“Like I’m afraid (Memangnya aku takut)?!” gadis itu terdengar menggumam lagi, dengan suara gumaman-gerutunya menjadi sedikit lebih tajam sambil menggerakkan kasar jemarinya pada ponsel yang sedang gadis itu genggam. “Rasakan!”


Gadis yang nampak sedang kesal setengah mati itu kemudian merutuk di akhir gumamannya, lalu memasukkan dengan kasar ponsel yang tadi ia genggam ke dalam sling bagnya.


Sony hanya saling lirik saja dengan sang adik yang duduk di sebelahnya pada kursi penumpang depan. Dan setelahnya mereka berdua diam, tapi sesekali melirik gadis yang duduk di kursi penumpang belakang dimana gadis itu hanya diam saja sambil memalingkan wajahnya ke arah luar jendela dengan pandangannya yang nanar, menahan dagunya pada satu tangan.


Setelah tadi sang gadis menggumam seraya menggerutu dan merutuk, sebelum ia bermuram durja dan termenung sambil menatap jalanan yang dilalui, di luar jendela mobil.


“Val.” panggil pria yang duduk disamping kiri Sony.


Arya.


Yang memanggil si gadis yang sedang termenung itu-yang mana adalah Val, setelah mobil yang dikendarai Sony sudah melaju lumayan jauh dari rumah orang yang membuat Val seolah berubah menjadi gadis yang pendiam.


“Iya, Kak Arya? –“ Val menyahut pada Arya yang sudah setengah miring menengok ke arahnya.


Suara Val memang masih terdengar datar, namun tidak dingin seperti saat gadis itu bicara pada pria yang tadi dibuat membeku dengan kalimatnya, sebelum Sony melajukan mobilnya dari hadapan pria yang adalah Kafeel.


“Maaf nih, yah, bukan Kakak mau ikut campur urusannya Val—“


“Tapi kepo.” Sambar Val yang sudah menampakkan senyumnya sekarang.


“Nah gitu kan enak ngeliatnya, Val ----“ Sony menyambar. “Cakepnya keliatan kalo senyum ...”


“Val cantik dalam keadaan apapun, okay? ...” Val pun menukas dengan ceria ucapan Sony.


“Habis dari tadi cemberut aja.” Kata Sony.


Val pun menarik nafas, dan menghembuskannya dengan nada putus asa.


“Val sangat kesal habisnya pada itu si Kafeel Adiwangsa..” sungut Val.


Val yang sudah menggeser duduknya menjadi ke tengah, dengan tubuh yang ia condongkan sedikit ke depan hingga dekat dengan Sony dan Arya itu, kemudian menopangkan lagi dagunya dengan kedua tangan Val. Membuat Sony yang sedang memberhentikan mobil karena tertahan lampu merah itu akhirnya mengacak gemas rambut Val yang sedang bersungut itu, karena meski bersungut, namun gadis itu nampak imut.


“Iya kenapa gara – garanya?” tanya Arya.


“Dia menceramahi Val di depan sepupunya yang sejak awal Val melihatnya waktu bertemu di R Corp, sudah Val tidak suka ---“


Val pun menjawab pertanyaan Arya.


“Emang Val berbuat apa sih, sampai Kak Kaf ceramahin Val?-“ Gantian Sony yang bertanya pada Val.


Lalu Val pun bercerita pada Sony dan Arya tentang mengapa ia jadi mengabaikan Kafeel sebegitunya.


“Mungkin Kak Kaf belum paham Val banget kali ...” ucap Arya setelah Val selesai bercerita tentang alasannya mengabaikan Kafeel dengan amat sangat, sampai – sampai bersikap begitu dingin pada pria yang paling ia cintai selain para pria dalam keluarga Val.


“Hhh.” Val menghela nafasnya dengan frustasi. “Tapi tetap saja Val tersinggung Kak.” Ucap Val kemudian. “Meski Val cinta mati pada Kak Kafeel, tapi Val tidak terima jika Kak Kafeel seperti itu pada Val. Bagi Val, rasanya harga diri Val itu dijatuhkan di depan itu sepupunya Kak Kafeel yang gatal itu...”


Sony dan Arya pun terkekeh kecil mendengar kalimat terakhir Val.


“Ya udah, daripada Val kesal terus - terusan, mendingan kita hang out kemana gitu?” Sony menggagaskan sebuah ide. “Kebetulan Kakak off duty hari ini.”


“Nah iya bener tuh.” Arya mengaminkan ide sang kakak.


“Tapi kalau Val memang tetap mau kembali ke Kediaman, ya ga apa – apa.”


“Val setuju! –“


Val pun menyambut antusias ide Sony.


“Tapi kemana Kak? ....” sambung Val seraya bertanya.


“Terserah Val aja mau kemana ---“ sambar Arya.


“Heemm ---“


“Ayo cepet kasih keputusan mumpung posisi kita masih di tengah – tengah nih---“


Sony menarik tuas di sebelah kirinya, setelah sampai di sebuah jalanan yang memiliki lampu lalu lintas dimana warna lampunya sedang merah saat ini.


Val masih berpikir.


Sony dan Arya sedang sama – sama menoleh pada Val. Lalu Sony kemudian meluruskan lagi duduknya, karena sudah mengira berapa lama lampu lalu lintas yang merah akan berubah hijau.


Sony segera menyentuh lagi tuas di sebelah kirinya untuk  melajukan mobil yang ia kendarai, karena lampu lalu lintas telah berubah hijau.


“Bagaimana kalau kita menonton di Cinema saja?—“ Val bersuara. “Val sudah lama juga tidak main ke Mall yang ada di sini.”


“Siap Nona Muda ..”


Sony yang menyahut.


“Mau ke Mall ma—“


CIITTTT!!!! ..


“Anjrit!” Sony langsung terdengar mengumpat akibat kaget sampai harus mengerem dengan mendadak mobil yang sedang ia kemudikan itu, disaat Arya tengah hendak bertanya pada Val.

__ADS_1


Val dan Arya juga sama terkejutnya dengan Sony.


Mata ketiga orang yang sedang berada di dalam mobil yang sama itupun spontan melihat ke arah depan, dimana sebuah sepeda motor sport yang tiba – tiba berhenti di depan mobil yang sedang Sony kendarai.


♥♥♥


Sementara itu di tempat lain, dan di waktu sebelumnya


Seorang pria masih membeku di tempatnya, setelah sebuah mobil yang tadi berada dihadapannya itu telah melaju dan kian menjauh dari pandangannya.


“Sehubungan dengan yang tadi anda katakan soal tidak bisa menghubungi saya dan tidak bisa mampir menemui saya nanti malam atau besok, kiranya tolong diteruskan---“


Kepalanya sedang mengingat kejadian yang belum lama terjadi padanya, dimana kalimat panjang seorang gadis cantik yang biasanya tersenyum ceria serta manja menggoda padanya, menjadi berubah 360 derajat.


Seseorang yang biasanya berlaku hangat nan menggemaskan padanya itu, menjadi datar dan begitu dingin sekali padanya.


"Tidak perlu lagi menghubungi saya, karena mulai saat ini kita tidak ada urusan. Dan jangan datang ke Kediaman keluarga saya, jika tidak ada kepentingan lain soal hubungan kerja anda dengan kakak lelaki saya atau dengan para Dads saya---“


Yang mana adalah Kafeel-pria yang masih berdiri di tempatnya itu, meski mobil Sony yang ditumpangi oleh gadis yang beberapa menit lalu berkata datar dan dingin juga sinis padanya-dan gadis itu adalah Val, menatap nanar ke arah dimana mobil Sony telah melaju, meski mobil kakaknya Arya itu sudah tak ada lagi dalam pandangan mata Kafeel.


“Ya ampun Val-“


Kafeel menggumam frustasi.


“Ka-“


Suara yang memanggilnya membuat Kafeel langsung menoleh ke sumber suara.


“Uncle, Aunt-“


Kafeel menyahut pada Uncle Rico yang memanggilnya.


Seraya Kafeel mendekati ayahnya Sony dan Arya itu, yang sudah bersama sang istri berikut ibunda Kafeel.


“Kami pulang dulu ya? Kapan – kapan kami kesini lagi.”


Uncle Rico dan Aunt Shireen berpamitan pada Kafeel.


Kafeel pun mengangguk seraya mengiyakan orang tua Sony dan Arya yang berpamitan padanya, sambil ia menyalim takdzim tangan kedua orang tersebut.


“Iya Uncle, Aunt. Makasih udah nengokin Bunda sama Lena. Dan mohon maaf buat ketidaknyamanan kalian pas lagi main kesini.” Ucap Kafeel. “Lagian Bun-“


Kafeel beralih ke sang Bunda.


“Bukannya Bunda bilang mau ke rumah Tante Sabina? Tapi kenapa mereka ada disini?” sambung Kafeel.


“Nanti Bunda ceritain...” Bundanya Kafeel menyahut


Kafeel mendengus pelan.


“Harusnya Bunda kasih tau, kalau mereka ada. Jadi aku bisa antisipasi. Ga kejadian begini.”


“Ya mana Bunda tau kamu juga mau pulang cepet – cepet dari rumah keluarganya Val?-“ sahut Bunda Magda. “Dateng sama si geulis juga.”


“Tapi kan ga bilang kapan pastinya-“


“Udahh...”


Uncle Rico menyergah ibu dan anak yang jadi adu mulut itu.


“Malah jadi ribut berduaan!” tukas Uncle Rico dan Aunt Shireen tersenyum geli.


Kafeel pun tak lagi mengeluh pada Bundanya, namun ia menghela nafas frustasi, begitu juga wajahnya yang menunjukkan kesan yang sama dengan helaan nafasnya.


“Ya bukan gitu Uncle-“ ucap Kafeel. “Aku sama Rara kan cukup akrab juga. Jadi ya sikapnya itu, ya sebenarnya memang sikap dia yang biasanya ke aku,. Tapi kan kalau aku tau ada Rara disini, aku bisa inget buat ngasih penjelasan ke Val sebelumnya. Karena Val udah keliatan sebel sama si Rara waktu pertama kali ketemu di R Corp...”


Kafeel memberikan penjelasan pada Uncle Rico, termasuk Aunt Shireen.


Wajah Kafeel nampak suram kemudian, sembari ia mendengus kasar selepas berbicara.


“Mana Val jadi begitu lagi sikapnya.” Kafeel mengeluh lagi. Lalu menghela berat lagi nafasnya.


“Eh iya, atuh si geulis beneran pulang sama Sony jeung Arya?...”


“Ya liat aja mobilnya si Sony ada ga?. Val nya ada ga?.” Kafeel menyahut sedikit ketus dan sebal pada sang Bunda.


“Ya kenapa atuh jadi kamunya marah sama Bunda?-“ tukas Bunda Magda.


“Ya bukannya marah, aku bingung Bun. Ya bingung, ya ga enak sama Tante Sabina dan Om Linus dengan sikapnya Val tadi. Ga bisa juga nyalahin Rara dia begitu tadi sama Val. Ya emang Val udah salah kasar duluan. Tapi Val pacar aku sekarang - pacar yang pake perasaan bener – bener, malah ngambek berat gara – gara dinasehatin.”


Uncle Rico dan Aunt Shireen tersenyum selepas mendengar cerocosan Kafeel yang meliputi keluhan, gerutuan campur kesel, sebel dan frustasi.


“Mana horor banget lagi mukanya Val sebelum pergi tadi.” Gumam Kafeel. ‘Ngomongnya pake saya – anda pula!’ Lalu mengeluh dalam hatinya yang jadi frustasi itu gara – gara sikap dan ucapan Val sebelum kekasih kecilnya itu pergi bersama Sony dan Arya.


Kafeel menghembuskan lagi nafas beratnya.


“Aku perasaan ga merasa marahin Val. Tapi dia kenapa begitu banget coba?”


Kafeel menggerutu dengan setengah menggumam.


“Ka...” Uncle Rico meraih bahu Kafeel.


“Ya, Uncle?”


Kafeel menyahut pada Uncle Rico, seraya menoleh ke arah pria paruh baya yang masih nampak gagah dan bugar seperti para Dad nya Val.


“R, itu sering memarahi Val. Bahkan Alva pernah dahsyat memarahi Val bahkan dengan kata – kata tajam dan kejam.” Uncle Rico kemudian berbicara. “Tapi mereka melakukan itu, tidak di depan orang lain ..” lanjut Uncle Rico. “Dalam artian, hanya di depan keluarga mereka saja.”


“Val itu memang lembut hatinya macam Kyara, Ka.” Aunt Shireen ikut berbicara. “Tapi Val keras jika menyangkut prinsipnya .. Dan dia akan menjadi sangat keras kepala jika hal yang menyangkut prinsipnya itu disinggung sebegitunya.”


Uncle Rico menganggukkan kepala, tanda bahwa ia mengaminkan ucapan istrinya. “Dan itu yang sudah kau lakukan tadi Ka .. Kau sudah menyinggung prinsip Val.”


Kafeel memandang pada Uncle Rico yang kembali berbicara itu.

__ADS_1


“Tidak hanya R dan Ara yang terkadang suka memarahi Val, tetapi juga Andrew, Fania dan orang tuanya yang lain .. Jika R cs memarahi Val atau anak – anak mereka yang lain dengan tidak serius, ya kapan dan dimana saja akan dilakukan oleh R dan lainnya pada anak – anak mereka-“


Uncle Rico lanjut berbicara, dan Kafeel serius memperhatikan sekaligus mendengarkan baik – baik setiap ucapan pria yang paling dekat dengan almarhum ayah Kafeel.


“Tapi saat mereka dalam mode serius bahkan hanya sekedar menasehati, hal itu akan dilakukan secara personal, atau dalam lingkup keluarga saja.”


Uncle Rico kini menghadapkan Kafeel padanya, sambil memegang kedua bahu Kafeel dan memandang pada Kafeel.


“Aku tidak menyalahkanmu dalam hal ini, Ka ..” kata Uncle Rico. “Mungkin kau belum memahami Val sepenuhnya ..”


“.......”


“Kau memang tidak memarahinya tadi. Kau hanya menasehatinya, dan aku paham maksudmu.”


Uncle Rico berkata sembari tersenyum tipis.


“Tapi sayangnya, kau menasehatinya di depan beberapa orang yang asing bagi Val. Terlebih, didepan orang yang tidak Val sukai. Dan yaa .. itu sedikit fatal untukmu --”


Uncle Rico menepuk – nepuk bahu Kafeel, yang orangnya kini sudah memelas wajahnya-akibat mencelos hatinya, karena Uncle Rico mengatakan ada efek yang fatal dari apa yang tadi ia perbuat, walau niat Kafeel sebenarnya sih baik.


Bundanya Kafeel jadi memelas juga melihat wajah putra sulungnya yang nampak menjadi muram dan sendu.


“Val memang mencintaimu. Sangat. Kami semua tahu betul tentang itu.” Ucap Uncle Rico lagi. “Tapi meskipun kau orang yang paling Val cintai, tetap dia tidak akan terima jika Val merasa telah dipermalukan-“


“Jadi si AA teh diputusin secara sepihak sama si geulis Val, kitu maksudnya?” celetuk Bunda Magda dengan polosnya. Membuat sang putra menatapnya tak percaya. Dan Bunda Magda pun nyengir kuda, menyadari pandangan si AA yang menyorot rada sebel padanya. “Ya kan Bunda cuma tanya ‘A ..”


“Cuma tanya—“ Kafeel menggerutu.


Uncle Rico dan Aunt Shireen pun terkekeh.


♥♥♥


“Sudah sana, lebih baik kalian masuk-“ ucap Uncle Rico. “Ga enak ninggalin tamu kalian lama-lama.” tambahnya.


“Iya gih.” Tukas Aunt Shireen. “Lagian itu keluarga kamu kan Magda----“


“Kalian juga keluarga kami atuh Shireen.” Sambar Bunda Magda, Uncle Rico dan Aunt Shireen pun tersenyum.


“Iya tetep aja kalian ga jangan ninggalin tamu lama-lama, apalagi dia keluarga kamu yang berjasa sama kamu dan Lena waktu kalian masih tinggal di Malay.” Uncle Rico berucap. “Iya kan? ..”


“Iya sih ..”


Bunda mengiyakan ucapan Uncle Rico.


“Nah ya sudah ----“


Uncle Rico berucap lagi.


“Kalian masuk saja sana, toh kami akan langsung jalan.”


Uncle Rico menepuk-nepuk lengan Kafeel, menyuruh pria yang nampak termangu di tempatnya itu.


“Gih masuk sana temenin Bunda kamu Ka.” kata Uncle Rico.


Namun Kafeel tidak merespon apapun, selain pandangannya nampak nanar.


“Ka?---“


“Maaf, sebentar Uncle ..”


Kafeel mengangkat satu tangannya, dan satu tangan lainnya merogoh salah satu saku celananya. Kemudian Kafeel langsung nampak mengotak – atik ponsel yang telah ia keluarkan dari saku celananya itu. Dan langsung menempelkan ponsel pada telinganya, setelah ia menekan sebuah nomor kontak di tombol panggilan cepat yang sudah tersetting di ponselnya itu.


‘Val, angkat sayang, please ....’


Ah si AA yang jadi tak karuan hatinya, langsung menghubungi nomor kontak ponsel Val.


Namun tak lama kemudian, Kafeel memandangi ponselnya dan mengecek keberadaan sinyal saja. Karena ponsel Kafeel tidak pakai kuota isi ulang.


Panggilannya ke nomor Val berakhir setelah sekali saja nada dering dan setelahnya panggilan Kafeel dialihkan ke kotak suara operator, dimana hal tersebut membuat Kafeel kian gelisah.


‘Ponsel Val kan jarang off, tapi kok ga bisa dihubungi?’


“Kenapa Ka?”


Uncle Rico yang melihat Kafeel sedang terheran – heran itupun bertanya.


“Ini Uncle, aku sulit menghubungi Val----“


Kafeel menyahut, sambil berusaha lagi menghubungi nomor kontak Val.


Uncle Rico kemudian mengeluarkan ponselnya, yang entah kenapa dia penasaran saja ingin mencari tahu jawaban atas hatinya mengenai Kafeel yang sulit menghubungi Val.


“Hello, Uncle---“


Didetik dimana suara yang Kafeel dengar itu keluar dari speaker ponsel Uncle Rico, Kafeel pun langsung ternganga.


‘Kok?-‘ Kafeel bertanya dalam hatinya, lalu mengecek lagi ponselnya. Nampak mengutak – atik kembali ponselnya yang punya program untuk mengetahui status sebuah nomor telepon.


Dan didetik berikutnya ..


‘Ya Tuhaaannn, Vaaaal ----‘


Kafeel melirih dalam hatinya, dimana setelah ia cek dan ricek, nomornya telah diblokir oleh Val.


Selain hatinya mencelos, Kafeel rasa keselek galon aer.


♥♥♥♥♥♥


To be continue ..


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan, walau berdasar rasa kasihan.


Awokwkwkwkwk ..

__ADS_1


__ADS_2