
( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Author’s POV ..
Katakanlah jika orang tua yang tulus menyayangi anaknya, akan mempunyai kontak batin dengan sang anak.
Begitu juga hati yang tertaut atas dasar rasa saling menyayangi antar keluarga.
Jika sesuatu akan terjadi, hal yang kurang atau tidak menyenangkan biasanya, hati akan dibuat resah.
Begitu juga yang terjadi dalam satu keluarga ini, The Adjieran Smith Family. Yang sebelumnya pernah dihantui kegelisahan hebat serta mimpi yang ambigu kemudian gelisah dan mimpi yang ambigu itu terjawab berikut markah – markah yang membuat air mata membanjiri wajah – wajah tiap anggota keluarga serta hati yang sesak menyesak, saat ini kurang lebih sama.
Sedang merasakan sesuatu yang mengganjal, dimana sesuatu yang mengganjal itu tertuju kepada satu anggota keluarga.
Mika.
Dan untuk hati yang dibuat mengganjal itu, The Adjieran Smith Family tidak mau kecolongan lagi.
End of Author’s POV ..
✳✳✳
Di sebuah pulau pribadi ..
Semua rencananya agar bisa putus dari Arya atas dasar keinginannya sendiri yang tidak ingin menari – nari di atas lukanya Val karena mimpi indahnya yang hancur lebur tanpa sisa, berjalan dengan cukup baik di mata Mika.
Iya, menurut Mika.
Karena sejak ia berhasil tampil memukau dengan begitu meyakinkan dengan aksinya yang sudah ia latih sedemikan rupa, keluarganya tak lagi mencampuri urusan percintaannya.
Terutama Abang Varen dan para Daddy.
Namun begitu, kiranya ada yang Mika lupakan.
Atau katakanlah, dia yang tidak ingin mengkhianati Val atas nama saudari, tidak kepikiran soal --- para Daddynya yang menjunjung tinggi kebahagiaan, selain keeratan dalam hubungan keluarga.
Bukan kebahagiaan masing – masing, melainkan kebahagiaan anggota keluarga yang lain, terutama anak – anak mereka.
Dan Abang Varen, sedingin apapun sikapnya --- namun di belakang layar, dia selalu mencari tahu apa yang menjadi kebahagiaan adik – adiknya.
Lalu akan berusaha memujudkan hal yang menjadi keinginan para adik, terlebih jika itu adalah sebuah cita – cita serta membuat bahagia. Termasuk, urusan cinta.
Kisah cintanya dan Drea terbilang mulus saja, meski ya, Varen begitu berusaha keras supaya Drea menjadi milik Varen seutuhnya. Dan juga, cintanya bak gayung bersambut karena Drea pun punya kadar cinta yang sama pada Varen, seperti Varen pada istri merangkap adik angkatnya itu.
Jadi Varen pun ingin para adik mendapatkan juga kisah cinta yang mulus itu. Walau tak menampik, jika takdir setiap orang kiranya berbeda.
Val, contohnya.
Sudah diiyakan Val yang dulu ingin mengejar Kafeel karena mengumumkan jika adik kandung Varen itu telah jatuh cinta pada orang kepercayaan yang telah juga menjadi sahabatnya, bahkan sudah seperti saudara.
Tak ada larangan apalagi pengekangan pada Val yang ingin bersama dengan seorang pria yang lumayan jauh rentang usia. Hingga apa yang Val cita – citakan, bahagia pun terpancar di wajah Val. Meski sering menampakkan wajah sebal, namun Varen selalu menyisipkan senyuman baik di dalam hati ataupun yang tipis di bibirnya, setiap kali melihat wajah Val yang sumringah atas nama cintanya telah tergapai sesuai keinginan Val.
Namun sekejap saja bahagia Val itu, adiknya dapat dan rasakan. Karena setelahnya, bahagia Val menjadi hancur berantakan. Yang berimbas pada kebahagiaan semua orang. Karena pilihan Val, adalah jalan menuju keabadian dimana Val ingin mendahului takdir Tuhan atas umur seseorang dimana sakit di hati Val yang katanya tak tertahan serta dibayangi beban akan rasa bersalahnya pada keluarga.
Untuk hal semacam ini, cukup Val saja yang bahkan melebihi cukup memberikan sesak dan pahit dalam jiwa mereka.
Selain Val yang berbuat nekat karena sakit di hatinya karena seorang Kafeel Adiwangsa yang tak tertahan, Val dianggap melakukan pengorbanan atas nama tidak mau menyusahkan keluarga --- yang menurut Val, jika lukanya karena Kafeel akan dipastikan lama untuk menghilang, atau mungkin tidak akan hilang.
Lalu sedih Val pun tak hilang – hilang, dan keluarganya pasti menanggung beban akan itu.
Kurang lebih begitu, jika dari beberapa pesan surat yang ditinggalkan Val untuk keluarganya.
Padahal seluruh anggota keluarganya siap sekali menanggung beban yang ada sama – sama, tak masalah mau seumur hidup pun Val menyusahkan mereka. Karena Varen dan para anggota keluarganya yang lain, tak pernah menganggap masalah yang ditimbulkan oleh masing – masing anggota keluarga adalah sesuatu beban.
Justru akan menjadi beban perasaan para anggota keluarga lain, jika yang bersangkutan menyimpan masalahnya sendirian --- lalu melakukan kenekatan yang berujung pada yang namanya luka dalam dada.
Contohnya, seperti satu putri ini --- Mika.
Yang rasa solidaritas atas rasa sayang pada saudarinya luar biasa, sampai jauh juga pengorbanannya.
Entah apa yang ada di pikiran Mika, sampai idenya yang dianggap gila oleh keluarga itu ia lakukan.
Yang sama sekali tidak dibenarkan, hingga para Dad dan Abang melakukan tindakan. Keputusan Mika mengorbankan kebahagiaannya sendiri harus dipatahkan.
“Kau tahu, May? Apa yang difokuskan oleh Celine di tempat ini selain obat – obatan?..”
“Eum—‘
“Tech. Bagian dari AV SMART. Ini, contohnya. Polygraph. A.k.a lie detector ( Alias alat pendeteksi kebohongan ) --- Sudah dinyatakan sangat akurat, bukan lagi 99% tapi 100%. Polygraph tercanggih abad ini. Yang mana.. Alat ini, dapat mendeteksi jika kau berbohong hanya lewat sel darahmu saja.“
Yang membuat Mika menegang seketika, menelan saliva dan meringis dalam hati sambil juga spontan menggigit bibir dalamnya. Ditambah,
__ADS_1
“Dimana hasil test kekasihmu ini.. mengenai hubungan kalian, tidak 1% pun menunjukkan kejujuran.”
Daddy Dewa yang menimpali ucapan dari Varen tadi, merangkul partner kebohongannya Mika yang memasang wajah yang seolah bilang,
Sandiwara kita selesai, May.
Felix, yang ingin sekali Mika marahi.
Dan karenanya, Mika semakin tak berkutik.
Namun begitu, Mika juga merutuki dirinya yang terlupa siapa para ayahnya dan kakak tertuanya --- yang punya otak kelewat brilian. Tak boleh disepelekan.
Jadi Mika sadar, dirinya sudah kepedean. Merasa menang, walau perpisahannya dengan Arya pun membuat hatinya terluka.
Kemenangan sesaat saja, karena The Dads dan Abang tetap menjadi juara kalau soal menemukan fakta jika jiwa mereka resah gelisah tapi bukan karena menunggu di sudut sekolah.
Tapi karena insting mereka yang disebut Men of The Adjieran Smith terutama para Dad dan Varen, bukan insting manusia, melainkan insting naga.
Jadi yah, begitulah.
Habislah dia --- hati Mika berbisik disaat Abang Varen – nya itu berkata,
“And now, kita lihat hasil tes darahmu.”
Lalu si abang bertanya,
“Mikaela Finn Adjieran Smith, apa benar kau mencintai Felix Ballamy seperti kau pernah mencintai Arya Narendra?..”
Mika, diam saja. Karena jika dijawab ya, ia sudah rasa percuma.
Darahnya telah diambil tadi, saat dirinya sempat kaget setelah abang Varen – nya itu menyebutkan nama alat yang adalah sebuah alat pendeteksi kebohongan.
Tahu memang Mika tentang alat bernama poligraf itu. Tapi tidak sampai berpikir jika Abang Varen – nya sampai mengembangkan alat tersebut.
Dan jika kakak tertuanya itu sudah iseng mengembangkan satu alat, kecanggihannya bisa meningkat tajam. Saking meningkat dengan tajamnya ya begitu itu --- yang seperti Abang Varen bilang, kalau poligraf hasil pengembangannya itu dapat mendeteksi kebohongan bahkan hanya lewat sel darah.
Dimana jika hanya sebuah poligraf standar yang biasa disediakan pada suatu instansi khusus menangkap para kriminal, Mika rasa bahwa dirinya bisa mengatur denyut jantungnya saat pertanyaan terlontar --- dikala alat itu dihubungkan ke tubuhnya.
Tapi yang ada di hadapan Mika sekarang ini bukan yang standar, hasil pengembangannya seorang Alvarend Aditama Adjieran Smith sungguhlah tidak ada yang hasilnya standar.
Karena si Abang, sel darah aja bisa dijadikan sebagai sesuatu untuk menemukan jawaban.
Sampai hati Mika yang sebal bilang, ‘Abang kenapa sih harus kepinteran?’
Kan Mika jadi gugup maksimal akibat sel darahnya itu, yang mana belum sempat Mika ajak kompromi macam pada Felix kompromi itu ia lakukan dengan membubuhi sedikit ancaman.
✳✳✳
“Kamu layak dapat bintang, May.”
Saat hasil tes kebohongan Mika telah keluar.
“Bintang tiga saja tapi. Belum lima.”
Lalu cibiran menimpali celetukan dari seorang Mom of The Adjieran Smith, terdengar dari suami yang bersangkutan.
Iya, iyaa..
Begitu Mika menyahut dalam hatinya, dimana ia sudah pasrah.
Dimana Mika menduga, ia sudahlah pasti dicecar habis karena berbohong sampai sebegitunya.
Sudah mulai nih. Cibiran satu per satu terlontar dari para anggota keluarga yang sedang bersamanya ini.
“Aku pikir kau dapat menjadi the next Julia Roberts, Angelina Jolie atau Sandra Bullock karena aktingmu sungguh hebat sekali Nona Muda Mikaela Finn Adjieran Smith.”
Sampai satu cibiran yang langsung terlontar dari Daddy yang paling ‘tajam’ mulutnya itu --- Poppa, semakin membuat Mika menundukkan kepalanya.
Ketika hasil tes kebohongan Mika sesuai dengan apa yang Poppa serta Dad lainnya dan sebagian besar keluarga duga.
Walaupun sebenarnya iseng saja tes itu dilakukan oleh para Dad yang ada serta Abang Varen pada Mika, karena saat Mika terlihat kaget setelah melihat poligraf walau sesaat, namun sesaat itu tertangkap dengan cepat oleh mata para naga.
Dan didetik itu mereka sudah meyakini dugaan mereka benar adanya. Yakni, hubungan Mika dengan Felix adalah bagian dari sandiwara saja, yang ceritanya sudah didapat juga dari Felix dengan bulat.
“Apa ini, May?...”
Setelah cibiran – cibiran Mika dapatkan, kini Mika mendapat pertanyaan dengan tatapan yang menampakkan kekecewaan.
Yang mana Mika paham, kalau ia harus memberikan penjelasan. “Aku tidak ingin menikah. Itu saja.”
Mika menjawab ucapan Dad R.
“Kau tidak perlu berkorban sampai sejauh ini, May.“
“Aku tidak berkorban, Dad. Aku hanya menjalankan kewajiban.”
“Omong kosong, May!” Dad R yang menjadi gusar.
__ADS_1
“Terserah Dad R ingin bilang apa, aku tetap pada keputusanku.”
Namun begitu, Mika teguh pendirian.
Seorang Adjieran Smith harus memegang kata – katanya, bukan?..
Jadi ketika Dad R bilang, “Aku akan menghubungi Arya dan bicara padanya tentang semua yang kau lakukan ini, May.“
Mika pun melontarkan jawaban tanpa gentar.
“Silahkan saja Dad lakukan itu, tapi aku pastikan aku akan mengikuti jejak Val...”
Membuat semua orang yang sedang berada bersama Mika itupun, terfokus padanya.
“Tak sulit mendapatkan racun di luar yang setara dengan cairan milik Ann, dan aku sudah memilikinya...”
“Kau terlalu naif, May—“
“Aku tidak peduli, Dad....”
“Val pun tidak akan setuju dengan tindakanmu ini—“
“Biar dia sendiri yang mengatakannya padaku jika memang bisa.”
“Tidak harus seperti ini, May—“
“Tapi aku menginginkannya, Dad...”
Sekeras Dad R menentang, sekeras itu pula Mika bertahan pada ia punya keputusan.
“Kenapa kau keras kepala sekali, Sayaang?—“
“Bukankah para Dadku juga seperti itu? kalian juga keras kepala jika sedang memiliki keinginan bukan?—“
“Kau semakin membuatku merasa jadi ayah yang buruk, May—“
“Dad, dan para orang tuaku yang lain tidak ada yang buruk di mataku. Kalian yang terbaik, dan akan terus seperti itu bagiku. Jadi kumohon, tolong hargai keputusanku.”
Hanya helaan nafas berat, disertai anggukan lemah dari Dad R dan para orang tua yang ada setelah mendengar ucapan yang juga berupa sebuah permintaan dari Mika. “Tapi kau harus berjanji pada kami, May—“
“Apa, Dad?—“
“Jangan menyimpan sendiri, bebanmu dalam hati. Cukup Val...”
“Iya, Dad. Aku berjanji. Apa yang aku rasakan dalam hati, aku akan membaginya dengan kalian.”
✳✳✳
Yang Mika penuhi janji itu, dikala ia telah mencoba menegarkan diri --- tapi gagal kala sesak menyeruak dalam hatinya, ketika kaki Mika memasuki sebuah rumah yang satu penghuninya adalah penghuni utama di hatinya. Meski pun hubungan cinta mereka sudah kandas adanya.
Tapi atas nama dia gerangan yang tetap Mika kunci namanya di dalam hati, sesak pun menyeruak ketika melihat si penghuni hati Mika itu menyematkan sebuah cincin di jari manis gadis lain.
Oh begini ya rasanya sakit hati karena cinta yang kandas?
Yang Mika katakan dalam hati.
Melihat Arya tunangan dengan gadis lain saja sudah pedih begini? Lalu bagaimana Val?
Monolog motivasi pun Mika cetuskan dalam hatinya, untuk membuat kakinya melangkah tegar mendekati mereka yang baru saja saling menyematkan cincin.
Berakting sekali lagi, untuk terlihat baik – baik saja di depan sang penghuni hatinya terutama. Yakni, Arya Narendra. Teriring ucapan, "Selamat ya, Ar."
Dengan Mika mengulurkan tangan, menampakkan senyuman.
Lalu segera undur diri dengan alasan,
“Gue langsung ya, Ar? Felix udah nunggu gue di London.”
Dan Mika hengkang setelah Arya mengiyakan dengan anggukan.
Melangkah anggun hingga sampai di dekat mobil yang Mika tumpangi saat datang, Mika limbung.
“May—“
“Seperih ini ya Dad, ternyata...”
Mika menepati janjinya, tak menyembunyikan perasaan sedihnya.
Menangis di pelukan Dad R yang menyusulnya. “Aku dan orang tuamu yang lain sudah memperingatimu, bukan?”
“Iya, Dad... tak apa. Luka ini aku yang buat sendiri. Jadi akan aku nikmati,” ucap Mika dengan lirih. Namun begitu ia masih sempat terkekeh. Walau getir memang kekehan Mika itu. “Tenang saja Dad, aku tidak akan mencoba bunuh diri.”
Mika berkata lagi, berguyon garing disela hatinya yang merasakan getir. Membuat Dad R menguatkan rengkuhannya pada Mika yang lagi berkata,
“Luka yang aku buat sendiri ini, seperih apapun... akan aku nikmati...”
✳✳✳✳✳✳
__ADS_1
To be continue..