
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Mimpiku ia bunuh mati. Duka, ia buat menjalar di setiap relung hati ini. Sesak menyesak dalam dada, hatiku bukan lagi patah jadi dua tapi remuk dalam serpihan yang tak terhitung jumlahnya. Duniaku bukan lagi hancur lebur, tapi luluh lantak.”
-Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith-
💔
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,
“Ada apa, Hon?...”
“Dad... ada apa... Val, kenapa?...”
“Ada apa R??... Ada apa??...”
“Val, kenapa... Kak?...”
Adalah pertanyaan yang terulang lagi setelah sebelum pertanyaan-pertanyaan tersebut tercetus secara spontan dikala yang bertanya berhambur ke tempat Val yang berteriak histeris di pelataran teras mansion utama The Adjieran Smith yang berada di London.
Yang kemudian dijawab oleh Dad R dengan lirih, ketika Val tak sadarkan diri.
Lalu perih yang sebelumnya Dad R rasakan sendiri atas keadaan Val, kini telah menulari hati mereka yang telah mendengar penjelasan Dad R. Berikut pertanyaan, “Kenapa Kaka setega ini?...”
“Tidak perlu diratapi.”
Itu yang Dad R katakan.
Nampak tegas, namun mata Dad R memerah.
Yang kemudian dipanggilnya satu bodyguard untuk ia berikan tugas.
“Cari tahu dimana Kafeel Adiwangsa sekarang,” ucap Dad R.
Dan bodyguard yang Dad R berikan tugas itu, pergi dari hadapannya dan semua yang sedang bersama ayah kandung Val dan Varen itu.
💔
“Pertama, aku tegaskan. Mulai hari ini aku dan keluargaku termasuk putriku yang kau sakiti dengan sangat itu, sudah tidak ada lagi hubungan denganmu ataupun keluargamu...”
Dad R berbicara dengan ponsel yang ia pegang dan tertempel di telinganya.
Sedang berbicara pada orang yang tadi Dad R minta beberapa bodyguard untuk mencari keberadaan orang tersebut.
Karena bukan persoalan sulit untuk mencari keberadaan seseorang dengan cepat bagi Dad R ataupun para Dad lainnya.
Apalagi orang tersebut belum lama meninggalkan mansion mereka, dengan menggoreskan luka pada seorang Valera.
Luka yang pada akhirnya menular dengan cepat di hati Dad R dan lainnya, ketika Val terlihat menjadi begitu hancur.
“Kedua, menjauh dari kami, menjauh dari Val jika hatinya tidak bisa kau perbaiki lagi. Jika kesalahan fatalmu tidak bisa kau tebus pada kami dengan segera.”
Kafeel Adiwangsa, yang ditemukan beberapa bodyguard berada di tempat penyewaan mobil untuk mengembalikan mobil yang tadi ia gunakan ke tempat Kafeel menggoreskan luka yang dalam. Yang informasi Dad R terima, membuat Dad R meminta Kafeel untuk bicara padanya melalui ponsel satu bodyguard yang ditugaskan untuk mencari keberadaan Kafeel.
Mendengarkan, lebih tepatnya.
“Ketiga, untuk semua hal baik yang pernah kami lakukan untukmu, balas budimu yang aku minta sekarang.”
Keputusan yang sudah Dad R tegaskan untuk si pria pembuat luka di hati Val kesayangannya dan keluarga itu.
“Hal ini cukup keluargaku dan keluargamu yang mengetahui.”
Pembicaraan masih Dad R yang mendominasi.
“Pernikahanmu dan Val yang tidak jadi, biar menjadi kebungkaman antara keluargaku dan keluargamu dalam arti sampai hari dimana pernikahan itu seharusnya terjadi, pembatalan pernikahan itu tak perlu ada pihak luar yang tahu. Termasuk Rico dan keluarganya.”
Karena Kafeel tak Dad R berikan kesempatan untuk bicara.
“Setelah ini baik kau dan keluargamu, jangan lagi muncul dihadapan kami atau aku tidak akan segan melakukan kekerasan baik padamu ataupun pada ibu dan adikmu.” Dad R menekankan. “Apa kau mengerti, Kafeel Adiwangsa?”
“Aku, mengerti, Dad---“
“Kau orang lain bagiku sekarang,” tukas Dad R.
“Maaf, aku lancang... Tak tahu diri dengan masih menyebut 'Dad' padamu...”
Kafeel menyahut dari ujung telepon. Menjeda sejenak ucapannya. Menekan tenggorokan, agar cekat terlewat lalu kembali berbicara.
“Aku, mengerti... Tuan Moreno Aditama Smith.”
Klik.
Sambungan telepon Dad R matikan, tanpa lagi mengucap sepatah kata pada Kafeel di seberang telepon sana.
“Kita dan Kafeel Adiwangsa, sudah selesai.”
Keputusan Dad R, dimana semua orang diam.
Menerima saja keputusan satu alfa dari dua dalam keluarga.
Yang tetap tampak tegas seperti biasa, namun masing-masing paham jika satu alfa itu sedang menekan kekecewaannya.
Lalu satu alfa lain menggeram tertahan setelah ia datang setelah sang istri menghubungi untuk segera pulang ke mansion utama.
Setelah ia dengar cerita tentang apa yang sudah terjadi di mansion ketika dirinya sedang tidak di tempat, lalu datang dan menemukan semua anggota keluarganya yang berada di mansion berwajah sembab.
Kekhawatiran satu alfa itu melanda ketika pemandangan itu yang ia dapatkan. Melihat wajah-wajah sembab nampak putus asa, dan Dad R yang ia lihat wajahnya begitu tegang. Kemudian kekhawatiran berganti amarah yang menggumpal dalam dada satu alfa itu, setelah ia mendengar apa yang kiranya terjadi.
Terlebih Val sampai tidak sadarkan diri, dengan wajah yang lebih dari sekedar sembab. Atas apa yang Kafeel Adiwangsa, dia sang alfa yang dominan juga --- Poppa, meradang.
“Dimana si brengsek itu sekarang?”
Poppa tanyakan keberadaan Kafeel dengan tangannya yang mengepal kuat.
“Let me give him a big lesson for this ( Biarkan aku yang memberikan pelajaran besar padanya atas ini )” Lalu satu Dad yang rahangnya mengeras itu pun bersuara juga.
Layaknya Poppa, Papa Lucca pun digelung amarah. Tak terima, satu putrinya diberikan luka dengan parahnya.
💔
“Tidak perlu melakukan apapun padanya---“
“Tidak bisa---“
“Aku sudah memberikan peringatan keras padanya." Dad R menukas sergahan Poppa.
__ADS_1
“Baik, aku tambahkan jika begitu. Kuharamkan kalian semua menyebut namanya lagi di keluarga ini.”
Lalu Poppa mencetuskan penegasan.
“Sampai dia bisa menebus kesalahannya pada keluarga ini, terlebih pada Val. Dia... Kafeel Adiwangsa... Jangan pernah lagi kita sebut namanya...“
Poppa kembali menegaskan.
“Haram.”
Poppa menutup ucapannya. Datar, namun tajam. Lalu menghela nafasnya panjang.
Ada amarah yang masih menggumpal di dada Poppa, namun getir kembali ia rasa ketika melihat putri termanja dalam keluarga begitu tidak berdayanya.
Bahkan dalam ketidaksadarannya pun, luka di hati Val begitu kentara di wajahnya.
“Apa keluarga di Jakarta sudah mendengar hal ini?”
Papa Lucca bertanya kemudian. Dad R menggeleng samar. “Nanti saja, aku akan datang ke Jakarta untuk menceritakan hal ini pada mereka.”
Dad R bersuara untuk menjawab kemudian.
Anggukan samar dari mereka yang ada bersamanya pun terlihat mengiyakan.
Memahami perasaan Dad R, selain memang --- semua sama berpendapat, jika pembicaraan lewat telepon untuk sebuah permasalahan dalam keluarga kurang layak untuk dilakukan.
Lebih baik tatap muka. Sekaligus, dengan seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali. Namun hanya keluarga inti. Biar Dad R yang menyampaikan sendiri informasi yang membuat miris hati ini.
Karena bagaimanapun, untuk Val, Dad R juga Mommy Ara yang wajahnya nampak sembab dalam pelukan sang suami --- punya hak lebih atas Val.
Saat ini yang terpenting adalah menghibur Val dulu saat dara yang sedang terluka itu siuman nanti.
💔
Menghibur Val saat dara itu siuman dari ketidaksadarannya atas rasa tertekan dari kenyataan kandasnya hubungan dan harapan serta mimpi indah Val untuk hidup bersama Kafeel dalam mahligai pernikahan sebelum hal itu terwujud, nyatanya tidak sempat dilakukan.
Saat bangun dari pingsannya, Val bak orang linglung karena menolak kenyataan pahit atas hubungannya dan Kafeel yang kandas. Lalu tamparan dari Dad R terpaksa dilayangkan untuk menyadarkan Val dari kehisterisan.
Berakhir, dengan Val yang meluruh. Menangis pilu.
Tak sempat untuk menghibur Val memang, karena setelahnya, dara itu tahu-tahu mengatakan jika dia akan pergi ke Jakarta untuk menemui Kafeel. Yang membuat semua orang di tempat yang sama dengan Val berkesah lirih dalam hati mereka. Ingin disergah, namun Dad R keburu bicara.
“Biarkan gadis keras kepala itu pergi dan memastikan sendiri. Kalau Kafeel Adiwangsa sudah memilih jalannya... Dimana di jalan itu, bukan dirinya yang Kafeel Adiwangsa hampiri... Jadi biarkan... Biarkan dia pergi... Agar dia bisa melihat sendiri, sampai dia yakin... Jika mimpi indahnya yang telah Kafeel Adiwangsa bunuh mati, bukanlah sebuah mimpi...”
Yang Val tanggapi dengan senyuman manis memandangi sang Daddy kandungnya. “Terima kasih sudah mengijinkan Val menyusul Kak Kafeel...”
Lalu Val salim dengan takdzim tangan Dad R, begitu juga Mommy Ara dan orang tuanya yang lain.
Berikut dua nenek dan satu kakek yang memeluk Val erat dan dalam.
“Doakan semua akan baik – baik saja setelah Val bertemu Kak Kafeel di Jakarta nanti ya, Gappa?...”
“Tentu, sayang... ten-tu...” sahut Gappa yang menarik sudut bibirnya. “Aku tidak pernah berhenti berdoa untuk kebahagiaan cucu-cucuku,” ucap Gappa lagi dengan getir yang ia tahan, Gappa tutupi dengan senyumannya pada Val.
Satu cucunya itu sedang terluka sekali, jadi lebih baik dibesarkan dulu hatinya.
“Doakan semua akan kembali seperti semula, hubungan Val dan Kak Kafeel.“
Yang Gappa iyakan dengan anggukan berikut senyumannya pada Val. Namun masih tetap menahan getirnya atas sikap Val yang nampak masih berharap betul pada Kafeel.
💔
Memang seperti itu adanya.
Yang membuat Rery, Ann dan Mika tersenyum getir kala di dalam pesawat pribadi milik keluarga mereka yang sedang ditumpangi menuju Jakarta itu --- yang dapat pergi kemanapun dan kapanpun tanpa sulit atas nama besar dan kekuatan nama keluarga mereka, kemudian mengatakan,
“Kalaupun ini bukan mimpi, kemungkinan Kak Kafeel membuat pranknya sendiri untuk aku diluar sepengetahuan kalian.”
Dengan suara Val yang parau, namun seutas senyuman terulas di bibir Val.
“Atau mungkin, aku membuat kesalahan, jadi Kak Kafeel marah, lalu emosi sesaat. Bisa saja seperti itu, bukan?"
Val berucap lagi.
“Namanya juga orang mau sebentar lagi menikah, kan ada saja ya, cobaannya untuk menguji perasaan masing-masing?”
Yang Rery, Ann dan Mika iyakan saja, semata-mata agar tenang itu satu saudari mereka yang rasanya sulit sekali menerima kenyataan pahit kandasnya kisah dengan sang pemilik hati.
Toh dengan kondisi Val yang masih seperti ini, menyergah ucapannya pun percuma.
Karena sekali lagi, Val nampak menolak kenyataan.
💔
Bertahan,
Val bertahan dengan harapannya jika bisa saja Kafeel sedang emosi atas Val yang membuat kesalahan yang Kak Kafeelnya tak sukai, hingga sesaat emosi menguasai, lalu tercetuslah ‘undur diri’.
Kalau memang seperti itu, Val maafkan Kak Kafeel tercintanya itu. Meski, emosi sesaat sang pemilik hati Val --- meremat hatinya. Tak apa asal Val selalu bisa bersama dengan Kak Kafeelnya.
Begitu, hati dan otak Val berujar.
Atas dasar cinta yang begitu besarnya, asa yang begitu tingginya.
Pada seorang Kafeel Adiwangsa.
Hingga kenaifan, meraja dalam diri Val.
Habis mau bagaimana? Val terlalu cinta pada pria bernama Kafeel Adiwangsa itu.
💔
Namun...
Harap tinggal harap, mimpi tinggal mimpi.
Sakit dan pilu merambat di hati Val lagi, kala kenyataan yang ia tolak adalah benar terjadi.
Bahkan, sakitnya bak disiram air garam.
Pedih.
Kala mimpinya benar-benar dibunuh mati.
“Saya terima nikah dan kawinnya Maura Cahyani binti Alam Yovan dengan mas kawin tersebut tunai.”
“Kak Kafeel... Kenapa kejam sekali?---“
BRUK!
💔
Saat mimpi tak dapat diraih, dikala cinta telah beralih dengan cara yang begitu pedih --- sedih itu tak berkesudahan rasanya.
__ADS_1
Val sudah tidak menangis meraung lagi, namun diamnya justru membuat orang – orang yang menyayanginya tidak tenang. Val terlalu diam untuk seorang Valera yang berisik biasanya.
“Val, mau makan apa?---“
“Hey, Valera Aditama Adjieran Smith, jika kau seperti ini terus, akan kami bekukan semua kartu kreditmu lalu katakan selamat tinggal pada shopping cantik yang menjadi hobimu itu.”
“Ulat bulu, jalan – jalan yuk?”
Seperti itu, mereka yang menyayangi Val mencoba mengajaknya berinteraksi. Hanya saja nihil, Val tidak merespon sama sekali.
Val hanya duduk terdiam dengan pandangan kosong, dan sesekali air matanya mengalir ke pipi yang nampak lebih pucat dari biasanya.
Keluarga Val, pilu melihatnya.
💔
Tak ada usaha yang tidak membuahkan hasil, selain doa agar Val yang dulu bisa kembali. Setidaknya, satu kesayangan keluarga itu mau bicara, tak lagi terdiam bak patung tanpa jiwa.
“Val, ingin makan malam bersama kalian nanti, boleh?...”
Oh Val, sebaris itu saja dia bicara, seluruh keluarganya tersenyum sangat lebar.
“Yang lalu biar berlalu ya, Val?”
Dimana ucapan itu diangguki dan disenyumi saja oleh Val.
Walau anggukan itu samar, walau senyuman itu sangatlah tipis adanya. Tak mengapa, masih banyak waktu untuk membuat senyuman sangat tipis Val menjadi kembali lebar.
“Allah ga akan kasih cobaan diluar batas kesabaran hambanya, sayang,” ucapan Ene Bela yang kembali diangguki dan disenyumi saja oleh Val.
‘Tapi ini sudah jauh di atas batas kemampuan Val, Nek...’ Namun hati Val berucap. ‘Sakitnya tidak hilang – hilang... Val... Tak tahan...’
💔
“Daddy, Val boleh meminta sesuatu?---“
“Nyawaku jika bisa pun akan aku beri, baby---“
“Tidak mau... Nanti aku tidak punya Daddy, Mom Peri tidak punya suami, pasti Mom sedih sekali---“
“Daddy, bisa tidak buatkan taman tulip merah di halaman tempat semua balkon kamar menghadap?”
“Itu saja permintaanmu?---“
“Iya, itu saja, Dad---“
“Bisa tidak, Dad?... Kecil saja tidak mengapa.”
“Iya akan aku buatkan---“
“Terima kasih, Daddy...”
“Tapi kau harus berjanji satu hal padaku.”
“Apa itu, Daddy?”
“Kau aku larang untuk bersedih lagi---“
“Iya, Daddy... Val berjanji, tidak akan bersedih lagi. Val berjanji tidak akan menangis lagi...”
“Aku dan Mom Peri pegang janjimu, ulat bulu.”
“Dad juga harus berjanji, kalau apapun yang terjadi, Dad, harus buatkan taman tulip merah yang aku minta pada Dad tadi---“
“Iya, aku berjanji. Aku dan seluruh keluarga, akan bergotong royong kalau perlu untuk membuatkan taman tulip merah seperti keinginanmu itu dengan tangan kami sendiri.”
💔
The Great Mansion of Adjieran Smith, London, England,
Dia yang sedang mengingat percakapan dengan salah satu kesayangan.
“Sudah Dad penuhi janji Dad padamu...”
Dad R.
Yang sedang berdiri menatap sebuah taman dengan bunga tulip merah secara keseluruhan di dalamnya.
“Taman tulip merah yang kau inginkan sudah jadi... Bahkan bunganya pun dipesan secara khusus, agar semuanya merekah di hari ini.”
Dad R bicara lagi.
“Apa kau menyukainya?...”
Ada senyum tipis yang terulas di bibir Dad R kemudian.
“Happy birthday... Baby...”
Namun dua jari Dad R menekan pelan dua sudut matanya.
“Dad sungguh rindu --- kau... merepotkan Dad lagi...”
Ada cekat yang menjeda ucapan Dad R.
“Dad...”
Sebuah suara membuat Dad R, sekali lagi menekan pelan sudut matanya.
“Ya?...”
“Anginnya sudah mulai kencang dari tadi, nanti Dad sakit bila berdiri lebih lama lagi di sini...”
“Iya, sebentar lagi aku masuk.”
“......”
“Aku sedang membayangkan, dia sedang menari – nari di sana ---“
“......”
“Aku sedang membayangkan bagaimana dia tertawa, diantara bunga-bunga tulip merah favoritnya... Pasti dia akan berlompat dan memekik kegirangan dengan suara nyaringnya yang tidak indah itu ---“
Dad R terkekeh dengan air mata menggenang.
“Bisa tidak ya, Boy?... Bisa tidak?... Aku melihat dan mendengar tawanya lagi?... Mendengar suara cemprengnya yang kadang membuatku sakit telinga itu?... Karena jika bisa, sungguh... Bila setelah itu aku menjadi tuli selamanya pun tak apa... Asal aku bisa mendengar suaranya lagi, mendengar Val kecilku tertawa lagi... Bisa... Tidak?...”
Dad R, luruh.
💔💔💔💔💔
__ADS_1
To be continue......