
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris,
“Kapan kita akan pergi ke Jakarta, Dads?” Ada Val yang kepo saat ia dan tiga pasang orang tua berikut dua saudari dan satu saudara lelakinya sedang makan siang di luar.
“Habiskan dulu makanan yang ada di dalam mulut kamu, Val.” Mommy Ara menegur Val kemudian, yang orangnya langsung nyengir kuda.
“Sorry,“ ucap Val kemudian, setelah ia menelan makanan yang ada di mulutnya.
“Why Arya not join us ( Kenapa Arya tidak bergabung dengan kita sekarang ), May?”
“Arya masih sibuk menyesuaikan pekerjaannya di WITECH, Papa,” jawab Mika yang ditanya Papa Lucca.
Papa Lucca pun manggut-manggut.
“Kau berbangga hatilah padanya, May. Karena dia tidak meminta kami untuk membuatnya mendapatkan posisi bagus disana dengan memanfaatkan nama besar keluarga kita.”
“Iya, Poppa –“
“Kau sudah mengatakan padanya tawaran kami agar dia lebih baik tinggal di Mansion kita saja daripada dia harus menyewa apartemen sendiri?”
Dad R bertanya, dan Mika menggeleng. “Belum, Dad,” jawab Mika kemudian. “Tapi bukannya Dads sudah bertanya padanya soal itu?...”
“Sudah memang, tapi hanya sepintas lalu –“
“Mungkin Arya lupa, ingatkan saja lagi, May –“
“Daripada salarynya ia gunakan untuk membayar sewa apartemen, lebih baik dia gunakan untuk menabung sebagai modal jika ia sudah siap melamarmu nanti?...”
“Aish, Papa... aku belum memikirkan soal itu lah –“
“Tapi Papa Ghost bener soal – mendingan si Arya pake uang gajinya buat ditabung...”
Momma ikut berkomentar.
“Dah lah dia ga mau terima Penthouse yang kita tawarin buat dia juga –“
“Nah iya itu. Macam Kaka dulu waktu Abang ingin memberikannya Penthousenya sekarang dengan cuma-Cuma, tapi susah banget bujuknya...”
“Tapi kan Abang berhasil membujuk Kak Kafeel untuk menerima Penthouse itu, Mom?...”
Val menimpali ucapan Mommy Ara.
“Ya, tetapi dia tetap tidak mau menerimanya secara gratis.”
Poppa berujar.
“Maka bersyukurlah kalian berdua...”
Dad R bersuara, menunjuk pada Val dan Mika.
“Jika pasangan kalian bukanlah para pria Gold Digger yang memanfaatkan perasaan kalian untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang mudah –“
“Macam kalian para Dads akan membiarkan saja kami dekat dengan pria-pria seperti itu?...”
“Iya,” Mika menimpali ucapan Val yang menukas ucapan Dad R. “Yang ada mereka sudah kalian buat menjadi tidak jelas hidupnya.”
Dad R berikut lima orang tua lainnya serta Rery dan Ann pun tersenyum geli.
“Jadi kapan kita akan berangkat ke Indo?” Val mengulang pertanyaannya yang tadi.
“Gatal sekali kau, heh? Ingin bertemu dengan Kak Kafeelmu? –“
“Huu Dad R, macam tidak pernah merasakan dimabuk cinta saja?”
Mereka yang sedang makan siang santai itupun terkekeh bersama lagi.
“We will go to Indo on the day after tomorrow ( Kita akan pergi ke Indo besok lusa )”
Papa Lucca kemudian menjawab pertanyaan Val.
“Okay, Papa..“
__ADS_1
Lalu makan siang tiga pasang orang tua dan empat anak mereka itu pun berlanjut dengan mengobrol santai yang disertai canda.
“Oh iya Dads,” cetus Val. “Apakah waktu Kak Kafeel mengantarku hingga kesini, Kak Kafeel ada membahas kepastian kapan dia mau menikahiku begitu? –“
“Sungguh putrimu yang ini gatal sekali, Ibu Peri –“
“Well, dia termasuk satu diantara buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya bukan? –“
“Hahaha!” Dimana celotehan Mommy Ara disambut dengan gelakan mereka yang merasa geli atas ucapan Mommy Ara yang sudah pasti ditujukan untuk Dad R
Sampai tiba saat acara makan siang santai itu selesai, dan sepuluh orang tersebut saling memisahkan diri untuk melanjutkan aktifitas mereka masing-masing.
♥
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
“Si Gadis asal ada si Ommar demen banget nempel sama itu orang? ...”
Itu Mami Prita yang berkomentar.
“Disangka Poppa itu, soalnya sama licinnya kan kepala Uncle Ommar sama Bos Utamanya.”
Dan sahutan julid keluar dari mulut Varen yang membuat Mami Prita cekikikan.
“Ngomong-ngomong Mami dari mana mau kemana? ... cetar banget perasaan? ...”
Ada Andrea yang baru saja tiba dari lantai atas dan langsung berkomentar setelah melihat penampilan Mami Prita yang bagian rambut dan wajahnya nampak sudah terkena touch-up MUA.
Lalu beberapa orang dengan menggeret sebuah tiang baju beroda berikut beberapa gaun yang tergantung, datang dari arah pintu utama KUJ Adjieran Smith tersebut.
Yang orang-orang tim wardrobe itu langsung memberikan sapaan sopan pada tiga orang pemilik rumah megah nan mewah seantero Jekardah itu, dan dibalas dengan santunnya oleh Mami Prita, Varen dan Andrea.
“Wardrobe buat siapa ini? –“
“Mami lah! –“
“Widih, mau menghadiri acara apa emang, Mih?”
Andrea berujar seraya bertanya.
“Wadidaw!” seru Andrea, lalu tersenyum lebar.
“Dah ah, Mami mau cek itu gaun-gaun yang dibawain sama Kiki and team...”
“Ah, Drea ikut ah, siapa tahu ada yang cuco buat Drea?” cetus Andrea. “Bebeb Abang, ga kemana-mana kan lagi kan?”
“Engga, Little Star.”
“Titip Putra ya?” tutur Andrea.
Varen pun mengangguk.
“Love you Bebeb Abang.”
Cup.
Satu kecupan Andrea layangkan di pipi Varen.
“Love you more, Little Star,” balas Varen mesra.
♥
“Halo? Assalamu’alaikum, Papih!”
Mami Prita sedang berbicara melalui ponselnya setelah acara memilah – milih pakaian bersama Andrea dan digerecoki juga oleh si bontot ga jadi, Aina.
“Papih udah dimana?...”
Mami Prita terdengar bertanya pada Papi John yang ada di seberang sambungan teleponnya.
“Hah?!”
“.........”
“Jangan becanda ah Pih, ah. Serius ini aku tanya.”
__ADS_1
“.........”
“Ih, Papih gimana sih?! Aku udah prepare abis-abisan ini????”
“.........”
“Ya Allah Pih, aku udah perawatan dari ujung rambut sampe ujung kaki ini biar glowing maksimal! Pipi udah dimenor – menorin, alis udah dilempeng – lempengin, bibir udah dimerah – merahin segala pake jasa MUA, udah cakep pake banget masa Papih batalin acara kita???!!!----“
♥
“Selamat datang Tuan, Nyonya, Tuan Muda, Nona Muda ...”
Beberapa hari berselang, mereka yang berdomisili di London telah tiba di kediaman.
“Bagaimana kabarmu, Pram?-“
“Baik, Tuan Besar Anthony.”
“Kami masuk dulu, Pram ...” ucap Poppa setelahnya.
Salah satu pengurus kediaman pun mempersilahkan para tuannya itu.
♥
“Ululu cucunya ciapa ini?----“
“Om-ma-ma-ma.” Demikian cerocos seorang batita saat salah satu nenek cantiknya datang dan langsung menghampiri batita perempuan menggemaskan yang sedang digendong kakek kandungnya itu.
“Putra mana?----“
“Ada di dalam sedang menggerecoki para omnya yang sedang main game ...”
♥
“Wow, Papi, famous ya sekarang?----“
“Ya dong, ga sia-sia ngekepin cewek-cewek muda kemaren----“
“Apa sih kamu, Mih?----“
“Ya bener kan saking asik dikerumunin itu cewek-cewek para Miss Kecantikan sampe kamu bikin aku macam orang bego disini?”
Didetik dimana dia yang rasanya sedang disindir oleh Mami Prita itu langsung menoleh agak serius pada si Mami.
Sementara mereka yang diantara dua orang yang seperti sedang perang dingin itu kemudian saling terdiam memperhatikan dua orang tersebut, Mami Prita dan Papi John.
“Ga usah seperti itu banget, macam anak kecil aja hal seperti itu kamu besar-besarkan.”
Lalu Papi John melengos malas dan kembali menatap televisi sambil setengah menggeleng.
“Eh, perempuan yang kamu bilang kayak anak kecil ini udah nemenin kamu selama berapa tahun, hah? Tapi kamu malah keenakan ngabisin waktu sama itu para miss-miss kecantikan----“
“Siapa yang menghabiskan waktu dengan mereka sih?!” agak nyolot Papi John ya Bun. “Aku itu ada disana karena aku termasuk sponsor mereka, dan kemarin aku lupa kalau ada jadwal acara itu, karena petinggi-petinggi sponsor yang lain turut hadir disana.”
“Halah!”
“Prita, please ya?” tukas Papi John. “Lagipula kenapa harus dibahas disini sih soal itu? ga lihat ini semua orang sedang kumpul? Ga malu bersikap mengalahkan anak-anak kekanakkannya kamu kalo begini?”
Mami Prita terdiam.
“Kalau aku mau nakal, ga usah menunggu kamu hamil Aro dan Isha untuk main-main sama perempuan-perempuan di luar sana. Capek aku dengerin sindiran kamu terus soal itu----“
“Fine, aku ga akan bahas lagi. Sekaligus ga akan urusin urusan kamu lagi. Jangan juga kamu urusin urusan aku----“
“Terserah!”
Papi John bangkit dari tempatnya.
Sementara para penonton yang ada diam seribu bahasa. Bingung mau nengahinnya gimana.
“Waduh, Sha, ada bau-bau kita bakal terpisah ga nih?” bisik Aro pada saudara kembarnya yang kebetulan adalah salah satu penonton pertengkaran kedua orang tuanya.
♥
To be continue.......
__ADS_1