HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
MENOLONG DENGAN LOGIKA


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Apa yang dipandang dengan mata, belum tentu itu kebenarannya.


Kalimat itu benar-benar mengena untuk seorang Arya Narendra saat ini.


Gadis cantik yang ia kenal angkuh dan judes serta tukang pamer di medsos itu, kenyataannya adalah pribadi yang berbeda dari apa yang terlihat oleh matanya selama ini.


Memang gadis bernama lengkap Mikaela Finn Adjieran Smith itu tidak angkuh sampai merendahkan derajat orang lain, namun Mika dikenal dengan gaya hidup hedonnya yang selalu ia bagi di medsos, dari mulai tempat-tempat mewah yang ia kunjungi dari sekedar membeli camilan saja, atau pamer barang-barang branded luar biasa mahal yang dibelinya.


Tapi ternyata, itu hanya kamuflase saja. Mika membuat dirinya terlihat negatif diluaran, namun pada kenyataannya dia begitu positif serta mulia hatinya. Yah, meski memang judesnya sih iya, dengan mulut nyinyirnya. Bahkan pada para saudara-saudarinyapun Mika tidak segan judes dan nyinyir jika memang ia memiliki pendapatnya sendiri dalam menanggapi suatu hal.



“Lo tau Ya’?.. Diantara semua orang di keluarga The Adjieran Smith, Mika yang paling aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Mika bahkan sering jadi relawan yang rela datang ke tempat bencana alam dan sebagainya. Tapi ga satupun hal mulia yang si judes itu lakukan, dia posting dimedsosnya.”


Arya tersenyum miris, selepas mendengar penuturan Kafeel.


“Baru ini gue merasa, kalau gue benar-benar malu hati....“ sahut Arya.


Kafeel tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Arya. “Terkadang mata bisa salah, Bro.”


“Yup!. Dan mata gue sangat salah selama ini melihat Mika, Kak.” sahut Arya lagi. ‘Asli kena mental gue!’


Arya membatin penuh penyesalan, selain ia benar-benar rasanya malu hati pada Mika saat ini.


Mika yang tadi sempat blak-blakan ia katai karena tidak mau memberikan uang kepada peminta-minta karena berpikir Mika ogah bersentuhan dengan orang yang jauh dari padanan kelas sosialnya, nyatanya dengan santainya merangkul seorang wanita tunawisma yang lusuh bahkan kusam dan berkeringat dengan aroma kurang sedap yang menguar dari dalam tubuh wanita tersebut.


Memberikan wanita itu dan dua balitanya makan.


Dan bahkan luar biasanya, Mika mencarikan ibu tunawisma dan dua balitanya itu tempat tinggal, walau hanya sebuah kontrakan petakan, yang Mika bahkan lunasi sampai satu tahun ke depan.


Tidak hanya itu, Mika menugaskan beberapa orangnya untuk membelikan barang-barang untuk mengisi rumah kontrakan si ibu tunawisma yang ia tolong, terutama tempat tidur agar si ibu tersebut dan balitanya dapat beristirahat dengan nyaman.


Sungguh Arya jadi salut pada Mika sekarang. Sebaik dan setotalitas itu ternyata si gadis judes itu dalam menolong orang yang dia kehendaki.


Alih-alih jijik, Mika nampak santai dan penuh kasih merangkul si ibu tunawisma sambil tersenyum dan mengusap-usap lengan ibu tersebut yang memeluknya sambil tersedu sedan saking ibu tersebut begitu terharu dan berterima kasih atas apa yang Mika lakukan dan berikan padanya.


Tanpa peduli jika aroma tubuh si ibu tunawisma yang kurang sedap itu akan menempel di pakaian Mika yang harganya jutaan rupiah itu per potongnya. Arya jadi sering sekali menggelengkan kepala dan menggigit bibirnya, namun Arya tersenyum kemudian. Sambil hatinya terus berkata, ‘Asli gue malu sama Mika!’, sambil Arya terus memperhatikan Mika dengan seksama.


Tambah lagi, tadi Bram mengatakan padanya,


“Nona Mikaela itu tadi ga mau kasih tukang minta-minta yang mengetuk kaca mobil disampingnya, Tuan Arya. Nona Mikaela hanya menilai jika laki-laki itu masih segar bugar, walaupun nampak lusuh. Tapi, selebihnya masih sehat. Yang mana mungkin Nona Mikaela berpikir, laki-laki itu harusnya bisa bekerja daripada mengemis. Dan lagi ya, kalau Tuan Arya mau tau, sebelum tadi dia ngetuk kaca mobil kita, dia masih duduk ngerokok santai di warung pinggir kali. Dan kebetulan saya liat juga. Yah memang ga pantes buat dikasih uang itu orang.”



Bagaimana pandangan Bram dan para pekerja yang memang tahu apa-apa yang dilakukan para majikan mereka itu, Mika-dalam hal ini.


Sedikit banyak sudah memahami sifat salah satu majikan muda mereka itu, dalam hal menolong orang.


Cara berpikir Mika macam The Dads yang berdasarkan pada logika. Kalau kebaikannya macam The Moms yang ringan tangan, dalam arti yang baik.


Dan dua hal itu menjadi perpaduan dalam cara Mika mengambil sikap dalam hal menolong orang.

__ADS_1


Mika hanya akan menolong orang-orang yang Mika rasa patut untuk ia berikan uluran tangan.


Bukan hanya orang yang sekedar, -maaf, miskin.


Itupun, Mika juga tidak akan hanya sekedar menolong, karena dia tidak akan selalu ada untuk mereka yang ditolongnya.


Tak mau juga karena pertolongannya yang memang tidak Mika lakukan dengan tanggung itu, mereka yang ditolong Mika jadi hidup berpangku tangan.


Seperti ibu tunawisma yang Mika tolong ini contohnya.


“Untuk sementara, ibu dan adik-adik kenakan pakaian kalian yang ada dulu ya?, jika kalian ingin berganti baju sekarang-“


Mika berucap pada sang ibu tunawisma, saat ibu tersebut telah puas rasanya mengucapkan rasa terima kasihnya yang tak habis-habis pada Mika-juga pada mereka yang bersama Mika, sampai Mika sendiri yang menghentikannya.


“Nanti aku akan menyempatkan diri membawakan pakaian yang layak untuk ibu dan adik-adik-“


Dimana sang ibu tunawisma yang kini sudah terhitung bukan seorang tunawisma lagi itu, langsung saja menggeleng cepat sambil meraih tangan Mika. “Ya Allah Neng, udah Neng, udah. Semua yang Eneng kasih ini, udah lebih dari cukup buat saya sama anak-anak..”


“Ibu, sudah ya?-“ tukas Mika. “Kan saya bilang apa tadi? Ibu ikuti aja apa yang saya bilang, oke?-“


Mika berucap lembut seraya ia tersenyum dan mengusap lembut punggung tangan ibu yang ia tolong itu.


“Lagipula, apa yang saya lakukan ini, bukan hanya atas nama saya pribadi, melainkan dari mereka semua..” Mika menunjuk pada para saudara dan saudarinya yang akhirnya ikut menemani Mika yang menolong ibu tersebut dan dua balitanya.


“Makasih semuanya. Ya Allah ..” ucap si ibu. “Saya mimpi apa ini bisa ketemu sama orang-orang baik kayak Neng Mika sama sodara-sodaranya ini-“


“Karena ibu pasti orang baik-“


Val menukas ucapan si ibu dengan ramah.


Val pun seperti Mika.


Gadis ulat bulu itupun tidak terlihat jijik sama sekali untuk merangkul bahu ibu yang Mika tolong.


“Oh iya ibu,” ucap Mika.


“Iya, Neng Mika? ..”


“Mohon maaf sebelumnya kalau aku harus bertanya tentang ini pada ibu.”


Mika lanjut berucap. Dan si ibu yang ditolongnya itupun tersenyum pada Mika. “Neng Mika silahkan ngomong apa aja sama ibu ..”


Mika tersenyum manis. “Kalau aku boleh tau, maaf, apa ibu memiliki keterampilan?-“ lalu bertanya kemudian. “Karena begini, aku, menolong ibu, memang sama sekali tanpa pamrih ..”


Mika berkata dengan lembut, dan ibu itu mendengarkan dengan seksama setiap ucapan gadis yang ia anggap sebagai malaikat penolongnya.


“Tapi, aku tidak akan selalu ada untuk ibu dan adik-adik kedepannya,” ucap Mika. “Bukan berarti juga, hubungan aku dan ibu serta adik-adik hanya sampai disini.”


Mika menjelaskan pelan-pelan apa yang menjadi maksud hatinya.


“Aku akan menyempatkan diri, untuk menengok ibu serta adik-adik disini. Tapi, kapan waktunya,  aku tidak bisa memastikan, karena aku akan tinggal di luar negeri untuk kuliah-“


Tidak hanya si ibu yang Mika bantu, namun semua yang sedang berada di dalam kontrakan petakan itu-yakni para saudara dan saudari Mika termasuk juga Arya dan Kafeel yang berdiri di luar pintu karena tidak muat untuk berada di dalam, tidak ada yang bicara untuk menginterupsi Mika yang sedang berkata pada si ibu yang ditolongnya.


Kecuali Ares dan Aro yang sedang mengajak main dua balita yang kemudian mereka ajak keluar, entah diajak kemana.

__ADS_1


“Tapi jika sedang berada di Indonesia, saya akan mampir menengok ibu dan adik-adik kesini, karena salah satu kakek dan nenek saya dan saudara-saudari saya ini, tinggal di kota ini juga.” imbuh Mika dengan keramahannya pada si ibu tunawisma yang telah ia berikan tempat tinggal yang lebih layak dari gerobak.


“Mudahan kakek sama nenek Neng Mika sama sodara-sodaranya ini selalu sehat ya Neng. Termasuk orang tua sama Neng Mikanya sendiri dan sodara-sodara eneng juga yang sama baiknya kayak Neng Mika.”


“Aamiin,” sahutan terdengar tidak hanya dari mulut Mika.


“Jadi ibu, melanjutkan ucapan saya yang tadi, tentang apa ibu memiliki suatu keterampilan, itu bagaimana?”


“Maksudnya ibu bisa apa gitu Neng?-“ tukas si ibu yang ditolong Mika. Dan Mika langsung mengangguk.


“Iya,” jawab Mika.


Ibu itu menunduk, dan membuat Mika jadi lebih fokus memperhatikannya.


“Maap neng Mika, maaap banget. Ibu engga punya kebisaan apa-apa Neng Mika-“ ucap ibu tersebut kemudian. “Selama ini ibu cuma nyari kerdus sama akua bekas buat dikumpulin terus dijual sekedar buat ngasih makan anak-anak ibu.”


Suara si ibu terdengar penuh penyesalan, selain ia rasanya malu pada Mika.


“Tapi kalo buat bersihin rumah Neng Mika, ibu bisa kok Neng. Ibu akan lakuin apa aja buat bales kebaikan Neng Mika dan sodara-sodara Neng Mika ini.”


Kemudian ibu tersebut bicara dengan antusias, dan Mika tersenyum.


Ada kelegaan dan kepuasan tersendiri bagi Mika mendengar ucapan ibu yang ia tolongnya itu barusan tentang semangat si ibu untuk membalas pertolongan Mika.


Namun, bukan itu poin pentingnya untuk Mika.


Seperti yang Mika katakan pada si ibu yang ia tolong itu, jika Mika menolong tanpa pamrih.


Mika bertanya soal keterampilan pada si ibu tunawisma, semata-mata Mika memang punya tujuannya sendiri.


“Tidak ibu, ibu tidak perlu bekerja di rumah kami.”


“Jadi gimana ibu bales kebaikan Neng Mika dan sodara-sodara Eneng ini?” kata si ibu yang ditolong oleh Mika itu.


“Ibu tidak perlu membalas apa yang sudah kami lakukan dan berikan pada ibu.”


Mika menerangkan.


“Aku bertanya tentang keterampilan itu, justru untuk ibu sendiri kedepannya, sebagai modal hidup ibu dan adik-adik. Karena seperti yang aku bilang tadi, kalau aku, kami ini, mungkin tidak seterusnya ada didekat ibu. Dan maaf, bukan kami tidak ingin direpotkan. Tapi keterampilan yang ibu punya, dapat menjadi modal hidup untuk ibu. Semata-mata, kalau kami tidak ingin setiap orang yang kebetulan kami bantu ringankan bebannya, hidup berpangku tangan-“


Panjang lebar Mika berbicara, agar ibu yang ia tolong itu paham maksudnya.


Mika akan menolong siapapun yang ia anggap layak untuk ditolong.


Namun begitu, Mika tidak ingin orang-orang yang ia tolong itu kemudian menjadi berpangku tangan padanya, atau bergantung pada belas kasihan keluarganya.


Bukan Mika setengah hati menolong orang, namun Mika punya visi dan misi untuk setiap pertolongannya.


Yang mana visi dan misinya itu, adalah bukan hanya untuk membantu meringankan beban orang lain yang kurang beruntung yang kebetulan tertangkap oleh matanya, namun juga ada usaha Mika untuk membuat hidup mereka yang ia tolong itu lebih baik ke depannya karena kemandirian atas suatu keterampilan, yang jika tidak punya, akan Mika dan keluarganya salurkan.


♥♥


To be continue....


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


Semoga selalu suka.


__ADS_2