
CINTA ITU ADALAH KESAKITAN
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Cinta Memang Tak Selamanya Bisa Indah. Cinta Juga Bisa Berubah Menjadi Sakit.
💔
Iya, seperti itu.
‘Cinta’ indah disebutnya.
Namun misteri, sesungguhnya ada di balik kata itu.
Seolah sakti, kata yang namanya ‘Cinta’ itu----bisa mempermainkan perasaan seseorang dengan begitu mudahnya.
Puja menjadi benci, atau sebaliknya.
Yang tadinya tertawa, sekejap bisa dibuat menangis begitu saja.
Yang tadinya begitu bahagia, sekejap saja dibuat terpuruk tanpa iba hingga luka yang tersisa.
Meski ‘Cinta’ ada suksesnya membuat banyak orang----para pecinta itu, menggapai akhir yang bahagia.
Namun ya itu, tidak semua.
Tidak semua yang bisa hidup bahagia dengan cinta dan impiannya.
Ada pula yang diberikan kesakitan tiada terkira hingga menghimpit rongga dada oleh ‘dia’ yang disebut ‘Cinta’.
Lalu atas dasar kesakitan itu, debaran jantung pun terasa menyakitkan.
Hingga mati seolah menjadi jalan keluar... dari sakitnya sebuah kehilangan, dari luluh lantaknya sebuah kebahagiaan.
Cinta...
Untuk dia yang terluka, bagaikan sebuah suara sangkala kehancuran hati.
Yang membuat jantung seolah diremat begitu kuatnya, hinga pedih menjalar ke setiap penjurunya.
Seolah paru-paru pun, kehilangan seluruh oksigen yang diperlukan untuk terus bernafas.
Dan harapan hidup pun, juga seolah sudah berada di ambang batas.
Karena hati, sudah remuk tak berbentuk.
💔
London, England...
Dua bulan menuju pernikahan, Val tetap giat berkuliah.
Celotehannya yang kadang merengek minta pergi ke Jakarta cepat-cepat, terkadang hanya sebuah keisengannya saja untuk menggoda pada orang tua----terutama ayah kandungnya.
Kalau Dad R sedang nampak sebal karena rengekannya, sungguh bagi Val----Ayah kandungnya itu menggemaskan. Kalah boneka beruang super besar dan tinggi menjulang yang ada di kamarnya.
Jadi Val sering sekali iseng pada ayah kandungnya itu.
Dengan catatan, lihat-lihat dulu moodnya Dad R.
Karena kalau Dad R sedang nampak serius karena suatu hal, Val tidak berani.
Jangankan merengek untuk menggoda, menegur saja Val pikir-pikir dulu.
Tapi tetap, diluar Kak Kafeelnya----Dad R dan semua keluarganya adalah yang nomor satu.
Kalau Dad R dan para orang tua lain mengatakan, “Tetap berkuliah sebagaimana mestinya.”
Maka Val akan patuh menjalankan.
Tahu diri, dirinya sudah banyak menyusahkan.
Selain banyak sekali disenangkan dan dibahagiakan.
Contohnya ya saat ini.
Val benar-benar disenangkan dan dibahagiakan, ketika tak ada larangan dalam keluarga mereka yang ingin mengarungi bahtera rumah tangga di usia muda.
Yang penting sudah cukup umurnya. Paham resikonya.
Kalau dirasa mampu, silahkan saja melanjutkan langkah untuk menggapai itu yang namanya biduk rumah tangga.
Namun tentu, para orang tua pun punya pertimbangan.
Karena yang namanya orang tua, pastilah ingin yang terbaik untuk anaknya.
Ketika Val mengatakan ia telah jatuh cinta di usia remajanya, para orang tua hanya ‘ya, ya’ saja.
Toh bukan hal yang aneh jika anak yang berusia 14/15 tahun sudah mengenal itu yang namanya perasaan suka pada lawan jenis.
Yang penting diperhatikan pergaulannya, apalagi anak perempuan. Jangan lupa juga penjelasan dengan yang namanya batasan dalam bergaul dengan lawan jenis.
Jadi ketika Val mengatakan dirinya sedang jatuh cinta, para orang tua manggut-manggut saja.
“Bebas aja kalau suka sama seseorang, tapi dijaga dirinya..”
“Tidak perlu sampai pacaran, berteman dekat saja dulu. Nanti kalau sudah lebih besar lagi baru pacaran.”
Begitu segelintir komentar para orang tua Val, saat dara itu mengatakan ia sedang menyukai seseorang----bukan sekedar suka, tapi sudah jatuh cinta.
Yang mana para orang tua berkata di dalam hatinya, ‘Macam paham aja dia apa itu cinta..’
Juga,
‘Paling-paling cinta monyet.’
💔
Dibiarkan saja oleh para orang tua, Val yang mengaku sedang jatuh cinta pada mereka.
Asal dia bahagia.
Lalu cetusan ingin menikah muda dari Val, membuat para orang tua sama-sama mengernyit.
Tapi kemudian batin dan otak berkata serta berpikir, ‘Efek dari cinta monyet sedang merayap di otaknya.’
Namun juga hati penasaran soal, “Memang siapa sih yang lagi kamu sukai banget itu?”
Yang sampai membuat satu putri mereka itu seolah kukuh pendirian untuk menikah muda. Siapa sih cowok yang sebegitu dahsyatnya mempesona hati Val?
Lalu ketika Val sebut nama orangnya,
“Kak Kafeel.”
Mereka yang mendengar sontak berekspresi sama.
“Heeeuuuu?..”
Lalu,
“Kafeel? Kafeel Adiwangsa?”
“Ga salah itu?”
Yang Val jawab,
“Iya, Kafeel Adiwangsa yang bestienya Abang itu.”
Juga,
“Bismillah, tidak salah. Yakin, mantap, Val jatuh cinta padanya. Val ingin menikah dengannya.”
Kemudian,
“Coba The Dads bicara dong pada Kak Kafeel. Minta dia menikahi Val cepat-cepat. Insya Allah Val siap.”
Yang kemudian ucapan itu berefek pada tepakan di jidat Val dari Dad R juga sentilan dari Poppa. Dan hati para orang tua yang geleng-geleng mempertanyakan, ‘Kenapa gatal sekali satu putri kami ini?’
Yang semakin membuat para orang tua sering geleng-geleng, Val memang nampak betul sungguh-sungguh dengan ucapannya yang mengatakan jika Kafeel Adiwangsa Val inginkan. Karena kemudian pendekatan yang lebih mengarah pada ‘pengejaran’ cinta Val ke Kafeel sungguhlah seperti sebuah bombardir peluru ke sebuah medan.
Namun sempat juga berpikir, mungkin Val hanya terobsesi.
Mengingat betapa Val memuja para Dad dan Abangnya, maka ketika melihat Kafeel yang dianggap Val mendekati kriteria para Dad dan Abang----Kafeel pun jadi target Val.
Tapi tidak, Val memang mencintai pria yang jauh di atas Val rentang usianya itu.
Banyak hal yang dilihat para orang tua dari Val, yang membuat mereka pada akhirnya meyakini hal tersebut.
Hingga dari 14 tahun ke 17 tahun----bahkan sampai hampir 18 tahun, pria pilihan Val tetap satu.
Kafeel Adiwangsa.
Yang ternyata juga sudah menyukai Val dari sejak gadis itu intens mendekatinya.
Sampai suka dalam diri Kafeel perlahan menjadi cinta.
__ADS_1
Hanya saja Kafeel menahan diri akibat rentang usia.
Selain, Kafeel merasa tak sepadan untuk bersanding bersama Val----melihat background keluarganya, meskipun Kafeel sendiri sudah menjadi anak angkat di keluarga Val.
Tapi tetap Kafeel bertahan. Mengingatkan pada dirinya sendiri, jika Val pantasnya mendapat seseorang yang jauh lebih baik darinya. Baik orang yang sepadan dengan latar belakang Val, juga pria baik yang lurus----bukan mantan fucekboi seperti dirinya.
Namun Kafeel menjadi tak tahan kemudian, kala keinginan menjaga jarak mulai Val ungkapkan.
Rasa tak rela kehilangan ‘kejaran’ dan ‘tempelan’ Val itu nyatanya bentuk dari sebongkah perasaan yang lebih dari sekedar sayang.
Jadi saat Val pernah bilang,
“Kak Kafeel bisa merasa tenang, karena ulat bulu ini tidak akan menempel lagi pada Kak Kafeel ...”
Maka tekad, Kafeel bulatkan.
Perasaannya yang lebih dari sekedar sayang pada Val, Kafeel utarakan.
Dan akhirnya, sebuah keseriusan berjalan dan tercetuskan benar-benar untuk membawa hubungan lebih dari sekedar pacaran.
Pernikahan Val dan Kafeel, yang dua bulan lagi akan dilangsungkan.
💔
Seharusnya..
Mimpi tertinggi Val tercapai.
Menikah dengan Kak Kafeel tercintanya itu dalam dua bulan ke depan.
Tapi apa yang Val dengar kemudian kala ia sampai di mansion, membuat mimpi itu seolah dipukul palu hingga berantakan.
💔
Sedetik demi setitik akan Val gapai mimpi tertingginya itu bersama Kafeel.
Betapa bahagianya Val, hingga senyum di bibirnya selalu merekah dengan cantiknya.
Seolah senyum itu adalah virus bahagia yang ingin ia tularkan pada orang-orang di sekelilingnya agar ikut serta merasakan kebahagiaannya.
Senyum seorang Valera kian merekah, ketika ia membaca sebaris chat dari Mika yang masuk ke ponselnya----saat Val sedang berada di Kampus.
Mika sedang tidak ada jadwal kuliah, jadi Mika stay di mansion. Selain, pacar recehnya Mika sedang pergi bertugas ke luar Inggris.
Jadi Mika sedang ‘mager’.
Sementara Val satu jadwal perkuliahan.
Yang tidak jadi Val ikuti, ketika Val membaca chat dari Mika yang memberitahukan bahwasanya ada Kafeel yang baru saja tiba ke mansion, Val yang baru saja tiba di kampus dan keluar dari mobil yang ia tumpangi itu pun segera masuk lagi ke dalam mobil dengan tergesa.
“Mansion! Now! Fast! Very Fast! ( Mansion! Sekarang! Cepat! Sangat Cepat! )”
Lalu Val memberikan perintah cepat yang juga dengan tergesa.
Membuat supir dan bodyguardnya itu mengernyit dalam, namun tidak mempertanyakan ada apa.
Berpikir, nanti pasti mereka juga akan tahu alasannya kenapa satu nona muda yang kadang suka aneh-aneh juga tingkahnya ini, urung kuliah dan malah minta kembali pulang cepat-cepat.
‘Pantas saja jantungku berdebar-debar terus sejak semalam.. ternyata aku akan bertemu Kak Kafeel. Uuhh rindunya aku pada calon suami setengah om-om ku itu..‘
Val tak sabar untuk segera sampai di mansion. Lalu bertemu dan berhambur ke pelukan dan gendongan Kafeel seperti yang sudah seringnya Val lakukan jika bertemu Kafeel setelah mereka bertunangan.
‘Uuhh pipiku jadi panas membayangkan kalau nanti Kak Kafeel akan menciumku..’
Val mengulum senyumnya.
‘Eh tapi, kok Kak Kafeel sudah cepat lagi kembali ke sini?..’
Val bertanya dalam hatinya kemudian.
‘Apakah ada pekerjaan mendadak?..‘ batinnya lagi. ‘Atau Kak Kafeel datang untuk menjemputku dan bersama-sama pergi ke Jakarta????..’
Val cengengesan sendiri kemudian.
‘Pasti Kak Kafeel ingin memberikanku kejutan dengan datang tanpa mengatakan padaku sebelumnya!’
Val tersenyum senang.
💔
Namun senyum senang Val itu segera berubah menjadi ketegangan, ketika ia menyambangi ruang kerja utama dimana informasi dari maid yang menyambutnya di pintu masuk utama mansion, mengatakan jika Kafeel sedang berbicara berdua dengan Dad R di ruang kerja.
Yang mana, suara kencang Dad R terdengar mengatakan, “Kau! Jangan main-main dengan ucapanmu Kafeel Adiwangsa!”
Atas itu, Val menegang.
“Maaf-kan aku.. Dad.. maaf.. ta-pi itu yang sebenarnya..”
‘Apa? Apa yang sebenarnya?..’
Pertanyaan Val tak lama terjawab sebelum ia lontarkan.
Suara Kafeel jelas terdengar, karena peredam dalam ruang kerja utama sedang tidak diaktifkan.
“Kesalahan itu.. terjadi saat aku sedang berada di Dubai dua bulan yang lalu.. hasilnya.. sekarang..ada seorang perempuan yang mengandung benihku..”
Oh Val..
Bagai disambar petir ketika mendengar kalimat Kafeel itu.
‘Tidak! Itu tidak mungkin!’
Hati Val menyangkal keras.
‘Ini pasti sebuah prank..’
Val menghibur hatinya.
Lalu bibirnya membentuk sebuah senyuman, mempercayai apa yang ia percaya.
Sebuah prank untuk dirinya yang dilakukan Kafeel bersama dengan Dad R.
Kan suka jahil sekali keluarganya itu jika sedang kambuh jiwa-jiwa isengnya.
Lalu Kak Kafeelnya pasti ketularan jahil yang menjadi-jadi, hingga membuat prank seperti ini.
Namun jika hanya sebuah prank..
PLAK!!!..
Kenapa suara yang terdengar seperti suara tamparan itu kencang terdengar?..
Val bertanya-tanya lagi dalam hati.
“Keparat!”
Dan suara Dad R, terdengar begitu geram.
“Jangan bermain-main denganku Ka!”
Selain, jika sebuah prank, mengapa Dad R terlalu serius menyelami perannya?..
Val meneguk ludahnya kasar dengan tangannya yang sudah ditempel di knob pintu ruang kerja utama.
Ah sudah, ini harus dihentikan.
Prank ini, sekarang mulai menakutkan.
“Itu yang sebenarnya, Dad.. dan itu alasanku, datang tiba-tiba ke sini.. menemuimu secara pribadi.. menerima apapun hukuman darimu.. karena aku.. aku.. tidak bisa menikahi Val.. saat ada wanita lain yang mengandung darah dagingku..”
Di detik itu, jantung Val seolah dipaksa ditarik keluar dari tempatnya.
Prank ini, sudah cukup rasanya.
‘Prank, ini prank..’ Val menghibur hatinya.
Jadi tangan yang sudah tertempel di knob pintu ruang kerja utama, Val gerakan hingga pintu ruang kerja utama terbuka.
Dimana pemandangan mencengangkan Val dapatkan, saat dirinya membuka pintu ruang kerja lalu melihat kerah baju Kafeel sedang dalam cengkraman Dad R yang wajahnya nampak tak senang.
Kafeel pun sedang bersimpuh di atas lantai dengan wajahnya yang sudah nampak basah.
“Sudah cukup..”
Val berujar, dengan senyuman yang ia tampakkan pada dua orang yang nampak sangat terkejut melihat kedatangannya.
“Acting kalian bagus sekali, tahu?.. Val sampai meneteskan air mata mendengarnya dari luar perkataan kalian tadi,” ujarnya lagi.
“V-al..” Kafeel berbisik lirih, sementara Dad R bergeming di tempatnya.
Namun keduanya sama-sama memandangi Val dengan tatapan yang sama.
Tak tega.
Kian tak tega, selain hati diremat dengan begitu kuatnya, ketika Val menolak untuk percaya----saat Kafeel mengatakan----mengulang apa yang sudah dia katakan pada Dad R.
Bahwasanya,
“Maaf.. Val.. Maaf.. Aku.. Kita.. Tidak bisa menikah..”
Yang Val langsung menggeleng antusias di tempatnya, sambil tetap mempertahankan senyum lebarnya, walau matanya sudah begitu berembunnya.
“Cukup.. Kak, cukup..” kata Val yang tak percaya. “Sudah cukup.. mengerjai Val cukup sampai di sini saja.. ayo bangun..” Val hendak berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Kafeel.
“Bangun dan pergilah..”
__ADS_1
Namun tubuh Val dicekal Dad R.
Membuat Val tertahan untuk menjadi dekat dan menyentuh Kafeel.
“Dad, sudah ah..”
Val berujar, sambil melayangkan lagi senyumnya pada Dad R.
“Sudah cukup kalian mengerjaiku.”
Namun Dad R bergeming di tempatnya.
Val sedikit meronta, Dad R mencengkramnya kuat.
“Dad, jangan terlalu dalam mendalami perannya. Cengkraman Dad sudah mulai terasa sakit..”
“Kubilang Bangun Dan Pergilah Kafeel Adiwangsa! Pergi.. Dan Jangan Pernah Kembali Lagi. Tidak ke sini ataupun Kediaman Jakarta –“
“Dad, apa sih?! Sudah!” Sergah Val. “Kak, sudah dong.. Val takut..” lirih Val. “Pranknya dihentikan ya? –“
“Maafkan aku, Val.. Maaf..”
Kafeel berdiri dari posisinya dengan lunglai.
“Val bilang stop, Kak!”
“A-ku..”
“Jauhkan tanganmu dari putriku.”
Dad R berujar datar dan dingin dengan matanya yang nampak memerah.
“Pergi dan bangunlah hidupmu, menjauhlah dari kami..”
“Tidak! Dad! Ini sudah keterlaluan! Lepas Daddy!”
Val mulai meronta hebat.
“Kak..”
Air mata Val sudah tak lagi menggenang.
“V-al.. Ya Allah..” Kafeel sudah bermandikan air mata.
Tenggorokannya tercekat begitu kuat.
“In-ii bukan prank.. maaf.. maaf, Vaal.. maaf..”
“Kak..”
“Tidak ada prank. Semua yang dia katakan tidak ada kaitan denganku di belakang.”
Daddy R bersuara. Lirih.
“Ini kenyataan, terimalah..”
Daddy R berkata lagi.
“Kau dan Kafeel Adiwangsa, berakhir sampai di sini.”
“TIDAK!”
“Dan kau, pergi –“
“Aku.. bolehkah.. aku meminta sedikit waktu.. dengan V –“
“Tidak.”
Dad R menyergah tegas.
Kafeel menggigit bibirnya kuat.
“Ini hukumanku, karena kau tidak bisa menjaga amanat untuk membahagiakan putriku..”
“Daddy.. jangan beginiii..”
Oh Val, sudah bukan lagi sebulir air matanya.
“Kak Kafeel.. kalian jangan terlalu serius mengerjaiku, aku mohon.. Val mo-hoon.. Daddy.. Kak Kafeel.. sudah cukup.. hati Val sudah sakit sekali dikerjai seperti ini.. su-dah ya?.. sudaah..”
“Maafkan, Ka-kak.. Vaal.. Maaf..”
Kafeel terisak tangannya terulur begitu saja ke wajah Val, meski tadi Dad R sudah memberikan larangan padanya.
“Jangan menangisiku, aku tak pantas..” isak Kafeel sambil menghapus air mata di pipi Val yang sudah basah. Bahkan wajah Kafeel sudah lebih basah dari Val.
Nafas Kafeel tersendat. Seolah ada batu yang menghalang hingga dadanya terasa begitu sesak.
“A—ku.. pergi..”
Kafeel tak mampu, melihat Val yang tersedu dan terluka itu lebih lama.
“TIDAK!”
Val histeris dalam dirinya yang meronta di cengkraman Dad R.
“KAK KAFEEL BERHENTI!”
“KAK KAFEEL JANGAN PERGI!”
“KAK KAFEEL!”
Dibiarkan Dad R Val berteriak dan meronta hingga Kafeel keluar dari ruang kerja utama.
Yang kemudian dilepaskan Dad R cengkramannya, setelah beberapa saat Kafeel menghilang di balik pintu.
“I-nii.. ini tidak.. tidak nyata kan, Daddy??..”
Ditatap dengan luruh sang ayah kandung oleh Val.
Dad R tak menyahut. Hanya memandangi Val dengan matanya yang memerah basah.
“Le-pass, Daddyyy..” Val terisak memohon.
“VAL!” Dad R memekik kemudian, karena Val bisa membebaskan diri darinya saat Dad R lengah, memalingkan wajahnya dari Val saking ia tidak tega melihat kesakitan putrinya itu.
Yang langsung Dad R kejar dengan cepat, lalu ditahan lagi tubuh Val saat putri kandungnya itu benar-benar hendak mengejar Kafeel yang telah masuk mobil.
Dimana Kafeel nampak urung pergi dan hendak keluar dari mobil, setelah melihat Val berlari mengejarnya dari dalam mansion.
“KAK KAFEEEELLLL!!...”
“V-al.. Ya Allah..”
Kafeel benar-benar sesak.
“PERGI!”
Dad R sudah juga ada di belakang Val.
Mencengkram putrinya lagi dengan mengurung tubuhnya dari belakang.
Kafeel membeku. Sudah hendak turun untuk berlari berhambur dan memeluk Val.
Satu kata dengan tegas dan kencang dari Dad R, mengurungkannya.
“Jika masih ada hormatmu padaku pergilah. Pergi dari kami, dari putriku terutama..”
Dad R berucap.
“Kau ingin aku menghukummu atas perbuatanmu yang tidak bisa menjaga amanah, bukan?..”
“........”
“Aku tidak bisa membunuhmu, atas dasar kau telah menyakiti hati putriku.. karena kau juga anakku..”
“Dad.. maaf.. V-al..”
“Jadi.. sebagai gantinya.. kau pergilah.. menjauh dari kami..”
Kafeel menggangguk lemah.
“Mulai detik ini.. kau, Kafeel Adiwangsa, bukan lagi bagian dari kami..”
“Daddyy.. Kak Kafeeel..”
Val jatuh berlutut di tempatnya.
“Iya.. aku.. mengerti.. Sekali lagi.. aku.. minta maaf.. maaf.. Val.. maaf..”
Val sudah luruh, sambil memandang pada Kafeel dengan begitu memelasnya.
“Selamat tinggal, V-al..”
“No, tolong jangan.. Kak Kafeel..”
Tangisan Val sudah begitu memilukan.
“KAK KAFEEEELLLL!!...”
Kian pilu tangisan Val, saat Kafeel benar-benar berlalu pergi. Pergi dari hadapan, dari mansion, dari London, untuk pergi juga dari hidupnya
Iya, cinta.. bisa semenyakitkan itu.
💔 💔 💔 💔
__ADS_1
To be continue...