HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
THE HURTING MAN


__ADS_3

( PRIA YANG TERLUKA )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Kalau bisa, aku ga ingin bangun setelah tertidur. Karena dalam tidur aku bahagia. Bahagia, karena jauh di dalamnya aku bermimpi, kita bisa bersama seperti sebelumnya .... memiliki kamu seutuhnya ....”


--- Kafeel Adiwangsa ---


♦♦♦


Jakarta, Indonesia,


‘Sialan! Mereka bahkan tidak membiarkan gue untuk berpikir!’


Setelah kepergian Rara dan orang tua gadis itu dari rumahnya, Kafeel --- tercenung di kamarnya.


‘BAN*S*T!’


Kafeel mengumpat kasar dalam hatinya, dengan matanya yang mulai panas --- setelah hatinya lebih dulu memanas.


“’A ....”


Sebuah suara membuat Kafeel terkesiap.


Ibu dan adiknya datang menyambangi Kafeel ke kamarnya.


Sang ibu kemudian duduk di samping Kafeel yang sedang duduk di pinggiran ranjang, sementara Lena duduk di atas lantai --- dengan posisi menghadap pada kakak dan ibunya.


“’A ....”


Ibunda Kafeel, Bunda Magda --- bersuara.


Kemudian meraih tangan sang anak sulung yang sedang mengepal kuat.


“Seharusnya AA menolak permintaan Om Alam ---“


“Jangan sebut nama mereka, Bun. Aku jijik mendengarnya.”



“AA kenapa mengiyakan permintaan mereka dan mau tanda tangan di surat perjanjian yang mereka kasih? ---“


“AA ga punya pilihan, Bun ....”


“Iya, tapi AA kan bisa menolaknya, ‘A ---“


“Lalu membuat mereka menyeret Bunda ke rumah sakit dan mengeluarkan jantung Bunda?”


Bundanya Kafeel mengeratkan pegangan di tangan anaknya itu.


“Bunda ikhlas, ‘A .... toh ini juga bukan jantung Bunda ....”


Kafeel menghembuskan nafasnya dengan berat.


“Dan Bunda fikir aku tega membiarkan itu terjadi? ....”


“Tapi bagaimana dengan Neng geulis, ‘A? ---“


“Mungkin aku ga berjodoh dengannya, Bun ---“


“Kenapa AA ga ngomong aja ke Bang Alva?” tukas Lena.


“Kamu baca aja isi surat perjanjian ini, Len ....”


“Mereka udah ngerencanain ini banget kayaknya ya, ‘A?”


Lena berkomentar setelah Kafeel menyodorkan selembar kertas yang sedang dibaca olehnya itu.


Kafeel mengangguk samar.


“Sepertinya memang iya ....”


“Pasti ini si Rara biang keroknya, ‘A ---“


“Kok kamu ngomong begitu, Len?”


“Alah, Bun. Udah kebaca banget kalau si Rara tuh emang naksir sama AA, tapi AA kan begitu memperlakukan dia. Macem memperlakukan adik sendiri. Tapi dianya aja yang ngarepnya kebablasan. Terus pas denger AA mau nikah sama Val, ya begini ini jadinya. Menggunakan Bunda untuk maksa AA supaya mau nikahin Rara .... dan emang pas banget sih, waktu Tante Ranti mendonorkan jantungnya ke Bunda, itu cuma secara lisan aja, ga ada perjanjian tertulis kalau Tante Ranti mendonorkan jantungnya ke Bunda secara sukarela ---“


“Bunda emang bodoh ya, Len, ‘A ---“


“Udahlah Bun ---“


“Maafin Bunda, ‘A ---“


“Tapi dicoba aja kali, ‘A. Ngomong ke Bang Alva.”


“Mau dicoba gimana, Len? .... Rara dan orang tuanya punya bukti kuat untuk memojokkan kita dari segala sisi. Sekalipun AA dibantu Alva untuk membuat kamu dan Bunda ga sampai masuk penjara karena dianggap mencuri organ tubuh orang lain, tapi kita akan dihadapkan pilihan untuk mengembalikan jantung Tante Ranti jika mereka tetap kukuh meminta seperti itu. Apa ada yang bisa ngejamin kalau kita bisa menemukan pendonor yang jantungnya cocok dengan Bunda? ---“


“Iya sih, ‘A ---“


“Dan ingat, kewarganegaraan mereka bukan Indo lagi. Dan proses pendonoran jantung Bunda dilakukan di Malay. Bukan ga mungkin kalian akan dibawa ke sana untuk penyelidikan. Iya, mungkin Alva bisa bantu. Pasti. Tapi dalam prosesnya, kamu dan Bunda akan mengalami masa sulit di Malay. Dan kamu pikir AA bisa tenang dengan hal itu? ....”


“Jadi gimana atuh, ‘A? .... kasian Neng Val ---“


“Mau bagaimana lagi Bun? .... AA cinta mati sama Val .... Tapi ga mungkin juga, AA mengorbankan Bunda .... Atau mengambil resiko yang bisa berakibat fatal untuk Bunda .... Dan sedikit banyak mereka benar. AA pernah menelantarkan kalian.”


“Tapi kan itu demi ayah, ‘A .... selain AA mau mengembalikan nama baik keluarga kita ---“


“Tetap tidak merubah kenyataan, kalau AA pernah menelantarkan Bunda dan Lena ---“


“Dulu seharusnya, Bunda menerima uluran tangan Rico dan Cello. Tapi karena Bunda marah sama mereka atas kematian ayah, atas ketidak percayaan mereka atas ucapan Bunda tentang ayah yang ga bersalah, walau bukti menunjukkan sebaliknya. Jadi Bunda memutuskan untuk keluar dari negara yang dulu Bunda anggap ga adil pada ayah yang sudah mengabdi dengan sebegitunya ---“


“Sudahlah Bun. Ga akan ada habisnya kalo mau bahas siapa yang salah. Dan seperti yang AA bilang tadi, AA dan Val mungkin memang ga berjodoh ---“



Pernikahannya dengan Rara membuat Kafeel menjadi pribadi yang sangat dingin.


“Len, kamu pindah ke kamar Bunda. Dia biar tidur di kamar kamu.”


Dan keketusan, selain dinginnya sikap selalu Kafeel  tampakkan pada gadis yang telah berstatus sebagai istrinya itu.


Lalu alhokol, menjadi pelarian seorang Kafeel Adiwangsa.



“AA ijinin Bunda temuin Val, ya?... Ketemu juga sama Moreno dan Kyara serta keluarga mereka---“


“Buat apa, Bun???... Buat apa?... Percuma, Bun... Percuma...”


“Bunda kasih tau, ya?... Yang sebenarnya pada Val dan keluarganya---“


“Lalu membuat pengorbananku sia-sia? Aku sudah terlanjur kehilangan Val, lalu aku kehilangan Bunda juga. Gitu??...”

__ADS_1


“Tapi kalau Val tahu, dan keluarganya tahu alasan AA menikahi Rara, ada kemungkinan AA dan Val bisa bersama lagi---“


“Bunda lupa kita terikat oleh apa dengan Rara dan orang tua laknatnya itu?... Lagian... Setelah Bunda mengatakan pada mereka apa yang sebenarnya... Bunda fikir... Keluarga Val akan percaya?... Lalu... Menerimaku kembali dengan begitu aja?... Belum tentu, Bun... Mungkin pun ga akan pernah percaya dan menerima aku lagi ke tengah-tengah mereka--- Bunda liat bagaimana Val hari itu... Keluarganya ga akan pernah terima putri mereka dibuat sampai begitu...”


--


“Kalau saja jantungku ini cocok untuk diberikan kepada Bunda, aku lebih memilih mati Bun, daripada aku harus menyakiti Val sampai begini... Tapi atas dasar kita tidak berdaya... Mencari donor jantung untuk mengganti jantung tante Ranti yang sekarang Bunda gunakan itu, bahkan bertahun-tahun pun, belum tentu kita menemukan pengganti yang cocok untuk Bunda... Aku mencintai Val, Bun... Sangat... Tapi bagaimana aku bisa tahan, jika hidup Bunda juga dipertaruhkan?...


“Maafin Bunda, AA... Maafin Bundaa... Gara-gara Bunda... AA jadi menderita...”


“Udahlah Bun, mau dibilang apa?... Nasi sudah menjadi bubur---“



Hari berlalu lagi,


“AA mau kemana? ....”


“Ke toko bunga, Bun .... Val, akan berulang tahun sebentar lagi. Aku mau memesan bunga kesukaannya sebagai hadiah.”


--


“Maaf, Tuan. Kami sudah tidak menyediakan tulip merah untuk diperjual – belikan untuk umum lagi ....”


“Loh, kenapa? Saya sudah beberapa kali pesan bunga itu di sini kok ....”


“Iya Tuan, saya tahu. Anda Tuan Kafeel Adiwangsa, kan? ....”


“Terus kenapa sudah ga menyediakan tulip merah lagi?”


“Bukan tidak menyediakan, Tuan .... tapi kan toko kami sudah menandatangani kontrak dengan keluarga Adjieran Smith untuk penyediaan tulip merah per kurang lebih dua bulan lalu untuk di Jakarta hanya mendistribusikannya pada mereka saja ---“


“Oh ya?”


“Iya, Tuan. Anda bukannya orang kepercayaan Tuan Alvarend Aditama, ya? ....”


“Saya sibuk dengan urusan lain.”


“Oh, maaf Tuan.”


“Saya hanya perlu satu buket aja. Kecil juga ga apa ....”


“Mohon maaf, Tuan. Bahkan untuk tanggal lima belas nanti, kami sudah harus menyiapkan ratusan tangkai tulip merah untuk keluarga Adjieran Smith ....”


‘Itu kan, seharusnya jadi tanggal pernikahan gue dan Val??’


“Jadi mohon maaf jika kami tidak bisa membantu Tuan untuk sebuket tulip merah.”


“Bukannya pesanan ratusan tulip merah itu udah pernah diajukan sebelumnya ya? ....”


“Iya benar, Tuan. Untuk pernikahan ---“


“Ga ada pembatalan? ....”


“Tidak Tuan ---“


“Aneh ....”


“Hanya perubahan pesanan saja Tuan, yang tadinya puluhan sekarang menjadi ratusan tangkai di tanggal itu ....”


“Heu? ....


“Kalau bibit dan belasan tangkai tulip merah yang setengah jadi sih sudah dikirimkan duluan ---“


“Bibit dan tulip merah setengah jadi? ....”


“Emang bisa? ....”


“Sepertinya mereka punya alat khusus untuk membuat tulip merah bisa tumbuh di kediaman mereka, Tuan? .... tapi untuk satu hal itu saya juga kurang tau pasti, karena sudah ada staf khusus yang ditunjuk buat mengurusnya ....”


“Benar – benar ga bisa mengusahakan satu buket aja untuk saya, barengin sama kedatangan ratusan tulip merah seperti yang kamu bilang tadi? ....”


“Mohon maaf, tidak bisa Tuan .... setangkai pun juga rasanya tidak bisa, karena kami sudah terikat kontrak dengan keluarga Adjieran Smith ....”


“Kontraknya atas nama Valera? ....”


“Bukan Tuan, tapi Nona Mikaela ....”


“Mikaela? ....”


“Iya, Tuan ....”


‘Apa Mika dan Arya yang akan menggantikan gue dan Val di hari itu buat nikah?....’



‘Sialan!’


Kafeel mengumpat kasar dalam hatinya setelah ia dengan lesu keluar dari toko bunga yang tadi ia sambangi.


Kemudian, memijat keras pelipisnya dengan hati yang Kafeel rasakan seperti ada yang kian merematnya.


Kafeel benar – benar frustasi, karena untuk memberikan Val hadiah sesuatu yang menjadi favorit gadis kecil tercintanya itu saja sudah tidak bisa.


Kafeel tidak berharap banyak. Ia ingin saja memberikan Val hadiah walau tidak bisa sampai bertemu.


Hadiah yang berupa bunga favorit gadis kecilnya itu sebagai alat untuk menitipkan rindunya pada Val, walau mimpinya untuk hidup bersama Val telah menjadi abu.


‘Apa perlu gue ke Keukenhof?’


Yang Kafeel pikirkan setelah ia tidak bisa mendapatkan bunga kesukaan Val di tempatnya biasa membeli satu rangkaian bunga itu untuk Val jika Val sedang berada di Jakarta, walaupun tidak terlalu sering juga.


Seiring Kafeel memikirkan rencana untuk pergi ke tempat bunga favorit Val berasal, seiring ia melajukan mobilnya ke tempat dimana Kafeel bisa menyalurkan hobi terbarunya. Toko minuman keras. Yang kemudian ia beli satu dua botol, untuk Kafeel nikmati.


Terlalu Kafeel nikmati, hingga ia menjadi peminum berat sekarang.



Dan kebiasaan Kafeel yang sudah membuatnya jadi peminum berat, mengubahnya menjadi seseorang yang lebih dari sekedar dingin.


“AA inget ga, kalo AA udah ngurung Rara di gudang semalem? ....”


“Inget.”


“Bunda, bawa Rara keluar dari sana ya?... nanti Bunda nasehatin dia supaya ---“


“Mulai semalam, itu kamar barunya, Bun ...” tukas Kafeel datar. “Aku menderita Bun. Dan aku akan buat dia merasakan penderitaan sepertiku juga. Aku ga punya jalan kembali untuk bersama dengan Val, karena dia. Dan selama itu, api yang sudah dia dan orang tuanya berikan padaku, akan aku buat jadi neraka untuk Rara ... seperti halnya aku menanggung ini semua untuk Bunda, atas nama orang tua. Jadi seperti itu juga Rara harus menanggung perlakuanku untuk kelakuan orang tuanya ....”


Bunda Magda menghembuskan berat nafasnya, melihat bagaimana berubahnya Kafeel sekarang. Rasa bersalah pada anak sulungnya itu, membuat Bunda Magda pasrah meski telah sering menasehati Kafeel.


“Tapi AA ga bisa memperlakukan Rara seperti ini, ‘A .... dia sedang hamil, ‘A ---“


“........”


“Dan lagi, anggap lah Bunda jahat ga mikirin kondisi Rara. Gimana kalau orang tuanya tau AA memperlakukan Rara begini? .... nanti Rara pasti ngomong sama mereka, dan mereka akan menyulitkan AA lagi.”


“Biar saja ---“

__ADS_1


“’A ---“


“Bunda bisa tolong tinggalkan aku sendiri?”


“Kalau AA memang marah sama Rara, mau kurung dia. Kurung aja di kamarnya, ‘A. Jangan di gudang. Atas nama kemanusiaan, ‘A ....”


“Tapi dia dan orang tuanya bukan manusia, Bun. Mana ada manusia yang meminta jantung yang telah didonorkan untuk dikeluarkan lagi? ....”



“Bun, AA kayaknya perlu dibawa ke psikiater deh ---“


“Astagfirullah, Lena .... tega banget kamu ngomong gitu? ....”


“Ya maaf, Bun --- abisnya AA nyeremin banget sekarang. Bunda ga sadar apa? .... coba liat teganya AA sama Rara sekarang? .... terus kita pernah di kurung sama AA waktu kita mau ngeluarin Rara dari gudang. Belom lagi AA suka ngomong sendiri, senyum – senyum sendiri, abis itu nangis, terus teriak – teriak, ngancurin barang, bahkan AA pernah mukul kaca kamar mandi.... Sejak Val .... Lena takut, Bun. AA nekat, terus si Rara disiksa sampe mati kalau AA sampe mikir, kalau Val .... bunuh diri .... karena AA menganggap Rara penyebabnya.”


“Naudzubillah, Lena ....”


“Tapi apapun bisa terjadi Bunda .... bahkan sebelum kabar tentang Val kita denger, AA minta kita boong kan sama Om Alam dan Tante Yenni yang nanyain Rara kok hpnya ga bisa dihubungi pake alibi kalo AA lagi ajak Rara bulan madu sejak AA ngurung dia di gudang? lama - lama mereka bisa curiga juga terus dateng ke sini Bun, nah apa jadinya kalo mereka nemuin Rara di gudang?....”


“Jadi gimana atuh Lenaa ....”


“Kita ---“


“Bunda, Lena .... lagi ngomongin apa? ....”


Suara Kafeel terdengar, dua perempuan terdekatnya yang sedang bisik – bisik di dalam kamar pun seketika menegang.


Karena berpikir baru malam, Kafeel akan keluar dari kamarnya.


“’A – A ---“


“Kalian sepertinya stres ya?


Kafeel mendekat, seraya tersenyum pada dua wanita itu dengan penampilannya yang nampak tak karuan.


“Engga, A ---“


“Ini ....”


Dua wanita terdekat Kafeel yang pria itu sayangi kompak mengernyit dikala Kafeel menyodorkan amplop coklat yang nampak tebal, dan sebuah kartu atm di atasnya.


“Pergi shopping sana.”


“Shop ---“


“Ini uang cash yang ada di brankas AA. Dan yang ada di atm ini, tabungan AA buat nikahin Val. Ga kepake ... selain AA dan Val gagal nikah, Val kan ---“


“’A ---“


“Judulnya AA udah ga butuh uang ini. Jadi kalian pake lah buat senang – senang.”


“AA simpen aja, ya? ---“


“Bun ....” tukas Kafeel. “Kalau AA bilang Bunda dan Lena harus pergi shopping, itu artinya kalian harus pergi shopping ....” wajahnya berubah datar. “Ngerti?”



“’A .... ampun ‘A .... tolong lepasin Rara .... Rara .... Rara janji, ga akan ngomong apa – apa sama mama dan papa .... Rara, akan minta mereka urus perceraian kita ....”


Suara perempuan yang ketakutan terdengar di dalam sebuah gudang.


“Lo tau? ....”


Adalah Kafeel yang barusan bersuara, dimana ia menyambangi gadis berstatus istrinya yang sudah ia sekap dalam gudang sekian lama.


“Gadis yang paling gue cintai di dunia ini bunuh diri. Dan gue bahkan ga diberi kesempatan melihat dia untuk yang terakhir kali. Dan semua itu karena lo ....”


Yang mana Rara yang ketakutan itu, Kafeel tak anggap ucapannya, dan malah mengatakan hal lain dengan topik yang berbeda.


“’A --- Rara mohon ....”


Kafeel tersenyum miring.


“Lo mohon maaf ya sama Val? ....”


“Mak – maksud, A – akh ---“


“Temui dia langsung di tempatnya berada sekarang untuk memohon maaf karena memaksa gue menikahi lo tanpa memberi gue pilihan ....”


Kafeel mengeratkan cengkraman di leher perempuan yang ia sekap dalam gudang itu.



“Hey, Baby .... Val, sayangnya Kakak. Kenapa menghukum Kakak dengan sekejam ini? .... kenapa Val harus membunuh diri Val sendiri? .... Kenapa, Val???!!! ....” Kafeel sudah berada di kamarnya kini.


Pada sebuah figura dia bicara, lalu menghardik.


“Ke – napa .... Val? .... kenapa Val sampai senekat ituu? .... kenapa Val tidak datang saja pada Kakak dan tusuk Kakak sampai mati ....”


Lalu Kafeel meluruh pilu, sambil mendekap figura yang sedang Kafeel ajak bicara itu.


Setelahnya Kafeel tersenyum sendiri memandangi figura dimana foto close up Val yang tengah tertawa lebar, lalu Kafeel membuka laci nakas di samping tempat tidurnya.


“Kakak susul ya? ....”


Yang Kafeel katakan, lalu setelahnya Kafeel menahan ringisan kala sayatan di pergelangan tangannya terasa nyeri.


Sakit, namun Kafeel abaikan sakit itu.


Fokus saja memandangi wajah Val dalam figura yang kian lama kian buram.


Tangan yang nadinya tersayat itu kemudian lunglai.


Namun satu tangan yang memegang pisau tadi, kini telah mendekap erat figura foto yang Kafeel ajak bicara.


‘Bertemu atau tidak, yang penting aku berada di tempat yang sama dengan kamu, Val ....’


Sebelum kesadarannya hilang, Kafeel membatin sambil memandangi foto Val dengan menampakkan senyuman.


Hingga sampai wajah Val dalam foto kian buram dalam pandangan Kafeel, dan semuanya menggelap.


♦♦♦♦♦


To be continue .........


Marhaban Ya Ramadhan.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi readers yang menjalankannya.


Semoga berkah Ramadhan menghampiri kita semua.


Aamiin.


Mohon maaf lahir & batin.


Loph Loph,

__ADS_1


Emaknya Queen.


__ADS_2